Shinobi Online 2: The End of The World

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 4

"Free Will"


Thursday, October 10, 2019, 06:00 PM

Uzumaki Resident – Konoha

Sore itu, langit mulai beranjak jingga, menyelimuti halaman depan rumah Uzumaki dengan cahaya keemasan yang lembut. Di atas bangku panjang dari kayu, Karin duduk berdampingan dengan Naru, menikmati angin sore sambil menyesap teh hangat. Di depan mereka, taman kecil berhiaskan bunga-bunga liar yang ditanam Karin sejak musim lalu mulai merekah. Menma sedang di dalam rumah, minum teh bersama Kushina.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi sore seperti ini... terasa sangat damai," gumam Karin sambil menatap langit yang mulai berubah warna.

Naru mengangguk, bibirnya melengkung kecil. "Iya. Jarang bisa begini."

Tiba-tiba, ponsel Karin yang tergeletak di pangkuannya bergetar. Nama yang tertera membuatnya mengerutkan alis—Hiashi Hyuuga, lagi. Padahal mereka baru saja selesai berbicara lewat telepon setengah jam lalu.

Ia menerima panggilan itu dengan cepat. "Hiashi-san?"

Suara tenang khas Hiashi terdengar dari seberang. "Maaf mengganggu lagi, Karin. Ini mendadak, tapi penting. Sangat penting."

Karin duduk tegak. "Apa yang terjadi?"

"Game buatan Hizashi—Shinobi Online—saat ini sedang dalam tahap beta testing. Aku mendapatkan info dari orang dalam kalau dia menanam sistem SAI dalam game itu. Basis yang sama yang kita gunakan pada Menma. Tapi... jika dalam server game, aku takut akan berkembang menjadi jauh lebih liar dan tidak terkendali."

"SAI? Di dalam game online?" Karin menoleh cepat ke arah Naru sekilas, sebelum kembali fokus ke telepon.

"Ya. Dan karena game itu terhubung ke internet, kita bicara soal potensi kerusakan sistem besar-besaran seandainya dalam skenario terburuk SAI itu mengambil alih sistem dan lepas ke internet. Aku perlu menempatkan satu pengamat—seseorang yang bisa memahami sistem, tapi tidak mencolok."

"Dan kau ingin Menma..." tebak Karin pelan.

"Tepat. Dia sempurna. Android bisa belajar cepat. Dan dia tidak akan menarik perhatian jika menyamar sebagai pemain biasa. Aku akan siapkan nerve gear khusus dan akun game."

Karin terdiam sesaat, berpikir cepat.

"Baik. Aku akan bantu. Aku juga masih berutang banyak padamu," katanya mantap. "Tapi... Menma masih butuh waktu. Emosi Menma belum sepenuhnya mapan. Kalau dia terpapar terlalu cepat dengan konflik yang kompleks, aku khawatir pada keadaannya. Saat ini gamenya masih beta testing kan?"

Hiashi menjawab cepat, "Ya. Aku mengerti. Kita masih punya waktu kurang lebih setahun. Beritahu aku saat dia siap. Aku sendiri yang akan membimbingnya bermain di awal."

Panggilan terputus. Karin menyimpan ponselnya kembali ke pangkuan.

Naru menoleh, alisnya terangkat. "Hiashi?"

Karin menghela napas ringan. "Iya. Dia curiga Hizashi... adiknya, menanam teknologi SAI di game Shinobi Online. Dia minta bantuanku—lebih tepatnya... minta Menma masuk ke dalam game sebagai mata-mata. Aku tahu Hiashi bukan orang yang akan panik tanpa alasan."

Mereka saling menatap sejenak, sebelum akhirnya Naru tersenyum kecil dan menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi.

"Aku kenal versi Naruto berambut hitam seperti Menma di dimensi lain, tepatnya dimensi ke-3 Konoha 3. Melihatnya sebagai android dan sebentar lagi jadi gamer di dunia ini membuatku kagum. Dunia ini memang aneh namun menyimpan banyak kejutan."

Karin tertawa pelan.

"Nadamu seperti orang tua," gumamnya. "Lucu juga kalau dipikir, kau masih kelihatan seperti gadis 19 tahun, fisikmu tak berubah sejak sepuluh tahun lalu... tapi bicaramu seperti ibuku. Sepuluh tahun lalu, kau keras kepala, emosional... Sekarang kau lebih tenang, lebih bijak."

