Shinobi Online 2: The End of The World
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 3
"Menma"
Saturday, September 7, 2019, 10:00 AM
Uzumaki Resident – Konoha
Cahaya lembut dari panel kontrol menyala keunguan saat angka di layar countdown mencapai nol. Tabung transparan di tengah laboratorium perlahan mengeluarkan bunyi "hisss" saat tekanan udara diseimbangkan. Cairan bening di dalamnya mulai surut perlahan, memperlihatkan sosok yang selama ini tertidur dalam kegelapan. Cahaya biru dari kokoro yang tertanam di dada kirinya berkedip perlahan, menandakan sistem emosinya mulai aktif—meskipun masih dalam tahap paling dasar.
Kemudian…
Dengan satu kedipan pelan, sepasang mata berwarna hitam pekat terbuka untuk pertama kalinya.
Mata itu tidak memancarkan emosi apa-apa—tidak bingung, tidak takut. Hanya kosong. Tapi hidup.
Hiashi memantau layar status dari konsol, tersenyum kecil. "Stabil. Tidak ada penolakan dari jaringan baru," katanya sambil menyilangkan tangan.
Tak jauh darinya, Kabuto berdiri dengan ekspresi kagum, meski lelah tergambar jelas di wajahnya. "Kerja gila… tapi berhasil," ujarnya pelan. "Sejujurnya aku belum pernah melihat penyempurnaan android seperti ini. Kulit sintetisnya, tekstur, pigmentasi… bahkan mikro-detail pori dan garis kulit."
Karin, yang sejak tadi menahan napas, kini menatap sosok di tabung dengan mata berkaca-kaca.
Menma melangkah keluar dari tabung perlahan, dengan gerakan kaku namun stabil. Butiran air dari cairan medium menetes dari rambut dan bahunya, namun tubuhnya tetap tegak, seolah tidak merasakan dingin atau berat. Sekujur tubuhnya kini telah dibungkus dengan kulit sintetis sempurna, cerah dan tampak begitu alami. Rambut hitam pekatnya sedikit berantakan, basah dan menempel ke dahinya. Matanya yang hitam terlihat dalam dan tenang.
Hiashi menyerahkan sepasang pakaian yang sudah disiapkan.
"Bantu dia memakai ini," ucapnya ke Kabuto.
Tak lama, Menma sudah berpakaian: kaos biru navy yang pas di tubuhnya dan celana panjang hitam yang rapi. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, seperti sedang menunggu perintah berikutnya. Satu tangannya mengepal, yang lain tergantung santai di sisi tubuhnya. Rambutnya mulai kering dengan cepat berkat pemanas ruangan otomatis.
Karin melangkah mendekat dengan napas teratur, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa haru.
Kini, dari jarak sangat dekat, ia bisa melihat detail wajah Menma—garis rahangnya tegas, hidung lurus, bibir yang diam namun memiliki bentuk yang sama seperti Naruto. Bahkan ekspresi kosongnya pun sangat… familiar.
Tapi yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa adalah perbedaan kecil itu—mata dan rambut hitam. Hanya itu yang membedakan Menma dari Naruto… dan perbedaan kecil itu cukup untuk membuat Karin bisa bernapas tanpa merasa tenggelam dalam kenangan.
"Kau… sempurna," bisiknya.
Menma menoleh perlahan. Matanya menatap Karin, menganalisis.
"Identifikasi… selesai," gumamnya pelan. Suaranya datar, nyaris tanpa intonasi. "Subjek primer: Karin Uzumaki. Halo Karin."
"Tidak perlu bicara seperti robot," ucap Kabuto setengah geli. "Kita akan ajarkan dia bahasa tubuh dan ekspresi sosial secara perlahan nanti."
Hiashi mengangguk. "Tapi untuk saat ini, semua fungsi dasarnya bekerja. Kau bisa membawanya pulang, Karin."
Karin menoleh cepat, sedikit terkejut. "Benarkah? Sudah boleh sekarang?"
"Kokoro miliknya masih kosong, tapi itu justru titik awal terbaik untuk android therapy," ujar Hiashi. "Kehangatan rumah dan kehadiran ibumu akan menjadi bahan pembelajaran utama bagi Menma untuk mengenal emosi."
Karin mengangguk cepat. Ia menoleh pada Menma.
"Ayo," katanya lembut. "Aku akan membawamu ke rumah. Ada seseorang yang ingin sekali kau temui."
Menma hanya menatapnya… dan mengangguk.
