Forever: A Very Long Commitment
.
.
Warning : Characters are mostly out of original chatacters & the content may contains adult material
.
.
Chapter 2: Unxpected Encounter
.
.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum liburan musim panas. Suasana sekolah mulai tidak kondusif. Beberapa teman sekelasku terlihat tidak antusias dengan penjelasan sensei saat ini tidak terkecuali sahabatku Ino.
"Kau jadi mengunjungi kakek dan nenekmu itu?"
"Aku rasa begitu. Apa kau sudah dengar kabar darinya?"
Ino menggeleng, "Sai bilang beberapa minggu ini ia sulit dihubungi. Mungkin ia sibuk mengurus kepindahannya karena akan ikut program pertukaran pelajar."
Aku berusaha tetap tenang dan hanya mengiyakan ucapan sahabatku walau dalam lubuk hatiku rasanya gusar sekali. Apakah aku benar-benar dicampakan begitu saja? Beberapa kali aku berpikir seperti itu. Walaupun dicampakan setidaknya aku ingin mendapatkan closure yang sepantasnya dan bukan begini.
"Maaf sudah merepotkan," ujarku kepada Ino.
"Tidak apa. Tapi jujur saja Sakura, apa hubunganmu baik-baik saja?"
"Entahlah, aku sudah lama tidak bicara dengannya."
"Jadi kau sama sekali tidak berkomunikasi dengannya? Kenapa kau baru bilang sekarang sih?" Ujar sahabatku dengan nada jengkel.
"Aku tidak terlalu peduli lagi, aku hanya penasaran saja."
"Tapi, Sakura..."
"Aku baik-baik saja," dustaku. "Anggap saja hubungan kami sudah selesai."
.
.
Forever: A Very Long Commitment
.
.
Suasana statiun kereta cukup ramai. Cukup ramai hingga membuatku melupakan jaket yang sedari tadi ku bawa entah dimana. Aku menghela nafas panjang ketika sudah duduk di kursiku. Yap, perjalanannya hanya enam. Hanya enam jam. Dengan suhu yang cukup dingin di dalam gerbong sampai nanti aku tiba di tujuan.
'Sial! Dasar bodoh!' makiku dalam hati.
Walaupun di setiap gerbong selalu disediakan selimut, entah mengapa aku selalu enggan untuk menggunakannya. Aku bukan orang penggila kebersihan tapi aku juga tidak suka menggunakan barang-barang yang digunakan banyak orang terlebih lagi kita tidak tahu asal-asul pengguna barang tersebut.
Pengeras suara mengumumkan kereta akan segera berangkat. Aku kembali merapihkan barang bawaanku dan mengambil airpod yang baru saja ku beli. Sekelibat bayangan memori tiba-tiba saja muncul. Aku menghela nafas panjang lagi takkala mengingat bahwa aku meninggalkan jaket di toko tersebut.
.
Sudah tiga jam berlalu. Aku mulai merasa bosan. Biasanya aku akan selalu tertidur beberapa menit setelah perjalanan tetapi ini berbeda. Tentu saja berbeda bagaimana bisa aku tertidur dengan suhu dingin seperti ini.
Tidak tahan dengan suhu yang cukup dingin ini aku memutuskan untuk pergi ke gerbong kafetaria. Aku berdiri perlahan berusaha tidak mengganggu orang di sebelahku yang sedang tertidur sambil memeluk majalah yang ia baca saat sebelum tidur.
Aku berjalan menyusuri lorong hingga hampir tiba di gerbong kafetaria. Tepat beberapa meter lagi jarakku hingga tiba di gerbong tersebut seorang pria paruh baya muncul membawa satu gelas minuman hangat. Badannya cukup gempal walaupun aku sudah berusaha untuk menghindar ia tetap saja menyenggol tubuhku.
Aku terhuyung dan tidak sengaja menduduki penumpang lain. Lebih parahnya aku juga terkena cipratan minuman yang ia bawa.
"Akh," pekikku ketika minuman itu mengenai pakaian atasku dan juga tangan. Aku melihat tumpahan minuman itu juga mengenai penumpang yang lainnya.
