Izumo mengutuk si Kotetsu dalam hatinya.

Bagaimana tidak? Kawannya ini berurusan dengan seseorang – atau mungkin lebih dikatakan sebagai sesosok – yang tidak ia ketahui sama sekali asal-usulnya. Sekarang, apa kalian pernah melihat sesosok orang dengan sekujur tubuhnya memiliki tato berbentuk taring berwarna-warni dan di atas kepalanya terdapat beberapa gigi taring transparan layaknya terbuat dari kaca beterbangan di mana-mana?

Ia hanya bisa bergetar ketakutan sambil melirik ke arah samping badannya. Untungnya beberapa menit yang lalu, ia bisa menghindari terjangan gigi-gigi taring transparan itu sambil berteriak keras, berterima kasihlah pada refleksnya yang terlatih karena latihan karate dan kendo yang ia tekuni.

Kemudian, ia menggelengkan kepalanya sambil berusaha bangkit dari posisi berbaring setelah menghindar tadi. Dalam pikirannya, ia harus menjauhkan pria itu dari gedung utama akademi. Apalagi ia sedikit melirik ke arah gedung utama dan melihat hampir semua murid melihat ke arahnya dari jendela kelas masing-masing.

"Kalaupun ada korban lagi, biar aku yang menjadi korbannya," pikirnya.

Izumo berlari ke arah pagar, tapi sebuah ekor meliliti lengannya dan melempar tubuhnya ke arah gedung utama akademi. Tubuhnya menabrak dinding dengan sangat keras membuat para siswi yang melihat kejadian itu memekik keras. Ia bisa mendengar suara riuh kepanikan yang terdengar dari arah gedung utama.

Izumo hanya bisa mengerang kesakitan dan terbaring tak berdaya. Tubuhnya sudah berada di ambang batas. Mau bagaimanapun juga, itulah batas yang dimiliki seorang manusia biasa ketika berhadapan dengan sosok makhluk yang tidak diketahui. Matanya menatap sayu sosok pria yang kini telah berubah menjadi makhluk yang amat mengerikan menurutnya.

Makhluk itu menyerupai sosok rubah, namun kulitnya berwarna hitam dengan corak berwarna-warni layaknya kaca mozaik. Kedua tangannya sudah berubah menjadi sepasang cakar yang amat besar. Di pantatnya, muncul empat buah ekor yang malah hampir menyerupai tentakel gurita maupun cumi-cumi.

Melihat sosok mengerikan itu, Izumo hanya bisa berpasrah. Sudah tidak mungkin baginya untuk bisa lolos dari cengkeraman makhluk itu. Ia pun hanya menutup matanya ketika makhluk itu mulai mendekatinya, menerima nasib yang harus ia terima.

Satu detik ... dua detik ... tiga detik telah berlalu, tapi ia tidak merasakan apapun. Izumo membuka matanya secara perlahan. Ia melihat punggung dari sosok ksatria dengan armor yang cukup berat berwarna perak dengan hiasan rantai-rantai yang bergerincing mengelilingi armor itu.

"Si-siapa kau?" tanyanya dengan lemah.

Sosok itu tidak menjawab pertanyaan Izumo dan hanya menatap ke depan. Tubuh Izumo yang semakin lemah karena efek benturan dan serangan yang diberikan oleh sosok monster itu membuat kesadarannya ikut melemah. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan perlahan mengabur, bahkan ketika sosok menyerupai ksatria itu menghadap ke arahnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas.

Sebelum kesadarannya menghilang, ia mendengar geraman dari monster layaknya seekor rubah itu, seolah-olah ia merasa kesal karena kedatangan sosok ksatria yang berdiri di depannya itu.

"Grr ... Kiva ... kau ..." Itulah yang terakhir Izumo dengar sebelum akhirnya kesadarannya terengut dan pandangannya jatuh ke dalam kegelapan.


.

THE HALF VIOLIN PRINCE

I will protect the music in their soul, just like my father

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Highschool DxD by Ichiei Ishibumi

Kamen Rider Kiva by Toei Production

.

.

