Singularity
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 1
"Menma"
Sepuluh tahun sejak kematian Naruto…
Sunday, February 17, 2019, 07:00 PM
Uzumaki Resident – Konoha, Tokyo Prefecture
Udara Februari menyusup dingin lewat celah-celah jendela tua yang berembun. Di luar, lampu jalan mulai menyala, menyinari trotoar kosong yang baru saja dilalui hujan tipis. Suara lalu lintas dari jalan utama Konoha-Tokyo terdengar samar, nyaris tak berarti dibanding keheningan yang menyelimuti rumah keluarga Uzumaki.
Sudah sepuluh tahun sejak kematian Naruto. Namun, bagi Karin, luka itu terasa seolah baru kemarin.
"Aku tak bisa membiarkan ibuku terus menderita, Kabuto. Sudah 10 tahun dia begini," gumam Karin, memeluk lutut di atas sofa ruang tengah sambil menatap nanar ke arah lampu gantung yang menggantung redup. Suaranya nyaris tak terdengar, namun penuh keteguhan yang patah.
Cahaya lampu rumah menyinari wajahnya yang pucat. Mata rubi itu berair, berkali-kali ia seka dengan punggung tangan, enggan terlihat cengeng. Karin tahu, ia harus kuat. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk satu-satunya keluarga yang tersisa: ibunya.
Pintu kamar utama dibiarkan terbuka. Dari tempatnya duduk, Karin bisa melihat tubuh ibunya yang terbaring lemah di balik selimut tebal. Uzumaki Kushina, wanita yang dulu penuh semangat dan tawa lebar, kini hanya tinggal bayang-bayang masa lalunya. Kulitnya pucat, tubuhnya kurus kering, matanya kosong.
Kabuto, dokter pribadi sekaligus teman dekat Karin, duduk di sampingnya. Tangannya menepuk pelan bahu gadis itu, sebuah gestur sederhana tapi menenangkan. Ia sudah merawat Kushina selama satu dekade. Dan ia tahu: ini bukan soal fisik. Ia dan Karin sebenarnya sudah sama-sama tahu kalau penyebab utama kesehatan Kushina yang semakin drop itu bukan karena penyakit, melainkan karena tekanan mental setelah kehilangan anak bungsunya, Uzumaki Naruto. Kushina jarang sekali makan dan hanya mengurung diri di kamar. Kekebalan tubuhnya terus turun. Akibatnya, ia sering sakit.
"Apa tidak sebaiknya kau menghubungi ayahmu?" tanya Kabuto.
Karin menggeleng pelan.
"Pasca bercerai, ibuku tidak ingin berurusan lagi dengan ayahku. Meminta bantuan ayah malah akan membuat ibuku marah. Kau pasti tahu bagaimana sifat keras kepala ibuku."
Karena itulah Karin harus berusaha sendiri, tidak meminta bantuan ayahnya yang saat ini tinggal di Inggris. Karin menyandarkan kepalanya di punggung sofa, membiarkan kantung mata yang memerah itu terlihat jelas terkena cahaya lampu.
Sejak 10 tahun lalu, hidupnya jadi kacau, ibunya sering sakit-sakitan, Karin harus membanting tulang untuk membiayai pengobatan ibunya, hubungannya dengan Suigetsu pun ia akhiri karena Karin sadar dirinya ingin fokus merawat Kushina. Bisa lulus kuliah dan kerja di tengah tekanan sebanyak itu sudah merupakan hal yang hebat.
"Cara terbaik menyembuhkan ibumu adalah dengan mengobati mentalnya yang masih terguncang."
"Ke psikiater maksudmu?" tanya Karin. "Bukankah kita sudah mencobanya puluhan kali?"
"Bukan itu maksudku. Pengobatan secara fisik dan psikis memang sudah kita lalui bertahun-tahun. Aku sarankan kau coba metode pengobatan lain. Dengar, aku kenal seseorang yang mungkin bisa membantumu. Kau tahu Hyuuga Cyber Company?"
Karin mengangguk.
Siapa yang tak kenal Hyuuga Cyber Company atau HCC? HCC adalah perusahaan pembuat android terkemuka di Jepang yang berbasis di Tokyo. Sudah puluhan tahun perusahaan tersebut melakukan inovasi di bidang robotika. Mereka memproduksi berbagai jenis android secara masal untuk membantu mempermudah kehidupan manusia, seperti android yang bertugas sebagai kasir, pelayan restoran, penjaga pintu, security, dan yang paling terkenal adalah home android, yaitu android yang membantu pekerjaan rumahan atau menemani anak-anak di rumah.