"Yang benar saja?!" Keluhnya tanpa merasa bersalah.
Aku buru-buru berdiri sebelum pria yang kududuki marah. Tidak lupa aku juga buru-buru minta maaf kepadanya.
"Bukankah harusnya tuan minta maaf padaku?"
"Cih, kau saja yang kurang minggir. Aku tidak ingin berdebat dengan bocah sepertimu! Minggir aku sedang terburu-buru"
Pria gempal paruh baya tersebut langsung pergi sambil membawa tas ransel miliknya. Tidak peduli dengan keadaanku serta sekitar atau penumpan lain yang ikut terkena cipratan minumannya. Aku ingin sekali meneriakinya tapi seseorang mencegahku.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya
"Baik-baik saja? Tentu saja tidak, pria tua seperti itu harus diberi pelajaran soal tata krama."
"Hentikan, bisa-bisa kau yang akan diusir dari kereta." Ujarnya pelan sembari beridiri. Ia meraih lenganku dan menarikku untuk ikut dengannya.
"Kau salah arah! Dia pergi ke sana," ujarku kesal.
Pria itu berbalik dan maju. Ia setengah berbisik di dekat telingaku.
"Jika kau sudah selesai dengan amarahmu kau akan merasa malu. Saat ini orang-orang sedang menatap ke arahmu. Kau tidak akan mau menarik perhatian mereka lebih dari ini apalagi kalau pakaian dalammu saat ini bisa diliat siapa saja."
Aku langsung menyadari ucapannya. Saat ini aku mengenakan kaus berwarna putih. Tentu saja pakaian dalamku terlihat karena kaus ini basah dan jadi menerawang.
"Sial," ujarku sambil mengikuti pria yang menarikku.
Pria itu menuntunku hingga ke toilet. Sebelum menyuruhku masuk, ia melepas hoodie miliknya dan memberinya padaku.
"Pakai ini. Lebih baik kau gunakan ini walaupun ini terkena cipratan kopi juga, tapi ini lebih baik daripada terus menggunakan bajumu yang sekarang."
Tanganku buru-buru meraih hoodie miliknya dan segera masuk ke dalam toilet. Aku terkejut melihat pantulan diriku di cermin. Ia benar kaosku terlihat transparan dan memperlihatkan pakaian dalamku saat ini.
"Ahhh benar-benar memalukan." Keluhku.
Aku buru-buru melepas kaosku. Tercium aroma kopi. Sedikit bersyukur karena itu kopi dan bukan minuman beraroma kuat lainnya.
Aku mengambil hoodie milik pria yang tadi tidak sengaja aku duduki dan memakainya. Aku mencium aroma parfum dan juga desifektan serta aroma familiar lainnya. Aroma yang biasa ku cium saat berada di rumah sakit. Aku mencoba menenangkan diriku selama satu menit sebelum keluar dari toilet.
Ketika aku membuka pintu toilet pria itu masih berada di dekat pintu. Ia terlihat bersandar pada dinding sambil menyilangkan tangannya.
"Terima kasih untuk hoodienya," ucapku agak kikuk. "Aku berjanji akan mengembalikannya."
Pria itu menoleh ke arahku. Kemudian ia merogoh saku miliknya dan mengeluarkan sebuah ponsel.
"Bukankah kau harus tau kontak dan alamatku untuk mengembalikannya?"
"Ah," aku hampir kelupaan. Buru-buru ku keluarkan ponselku untuk mencatat informasi kontaknya.
Pria itu mengahampiriku dan mendekatkan ponselnya pada ponselku. Beberapa detik kemudian muncul informasi kontak di layarku yang menunjukan nama 'Uchiha Sasuke'.
"Baiklah, aku akan menghubungi anda saat hoodienya sudah siap untuk dikirim."
Ia menggeleng, "Berikan juga kontakmu."
"Eh?" Tanyaku.
"Iya, kontakmu. Tidak ada jaminan kalau kau akan menghubungiku untuk mengembalikannya."
Aku tertawa mendengar ucapannya yang terdengar seperti mencela.
"Baiklah, aku akan tetap memberikannya dan juga MENGEMBALIKAN hoodie milikmu ini," ujarku dengan penuh penegasan.
