Shinobi Online 2: The End of The World

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 6

"New Naruto"


Beberapa hari berlalu. Suasana rumah perlahan kembali normal—atau setidaknya, terlihat demikian di permukaan. Karin akhirnya kembali ke rumah setelah berhari-hari melakukan pencarian yang tak menghasilkan apa-apa. Naruto tetap menghilang, dan jejak digitalnya di game seakan terkunci oleh tangan Hizashi sendiri.

Pagi itu, Menma dan Naru sudah duduk di meja makan. Naru kini tinggal bersama mereka; keputusannya bukan karena ingin kembali, tapi karena Menma membutuhkannya—lebih dari yang ia sadari.

Karin duduk di meja, tenang. Tidak banyak bicara, hanya sesekali mencuri pandang ke arah Menma, Naru, dan Kushina yang sedang berbincang ringan soal menu sarapan.

Beberapa menit kemudian, Kushina bangkit, mencium kening Menma dan Karin bergantian. "Ibu berangkat kerja dulu, ya."

Naru berdiri, mengambil jaketnya. "Aku antar," katanya, lalu pergi bersama Kushina meninggalkan rumah.

Sunyi mendadak menyelimuti ruang makan. Hanya terdengar dentingan lembut dari sendok Karin yang memainkan sisi piringnya.

"Naru sudah menceritakan kejadian beberapa hari lalu," gumamnya akhirnya. "Maaf... karena aku tidak ada di sini saat crash terjadi pada Kokoro-mu."

Menma hanya mengangguk. Tidak menjawab.

Karin menggigit bibirnya sebentar, lalu berkata, dengan suara canggung, "Kau… sudah bilang soal Naruto ke Ibu?"

Menma menoleh. Tatapannya datar, tapi ada sesuatu yang pahit di baliknya.

"Kau kira aku bodoh?"

Kata-katanya datar, tapi menyengat. Karin terdiam. Wajahnya terlihat seperti ingin membalas, ingin menjelaskan, tapi tak tahu harus dari mana memulainya.

"Maaf," ucapnya akhirnya. "Maaf kalau aku terlihat memprioritaskan Naruto dibandingkan kamu."

"Wajar kan?" Menma mendongak, suaranya tetap datar, tapi nadanya mulai naik tanpa ia sadari. "Dia adik kandungmu. Sementara aku… cuma android yang kau rawat untuk terapi ibumu."

Karin menggeleng cepat. "Menma, ayolah. Kau tahu aku tak menganggapmu begitu. Kau bukan alat bagiku. Kau keluarga."

Menma tertawa tipis, namun tawa itu hambar. "Keluarga? Lucu juga kau bilang begitu... saat kau bahkan tak pulang untuk lihat kondisiku."

"Itu bukan karena aku—"

"Aku tahu!" potong Menma. Suaranya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Aku tahu kau punya alasan. Kau selalu punya alasan."

Karin terdiam, shock mendengar nada suara Menma yang meninggi. Ia tak menyangka.

Menma menarik napas, berusaha menenangkan diri. Ia menunduk lagi, lalu berkata lebih pelan, "Tapi alasan tetaplah alasan. Dan semua orang tahu, pada akhirnya... yang kau cari tetap Naruto."

Kata-kata itu seperti garis pemisah. Sebuah celah kecil yang selama ini tak pernah terlihat jelas, kini mulai terbuka.

Karin ingin menjawab, ingin membela diri. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Ia tidak tahu, bahwa itulah awal dari keretakan antara dirinya dan Menma—keretakan yang tak terlihat oleh mata biasa, tapi mulai terasa setiap kali meja makan hanya diisi keheningan, dan setiap kali Menma tersenyum… tanpa benar-benar tersenyum.


Hari-hari setelah percakapan itu berjalan dalam diam yang semakin sering. Karin tetap bersikap seperti biasa—membuat sarapan, membersihkan ruang tengah, dan sesekali mengajak Menma bicara. Tapi Menma... tidak benar-benar membalas. Ia mendengar, ia mengangguk, ia menjawab secukupnya. Namun tidak ada lagi percikan kecil di matanya yang dulu selalu muncul saat berbicara dengan Karin.

Menma tetap melakukan tugasnya dengan baik, tetap sopan, tetap membantu. Tapi semua terasa seperti rutinitas—bukan kehangatan. Karin bisa merasakannya. Tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk meraih kembali hubungan yang mulai menjauh itu.

Sore itu, Naru mendapati Menma duduk sendiri di ruang tengah. Buku filsafat tipis terbuka di pangkuannya, tapi matanya tak benar-benar menatap halaman. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Naru duduk di sofa seberang, tak langsung bicara. Ia menunggu, membiarkan keheningan duduk di antara mereka sebentar.