Kabuto melanjutkan pembicaraannya.
"Mereka punya teknologi baru—Android Therapy. Terapi kejiwaan menggunakan android buatan yang diprogram khusus untuk mengisi kekosongan emosi pasien... dan dalam kasus ini, ibumu."
Karin menatapnya, sedikit bingung.
"Mereka bisa menciptakan home android yang menyerupai Naruto. Bukan sekadar replika fisik—tapi juga suara, gestur, bahkan sebagian ingatan dasar berdasarkan data yang kau punya. Ini memang bukan pengganti Naruto… tapi harapannya, bisa membantu ibumu perlahan menerima kenyataan dan keluar dari keterpurukannya."
Karin terlihat ragu. Ia memejamkan matanya, memperhitungkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Setelah agak lama, ia kembali membuka matanya dan menoleh ke arah Kabuto.
"Sejujurnya aku tak terlalu berminat dengan hal-hal yang berbau robot. Karena itulah kami tak berminat membeli home android seperti kebanyakan orang. Tapi kalau ini demi ibuku, aku ingin mencoba."
"Bagus!" Kabuto mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya. "Kau bisa menghubungi nomor ini."
Karin menerima kartu nama yang diberikan Kabuto. Tak lupa ia mengambil kaca mata berframe merah tua di meja samping sofa dan memakainya. "Hyuuga Hiashi? CEO? Kau kenal pemiliknya?" tanya Karin kaget.
Kabuto tersenyum bangga. "Ya. Jangan remehkan relasiku. Aku punya banyak teman hebat."
Karin menggenggam kartu nama itu erat. Ada secercah harapan kecil dalam dirinya—sesuatu yang belum ia rasakan selama bertahun-tahun.
"Baiklah," katanya mantap. "Aku akan menghubunginya."
Saturday, April 13, 2019, 04:00 PM
Hyuuga Resident – Konoha, Tokyo Prefecture
Awalnya, Hiashi tak terlalu tertarik meladeni permintaan seorang gadis asing yang mengaku ingin bicara soal "terapi android". Namun begitu Karin menyebut nama Kabuto, sikapnya berubah. Kabuto sudah terlalu banyak berjasa dalam pengembangan Divisi Rekayasa Genetik HCC. Menolak permintaan seseorang yang direkomendasikan Kabuto terasa… tidak sopan. Maka, Hiashi pun setuju, namun tak ingin hal ini tercatat secara formal. Ia menyuruh Karin menemuinya langsung di kediaman pribadinya—sebuah rumah luas di pusat kota Tokyo.
"Wow."
Itulah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Karin saat memasuki gerbang utama. Rumah Hiashi memang tak terlampau besar jika dilihat dari fasad bangunannya, gaya arsitektur tradisional Jepang dengan atap bergaya kuil, pilar kayu hitam, dan taman batu yang tertata rapi. Namun, justru itulah yang mengejutkan: tanahnya begitu luas, jauh dari bayangan rumah-rumah miliarder Tokyo yang biasanya bertumpuk secara vertikal.
Untuk mencapai bangunan utama dari gerbang luar, Karin harus menaiki sebuah caddy kecil yang otomatis menyusuri jalan setapak berpaving halus di antara pepohonan pinus. Keamanan rumah ini luar biasa ketat. Bahkan sebelum memasuki genkan—ruang masuk tradisional Jepang—ia sudah melalui dua pemeriksaan identitas: pemindaian retina dan verifikasi sidik jari. Di sepanjang pagar taman, kamera pengawas tersembunyi di balik pohon bonsai. Dua android pengawal, Izumo dan Kotetsu, terus menemaninya sejak tiba.
Begitu masuk ke dalam, Karin seperti melangkah ke dunia yang berbeda. Dari luar terlihat seperti rumah samurai zaman dulu, tapi interiornya—futuristik. Panel-panel kayu bergaya zen dilengkapi teknologi sentuh tersembunyi. Hologram menyala dari tatami saat seseorang melangkah, menampilkan data suhu, tekanan udara, dan kelembaban ruangan. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan aura kuat: Hiashi Hyuuga.
Komputer tertanam langsung di meja rendah di samping duduknya. Beberapa layar holografik melayang, menampilkan grafik DNA, struktur android, serta notifikasi pesan yang terus muncul dan hilang. Begitu Karin datang, layar-layar itu satu per satu meredup, memberi sinyal bahwa pria itu benar-benar sibuk—dan hanya punya waktu sangat terbatas.