Aku mengirim balik nomor kontakku.
"Haruno Sakura?"
"Ya, itu informasi kontakku."
"Oke, anggap saja ini sebagai jaminan," ujarnya seraya pergi meninggalkan gerbong ini untuk kembali ke tempat duduknya.
Aku hanya menatap punggungnya sebentar sebelum berbalik dan pergi ke gerbong kafetaria karena perutku sekarang makin terasa lapar.
.
Speaker mengumumkan bahwa tujuanku sudah dekat. Aku melepaskan airpodku dan membereskan barang bawaanku ke dalam tote bag yang ku bawa. Tak lupa aku juga merapihkan pakaian serta mengecek penampilanku dan mengikat rambutku.
'Oke, semuanya sudah,' ujarku dalam hati.
Aku pun berdiri ketika dan berjalan ke arah dekat pintu sampai kereta benar-benar berhenti. Tidak berapa lama pintu kereta terbuka, aku melangkahkan kakiku keluar dengan hati-hati khawatir akan terluka.
Aku menengok ke kanan dan kiri memastikan dimana koperku diturunkan sampai akhirnya aku menyadari pria bernama Uchiha Sasuke yang meminjami hoodienya ikut turun di stasiun yang sama denganku. Fokusku teralihkan beberapa saat hingga seorang security menegurku untuk segera melangkah maju menjauhi peron karena kerata akan segera berangkat kembali.
"Maaf," ujarku cepat sambil segera berjalan ke arah koperku berada.
"Kita bertemu lagi ternyata," ucapku pada pria itu sambil tersenyum kikuk mencoba basa-basi.
"Hn," gumamnya singkat. Ia menarik koper besar berwarna silver polos dengan inisial U. S.
"Kau butuh bantuan?" Tanya nya ketika melihat koper berwarna merah muda yang tertutup beberapa tas carrier.
"Tidak, itu bukan milikku," jawabku sembari menarik sebuah koper silver lainnya yang penuh dengan beraneka sticker. "Yang ini baru milikku," jawabku sembari tersenyum dan menahan tawa.
"Hanya karena rambutku berwarna merah muda bukan berarti aku akan memiliki barang dengan warna yang sama"
Ia sedikit kikuk dan salah tingkah ketika mendengar jawabanku. Aku yang menyadarinya langsung berkata,
"Tidak apa-apa, kau bukan orang pertama yang punya pemikiran seperti itu."
"Tch," decihnya.
Ia berbalik langsung meninggalkanku. Sepertinya ia merasa malu, benar-benar lucu pikirku.
"SAKURA!" Teriak seseorang agak jauh dariku.
Suaranya cukup kencang. Ia memanggilku beberapa kali sampai aku benar-benar melihatnya. Aku tersenyum lebar ketika mendapati sosok yang sangat ku kenal tersebut.
Ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk menghampirinya walaupun koperku terasa cukup berat. Ketika jarak kami sudah dekat aku berlari dan memeluknya erat.
"Astaga sudah lama sekali! Aku merindukanmu," ucapnya antusias. "Nenek dan kakek juga merindukanmu."
"Aku juga rindu padamu dan mereka."
"Wah kau sudah besar sekali dari terakhir aku melihatmu. Lihat, bahkan rambutmu sekarang sudah lebih panjang."
"Cantik kan?" Tanyaku sambil menggoyangkan pony tailku.
Ia menggeleng cepat, "Tidak, kau tetap jelek."
"Dan kau tidak berubah, masih tetap menyebalkan seperti biasanya." Jawabku.
Sasori tertawa. Ia kemudian membantuku membawakan koperku. Kami berdua berjalan keluar dari stasiun ke arah parkiran. Tak jauh dari mobil Sasori tampak sosok familiar yang ku temui di kereta.
"Sasuke? Wah sudah lama sekali bro sejak kita bertemu," ucap Sasori spontan.
Sasori menghampiri Uchiha Sasuke dan langsung memeluk serta bersalaman dengannya. Mereka terlihat cukup akrab dan mengobrol sebentar.
