FOREVER?

Aku kira selamanya itu hanya ada dalam pikiranku saja.

.

.

Introduction Chapter

.

.

Waktu seperti bom yang seolah-olah akan meledak kapan saja tanpa ada pemberitahuan yang pasti. Sama seperti hari ini, aku melihatnya berada di bawah pohon tempat kami biasa bertemu. Wajahnya datar seperti biasanya tapi matanya menyiratkan sesuatu. Kerinduan? Kesedihan? Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau katakan ketika bertemu dengannya.

"Jadi, apa kau sudah buat keputusannya?" Tanya ia tanpa basa-basi.

Aku terdiam sejenak. Mataku tertuju pada wajahnya, kemudian matanya. Mencoba melihat apakah ada ekspresi lain yang tidak ku tangkap.

"Sudah," jawabku pelan.

"Lalu?"

Aku tersenyum. Ia pun balik tersenyum padaku. Salah satu tangannya terulur ke arahku. Aku tidak meraih tangan hangat itu tetapi langsung memeluknya.

"Aku tahu," bisiknya di telingaku.

Aku hanya diam. Pelukannya semakin mengerat.

"Aku mencitaimu."

Aku melepaskan pelukanku seraya menatap wajahnya. "Selamanya?"

"Selamanya."

.

.

To be continued