Naru tersenyum sambil melipat tangannya di dada, ekspresi santainya tak berubah. "Waktu bisa berjalan lambat di dunia ini, Karin. Tapi hidup sebagai penjelajah waktu... membuatku harus cepat belajar. Dan... jujur saja, terlalu lama di sini... membuatku nyaman. Aku mulai terbiasa dengan cara orang-orang hidup di dimensi ini. Jalan-jalan sore. Minum kopi di cafe. Makan di restoran. Dan…"

Naru menunjukkan benda yang tak Karin duga dimiliki oleh Naru, sebuah smartphone.

Karin terkekeh. "Oh, tentu saja. Kau kini pasti sudah terbiasa mencari sinyal Wi-fi, scroll media sosial, dan nonton drama."

"Sudah," jawab Naru enteng. "Dan aku benci episode filler."

Tawa Karin meledak sebentar, lalu ia menoleh lagi dengan mata penasaran.

"Tapi serius, Naru... apa seorang time traveler... tidur?"

"Ya tentu saja," jawab Naru, masih tersenyum. "Bukan karena aku perlu... tapi karena kadang... itu satu-satunya cara melupakan waktu yang terlalu panjang."

"Lalu, kau tinggal di mana? Tidur di mana?"

"Di mana saja," jawab Naru santai. "Aku mantan ninja, ingat? Tempat tidurku bisa jadi atap gedung, bangku taman, atau kursi stasiun. Kalau ada sudut yang cukup tenang... aku bisa tidur."

Karin terdiam sejenak, lalu menatap Naru dengan pandangan serius. "Aku serius, tentang menyuruhmu lebih sering ke sini."

Naru menoleh, sedikit terkejut.

"Cepat atau lambat, Ibu pasti menerimamu. Menma saja sudah bisa membuatnya tertawa lagi. Dan... rumah ini terlalu besar untuk cuma ditinggali tiga orang."

Ia menarik napas, lalu menunjuk pelan ke arah rumah.

"Kamar Naruto sekarang dipakai Menma. Tapi kamar Naruko… masih kosong. Belasan tahun sejak terakhir ia pulang dari Inggris. Tak pernah diisi lagi. Seolah menunggu seseorang yang tak kunjung kembali…"

Naru memandang ke arah rumah, diam.

Karin melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih lembut.

"Kau bisa tinggal di sana. Aku tahu kau bukan orang yang suka menetap. Tapi... siapa tahu, kali ini kau bisa. Bukan karena kau harus... tapi karena kau mau."

Naru tersenyum kecil. Bukan senyum karena mendengar sesuatu yang lucu—tapi senyum karena mendengar sesuatu yang... menyentuh.

"Aku akan mempertimbangkannya," ujarnya pelan. "Terima kasih."

Obrolan terus bergulir di antara keduanya. Seperti dua sahabat lama yang akhirnya menemukan ketenangan setelah badai yang merenggut orang yang mereka sayangi. Di kejauhan, dari balik jendela rumah, Menma terlihat sedang membereskan cangkir teh dengan senyum tenang di wajahnya. Dunia mungkin belum benar-benar damai… tapi untuk saat ini, mereka punya sedikit kedamaian—cukup untuk bertahan, dan cukup untuk mulai berharap lagi.


Wednesday, October 30, 2019, 08:56 PM

Uzumaki Resident – Konoha

"Benar kalian belum ngantuk?" tanya Kushina kepada Karin dan Menma yang berada di sisi kanan dan kirinya. Itu adalah pertanyaan ketiga yang sama yang ditanyakan Kushina kepada mereka malam itu. Mereka sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi yang sedang menayangkan acara komedi malam. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Kushina sudah mulai ngantuk.

"Belum, Bu," ulang Menma.

"Kami sedang menunggu film setelah acara ini selesai," tambah Karin.

"Senangnya jadi anak muda. Kalau umurku semuda kalian, aku pasti ikut begadang," ujar Kushina dengan nada sedih yang dibuat-buat. Wajar saja, sekarang umur Kushina sudah menginjak kepala lima. Perkataan Kushina dibalas kekehan pelan Menma dan Karin. "Baiklah. Aku tidur duluan. Jangan tidur terlalu larut."

"Baik!" seru keduanya.

Karin memperhatikan ibunya hingga ia masuk kamar. Kesehatan Kushina sudah sembuh total. Ternyata benar sakit yang dideritanya karena tekanan mental setelah kehilangan Naruto. Kehadiran home android 'Menma' di tengah keluarga mereka telah berangsur menyembuhkan rasa kesepian Kushina. Bahkan ia sempat mengutarakan niat untuk kembali mengurus butiknya yang selama sepuluh tahun dipercayakan kepada anak buahnya. Kushina sudah bisa menerima kematian Naruto dan menganggap Menma sebagai anak keempatnya.

