Tahun Butsuma-tenshi ke-27, 347 tahun sejak Era Kekaisaran

Bulan ke-12 hari ke-31

Senju merupakan kerajaan pertama yang mendeklarasikan diri sebagai kekaisaran. Konon klan Senju adalah keturunan langsung dari seorang Dewi Matahari, Amaterasu. Dewi yang dipercaya sebagai dewi tertinggi yang memimpin bumi dan langit. Legenda mengatakan bahwa Dewi Amaterasu mengirim keturunannya untuk memimpin bumi, yang kemudian membentuk sebuah klan, yaitu Senju.

Tentu saja, hal ini hanyalah rumor belaka yang sering digosipkan oleh para rakyat Kerajaan Senju. Tidak ada yang tahu pasti apakah cerita ini memang benar terjadi. Tapi satu hal yang patut diakui adalah klan Senju memang klan yang sangat kuat. Dalam waktu kurang lebih seratus tahun, mereka berhasil mendirikan kerajaan. Beberapa ratus tahun berikutnya pun kerajaan ini semakin kuat dan makmur. Bahkan dengan berani mendeklarasikan diri sebagai Kekaisaran.

Wilayah kekuasaan yang tadinya kecil sekarang sudah sangat luas. Bahkan hampir seluruh Tanah Api sekarang sudah dikuasai oleh Kekaisaran Senju. Hampir seluruh klan besar dan kuat yang berkuasa di Tanah Api sudah menyerahkan diri dan tunduk sebagai klan pengikut.

Meskipun begitu, perebutan kekuasaan tidak akan berhenti hanya karena Tanah api berhasil dikuasai oleh Senju. Masih terdapat wilayah lain yang kaya akan sumber daya dan menarik banyak pemimpin rakus. Khususnya Tanah Api yang porsinya sangat besar dan kaya. Tidak sedikit kerajaan-kerajaan kecil di sekelilingnya yang tidak terima dengan kesuksesan Senju dan masih melirik dengan rakus.

Perang perebutan kekuasaan ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Tidak akan berhenti kecuali salah satunya ada yang menyerah. Namun bagi pihak yang menyerah, mereka hanya akan mendapat dua pilihan, mati atau dipermalukan. Berperang adalah satu-satunya cara bertahan hidup! Dunia ini merupakan dunia yang keras, dimana yang kuatlah yang akan menang.

Di dalam istana Kekaisaran Senju, atau yang lebih tepat di sebuah ruangan pertemuan dewan istana Senju, barisan menteri istana sedang duduk bersimpuh di atas tatami. Masing-masing memasang ekspresi serius dan tegang yang membuat suasana muram di sana semakin tidak enak. Meskipun begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka mulut untuk memecah situasi itu. Hampir semua pasang mata di sana mengarah ke pintu geser lebar yang berada di samping ruangan.

Setelah sekian lama, pintu itu akhirnya terbuka dari luar. Seorang budak samurai berjalan masuk dan segera mengambil posisi di samping pintu. Prajurit itu berdiri tegap dan berteriak dengan lantang dan bangga, "Yang mulai Kaisar sudah tiba!" kemudian segera berbungkuk hormat untuk menyambut 'Sang Kaisar' tersebut.

Para menteri disana pun segera duduk tegap sebelum bersujud penuh hormat. "Tenno-Heika Banzai!" teriak semua orang di sana dengan lantang.

'Sang Kaisar' pun menunjukan dirinya. Dia merupakan alpha yang berbadan tinggi dan tegap. Sangat tampan dan penuh karisma. Rambutnya berwarna hitam panjang. Kulitnya berwarna kecoklatan sedangkan wajahnya berahang tegas dan gagah. Matanya bermata hitam tajam, namun sudut mulutnya yang selalu sedikit naik ke atas merubah auranya yang tajam menjadi lebih lembut dan ramah.

Senju Hashirama, yang tidak lain merupakan Kaisar Senju, sekarang berjalan pelan namun tegap menuju tempat duduknya. Di sisi ruangan terdapat lantai tatami bertingkat lebih tinggi dari tempat duduk para menteri. Di tengahnya telah disiapkan karpet dan bantal zabuton berkualitas paling tinggi. Hashirama tanpa ragu duduk disana dengan tegap.

Di belakangnya berjalan seorang beta beraura dingin. Rambutnya panjang bergaya berantakan. Wajahnya pun tak kalah tampan dengan sang kaisar, dengan mata runcingnya yang tajam khas fitur seorang Uchiha. Dia memakai seragam samurai dengan baju baja dan senjata lengkap. Dibandingkan dengan sang kaisar, aura yang terpancar dari pria ini lebih dingin dan tajam. Membuat siapapun akan takut untuk mendekatinya. Uchiha Madara, dia adalah seorang Komandan Pemimpin Pasukan Pengawal Kekaisaran.

Tugasnya yang harus melindungi kaisar membuatnya harus bersama kaisar 24 jam dalam sehari. Sehingga dalam pertemuan dewan seperti ini pun, Madara tak segan mengikuti tuannya untuk masuk dan duduk di dekat sang kaisar.

Begitu sang pemimpin yang mereka tunggu itu duduk, para menteri di sana pun segera bangkit dari posisi hormatnya. Meskipun begitu mereka tetap menurunkan pandangan agar tak bertatapan langsung dengan sang kaisar. Mereka menahan napas tegang seperti sesuatu yang akan terjadi berikutnya adalah pemenggalan kepala mereka.

"Katakan pada Kaisar bagaimana keadaan pertempuran di wilayah perbatasan kita?" ucap Hashirama melirik setiap pasang wajah tegang para menterinya.

Ada jeda sejenak dimana setiap menteri berkeringat dingin seolah tidak ingin menjadi kambing hitam yang pertama. Suasana semakin menjadi tegang dan menyesakan di bawah tekanan sang kaisar, sebelum akhirnya salah satu menteri memberanikan diri untuk maju.

"Melapor pada kaisar, pertempuran di perbatasan utara semakin besar. Kita kehilangan hampir mencapai 700 pasukan barisan depan dan 900 orang yang mengalami luka serius, dengan 200 orang diperkirakan tidak bisa kembali ke dalam pasukan." Menteri Militer berbicara dengan nada takut dan penuh hormat. Kepalanya menunduk hampir menyentuh lantai karena takut.