Summary : Seorang pemuda yang gemar bermain dan membuat biola muncul di Kuoh. Bagaimanakah caranya ia melindungi seluruh musik dari orang-orang di sekitarnya?

.

.

Chapter 3

.

.


Naruto menggertakkan giginya dari balik helmnya. Sesampainya ia di tempat kemunculan Fangire yang kebetulan masih berada di kompleks Akademi Kuoh, ia melihat sudah ada dua korban yang jatuh. Satu orang yang telah dihisap esensi kehidupannya dan seorang lainnya tengah tergeletak tak berdaya setelah membentur dinding beton dengan keras.

Ia dengan cepat langsung melindungi salah satu korban yang masih selamat itu agar esensi kehidupannya tidak diserap oleh sosok Fangire itu. Tubuhnya menghadap ke arah fangire itu, sementara punggungnya menutupi tubuh pria yang ia ketahui sebagai salah satu penjaga keamanan akademi ini.

"Si-siapa kau?" Naruto bisa mendengar suara lemah dari sosok yang ia lindungi. Ia hanya menoleh ke belakang tanpa menjawab pertanyaan dari sosok yang ia lindungi, karena ia tahu bahwa ketika ia membuka mulutnya dan berbicara, maka ia akan dicerca berbagai pertanyaan oleh orang-orang yang mengenalinya dan ia masih menghindari akan hal itu.

"Untuk saat ini, belumlah waktunya aku menunjukkan identitas asliku." Itulah yang ia pegang selama ini. Apalagi ketika hampir seluruh pasang mata para murid tengah melihat kejadian ini dengan raut ketakutan dan kepanikan, hal ini malah menimbulkan kericuhan lain yang tidak perlu.

Ia hanya bisa memastikan bahwa sosok penjaga yang ia lindungi mendapatkan luka tidak terlalu parah dan setelahnya, ia menghadap ke arah fangire yang menjadi penyebab hal ini.

Fangire berbentuk seperti rubah itu terlihat menggeram kesal karena kedatangan Naruto. Meskipun makhluk itu tidak mengenali Naruto secara langsung, namun ia mengenali bentuk armor yang dikenakan oleh Naruto.

Kiva, sosok yang sebenarnya diagung-agungkan oleh para fangire. Sosok yang diagung-agungkan karena pengguna armor inilah yang akan memimpin para fangire. Sosok yang dinobatkan sebagai 'Raja' dari seluruh fangire. Apalagi sosok fangire rubah itu juga melihat Kivat bat di pinggang Naruto.

Kivat Bat merupakan ras kelelawar yang menjadi familiar dari keluarga kerajaan fangire secara turun-temurun. Merekalah yang menjadi pembawa armor Kiva, sehingga Kivat Bat juga menjadi lambang seorang 'Raja'.

Hal ini tentunya membuat sosok fangire itu merasa amat kesal. Sosok yang menggunakan lambang seorang 'Raja' dari para fangire, kini malah melindungi sosok manusia yang dianggap sebagai makanan bagi para fangire. Kiva merupakan lambang yang terhormat, namun sekarang menjadi seakan-akan terhina dan ternodai karena sosoknya yang malah melindungi manusia.

"Grr ... Kiva ... kau ..." Amarahnya terdengar dari geraman fangire itu, membuat tubuhnya semakin tak terkendali dan ingin mengamuk sekuat-kuatnya.

"Sebentar lagi, ia akan mengamuk. Hati-hati, Naruto!" Kivat memperingati Naruto untuk berhati-hati. Naruto hanya mengangguk dan mempersiapkan kuda-kudanya – kedua tangan yang terentang secara diagonal, kaki kanan berada di depan kaki kiri dan kedua lutut yang ditekuk.

Naruto dan fangire itu saling berhadapan dengan kuda-kuda masing-masing. Fangire itu melompat ke arah Naruto menggunakan cakarnya, namun Naruto berhasil menghindarinya. Ia membuat kuda-kuda dengan tangan kirinya di depan dan langsung berlari ke arah fangire itu.

Ia meninjunya dengan kuat namun berhasil dihindari oleh monster itu. Monster itu memanjat dinding akademi, lalu menerjang lagi ke arah Naruto namun Naruto menghindarinya sambil memberikan sebuah tendangan samping ke tubuh monster itu.