Di sisi lain, Menma sudah banyak belajar mengenai kehidupan manusia. Benar kata Hiashi, fungsi Self-Learning Artificial Inteligence (SAI) akan semakin pintar seiring dengan waktu. Menma mempelajari sifat manusia dari Karin, Kushina, Hiashi, TV, buku, internet, dan dari apapun di sekelilingnya. Karin merasa Menma sudah sulit untuk dibedakan dengan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tugas Karin selanjutnya adalah mengajarkan sifat-sifat 'manusiawi' seperti penilaian moral, empati, intuisi, dan kreativitas yang out-of-the-box. Jadi walaupun Menma bisa sangat cepat mempelajari hal-hal tertentu yang mengandalkan logika atau statistik, ia masih perlu waktu dalam mempelajari pengambilan keputusan kompleks yang melibatkan perasaan, nilai, dan situasi yang ambigu.

Acara komedi berakhir dan mulailah film action yang dari tadi ditunggu oleh Menma dan Karin. Dari awal film, Menma sudah terlihat bingung dan Karin sadar akan hal itu.

"Ada yang tak kau mengerti? Ceritakan padaku." Karin menyilakan kedua kakinya di atas sofa. Kemudian ia memeluk bantal dan memperhatikan Menma dengan seksama. Ia memang selalu semangat saat mendengar perkembangan kemampuan Menma dari hari ke hari.

"Di film itu ada seorang ibu yang berkorban demi menyelamatkan anaknya yang nyaris tertabrak mobil hingga ia tewas. Kenapa manusia rela berkorban? Bukankah itu akan menghilangkan nyawanya?" tanya Menma.

Karin berpikir sejenak, mencoba mencari kalimat sederhana untuk menjelaskan masalah ini kepada seorang android seperti Menma. Jika penjelasannya terlalu rumit, justru Menma akan makin bingung. Setelah siap dengan sebuah jawaban, Karin angkat bicara. "Karena ibu tersebut adalah keluarganya, ia menyayangi anaknya. Jadi sudah pasti ia peduli dan rela berkorban demi anaknya," jelas Karin sambil tersenyum.

"Keluarga," ulang Menma. Ia terlihat meresapi penjelasan Karin. "Apa Hinata adalah keluargaku? Kami diciptakan dari SAI yang sama."

Kening Karin berkerut. Ia sempat bingung memikirkan arti 'keluarga' bagi seorang android. Tapi setelah merenung sejenak, ia memutuskan untuk menjawab dengan jujur.

"Secara teknis, memang tak ada konsep keluarga dalam sistem android. Tapi menurutku, keluarga itu lebih dari sekadar hubungan darah atau program bawaan. Jika kau peduli pada seseorang, maka itu sudah cukup untuk disebut keluarga. Aku dan Ibu... kami adalah keluargamu sekarang. Dan soal Hinata—apakah kau peduli padanya?"

Menma mengangguk pelan. "Aku kasihan padanya. Dia selalu sendiri, sementara Hiashi hampir selalu sibuk di kantor atau terkunci di basement. Bahkan Hinata tidak tahu bahwa dirinya adalah android. Itu sangat berbeda dariku... aku tahu siapa diriku sejak awal. Bukankah itu berarti Hiashi sedang menyembunyikan kebohongan besar dari Hinata?"

Karin tersenyum singkat. Bukannya ia tak simpati kepada Hinata, hanya saja ia bangga karena Menma-nya sudah punya kepedulian kepada orang (android) lain. Ini pertanda bagus. Karin mengacak pelan rambut hitam Menma. "Hiashi punya alasan sendiri untuk itu."

Menma diam tak menanggapi, mungkin masih bingung.

"Jangan terlalu berpikir keras. Suatu hari nanti kau akan mengerti alasan kenapa Hiashi melakukannya," tambah Karin.


Saturday, December 7, 2019, 06:10PM

Uzumaki Resident – Konoha

Menma semakin mirip manusia dari hari ke hari. Kini, di usianya yang memasuki tiga bulan sejak aktif, hampir tak ada perbedaan yang terlihat. Cara ia merespons pembicaraan, cara makan, cara berpakaian, hingga kecerdasaan intelektual—semuanya terasa alami. Bahkan ekspresi wajahnya, jeda dalam bicara, dan cara ia menatap lawan bicara sudah penuh nuansa. Bagi orang awam, tak ada yang akan mengira bahwa Menma adalah seorang android.