Dari sisi kiri, sebuah home android berjalan membawa segelas air mineral dingin untuk Karin. Rambut android itu panjang sebahu, matanya tajam, dan dari proyeksi hologram di atas kepalanya tertulis satu nama: Hanabi.
Hiashi menatap Karin dengan datar. "Kabuto sudah memberitahuku sebagian besar masalahmu. Tapi sepertinya dia lupa memberitahumu bahwa ini… ilegal."
Kata-katanya langsung to the point, tanpa basa-basi. Karin bisa merasakan tekanan dari nada bicara yang dingin dan efisien. Hiashi adalah orang yang waktunya mahal.
"Aku tahu," jawab Karin tenang. "Kalau ini legal, Anda pasti menyuruh saya ke kantor pusat HCC, bukan ke rumah Anda. Dan saya sudah membaca profil lengkap HCC… tidak ada layanan Android Therapy. Itu artinya sudah dipastikan ini proyek non-komersial."
"Pintar," puji Hiashi.
Ia menyesap minuman hitam—kemungkinan besar kopi Ethiopia premium yang biasa disukai kalangan atas—sebelum menyimpannya di atas tatami elektronik yang langsung menyesuaikan suhu permukaannya.
"Asal kau tahu, aku mengizinkanmu menemuiku bukan berarti aku akan mengabulkan permintaanmu begitu saja."
Panik mulai merayap di wajah Karin. Ia tak ingin usahanya sia-sia.
"A-aku akan membayar berapa pun… Ini demi ibuku. Aku mohon—"
Namun Hiashi langsung mengangkat satu tangan, menyuruhnya diam. Sikapnya tetap tenang namun mengintimidasi.
"Ini bukan soal uang, nona Uzumaki. Ikut aku."
Karin tersentak sejenak, lalu berdiri dan mengikuti langkah Hiashi ke arah lorong samping. Dalam hati, ia menegur dirinya sendiri. Tentu saja bukan uang yang jadi soal. Hiashi Hyuuga bukan orang yang akan tersentuh oleh nominal. Ia sudah termasuk dalam jajaran 100 orang terkaya di Jepang. Jadi… kalau bukan uang, lalu apa?
Dengan langkah hati-hati, Karin melangkah lebih dalam ke dalam rumah yang terasa seperti gabungan antara kuil zen dan laboratorium masa depan.
Hiashi mengarahkan Karin menyusuri lorong menuju ruang tengah. Dari kejauhan, mereka melihat seorang gadis muda sedang belajar bersama seorang guru wanita berambut ikal. Suasananya tenang, dan jelas ini adalah sesi home schooling. Jarak mereka cukup jauh, jadi pembicaraan Karin dan Hiashi tidak mungkin terdengar oleh keduanya.
"Itu Hyuuga Hinata, atau android seri HN001," ujar Hiashi. "Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Genetiknya diambil dari putriku, Hinata, yang meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan mobil."
Karin terkejut mendengarnya. Hiashi menyadari hal itu, jadi ia langsung melanjutkan penjelasannya.
"Seperti yang kau lihat, dia tidak seperti android yang lain. Tidak ada lingkaran hologram di atas kepalanya, dan gerak-geriknya juga berbeda. Dia punya ekspresi, emosi… semuanya terasa alami. Tidak kaku seperti Hanabi, atau Izumo dan Kotetsu—android produksi massal dari HCC."
Hiashi menoleh sebentar ke arah Hinata, lalu kembali menatap Karin.
"Hinata ini istimewa. Dia satu-satunya android yang menggunakan Self-learning Artificial Intelligence—atau SAI. Berbeda dengan AI biasa yang hanya menjalankan program, SAI bisa belajar dan berkembang sendiri. Dia bisa membuat keputusan tanpa harus menunggu perintah. Dia bertindak atas inisiatifnya sendiri, belajar dari lingkungan, dan menyesuaikan diri seperti manusia."
Karin menatap gadis itu lebih lama. Hinata sedang tertawa kecil sambil menutup mulutnya, pipinya tampak memerah karena malu. Senyum yang sangat alami.
"Dia… kelihatan sempurna," gumam Karin.
Hiashi mengangguk pelan, tapi wajahnya tidak menunjukkan kebanggaan—malah sedikit muram.
"Mungkin terlihat begitu," katanya. "Tapi sebenarnya tidak."
Karin menoleh, penasaran.
"Maksud Anda?"
Hiashi menghela napas pelan sebelum melanjutkan.