Aku hanya melihatnya sebentar dan segera membuka bagasi mobil. Sedikit kesusahan saat berusaha memasukan koperku karena ukurannya yang cukup besar dan berat.
"Hei, Sakura biarkan saja. Biar aku saja yang mengangkat kopermu itu," ujar Sasori seraya berpamitan dengan Uchiha Sasuke.
Sasori datang menghampiriku. Ia mengangkat koperku dengan cepat dan meletakannya di bagasi. Ia terlihat tidak kesusahan walaupun koperku berat.
"Kau kenal dengannya?"
"Siapa? Sasuke? Tentu saja. Dia teman sekolahku saat SMA."
Aku hanya terdiam dan masih melihatnya.
"Kenapa? Kau naksir ya?"
"Tidak," jawabku.
"Ey, kau tidak harus malu mengakuinya."
"Aku bilang tidak. Ada insiden tadi di kereta jadi dia meminjamkan hoodienya untuk ku pakai."
"Ah tak heran, pantas saja kau mengenakan hoodie almamater. Aku sempat bingung kenapa kau mengenakannya padahal kau kan belum lulus SMA"
Aku segera menengok ke arah hoodie yang aku pakai. Di sana terlihat logo kecil Universitas Konoha.
"Ku dengar dia mengambil jurusan kedokteran tapi aku rasa dia sudah menjadi dokter karena sudah berapa tahun ia tak pulang," Sasori menggaruk kepalanya tak yakin dengan ucapannya. "Entahlah, tapi yang jelas ia dokter."
'Aaa... pantas saja aku bisa mencium aroma familiar dari hoodienya' ucapku dalam hati.
"Ayo, cepat naik Sakura. Apalagi yang kau tunggu? Nenek dan kakek sudah menantimu sedari pagi."
.
.
Forever: A Very Long Commitment
.
.
Setibanya aku ke rumah kakek dan nenek ku, aku disambut dengan pelukan hangat. Nenek bahkan sudah mempersiapkan aneka makanan untuk makan malam. Tentu saja aku merasa sangat senang. Sudah lama sekali rasanya sejak aku memakan masakan rumah yang sesungguhnya. Iya, ibuku terlalu sibuk untuk memasak bahkan terkadang beliau tak punya banyak waktu untuk beristirahat di rumah. Lagipula, ayahku juga sama sibuknya. Mereka jarang sekali menghabiskan waktu di rumah.
Sasori sekarang sedang bercerita mengenai pengalamannya ketika pertama kali membuat wine bersama kakek. Semua orang terlihat terbawa suasana dan ikut tertawa ketika Sasori menceritakan part lucu dari pengalamannya tersebut.
Sasori adalah sepupuku satu-satunya yang paling tua. Nenek dan kakek merawat Sasori sejak kecil karena orang tua Sasori sudah meninggal. Mereka berdua mengalami kecelakaan ketika sedang pergi keluar kota untuk keperluan dinas. Ayah dan ibuku sempat mengungkitnya beberapa kali soal kecelakaan tersebut. Tak jarang, orang tuaku berandai-andai seandainya orang tua Sasori tidak memaksakan berkendara di saat cuaca buruk saat itu apakah mereka masih ada sampai saat ini.
Orang tuaku hampir setiap liburan musim panas selalu mengirimku kemari dengan sebuah misi. Misinya yaitu untuk mengajak Sasori tinggal dengan kami. Mereka beranggapan bahwa Sasori layak mendapatkan yang terbaik daripada yang ada di sini.
Aku sudah mencobanya membujuknya untuk ikut tinggal dengan kami tapi hasilnya nihil. Ia tetap tidak mau ikut dengan kami. Baginya tinggal bersama kakek dan nenek membuatnya lebih nyaman. Butuh beberapa waktu sampai ia bisa menerima semuanya tapi berkat kakek dan nenek, ia tidak punya trauma masa kecil. Setidaknya, ia hidup lebih baik.
Aku memandangnya lagi tak memperdulikan apa yang sedang ia ceritakan. Ia terlihat berisi, sehat dan baik-baik saja. Jika saja ia mengiyakan ajakanku untuk tinggal bersama kami, belum tentu ia akan terlihat sebahagia ini. Aku tersenyum ikut senang melihatnya.