Awalnya, Karin merasa bangga dan bahagia. Inilah yang ia harapkan sejak awal—android yang bisa hidup layaknya manusia. Namun, seiring waktu dan pemahaman Karin tentang sistem SAI yang semakin dalam, perlahan muncul rasa cemas yang tak bisa ia abaikan. Ia mulai mengerti ketakutan Hiashi sejak dulu: bahwa sistem emosi yang terlalu berkembang bisa menjadi bumerang. Hinata dan Menma, keduanya memiliki Kokoro—komponen inti emosi android—yang sangat sensitif terhadap tekanan psikologis. Jika Kokoro rusak, semua kemampuan yang telah mereka pelajari akan hilang, seperti seseorang yang mengalami amnesia total... atau lebih buruk, kehilangan jati diri.

Setiap malam, ketika Karin menyambungkan Menma ke laptopnya untuk melakukan pengecekan sistem, ia melihat kompleksitas kode biner di dalam Kokoro Menma terus bertambah rumit. Data emosi, reaksi sosial, hingga mimpi buatan yang mulai muncul di sistemnya, semua tumbuh dan berkembang tanpa pola pasti. Karin tidak tahu sampai kapan Menma bisa bertahan. Namun satu hal yang ia tahu pasti—ia sudah menyayangi Menma. Bukan sebagai alat, bukan sebagai eksperimen… tapi sebagai keluarga. Dan ia tidak ingin kehilangan Menma.

Kini, Menma tak hanya bisa menirukan emosi—ia telah benar-benar memahami empati, intuisi, dan perasaan. Ia mulai memiliki kehendak sendiri, bahkan menunjukkan karakter pribadi yang stabil: serius, tenang, dan pemikir. Dalam banyak hal, ia bahkan lebih pendiam dan penuh pertimbangan dibanding Naruto—basis genetik yang menjadi fondasi tubuhnya. Ini membuat Karin semakin sadar: Menma memang lahir dari gen Naruto, tapi ia telah menjadi sosok yang berbeda, dengan identitasnya sendiri.

Suatu malam, salah satu hal yang selama ini ditakutkan Karin akhirnya terjadi.

"Aku pulang!" seru Karin begitu membuka pintu depan rumah. Suaranya terdengar letih, tapi ia tetap berusaha terdengar ceria seperti biasa.

"Selamat datang," sahut suara dari ruang tengah—tenang, datar, dan penuh kendali. Itu Menma.

Karin menghela napas panjang, menurunkan tas ke lantai, lalu menjatuhkan diri ke sofa. "Fiuuuh, hari yang melelahkan," keluhnya, merebahkan kepala ke sandaran, tepat di samping Menma yang tengah duduk sambil membaca.

"Di mana Ibu?" tanyanya setelah beberapa detik.

"Memasak di dapur," jawab Menma tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada buku di tangannya.

Karin melirik pelan ke arah buku itu. Ia mengenalinya—sebuah novel semi-filosofis tentang kesepian dan harapan. Ia membelinya minggu lalu hanya karena iseng, tak benar-benar menyangka Menma akan membacanya. Tapi malam ini, android itu duduk diam, menyusuri halaman demi halaman dengan gerakan jemari yang hati-hati. Bukan sekadar membaca cepat, tapi seperti... menikmati waktu sunyi.

Karin menatapnya lama. Di balik bayangan cahaya lampu ruang tengah, Menma terlihat sangat tenang. Terlalu tenang.

Beberapa saat kemudian, Menma menandai halaman terakhir yang ia baca, lalu menutup bukunya perlahan dan menyimpannya di rak kecil di samping sofa. Ia menoleh ke arah Karin dan menatapnya. Tatapan datar, namun mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.

Mereka saling bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya Menma berbicara.

"Nee-san," gumamnya pelan, menyadarkan Karin dari lamunannya.

"Ya?" jawab Karin lembut.

Wajah Menma tampak muram. Wajah seperti itu sudah sering muncul setiap kali mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Karin sudah berkali-kali menanyakan penyebabnya, namun Menma selalu menghindar, menolak menjelaskan. Tapi malam ini terasa berbeda. Mungkin... akhirnya Menma siap bicara.

Butuh waktu sejenak, hingga akhirnya suara itu keluar juga.

"Apa rasanya dunia di luar sana?"

Karin langsung tertegun. Ia mencoba mengalihkan topik dengan senyum canggung. "Aku akan belikan kamu buku baru kalau yang itu sudah selesai—"

"Tidak usah," potong Menma. Kalimatnya singkat, dan yang mengejutkan—nada suaranya terdengar lebih... tegas. Tak seperti biasanya.