Beberapa saat kemudian, langit Jepang masih pucat keemasan saat mobil kecil bergerak keluar dari gerbang rumah Hiashi. Di dalamnya, Karin duduk di kursi pengemudi dengan wajah tak sabar dan sedikit gugup. Ia sesekali melirik ke kursi penumpang di sampingnya, tempat Menma duduk diam, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong tapi damai.
Karin menggenggam setir lebih erat. "Ibu… bersiaplah. Aku akan memperkenalkan padamu seseorang yang akan membuatmu tersenyum lagi."
TOK! TOK! TOK!
Karin berdiri di depan pintu kamar yang sudah lama terasa seperti dinding antara dirinya dan ibunya. Ia mengangkat tangan dan mengetuk pelan. Suaranya lembut tapi penuh harap.
"Ibu, aku masuk ya…"
Ia tahu ibunya tak akan menjawab. Sudah berbulan-bulan begitu—Kushina lebih sering terbaring diam, memandangi langit-langit, tenggelam dalam kesunyian dan kehilangan.
Karin membuka pintu perlahan. Cahaya dari koridor menerobos masuk ke dalam kamar yang temaram. Udara di dalam masih terasa dingin dan sepi, seperti membeku bersama waktu.
Di belakangnya, Menma berdiri diam, dengan ekspresi tenang namun penuh perhatian. Ia mengikuti Karin masuk, langkahnya nyaris tanpa suara.
"Ibu," gumam Karin, suaranya nyaris pecah, "aku membawa seseorang…"
Kushina yang sedang berbaring memeluk bantal, awalnya hanya melirik. Tapi kemudian, matanya terpaku pada sosok di belakang Karin. Ia membeku.
Cengiran kecil itu… tanda kumis di pipi itu… siluet tubuh yang sangat familiar…
"N-Naruto?" bisik Kushina tanpa sadar. Namun tak lama, ia menggeleng perlahan. "Tidak… bukan Naruto…"
Air mata menggenang di pelupuk matanya, bukan karena tertipu, tapi karena ingatan yang terhantam begitu keras.
Karin buru-buru mendekat, membantu ibunya duduk bersandar di ranjang. Ia duduk di sampingnya dan menggenggam tangan ibunya yang kurus dan dingin. Pelan-pelan ia menyandarkan kepala ke bahu Kushina, seperti dulu waktu kecil. Suaranya bergetar ketika akhirnya bicara.
"Dia memang bukan Naruto, Bu… Dia adalah android yang kuberi nama Menma. Aku tahu… ini pasti aneh dan berat. Tapi aku juga tahu… Ibu pasti tahu bahwa tak ada yang bisa menggantikan Naruto. Aku pun tidak ingin menggantikannya…"
Ia menatap ibunya dengan penuh rasa sakit. "Tapi aku ingin ibu punya alasan untuk bangun setiap pagi. Menma bukan pengganti, dia adalah keluarga baru… yang akan menemani kita."
Menma, yang sejak tadi berdiri tenang, menatap adegan itu tanpa berkata-kata. Di dalam dirinya, berbagai sinyal emosi terekam: air mata, kehangatan pelukan, nada suara yang berubah. Ia tidak mengerti—tapi sistemnya tahu basis respon untuk menanggapi situasi itu.
Langkahnya pelan, nyaris seperti anak kecil yang tak ingin mengganggu. Ia duduk di sisi berlawanan ranjang, menatap Kushina dengan lembut. Lalu, dengan suara tenang namun mencoba penuh kehangatan, ia berkata, "Senang bertemu denganmu… Kushina-san."
Karin tersenyum, meski air matanya mulai mengalir. Ia menggeleng pelan.
"Tidak, Menma… Panggil dia 'Ibu'. Karena mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga kami. Kau adalah Uzumaki Menma, dan dia… dia adalah ibumu juga."
Menma menoleh ke arah Kushina, mengamati reaksi dari matanya yang masih berkaca-kaca.
"Ibu," ulang Menma, kali ini dengan sedikit senyum di bibirnya. Canggung, tapi tulus.
Kushina tidak langsung menjawab. Tapi tangannya—yang selama ini lemah dan enggan bergerak—terangkat perlahan. Ia menyentuh pipi Menma dengan jemari gemetarnya, seolah memastikan bahwa sosok ini nyata. Hidup.
"Menma…" bisiknya.
Itu adalah senyuman pertama yang keluar dari wajah Kushina setelah sekian lama. Tidak besar. Tidak penuh. Tapi cukup untuk membuat Karin tak mampu menahan dirinya lagi.