.
Bunyi suara gaduh membuatku terbangun. Aku meraih ponselku yang ada di atas meja di sebelah kasurku. Jam menunjukan pukul 6 pagi. Aku pun berguling kembali ke kasurku dan mencoba untuk tidur kembali.
Satu menit... dua menit... hingga sepuluh menit berlalu tapi aku masih terjaga. Akhirnya ku putuskan untuk bangun. Aku mengucek sebelah mataku dan meregangkan badanku. Setelah beberapa saat, aku pun bangkit dan bergegas mencuci muka dan sikat gigi sepertinya pagi ini aku putuskan untuk jalan-jalan pagi atau jogging di sekitar.
Udara di sekitar rumah kakek dan nenekku selalu segar. Hamparan ladang anggur menyambutku begitu aku keluar. Aku bisa mencium aroma anggur dan juga embun pagi yang berbaur menjadi satu menghasilkan aroma yang menenangkan. Matahari belum terlalu terik sehingga aku masih bisa merasakan udara yang sejuk di pagi ini.
Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit sampai aku bisa mengelilingi setengah ladang anggur milik kakek dan nenekku. Aku memutuskan beristirahat sejenak di dekat pohon rindang yang berasa di antara gudang dan juga kandang kuda.
Aku menghela nafas panjang seraya meregangkan badanku. Ketika aku sedang melakukan peregangan sosok Sasori muncul dari dalam gudang. Ia terlihat membawa peti kayu yang kini sedang ia tumpuk di bagasi truck.
"Kau sudah bangun?" Tanyanya sembari masih sibuk menyusun peti-peti tersebut.
"Lebih tepatnya aku tidak bisa tidur," jawabku.
"Maaf, listrik saat subuh tadi sempat padam jadi aku harus menyalakan genset darurat," ujarnya.
Peti-peti berisikan anggur segar itu saat ini sedang disusun oleh Sasori. Jumlahnya lumayan banyak. Para pemetik sepertinya bekerja keras di saat malam dan subuh tadi karena hasilnya cukup banyak. Kakek pernah berkata waktu yang tepat untuk memetik anggur adalah di malam hari atau saat suhu udara dingin untuk memastikan kualitas anggur yang dipetik tetap segar dan kandungan gulanya tidak berubah.
"Sebentar lagi aku akan ke kota sebrang untuk melakukan pengiriman, kau mau ikut?" Tawarnya.
"Tidak, tapi bisakah aku ikut dengan kau ke kota? Aku harus mengunjungi suatu tempat," tanyaku.
"Ya, tentu saja. Tiga puluh menit lagi aku akan berangkat. Jika sampai saat itu kau belum siap, aku akan berangkat sendiri."
.
Sepanjang perjalanan kami ke kota Sasori menggerutu. Ia mengeluh kalau aku terlalu lama dan ia hampir terlambat padahal aku hanya menghabiskan dua puluh menit saja. Aku bahkan tidak sempat mengeringkan rambutku dengan benar.
"Berhenti mengeluh, aku bahkan memberikanmu extra 10 menit supaya kau tidak terlambat," ujarku dengan nada agak jengkel.
Rambutku setengah basah dan udara pagi ini terasa lebih dingin terlebih lagi Sasori membuka jendela mobil tanpa menyalakan ac mobil.
"Ambil sisi positifnya," ujarnya. "Rambutmu sebentar lagi akan kering dengan sendirinya," lanjutnya dengan senyuman sedikit mengejek.
Aku hanya meliriknya dengan tatapan jengkel enggan membalas ucapannya itu. Aku mengambil sisir yang ada di dalam tasku, berusaha menyisir rambutku sebisaku lalu mengepangnya agar terlihat lebih rapih. Setidaknya aku tidak akan terlihat seperti orang-orangan sawah dengan rambut kusut saat tiba nanti pikirku.
Selama sisa perjalanan tiga puluh menit aku hanya diam enggan untuk menimpali ucapan Sasori. Sesekali ia menyenggolku dengan ujung sikunya tapi hanya ku balas dengan tatapan 'aku tidak ingin berbicara denganmu' namun tampaknya ia tidak peduli dan terus melanjutkan ceritanya.