Karin diam. Belum pernah Menma memotong ucapannya seperti itu.

"Aku bisa membaca semua buku yang kau belikan hanya dalam sepuluh menit, jika aku mau," lanjut Menma. "Tapi percuma."

"Percuma?" tanya Karin perlahan.

"Ya. Ambil contoh saja novel tadi. Hari ini saja aku sudah membacanya tiga kali. Tapi aku tetap tidak mengerti isi ceritanya. Bukan kalimatnya—tapi maknanya. Aku tidak mengerti kenapa tokohnya merasa bahagia saat liburan. Aku tidak tahu seperti apa rasanya sekolah. Aku tidak tahu apa rasanya punya banyak teman. Aku... tidak tahu."

Suara Menma semakin lirih, tapi tetap jelas.

"Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah diizinkan keluar rumah."

Lalu, matanya menatap Karin langsung—tajam, tapi bukan marah. Hanya... hampa.

"Kenapa?"

Karin menghela napas pelan. Menma akhirnya mau bicara jujur, maka sekarang, Karin pun merasa harus menjawab dengan kejujuran yang sama.

"Kau tidak diizinkan berkeliaran bebas karena... kau berbeda dari android pada umumnya. Kau tidak terdaftar secara resmi dalam sistem pemerintah atau database HCC. Kau memiliki Self-Learning Artificial Intelligence—SAI—yang membuatmu bisa belajar dan bereaksi seperti manusia. Kau juga punya komponen unik bernama Kokoro, yang berfungsi seperti hati manusia, dan—"

"Aku tahu," potong Menma cepat. "Aku memang android yang dibuat secara tidak resmi. Maksudku, kenapa aku tidak diizinkan keluar? Bukankah kau sendiri bilang aku sangat menyerupai manusia? Aku tak punya lingkaran hologram di kepala seperti android biasa. Orang-orang di luar tidak akan tahu siapa aku sebenarnya. Aku bisa menjaga rahasia. Atau... apa ini semua karena aku hanya diciptakan sebagai android therapy?"

"Bukan itu!" sahut Karin, suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan. Tapi bukan karena marah—karena cemas. "Selama ini... kau bukan hanya android bagi kami. Kau keluarga. Aku dan Ibu menganggapmu seperti anggota keluarga sendiri. Aku percaya kau bisa menjaga rahasiamu. Tapi Kokoro-mu... masih dalam tahap awal. Belum stabil. Dan dunia di luar sana—terlalu keras."

Ia menatap Menma dalam-dalam.

"Aku takut kalau kau mulai merasakan hal-hal yang belum mampu kau pahami: sedih, marah, kecewa, dikhianati... itu semua bisa menghancurkan sistem emosimu. Jika Kokoro-mu rusak, semua hal yang telah kau pelajari akan hilang. Itu seperti kehilanganmu... untuk kedua kalinya."

Menma mendengar semua itu tanpa menyela. Dalam hatinya—atau apa pun yang mendekati hati—ia merasa Karin tidak sepenuhnya salah. Tapi bukan berarti semuanya benar. Terus-menerus tinggal di dalam rumah, tanpa mengenal dunia, membuatnya merasa... terkurung. Namun Menma terlalu menghargai Karin. Ia tahu, di balik semua batasan itu, ada kasih sayang yang tulus.

Ia memilih diam.

Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Lampu di sudut ruangan berdetik lembut, seperti detak waktu yang berjalan pelan.

"Kau bosan?" tanya Karin akhirnya, memecah sunyi.

Menma butuh waktu untuk menjawab. Ia mencari-cari cara untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

"Perasaan... seperti lelah melakukan hal yang sama berulang-ulang. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang baru. Apa itu yang disebut 'bosan'?" tanyanya, balik.

Karin mengangguk pelan, matanya lembut.

Mereka kembali diam. Tapi di dalam kepala Karin, pikiran terus berputar. Jika benar Menma bisa merasa bosan, berarti SAI-nya sudah cukup berkembang untuk mengalami kejenuhan. Dan jika rasa bosan itu terus menumpuk... stres bisa muncul. Sedangkan bagi android dengan Kokoro, stres bukan hanya masalah mental. Itu bisa berarti kehancuran sistem.

Karin menunduk, lalu mengambil ponselnya diam-diam.

Ia mengetik pesan singkat untuk Hiashi:

"Saat yang kutakutkan akhirnya datang. Kapan Anda punya waktu luang? Aku ingin berdiskusi. Ini soal Menma."