Monster itu terus melakukan pola serangan yang sama, panjat-terkam-panjat-terkam, hingga beberapa serangan fangire itu mengenai tubuh Naruto. Naruto terjatuh karena salah satu sabetan ekor rubah itu bersamaan dengan cakaran yang cukup mematikan.

"Sebaiknya kita memanggil Garuru untuk membantu kita," kata Kivat. Naruto hanya mengangguk dan mengambil sebuah peluit dari pinggang kirinya. Peluit itu memiliki ukiran bentuk kepala serigala berwarna biru.

Naruto membuka mulut Kivat, memasukkan peluit itu ke dalam mulutnya, dan menutup mulutnya. Kivat pun meniup peluit itu.

[Garuru's Saber]

Tak jauh dari sana, sebuah sisi gedung pencakar langit di Kota Kuoh tersingkap layaknya sebuah tirai dan memunculkan sosok naga dengan badan berbentuk kastil yang hidup. Naga itu kemudian terbang menuju ke arah suara peluit itu.

Di dalam salah satu ruangan di kastil naga itu, terdapat tiga orang tengah duduk bersantai memainkan kartu. Orang pertama adalah seorang pria yang memiliki rambut jabrik berwarna coklat keemasan, mengenakan setelan kemeja yang tidak rapi berwarna putih dan mengenakan jas hitam.

Orang kedua adalah seorang pemuda dengan rambut hitam lurus pendek sebahu dan mengenakan pakaian akademi layaknya seorang pelaut. Orang ketiga adalah seorang pria dengan rambut panjang diikat berwarna hitam, memiliki tubuh yang kekar dan dibalut dengan pakaian ala kepala pelayan bangsawan eropa.

Ketiganya tengah asyik bermain, namun tiba-tiba mereka mendengar suara peluit itu. Tiba-tiba saja, musik organ mulai bergema di dalam kastil itu.

Pria dengan rambut jabrik berwarna cokelat keemasan itu meletakkan kartu-kartunya sambil menyeringai, "Jadi ini giliranku ya?"

Pemuda dengan rambut pendek sebahu berwarna hitam mengeluh sambil menopangkan dagunya dengan tangannya. "Kenapa malah Garuru yang dapat giliran sih? Aku juga ingin keluar dari sini!"

Pemuda itu melirik ke arah pria berbadan kekar di dekatnya dan berkata, "Kau tidak iri, Dogga? Kenapa kau diam dati tadi?"

Pria berbadan kekar yang dipanggil Dogga itu hanya memasang wajah netral. "Tuan pasti memerlukanku pada waktu yang tepat," jawabnya. "Aku akan menunggu saja."

Pria berambut jabrik itu tersenyum tipis dan memberikan salam dua jari kepada kedua orang itu. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

Ia pun pergi menuju sebuah lorong di dalam kastil itu. Ia membuka kancing bagian atas kemejanya dan mencakar lantai hingga menimbulkan bunga api. Matanya berubah dari berwarna hitam menjadi coklat dengan iris berbentuk vertikal layaknya seekor serigala.

Kemudian, sebuah cahaya menaungi tubuh pria berambut jabrik itu dan mengubahnya menjadi sebuah artefak senjata yang terlipat. Artefak itu dibawa oleh cahaya itu kepada sebuah lorong yang terhubung dengan kerongkongan naga berbadan kastil itu.

Ketika naga itu sudah berada di dekat Naruto, ia memuntahkan artefak itu dan terbang menjauh. Naruto menangkap artefak itu dan artefak itu berubah menjadi sebuah pedang berwarna biru layaknya pedang melengkung milik prajurit padang pasir. Pembatas gagang pedang itu memiliki ukiran kepala serigala.

Lengan kanan Naruto mulai diselubungi oleh rantai-rantai dan berubah menjadi lengan serigala. Bagian mata helm pelindungnya juga ikut berubah menjadi biru.

Setelah ia memegang pedang artefak itu, ia memasang kuda-kuda kaki yang ditekuk hingga ke bawah dan bilah pedang itu ditaruh di tengkuknya. Kepalanya ia tegakkan layaknya seekor serigala yang menatap mangsa.

