Shinobi Online 2: The End of The World

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 5

"Hacked"


Saturday, October 10, 2020, 00:01AM

Hyuuga Resident – Tokyo

Hiashi menghubungkan Nerve Gear yang dipasang di kepala Menma ke layar hologram besar di ruang laboratorium. Kini, ia, Karin, dan Kabuto bisa menyaksikan langsung sudut pandang Menma dari dalam game Shinobi Online. Visual 360 derajat itu menampilkan apa pun yang dilihat dan dirasakan Menma seolah-olah mereka sendiri yang berada di dalam dunia tersebut.

Meski Hiashi adalah ilmuwan yang kerap meremehkan produk hiburan, ia harus mengakui satu hal: saudaranya, Hizashi, telah menciptakan mahakarya. Shinobi Online bukan sekadar game. Ini adalah dunia kedua.

Game Virtual Reality ini memungkinkan player untuk menjelajahi dunia ninja sebagai avatar mereka sendiri, sementara tubuh asli mereka tetap tertidur di dunia nyata. Semua rangsangan—pandangan, aroma, suara, sentuhan, bahkan rasa sakit—ditransmisikan melalui helm Nerve Gear langsung ke otak pemain. Sehingga jika avatar mereka menyentuh air, mereka akan merasa sejuk. Jika berjalan di padang pasir, mereka akan merasa panas. Dan jika terkena serangan musuh, mereka akan merasakan sakit—meski tingkat rasa sakit diturunkan hingga 90% untuk menjaga keselamatan fisik pemain.

Sudah hampir setahun sejak Karin dan Menma rutin berkunjung ke rumah Hiashi setiap seminggu sekali untuk dua tujuan utama: meneliti perkembangan SAI dalam situasi simulasi sosial, dan mengajari Menma basic bermain game dalam versi beta Shinobi Online. Selama itu pula, Menma telah menjelajahi banyak area, bertemu dengan berbagai karakter, dan menyimpan logikanya dalam tiap interaksi. Menma menyadari bahwa dunia game ini tidaklah sederhana. Di kalangan para beta tester Shinobi Online, kelompok yang terkenal adalah Guild Akatsuki.

Melalui pengamatan dan interaksi dengan player lain, Menma mengetahui bahwa Akatsuki, yang dipimpin oleh user bernama Obito, telah menjelma menjadi guild terkuat dan tersolid di seluruh server. Anggotanya ratusan. Struktur mereka terorganisir. Mereka tidak hanya berorientasi pada kekuatan, tapi juga menguasai strategi dan teritori. Lebih dari itu, mereka berhasil menemukan Stage Boss pertama—Sabaku no Gaara, jinchūriki dari Ichibi dan nyaris menghabisinya.

Para beta player sudah banyak memberikan berbagai masukan secara berkala mengenai pengujian game Shinobi Online, salah satu yang banyak diminta adalah peningkatan tingkat kesulitan dalam stage boss. Hizashi hanya tertawa dalam hati, player-player itu tak akan mengira jika bos yang mereka lawan adalah SAI. Saat ini SAI milik Gaara masih dalam tahap 'belajar'. Semakin banyak diserang, maka Gaara akan makin kuat. Di luar itu, masukan hanya berupa peningkatan kestabilan dan kapasitas bandwidth yang diperbesar agar aksesnya tidak lambat. Hizashi mengerti itu sehingga ia segera memutar otak untuk memperbaiki bug-bug dalam game selagi ada waktu.

Rekaman pertempuran Akatsuki dan Gaara yang disimpan oleh Menma menjadi perhatian Hiashi. Meski Menma sebagai gamer yang awam melihatnya biasa saja, namun Hiashi bersikeras merasa ada yang aneh. Meski pada saat itu Gaara terpojok, namun Hiashi menemukan pola pertahanan yang unik pada Gaara. Gaara bertarung mati-matian, mengendalikan pasirnya dengan presisi, melindungi desa tiruannya dari kehancuran. Namun pola serangannya tidak beraturan, seperti beradaptasi dan makin kuat seiring ia mempelajari serangan Akatsuki. Berbeda sekali dengan musuh-musuh dalam Shinobi Online lainnya yang hanya menyerang player secara statis atau monoton.

Hiashi pun menyimpulkan kalau saudaranya Hizashi menanam SAI pada karakter bos di setiap stage Shinobi Online.