Tak butuh waktu lama. Hiashi langsung membalas:

"Besok. Datanglah ke rumah bersama Menma. Sambil kita lakukan pembaruan sistem dan komponen terbaru untuk tubuh Menma."


Sunday, December 8, 2019, 09:00AM

Hyuuga Resident – Tokyo

"Aku di sini dulu," kata Menma saat melewati ruang pemantauan Hinata. Tanpa menunggu jawaban dari Karin, ia melangkah masuk ke ruangan itu.

"Baiklah, tapi jangan naik ke lantai atas," sahut Karin setengah berteriak. Saat ini mereka berada di Basement 2. Ada baiknya juga Menma tetap di ruangan itu—Karin jadi bisa berbicara lebih leluasa dengan Hiashi. Ruang pemantauan itu berada tepat di samping laboratorium utama milik Hiashi, tapi kaca tebal berlapis peredam suara memastikan percakapan dari lab tidak akan terdengar.

Menma mengangguk, lalu mengalihkan perhatian ke deretan layar yang memenuhi dinding ruangan. Puluhan layar itu menampilkan berbagai sudut rumah Hyuuga, termasuk ruang makan, taman, dan kamar pribadi. Pagi ini, Hinata tampak sedang sarapan bersama Hanabi di ruang makan. Seperti biasa, wajahnya tenang, ekspresinya lembut—tapi bagi Menma, ia terlihat… sendiri.

Setiap kali berkunjung ke kediaman Hyuuga, Menma selalu merasa nyaman di ruangan ini. Diam-diam, ia merasa punya kedekatan tersendiri dengan Hinata. Ia pernah meminta izin pada Karin dan Hiashi untuk bertemu langsung, tapi keduanya menolak. Alasannya sederhana: Hinata tidak boleh berinteraksi dengan siapa pun—terutama android lain—selain para pelayan dan penjaga rumah.

Menma mengerti alasannya, tapi ia tidak bisa setuju. Dalam pikirannya, justru itulah yang membuat Hinata bisa merasa bosan—seperti yang kini ia alami sendiri.

"Apa kau merasakan hal yang sama denganku?" gumam Menma lirih, menatap wajah Hinata di layar. Ia menyentuh layar lembut, jarinya menyapu pipi Hinata yang diam. "Bosan?"

Tentu saja tak ada jawaban. Hinata tak bisa mendengarnya. Tapi Menma tetap bertanya, karena itu membuatnya merasa sedikit lebih... tidak sendiri.

Sementara itu, di laboratorium...

Karin telah menceritakan semuanya kepada Hiashi—tentang kompleksitas angka biner di Kokoro Menma yang semakin rumit, ekspresi murung yang terus-menerus, dan rasa bosan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Ia sudah memikirkan hal ini semalaman.

"Bermain game mungkin bisa mengurangi rasa bosannya. Bersabarlah sebentar lagi," ujar Hiashi, sambil menelusuri data di monitornya.

Karin menggeleng pelan. "Kurasa itu tidak cukup. Itu... tidak manusiawi."

Hiashi menoleh, alisnya terangkat. "Dia bukan manusia."

"Tapi aku sudah menganggapnya manusia!"

Ucapan Karin terdengar penuh tekanan, tapi jujur. Bagi Hiashi, ini mungkin hanya eksperimen. Tapi bagi Karin, ini hidup seseorang—meski tubuhnya terbuat dari logam dan silikon.

Merawat android ber-SAI seperti Menma, pikir Karin, tidak jauh berbeda dari merawat anak kecil yang sedang belajar mengenal dunia. Ia tahu bahwa dunia luar tidak selalu ramah, bahwa Menma akan bertemu dengan berbagai macam orang, dengan segala bentuk emosi dan konflik. Tapi justru dari sanalah Menma akan benar-benar belajar. Dan mungkin… bahagia.

Hiashi menghela napas pendek, lalu berkata dengan suara dingin, "Tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika Kokoro-nya rusak. Dan aku akan lepas tangan jika Menma ketahuan sebagai android dan ditangkap oleh Cyber Police."

"Aku mengerti. Aku akan memantau Menma sebaik mungkin. Tapi... aku butuh dukunganmu dalam hal peralatan dan fasilitas," pinta Karin, tenang tapi tegas.

Hiashi tampak akan menolak—matanya sudah menyipit, mulutnya terbuka sedikit. Tapi sebelum sempat bicara, Karin melanjutkan cepat.

