Baginya, dunia 'kan selalu berisi malapetaka. Meski, ia telah berusaha setengah mati untuk gapai singgasana, pada ujungnya hanya akan jatuh kemudian. Maka, dia, Halilintar hanya bisa melangkah seperti apa takdir berkata. Kendati, sekujur tubuhnya dibuat gemetaran sepanjang waktu, pemuda tersebut tiada punya pilihan lain. Dia terpaksa 'tuk terus berpijak, walaupun seisi lantai berisikan jarum-jarum. Berakhir tatap taman istana penuh ketidakberdayaan, sebab dia pun ingin demikian. Menapak dunia yang penuh akan keindahan, disertai harum-harum bunga dan kue-kue manis menenangkan; bukan pula tumpukan kertas yang tidak bisa Halilintar abaikan. Namun, adakala ia tak perlu banyak berpikir. Sebab, seseorang yang selalu hiasi taman istana kerap ajak Halilintar 'tuk ikuti pesta teh kecil-kecilan miliknya. Maka, pemuda tersebut berikan anggukan kepada setiap ajakan pesta teh terlontar untuknya; bagaimanapun, Halilintar tetap miliki rasa sayang terhadap sang adik. Kemudian, Duri lompat-lompat sebab kegirangan, pemilik manik ruby ulaskan senyum sebelum elus rambut si bungsu; buat adik ke-enamnya bersemu, malu-malu.

Namun, itu semua hanyalah kisah lalu. Kini, Halilintar terbaring, sekujur tubuh sang pemuda rasa nyeri-nyeri. Dia tak sanggup bergerak. Maka, Halilintar memilih tatap hujan. Pepohonan pun tutupi sang rembulan, seakan berkata pada Halilintar; bulan purnama yang begitu indah tidak cocok untukmu. Ia tersenyum getir, tertawakan dirinya sendiri. Bagi pemuda itu hidupnya ialah lelucon paling lucu di seluruh kerajaan, pelawak pinggir jalan pun takkan bisa kalahkan Halilintar. Selama ini, dia bukan tak ingin melawan, tetapi tubuhnya bak terbelenggu—tak bisa lakukan apapun selain mengalah. Halilintar ialah seorang kakak yang teramat sayangi adik-adiknya, jikalau ia melawan dan beringsut pergi; maka, salah satu dari para bungsu akan jadi pengganti. Ia tak mau membunuh kawarasan adik-adiknya hanya untuk kebahagian dirinya sendiri semata. Maka, Halilintar terus melangkah sesuai arus jalan yang telah ditentukan, sebagai Putra Mahkota—pewaris Raja.

[Name] punya kebiasaan yang kerap kali dikatakan buruk oleh tetangga-tetangga lamanya, ia masih gadis, tetapi suka sekali pergi malam-malam. Sebelum tinggal di pelosok hutan seorang diri, ibu-ibu di sebelah rumah lamanya sering berkata.

"Nak, [Name, hati-hati. Tidak, lebih baik jangan keluar malam-malam lagi. Katanya, monster-monster makin menjadi ganasnya." Namun, sang gadis bagai tuli, dia pilih untuk acuh tak acuh. Meski demikian, setiap kali dinasehati [Name] tetap bisa menghormati, dia 'kan selalu berikan senyum lembut sebagai balasan. Ia pilih tinggal di hutan yang jauh dari pemukiman bukan tanpa alasan, gadis itu sukai alam serta obat-obatannya. Namun, dalih mengapa [Name] pergi malam-malam bukan dikarenakan obat-obat herbal, pemilik manik coklat tua itu punya alasan tersendiri.

Dingin menusuk sekujur tubuh sang gadis, buat ia bergidik ngeri. [Name] tak punya ketakutan terhadap malam dan segala isinya, dia hanya miliki keterkejutan setiap kali kaki menapak keluar rumah. Manik coklat itu tatap langit penuh akan harapan—impian yang takkan pernah tercapai pada ujungnya. Maka, pemilik rambut hitam bak obsidian tersebut hanya bisa merenung setiap malam. Melihat rembulan begitu utuh, berhasil menusuk ke dalam diri sang puan. [Name] kian merana, pikirannya menolak lupakan benih-benih berisi perih di hati; penyebab ia nyeri sepanjang malam—dahulu kala. Kemudian, setelah semua berlalu, sang gadis miliki kegemaran baru. Meneliti tanaman-tanaman obat. Dia dengan sengaja tinggalkan mimpi lama, sisakan secarik pengalaman yang ia pergunakan 'tuk lindungi diri sendiri. Perasaan lara itu terganggu, sang puan pilih berhenti melamun. Matanya mengerjap, bersiaga jikalau peganggu tersebut adalah monster yang enggan untuk punah. [Name] tatap ke arah barat, sumber suara yang jadi alasan pengacau pikirannya malam ini. Gadis itu melangkah pelan, bukan disebabkan takut-takut. Namun sejatinya sang puan ialah pemalas unggul. Ia genggam sebilah pedang, bersiap menarik benda tajam tersebut dari sarangnya jikalau memang lagi-lagi monster berdatangan.