Sampai akhirnya game Shinobi Online resmi launching tanggal 10 Oktober 2020 tepat jam 00.01 tengah malam. Kini game Shinobi Online bisa dinikmati secara bebas di pasaran. Tugas beta tester selesai, termasuk semua anggota guild Akatsuki yang kembali pada kesibukannya masing-masing.

Di sesi pertama setelah release global, Menma membuat pilihan awal: ia memilih desa Konoha sebagai titik awal permainan. Pilihan ini tidak mengejutkan Karin—selain karena familiar dengan Konoha di dunia nyata, Menma juga sudah membaca sejarah fiksi desa itu dalam file lore game. Ia tahu, Konoha adalah pusat keseimbangan, sekaligus desa dengan potensi konflik tinggi. Tempat yang ideal untuk observasi.

Hari itu pula, sistem mata-mata yang ditanam Hiashi dan Menma di game Shinobi Online mendeteksi posisi karakter Gaara. Bersamaan dengan kelahiran 8 boss baru di level 2 sampai level 9 lahir, yaitu Yugito, Yagura, Roshi, Han, Utakata, Fu, Bee, dan Naruto.

Naruto.

Ya, Naruto.

'Naruto' yang fisiknya sama dengan adik Karin yang seharusnya data gennya tersimpan rapi di komputer milik Hiashi.

Hiashi tak sadar jika perbuatan dirinya dan Menma meneliti SAI dalam Shinobi Online diketahui dengan mudah oleh Hizashi. Hizashi memanfaatkan koneksi internet dari rumah Hiashi ke server Shinobi Online sebagai jalan untuk meng-hack data di komputer kediaman Hiashi. Dengan kemampuan hack yang di atas rata-rata, Hizashi dengan mudah berhasil mengakses ke semua data penting Hiashi.

Salah satunya adalah data gen Naruto.

"Apa yang telah kita lakukan?" bisik Menma kepada Hiashi sambil sesekali melirik ke ruangan sebelah, tempat Karin bekerja.

"Aku yakin Karin tak akan senang mendengar kabar ini," tambah Kabuto.

Hiashi memandang kesal layar laptopnya yang sedang menampilkan tulisan:

"Terima kasih sampel gennya. Kurasa ini cocok untuk kujadikan bos terkuat dalam gameku. Hizashi."

Hiashi terlalu fokus mencari tahu SAI dalam game sampai-sampai tak sadar kalau Hizashi mengobrak-abrik data miliknya. Merasa ini kesalahannya, Hiashi menenangkan Kabuto dan Menma, serta memutuskan dirinya sendiri yang akan bicara kepada Karin. Ia lalu melepas jas labnya dan bersiap menemui Karin di lab sebelah.


Karin tersadar dari pekerjaannya saat pintu kaca lab terbuka perlahan. Ia tengah fokus menganalisis data uji Kokoro v2, tenggelam dalam rumus, grafik, dan simulasi jantung buatan yang belum stabil. Aroma ozon dari mesin analisis masih melekat di udara ketika langkah kaki Hiashi mulai terdengar di belakangnya—pelan, tapi mantap, seperti seseorang yang membawa beban besar.

Ia menoleh, dan mendapati Hiashi tanpa jas lab. Hanya mengenakan kemeja putih dalam dan celana kerja, lengan bajunya digulung hingga siku. Tangan kirinya menggenggam kacamata yang belum dipakai, sementara tangan kanannya mengepal pelan, nyaris tak sadar. Sorot matanya tampak lebih suram dari biasanya—bukan karena letih, tapi karena kesadaran yang datang terlambat.

"Karin," ucapnya pelan. Suaranya tak seperti biasanya. "Ada sesuatu yang harus kusampaikan."

Karin hanya menatapnya dari balik meja. Tidak bicara, tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar, tapi pandangannya mengeras—ada kilatan emosi di sana, sesuatu yang belum bisa ia lepaskan.

Hiashi berhenti beberapa langkah dari meja. Ia menunduk pelan, lalu meletakkan kacamata itu di atas meja kerja dengan hati-hati. Gerakannya seperti seseorang yang meletakkan pedang sebelum mengakui kesalahan.

"Aku... minta maaf," katanya, dan suara itu terasa berat di udara.

Karin diam. Kata-kata itu menggema di dalam dadanya seperti pantulan suara dalam ruang tertutup. Ia merasa jantungnya—atau sesuatu yang menyerupainya—berdetak tidak beraturan. Ia tahu apa yang akan dikatakan Hiashi, tapi tetap saja, mendengarnya langsung menoreh luka yang berbeda.