"Kelemahan terbesar android dengan SAI adalah mereka harus memiliki komponen khusus untuk menampung dan mengelola emosi. Kalau diibaratkan manusia, komponen itu adalah 'hati'. Aku menyebutnya kokoro," jelasnya. "Saat ini Hinata menggunakan kokoro versi 1—prototipe awal. Masalahnya, komponen ini sangat sensitif terhadap emosi. Kalau dia terlalu sedih, marah, atau merasa stres dalam bentuk apapun, sistemnya bisa terganggu."
Karin mendengarkan dengan seksama.
"Itu sebabnya aku tidak pernah membiarkannya berinteraksi dengan dunia luar. Dunia terlalu keras, terlalu kejam untuk android sepertinya."
Karin mengangguk. "Saya paham. Dan Anda benar."
Hiashi menatap layar di dinding, memperlihatkan data-data tentang kokoro versi 1 dan 2.
"Aku sebenarnya sudah mencoba mengembangkan versi 2 sejak empat tahun lalu. Tapi sampai sekarang belum selesai. Membuat sesuatu yang bisa menggantikan fungsi hati manusia itu sangat sulit. Hati manusia bukan cuma organ—ia pusat emosi, pertimbangan, dan intuisi. Sesuatu yang belum bisa kutiru dengan sempurna," ucapnya pelan.
Lalu ia menatap Karin tajam.
"Dengan semua risiko ini, kau masih ingin melanjutkan terapi android menggunakan kokoro versi 1?"
Karin tidak ragu. Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
"Ya. Saya tahu risikonya. Tapi kalau ini memberi ibu saya sedikit saja harapan untuk sembuh… saya akan mencobanya."
Hiashi mengangguk pelan. Ia bisa melihat keseriusan di mata Karin.
"Baiklah. Tapi sekarang, satu pertanyaan terakhir. Ini yang akan menentukan apakah aku akan melanjutkan proyek android-mu atau tidak," katanya dengan nada serius.
"Kau bilang ibumu mulai kehilangan semangat hidup saat adikmu, Naruto meninggal. Tapi aku ingin dengar lebih detil—apa penyebab kematian adikmu Naruto? Maaf jika ini terdengar personal, tapi aku perlu penyebab hal tersebut sebagai salah satu data, agar kelak android buatan kita bisa memilih metode penyembuhan seperti apa yang cocok untuk menyembuhkan trauma ibumu."
Karin mengangguk mengerti. Ia akan ceritakan semuanya dari awal.
Hiashi dan Karin kembali duduk di ruang tamu. Suasana sedikit lebih tenang, hanya suara langkah Hanabi yang sesekali terdengar dari dapur. Setelah menyeruput sedikit teh yang mulai dingin, Karin akhirnya mulai bercerita.
Ia menceritakan semuanya dari awal—tentang kedatangan Naru ke dunia ini, alasan dia datang, kemunculan musuh yang mengejarnya, pertarungan yang mengakibatkan kehancuran besar, dan akhirnya... kabar kematian Naruto. Lalu ia lanjut ke kondisi keluarganya sekarang, terutama ibunya, Kushina, yang sejak mendengar kabar itu seperti kehilangan semangat hidup. Kesehatannya makin menurun dari hari ke hari.
"...Aku tidak mau kehilangan ibuku. Tidak seperti ini... bukan dalam keadaan dia menderita seperti sekarang," ucap Karin menutup ceritanya dengan suara lirih.
Hiashi mengangguk pelan. Ia kembali mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan sambil memikirkan semua informasi yang baru saja didengarnya.
"Hmm... jadi itu asal-muasal ledakan di laut Jepang sepuluh tahun lalu," gumam Hiashi. Ia memberi isyarat pada Hanabi untuk menuangkan kopi lagi. "Sejak dulu aku percaya dengan kemungkinan perjalanan waktu dan lintas dimensi. Aku tahu itu terdengar seperti fiksi ilmiah... tapi siapa tahu memang begitu kenyataannya. Mungkin benar kalau orang-orang zaman ninja lebih hebat dari kita dalam hal yang tak bisa dijelaskan ilmu saat ini."
Karin menghela napas lega, ia mengira Hiashi akan menuduhnya pembual.
Sementara itu Hiashi menarik napas panjang. Kali ini ekspresinya lebih serius.
"Baiklah. Setelah mendengar langsung ceritamu, aku memutuskan untuk membantumu."
Karin langsung membungkuk. "Terima kasih, Hiashi-san!"
Hiashi melambaikan tangan santai, menyuruh Karin duduk lagi. "Sudahlah, tak perlu terlalu formal."
Ia lalu menoleh pada Karin dengan sorot mata yang lebih lembut.