Hashirama pun mengkerutkan alis. Kedua tangannya mengepal memikirkan berapa banyak pasukan yang tewas karena menjaga perbatasan. Ia melirik menterinya saat melihatnya seperti ingin berbicara namun tak berani. "Lanjutkan!" perintahnya tegas.

Menteri Militer itu pun meneguk ludah berat. Sepertinya berita yang akan dilaporkan selanjutnya lebih buruk dari sebelumnya karena wajahnya terlihat semakin pucat takut. Ia menarik napas sebelum berbicara lagi, "Heika, hamba mendapat laporan bahwa terlihat gerak-gerik dari Kerajaan Taki dan Ame dengan Kerajaan Oto. Hamba takut mereka sedang merencakan aliansi untuk menyerang Kekaisaran Senju."

Ame dan Taki?

Bibir sang Kaisar Senju pun menipis muram. Dengan cepat kepalanya langsung memikirkan berbagai kondisi dan masalah.

Tanah Api berada di tengah-tengah tanah wilayah yang lain. Disebut Tanah Api karena tanah wilayah ini dikenal memiliki elemen api, cuacanya cukup hangat dan subur sehingga banyak klan yang menginginkannya. Setelah Senju berhasil menguasai tanah ini, kerajaan-kerajaan di sekitarnya pun memberontak. Apalagi mengingat tanah ini berada di tengah wilayah lain. Senju pun mau tidak mau menjadi dikepung beberapa kerajaan lain. Jika kerajaan-kerajaan itu menjadi bersekutu untuk menyerang, tentu saja ini akan menjadi masalah yang buruk.

Tidak apa-apa jika mereka menyerang secara personal, karena jumlahnya tidaklah seberapa bagi Kekaisaran Senju. Namun jika mereka sudah bergabung, maka jumlahnya akan lebih besar dan menyulitkan. Tapi ini adalah Kekaisaran Senju! Siapa yang tidak tahu bahwa Senju memiliki kekuatan yang besar dan hebat? Tidak mungkin mereka, kerajaan-kerajaan kecil, berani berbenturan senjata dengannya. Siapa? Bagaimana? Apa ada sesuatu yang membuat mereka mau menarik pedang? Tidak mungkin mereka bergerak jika tidak memiliki kesempatan untuk menang.

Ekspresi muram masih terpasang di wajah sang kaisar bahkan setelah pertemuan dewan itu selesai. Hashirama berjalan cepat menuju ruang studinya. Setelah melakukan pertemuan saat pagi, sebagai kaisar, ia masih harus memeriksa dan menyetujui banyak dokumen.

Madara hanya berjalan patuh di belakangnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Baru setelah Hashirama duduk di meja kerjanya, sang alpha melirik pada pengawalnya. "Bagaimana menurutmu, Madara?"

Madara mengambil posisi berdiri di samping pintu shoji. Tubuhnya tegap dengan satu tangan diletakan di atas gagang pedang. Posisi yang membuatnya bisa kapanpun menarik pedang jika dibutuhkan. Ia balas menatap sang Kaisar yang duduk di depannya tanpa takut. Jika dia adalah orang lain, mereka mungkin akan menundukan pandangan dengan tak berani. Namun dia adalah Madara, seorang Uchiha dan seseorang yang sudah lama berteman dengan Hashirama bahkan sebelum dia menjadi kaisar.

Hashirama tanpa sadar menampilkan senyum. Berapa kali pun ia melihatnya, ia tetap akan menjadi senang sendiri. Madara memang berbeda dari yang lainnya. Dia sama sekali tak takut padanya meskipun status kasta mereka berbeda. Ini mungkin juga dikarenakan mereka sudah berteman sejak kecil. Namun dibandingkan dengan yang lainnya yang selalu berpura-pura mendekatinya karena mempunyai tujuan tersembunyi, Madara adalah satu-satunya orang yang sama sekali tak berpura-pura di depannya.

Tidak.

Teman sudah bukan lagi kata yang cocok untuk menyebut hubungan mereka berdua, bukan?

Hashirama berdiri dari tempatnya dengan menyeringai lebar. Madara pun menaikkan satu alis melihatnya berjalan mendekatinya. Namun ia hanya memutar bola mata ke samping dan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang Senju.

"Penyerangan mendadak ini terlihat mencurigakan. Musim dingin bahkan belum sepenuhnya hilang, namun mereka dengan berani mengirimkan penyerangan," ucapnya dengan menekuk wajah.

"Kau juga berpikir begitu?" balas Hashirama yang sudah berdiri dua langkah di depan pengawalnya. "Sepertinya penyelidikan lebih memang perlu dilakukan mengenai rumor persekutuan itu. Aku ragu tidak ada yang memanipulasi penyerangan ini. Ame dan Taki bukan kerajaan yang akan bergerak tanpa keuntungan," lanjutnya serius.

"Hn, aku sudah mengirim orang untuk mengurusnya. Heika tidak perlu memusingkan hal ini," sela Madara. Menurutnya, pekerjaan seperti ini tidak perlu dipikirkan oleh seorang kaisar.

Hashirama menyeringai puas. Terkadang ia merasa pengawalnya ini lebih cocok menjadi sebagai sekretarisnya dari pada seorang pengawal. Meskipun sebenarnya, dia sendiri sudah memiliki seorang menteri sekretaris yang selalu membantu pekerjaannya. Hashirama menatap pria raven itu dengan bangga. Namun kemudian perhatiannya langsung teralih begitu menatap wajah tampan pria itu. Dari alis matanya yang lentik lalu turun ke bawah untuk menatap bibir merah mudanya yang sedikit tebal. Bibir itu terlihat kenyal dan menggoda. Dia jadi ingin…

"Kau…" sudut mata Madara pun berkedut sekali melihat tingkah memalukan sang kaisar. Namun Hashirama justru menyengir tanpa malu meskipun pikiran kotornya sudah ketahuan.