Ia menenggelamkan wajahnya di pelukan ibunya dan Menma sekaligus. Air matanya mengalir deras. Tapi kali ini bukan karena kehilangan—melainkan karena harapan. Harapan yang dulu nyaris padam… namun kini menyala kembali.
Udara sore di halaman depan kediaman Uzumaki terasa hangat dan damai. Cahaya mentari yang meredup perlahan membalut rumah mereka dengan nuansa keemasan. Pepohonan bergoyang pelan ditiup angin, dan aroma teh melati menguar dari cangkir-cangkir yang tersaji di atas meja bundar.
Menma datang membawa baki dengan penuh kehati-hatian. Langkahnya stabil dan tenang, tak ada gerakan tergesa, tak ada suara mekanik kasar seperti android pada umumnya. Ia sudah belajar banyak. Bahkan kini, ia tahu bagaimana cara menuangkan teh tanpa menumpahkannya, dan bagaimana tersenyum kecil ketika menyajikannya.
"Teh melati, Bu," ucapnya sambil meletakkan cangkir di hadapan Kushina, yang duduk santai di kursi rotan dengan selimut tipis di pangkuannya.
Kushina menatap cangkir itu, lalu memandang Menma—senyumnya tulus, lembut, jauh dari senyuman kelabu yang dulu menyelimuti hari-harinya.
"Terima kasih, Menma…" jawabnya. Suaranya tak lagi serak dan kosong. Kini ada nada hangat dan sadar dalam ucapannya. Matanya pun tidak lagi sayu dan kosong. Ada kehidupan di dalamnya.
Di sisi lain meja, Karin duduk sambil memandangi mereka. Ia menyandarkan dagunya ke tangannya, tersenyum kecil penuh syukur. Ada rasa hangat yang merambat dalam dadanya.
Ibunya sudah jauh lebih baik. Sudah bisa tertawa pelan, sudah mau duduk di ruang tengah, bahkan kadang berseloroh ringan seperti dulu. Semua itu… berkat Menma.
Menma bukan sekadar robot yang mengikuti perintah seperti home android pada umumnya. Pemasangan SAI (Self-learning Artificial Intelligence) pada tubuhnya benar-benar menjadikannya android dengan level kecerdasan yang berbeda. Kecerdasan ini membuat Menma bisa belajar dari lingkungan dan menyesuaikan sikapnya sendiri, seolah-olah ia benar-benar memahami perasaan orang lain. Setiap hari, ia mengamati ekspresi wajah Kushina, nada suara, dan gerak-gerik kecil seperti cara ibu itu menarik napas atau menggenggam cangkir. Dari semua itu, Menma belajar bagaimana cara bicara, bersikap, dan bereaksi yang paling cocok untuk menenangkan dan menemani Kushina. Ini yang disebut sebagai resonansi emosional—kemampuan Menma untuk ikut "selaras" dengan perasaan orang di sekitarnya.
Walaupun wajah dan suara Menma tidak identik dengan mendiang Naruto, justru itulah yang membuat terapi ini berhasil. Jika Menma terlihat terlalu mirip, mungkin itu malah akan membuat luka lama semakin dalam. Tapi dengan kemiripan yang samar, Kushina bisa menerima kehadirannya sebagai sosok baru—bukan pengganti, tapi teman baru yang hangat dan akrab. Perlahan-lahan, hatinya terbuka lagi. Ia mulai tersenyum, tertawa kecil, dan kembali menikmati hidup. Menma telah menjadi jembatan—yang menghubungkan rasa kehilangan dengan harapan baru.
Dan Menma… Menma juga berkembang dengan luar biasa. Kini dia sudah terbiasa mengatur jadwal makan, membantu bersih-bersih rumah, menyiram tanaman, dan merespon dengan ramah jika diajak bicara. Bahkan ia sudah tahu bagaimana menghangatkan tangan Kushina saat hari terasa dingin.
Karin meraih ponselnya dan berdiri agak menjauh, lalu menekan nomor yang tak asing baginya.
Setelah beberapa nada sambung, suara Hiashi terdengar dari seberang.
"Ya?"
Karin tersenyum, nada bicaranya ringan dan hangat. "Hiashi-san, ini aku, Karin. Maaf mengganggu di luar jam kerja. Aku cuma ingin… mengucapkan terima kasih."
"Terima kasih?" Hiashi terdengar agak terkejut. "Apa sesuatu terjadi dengan androidnya?"
