.
Love in Return
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Rachel Cherry Giusette
.
.
.
Suasana apartemen Sasuke di akhir pekan itu cukup tenang. Sakura duduk di sofa, matanya fokus pada layar ponsel, sementara Sasuke berada di meja makan, membuka beberapa dokumen pekerjaan. Keduanya sudah terbiasa dengan kebersamaan seperti ini.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi, dan Sasuke mengangkat alis. "Paket," gumamnya, melihat kurir yang berdiri di depan pintu dengan sebuah kotak besar.
Sasuke segera membukanya, dan di dalamnya terdapat beberapa barang yang mengejutkan: sebuah tas bermerek, gelang wanita mahal, beberapa baju wanita, dan… sepasang cincin yang tampak seperti couple rings.
Tentu saja, itu bukan hadiah yang biasa.
"Dari ibu?" Sasuke bergumam pelan.
Sakura, yang mendengar, langsung berdiri dan melangkah mendekat. "Dari siapa?" tanyanya, suara penuh rasa penasaran.
Sasuke terlihat masih kebingungan, dua alisnya berkerut. Ada selembar kartu ucapan di atas box tas di dalamnya, Sakura mengambilnya, lantas membaca isinya:
"Sasuke, ada hadiah kecil dari ibu untuk kau berikan kepada Izumi. Ibu tidak menyangka kalian yang akhirnya bersama! Selamat berbahagia, sayangku. Jaga calon tunanganmu baik-baik."
Sakura terdiam sejenak, hening. Matanya melebar seiring kata-kata yang tertulis di sana. Tentu saja, dia mengenal tulisan tangan Mikoto, meskipun ia sendiri belum pernah bertemu dengannya, Sakura beberapa kali melongok kertas ucapan yang Mikoto kirimkan ke Sasuke—lepas dari itu, ini adalah pesan dari ibu Sasuke.
Otaknya masih mencerna setiap kata di dalam kartu ucapan itu.
Sasuke tambah bingung ketika mendapati Sakura mematung dengan terkejut, kaku. Sasuke beringsut merebut kartu ucapan yang dipegang Sakura.
Seluruh tubuh Sakura seolah beku sejenak. Jantungnya berdegup kencang, seakan darahnya mengering begitu membaca kalimat yang ditulis oleh ibu Sasuke.
"Izumi?" suaranya terdengar pelan, hampir tak percaya.
Sasuke pernah beberapa kali memberi tahunya beberapa sepupunya secara tidak langsung, tahu tampang dan nama-namanya. Dan Izumi ini... nama yang mereka sempat bicarakan, yang Sasuke bilang cewek sepupu jauh Sasuke itu saat ini tinggal di kota ini. Sakura juga tahu kalau Sasuke dan satu kakak sepupunya yang bekerja di kantor cabang Uchiha itu 'sedang berusaha dijodohkan' dengan Izumi ini.
Dia masih ingat dia dan Sasuke mengobrolkannya seolah seperti lelucon yang tidak lucu, karena Sasuke bilang yang sebenarnya diincar Izumi adalah sang kakak, Itachi.
Tapi Sakura tidak menyangka kalau... Mikoto benar-benar menganggap Izumi calon menantunya.
Mungkin... mungkin Sakura tidak tahu bahwa sebenarnya Sasuke sebenarnya menyetujui ide itu dibelakangnya.
Sasuke, masih terpaku pada isi kartu itu, melirik Sakura dengan ekspresi bingung. "Sakura, aku nggak tahu harus gimana menjelaskannya…"
Namun, Sakura sudah tidak bisa mendengar lebih banyak. "Jadi itu alasannya, Sasuke?" suaranya mulai meninggi. "Alasan kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa? Alasan selama ini kita harus menyembunyikan hubungan kita?"
Sakura menatap Sasuke dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Kamu benar-benar ingin membuatku jadi orang bodoh, ya? Selama ini, aku pikir hubungan kita serius, tapi ternyata kamu sudah berhubungan dengan Izumi tanpa bilang apa-apa ke aku?"
Sasuke membuka mulut, ingin menjelaskan, tapi Sakura tidak memberinya jeda untuk menyela. Gadis itu sudah melangkah mundur, meletakkan tangannya di dada, dan bibirnya bergetar menahan emosi.
"Aku nggak bisa percaya ini," lanjutnya, suara hampir pecah. "Aku pikir kamu lebih menghargai aku… Tapi ternyata kamu hanya main-main dengan perasaanku!"