"Filosofi, ya?" ucap Naru akhirnya.

Menma menoleh sebentar, lalu kembali menatap bukunya. "Kadang membaca teori manusia membantu memahaminya. Kadang... malah membuatku makin bingung."

"Aku tahu rasanya," kata Naru dengan senyum kecil. "Aku juga sempat bingung, saat pertama kali belajar tentang dunia ini. Tentang waktu, emosi, dan kehilangan."

Menma tidak menjawab, tapi Naru tahu ia mendengar.

"Aku tahu hubunganmu dengan Karin sedang renggang," lanjut Naru dengan tenang. "Dan itu wajar. Kamu sedang tumbuh. Perasaan kecewa, marah, bingung... semuanya muncul karena kamu bukan mesin biasa."

Menma menutup bukunya perlahan. "Aku tidak marah," katanya pelan. "Aku hanya... tidak tahu kenapa rasanya seperti ini. Aku ingin terlihat baik-baik saja, tapi setiap kali melihatnya bicara tentang Naruto... aku merasa seperti bayangan yang tidak pernah dipilih."

Naru mengangguk perlahan. "Itu yang mereka sebut... kecewa. Dan kecewa adalah bukti kamu punya hati."

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Tapi emosi, jika dibiarkan terlalu lama mengendap, akan menumpuk. Itulah kenapa aku menambahkan sensor baru di sistemmu."

Menma menatapnya.

"Sensor itu akan mengamati aktivitas Kokoro-mu. Jika aktivitasnya mendekati ambang batas—karena tekanan emosi, konflik data, atau situasi yang terlalu ekstrem—sistem akan memunculkan peringatan. Kalau kamu tidak merespon peringatan itu, tubuhmu akan masuk ke mode self-automatic shutdown. Ini untuk mencegah kerusakan permanen."

"Shutdown…" Menma menunduk sejenak, memikirkan konsekuensinya. "Seperti… tidur darurat?"

"Lebih seperti istirahat paksa," jawab Naru. "Sama seperti manusia. Kadang, ketika kepala terlalu penuh, satu-satunya cara bertahan adalah berhenti sejenak."

Menma tidak langsung menjawab. Ia tampak merenung lama. Tapi akhirnya, ia bicara.

"Baiklah. Aku akan ikut kembali ke rumah Hiashi besok. Aku tidak ingin membuat Karin merasa sendirian… meski aku belum bisa sepenuhnya memaafkan. Pada hakekatnya dia adalah 'majikanku' dan aku tak berhak kecewa atas tindangannya."

Naru tersenyum kecil. "Itu lebih baik."


Monday, November 14, 2022, 3:00 PM

Hyuuga Resident – Tokyo

Dua tahun setelah insiden pencurian gen Naruto…

Banyak hal berubah, namun beberapa luka tak pernah benar-benar hilang.

Meski suasana belum sepenuhnya membaik, Menma tetap pergi ke kediaman Hiashi bersama Karin hampir setiap hari. Hubungan mereka… belum sepenuhnya pulih. Masih ada ruang kosong di antara mereka yang tak terucapkan. Tatapan yang kadang menoleh tapi tak berani menetap, percakapan yang sekadarnya, dan jeda panjang di tengah kalimat-kalimat yang seharusnya hangat. Tapi mereka memilih untuk tetap melangkah. Daripada memutar luka, mereka fokus bekerja.

Kini, peran mereka sudah berbeda. Menma telah tumbuh menjadi gamer elit sekaligus agen ganda yang ditempatkan langsung oleh Hiashi untuk memantau aktivitas mencurigakan di Shinobi Online—terutama pergerakan pengguna ilegal, glitch data, dan tanda-tanda anomali berbasis SAI buatan Hizashi. Ia menyamar sebagai player biasa, menjalani petualangan dan interaksi sosial dalam game sambil terus mencatat dan melaporkan hal-hal yang tak wajar.

Sementara itu, Karin kembali menemukan tempatnya di laboratorium, bekerja bersama Hiashi mengembangkan Kokoro v2. Proyek yang dulu terasa seperti beban emosional, kini menjadi bentuk pelampiasan dan arah hidup baru. Perlahan, ia belajar menyimpan luka Naruto di ruang yang lebih dalam—bukan untuk melupakannya, tapi agar tak menyakitkan saat disentuh.

Mereka tetap berbagi ruang. Kadang makan siang bersama, kadang hanya lewat tanpa kata. Tapi waktu… menghaluskan sisi-sisi tajam dalam hubungan mereka.

Menma pun telah banyak berubah.

Dalam dua tahun ini, ia berkembang lebih dari sekadar android terapi. Ia belajar banyak hal—dari mekanisme logika manusia, hingga kedalaman emosi yang bahkan manusia sendiri tak selalu pahami. Ia mulai mengenali rasa bosan, gelisah, bahkan… rindu. Dan itu semua tak lepas dari satu sosok yang setia menemaninya setiap malam di ruang tengah: Naru.