"Tidak," kata Karin cepat. Ia melirik ke arah Menma dan Kushina yang kini sedang mengobrol pelan di ruang tengah. "Justru sebaliknya. Semuanya berjalan sangat baik. Menma sudah sangat terbiasa dengan lingkungan rumah, dan ia sudah bisa melakukan pekerjaan rumah dasar tanpa diperintah. Dia juga mulai belajar membaca ekspresi dan merespons dengan empati sederhana…"
Hiashi tak langsung menjawab. Tapi Karin bisa membayangkan senyum tipis di wajah pria itu.
"Dan yang paling penting," lanjut Karin pelan, "Ibu… ibu sudah jauh lebih baik. Sudah mau berbicara, tersenyum… dan hari ini, dia bilang pada Menma bahwa teh buatannya 'paling enak yang pernah ia minum'."
Ada jeda hening yang hangat di antara mereka.
"Terima kasih, Hiashi-san," kata Karin sekali lagi. Suaranya kali ini lebih pelan, namun tulus dari lubuk hati. "Karena telah membantu menyelamatkan ibu kami… dengan caramu."
"…Aku hanya menjalankan fungsi android therapy seperti konsep awal," jawab Hiashi datar, tapi terdengar sedikit lembut di akhir kalimatnya. "Sisanya… hasil dari kerja keras kalian sendiri."
Panggilan berakhir. Karin memandang langit sore yang perlahan berubah jingga. Hatinya terasa tenang. Hari-hari berat mereka memang belum sepenuhnya usai, tapi untuk pertama kalinya… semuanya terasa seperti akan baik-baik saja.
Ia kembali ke ruang tengah, duduk di sebelah ibunya, dan ikut menyeruput teh hangat buatan Menma.
Dan sore itu—dalam damainya rumah Uzumaki—ada kebahagiaan kecil yang perlahan tumbuh dan mekar.
Di bawah pohon maple yang tumbuh di pinggir pagar kediaman Uzumaki, seorang gadis berkerudung hitam berdiri membisu—Naru. Ia hanya memandangi rumah dari kejauhan, tidak berniat mengetuk pintu atau memanggil. Ia tahu, mungkin Kushina belum siap melihatnya.
Karin menyadari kehadirannya. Ia berinisiatif membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat. Ia tak lagi kaget melihat Naru di luar rumah, berdiri seperti penjaga waktu yang setia. Tanpa berkata apa-apa, ia mendekat.
"Datang tanpa suara lagi," gumam Karin ringan, lalu menyerahkan satu cangkir.
Naru menerimanya. "Kebiasaan," jawabnya singkat.
Mereka berdua duduk di bangku kayu menghadap taman, membiarkan keheningan sejenak menjadi jembatan.
"Aku lihat Menma sudah terbiasa dengan lingkungan rumah," kata Naru pelan sambil menyesap teh. "Gerakannya semakin natural. Waktu ia menyiapkan teh untuk ibumu, bahkan aku nyaris tak bisa membedakannya dengan manusia biasa."
Karin tersenyum kecil. "Dia memang cepat belajar. Tapi sejujurnya, aku masih belum bisa percaya kalau kau juga paham tentang semua itu."
"Aku tidak hanya memahami robotik dan rekayasa genetik," ucap Naru, masih dengan nada tenang yang khas. "Sebagai penjelajah waktu, aku dituntut memahami berbagai disiplin ilmu di setiap dimensi. Karena waktu tak hanya mencatat peristiwa… tapi juga membentuk arah perkembangan teknologi, sejarah, bahkan cara berpikir manusia di dunia itu."
Karin terkekeh pelan, menggeleng kecil. "Tentu saja. Entah kenapa aku masih sering lupa… kau bukan hanya sekadar pelintas dimensi, tapi juga semacam ensiklopedia berjalan. Kau tahu segalanya… atau paling tidak, hampir segalanya di seluruh multiverse."
Naru tersenyum simpul, matanya masih menatap cangkir teh. "Termasuk kenyataan bahwa kau sempat menceritakan kedatanganku pada Hiashi."
Karin langsung menegang. "Oh! Itu... waktu itu aku benar-benar tak tahu lagi cara meyakinkannya untuk membantuku. Aku—"
"Tenang saja," potong Naru, masih tersenyum lembut. "Aku tidak marah. Lagipula, Hiashi sendiri belum bisa membuktikan bahwa perjalanan waktu itu benar-benar mungkin. Aku tetap dianggap sebagai mitos... atau mungkin ilusi masa lalu."