"Dan soal kehilangan, aku tahu persis rasanya. Aku kehilangan tiga orang dalam hidupku—istriku, Hanabi, dan Hinata. Kalau teknologi yang aku buat bisa membantu menyelamatkan ibumu dari rasa sakit seperti itu... aku akan melakukannya."
Karin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia membungkuk lagi, menahan emosi.
"Terima kasih... aku benar-benar tak tahu harus bilang apa lagi..."
"Cukup. Sekarang fokus saja ke langkah berikutnya. Cepat kembali ke rumah, ke kamar Naruto, cari barang pribadi mendiang adikmu, temukan rambut, potongan kuku yang mungkin terselip, atau apapun yang bisa dipakai untuk mendapatkan sampel gen Naruto. Hubungi juga Kabuto, minta rekam medis adikmu di RS Konoha. Kalau semua sudah terkumpul, kembali ke sini secepatnya. Dari sana kita bisa mulai proses penciptaan android-nya."
"Baik!" ucap Karin mantap.
Di luar gerbang kediaman Hyuuga yang megah, angin musim semi berhembus pelan, membawa wangi dedaunan muda yang mulai bertunas. Suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk pusat Tokyo, seolah menyisakan ruang untuk percakapan yang lebih dalam. Karin melangkah keluar dari mansion, wajahnya masih dibalut rasa haru dan syukur atas bantuan Hiashi.
Namun langkahnya terhenti.
Dari balik deretan pohon sakura yang berjajar rapi di trotoar seberang, sekilas matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Bayangan hitam, berdiri diam, seolah menantinya. Tudung hitam menutupi wajahnya, tapi helai rambut pirang itu... tidak asing.
Karin menyipitkan mata. "Keluar," ucapnya tanpa keraguan.
Sosok itu menoleh perlahan, ragu-ragu, kemudian melangkah mendekat. Setiap langkahnya membawa beban. Seakan takut akan respon yang akan diterimanya. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.
Namun Karin kini bukan gadis dua puluhan yang impulsif dan penuh amarah. Ia kini perempuan tiga puluh tahunan yang jauh lebih tenang. Rambut merahnya kini digerai sebahu, lebih lembut dari gaya acaknya dulu. Wajahnya masih menyimpan bekas keceriaan remaja, namun garis-garis tipis kesedihan membuat sorot matanya terasa lebih dalam.
Penampilannya mencerminkan profesionalitas—ia mengenakan blazer teknik abu gelap, dipadukan dengan celana panjang kerja dan sepatu kulit ringan. Di balik blazer itu, terlihat ID card resmi tergantung di lehernya, bertuliskan: Karin Uzumaki, Insinyur Elektronika - Pusat Riset Neural & Energi Alternatif Tokyo.
Ia duduk perlahan di bangku trotoar. "Kalau kau mau bicara, duduklah."
Naru menurut, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia membuka tudung hitamnya.
Wajah itu—masih sama. Kulitnya bersih, nyaris tak tergores waktu. Rambut pirangnya sedikit lebih panjang dari terakhir Karin melihatnya, namun ekspresi matanya tetap seperti dulu—menyimpan luka, tekad, dan keraguan dalam satu tatapan.
"Kau masih saja di sini. Bukankah dulu aku mengusirmu?" tanya Karin, tenang, tapi menusuk.
"Tidak sesederhana itu." Naru menatap jalan di depan mereka. Mobil-mobil melintas, pejalan kaki berlalu lalang. "Aku sudah jadi Time Traveler sekarang."
"Time Traveler? Omong kosong apa lagi itu?" Karin mendengus.
"Aku bertanggung jawab padamu. Dan pada kelangsungan dunia ini."
Karin hendak membalas, namun tiba-tiba semuanya sunyi. Bukan hanya suara kendaraan yang lenyap. Mobil-mobil berhenti di tengah jalan, pengemudi beku dengan tangan menggantung di udara, seekor burung yang terbang kini membeku di udara seolah menjadi lukisan hidup.
Waktu telah berhenti.
Namun Karin masih bisa bergerak. Ia menoleh kaget. "Apa ini...?"
Naru menatapnya dalam-dalam. "Kau belum mengerti juga," ujarnya pelan. "Jadi lebih baik kau melihat sendiri."
"Kau belum mendengar penjelasanku tentang kejadian sepuluh tahun lalu... saat kami berperang melawan Yami. Kau sendiri melihat bagaimana kekuatan Yami. Kami kewalahan dan tak punya jalan lain. Untuk mengimbangi kekuatan itu, Naruto adikmu, Naruto kakakku, dan semua Naruto dari dimensi lain mengorbankan nyawa mereka agar kekuatan mereka tidak jatuh ke tangan Yami."
