SWORD AND SHIELD
Chapter 3 : Hujan (Ichigo's POV)
Genre : Romance, Friendship, Slice of Life
Rating : T
Setting : Canon
Aku benci hujan.
Sebagian orang mungkin menyukainya karena hujan membawa kebahagiaan bagi mereka, bagaikan tumbuhan yang membutuhkan air untuk tetap bisa bertahan hidup. Tapi tidak denganku. Aku membencinya.
Kejadian kurang menyenangkan, menyedihkan selalu terjadi kepadaku disaat hujan turun. Membuatku selalu teringat kejadian yang sampai sekarang masih dan selalu membebani pikiranku.
Karena aku.
Aku kehilangan ibuku pada hari itu. Disaat hujan turun dan aku tidak bisa melindunginya. Aku tidak ingat dengan jelas bagaimana awalnya, tiba-tiba saja pandanganku gelap dan begitu aku tersadar aku melihat ibuku dalam posisi tengkurap menindihku. Aku berusaha bangkit dan menahan beban tubuh ibuku, aku begitu panik. Aku coba untuk memanggil-manggil namanya sambil berusaha menggoyangkan pundaknya namun tidak ada respon.
Mataku menatap horor pada noda darah yang terlihat di bagian depan baju ibuku, dan aku pun mulai menangis sambil meraung berharap dapat mengembalikan kesadarannya. Entah kekuatan dari mana hingga akhirnya aku bisa terbebas dari kukungan ibuku dan membalik badannya. Aku melihat lebih banyak darah dan tubuh ibuku mulai memucat.
Aku menangis sekeras-kerasnya, air mata yang mengalir di wajahku tak bisa kubendung meskipun tersamarkan oleh guyuran air hujan.
Di hari itu, saat hujan turun, ibuku kehilangan nyawanya dan akulah yang menjadi penyebabnya.
Meskipun ayahku berkata bahwa itu bukan kesalahanku, aku bukanlah alasan penyebab kematian ibuku, namun rasa bersalah atas kehilangan sosok penting dalam keluargaku tidak bisa aku hilangkan. Karena aku, ayah kehilangan sosok istri yang seharusnya dapat menemaninya hingga tua nanti. Karena aku, kedua adikku kehilangan sosok ibu diusia mereka yang masih kecil.
Bagaimana denganku?
Aku begitu kehilangan, sosok ibu. Sosok penyemangat dan sumber kebahagiaanku, orang pertama yang menghampiriku dengan senyumannya, memberi pelukan hangat, memberikan rasa aman dan sayang yang tidak tertandingi. "Kau sudah berusaha dengan keras hari ini, Ichigo-kun. Sekarang istirahatlah dan kau bisa lanjut berusaha di keesokan harinya. Tidak perlu memaksakan dirimu, karena bagaimanapun hasilnya ibu akan tetap bangga kepadamu."
Ucapan yang memberiku kekuatan untuk giat berlatih karate dan bisa mengimbangi Tatsuki, seorang gadis yang juga berlatih di doujou yang sama denganku. Menurutku dia sangat keren karena meskipun dia perempuan tetapi dia sangat kuat dan pemberani. Aku mencoba menandinginya meskipun berakhir dengan kekalahan. Namun hal itu tidak membuatku sedih, karena ibuku tahu bahwa aku sudah melakukan yang terbaik.
Delapan tahun berlalu, tapi waktu tidak dapat menyembuhkan luka dalam hatiku seperti yang pepatah katakan. Tidak juga dapat untuk menghilangkan kebencianku terhadap hujan.
Aku hanya terdiam di atas ranjangku sambil memandang ke luar jendela kamarku. Melihat langit mendung dan air yang seakan tidak ada habisnya membasahi tanah. Seiring dengan hujan yang reda dan matahari kembali menampakkan sinarnya, menbuatku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah hujan di dalam hatiku ini suatu saat nanti akan berhenti? Akankah aku menemukan sosok yang dapat menyelimuti hati ini dengan kehangatan selayaknya hangat sinar matahari dalam kehidupan?
Update lagi yuhuuu.
Sebenarnya untuk chapter "hujan" ini aku pengen ada dua sudut pandang dari Ichigo dan Orihime. Tapi saat proses menulis yang cuma sesaat namun lumayan brainstorming ini akhirnya aku putuskan untuk menulis dari sudut pandang Ichigo saja. Untuk versi Orihime akan ada sendiri dan masih berhubungan dengan hujan.
Sejauh ini yang sudah aku tulis di catatan aku untuk chapter selanjutnya masih kurang lebih seperti ini, ada satu momen atau kejadian yang nanti aku tulis dalam dua chapter masing-masing dari sudut pandang Ichigo dan Orihime. Tapi ada juga chapter yang memang nanti bisa bediri sendiri tanpa terikat momen tertentu.
Semoga kalian suka dan aku tunggu masukan, kritik, saran, apapun dari pembaca sekalian demi keberlanjutan cerita ini. Selamat membaca dan jangan lupa tetap jaga kesehatan.
Salam.
Yukari.