"Gen Naruto… data yang begitu pribadi dan tak tergantikan… telah dicuri," lanjut Hiashi. "Saudaraku, Hizashi, menyusup ke dalam sistemku. Aku terlalu sibuk mengejar kompleksitas SAI... sampai-sampai aku tak sadar dia mengobrak-abrik data pribadimu. Data anak yang telah kau kuburkan dalam hatimu."

Untuk sesaat, Karin hanya berdiri di sana. Kedua tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya, tapi tubuhnya tetap tegak. Tidak gemetar, tidak meledak. Ia bisa saja berteriak sekarang. Ia bisa saja membanting alat di depannya, menghancurkan meja, atau sekadar menangis dan pergi. Tapi ia tidak bisa. Karena yang berdiri di depannya adalah Hiashi—pria yang membuka pintu rumah untuknya saat semua orang menutup, pria yang menjaga ibunya, dan memberinya ruang untuk berkembang sebagai ilmuwan.

Ia merasa dihantam sesuatu yang sangat berat—karena ia tahu, ia mempercayakan data gen Naruto kepada Hiashi justru karena ia merasa itu tempat paling aman di dunia ini. Server Hiashi tidak hanya kuat, tapi juga ia lindungi sendiri, dan Karin selalu percaya bahwa tidak akan ada orang—bahkan Hizashi—yang bisa menyentuhnya.

"Aku tidak bisa memperbaiki apa yang telah terjadi," kata Hiashi lebih pelan. "Tapi aku datang ke sini... untuk mengakui bahwa ini kesalahanku. Dan untuk meminta maaf, setulus yang kubisa."

Hiashi menatapnya—mata yang biasanya dingin dan penuh fokus kini tampak lelah dan rapuh. Ia tidak membungkuk terlalu dalam, tidak berlutut. Ia tetap menjaga martabatnya sebagai seorang pria berusia lima puluh, sebagai kepala keluarga. Tapi seluruh gesturnya—tangan yang gemetar halus, napas yang terasa berat, nada suara yang lebih dalam dari biasanya—semuanya adalah bentuk pengakuan tulus dari seseorang yang benar-benar merasa bersalah.

Karin menarik napas panjang. Ia tak bisa menahan getaran kecil di bibirnya saat mulai berbicara.

"Gen itu…" katanya perlahan, "bukan hanya data. Itu satu-satunya bagian dari Naruto yang tersisa. Aku menyimpannya karena... aku ingin menyimpannya dengan baik. Dengan tenang. Aku ingin melupakannya perlahan, bukan membunuhnya, bukan menyembunyikannya. Tapi menjaga, seperti orang menjaga kenangan."

Ia menatap Hiashi langsung untuk pertama kali, dan dalam sorot mata itu ada sesuatu yang dalam—dan patah.

"Dan sekarang, bagian paling sunyi dari hatiku… diubah jadi bahan permainan oleh saudaramu."

Hiashi menunduk, dalam, seakan tak tahu lagi harus menjawab dengan cara apa.

"Aku tahu kau tidak berniat begitu," kata Karin, suaranya sedikit lebih tenang. "Dan itulah yang paling menyakitkan. Kau orang paling rasional yang kukenal. Tapi bahkan orang sepertimu... bisa lengah."

Ia berjalan pelan ke sisi ruangan, mengambil tablet data dan memeluknya di dada.

"Kau tahu kalau aku tak mungkin bisa marah padamu," gumam Karin sambil menghela napas. "Untuk saat ini, aku akan masuk ke dalam game. Jika apa yang mereka buat dari gen Naruto itu menyerupai dirinya... maka aku sendiri yang akan menghadapinya."

Karin melangkah pergi ke ruang sebelah dengan gontai, ke ruang tempat dimana Kabuto, Menma dan alat-alat penelitian Shinobi Online berada. Menma dan Kabuto menunjukkan raut wajah mereka yang sama merasa bersalahnya seperti Hiashi. Di layar hologram di pinggir tempat berbaring, ada histori permainan Shinobi Online sebelumnya, termasuk analisis sosok bos terakhir yang tak lain adalah Naruto. Ia berpakaian ninja, namun fisik itu sama persis dengan adiknya. Satu-satunya yang Karin sesalkan adalah dari sekian banyak gen yang ada di lab, kenapa gen adiknya yang dicuri oleh Hizashi? Karin tak habis pikir.