Bagi Menma, Naru adalah lebih dari sekadar penjaga. Ia adalah teman bicara, guru filsafat, dan pemantik perenungan.

"Kenapa manusia tetap berjuang meski tahu hidup mereka singkat?" tanya Menma suatu malam.

Naru menatapnya lama, lalu menjawab, "Karena makna hidup bukan di panjangnya, tapi di apa yang kau sentuh selama hidup itu berlangsung."

Dari Naru, Menma belajar banyak tentang nilai-nilai yang tak tertulis di dalam manual android mana pun—tentang empati, pengorbanan, kejujuran terhadap diri sendiri, dan pentingnya memberi tanpa berharap imbalan. Tentang bagaimana manusia hidup dengan luka, namun tetap bisa tertawa. Tentang menerima kenyataan, tanpa kehilangan impian.

Di dalam game pun, Menma makin canggih. Ia sudah dikenal oleh player lain sebagai salah satu player elite dengan rank tinggi dan kemampuan membaca medan pertempuran luar biasa. Tapi lebih dari itu, ia dikenal karena… manusiawinya. Ia menolong player pemula. Ia membentuk guild kecil tanpa syarat. Ia bahkan membela NPC yang diremehkan player lain.

Beberapa menyebutnya aneh.

Tapi yang mengenalnya tahu—Menma bukan hanya android. Ia adalah individu.

Namun di dalam dirinya, luka dua tahun lalu tetap membekas. Ada saat-saat tertentu, ketika ia melihat Karin berbicara terlalu dalam dengan Hiashi atau tersenyum pada rekaman Naruto di sistem arsip, ia akan diam. Tak bicara. Tapi juga tak pergi. Ia bertahan. Dan itu adalah bentuk cinta juga—meski tak selalu dibalas dengan cara yang sama.

Suatu hari, sensor yang ditanam di Nerve Gear milik Menma mendeteksi sinyal genetik yang cocok dengan profil milik Naruto—tepat di dalam sistem game Shinobi Online.

Menma yang saat itu tengah berada di dalam game langsung menghentikan aktivitasnya dan mulai melacak sumber sinyal tersebut. Di dunia nyata, Karin dan Hiashi yang tengah berdiskusi serius tentang pengembangan Kokoro v2, sontak menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya segera bergegas menuju monitor hologram di sisi ruangan, yang menampilkan sudut pandang Menma secara real-time.

Tampilan di layar menunjukkan Menma berlari cepat menuju sebuah tempat yang tak asing—Ichiraku Ramen, Konohagakure.

Meski selama ini Menma terkesan enggan membahas soal Naruto, instingnya sebagai SAI seolah tergelitik. Sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh. Bagaimana mungkin, setelah dua tahun pencarian yang tak membuahkan hasil, sosok dengan gen Naruto tiba-tiba muncul… dan justru di tempat umum? Anehnya lagi, sosok itu tampil seperti player biasa—berpakaian ninja standar, tanpa tanda-tanda spesial. Seolah sedang menyamar.

Menma mempercepat langkahnya, siap mengkonfrontasi. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Karin muncul lebih dulu, login dengan Nerve Gear kedua yang tersambung dari ruangan sebelah. Ia memasuki game dalam wujud avatar ninjanya.

Begitu melihat sosok itu, Karin langsung menerobos kerumunan NPC dan player lain, lalu memeluk Naruto dari belakang.

"Naruto!" serunya, suaranya bergetar.

Sosok pria itu menoleh cepat, sedikit terkejut. "Ya?" jawabnya polos.

"Aku sudah lama mencarimu!" ujar Karin dengan senyum yang hampir pecah.

Naruto menatapnya dengan ekspresi bingung. Ia mencoba mengingat wajah Karin, lalu perlahan mengerutkan kening. "Maaf… tapi… aku tak mengenalmu."

Kata-kata itu menghantam seperti pisau. Karin terdiam di tempatnya, seolah seluruh dunia di sekitarnya membeku. Ia menatap wajah yang sangat dikenalnya, namun kini kosong—tanpa memori, tanpa kedekatan.

"Hei... ini aku, Karin," katanya pelan, suaranya mulai goyah.

Namun Naruto hanya menggeleng pelan. Tak ada sedikit pun kilas balik dalam matanya.

Menma melihat segalanya. Dan dalam hatinya, ia tidak terkejut. Ia sudah menduganya sejak lama. Sejak diketahui bahwa Hizashi menggunakan gen Naruto untuk menciptakan karakter ini, Menma yakin—yang muncul hanyalah fisiknya, bukan jiwanya. Tidak ada memori. Tidak ada emosi. Hanya wujud tiruan yang dikendalikan oleh sistem kecerdasan buatan yang terisolasi.