Pria berstatus kaisar itu berjalan mendekatkan diri. Kedua tangan diletakan menempel pada dinding shoji di samping tubuh sang Uchiha. Meskipun begitu, Madara sama sekali tak terlihat terintimidasi berada dalam dekapan tangan sang alpha. Ia menaikan pandangan untuk bertemu mata hitam pria di depannya. Hitam pun bertemu dengan hitam. Waktu seolah berhenti begitu mereka bertatapan sebelum akhirnya mereka bergerak lagi.

Entah siapa yang maju duluan, begitu sadar bibir mereka sudah saling berbenturan. Madara mencengkram kerah kimono sang alpha di depannya dan menariknya lebih ke depan agar tubuh mereka semakin menempel.

Suara decakan basah langsung terdengar dalam ruangan studi itu. Pagutan bibir itu pun menjadi panas. Dua lidah mereka saling mengejar satu sama lain. Madara memasukan lidahnya ke dalam mulut sang alpha. Menghisap lidah di sana dan melilit dengan agresif. Sama sekali tak ingin kalah dalam permainan mereka. Namun Hashirama justru dengan senang hati membiarkannya. Dua tangannya dengan tak sabaran memeluk tubuh berbaju besi sang beta dalam dekapannya. Merasa kesal dengan baju besi keras yang menghalanginya untuk meraba kulit mulus sang kekasih. Namun hal itu tak membuatnya berhenti meraba ke bawah. Dengan familiar, tangannya menyusup ke dalam jubah besi. Di sana, dia meremas pantat kenyal itu dengan rakus.

"Ngnn—!" erang Madara sedikit tersentak. Dia dengan cepat melepas ciuman mereka. Namun satu detik berikutnya ia kembali maju dan menggigit bibir bawah sang alpha dengan kesal.

Tawa kecil terlepas dari sang kaisar. Hashirama membalas gigitan itu dengan ciuman yang lebih panas. Dengan bernafsu, dia melumat bibir merah kekasihnya. Rasa manis yang dirasakannya membuatnya hampir hilang kendali. Dua tangannya pun dengan agresif meraba tubuh sang beta. Ingin sekali rasanya dia melepas jubah besi yang dikenakan kekasihnya. Namun keinginannya itu sepertinya harus musnah karena Madara tanpa ampun menarik rambutnya ke belakang agar lumatan bibir mereka terlepas.

"Bodoh, sekarang bukan waktunya untuk main-main" omel Madara dengan mata mendelik. Meskipun dia sendiri juga tak bisa menutupi hawa nafsu yang terpancar dari mata oniknya.

Hashirama menyengir tanpa malu. Kepalanya kembali condong ke depan untuk menangkap lagi bibir manis sang beta. Namun Madara dengan kasar mendorong kepalanya. Dua oniknya mendelik garang pada sang alpha.

Dengan merengut, Hashirama pun melonggarkan pelukan mereka. Namun ia tetap mendekap sang beta, tak ingin begitu saja lepas dari sentuhan mereka.

Madara pun tanpa sadar melembut ketika melihatnya. Dia pun berbicara untuk meringankan suasana panas di antara mereka. "Adikku akan tiba di ibukota hari ini."

"Hmm..?" Hashirama bergumam malas. Pandangannya masih terpaku pada bibir sang beta. "Itachi?"

"Bukan," balas Madara dengan memutar bola matanya pada sang alpha. Dua tangan ia lipat di depan dada sebelum lanjut bicara lagi. "Bukankah besok ritual hatsumode akan dilaksanakan? Dia ingin melihat festival musim semi di ibukota."

"Oh," mata hitam Hashirama berkilat sekilas seraya ia mengingat bahwa kekasihnya masih memiliki seorang adik kecil.

"Maksudmu si Sasuke?"

.

.

.

Festival musim semi merupakan festival yang dilakukan untuk menyambut tahun lunar baru. Sebenarnya festival ini juga bisa dikenal sebagai acara pergantian musim, atau upacara doa tahun baru.

Di setiap sudut ibukota terlihat sudah ramai dengan pernak-pernik persiapan festival. Khususnya di pinggiran jalan dan pasar, terlihat berbagai kedai yang sudah dipersiapkan untuk acara festival besok. Hiasan patung dan topeng kayu berbentuk iblis juga terlihat dimana-mana. Tak lupa dengan berbagai kacang kedelai yang sudah dipersiapkan untuk ritual besok. Rakyat Senju percaya bahwa dengan melempar kacang kedelai ke luar pintu ataupun pada patung iblis, akan bisa mengusir roh jahat dan kesialan. Sehingga mereka bisa menyambut tahun baru dengan hawa yang lebih positif.

Dari arah gerbang ibukota terlihat banyak orang berlalu-lalang. Banyak di antaranya yang terlihat berkunjung ke ibukota dari tempat jauh. Di tengah kerumunan orang-orang, terlihat sebuah rombongan samurai berjalan masuk. Samurai-samurai itu berpakaian lengkap dan terlihat kuat. Dari penampilannya jelas sekali mereka samurai dari sebuah klan ternama. Beberapa dari mereka membawa norimono, sebuah tandu mewah terbuat dari kayu yang kuat. Bentuknya seperti kereta tertutup dari kayu dengan ukiran mewah menghiasinya. Di atas atap kereta terdapat tiang penyangga kuat yang digunakan untuk mengangkat kereta itu. Terdapat empat sampai delapan orang yang dibutuhkan untuk membawa tandu itu.

Orang-orang pun dengan was-was mulai menyingkir membiarkan pembawa tandu itu lewat. Dari penampilan tandunya saja sudah membuat orang di sana waspada. Hanya seorang bangsawan dan samurai kelas atas yang memiliki tandu mewah seperti itu untuk alat transportasi. Mereka, orang-orang biasa hanya bisa menatap dengan kagum dan iri melihat para bangsawan itu lewat menggunakan norimono.

Kelompok samurai itu membawa dua tandu norimono menuju sebuah kediaman besar di ibukota. Satu tandu di depan lebih besar dari yang di belakang. Namun dari penampilan dan jumlah samurai yang melindunginya, jelas sekali tandu di belakang lebih banyak dan berkualitas. Tanpa berpikir sulit, orang akan bisa menebak bahwa orang di dalam tandu belakang merupakan seseorang yang lebih penting.