Kerutkan alis tatkala ia sampai ditujuan dan yang ditemukan bukanlah monster, melainkan tubuh manusia. [Name] berjongkok guna menelisik lebih lanjut siapa gerangan yang terkapar pada hutan belantara? Rembulan utuh malam ini seakan beri keberuntungan untuk sang puan, dia bisa tatap dengan jelas rupa seseorang yang kini terbaring. Ia masih bernyawa, [Name] tahu. Sebab, kedua iris mereka saling bersitatap. Sang puan tersenyum, siratkan bahwa dia tengah meremehkan sekaligus puji paras pemuda tersebut.

"Cowok ganteng. Putra Mahkota, ya?" Pantas saja, suara yang berhasil ganggu [Name] tadi terdengar begitu keras. Putra Mahkota terjatuh, bersama dengan kereta kuda—cukup menjelaskan mengapa terdengar suara hantaman yang amat kencang.

"Aduh, kasihan sekali. Dikhianati siapa anda, Tuan?"

Pada hidup yang sebentar ini Halilintar pikir dunia miliknya akan berakhir, tinggalkan ia bersama takdir berisi luka-luka. Kisah Halilintar telah sampai ke ujungnya, menangis pun takkan ada gunanya. Namun, dia menolak penuh kesungguhan untuk capai akhir. Masih banyak masa depan yang ia nanti—sebagaimana adik-adiknya perlu bertumbuh. Pemuda tersebut ingin selalu menatap senyum milik para bungsu; sebab, bagi Halilintar bahagianya ialah mereka. Namun, takdir selalu sigap melukai diri Halilintar, buat dia merintih sepanjang waktu. Kendati begitu, ia menolak untuk patah kaki. Pemilik manik ruby tersebut akan selalu bangkit demi melindungi para bungsu. Maka, sang Putra Mahkota tidak boleh mati.

Angin seakan mengajak rambut Halilintar untuk berkelana, melambai-lambai kemana-mana. Berhasil buat ia jadi bungkam, pemuda itu terpana; kemudian menolak alihkan pandangan. Taman bunga di hadapan Halilintar bukan milik Duri, meski yang ditanam serupa kepunyaan sang adik; sebab taman di depannya tak melingkar seperti pada istana. Namun, hanya sejalur dan … lurus. Pemilik rambut berwarna coklat serta sedikit helai putih—penanda bahwa ia adalah keturunan Raja—itu pejamkan mata, Nikmati embusan udara, sekaligus 'tuk pastikan penglihatan setelahnya. Halilintar tak salah lihat, kini pada hadapan pemuda tersebut terdapat seorang perempuan; tubuhnya jauh lebih kecil darinya dan ia tahu bahwasanya itu ialah bagian dari masa lalu—kenangan yang sangat tiada bisa Halilintar lupakan. Tatkala ia memberontak untuk pertama kali, ketika para bungsu belum terlahir—waktu dimana dia tak miliki tanggungjawab sedemikian rupa. Halilintar kerap dengan sengaja kabur dari latihan berpedang, bermodal jubah tak seberapa ia pergi begitu saja; menuju pasar milik rakyat biasa. Di sanalah ia bertemu, perempuan pemberani yang punya rasa keadilan setinggi langit. Menik ruby Halilintar takkan pernah lupa, cara perempuan tersebut melawan para preman pasar tanpa kenal takut; demi bela anak kecil—jauh lebih muda dari si pemberani—yang meringkuk ketakutan di belakang sang perempuan. Halilintar takjub, meski gemetaran anak perempuan itu tetap bisa bersuara lantang; kendati, harus berakhir luka-luka setelahnya.

"Anak kecil saja dipalak! Enggak punya malu, ya, kalian!" Berawal dari aksi heroik kala itu, Halilintar miliki prinsip baru dalam takdir dunia yang telah ditentukan untuknya.

"Aku juga ingin … melindungi adikku yang sekarang sedang dikandung Ibunda. Kemudian jadi pahlawan di hidup mereka. Pasti keren!"

Manik ruby tersebut kesusahan untuk menerima cahaya, entah sudah berapa lama ia tertidur hingga lupa seberapa terang dunia. Halilintar terdiam sejenak, bukan pula disebabkan diri yang berada pada tempat tak dikenal; tetapi, tangan seseorang berada pada kening sang pemuda, buat ia gemetaran ketakutan. Tanpa harus banyak bergerak pun Halilintar tahu bahwa ia tidak sanggup melawan—seluruh tubuhnya mati rasa; disebabkan curiga. Tatkala iris pemuda itu bisa tatap jernih, perlahan namun pasti Halilintar berhasil 'tuk mengingat. Wajah tenang, tetapi secara konstan pun begitu tegas; rambut bak obsidian itu pula berhasil buat Halilintar merenung lebih lama—rona tersebut ciptakan usaha baru untuk pikiran Halilintar; tentang ingatan yang lebih jauh lamanya. Sang Putra Mahkota bungkam sepersekian detik, hingga [Name] cemberut dibuatnya.