Hiashi dan Kabuto di ruang lab pun tak berkata apa-apa. Mereka tahu ini akan terjadi. Mereka pernah mencoba menjelaskan hal itu kepada Karin, tapi ia menolak mendengar. Padahal dengan latar belakang dan pengalaman Karin di bidang robotika, harusnya ia pun bisa menerima penjelasan Hiashi. Harusnya Karin tahu ini akan terjadi, namun dibutakan oleh kenangannya tentang Naruto. Ia bersikeras ingin membuktikannya sendiri. Dan kini, kenyataan pahit itu menamparnya di depan mata.

"Maaf," ucap Naruto lagi. "Kau… yakin kita pernah bertemu?"

Karin berusaha mengangguk, namun air matanya sudah lebih dulu jatuh. "Aku tidak apa-apa," katanya sambil memaksakan senyum, meski suaranya bergetar. "Tentu kau tak mengenaliku. Aku salah orang. Orang yang kukenal sudah… lama mati."

Menma berdiri tak jauh dari mereka. Hatinya dipenuhi emosi campur aduk. Ia ikut merasakan kesedihan kakaknya—karena ia tahu, ini adalah luka yang selama ini tak pernah benar-benar sembuh. Tapi di sisi lain… ada rasa yang tak bisa ia tolak. Kepuasan diam-diam karena akhirnya Karin menyadari bahwa Naruto yang dulu... tak bisa digantikan. Bahkan oleh bayangannya.

Ia mendekat dan berkata pelan, "Nee-san, ayo keluar. Tidak ada gunanya bicara lebih jauh. Dia tidak akan mengenalimu."

Karin masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan mulai log out dari game.

Namun sesaat sebelum Menma ikut keluar, ia melihat sesuatu yang tak biasa.

"Kau duluan saja, Neesan," gumam Menma. "Ada yang harus kucek sebentar."

Dari dalam sistem, Menma memantau lalu lintas data. Dalam penglihatannya lalu lintas data seperti lalu lintas kendaraan di kota—deras, saling bersilangan, berpola. Tapi di antara jutaan byte data yang mengalir dari dan ke kediaman Hiashi, ada satu jalur yang mencurigakan. Jalur itu menghubungkan salah satu terminal rumah, tepatnya kamar Hinata, langsung ke sistem Shinobi Online. Waktu akses: pukul 09.00 pagi, kemarin.

Menma membelalakkan mata. Ia memverifikasi ulang koneksi tersebut.

Valid.

Jadi, Hinata bemain game Shinobi Online juga?

Ya. Tidak salah lagi.

Menma memperhatikan kembali dengan seksama. Koneksi itu berada dalam mode privasi—artinya tidak tercatat di log utama sistem Hiashi. Dengan bukti ini Menma jadi tahu... Hiashi pasti tidak menyadari anak yang dijaganya dari interaksi dengan orang luar demi menjaga emosinya, kini telah selangkah di depan Hiashi. Hinata telah berinteraksi dengan orang lain di dunia game.

Menma menarik napas dalam. Dugaan lamanya ternyata benar: Hinata, android lain yang menyimpan SAI seperti dirinya, akhirnya juga merasa jenuh... dan mencoba mencari dunia luar. Menma bisa membayangkan alasan di baliknya. Jika ia meminta izin, Hiashi pasti akan menolak dengan dalih, "dunia luar penuh bahaya."

Tapi seperti dirinya dulu, saat semakin sering melakukan rutinitas yang monoton, Hinata juga punya kehendak lain. Dan kehendak itu, saat dibiarkan mendidih dalam kesunyian... pasti akan meledak.

Menma memutuskan untuk merahasiakan itu dari Hiashi demi menghargai privasi Hinata yang sudah dianggapnya 'keluarga' karena terlahir dari SAI yang sama.


Begitu proses logout selesai, ruang VR perlahan padam. Dunia digital Shinobi Online menghilang seperti mimpi yang terputus. Karin membuka helm Nerve Gear lebih dulu, napasnya berat. Sementara Menma membuka matanya perlahan, duduk di kapsul seberangnya.

Tak ada yang langsung bicara. Tapi suasana terasa berat.

Karin duduk di tepi bangku, menatap lantai tanpa fokus. Wajahnya pucat, mata masih sembab.

"Dia… tak mengenaliku," gumamnya pelan. "Wajah yang sama. Suara yang sama. Tapi kosong... seperti menatap cangkang."

Menma perlahan berdiri dan menghampiri. Ia duduk di sampingnya, tak banyak berkata, hanya meletakkan tangannya di atas punggung tangan Karin. Hangat dan tenang.