Ia mengangkat tangannya. Aura biru samar mengalir di kulitnya, seperti aliran chakra yang hidup dan sadar.
"Mereka memilihku. Bukan aku yang menginginkan ini. Kekuatan mereka—jiwa mereka—mengalir di tubuhku. Aku bukan lagi sekadar penjelajah dimensi sekarang. Aku bisa menghentikan waktu. Melompat antar realitas. Aku… adalah Time Traveler."
Karin menatapnya, diam. Tak bisa berkata-kata.
"Aku tak memilih ini, Karin." Suara Naru melembut. "Tapi aku memikulnya. Karena satu janji: aku akan menjaga reinkarnasi mereka, menjaga dunia mereka, dan mengawal alur waktu agar tetap menuju ke kebahagiaan. Ketujuh dimensi. Termasuk dimensi ke-6 ini, tempatmu tinggal."
Karin menggigit bibir bawahnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar beban yang dipikul sosok ini. Seorang gadis yang wajahnya tak berubah, namun menanggung enam kematian dalam satu jiwa.
"Kau mau mengintervensi hidupku?" tanyanya pelan.
"Tidak sekarang." Naru menatap lurus ke depan. "Aku akan membiarkanmu menjalani hidup seperti biasa. Aku ingin menghargai jalan hidup yang kau pilih. Aku tak akan meminta maaf lagi karena aku tahu itu tak bisa menghidupkan adikmu kembali. Tapi izinkan aku berada di sekitarmu. Diam-diam dalam bayangan. Mengawalmu. Mengawal dunia ini."
Karin mengangguk kecil, tak banyak kata. Di dalam hatinya, ia tahu Naru tidak sedang mengada-ada. Ia tahu sorot mata yang menanggung luka adalah sorot mata yang paling jujur.
Dan saat itu juga, waktu kembali bergerak.
Angin kembali bertiup, suara mobil berdengung, klakson mobil, dan dunia melanjutkan ritmenya seperti semula.
Tanpa suara, Naru berdiri. Ia mengenakan kembali tudung hitamnya. Tanpa pamit, ia berlalu, menyatu kembali dengan bayang-bayang di antara pepohonan. Namun kali ini, Karin tak merasa ditinggalkan. Ia merasa… dilindungi.
Saturday, April 20, 2019, 06:00 PM
Hyuuga Resident – Tokyo
Karin berhasil mendapatkan sampel genetik Naruto—beberapa lembar rambut dari kamar Naruto, dan serpihan jaringan yang masih tersimpan di data medis lama RS Konoha. Ia segera membawanya ke rumah Hiashi, meski sayangnya, Kabuto tidak bisa menemani karena harus menangani serangkaian operasi mendesak di rumah sakit.
Hiashi menyambut Karin dan langsung membawanya turun ke basement 2, area yang ternyata adalah laboratorium utama tersembunyi tepat di bawah kediamannya. Baru kali ini Karin benar-benar memahami alasan kenapa tanah milik Hiashi begitu luas. Dari luar, rumah Hiashi hanyalah rumah bergaya tradisional Jepang yang tenang dan anggun. Tapi nyatanya, di bawahnya ada dunia lain yang tak terbayangkan—sebuah jaringan basement berlantai-lantai yang sangat luas, tersembunyi dari citra satelit dan mata publik.
Hiashi tersenyum tipis saat melihat reaksi takjub Karin. "Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di sini daripada di kantor pusat HCC," katanya. "Setiap pagi aku ke HCC hanya untuk mengecek laporan, bertemu beberapa klien atau staf kunci. Sisanya... di sinilah tempatku berada. Di sinilah aku mengembangkan Kokoro 2."
Ia menunjuk sekeliling—penuh dengan layar besar, meja kerja, mesin cetak jaringan, dan tabung-tabung besar berisi android dalam berbagai tahapan konstruksi. Yang membantu Hiashi bukanlah manusia, tapi belasan android bentuk dasar—tampak seperti kerangka titanium yang dilapisi kabel, sirkuit, dan komponen mekanik. Tak satu pun dari mereka memiliki kulit sintetis atau tampilan menyerupai manusia.
"Aku sudah berhenti mempekerjakan manusia untuk lab pribadi. Terlalu banyak aturan dan perasaan," ujar Hiashi sambil tertawa kecil. "Android tidak pernah bohong, tidak pernah lelah, dan mereka selalu taat perintah. Ideal untuk penelitian seperti ini."