Kediaman yang mereka tuju berada di dekat istana kekaisaran. Sebuah papan nama bertulisan 'Uchiha' terukir jelas dan lantang di depan gerbang. Para samurai penjaga di sana segera menunduk hormat begitu melihat samurai pembawa tandu tiba di sana.

Dengan hati-hati samurai-samurai itu menurunkan tandu yang mereka bawa. Pintu yang dibuka terlebih dahulu adalah norimono depan. Dari dalam tandu, muncul seorang gadis cantik berambut coklat tua panjang. Dia memakai kimono ungu muda panjang yang bercorak bunga indah. Di belakangnya lalu diikuti oleh seorang gadis lagi yang berambut ungu tua. Dia memakai kimono panjang berwarna biru. Mereka berdua adalah dua orang omega dari klan Uchiha. Penampilan mereka yang sangat cantik membuat para samurai dan pelayan di tempat itu kagum. Namun reaksi mereka masih kurang jika dibandingkan ketika tandu di belakang dibuka.

Dari tandu itu muncul seorang pemuda berambut hitam. Kulitnya berwarna putih berseri, sedangkan wajahnya sangat tampan. Ketika pemuda itu keluar tandu, orang-orang pun langsung bersemu merah karena kagum melihatnya. Meskipun dia adalah seorang omega laki-laki, namun kecantikannya mampu mengalahkan omega perempuan. Tubuhnya bisa dibilang cukup tinggi untuk seorang omega, hampir mencapai 5 kaki dan 10 inci. Badannya ramping namun berisi. Pakaiannya lebih sederhana dibandingkan dengan dua omega di sampingnya, namun daya tariknya lebih memikat dibanding yang lain. Dengan berdiri saja, aura bangsawan langsung terpancar dari tubuhnya. Bisa dibilang pemuda ini memiliki pesona alami yang bisa menarik siapapun.

Uchiha Sasuke, sang pemuda itu menekuk bibirnya ke bawah dengan tak suka. Perjalanan dari kediaman utama Uchiha menuju ibukota Senju cukup jauh dan melelahkan. Klan Uchiha berada di belakang gunung di sebelah timur ibukota. Perjalanan harus memakan waktu paling tidak tiga sampai empat jam berjalan untuk sampai ke ibukota Senju.

Beberapa pelayan segera berdatangan untuk membantu membawakan barang-barangnya. Sasuke berjalan masuk diikuti dua omega lainnya menuju kediaman. Dari dalam, seorang, tidak, dua orang pemuda berjalan keluar menyambut mereka.

"Sasuke!" Seorang pemuda beta memanggilnya dengan senyuman ramah. Ia bertubuh tinggi. Memiliki rambut raven panjang yang diikat longgar di belakang leher. Ia memakai kimono yang dipasangkan dengan hakama dibawahnya. Sebuah katana panjang terlihat menggantung di pinggangnya.

Sebuah senyum kecil pun terukir di bibir Sasuke begitu melihat pemuda beta itu. Dengan senang, ia berjalan cepat untuk mendekatinya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu dengan kakaknya. "Nii-san!"

Itachi memeluk adiknya dengan senang. Mereka baru tak bertemu beberapa bulan, namun rasanya adiknya itu semakin besar saja. "Bagaimana perjalananmu, Sasuke? Apa melelahkan?" Itachi melepas pelukannya untuk melihat adiknya lebih jelas. "Maaf Nii-san tidak bisa pergi menjemputmu kemari."

"Tidak apa," balas Sasuke singkat. Ia menoleh ke samping saat sadar terdapat pemuda lain di samping kakaknya.

Pemuda itu lebih muda dari Itachi. Memiliki rambut pendek jabrik dan bermata hitam. Rona merah memenuhi kedua pipinya ketika melihat Sasuke melirik ke arahnya. "H-hai, Sasuke." ucapnya dengan menyengir malu-malu.

"Hn," Sasuke hanya membalas singkat dengan acuh. Perhatiannya segera terpusat kembali kepada kakaknya. Tanpa melihat ekspresi kecewa yang muncul di wajah pemuda itu begitu diabaikan.

Pemuda itu bernama Uchiha Obito. Dia merupakan seorang alpha dari keluarga samping klan Uchiha. Bisa dibilang mereka adalah sepupu jauh. Obito adalah salah satu dari beberapa alpha Uchiha yang berpotensi tinggi. Sehingga jika dibandingkan, dia memiliki kesempatan tinggi untuk menjadi alpha Sasuke. Oleh karena itu, mau tak mau ia merasa kecewa karena sudah diacuhkan sang raven. Namun ia segera bersemangat kembali karena tahu sifat Sasuke memang pada dasarnya cukup dingin.

Mereka berlima pun segera masuk ke dalam kediaman diikuti beberapa pelayan. Itachi mengantar adiknya hingga ke kamar. Kediaman Uchiha di ibukota tidak sebesar kediaman utama di wilayah Uchiha. Namun masih cukup luas dan mewah. Klan Uchiha menggunakannya sebagai tempat tinggal orang-orang klan yang bekerja di istana. Biasanya klan akan mengirim beberapa pemuda Uchiha yang sudah dewasa ke ibukota untuk belajar dan mencari pengalaman.

"Lebih baik kau beristirahat sekarang, besok festivalnya akan cukup meriah," tutur Itachi setelah memastikan adiknya nyaman di ruangannya.

"Bagaimana dengan ritual hatsumode, Nii-san akan melakukannya di istana?" tanya Sasuke dengan penasaran.

Itachi hanya tersenyum kecil. Dua jari diacungkan ke depan dan menyentuh dahi sang adik dengan gemas.

"Kau lihat saja besok."

.

.

.