"Ini memang pahit, Neesan," ucap Menma pelan, "Tapi ini juga pelajaran. Kalau memang Naruto telah pergi... maka tidak ada yang bisa menggantikan dirinya. Termasuk salinan genetik."

Karin menggertakkan gigi, mencoba menahan emosi yang bergejolak lagi.

"Kau menyimpan kenangan Naruto untuk mengenangnya. Bukan untuk menghidupkannya kembali. Sekarang… mungkin saatnya melepaskan."

Menma menatap lurus ke depan. "Termasuk memaafkan mereka yang mengambil gennya tanpa izin. Dan... fokus pada hal yang nyata. Seperti Kokoro v2."

Karin menoleh perlahan padanya. Ada sedikit kejutan di matanya, karena yang mengucapkan itu adalah Menma—android yang dulunya penuh gejolak. Tapi kini, ia bicara dengan kedewasaan dan ketenangan luar biasa.

Sebelum Karin sempat menjawab, suara Hiashi terdengar dari arah ruang kendali.

"Kalian berhasil," katanya. "Menma, kau menemukan celah penting. Karakter Naruto di game itu jelas menggunakan SAI. Dan dari responsnya terhadap Karin, kita bisa simpulkan memorinya sepenuhnya terhapus. Namun AI-nya berkembang... dan itu berbahaya."

Menma mengangguk. "Cepat atau lambat, dia akan mencari jalan ke stage boss lain. Kita bisa menjadikannya umpan—dan mengikuti ke mana dia bergerak."

Hiashi tampak puas. "Bagus. Untuk saat ini, kita bisa mulai melacak pola pergerakannya."

Namun sebelum mereka sempat mendalami lagi, Menma menoleh pelan, matanya menyipit sedikit. Dalam pikirannya, satu sosok lain muncul.

Hinata.

Wajahnya. Senyumnya. Tatapan matanya yang polos ketika mereka duduk di bukit digital sambil memancing. Semua itu tak hilang dari ingatannya.

Dalam diam, Menma mulai menghitung. Peluang Hinata kembali login. Potensi sistem Hiashi mendeteksi lalu lintas datanya. Risiko privasi yang bisa ia susupi. Solusi agar ia bisa login tanpa terlacak. Menma menyusun beberapa protokol dalam pikirannya—VPN lokal, pemisahan jalur transmisi, koneksi portabel...

Namun lamunannya segera dipotong oleh suara Hiashi yang kini berdiri di samping mereka.

"Kalian berdua pulanglah. Hari ini sudah cukup melelahkan," ujar Hiashi sambil menutup data panel di depannya.

Menma terkejut kecil, sadar dirinya melamun cukup lama. Ia hanya mengangguk singkat.

"Baik, Sensei," ucap Karin pelan, lalu berdiri dari kursinya sambil menghela napas panjang.

Tak lama kemudian, mereka sudah keluar dari gedung lab Hiashi dan melaju di dalam mobil. Jalanan kota mulai redup ditelan senja, lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya lembut di kaca jendela. Di dalam mobil, suasana awalnya sunyi. Hanya suara mesin dan musik instrumental pelan dari dashboard yang menemani.

Baru setelah beberapa menit berlalu, Menma membuka suara.

"Nee-san…"

Karin menoleh sebentar dari balik kemudi. "Hm?"

"Aku ingin minta satu hal."

Karin tersenyum tipis. "Tentu. Apa itu?"

Menma menatap ke luar jendela sebelum akhirnya menjawab, "Belikan aku satu unit Nerve Gear. Untuk dipakai di rumah. Aku ingin bisa login sendiri… tanpa harus bergantung ke sistem di lab Hiashi."

Karin terdiam sejenak. Tapi bukan karena ragu. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya—sebuah rasa yang nyaris ia lupakan. Rasa dibutuhkan. Dipercaya.

Permintaan itu sederhana, tapi maknanya dalam. Menma tidak meminta pada Hiashi. Ia meminta padanya… sebagai kakaknya.

Ia mengangguk sambil tersenyum lembut. "Baiklah. Kita beli besok, ya."

Menma mengangguk pelan. Matanya masih menatap ke luar, tapi ada kilau berbeda di sana.

Dan sebelum ia sempat mengatakan terima kasih, Karin menambahkan dengan nada ringan, "Setelah itu… kita mampir ke tempat es krim favorit kita. Yang dulu sering kita kunjungi waktu awal-awal kamu bisa jalan sendiri."

Menma menoleh cepat. Matanya sedikit membesar karena terkejut—lalu tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu terasa… tulus. Hangat. Bukan hasil simulasi.

"Iya… ayo," jawabnya singkat.