Tanpa memberi kesempatan bagi Sasuke untuk menjelaskan atau mendinginkan suasana, Sakura berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Aku nggak mau kau bodohi lagi!" katanya, sebelum pintu apartemen Sasuke tertutup dengan keras.
Sasuke... terlalu pusing untuk mengatakan apapun.
Pikirannya langsung melayang.
Izumi… Izumi yang membuat semua ini jadi kacau.
Sasuke ingat betul malam itu—malam ketika Izumi mabuk dan tidur di apartemennya. Sasuke terlalu bodoh untuk berpikir kalau itu akan berujung pada masalah besar. Dengan cepat, ia menyadari bahwa Izumi pasti sudah memanipulasi situasi ini agar terlihat seperti mereka sedang berpacaran.
Tanpa pikir panjang, Sasuke mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Itachi, dengan suara yang gusar luar biasa.
"Itachi, ada masalah besar," jelasnya. "Hubunganku dengan Sakura terancam. Aku yakin ini semua ulah Izumi."
Itachi yang sedang berada di kantor, mendengarkan dengan seksama. "Apa maksudmu, Sasuke? Apa yang terjadi?"
"Aku barusan menerima paket," jawab Sasuke, "Ibu mengirimkan hadiah untuk Izumi, sepertinya Ibu mengira aku sudah berpacaran dengan Izumi. Itu karena aku ceroboh—membiarkan Izumi tidur di apartemenku waktu itu. Sekarang, Sakura marah besar dan pergi tanpa memberi aku kesempatan untuk menjelaskan." Jelasnya beruntun, kentara frustrasi dalam suaranya.
Itachi bisa merasakan ketegangan di suara adiknya. Dia mengambil jeda untuk memahami situasi dan meresponnya. "Kau harus menjelaskan semuanya ke Sakura, Sasuke," ujar Itachi tenang, namun penuh penekanan.
Tapi Sasuke tak memberi kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan. "Aku gak punya waktu buat itu sekarang, Itachi. Aku tahu ini semua ada kaitannya dengan Izumi. Aku akan cari dia sekarang juga dan selesaikan masalah ini."
Sasuke langsung menutup ponselnya tanpa menunggu balasan. Dengan langkah cepat, ia menuju apartemen Izumi, dengan mata yang menyala penuh amarah.
.
.
.
.
.
Pintu apartemen Izumi terbuka, dan Sasuke langsung melangkah masuk dengan wajah yang tidak dapat digambarkan dengan apapun kecuali kemarahan.
Izumi yang sedang duduk di sofa, menatapnya dengan ekspresi yang begitu tenang, seakan tahu betul bahwa ini adalah pertemuan yang tak terhindarkan.
Izumi tersenyum samar, nada suaranya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Ada yang bisa saya bantu, Sasuke?" tanyanya santai, meskipun Sasuke bisa merasakan hawa dingin dari tatapannya.
Tanpa basa-basi, Sasuke melabrak, "Kau!—" jarinya menuding, "—kau yang membuat Ibu berpikir kalau aku dan kau sudah bersama!"
Izumi hanya mengangkat bahu. "Oh, jadi kau akhirnya tahu juga?"
Sasuke mengerutkan kening, marah dan bingung. "Kenapa kau lakukan itu, Izumi? Kenapa kau memanipulasi semuanya?"
Izumi berdiri dan mendekat, wajahnya tetap tenang, bahkan terkesan seperti mengontrol situasi.
"Kenapa? Karena aku tidak akan membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja. Sasuke, kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu betapa sulitnya bagi seorang Uchiha untuk memilih pasangan? Tapi aku juga tahu satu hal—Itachi tidak akan pernah membiarkanmu merusak masa depan keluarga ini."
Sasuke menatapnya bingung, "Maksudmu?"
Izumi mengangkat alis, dan mulai menyusun kalimatnya dengan penuh perhitungan. "Jika aku tidak mendapatkanmu, aku akan pastikan Itachi yang menggantikan posisimu. Aku tidak akan menyerah begitu saja, Sasuke. Selama kau tidak mau menjelaskan keadaan ini ke Bibi Mikoto dan Sakura, aku akan terus menggertakmu."
Sasuke merasakan darahnya mendidih. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Rasanya... ingin sekali menampar sepupunya ini.
Izumi tersenyum dingin, meletakkan tangannya di pinggul. "Tentu kau tidak bodoh untuk membuka kartumu, kan, Sasuke? Tentang bagaimana kau backstreet dan berpura-pura tidak ada hubungan apa-apa dengan Sakura selama ini? Bibi... pasti akan sangat kecewa begitu dia tahu."
Sasuke merasa seakan ada beban berat yang menimpa dadanya. Namun, Izumi belum selesai.