Fangire rubah itu juga ikut memasang kuda-kuda ke bawah. Mereka berdua saling bertatapan dan menilai lawan. Sebelum akhirnya, fangire rubah itu menerkam ke arah Naruto. Naruto hanya berguling ke kiri dan menebas salah satu ekor rubah itu.

Monster itu mengerang kesakitan karna salah satu ekornya terpotong. Ia sedikit tertatih sebelum akhirnya meraung dan menerkam lagi ke arah Naruto. Naruto melompati tubuh monster yang menerjangnya itu dan menebas punggungnya.

Lagi-lagi, monster itu hanya mengerang kesakitan. Awalnya ia ingin menyerang lagi, namun ia mengurungkan niatnya dan melompat melewati dinding pagar akademi itu. Kemudian, ia menghilang entah ke mana.

Naruto ingin mengejarnya, namun ia tidak jadi mengejar monster itu karena ia kini dikerubungi oleh siswa-siswi akademi yang mengagumi kehebatannya.

"Kau hebat kawan?"

"Apa aku bisa berfoto denganmu?"

"Bagaimana caramu memiliki armor itu?"

Ia kewalahan menanggapi orang-orang yang entah bagaimana bisa mengerumuninya. Tapi tak lama kemudian, sosok Sona Sitri dan wakilnya, Shinra Tsubaki, juga muncul di dekat gerbang. Kerumunan yang awalnya itu perlahan terdiam.

"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian masih ada jam pelajaran setelah ini?" Suara halus nan dingin itu menggetarkan setiap murid yang berkerumun di dekat gerbang itu. Perlahan mereka langsung membubarkan diri mereka ke kelas masing-masing.

Sona hanya menatap kerumunan murid yang membubarkan diri itu dengan datar. Setelah memastikan bahwa semua kerumunan murid itu kembali ke kelas masing-masing, Sona membalikkan badannya untuk berbicara dengan Naruto namun benar-benar tidak ada satu orang pun di sana.

"Ke mana sosok tadi, Tsubaki?" tanya Sona.

"Aku juga tidak tahu, Ketua," tanggap Tsubaki. "Ia menghilang begitu saja."

Sona menatap tempat di mana Naruto berdiri tadi sambil terdiam. Kemudian, ia berkata, "Kita kembali, Tsubaki. Jangan lupa untuk menggunakan mantra pelupa kepada seluruh saksi mata tadi. Kita tidak ingin warga kota terkejut ketika mengetahui adanya makhluk supranatural di kota ini."

"Baik, Ketua."

Kedua perempuan itu segera pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka sadari, Naruto melihat mereka dari balik atap salah satu gedung akademi yang dekat dengan gerbang akademi.

"Para Iblis itu sepertinya mulai tertarik denganmu, Naruto." Kivat yang terbang di dekatnya berkata demikian.

"Belum saatnya mereka tahu. Mungkin yang hanya tahu tentang rahasia kita hanyalah Momo saja," jawab Naruto.

"Kau benar." Kivat menyetujui pendapat Naruto. "Sekarang apa yang akan kau lakukan? Waktu istirahat sudah habis dan kau belum menyelesaikan permintaan murid tadi."

Naruto berpikir sejenak. "Sepertinya aku akan membolos saja jam pelajaran berikutnya. Lagi pula ini permintaan dari anggota klub musik sehingga Ketua Sona mungkin akan memakluminya."

Setelah itu, ia berbalik dan melenggang ke arah pintu masuk atap. Kemudian, ia segera menuju workshop yang ia miliki di gedung lama akademi.

.

~The Half Violin Prince~

.

Dua jam telah berlalu setelah insiden di dekat gerbang tadi. Naruto bisa merasakan sebuah mantra berskala besar telah digunakan kepada semua murid yang menjadi saksi mata dari kejadian tadi, dan tentu saja mantra itu tidak mempengaruhi Naruto.

Kini ia tengah berada di workshop-nya dan sedikit membongkar biola milik salah satu anggota klub musik yang memberikan permintaan kepadanya. Ia tengah memilah-milah isi laci meja kerjanya ketika seseorang mengetuk pintu workshop-nya itu.