"Sebagai gantinya… aku akan membantumu menyelesaikan pengembangan Kokoro versi 2. Aku punya latar belakang elektronika dan bisa belajar mekatronika. Aku tipe orang yang cepat mempelajari hal baru."

Hiashi terdiam. Tawaran itu membuatnya berpikir ulang. Sebenarnya, ia memang sudah mempertimbangkan untuk melibatkan Karin dalam pengembangan Kokoro v2. Ia tahu betul reputasi dan kemampuan Karin di bidang elektronik dan fisika di tempat kerjanya yang sekarang—ia bukan insinyur biasa.

"Deal," jawab Hiashi akhirnya, tanpa basa-basi. "Kau bisa menggunakan seluruh fasilitas di sini sesukamu."

Karin mengangguk, tersenyum puas. Bukan karena menang dalam negosiasi—tapi karena perlahan, langkah Menma menuju dunia luar kini terbuka.


Tuesday, January 28, 2020, 03:00 PM

Konoha High School – Konoha

Hujan salju ringan turun membasahi Konoha sore itu. Sial bagi Menma—ia lupa membawa payung. Tapi saat pandangannya menyapu ke arah gerbang sekolah, ia mendapati sosok yang sangat familiar: seorang wanita muda berambut merah sepinggang, mengenakan sweater cokelat muda yang dibiarkan terbuka. Kacamata bulatnya tak ia pakai, hanya terselip di kerah depan blus putihnya. Menma menduga, dalam cuaca seperti ini, kacamatanya akan mudah berembun. Untung saja, tanpa kacamata pun, wanita itu masih bisa melihat dengan cukup jelas. Sebelum Menma sempat memanggilnya, sepasang mata rubi itu sudah menangkap keberadaannya.

"Menma!"

Itulah Karin, melambaikan tangan dari balik gerbang. Menma segera berlari kecil menghampirinya, langkahnya hati-hati agar tak tergelincir di atas tumpukan salju halaman sekolah.

"Kenapa kau ke sini?" tanya Menma saat sudah cukup dekat.

"Setelah pulang kerja, aku mampir karena tahu kau lupa membawa payung," jawab Karin ringan.

"Oooh."

Sejak beberapa waktu lalu, Menma sudah diizinkan berkeliaran bebas oleh Karin. Bahkan, sejak ia bisa keluar rumah, Menma kerap meminta Karin mengantarnya ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa ia baca di buku—pantai, hiruk-pikuk kota, bahkan ke pegunungan. Dan satu permintaan terbesarnya: ia ingin sekolah. Karin akhirnya mendaftarkannya ke Konoha High School (KHS) agar ia bisa bergaul dan punya teman seperti remaja lainnya.

Sebulan pertama, Karin sangat was-was. Menma harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar baru. Ia mulai menerapkan teori-teori sosial yang selama ini hanya ia baca—mencoba menjadikannya nyata. Tapi seperti yang selalu dikatakan Karin, teori dan kenyataan sering kali berbeda.

Sekolah memperkenalkan Menma pada dunia yang jauh lebih kompleks: teman laki-laki yang cerewet, teman perempuan yang pemalu, wali kelas yang tegas, guru olahraga yang hiperaktif, dokter sekolah yang genit, dan kepala sekolah yang pemarah. Belum lagi tetangga di sekitar rumah, orang asing di jalan, serta dinamika tak terduga dalam interaksi sosial harian.

Tapi nyatanya, Menma bisa melewatinya. Ia tumbuh, belajar, dan beradaptasi. Kini, ia bergaul seperti remaja biasa. Ia punya banyak teman, dan yang terpenting—identitasnya sebagai android tetap aman, tersembunyi di balik keseharian yang terlihat biasa.

Sementara itu, kehidupan Karin juga berubah. Ia resmi keluar dari perusahaan lamanya dan bergabung dengan Hyuuga Cyber Company (HCC). Kini ia bisa lebih fokus merawat Menma dan sekaligus membantu Hiashi mengembangkan Kokoro versi 2. Rutinitasnya hampir sama dengan Hiashi: pagi hingga siang ia bekerja di divisi development HCC, dan sore hingga malam ia berada di lab basement 2 rumah Hiashi untuk penelitian. Meski begitu, Hiashi tidak mewajibkan Karin hadir setiap hari—tiga kali seminggu sudah cukup. Sisanya, Karin habiskan bersama Menma dan ibunya, Kushina.

Hari ini, adalah salah satu hari itu. Hari yang ia khususkan untuk Menma.