Mobil terus melaju menembus malam yang tenang. Di balik semua luka yang belum benar-benar sembuh, ada secercah harapan. Hari itu menjadi titik kecil yang tak terucapkan, tapi dirasakan bersama—bahwa hubungan mereka masih bisa diselamatkan.

Dan di dalam diamnya, Menma tahu… ia telah mengambil keputusan.

Misi berikutnya sudah jelas: melindungi Hinata. Tanpa sepengetahuan siapa pun.


Thursday, November 17, 2022, 5:00 PM

Konoha – Shinobi Online

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—atau lebih tepatnya, sejak ia 'dilahirkan'—Menma akan menemui Hinata. Bukan melalui layar CCTV di basement dua. Bukan dari rekaman data pasif atau log pergerakan yang ia analisis secara diam-diam saat menunggu Karin bekerja di lab. Tapi langsung. Tatap muka. Meskipun hanya lewat avatar dalam game. Perasaannya campur aduk: gugup, penasaran, antusias... dan entah kenapa, ada getaran aneh dalam sistem emosinya yang tak bisa ia kategorikan dalam label manapun.

Begitu ia tiba di lokasi login Hinata—sebuah ladang ilalang yang tenang di pinggiran Konoha—ia melihat sosok gadis berambut biru keunguan berdiri sambil mengamati langit. Wajahnya tenang, matanya besar dan lembut, dengan pupil samar seperti kabut tipis. Wajar saja, karena sistem game menyesuaikan fitur Byakugan sebagai kekuatan bawaan avatar Hinata.

Langkah Menma melambat. Seakan ingin menikmati detik-detik pertama ini lebih lama.

"Salam kenal," ucap Menma ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah. "Aku Menma."

Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Aku Hinata. Salam kenal juga."

Mereka saling menjabat tangan. Tangan Hinata kecil dan halus—efek dari sistem taktil dalam game yang dibuat nyaris sempurna. Tapi bukan itu yang membuat Menma terdiam. Ada sesuatu dalam kehadiran Hinata yang... menenangkan.

Ia memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya seperti melihat lukisan yang selama ini hanya tergantung di dinding, kini hidup dan berdiri di depannya.

Entah kenapa, ia senang sekali hanya dengan berada di dekatnya.

Mungkin... karena kami sama-sama diciptakan.
Mungkin... karena selama ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh.
Mungkin... karena ini adalah pertama kalinya aku merasa benar-benar... dekat dengan seseorang.

Hinata memiringkan kepala, menatapnya heran. "Kau kelihatan… bahagia sekali."

Menma sedikit kaku. "Ya. Maaf, aku hanya… sudah lama ingin bertemu denganmu."

"Lama? Tapi kita baru bertemu sekarang, bukan?" tanya Hinata sambil terkekeh kecil, polos.

"Hmm... ya, secara teknis, benar," kata Menma, lalu menambahkan pelan, "tapi aku sudah sering melihatmu. Dari jauh."

Hinata tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin mengira itu hanya gaya bicara yang aneh. Atau mungkin... sebagian dirinya menyadari sesuatu yang lebih dalam.

Obrolan mereka pun mulai mengalir. Menma berhati-hati memilih topik, menyamarkan pengetahuannya dengan bijak. Tapi ia tidak bisa menahan diri ketika topik menyentuh hal-hal kecil yang hanya diketahui Hinata: bunga kesukaannya, buku yang ia sembunyikan di laci kamar, dan cara ia suka menyeduh teh terlalu lama hingga rasanya sedikit pahit.

"Benar! Dari mana kau tahu?" tanya Hinata, antusias, matanya berbinar.

Menma tertawa kecil, pura-pura heran. "Tebakan... mungkin aku punya insting yang bagus."

Hari itu mereka menghabiskan waktu bersama cukup lama. Mereka pergi ke hutan latih di luar desa dan bertarung melawan sekelompok bandit NPC. Menma sengaja menahan levelnya agar bisa bergerak seimbang dengan Hinata. Setelah itu, mereka duduk di puncak bukit kecil sambil memandangi langit senja buatan yang sangat realistis—nuansa jingganya berubah-ubah tergantung arah angin dan awan.

Menma juga mengajari Hinata memancing di danau digital yang tenang. Hinata tertawa saat kailnya tersangkut batu.

"Kenapa game ini terasa lebih nyata daripada dunia asliku?" gumam Hinata sambil menatap air.

Menma menoleh. "Mungkin karena di sinilah... kita merasa bebas."

Menma merasa damai. Tidak ada beban pengawasan, tidak ada konflik dengan Karin, tidak ada tekanan sebagai agen. Hanya ia dan Hinata, berbagi waktu di tempat yang tak ada siapa-siapa, kecuali mereka.