"Biarkan aku log in ke SO. Aku ingin melihat Naruto," gumam Karin pelan.

Menma berusaha menenangkan Karin dengan mempersilahkannya duduk terlebih dahulu. Ini bukan masalah bisa log in atau tidak. Log in ke SO itu masalah gampang. Hanya saja sejak Hizashi bilang kalau ia mencuri gen Naruto, Menma belum tahu dimana keberadaan karakter 'Naruto' tersebut. Sayangnya Karin sudah tak sabar. Belum lagi ada rasa kecewa dan kesal yang bercampur jadi satu.

"Tentu, kau bisa log in. Tapi kita belum tahu dimana posisi-"

"Sekarang," tambah Karin dengan sedikit penekanan.

Menma mematung melihat ekspresi kekesalan di wajah kakaknya. Padahal setahu Menma, Karin jarang sekali marah kepada Kabuto, apalagi Hiashi. Tapi lihatlah sekarang, jangankan raut wajah kesal, intonasi bicara Karin pun malah makin meninggi di hadapan kedua orang itu.

"Menma benar Karin, Kami belum tahu dimana posisi Naruto tepatnya," kata Hiashi yang mengikuti Karin ke ruang ini.

"Neesan, jika Hizashi bilang 'bos terkuat', maka besar kemungkinan kalau Naruto dijadikan bos terakhir dalam game. Maka ia hanya akan muncul jika player berhasil mengalahkan semua bos sebelumnya," jelas Menma.

"Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Karin.

Melihat keadaan di hadapannya, Menma sudah langsung bisa menyimpulkan. Ternyata Karin belum bisa sepenuhnya melupakan Naruto. Menma merasa kehadirannya tidak bermakna di dunia ini. Menma memegang dada kirinya. Entah kenapa dada kirinya itu tiba-tiba terasa sakit.

Sementara itu Karin semakin marah. Menma harus melakukan sesuatu. Dengan mengesampingkan rasa sakit di dadanya, Menma menggenggam tangan Karin untuk berusaha menenangkannya. "Tenangkan dirimu, Neesan. Biarkan mereka untuk menjelaskan semuanya dulu," kata Menma.

Tanpa diduga Karin malah menepis tangan Menma, lalu menatapnya tajam. "Lebih baik kau diam saja!"

Menma melotot tak percaya. Tatapan itu begitu tajam. Karin tak pernah memperlakukan Menma seperti ini sebelumnya. Ini emosi kemarahan yang pertama kali ditunjukkan Karin kepadanya. Perlahan Menma melepas pegangannya di tangan Karin. Ia mundur teratur, meninggalkan lab, dan meninggalkan kediaman Hiashi. Karin tak sadar Menma pergi karena terlalu sibuk dengan perdebatannya dengan Hiashi dan kabuto.


Saturday, October 10, 2020, 05:30 PM

Uzumaki's Boutique – Konoha

Menma melangkah tak tentu arah. Dadanya semakin terasa sakit tanpa ia mengerti alasannya. Ini rasa sakit yang beda dengan kerusakan fisik/hardware tubuh androidnya. Rasa sakit ini berasal dari dalam dan sulit untuk digambarkan oleh kata-kata. Langkah-langkah kecil itu akhirnya menuntun Menma ke sebuah butik milik Kushina, usaha yang ingin dilanjutkan kembali oleh Kushina di hari tuanya.

"Menma? Kau kah itu?"

Menma tersenyum tipis menatap wanita berambut merah di hadapannya. Mungkin secara tak sadar otak Menma memerintahkan kakinya untuk berjalan kemari. Kushina yang sedang siap-siap menutup butik tak menyangka kalau Menma akan berkunjung. Setelah membalik tulisan di pintu menjadi 'closed', Kushina menyuruh Menma masuk.

"Kebetulan kau kemari. Aku baru saja akan pulang, jadi kita bisa pulang bersama. Beri aku waktu 10 menit untuk beres-beres oke?"

Menma mengangguk. Lalu ia duduk di kursi kasir sambil memperhatikan ibunya beres-beres.

"Ngomong-ngomong, dimana kakakmu? Bukankah kalian tadi berangkat bersama?" tanya Kushina di sela-sela membereskan baju.

Menma terdiam sejenak. Ia tak ingin secara detail menjelaskan apa yang terjadi di lab, tapi dia juga tak ingin berbohong. "Dia sepertinya akan pulang malam, jadi aku pulang duluan saja," kata Menma.