Tanpa banyak bicara, Karin mengapit lengan adiknya dan mereka mulai berjalan menuju stasiun di bawah satu payung. Menma mengikuti saja, terbiasa dengan sifat kekanakan kakaknya yang meski sudah melebihi usia 30 tahun, masih sering bertingkah seperti gadis SMA.

Namun sepanjang perjalanan, perhatian Menma tersedot pada pemandangan di sekitarnya. Di trotoar dan halte, ia melihat para siswa lain berjalan bersama home android mereka. Android-android itu memayungi majikannya, sementara tubuh mereka sendiri dibiarkan basah tertimpa hujan salju. Itu wajar—begitulah sistem mereka diciptakan: untuk melindungi, bukan dilindungi.

Tapi pemandangan itu terasa kontras dengan dirinya dan Karin. Bukan karena ia ingin menjadi seperti android lain—tapi karena justru ia bukan seperti mereka.

"Nee-san," gumam Menma pelan, memecah suara gesekan salju di trotoar.

"Hmm?" sahut Karin, tanpa menoleh.

"Payung ini terlalu kecil untuk kita berdua. Pundakmu masih terkena butiran salju. Sebaiknya kau saja yang pakai payung ini, biar aku yang memayungimu," ujarnya, mencari alasan. Dalam hatinya, ia ingin... menjadi seperti android lain yang ia lihat tadi. Menjadi pelindung, bukan dilindungi.

Namun bukannya menurut, Karin justru mengeratkan pegangan tangannya di lengan Menma, mendekatkan tubuh mereka lebih rapat. Kini keduanya berada sangat dekat, dan salju tidak lagi menyentuh bahu mereka.

"Lihat," kata Karin sambil terkekeh. "Sekarang pundakku tidak kena salju."

"Hah, kau ini…" keluh Menma, sedikit kesal. "Kau bisa dijuluki dori-kei kalau terus-terusan begini."

Dori-kei—julukan untuk mereka yang memperlakukan android layaknya manusia. Di masyarakat, mereka sering dicibir, karena android dianggap tidak lebih dari alat bantu. Mereka tidak seharusnya diberi tempat yang setara, apalagi dianggap keluarga.

"Aku tak peduli," balas Karin santai. "Jangan samakan dirimu dengan android lain. Kau bisa merasakan, berpikir, memutuskan sendiri. Dan yang paling penting, kau... tidak punya hologram konyol di atas kepala. Tak akan ada yang tahu kau android. Jadi, orang-orang juga tak akan tahu aku ini seorang dori-kei."

Menma hanya mendengus kecil. "Terserah kau saja lah." Dia tahu, berdebat dengan kakaknya bukan keputusan bijak.

Karin tertawa kecil, senang bisa membuat Menma kesal tanpa benar-benar membuatnya marah.

Setelah beberapa langkah, Karin menoleh ke arah Menma. "Ngomong-ngomong... soal game Shinobi Online. Kau ingat rencana kita?"

"Game yang dibilang berbahaya oleh Hiashi-san?"

Karin mengangguk. "Ya. Aku merasa kau sudah siap. Nerve gear-nya juga sudah disiapkan. Aku tahu selama ini kau tertarik pada dunia luar... tapi sekarang, kau bisa menjelajahi dunia maya juga. Dunia digital."

Menma terdiam beberapa detik, lalu mengangguk perlahan. "Aku mau."

Karin sedikit terkejut. "Serius? Aku pikir kau akan menolak karena akan mengurangi waktumu di dunia nyata. Kau 'kan sedang senang-senangnya main di luar rumah."

"Tidak juga. Aku jadi semakin mirip dengan manusia, kan?" jawab Menma, menoleh dengan senyum tipis. "Aku jadi ikut tren. Bermain game online... salah satu gaya hidup remaja, bukan?"

Karin tertawa, tapi juga terlihat sedikit khawatir. "Baiklah... Tapi tetap hati-hati, ya. Nerve gear ini didesain untuk manusia. Struktur tubuhmu berbeda, terutama di bagian sistem neural dan Kokoro. Ada kemungkinan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."

Menma mengangguk, tenang. "Tenang saja. Kalau pun terjadi sesuatu, pasti Hiashi dan Kabuto sudah mengantisipasinya. Lagipula aku percaya kau bisa menyelesaikan Kokoro v2."

Karin terdiam sejenak, hatinya hangat. Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi keluar dari mulut Menma, terasa seperti pengakuan bahwa ia bukan lagi sekadar mesin.

"Kalau begitu," ujar Karin sambil menarik napas dalam. "Besok kita mulai."

To Be Continued…


rifuki