Karin mengangguk pelan, sedikit lega.
Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum Naru kembali bersuara. "Aku ikut senang melihat kondisi ibu mulai membaik," ujarnya perlahan.
"Yah… begitulah." Tak ada dendam dalam suaranya, hanya sedikit nada lelah—tapi ada penerimaan di sana. Ia menyesap tehnya pelan, lalu menatap langit yang mulai berubah warna.
"Kau masih sering berkunjung ke dimensi lain?" tanya Karin, penasaran tentang dunia di luar sana.
Naru mengangguk ringan. "Sesekali. Hanya untuk memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya."
"Seperti apa kehidupan di enam dimensi lain?"
"Sebagian besar dunia ninja," jawab Naru. "Keras, berbahaya, dan penuh pertarungan. Kau tidak akan suka. Dunia ini… dimensi keenam... paling modern. Teknologi berkembang pesat, manusia sibuk membangun masa depan. Tapi justru karena itulah, dunia ini yang paling lambat menyembuhkan luka masa lalunya. Aku lebih sering diam di sini... karena jujur saja, ini satu-satunya dunia yang belum berjalan seperti harapan adikmu."
Karin menoleh, diam sejenak sebelum kembali menatap langit. "Tapi kalau kau seorang time traveler… bukankah kau sudah tahu masa depan duniaku?"
"Ya."
"Jadi… kau tahu juga masa depanku?"
"Ya," jawab Naru, tersenyum tipis. "Tapi aku tidak boleh memberitahumu."
"Begitu…"
Keduanya terdiam. Hanya suara dedaunan yang jatuh dan burung-burung yang kembali ke sarang terdengar mengisi ruang di antara mereka.
"Apa aku berbahagia di akhir hayatku?" tanya Karin lirih, lebih pada dirinya sendiri.
"Sudah kubilang… aku tak bisa membocorkannya," Naru menggeleng sambil tersenyum lembut. "Tapi yang pasti, kau akan jadi orang penting di duniamu."
Karin menghela napas, lalu tertawa kecil. "Kau bisa sering ke sini jika mau. Naruto mempercayaimu. Dan… melihatmu mengingatkanku pada adik perempuanku di benua lain."
Naru tak menjawab, hanya menatap ke depan, membiarkan kata-kata itu menetap dalam diam.
"Ibu butuh waktu," lanjut Karin. "Tapi… kita bisa lakukan perlahan. Sampai akhirnya ia siap menerimamu."
Naru menoleh, lalu mengangguk pelan. "Baiklah."
Langit di atas mereka mulai memudar ke warna ungu senja. Di bawahnya, dua sosok yang berasal dari dunia berbeda, kini duduk berdampingan—mencoba berdamai dengan masa lalu, dan perlahan, menyusun kembali masa depan.
Thursday, October 10, 2019, 05:30 PM
Hyuuga Resident – Tokyo
Hiashi menutup telepon dari Karin dengan ekspresi lega. Mendengar kabar bahwa Menma mampu membuat Kushina tersenyum kembali adalah kabar baik—bukan hanya untuk terapi ini, tapi juga untuk dirinya secara pribadi. Proyek Android Therapy-nya perlahan menunjukkan hasil nyata.
Namun senyum Hiashi tak bertahan lama. Dari sudut ruangan, Kabuto tampak menatap layar tabletnya dengan raut jenuh. Pria itu, yang biasanya cerewet soal data biologis dan sistem saraf, kali ini diam terlalu lama.
"Ada apa, Kabuto?" tanya Hiashi sambil sedikit menoleh.
Kabuto mendengus. "Berita game ini muncul di mana-mana. Aku tidak paham kenapa semua orang heboh sekali. Kau tahu game ini?"
Hiashi mengernyit, lalu berjalan ke sisi Kabuto. "Coba tampilkan di layar besar."
Kabuto menekan layar tabletnya, dan seketika hologram berita membentang di udara.
Beta Testing Game VRMMORPG 'Shinobi Online' Dimulai Hari Ini!
1.000 Beta Tester Diundang Untuk Menguji Sistem Nerve Gear dan Dunia Virtual Bertema Ninja.
Hiashi langsung mengenali nama game itu. Pandangannya mengeras. "Shinobi Online. Ini game buatan Hizashi, yang dulu sempat kuceritakan. Game ini bertipe VRMMORPG, Virtual Reality Massively Multiplayer Online Role-Playing Game. Genre ini sedang naik daun—memungkinkan pemain masuk sepenuhnya ke dunia virtual melalui sistem Nerve Gear."