"Dan aku akan memastikan, Itachi yang akan menggantikanmu, Sasuke. Jika kau benar-benar ingin meluruskan semuanya, kau harus buat pilihan sekarang. Jika tidak, aku akan memastikan semua rahasia ini keluar. Kamu dan Sakura tidak akan bisa kembali setelah itu."
Sasuke dapat merasakan sekujur tubuhnya gemetar—terlampau marah. Izumi bukan hanya seorang wanita yang licik, dia juga tahu cara memainkan permainan ini dengan sangat baik.
.
.
.
Sasuke berjalan keluar, tampak sudah meninggalkan unit apartemen Izumi. Ponselnya berbunyi. Panggilan dari Itachi. Sasuke menekan tombol jawab dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Sasuke menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Itachi. Izumi... dia benar-benar memojokkan aku. Dia bilang, aku harus menyerah, atau dia akan merusak semuanya."
Itachi terdiam sejenak, mengerti apa yang terjadi. "Kau tahu harus bagaimana, Sasuke. Jelaskan semuanya ke Sakura. Tidak ada jalan lain."
Sasuke menggertakkan giginya. Perasaan antara marah dan bingung, dilemma, menusuknya tanpa ampun.
Bagaimana mungkin dia membeberkan hubungannya dengan Sakura kepada ayah ibunya yang... yang begitu menjunjung standar tinggi klan itu?
—alasan utama mengapa dirinya menyembunyikan Sakura dari keluarganya, dari semua orang.
Baiklah jika menyoal menjelaskannya kepada Sakura. Tapi ancaman yang sebenarnya adalah... Izumi.
"Tapi Izumi juga akan mulai bermain denganmu, Kak. Dia benar-benar ingin mendapatkanmu."
.
.
.
.
.
Pintu apartemen Izumi terbuka dengan keras. Itachi masuk dengan langkah tegas, matanya penuh amarah yang tak bisa dia sembunyikan lagi. Izumi yang sedang duduk di sofa, tanpa ekspresi, memandangnya dengan santai, seolah tahu bahwa ini adalah konfrontasi yang sudah lama ditunggu.
Juga... sepertinya ada yang sudah berhasil memancing target utamanya.
"Jadi, Itachi," Izumi membuka suara, "Setelah Sasuke, kau datang juga."
Itachi menatapnya dengan tajam, darahnya mendidih. "Kenapa kau lakukan ini, Izumi? Kenapa harus memanipulasi semuanya dan menyebarkan kebohongan seperti ini?" suaranya tergetar, meski berusaha keras untuk tetap tenang.
Izumi berdiri perlahan, mendekat ke Itachi.
"Aku? Mengapa aku? Kau yang tidak tahu cara menjaga kehormatan keluarga Uchiha. Kau yang telah melupakan tanggung jawabmu sebagai anak sulung! Ini semua karena dirimu yang tidak pernah memikirkan keluarga ini—dan kau menyalahkanku!" Izumi meluapkan amarahnya, setiap kata seperti serpihan pedang yang menyakitkan.
Itachi menggertakkan giginya, berusaha menahan amarah yang semakin membara di dalam dirinya.
"Tanggung jawab? Apa yang kau bicarakan, Izumi?" jawabnya, suaranya tegang. "Dulu, aku mencoba melakukannya dengan baik, aku mencoba menjadi yang terbaik. Bahkan aku… aku pernah mencintaimu, Izumi. Tapi kau menolakku dengan alasan konyol. Kau bilang aku terlalu baik untukmu."
Izumi tertawa sinis, melangkah mundur, dan menatap Itachi dengan tatapan penuh ejekan.
"Oh, benar, aku menolakmu karena kamu terlalu baik untukku. Tapi sekarang lihat dirimu! Kau bahkan tidak bisa melindungi keluargamu dari kekacauan yang aku ciptakan. Kau hanya bisa terdiam, Itachi, berdiam diri saat aku mulai mengambil alih segalanya. Aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan kesempatan ini hilang begitu saja!"
Itachi menahan napas, matanya penuh perasaan yang sulit digambarkan.
"Izumi... kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau lakukan. Apa yang ingin kau buktikan dengan semua ini? Menghancurkan hubunganku, menghancurkan keluargaku, hanya demi permainan licik seperti ini?" tanya Itachi, suaranya mulai naik, terkontaminasi dengan kemarahan yang dia tahan begitu lama.
Izumi tertawa keras, menyeringai dengan penuh kebencian.
"Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi hakku! Kau berpikir bahwa aku akan membiarkan diriku kalah begitu saja? Tidak, Itachi. Aku tahu semua tentang keluargamu, tentang bagaimana Bibi Mikoto menginginkanku bersama anaknya, dan sekarang aku punya kesempatan untuk melaksanakan itu. Kau yang harusnya menjadi tunanganku, bukan Sasuke!" Raung Izumi. Suaranya kentara frustrasi. Ia baru saja memberi Itachi tujuan terdalamnya.
"... dan kalau kau tidak melakukannya, aku akan membuatmu melakukannya."
Itachi memandang Izumi dengan tatapan tak percaya, perasaan marah bercampur dengan kebingungannya.
"Kau mengancamku sekarang?" suaranya datar, namun terasa sangat tajam. "Sampai seberapa rendah kau akan pergi, Izumi? Menggunakan ancaman seperti ini terhadap adikku? Dan kalau aku menolaknya, kau mau mengungkapkan semua itu kepada ibuku? Mengatakan bahwa Sasuke selama ini memiliki hubungan rahasia dengan Sakura? Atau lebih buruk lagi, aku harus menggantikan Sasuke dan menjadi tunanganmu? Dengan alasan bahwa aku 'mencintaimu'?" Itachi hampir tak bisa menahan suara geram di tenggorokannya.
"Itu kan, rencanamu?" Itachi meraung.
Izumi mengangkat dagunya, menatap Itachi dengan kepercayaan diri yang penuh tipu daya. "Aku tahu persis bagaimana cara memutarbalikkan keadaan ini, Itachi. Kalau Sasuke mengaku dan menyerah pada Bibi Mikoto, dia akan dipaksa untuk melepaskan Sakura, karena—tentu saja kemungkinannya Bibi tidak akan pernah merestui hubungan mereka tanpa pengakuan yang jelas. Dan jika kau memilih untuk mengorbankan dirimu..."
Izumi mengambil jeda untuk menarik napas. "... Aku akan memastikan Bibi tahu bahwa kau yang sudah siap untuk menggantikan Sasuke. Bahkan jika itu berarti kau harus menyerahkan semua yang sudah kau bangun bersama Konan."
Itachi terdiam, wajahnya memucat. Mengingatkan dia tentang segala hal yang telah dia bangun bersama Konan, namun pada saat yang sama, ancaman ini begitu nyata. Izumi tahu betul bagaimana menekan tombol-tombol yang tepat.
Izumi melangkah lebih dekat, seakan melihat kemenangan di matanya. "Pilih, Itachi. Sasuke atau dirimu. Aku hanya ingin kau mengerti satu hal—baik kau atau adikmu yang akan berkorban. Jadi, kenapa tidak memilih untuk menjadi tunanganku dan selesaikan semuanya dengan cara yang baik?"
Tensinya memuncak, dan Itachi akhirnya merasa tak ada jalan keluar. Rasa benci yang begitu dalam terhadap Izumi dan kebenciannya terhadap apa yang telah dia lakukan pada keluarganya membuatnya sulit bernafas.
Tapi di hadapan ancaman ini, dia tahu dia harus melakukan sesuatu untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Itachi memejamkan matanya sejenak, lalu menghela napas berat.
.
.
.
.
"Aku setuju," kata Itachi, suaranya serak dan penuh ketegasan. "Aku akan menggantikan Sasuke."
Izumi tersenyum penuh kemenangan, seolah tak percaya bahwa akhirnya Itachi menyerah pada permintaannya. "Bagus. Aku tahu kau tidak akan mengecewakan aku."
Namun, seketika itu Itachi mencengkeram pergelangan tangan Izumi, cukup erat sampai Izumi merintih kaget, sakit. Detik berikutnya, Itachi mendekatkan wajahnya, cukup dekat untuknya berbisik ke telinga Izumi, mengudarakan sepenggal kalimat sedingin es.
"Kau boleh menguasai rencanamu, Izumi. Tapi satu hal yang harus kau catat. Sampai mati... aku tidak akan pernah jatuh kepada perempuan sampah sepertimu."
.
.
.
.
.
.
to be continued
.
Author's Words:
oke, now, 28 march, ultah akun ini, turned 8! Huhu, gak nyangka bisa awetttt ni akun wkwk -i have several ffn accounts and never used it properly and faithfully- AND SAKURA'S BIRTHDAY! Oh mami, my long last stay favorite female anime character! Wish i could make u oneshot birthday after this. Update ini dulu deh ya, meskipun di sini kau sedih :"
ee yooo, last word sebelum mudik, stay safe and healthy, fellas! Makasih sudah baca yaa.