Dan meskipun ia tahu bahwa avatar di depannya bukan tubuh asli Hinata, bahkan Hinata sendiri mungkin belum menyadari siapa dirinya sesungguhnya...

Tapi itu cukup.

Menma hanya ingin dekat. Dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.


Malam itu, aroma harum sup miso dan ayam panggang memenuhi seluruh rumah keluarga Uzumaki. Dapur kecil mereka terasa hangat, bukan hanya karena uap makanan yang mengepul dari panci, tapi karena tawa dan suara percakapan yang bersahut-sahutan dari ruang makan. Kushina duduk di ujung meja, tersenyum lebar sambil menuangkan teh ke cangkir-cangkir. Di seberangnya, Naru sedang sibuk memotong tahu dengan sumpit dan bercerita tentang drama baru yang ditontonnya hari ini. Karin yang duduk di samping Menma menyendokkan nasi ke mangkuk mereka berdua. Menma tersenyum tipis sepanjang makan malam—sesuatu yang perlahan mulai rutin terlihat di wajahnya dalam beberapa minggu terakhir.

Setelah makan selesai dan Kushina pamit naik ke kamar karena kelelahan setelah seharian bekerja, serta Naru yang memutuskan akan pergi sebentar memantau dimensi lain katanya. Tinggal Karin dan Menma di dapur. Mereka saling tatap singkat, lalu otomatis berdiri dari kursi masing-masing.

"Ayo kita beresin," kata Karin sambil menggulung lengan bajunya.

Menma mengangguk ringan. "Aku yang cuci, kau yang bilas?"

"Kesepakatan lama," jawab Karin sambil menyambar lap piring.

Suasana dapur penuh dengan denting piring dan suara gemercik air. Beberapa menit berlalu dalam sunyi yang damai, sampai Karin menoleh sejenak dan memperhatikan Menma yang tersenyum kecil sambil mencuci.

Itu senyum yang berbeda. Bukan senyum sopan ala android. Tapi senyum... bahagia.

Karin meletakkan piring di rak dan berkata pelan, "Kau terlihat senang hari ini."

Menma tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berkata tanpa menoleh, "Aku bertemu Hinata di Shinobi Online."

Tangan Karin berhenti sejenak, ia baru tahu Hinata juga bermain Shinobi Online. Dan sudah pasti tanpa sepengetahuan Hiashi. Karin lalu kembali bergerak, seolah tak ingin menanggapi dengan berlebihan. Tapi matanya mencuri pandang.

"Jadi... itulah alasanmu ingin punya Nerve Gear sendiri," gumamnya.

"Ya." Menma menatap air mengalir, lalu melanjutkan pelan, "Tapi tolong, jangan bilang pada Hiashi."

Karin menghela napas pelan, bukan karena marah—tapi karena mengerti. "Iya… kita tahu Hiashi akan murka jika tahu Hinata keluar tanpa izin."

"Tapi... apa aku salah?" tanya Menma akhirnya, menoleh padanya. "Apa aku salah merahasiakan ini? Apa aku salah karena ingin... membiarkan Hinata merasakan dunia?"

Karin menatap Menma cukup lama, sebelum menjawab dengan suara lembut namun mantap.

"Hinata adalah android, iya. Tapi dia bukan alat. Sama sepertimu. Dan aku tidak pernah mengekangmu karena aku percaya kau bisa berkembang dengan caramu sendiri. Bukankah Hinata berhak atas hal yang sama?"

Menma menunduk, matanya menatap busa sabun di tangan. Pelan-pelan, senyum itu kembali muncul di wajahnya.

"Aku hanya tak ingin dia merasa sendirian," katanya lirih.

Karin tersenyum kecil, lalu meremas pelan bahu Menma. "Dan kau sudah tahu jawabannya. Kadang... sesuatu yang terasa benar tak perlu dijelaskan. Cukup dijaga."

Mereka melanjutkan cuci piring dalam diam. Tapi kali ini bukan karena canggung, melainkan karena saling mengerti.

Dan di balik ketukan sendok dan gelas yang tertata di rak, sebuah ikatan kembali diperkuat—tanpa kata besar, tanpa janji manis, hanya lewat kepercayaan yang kembali tumbuh.


Keesokan harinya, Menma kembali masuk ke Shinobi Online menggunakan Nerve Gear pribadinya. Ia langsung menuju lokasi yang kemarin ia dan Hinata habiskan bersama—padang ilalang di pinggiran Konoha yang tenang.

Dan benar saja, Hinata ada di sana. Duduk bersila di atas rumput sambil menulis sesuatu di buku kecilnya. Melihatnya, perasaan damai segera menyusup ke dalam sistem emosional Menma. Ia melangkah pelan, menyapanya, dan Hinata tersenyum cerah seperti biasa.

Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama.