"Oh. Bagaimana kalau kita makan malam di luar. Sudah lama sekali kita tidak pergi berdua. Kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakakmu," kata Kushina dengan raut wajah yang menunjukkan rasa iri.

Menma tersenyum ramah. "Baiklah, Bu."


Saturday, October 10, 2020, 06:15 PM

The Peak – Konoha

Kushina mengajak Menma ke sebuah restoran keluarga tak jauh dari butik. Jam pulang kantor membuat suasana restoran amat ramai diisi oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Mungkin mereka merasa tak akan sempat makan malam di rumah atau memang tak ada yang membuatkan makan malam di rumah. Beruntung Kushina dan Menma datang lebih awal sehingga bisa mendapatkan meja. Pesanan mereka pun sudah tersaji lengkap di atas meja.

Keduanya makan dalam diam. Menma sedang mencari saat yang tepat untuk bertanya.

"Boleh aku bertanya?" tanya Menma saat dirinya dan Kushina selesai makan.

"Tentu saja."

"Ini tentang Naruto."

Menma bisa melihat Kushina menghentikan sejenak tangannya yang sedang mengaduk orange juice ketika terdengar nama Naruto. Jelas sekali kalau Kushina tak menduga kalau Menma akan membicarakan Naruto. Soalnya Menma selalu segan membahas tentang Naruto di hadapan Kushina. Pembahasan tentang Naruto seolah tabu. Namun sekarang bukan saatnya merasa segan, ia butuh penjelasan yang belum ia ketahui tentang Naruto. Lagipula Kushina sudah jauh lebih tegar dari tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaan semacam ini tak akan membuatnya sedih.

Setelah memastikan Kushina tak menunjukkan raut wajah kesedihan, Menma melanjutkan pembicaraannya. "Naruto itu orangnya seperti apa? Apa dia sangat dekat dengan Neesan?"

"Hmmm…" Kushina menyimpan kedua tangannya di dagu. Ia terlihat menerawang jauh ke masa lalu. "Ya. Mereka sangat dekat tepatnya sejak 25 tahun yang lalu, saat aku bercerai dengan mantan suamiku. Aku lelah dengan sikap mantan suamiku yang lebih mementingkan pekerjaannya. Saat itu Naruto berusia 4 tahun dan Karin 6 tahun. Sebenarnya Naruto punya kakak kembar bernama Naruko, tapi mantan suamiku membawanya ke Inggris. Aku tak banyak menghabiskan waktu bersama Naruto dan Karin karena harus bekerja. Beban keuangan keluarga sepenuhnya tertumpu padaku. Jadi wajar saja kalau Naruto selalu bergantung kepada Karin sejak kecil."

"Begitu ya."

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Kushina penasaran.

Bukannya menjawab, Menma malah balik bertanya. "Bagaimana perasaanmu jika Naruto hidup kembali?"

Kushina tertawa pelan. Kushina merasa pertanyaan Menma itu lucu dan mengada-ngada.

"Anakku Naruto sudah meninggal. Dan itu kenyataannya," jawab Kushina. Ia sudah bisa menerima kenyataan.

"Kubilang 'jika'," balas Menma.

Kushina menghela napas pelan. Ia baru tahu kalau Menma keras kepala juga rupanya, persis seperti Naruto. "Jika Naruto hidup kembali. Ya tentu aku akan sangat senang. Tapi bukankah itu tidak mungkin?" tanya Kushina sambil berusaha tersenyum ke arah Menma.

Menma mengangguk menyetujui. Ibunya benar, Naruto tak mungkin hidup kembali. Kalaupun sekarang Naruto hidup di game, tentu itu bukan Naruto yang sama dengan Naruto adik Karin. Karin pun pasti tahu itu. Tapi rasa senang yang ditimbulkan saat tahu Naruto 'hidup' kembali terlalu mendominasi hati Karin sehingga ia kalap. Karin tak bisa berpikir jernih. Menurut apa yang Menma pelajari, hal tersebut biasa terjadi kepada manusia saat dirinya panik.

"Kau mau pesan minum lagi? Tehmu sudah habis," ujar Kushina, menyadarkan Menma yang melamun.

"Ummm. Ya. Aku juga ingin pesan makanan penutup. Aku masih ingin di sini."

Kushina tersenyum ramah. "Boleh. Kapan lagi kita bisa santai begini."