Di suatu tempat di dalam ibukota, tepatnya di suatu pojokan pasar, seorang pemuda berjalan malas melewati kerumunan. Rambutnya pirang berantakan, dengan sebuah kain kecil mengikat kepalanya, membuat rambut jabriknya itu semakin berdiri. Ia memakai hakama, dengan kimono yang setengah terbuka dengan berantakan. Dada bidangnya yang berkulit kecoklatan pun menjadi terlihat. Di pinggangnya terpasang dua buah pedang. Penampilannya yang sangat semrawut membuatnya terlihat seperti berandal pasar. Orang-orang di sekitanya pun menjadi berjalan menjauhinya. Bahkan tatapan sinis dan ejekan sesekali diarahkan padanya.

"Nyaawwn~!" Pemuda pirang itu membuka mulut lebar untuk menguap dengan ngantuk. Sikapnya terlihat sangat acuh.

Pemuda pirang itu terlihat tak memperhatikan pandangan di sekelilingnya. Sepertinya ia sudah terbiasa mendapat pandangan jelek sehingga tak merasakan apapun saat mendapatkannya. Dengan langkah yang sama sekali tak terlihat seperti samurai teladan, ia berjalan sempoyongan melewati pasar.

Kruyuukkk~~!

"Ukh," Naruto meremas perutnya yang berbunyi dengan muka cemberut. Ia benar-benar lapar. Namun sayangnya uangnya minggu ini sudah hangus lagi entah kemana. Sepertinya dia harus mencari kerja lagi mulai besok. Kalau begini bagaimana bisa dia berkencan lagi dengan ramen favoritnya?! Naruto melirik kedai ramen di depannya dengan melas. Merasa terancam, pemilik kedai itu langsung mendelik jijik padanya dengan sendok sayur di angkat tinggi-tinggi sebagai peringatan.

Dengan pasrah, ia pun berjalan lagi untuk pergi dari sana. Semoga saja Aniki punya banyak uang. Ia bisa mati jika tidak makan ramen dalam sehari!

Naruto berjalan cepat menuju utara ibukota, di mana kuil utama diletakan di dekat istana. Para pendeta di kuil langsung mengiriminya pandangan jijik begitu melihatnya. Bahkan ada beberapa yang mendelik tak suka begitu melihatnya memasuki kuil utama. Penampilannya saja sudah tak menyakinkan, apalagi dia adalah seorang ronin. Samurai tanpa tuan itu sangat rendahan. Berani sekali dia masuk ke dalam kuil utama dengan seenaknya?!

Namun tentu saja, Naruto sama sekali tak mempedulikan pendapat orang lain. Dengan semangat, pemuda itu berjalan masuk menuju kuil di mana ia tahu aniki-nya itu berada. "Aniki!" teriaknya keras begitu melihat kuil itu.

"Oii Aniki?!" Naruto berteriak lagi dengan heran. Biasanya aniki-nya itu akan langsung keluar begitu mendengarnya datang. Naruto mencari ke sekeliling kuil saat tak melihat aniki-nya di manapun. Di jalan dia melihat seorang miko menghampirinya.

Dengan sumringah, ia pun memanggil. "Kanna-chan! Apa kau melihat Aniki?!"

Miko yang dipanggil Kanna itu menekuk bibir tak suka. "Naruto-kun, tolong kecilkan suaramu. Semua pendeta sedang sibuk berdoa untuk persiapan besok."

Naruto hanya menyengir dengan menggaruk belakang kepalanya. "Heheh, terus aniki?"

Kanna menghela napas kecil. "Apa kau tidak tahu? Besok ada upacara hatsumode. Ashura-dono sedang berada di istana untuk melakukan persiapan."

"Ah?" Naruto merengut kecewa. "Kalau begitu kapan dia kembali?"

"Ashura-dono baru kembali setelah upacara besok selesai."

"Ehhh, tidak mungkin…" Kalau begitu bagaimana dengan ramen—uhuk—maksudnya perutnya?! Masa dia harus kelaparan hari ini?! Naruto menatap perutnya dengan melas.

.

.

.

Tahun Butsuma-tenshi ke-28 Bulan ke-1 hari ke-1 : Ibukota Senju

Esok pagi pun datang dengan disambut oleh sinar matahari yang hangat. Suhu pagi ini sudah turun drastis dibanding kemarin. Meskipun masih terlihat sisa-sisa salju yang menimbun di jalanan, namun cuaca hari itu bisa diperkirakan akan cukup hangat. Musim dingin sepertinya benar-benar sudah digantikan oleh musim semi.

Istana pun sangat sibuk pagi itu. Para pelayan terlihat berlalu-lalang di setiap sudut istana. Ribuan samurai pengawal sudah mengambil posisi di setiap sudut untuk berjaga. Gerbang istana yang biasanya tertutup pun kini terbuka lebar. Sebuah karpet merah sudah digelar memanjang menuju kuil utama. Sedangkan ratusan samurai sudah berderet membentuk barisan jalan di setiap sisi karpet.

Di sekeliling mereka terlihat banyak rakyat Senju yang berkerumun untuk melihat. Dari penampilan mereka jelas terlihat bahwa mereka semua sudah bersiap-siap demi acara pagi itu. Kimono baru dan cantik dikenakan hampir semua orang.

Sorakan riang langsung memburu tempat itu begitu sesuatu akhirnya muncul di balik gerbang. Barisan miko diikuti oleh wanita berkimono cantik berjalan beriringan. Mereka berdandan sangat cantik dan elegan. Di belakangnya kemudian muncul barisan pengawal berpakaian zirah lengkap. Di tengah-tengah barisan terlihat sebuah goshoguruma, kereta mewah terbuat dari kayu kokoh yang di depannya ditarik oleh seekor sapi jantan yang gagah. Barisan samurai di sekitarnya berjalan mengiringi dengan salah satu samurai menggiring sang sapi. Ketika kereta ini lewat, sorakan dari para rakyat pun sangat meriah. Jelas sekali orang yang berada di dalamnya itu sangat penting. Siapa lagi kalau bukan sang pemimpin kekaisaran Senju?

Di belakang kereta mewah itu kemudian diikuti oleh sebuah tandu besar yang diangkat oleh beberapa samurai. Di dalam tandu itu terlihat ada banyak makanan, barang dan emas. Mereka adalah sebuah persembahan yang disiapkan oleh kekaisaran untuk dipanjatkan kepada para dewi ketika ritual berdoa.