Orang itu adalah perempuan berambut putih keperakan dan berpakaian seragam akademi Kuoh. Naruto yang melihat sosok itu di depan pintu langsung saja mempersilakan orang itu masuk, "Masuk saja, Momo."

Gadis bernama Momo itu langsung memasuki ruangan itu dan mendapati bahwa workshop itu sedikit berantakan. Naruto menghentikan pekerjaannya dan berbalik ke arah Momo.

"Lagi patroli kah, Momo?" tanya Naruto. Momo hanya mengangguk.

"Kau ngapain di sini?" tanya balik Momo. "Aku lagi menyelesaikan permintaan anggota klub musik tadi, tolong jangan beritahu Ketua ya," kata Naruto sambil memohon ke Momo.

"Baiklah, tapi ada satu syarat," ujar Momo.

"Apa itu?"

"Insiden di dekat gerbang tadi ... " Momo memotong penjelasannya. "kau terlibat di situ 'kan?"

Naruto diam sejenak sebelum mengangguk. Momo hanya bisa menghela nafas. "Tak bisakah kau tidak terlibat dengan masalah-masalah supranatural?"

"Kau tahu bahwa itu tidak mungkin bukan?" Naruto menanggapi dengan sedikit pilu. "Itulah risiko dari keturunan bangsawan fangire dan juga seorang Kiva. Sebagai salah satu kandidat 'Raja' para fangire, mau tidak mau aku harus melibatkan diri jika para fangire membuat masalah dengan manusia biasa."

Naruto duduk pada sebuah bangku. Ia memandang lemas ke arah langit-langit ruangan itu. "Sebenarnya aku juga tidak mau dan berusaha untuk mengejar mimpi musikku, sama seperti ayah. Tapi aku juga tidak bisa mengkhianati ibuku yang sudah sempat membesarkanku meskipun ditentang oleh Raja Fangire sebelumnya."

Momo ikut duduk di sebelah Naruto. Ia memegang pundak Naruto dengan lembut seraya berkata, "Sabar Naruto, siapa yang tahu takdir apa yang kita jalani? Lebih baik kita menjalani saja apa yang kita jalani sekarang."

"Makasih, Momo." Naruto memegang tangan Momo di pundaknya dan tersenyum lembut ke Momo. Momo sedikit tersipu melihat perilaku Naruto kepadanya.

Lalu, Naruto berdiri dan kembali menghadap ke laci yang terbuka. "Sudah waktunya aku melanjutkan pekerjaanku dan segera menuju ke kelas. Kau lanjut patroli sana," katanya.

Momo hanya mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan itu. Ia menutup pintunya perlahan, lalu segera berbalik menuju ke gedung baru. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang karena perlakuan lembut Naruto.

Ia melihat ke tangan yang tadi dipegang oleh Naruto. Ia mengelus tangan itu dengan lembut. "Jangan Khawatir, Naruto. Takdir apa pun yang akan kau jalani, aku akan selalu berada di sampingmu ..."

Kemudian, ia menatap ke depan dan melaju dengan cukup kencang. "... bahkan jika takdir itu berada di jalan kegelapan sekalipun."


.

To be Continued

.


Halo semuanya, kembali bersama saya FI.Antonio no Emperor. Setelah saya mengupdate fic Maelstrom Saga : Dawn and Twilight, kini saya mengupdate cepat fic The Half Violin Prince. Pada chapter kali ini, kita bisa melihat pertarungan singkat antara Naruto sebagai Kiva.

Selain itu, chapter ini juga mengungkapkan bahwa hanya Momo saja yang mengetahui identitas asli dari Naruto sebagai seorang Kiva. Untuk flashback dari bagaimana Momo mengetahui hal itu, mungkin akan dijelaskan nanti di beberapa Arc selanjutnya.

Ngomong-ngomong, fangire rubah ini akan mengungkap masa lalu dari heroine utama Arc ini. Siapakah dia? Petunjuknya sudah ada dari prolog hingga chapter sebelumnya.

Mungkin itu saja dari saya, jika ada kesalahan bisa ditulis pada kolom review.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.