Ia lalu mengarahkan Karin ke sebuah tabung transparan besar. Di dalamnya, tergantung sebuah android dalam tahap awal—kerangka titanium setinggi lebih dari 170 cm, tanpa kulit, tanpa wajah, hanya bentuk dasar kepala dan tubuh. Tapi bagian dadanya sudah memiliki satu komponen yang berbeda—sebuah kotak kecil berpendar biru di sisi kiri dadanya, tempat Kokoro 1 telah ditanam.
"Dia akan menjadi home android milikmu. Dia akan membantumu merawat ibumu lewat android therapy," jelas Hiashi.
Karin menatap android itu dalam diam. Meski belum memiliki rupa manusia, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya—mungkin karena tahu siapa yang akan ditiru oleh sosok ini. Di atas meja holografik, terpampang proyeksi 3D tubuh Naruto, hasil dari pemrosesan genetik awal.
Hiashi berjalan ke konsol, menunjuk layar. "Proses selanjutnya tinggal memasukkan data genetik Naruto ke sistem. Tapi bagian ini... panjang dan rumit. Karena data gen yang kita punya belum ditranslasikan ke digital penuh, maka proses pembentukan jaringan dan kulit sintetisnya akan sangat lambat. Bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan."
"Berarti ini belum tentu berhasil?" tanya Karin hati-hati.
"Jika data gen terdistorsi, kita harus ulang dari awal. Tapi kalau berhasil, fisiknya akan 100% menyerupai Naruto. Tenang saja, nanti proses itu akan dimonitoring oleh Kabuto."
Karin menatap proyeksi hologram Naruto—rambut pirang, mata biru cerah. Tapi dadanya terasa aneh, seperti tak nyaman.
"Tunggu!" serunya tiba-tiba.
Hiashi menoleh, sedikit terkejut. "Ada apa?"
"Bisakah... bisakah Anda ubah rambut dan matanya jadi hitam?"
Hiashi memandang Karin dalam diam sejenak. "Kenapa?" tanyanya pelan.
Karin menatap layar. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin ibuku merasa seperti Naruto benar-benar kembali... karena itu bukan Naruto. Aku tidak ingin dia makin terjebak dalam rasa kehilangan dan ilusi. Aku hanya ingin dia punya sosok yang menenangkan... bukan mengingatkan." Ia menghela napas dalam. "Aku ingin dia sembuh, bukan larut dalam harapan palsu."
Hiashi menatap Karin sekali lagi, mencoba memastikan bahwa gadis di depannya benar-benar mantap dengan keputusannya. Namun dari cara Karin berdiri—tegak, mata yang lurus memandang, dan suara yang tak goyah—ia tahu, tak ada lagi keraguan di sana.
"Kau yakin, Karin? Padahal rencanaku saat berdiskusi dengan Kabuto mengenai android therapy adalah membuatkan android yang sama persis dengan sosok yang dirindukan pasien. Bukan memodifikasinya seperti ini."
"Aku yakin dengan pilihanku," jawab Karin mantap. "Aku tahu ibuku seperti apa. Dia tak suka dibohongi. Mengatakan kalau android ini adalah Naruto adalah kebohongan besar yang tak akan ia maafkan. Aku akan berusaha membuatnya menerima kematian Naruto secara perlahan melalui android ini. Android ini akan kami anggap sebagai anggota keluarga baru—bukan pengganti, tapi penyeimbang. Sosok yang perlahan akan menghapus kesedihannya. Selain itu, aku juga tak ingin android ini menggantikan Naruto. Bagiku, Naruto adikku hanya satu… dan tak bisa digantikan. Aku yakin ibuku juga merasakan hal yang sama."
Hiashi mengangguk pelan, mengerti.
"Baiklah. Kau anaknya. Kau lebih tahu bagaimana sifat ibumu." Ia memutar tubuh dan menatap layar hologram di depannya—sosok tinggi dalam bentuk proyeksi 3D, saat ini masih dalam konfigurasi awal menyerupai Naruto. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan holografik, mengetikkan sejumlah perintah baru. "Aku akan sesuaikan pigmen rambut dan iris. Hitam, seperti yang kau minta. Tapi data gen asli Naruto tetap akan kusimpan, siapa tahu nanti kita membutuhkannya. Berjaga-jaga… kalau-kalau kau berubah pikiran dan ingin membuat sosok yang identik dengannya."
"Ya. Terima kasih."
"Kalau begitu, kau akan beri nama siapa?"