Kabuto terlihat ragu. "Nerve Gear… helm itu? Yang langsung hubungannya ke otak?"
Hiashi mengangguk. "Ya. Nerve Gear bekerja dengan menstimulasi sistem saraf pusat dan memblokir sinyal motorik tubuh untuk mencegah gerakan fisik. Sementara itu, seluruh sensasi—penglihatan, suara, sentuhan, bahkan bau dan rasa—diterjemahkan langsung ke otak melalui impuls buatan. Rasanya seperti benar-benar hidup di dunia game."
Kabuto mengerutkan dahi. "Kedengarannya berbahaya."
"Kau seperti tak tahu kembaranku saja, dia memang senang mengambil risiko," jawab Hiashi. "Tapi jika berhasil, ini bukan cuma revolusi game—tapi bisa dipakai untuk simulasi tempur, pelatihan, bahkan terapi psikologis. Termasuk pemulihan trauma, atau... seperti yang kita lakukan pada Kushina."
Hiashi memandangi cuplikan promo yang muncul di layar—sebuah dunia penuh desa ninja, jurus-jurus berkilat, dan medan pertempuran yang tampak sangat realistis.
"Jadi dia fix memilih tema ini, tema ninja," lanjut Hiashi, "Dengan konsep ini, berarti nantinya pemain akan memilih desa ninja, menjalani misi, bertarung, membentuk tim, dan menyelesaikan berbagai tantangan. Tujuan akhirnya adalah mengalahkan sejumlah bos kuat yang menjaga desa-desa tertentu. Game ini punya sistem level, clan, dan bahkan jutsu unik yang bisa dikembangkan tergantung gaya bermain tiap individu."
Kabuto mendengus kecil. "Cukup menarik. Dunia ninja selalu punya daya tarik. Tidak heran jadi tren."
"Ya. Namun ada yang membuatku khawatir," gumam Hiashi, "Dari isu yang kudapatkan dari orang dalam, katanya Hizashi memasang SAI untuk musuh di dalam game agar game itu sulit dikalahkan. Kau tahu apa risiko terbesarnya?"
"Hmm.. Self aware? Atau… penjebolan sistem?"
"Tepat. Game ini adalah game online. Risiko terbesarnya adalah musuh akan semakin pintar, bahkan terlalu pintar, melebihi gamer, developer game, lalu mengambil alih sistem, dan risiko terbesar adalah 'lepas' ke internet."
Kabuto mengangkat alis. "Celaka! Dia bisa menyusup ke sistem pertahanan militer dan melakukan hal berbahaya!"
Hiashi mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya, pandangannya berubah tajam. Ia terdiam sesaat, memandangi layar seolah sedang menimbang sesuatu.
Hiashi dan Hizashi, dua saudara kembar yang sejak kuliah dikenal sebagai jenius dalam pengembangan Artificial Intelligence dan Self-Learning Artificial Intelligence (SAI). Dulu mereka satu tim, saling mendukung, menciptakan banyak gebrakan dalam dunia digital dan teknologi.
Namun seiring waktu, mereka memilih jalan berbeda.
Hiashi memilih jalur robotika seperti proyek Hinata dan Menma. Ia berhati-hati, memprioritaskan etika dan keamanan.
Hizashi, di sisi lain, memilih jalur game dan hiburan digital. Lebih agresif, lebih inovatif, bahkan cenderung nekat. Ia percaya bahwa kemajuan tak akan datang tanpa risiko. Dan kini terbukti, Hizashi selalu saja bertindak ceroboh.
Hiashi menarik napas dalam-dalam dan menggeser layar untuk melakukan video call. Meskipun mereka sudah lama tidak sejalan, sebagai saudara, Hiashi merasa bertanggung jawab untuk memperingatkan.
Beberapa detik kemudian, wajah santai Hizashi muncul di layar hologram. Rambutnya sedikit lebih berantakan, senyum khasnya masih sama.
"Yo, saudaraku," sapa Hizashi dengan nada santai. "Tumben menghubungi."
"Kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tanya Hiashi langsung, tanpa basa-basi.
"Tentu," jawab Hizashi masih tersenyum cuek. "Aku tahu persis apa yang kulakukan."
"Lalu kenapa kau masih melanjutkan game itu? Aku sudah bilang—SAI sangat berbahaya jika dipasang dalam game online. Dia bisa memberontak tanpa bisa kau kontrol! Server Shinobi Online bisa jebol dan dia bisa lepas ke internet, server pertahanan negara akan jadi sasaran empuk kalau SAI lepas kendali. Kau pernah berpikir sejauh itu?"