Menma dan Kushina menghabiskan satu jam selanjutnya di restoran karena Menma yakin Karin akan pulang larut. Mencari keberadaan Naruto pasti akan sulit. Hizashi tak akan menunjukkan begitu saja sang bos terakhir game kepada publik.

Sepulangnya Menma ke rumah, ia mengantar Kushina tidur. Setelah itu ia langsung menuju kamarnya untuk tidur tanpa berusaha untuk mencari tahu keberadaan Karin. Menma sedang malas berurusan dengan Karin. Namun sensornya menunjukkan kalau di kamar sebelah, kamar Karin, tak ada seorang pun di sana. Karin tidak pulang ke rumah malam itu.


Menma dan Kushina menghabiskan satu jam selanjutnya di restoran. Obrolan ringan, makanan penutup, dan suasana yang hangat seolah menjadi pelarian singkat dari kenyataan yang menegangkan. Menma sengaja berlama-lama, karena ia tahu Karin tidak akan pulang cepat. Mencari keberadaan Naruto di dalam dunia game bukan hal yang bisa diselesaikan dalam satu malam. Terlebih lagi, Hizashi jelas tidak akan memperlihatkan bos terakhir kepada publik begitu saja.

Namun saat mereka akhirnya tiba di rumah, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Menma baru saja melangkah ke ruang tengah ketika tubuhnya limbung. Tangan kirinya refleks memegang dada, napasnya memburu. Ada rasa terbakar—bukan panas, bukan sakit seperti manusia alami, tapi semacam distorsi yang membuat sistemnya goyah. Sebelum sempat bicara, tubuhnya ambruk ke lantai.

Kushina berteriak panik. Ia berlari menghampiri, tapi seseorang lebih cepat darinya. Dari balik kegelapan lorong, Naru muncul dan segera menangkap tubuh Menma sebelum menyentuh lantai.

"Menma!" seru Kushina dan Naru hampir bersamaan.

Tanpa banyak bicara, Naru mengangkat Menma dan membawanya ke kamar—kamar yang dulunya milik Naruto, kini menjadi tempat tinggal Menma. Dengan cekatan, ia menyambungkan kabel ke panel kecil di sisi belakang leher Menma, lalu menyalakan port pengisian energi dan stabilisasi sistem. Ia membuka laci dan mengambil satu perangkat kecil, semacam modul cardiac harmonizer—alat penstabil ritme emosi dan sistem reaksi otomatis android. Mirip penenang jantung, tapi untuk entitas berbasis Kokoro.

Panel hologram di atas dada Menma menyala samar. Naru menempatkan alat itu perlahan, dan denyut ritmis di layar perlahan kembali normal.

Kushina berdiri di ambang pintu, napasnya masih belum stabil. Matanya memerah, tapi tak setetes air mata pun jatuh. Dia ingin marah, ingin meneriaki Naru karena terus muncul seenaknya—tapi saat melihat Naru duduk di samping Menma, dengan wajah khawatir dan gerakan tangan yang penuh kehati-hatian, kemarahan itu mencair menjadi keheningan.

"Dia baik-baik saja sekarang," kata Naru tanpa menoleh, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.

Kushina melangkah masuk, perlahan. Ia duduk di kursi kecil dekat tempat tidur, menyentuh tangan Menma yang dingin. Lalu ia berkata, "Aku tak ingin kehilangan penghuni kamar ini... untuk kedua kalinya."

Naru menunduk. "Maaf... jika aku menjadi bagian dari semua ini. Aku tidak bisa mengubah masa lalu."

"Lupakanlah," gumam Kushina lembut.

Ia menatap Menma yang kini berbaring tenang, matanya tertutup rapat, tubuhnya perlahan kembali stabil.

"Aku sudah terlalu tua untuk menyimpan dendam. Semua yang aku butuhkan ada di sini—Karin dan Menma," gumam Karin sambil mengusap rambut hitam Menma.

"Terima kasih."

Kushina mengangguk kecil.


Kamar itu masih sunyi. Cahaya dari lampu sudut kamar menerangi wajah Menma yang tertidur tenang, sementara Naru masih duduk di sisi ranjang, pandangannya tak lepas dari tubuh android yang kini terasa lebih hidup daripada siapa pun di dunia ini.

Kushina duduk kembali di kursi dekat jendela, tangannya terlipat di pangkuan. Ia memandang Naru lama, sebelum akhirnya berkata, "Karin sering bercerita… tentangmu."