Karin berpikir sejanak, lalu berkata, "Menma."
Hiashi mengangguk lagi, lalu menekan tombol enter terakhir.
Perlahan, cahaya dalam tabung besar di depan mereka meredup, menyisakan siluet android yang tergantung tenang di dalam cairan bening. Sosoknya tinggi—proporsional dan simetris. Meski tubuhnya masih berupa rangka titanium berlapis kabel-kabel dan plat fleksibel, desain dasarnya sudah menunjukkan kerangka fisik manusia dewasa yang utuh. Dada kirinya sedikit lebih berpendar, tanda bahwa Kokoro versi 1 telah aktif, siap menampung dan menyimpan seluruh struktur emosional yang akan terbangun dari terapi nanti. Di bagian kepala, bentuk wajah mulai terbentuk, meski belum memiliki detail kulit ataupun rambut. Sepasang rongga mata tertutup pelat logam tipis menandai tempat iris dan pupil sintetis akan tumbuh—dan kali ini, bukan biru, melainkan hitam seperti yang Karin minta.
Lalu, layar di sebelah kanan menyala penuh. Proyeksi 3D yang kini dimodifikasi muncul—sosok 'Menma' versi akhir. Wajahnya tajam namun tenang, dengan mata hitam yang seolah menyimpan sesuatu yang dalam. Rambut hitam pekat terurai sedikit acak, menutupi sebagian dahi, memberikan kesan lebih dewasa dan tegas dibanding Naruto. Tubuhnya atletis, proporsional, dengan pakaian sementara berupa pakaian laboratorium standar 3D model. Namun dari sikap berdirinya—tegak, sedikit condong ke depan, dan sorot mata yang seolah hidup—ia seperti benar-benar sosok lain, bukan hanya salinan dari seseorang yang telah tiada.
Karin menatapnya dalam diam. Dadanya sesak, tapi ia merasa sedikit lebih ringan sekarang.
"Sampai bertemu sebulan lagi, Menma…" bisiknya, nyaris tak terdengar.
Hiashi menoleh padanya, tidak berkata apa-apa, hanya membiarkan momen itu hidup sendiri di antara mereka. Lampu-lampu di lab basement perlahan diredupkan. Di tengah ruangan, tabung berisi sosok android yang perlahan akan menjadi Menma terus berdetak, menyala biru di dadanya—pertanda bahwa kehidupan, meskipun artifisial, telah dimulai.
To Be Continue…
A/N:
Shinobi Online 2 adalah fic gabungan: Shinobi Online, Oneesan dan The Time Traveler. Detail fic:
1 Fic Oneesan:
Uzumaki Karin: Toko utama di fic ini. Anak tertua Kushina. Seorang Insinyur Elektronika (Electronics Engineer) bekerja dengan perangkat elektronik seperti sensor, rangkaian, dan alat digital.
Uzumaki "Souban" Naruto: Anak SMA Konoha. Meninggal setelah ikut bersama Naruto dewasa melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Naruko: Anak SMA. Kembaran Naruto yang tinggal di Inggris.
Uzumaki Kushina: Ibu Karin, Naruko dan Naruto.
2 Fic Shinobi Online:
Hyuuga Hiashi: CEO Hyuuga Cyber Company (HCC), perusahaan pembuat android terkemuka di Jepang yang berbasis di Tokyo.
Hyuuga Hinata: Android buatan Hiashi yang secara fisik mengambil gen asli putrinya Hinata yang meninggal karena mengalami kecelakaan mobil.
Hyuuga Hizashi: CEO Shinobi Online Developer Team (SODT), pengembang game Shinobi Online, sekaligus kembaran Hyuuga Hiashi.
3 Fic The Time Traveler:
Uzumaki "Naru" Naruko: Versi perempuan Naruto yang kini jadi The Time Traveler, penjelajah sekaligus pengendali ruang dan waktu. Mendapatkan kekuatan setelah 6 versi Naruto lain meninggal dunia dan energi mereka terkumpul di tubuhnya. Sehingga ia bertanggung jawab terhadap kelangsungan reinkarnasi Naruto, keberlangsungan dunia, dan kestabilan alur waktu di 7 dimensi.
Uzumaki Naruto dewasa: Versi Naruto dari dimensi ke-1 yang merupakan dunia ninja. Meninggal setelah melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Karin dewasa: Versi Karin dari dimensi ke-1 yang merupakan dunia ninja.
Tidak perlu membaca ulang ketiga fic itu karena fic ini punya konflik sendiri. Namun jika punya waktu luang silahkan baca fic lainnya.
rifuki