[Name] jauhkan tangan miliknya dari Halilintar, rubah pergerakan jadi sesuatu yang jauh lebih tak sopan kepada keturunan Raja; sang puan cubit pipi Halilintar bagai seorang tanpa tahu apa itu rasa malu. [Name] cengengesan tatkala temukan raut baru di wajah pemilik manik ruby, dahi Halilintar berkerut tak suka karenanya. Tangan pemuda itu bergerak sigap 'tuk gapai lengan sang puan, Putra Mahkota menolak disentuh-sentuh—apalagi yang raba dirinya ialah seorang gadis tampak bagai preman pasar seperti ini. Halilintar menyukai gadis dengan keanggunan, sebab impian pemuda tersebut ialah bisa diajak minum teh di taman penuh bunga—guna hilangkan tekanan berasal dari takdir hidupnya sendiri.

"Galak banget, sih? Padahal saya udah pernah ganti baju anda, lho!" Faktanya, [Name] lakukan itu karena keterpaksaan, ia harus berikan perban pada luka di perut Halilintar. Sang Putra Mahkota ditikam setelah diberikan racun oleh si pengkhianat; entah siapa gerangan pelakunya.

Tiada alasan baginya untuk melupa, tatkala kaki berpijak hanya ada kenangan begitu menawan; buat ia tak bisa pergi dan pilih untuk menepi. Untuknya, alasan hanya akan jadi dusta belaka—sebab kisah yang terlihat semu selalu terpatri menolak menunggu. Halilintar, masihlah pemuda sama, layaknya waktu berputar teruntuk mereka berdua saja. Jalinan kasih itu takkan sanggup buat ia lupa, maka dia akan menepati janji. Semuanya telah usai, tinggalkan gosip-gosip yang akan sirna seiring takdir terus melangkah. Halilintar tiada pernah pinta terlahir bersama takhta, meski demikian sejatinya manusia penuh akan rasa serakah; tidak puas hanya dipanggil Tuan Muda, hingga bertaktik agar capai gelar Putra Mahkota. Beberapa waktu lalu, Sopan—sang pengkhianat—berdecak tak suka, strategi milik Adudu gagal; buat pemuda itu berakhir digiring ksatria menuju penjara.

Demikianlah, hingga Halilintar berakhir di sini, tatap penuh rindu bersama sebuket bunga camelia merah muda. Sang Putra Mahkota pun tak pernah menyangka, bahwasanya ia juga bisa jatuh cinta. Dahulu, Halilintar pikir dia akan berakhir berserah begitu saja, biarkan Ayahanda jodohkan ia dengan gadis bangsawan elok diluar sana. Namun, takdir baru terpatri pada hidup Halilintar. Kendati, menderita jadi temannya ketika kisah lalu. Namun, semenjak obsidian datang untuknya; Halilintar miliki tekad baru. Kemudian, ia pikir 'tuk pilih berhenti kala itu, maka semilir angin buat hati Halilintar menjerit; bukan sebab ketakutan, tetapi keterkejutan yang akan buat dia jatuh sedalam-dalamnya. Rembulan yang tengah malu-malu jadi hiasan, temani sang puan guna tambahkan rasa menawan. Halilintar tumbang, ia kalah oleh senyuman kepunyaan obsidian—lukisan ranum yang sejatinya terbentuk untuk ejek sang Putra Mahkota. Maka, reaksi Halilintar berikan keterbalikan, tak lagi tatap nyalang kepada gadis yang telah selamatkan ia dari kata mati; terganti dengan lukisan ranum lembut tak kalah menawan.

Karenanya, Halilintar berdiri di kediaman sang puan, disertai camelia merah muda—sebagai wakil teruntuk perasaan sang Putra Mahkota yang dipenuhi rindu setalah setahun tak bertemu. [Name] dibuat bungkam, tidak menyangka si calon Raja menolak untuk lupa. Sang gadis pikir, ia akan hidup tenang kembali, ditemani kebiasaan selamatkan kerajaan dari monster-monster yang menolak punah; dalih mengapa mereka tak pernah sampai kota-kota. Halilintar tahu itu, dalam kurun waktu satu bulan sudah cukup bagi ia untuk mengenal—termasuk fakta tentang alasan kerajaan jadi begitu tentram. Maka, selain mengusut siapa gerangan si pengkhianat, Halilintar miliki kegiatan lain; mengubah aturan konyol tentang perempuan yang tak diizinkan jadi ksatria. Sang Putra Mahkota berjuang keras agar bisa kembali secepat mungkin guna tepati janji kepada obsidian.

[Name] tak bisa elak, meski ia telah kubur mimpi lama, biarkan jadi sebuah angan-angan. Namun, takdir berikan cahaya baru untuk sang puan. Kendati, egonya amat tinggi, ia tidak bisa berdusta sedemikian rupa. Bahagia dipastikan ada dalam diri [Name, tatkala dia dengar Halilintar berkata, "Peraturan telah berubah, kamu bisa menjadi ksatria. Sesuai isi surat yang saya kirim seminggu lalu. Tapi …," Halilintar menjeda perkataannya, "jangan kaget, jika kamu dipanggil Tuan Putri setelahnya."