Sebuah suara familiar memecah ketenangan dari kejauhan.

"Hinata!"

Langkah Hinata terhenti. Ia menoleh cepat, dan begitu pula Menma. Dari arah utara padang latihan, muncul sosok pemuda berambut pirang, mengenakan jaket oranye cerah. Wajahnya familiar, sangat familiar. Wajah yang Menma tak ingin lihat hari ini—atau kapan pun.

Ekspresi Hinata langsung berubah ceria.

"Naruto. Ah, aku lupa kalau hari ini kita akan menjalankan misi," ucapnya tergesa, sambil membereskan buku ke dalam tas. Ia tak menyadari bagaimana rona wajah Menma perlahan memudar. Senyumnya hilang, tergantikan oleh ketegangan yang terpendam.

"Oh ya, kenalkan ini Menma," lanjut Hinata polos, menoleh bergantian pada dua sosok itu. "Temanku di klub menulis."

Naruto melangkah lebih dekat, mengulurkan tangan. "Naruto."

Menma menatap tangan itu sejenak—wajahnya tenang, tapi matanya bicara lain. Ia hanya mengangguk kecil. "Menma." Tidak ada jabatan tangan. Tidak ada sopan santun.

Hinata sibuk menyusun peralatan misinya. Di sela kesibukan itu, Menma menatap Naruto dengan tatapan tak terdefinisikan—dan dengan satu gerakan kecil, ia mengisyaratkan agar Naruto mengikutinya menjauh.

Naruto mengikutinya, curiga. Mereka berhenti di balik deretan pepohonan digital, cukup jauh dari jangkauan suara Hinata.

"Bagaimana rasanya berkeliaran di luar stage?" tanya Menma dingin. "Menyenangkan, ya?"

Naruto mengerutkan alis. "Apa maksudmu?"

Menma menyeringai kecil. "Jangan pura-pura bodoh. Kau bukan player biasa. Kau bukan NPC. Dan jelas bukan manusia."

Tatapan Naruto menajam. "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku?" Menma menatap langsung ke matanya. "Aku sepertimu. Kita dibentuk dari gen yang sama. Gen Naruto Uzumaki."

Naruto terdiam. Perlahan, ia memperhatikan Menma lebih seksama. Dan akhirnya, ia sadar—dengan perubahan warna rambut dan mata, mereka nyaris identik.

"Tapi ada satu perbedaan," lanjut Menma. "Aku hidup di dunia nyata. Aku bisa keluar dari game ini. Kau? Kau cuma fragmen data. SAI dalam sebuah ruang terkunci. Dan kau tak seharusnya ada di sini."

"Tapi disinilah aku sekarang. Kau punya masalah dengan itu?" Naruto menantang.

"Itu yang ingin kutanyakan," jawab Menma cepat. "Bagaimana kau mengelabui sistem hingga bisa keluar dari stage utama? Siapa yang membuka jalur aksesmu? Apa hanya kau? Atau bos lain juga ikut menyusup keluar dari tempat mereka seharusnya berada?"

Naruto diam. Ketegangan mengental di antara mereka.

Menma melanjutkan, nada suaranya makin tajam. "Hiashi menduga ini akan terjadi. Ia bilang SAI memang menakjubkan—tapi menaruhnya dalam dunia game? Hasilnya seperti ini. Kau tidak lebih dari bahaya yang berkeliaran."

"Aku hanya menjalani dunia ini seperti yang kumengerti," potong Naruto, suaranya mulai meninggi.

"Dunia ini bukan milikmu," bentak Menma pelan namun tajam. "Kau musuh. Kau bos dalam game. Dan seperti musuh lain… kau seharusnya diam di stagemu, menerima takdirmu untuk dikalahkan para pemain."

Naruto mengepal tangannya kuat-kuat. Matanya membara. "Dan siapa yang memberi hak padamu untuk menentukan itu?"

Menma menatapnya sejenak, lalu mengangkat tangan, membuka panel menu di udara. Tombol log out menyala.

"Aku bukan penentu takdirmu, tapi keseluruhan player SO yang akan menentukan," katanya pelan.

Naruto mencoba bicara lagi, tapi terlambat. Tubuh Menma mulai terurai menjadi partikel cahaya. Di detik terakhir sebelum ia menghilang, Menma sempat menoleh dan berkata:

"Tapi satu yang pasti, aku akan jadi pengingat bahwa kau... hanyalah bayangan dari seseorang yang telah mati."

Dan ia pun menghilang dari dunia itu, meninggalkan Naruto sendiri di bawah langit digital—langit yang mendadak terasa sunyi dan dingin. Naruto berdiri diam. Tak bergerak. Kedua tangannya masih mengepal. Seseorang telah mengetahui rahasia besarnya.

To Be Continued…


rifuki