Naru menoleh pelan. Ekspresinya terkejut, tapi tidak menyangkal.

"Katanya… kau sering datang ke rumah. Diam-diam. Duduk di atap. Kadang meninggalkan makanan di depan pintu. Tapi kau tak pernah berani menemuiku," lanjut Kushina dengan nada hangat.

Naru mengangguk pelan. "Aku takut. Bukan karena kau. Tapi karena aku tidak yakin… pantas untuk muncul lagi dalam hidup kalian."

Kushina mengangguk seolah sudah menduga. "Karin juga bilang energi dari 6 Naruto lain sudah terkumpul di badanmu dan kau jadi time traveler... kau selalu mengawasi dunia ini dan keseluruhan 7 dimensi dari bayang-bayang. Seperti penjaga dalam kegelapan. Kini aku tahu... itu bukan kiasan."

Naru terdiam sejenak, lalu membenarkan. "Ya. Waktu bukan lagi sesuatu yang kujalani lurus… kadang aku melompat ke masa depan. Kadang kembali. Tapi tak pernah ke titik yang benar-benar bisa mengubah takdir." Ada keheningan sesaat sebelum Naru mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh penyesalan. "Sepuluh tahun ini… kau sakit. Dan aku tidak ada dan tidak bisa berbuat apa-apa."

Suara itu berat. Mengandung semua rasa bersalah yang tak pernah bisa ditebus dengan kata-kata.

Kushina menghela napas pelan. "Tidak apa-apa. Aku memang hancur... kehilangan Naruto membuat hatiku kosong. Tapi lambat laun, aku belajar bangkit. Sekarang aku mulai bekerja lagi. Hidup harus tetap berjalan."

Naru mengangguk menyetujui.

Kushina melirik jam dinding, lalu ponselnya. Hari sudah larut. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan dari Karin.

"Sudah malam, dan Karin belum juga pulang. Ponselnya pun mati. Aku tidak yakin dia akan kembali malam ini." Kushina menarik napas panjang, lalu berdiri dan menatap Naru. "Aku akan sangat menghargai jika kau bisa tidur disini malam ini. Aku tak mengerti cara menangani komponen Menma."

Naru menganggu lalu tersenyum kecil, senyum yang lelah dan tenang.

Kushina membalas senyum itu, lalu menepuk pelan bahu Naru sebelum keluar dari kamar.


Ketika Menma membuka matanya, cahaya pagi sudah menyusup lewat celah tirai kamar. Beberapa detik pertama, sistem visualnya masih menyesuaikan intensitas cahaya—hingga akhirnya bayangan pertama yang ia lihat adalah sosok berambut pirang yang duduk di kursi dekat ranjang.

Naru. Di depannya, sebuah laptop holografik menyala. Jemarinya bergerak cepat, sesekali menggeser data dan grafik rumit yang menampilkan struktur sistem internal Menma secara real-time.

Menma mengerjap pelan. "Kau... sedang menganalisaku?"

Naru tak menoleh. "Kondisimu tadi malam cukup parah. Aku ingin memastikan semuanya stabil sebelum kau bangun."

Menma menatap layar itu sejenak, lalu bergumam, "Kau juga mengerti sistemku? Bukankah Karin bilang kau berasal dari dunia ninja?"

Naru menutup separuh layar, baru menoleh. Wajahnya tenang. "Dulu, ya. Tapi sekarang... aku telah mempelajari hampir semua ilmu yang bisa diakses di alam semesta ini. Termasuk sistem android dan arsitektur Kokoro."

Menma memandang langit-langit sebentar, lalu bertanya pelan, "Aku kenapa?"

"Kokoro-mu mengalami tekanan luar biasa. Kombinasi antara ketegangan emosional, dan paparan sistem game yang tidak stabil. Kalau tidak distabilkan... kamu bisa kehilangan sebagian besar data memorimu."

Menma mengangguk pelan. Ia tak terlihat terkejut, hanya merenung.

"Di mana Karin?" tanyanya akhirnya.

Naru menatapnya, lalu menjawab datar, "Dia tidak pulang tadi malam."

Menma diam. Tak ada perubahan mencolok di wajahnya, namun ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dirinya. Ia menyadari perhatian Karin telah kembali berpusat pada Naruto. Menma merasa seperti bayangan di rumah ini. Seperti ia… tak lagi sepenting dulu.

To Be Continued…


rifuki