Lalu akhirnya barisan itu ditutup oleh barisan menteri yang juga mengikuti upacara. Proses perjalanan itu terlihat sangat megah dan agung. Membuat semua orang di sana menjadi ikut serius dan khidmat.

Barisan pendeta dan miko sudah berdiri di depan gerbang kuil begitu mereka sampai. Kereta mewah itu pun akhirnya berhenti di sana. Seorang samurai segera bergerak untuk meletakan pijakan tangga di belakang kereta, sebelum membukakan pintu kayu di sana.

Dari dalam pun muncul seorang pria alpha berpakaian mewah dan gagah. Kaisar Hashirama Senju. Memakai sokutai lengkap, dengan kimono dalam berwarna putih yang dilapisi oleh jubah sutra mewah yang diikat tali di bagian pinggang. Rambut hitam panjangnya yang biasa digerai lurus kini digulung rapi dengan dipasangkan hiasan kepala berbentuk topi dengan simbol kekaisaran.

Setelah sang kaisar turun, kemudian di belakangnya disusul oleh seorang wanita omega yang sangat cantik. Dia memiliki rambut berwarna merah yang digulung rapi dan diberi hiasan mewah. Sedangkan tubuhnya dibalut dengan juunihitoe, sebuah kimono yang sangat elegan dan kompleks. Terdiri dari kimono dalam putih yang dilapisi oleh banyak kimono luaran berwarna campuran merah. Di tangannya terdapat sebuah kipas yang cantik dan terperinci. Dia adalah seorang Ratu Kekaisaran Senju. Benar, wanita cantik bernama Uzumaki Mito ini adalah seorang istri dari Kaisar Senju Hashirama.

Hashirama mengulurkan tangannya kepada sang omega. Wanita berambut merah itu pun tersenyum sipu. Dengan lembut meletakan tangannya di atas tangan sang kaisar. Dengan beriringan mereka berjalan menuju kuil diikuti oleh barisan menteri.

.

.

Upacara hatsumode merupakan ritual mengunjungi kuil di hari pertama tahun lunar baru. Di sana mereka akan melakukan ritual penyucian untuk membersihkan semua dosa dan hal negatif yang telah dilakukan di tahun sebelumnya. Kemudian memanjatkan persembahan dan doa-doa kepada Dewi Amaterasu untuk meminta berkahnya di tahun yang baru.

Di dalam kuil utama, dimana sebuah altar Dewi Amaterasu berdiri, seorang pendeta duduk bersimpuh seraya melafalkan doa-doa dengan sangat fasih. Pendeta itu merupakan seorang alpha yang bertubuh tegap dan kokoh. Memakai jubah putih berlapis merah yang menyala kontras dengan kulit kecoklatannya. Namun justru membuat perawakannya terlihat gagah. Rambutnya berwarna coklat tua pendek dengan bagian sisi dibuat panjang dan digulung rapi oleh kain putih. Di atas kepalanya dipasangi dengan hiasan topi hitam tate-eboshi yang membuat rambut jabriknya lebih rapi.

Mata pendeta itu tertutup rapat memperlihatkan betapa seriusnya sang pendeta ketika berdoa. Suara debaman langkah kaki kemudian terdengar dari arah belakangnya. Kelopak mata yang dari tadi tertutup itu pun akhirnya terbuka memperlihatkan dua bola mata beriris hitam kelam.

"Ashura-dono, semua persiapan sudah selesai. Kita bisa memulai upacaranya sekarang," ucap seorang miko cantik yang juga memakai jubah putih dari belakang sang pendeta.

Pendeta yang dipanggil 'Ashura-dono' itu pun melirik ke belakang. Sudut bibirnya sedikit naik ke atas memperlihat senyum tipis. "Aku mengerti," balasnya ringan sebelum berganti dengan ekspresi serius lagi ketika ia kembali menatap lurus ke altar.

"Kalau begitu kita mulai ritualnya."

Air suci pun sudah disiapkan di dekat gerbang kuil untuk digunakan sang Kaisar dan Istrinya untuk menyucikan diri. Sebelum gerakan mereka diikuti oleh para menteri yang berbaris di belakang.

Cring~

Cring~

Barisan miko dalam kuil itu kemudian muncul ke depan altar dan melakukan tarian ritual. Musik dan nyanyian agung pun langsung terdengar mengiringi tarian itu. Delapan miko berpakaian putih dan merah menari dengan sangat elegan dan cantik. Mereka membawa sebuah kipas dan tongkat bel yang sesekali dibunyikan. Tarian itu dilakukan untuk menarik perhatian para dewa di langit. Sebelum kemudian mereka akan memanjatkan persembahan yang sudah disiapkan.

Ashura melihat prosesi ritual dengan serius. Setelah tarian para miko mencapat puncak, dia pun berjalan maju ke depan altar dengan delapan miko berdiri mengelilinginya. Di tangannya adalah sebuah tongkat ritual yang didekorasi dengan hiasan kertas shide. Tongkat itu bergerak mengayun mengikuti gerakan tangannya ke atas. Kemudian mengayun ke bawah lagi menyerupai tarian para miko. Dia kemudian berjalan menuju persembahan yang sudah disiapkan di depan altar.

Ritual yang mereka lakukan sebenarnya cukup sederhana, namun memiliki prosesi yang panjang. Dengan suasana serius dan khidmat mereka memanjatkan persembahan kepada dewi dan berdoa meminta berkah untuk tahun mendatang. Ashura, sebagai Kepala Pendeta Kuil, harus memimpin ritual dari awal sampai akhir. Kaisar dan Istrinya kemudian diberikan berkat penyucian sebelum mereka berdoa dengan serius di depan altar. Tentu saja yang mereka doakan adalah berkah-berkah untuk kerajaan mereka, seperti panen berlimpah, kelahiran anak yang banyak, dijauhkan dari bencana, kemenangan dalam perang.

Setelah Kaisar selesai berdoa, kemudian dilanjutkan para menteri untuk berdoa. Terus berlangsung sampai akhirnya kuil dibuka untuk rakyat umum yang sudah menunggu diluar untuk ikut berdoa.