Kami sudah sampai di kota. Sasori menurunkan diriku tepat di depan pertokoan yang ada di kota.
"Apakah kau yakin akan baik-baik saja sendirian?"
"Sangat yakin, tiap tahun aku selalu kemari tidak mungkin banyak yang berubah. Jangan khawatir."
"Baiklah, aku mungkin akan selesai sekitar siang nanti. Aku akan mengabari mu. Jangan matikan ponselmu!"
"Ya,ya,ya" jawabku asal sembari turun dari mobil.
"Cepat pergi dari sini atau kau akan mendapatkan masalah karena terlambat melakukan pengiriman."
"Baiklah, hubungi aku kalau ada apa," Sasori segera tancap gas begitu aku telah turun dan menutup pintu mobil.
Aku menatap mobil Sasori perlahan menjauh sampai benar-benar menghilang dari pandanganku. Menghela nafas aku pun melihat jam tanganku. Ini masih sangat pagi. Ku tengok kanan dan kiri mencari lokasi tempat tujuanku tapi tak terlihat juga.
Ku keluarkan ponselku dan membuka peta. Mengetik sebuah kata kunci 'laundry terdekat'. Sebuah nama toko langsung muncul, aku langsung mengklik nya dan mengikuti petunjuk arah tersebut.
Suasana jalan lumayan ramai karena sudah banyak warga yang beraktifitas. Beberapa toko terlihat mulai berbenah untuk buka. Udara pagi ini lumayan sejuk sehingga aku tidak terlalu kepanasan meskipun harus berjalan kurang lebih satu kilometer untuk sampai ke tujuanku.
Butuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai di tujuanku. Bunyi lonceng terdengar ketika aku membuka pintu. Seorang wanita paruh baya menyambutku dengan senyuman yang hangat dan ramah. Aku pun membalas senyuman wanita itu seraya mengeluarkan hoodie pinjaman saat insiden di kereta kemarin.
"Apakah noda nya benar-benar bisa hilang?" Tanyaku sedikit khawatir karena hoodie tersebut berwarna abu misty.
"Tentu saja, nona. Membersihkan noda kopi lebih mudah daripada membersihkan noda wine," ujar wanita tersebut menenangkanku.
Aku pun tersenyum lega takkala mendengar ucapan wanita tersebut dan mengeluarkan ponselku untuk melanjutkan pembayaran. Transaksi sudah selesai, aku pun berjalan keluar dari toko laundry tersebut.
Melihat ke kanan dan kiri pada jajaran pertokoan. Mataku kembali melihat ke jam tanganku. Aku masih punya banyak waktu sampai Sasori menyelesaikan pengiriman. Aku pun berjalan pelan sambil menyusuri gedung pertokoan.
Aroma kopi dan juga roti yang dipanggang membuatku menghentikan langkahku dan memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu kafe. Ketika masuk ke dalam kafe aku bisa mencium aroma yang membuatku lapar itu.
Suasana kafe ini termasuk nyaman. Pengunjungnya masih belum terlalu banyak sehingga tidak berisik. Point paling pentingnya di sini tidak diputar musik sama sekali sehingga suasana kafenya lebih tenang dan hanya terdengar suara mesin kopi. Aku pun tersenyum senang.
Aku berdiri di belakang seseorang untuk ikut mengantri. Mataku sibuk mempelajari menu yang ada di kafe tersebut sampai tidak menyadari kalau orang yang di depanku sudah menyelesaikan pesanannya.
"Ekhem," suara seorang pria dari belakangku membuatku sedikit tersentak kaget. "Apa kau masih butuh waktu lagi untuk memutuskan pesananmu?"
Wajahnya familiar. Uchiha Sasuke. Ia menatap menu yang dipajang kemudian matanya mengarah menatapku.
"Aaa, kau rupanya." Ujarku berusaha santai.
Wajahnya terlihat bingung ketika mendengar ucapanku.
"Apa kabar?" Tanyaku kikuk berusaha mencairkan suasana.