Hizashi tertawa pendek. "Kau selalu terlalu khawatir, Hiashi. Aku sudah menyusun algoritma pengaman, termasuk firewall berlapis dan kontrol override. Lagipula, ini baru beta test. Setelah ini aku akan upgrade sistem keamanannya. Launching resminya masih tahun depan, 10 Oktober 2020. Masih banyak waktu."
Hiashi menatap layar dengan gelisah. "Kau menganggap SAI hanya fungsi biasa. Tapi kau lupa, mereka belajar. Mereka membentuk identitas. Satu kesalahan dan itu tak bisa diulang. Kenapa kau tetap nekat?!"
"Karena aku tahu ini akan berhasil," jawab Hizashi dengan percaya diri. "Dan jangan menganggap SAI seperti manusia. Mereka bukan 'dia'. Mereka hanya sistem dengan algoritma. Kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan dengan robot-robot ciptaanmu? Bukankah kau menciptakan 'Hinata'?"
Hiashi terdiam.
"Kita memang kembar, tapi selalu beda jalan. Namun satu yang tak pernah berubah, aku selalu tahu apa yang kau lakukan. Jangan remehkan insting kembaranmu. Sekarang, kau jaga android-androidmu baik-baik, ya. Karena kalau mereka memberontak… sama bahayanya dengan gameku."
Sambungan terputus. Hiashi menatap layar kosong dengan perasaan berat. Dunia berubah terlalu cepat. Dan kadang, bahkan darah dagingmu sendiri bisa jadi orang yang paling sulit kau pahami.
Hiashi terpaku dan tak bisa menjawab apa-apa lagi. Ia merasa serba salah. Sudah banyak terjadi perselisihan diantara mereka karena saling mengunggulkan teknologi favorit mereka masing-masing, Hizashi di bidang game, dan Hiashi di bidang robot. Tapi di sisi lain, Hiashi peduli pada saudara kembarnya. Biar bagaimanapun Hizashi adalah satu-satunya keluarga 'manusia'-nya yang masih tersisa. Meskipun Hinata sudah dia anggap sebagai anak sendiri dan menyayanginya sepenuh hati, tapi pada hakekatnya Hinata adalah android, Hinata yang asli sudah mati bertahun-tahun yang lalu.
Hiashi juga tahu kita tak bisa selamanya mengandalkan teknologi, terkadang teknologi berjalan ke arah yang tak kita inginkan dan tanpa bisa kita kontrol. Sudah banyak kesalahan dalam penelitian di lab yang tak bisa diduga oleh manusia. Pada teknologi Self-Learning Artificial Intelligence (SAI) pun tidak mustahil terjadi kesalahan. Karena itulah Hiashi selalu memonitor sikap Hinata melalui CCTV untuk memastikan Hinata tidak berbahaya bagi manusia. Begitu pula dengan Menma, android terbaru yang diciptakannya. Ia dipasang software monitoring untuk memantau gerak-gerik serta lonjakan emosinya.
Kabuto belum pernah melihat Hiashi seperti ini sebelumnya. Pria yang biasanya tenang, nyaris dingin, dan selalu berpikir logis itu… kini berjalan mondar-mandir di depan layar hologram dengan raut wajah yang jelas-jelas menunjukkan kepanikan. Usia lima puluh tahun tak membuat Hiashi kehilangan ketegasannya selama ini, tapi kali ini, ekspresinya tak bisa menyembunyikan betapa ia benar-benar cemas.
Dan Kabuto tahu, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Berbeda dari android seperti Hinata atau Menma yang hanya hidup di lingkungan terbatas dan bisa dipantau dengan sistem tertutup, SAI dalam game online adalah bahaya yang jauh lebih liar. Game online berarti jaringan. Koneksi tanpa batas. Interaksi tanpa filter. Sistem yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, apalagi diprediksi. Jika SAI tumbuh di lingkungan seperti itu—di luar laboratorium, di tengah jutaan data otak manusia—maka bukan tak mungkin ia berkembang menjadi sesuatu yang tak bisa dikendalikan.
Hiashi tahu betul seberapa serius risikonya. Ia bisa saja melaporkan Hizashi ke pihak berwenang atas penggunaan fungsi SAI secara ilegal. Tapi jika ia melakukan itu, ia sendiri akan ikut terseret. Karena meskipun dengan niat yang berbeda, ia pun telah melanggar garis merah yang sama: menciptakan dan memanfaatkan SAI tanpa persetujuan resmi dari pemerintah. Bedanya hanya pada tujuan dan medan. Hizashi melakukannya di dalam dunia game, Hiashi di ranah android dan robot.