Ritual berdoa ini biasanya akan terus berlangsung sampai sore hari. Namun begitu siang datang, festival musim semi pun sudah dimulai. Hampir setiap jalanan ibukota penuh dengan pernak-pernik festival. Khususnya di alun-alun kota, puluhan kedai makanan, minuman ataupun souvenir pun berderet berjualan di sisi jalan. Kedai-kedai permainan pun juga tak kalah banyaknya meramaikan festival.

Di dalam istana, perayaan besar pun juga dilaksanakan. Hampir semua orang penting di istana diundang untuk ikut dalam pesta perayaan itu. Apalagi dengan hadirnya Kaisar dan Permaisurinya dalam pesta itu, semua orang yang datang pun pasti akan merasa sangat bangga. Meskipun sebenarnya mereka dipisahkan oleh panel kertas transparan di antara ruangan. Wajar saja, tidak semua orang bisa melihat wajah Kaisar dan Istrinya dengan mudah. Bahkan para menteri pun jarang melihat wajah sang Ratu, hanya bisa melihat sang kaisar setiap kali mereka melakukan pertemuan.

"Ashura-dono, terima kasih atas kerja kerasnya pagi ini. Semoga Kami-sama membekatimu," ucap Hashirama dengan senyum ramah pada sang pendeta yang duduk bersimpuh tak jauh dari mejanya.

"Sudah kewajibanku, Heika. Semoga Kami-sama membekati kita," balas Ashura menundukkan kepalanya lebih rendah pada sang Kaisar. Sebagai Kepala Pendeta, ia diijinkan untuk berhadapan langsung dengan sang Kaisar dalam satu ruangan. Apalagi hubungannya dengan Kaisar yang sekarang cukup dekat, sehingga tidak perlu ada terlalu banyak formalitas di antara mereka.

Hashirama tergelak keras. Suasana hatinya sedang cukup senang mengikuti suasana festival yang meriah. "Ayo, ayo, Ashura-dono. Kita minum sake bersama," ucapnya dengan tawa renyah. Pelayan di dalam ruangan itu pun langsung bergerak dan menuangkan sake untuk mereka berdua.

Ashura membalas senyuman sang kaisar dengan senang. Dia mengangkat cangkir sakenya ke arah sang Kaisar dan Ratu di depannya untuk bersulang. Dengan hati-hati, dia melirik ke arah sang Ratu. Istri Kaisar itu merupakan omega yang sangat cantik. Berambut merah eksotik dan bermata coklat tanpa pupil. Fitur yang sangat khas dan jarang di Kerajaan Senju yang dipenuhi dengan rambut hitam dan coklat. Siapapun pasti akan senang dan bangga jika bisa mendapatkan pasangan dari klan Uzumaki yang berperawakan luar biasa dan eksotik ini. Tapi…

Ashura melirik ke sudut ruangan di mana para pengawal duduk berdiri berjaga. Di sana, tepat di belakang sang Kaisar, terlihat sosok yang paling menonjol. Dia berdiri tegap tanpa ekspresi. Aura dingin memancar dari tubuhnya seolah sedang memperingatkan siapapun yang ada di sana untuk tidak macam-macam. Berapa kalipun Ashura melihatnya, dia tetap tak bisa mengerti.

Kenapa sang Kaisar lebih memilih 'dia' dari pada Istrinya yang lebih cantik?

Ashura tersenyum membalas candaan dari sang Kaisar. Dari sudut matanya dia melirik sang Ratu. Wanita itu tertawa kecil dengan sangat menawan. Sudut matanya melengkung ke atas, dengan bibirnya yang tersenyum sangat manis. Ekspresi tulus yang sungguh-sungguh terlihat jelas di wajahnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terpesona pada sang Ratu. Ashura berhenti sebentar saat sebuah pemikiran terlintas masuk ke dalam kepalanya. Dua mata hitam Ashura pun berkilas dan ia menahan sudut bibirnya yang ingin naik ke atas.

Sangat menarik…

Ashura berpikir kecil seraya menatap dua pemimpin Kekaisaran di depannya. Drama istana bukanlah sesuatu yang penting untuknya. Tapi tetap saja, dia mau tak mau menjadi mengetahuinya tanpa berusaha sulit. Yah meskipun bisa dibilang ia cukup terhibur setiap melihat drama itu.

Tapi… meskipun tidak penting, hal ini mungkin bisa berguna untuknya nanti di masa depan? Jika ia hendak menyelesaikan tujuannya, hal sekecil ini pun juga mungkin berguna.

Sebuah suara musik meriah tiba-tiba berbunyi dari balik panel transparan. Ashura pun terbangun dari pemikirannya dan melirik ke luar panel. Sorakan meriah dan semangat pun bergema dari setiap orang di aula pesta. Pandangan Ashura pun langsung tertarik menuju tengah ruangan di mana barisan tayuu muncul di sana. Para oiran itu berpenampilan sangat cantik dengan kimono dan perhiasan yang kompleks dan sangat elegan.

Tayuu adalah kumpulan oiran wanita ataupun laki-laki yang mengabdikan hidupnya dalam keterampilan seni kelas atas. Tentu saja, kesenian yang dimaksud adalah kesenian dalam bidang apapun. Musik, tarian, budaya, kaligrafi, bahkan seni tubuh.

Benar, oiran adalah seorang pelacur.

Itu adalah panggilan kasarnya.

Mereka adalah kumpulan omega dan beta yang memperjualkan kesenian tubuhnya demi uang. Tentu saja, omega merupakan oiran yang paling diminati dan paling dicari. Apalagi jika itu adalah omega laki-laki yang akhir-akhir ini sangat langka. Semakin cantik seorang omega, maka semakin diminati. Oleh karena itu, hampir semua Tayuu, oiran kelas atas terdiri dari omega. Seperti barisan tayuu yang sedang menari sekarang ini. Hanya yang terbaik dari yang terbaiklah yang diperbolehkan untuk tampil di depan sang Kaisar.

Ashura tak begitu menyukai acara seperti ini. Namun entah kenapa pandangannya tiba-tiba berhenti begitu ia melihat seseorang di barisan tayuu yang sedang menari itu.