"Baik walaupun aku sedikit kedinginan karena tidak membawa hoodieku," jawabnya tenang.
"Soal itu...," belum selesai aku menyelesaikan ucapanku ia langsung memotong ucapanku.
"Jadi kau mau pesan apa? Bagaimana kalau bluberry dan chocholate muffin? Kau suka blueberry? Bagaimana juga dengan blueberry danish?" Matanya menatap menu lalu kembali menatapku.
"Boleh juga, aku suka semuanya," jawabku.
Ia berjalan melewatiku dan langsung memesan ke kasir.
"Aku akan memesan ice americano, bagaimana denganmu?" Lanjutnya.
"Latte. Ice latte," jawabku.
"Oke, kalau begitu aku akan pesan itu juga." Uchiha Sasuke langsung mengeluarkan dompetnya dari sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu.
'Ehhh,' gumamku menyadari situasinya. Aku segera bergegas ke arah kasir menghentikannya.
"Biar aku saja," ujarku cepat.
Tangannya menahanku dan memberikan kartunya ke kasir tersebut.
"Lain kali saja."
"Tapi..."
"Ini tidak seberapa," jawabnya enteng. "Mungkin lain kali," lanjutnya.
Kasir itu memberikan nota juga kartunya kembali seraya mengucapkan terima kasih.
Kami pun berjalan ke salah satu sofa yang berada dekat dengan jendela. Kami pun duduk di sana saling berhadapan. Sinar matahari dan juga penerangan kafe membuatku bisa melihat Uchiha Sasuke dengan lebih jelas dibandingkan saat-saat di kereta kemarin.
Pria itu mempunyai raut wajah yang tegas. Matanya berwarna hitam gelap. Ketika menatapmu rasanya bisa tenggelam karena begitu gelap. Hidungnya mancung. Sekilas ia tampak seperti orang yang tidak terlalu suka tersenyum sehingga kelihatan dingin tapi saat ia mengobrol bersama Sasori aku sempat melihatnya tersenyum dan ia terlihat seperti orang normal.
Bahunya sangat lebar. Lengannya juga terlihat kekar sepertinya ia suka olahraga. Atlet? Bisa jadi pikirku. Badannya terlihat bidang apalagi ia sekarang hanya mengenakan kaus tanpa jaket atau hoodie. Badannya juga lumayan tinggi.
Rambutnya yang berwarna hitam kebiruan sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Walaupun gaya rambutnya terlihat unik.
Untuk pria sepertinya ia cukup tampan.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanyanya memecah keheningan.
"Ah aku baru saja dari tempat laundry. Aku khawatir kalau noda nya tidak akan hilang jika dicuci seperti biasa."
"Kau terlalu berlebihan," ujarnya. Sudut mulutnya sedikit tertarik ke atas.
"Lebih baik berjaga-jaga bukan. Bukankah itu hoodie almamater universitas? Kau mahasiswa di Konoha University?"
"Hn, begitu lah. Bagaimana denganmu?"
"SMA," ujarku tertawa malu. "Tahun ini aku akan menjadi senior."
"Aku pikir kau mahasiswa baru. Ya tapi itu menjelaskan sikapmu saat di kereta karena kau sangat cereboh," ujarnya dengan nada bercanda.
"Yang benar saja, aku tidak setua dan tidak seceroboh itu. Dia yang menyenggolku dan juga kau tau bukan space di kereta saat itu tidak terlalu luas."
Ia hanya tertawa pelan tanpa suara.
"Aku serius tau!"
"Baiklah," ujarnya. "Apa kau baik-baik saja? Ku lihat itu kopi panas. Pasti rasanya cukup perih di kulit. "
"Sedikit tapi ku rasa baik-baik saja karena tidak ada ruam," jawabku.
Ia tiba-tiba saja berdiri membuatku kaget. Refleks aku meraih tangannya
"Kau mau kemana?"
"Kau tunggu saja di sini, biar aku ambilkan pesanannya. Aku tidak bawa pakaian ekstra bila kau ketumpahan lagi," ejeknya sambil tersenyum seraya meninggalkan meja.
.
.
.
To be continued
.
.