Hiashi memijat pelipisnya. Rasa panik dan cemas datang bersamaan dari dua sisi: dari dunia yang sedang disusupi oleh SAI liar, dan dari adik kandungnya sendiri yang keras kepala tapi tetap ia sayangi.
"Aku harus mengawasi game Shinobi Online dari dalam…" gumamnya lirih. Ia lalu menoleh pada Kabuto. "Kau punya kenalan gamer hebat?"
Kabuto mengangkat satu alis, heran. "Hiashi… aku dokter, bukan gamer, bukan juga anak warnet."
Hiashi mengembuskan napas dengan frustrasi. Ia mulai mondar-mandir lagi, pikirannya memutar cepat. Ia harus menanam mata dan telinga di dalam game itu. Tapi siapa? Siapa yang bisa ia percaya… dan cukup cakap untuk menyusup ke sistem itu sebagai player?
Kabuto tiba-tiba bersuara, suaranya terdengar setengah iseng tapi juga serius. "Kenapa tidak Menma saja? Dengan diberi tutorial dan praktek bermain game beberapa bulan, dia pasti akan lebih cepat belajar dibanding manusia dengan IQ 140 sekalipun."
Langkah Hiashi terhenti seketika. Ia menatap Kabuto.
"Secara sistem, itu masuk akal… Tapi secara biologis dan fungsi otak, apakah dia bisa menggunakan Nerve Gear?"
Kabuto menyilangkan tangan di dada dan berpikir sejenak. Lalu menjawab, "Seharusnya bisa. Susunan saraf buatan dan stimulasi neuron di Menma sudah sangat menyerupai manusia. Bahkan dalam beberapa hal, dia lebih stabil dari manusia sungguhan. Selama tidak ada konflik dalam pemrosesan datanya, dia bisa berfungsi layaknya player biasa."
Hiashi tak menunggu lagi. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Karin. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena ragu, tapi karena ia sadar… kali ini, yang dipertaruhkannya bukan sekadar reputasi ilmiah atau ego antar saudara.
Yang ia pertaruhkan… adalah masa depan.
To Be Continue…
A/N:
Shinobi Online 2 adalah fic gabungan: Shinobi Online, Oneesan dan The Time Traveler. Detail fic:
1 Fic Oneesan:
Uzumaki Karin: Toko utama di fic ini. Anak tertua Kushina. Seorang Insinyur Elektronika (Electronics Engineer) bekerja dengan perangkat elektronik seperti sensor, rangkaian, dan alat digital.
Uzumaki "Souban" Naruto: Anak SMA Konoha. Meninggal setelah ikut bersama Naruto dewasa melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Naruko: Anak SMA. Kembaran Naruto yang tinggal di Inggris.
Uzumaki Kushina: Ibu Karin, Naruko dan Naruto.
2 Fic Shinobi Online:
Hyuuga Hiashi: CEO Hyuuga Cyber Company (HCC), perusahaan pembuat android terkemuka di Jepang yang berbasis di Tokyo.
Hyuuga Hinata: Android buatan Hiashi yang secara fisik mengambil gen asli putrinya Hinata yang meninggal karena mengalami kecelakaan mobil.
Hyuuga Hizashi: CEO Shinobi Online Developer Team (SODT), pengembang game Shinobi Online, sekaligus kembaran Hyuuga Hiashi.
3 Fic The Time Traveler:
Uzumaki "Naru" Naruko: Versi perempuan Naruto yang kini jadi The Time Traveler, penjelajah sekaligus pengendali ruang dan waktu. Mendapatkan kekuatan setelah 6 versi Naruto lain meninggal dunia dan energi mereka terkumpul di tubuhnya. Sehingga ia bertanggung jawab terhadap kelangsungan reinkarnasi Naruto, keberlangsungan dunia, dan kestabilan alur waktu di 7 dimensi.
Uzumaki Naruto dewasa: Versi Naruto dari dimensi ke-1 yang merupakan dunia ninja. Meninggal setelah melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Karin dewasa: Versi Karin dari dimensi ke-1 yang merupakan dunia ninja.
Tidak perlu membaca ulang ketiga fic itu karena fic ini punya konflik sendiri. Namun jika punya waktu luang silahkan baca fic lainnya.
rifuki