Seorang omega laki-laki berambut hitam panjang. Padahal omega itu memakai kimono cantik sama seperti tayuu yang lain. Memakai hiasan yang juga sama seperti yang lain. Kecantikannya pun kurang lebih sama dengan yang lain. Tapi wajah itu…

Berkulit putih berseri. Memiliki dua alis mata bulat yang unik dan khas di atas matanya. Bulu matanya panjang dan lentik menghiasi dua mata runcingnya, dengan dua bola mata beriris hitam yang menawan. Hidungnya mancung dan lurus. Lalu bibirnya tebal dan merah memikat melengkapi kecantikan wajah itu. Wajah yang sebenarnya juga hampir sama cantiknya dengan omega lain.

Tapi, wajah itu…

Kenapa wajah itu bisa muncul di sini?!

Ashura menatap lebar tak percaya melihat sosok familiar yang sedang menari di tengah perayaan.

.

.

.

"Nyaawwwnn~~"

Naruto membuka mulutnya lebar-lebar untuk menguap kantuk. Satu satu tangannya naik ke atas untuk menggaruk akar rambutnya yang gatal. Entah sudah berapa lama sejak ia mencuci rambut pirangnya yang jabrik. Apa? Seorang samurai itu tidak takut kotor! Hanya rambut gatal saja tidak akan menghalangi jalan bushido-nya! Uhuk—tentu saja, dia dengan senang hati lupa bahwa keramas itu salah satu hal penting untuk menjaga kebersihan diri.

Tsk, masa bodoh dengan keramas?! Yang terpenting sekarang adalah ramen! Lihat perutnya saja juga ikut setuju! Naruto menatap melas perutnya yang terus berbunyi dari tadi.

"Siaaalll!" Ini gara-gara Aniki tidak bisa ditemui! Dia jadi tidak bisa numpang maka—uhuk—maksudnya meminta bantuan kan. Awas saja nanti kalau ketemu. Berani sekali Aniki meninggalkannya sendirian seperti ini?!

Bahkan kuil pun sekarang sedang ditutup karena dipakai untuk berdoa. Dia kan jadi tidak bisa mengambil jatah makanan di depan altar. Apa? Tentu saja yang dilakukannya itu bukan mencuri! Jangan bercanda. Dia hanya mengambil saja kok, tidak, tidak, dia hanya meminjam. Benar, dia itu hanya meminjam makanan persembahan dari altar! Bukan mencuri. Lagipula juga tidak akan ada yang memakannya bukan? Jadi daripada dibuang percuma, bukankah lebih baik dia makan?

Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya sekarang karena kuil sedang sangat ramai untuk berdoa. Akhir-akhir ini, Naruto merasa dia sedang sangat sial. Pekerjaan saja dia tidak dapat-dapat dari kemarin. Rutuk pemuda itu kesal.

Dengan terpaksa, pemuda pirang itu pun melanglang buana kembali ke tengah ibukota. Mungkin saja ada nenek-nenek baik hati yang bakal memberinya ramen di alun-alun nanti. Bukankah sekarang ini sedang festival. Seharusnya ada banyak makanan!

Alun-alun festival memang terdapat banyak makanan. Namun semuanya hanya bisa didapatkan jika punya uang. Sebagai ronin melarat yang sedang kehabisan uang, tentu saja Naruto hanya bisa menatap nanar dari kejauhan.

Apa boleh buat, sepertinya pemuda pirang itu terpaksa harus menunggu sampai Aniki-nya kembali dari Istana. Naruto menghela napas panjang seraya berjalan-jalan melihat keramaian festival.

Ada banyak sekali orang berlalu-lalang di alun-alun. Khususnya anak-anak yang berlarian memakai topeng kayu berbentuk iblis dengan bermain riang. Namun mengingat tempat itu adalah ibukota, maka sesekali akan terlihat beberapa bangsawan yang berjalan-jalan di kelilingi oleh samurai pengawal.

Naruto berhenti di sebuah kedai yang berjualan topeng kayu. Salah satu topeng di sana menarik perhatiannya. Tergantung di pojok kedai seperti barang yang tak laris. Terbuat dari kayu sama seperti yang lainnya, namun memiliki bentuk yang sedikit berbeda. Sebuah topeng rubah. Berwarna merah lengkap dengan bentuk taring yang memperseram rupanya seperti topeng iblis pada layaknya. Mata birunya pun menjadi tak focus seraya ia ingat dimana ia juga pernah melihat sebuah topeng rubah. Sebuah topeng yang lebih simpel dan sederhana, namun—Brughh!

Naruto tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang berlari cepat menerobos di belakangnya. Pikirannya pun langsung buyar. Ia menoleh ke belakang tepat saat seseorang itu mulai berlari lagi.

"Pencuri! Cepat hentikan pencuri brengsek itu!" sebuah teriakan keras terdengar tak jauh bersamaan dengan dorongan keras dari seseorang yang dipanggil 'pencuri' itu sedang menerobos.

"Huh?!" Naruto tersentak kaget ketika tubuhnya di tabrak. Ia tak sempat bereaksi lagi karena saat itu keramaian tiba-tiba mulai bergerak semua untuk menyingkir. Barisan samurai penjaga tiba-tiba berlari cepat menerobos untuk mengejar sang pencuri. Orang-orang yang menyingkir pun menjadi berdesakan. Tubuh Naruto terdorong beberapa meter ke belakang karena desakan keramaian. Ia hanya bisa mengikuti arus desakan dengan tak berdaya. Namun sesuatu tiba-tiba menyandung kakinya dengan keras. Tubuhnya yang tidak stabil pun jatuh ke samping. Entah siapa yang ia tabrak saat itu, namun kakinya menginjak kain kimono seseorang sehingga kesempatannya untuk menyeimbangkan tubuh pun hilang.

Dua bola mata safir Naruto pun membola ketika tubuhnya oleng menabrak seseorang. Dua buah mata oniks yang sangat indah adalah hal terakhir yang Naruto lihat sebelum tubuhnya jatuh bersama pemilik bola mata oniks itu.

.

.

.