.

Love in Return

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by Rachel Cherry Giusette

.

.

.


Mansion keluarga Uchiha di luar kota terasa sepi malam itu. Lampu-lampu rumah yang menyala redup memberi kesan suram, seakan mencerminkan perasaan yang menggelora dalam hati Itachi. Setelah beberapa hari penuh kekacauan, Itachi memutuskan untuk kembali ke rumah keluarganya, menemui Mikoto dan Fugaku, untuk mengungkapkan keputusan yang telah ia buat dengan Izumi.

Di ruang tamu yang luas, Mikoto duduk di kursi dengan ekspresi tenang, namun jelas terlihat ada kegelisahan di matanya. Fugaku, yang selalu tampak tegas dan jarang menunjukkan emosi, duduk di meja kerjanya, menyimak setiap langkah yang diambil oleh Itachi dan Izumi. Ruangan itu dipenuhi keheningan yang tegang, seperti menunggu keputusan besar yang akan mengubah segala hal.

Itachi berdiri tegak di depan Mikoto dan Fugaku, menatap ibunya yang sepertinya sudah menunggu penjelasan lebih jauh. Izumi, yang berada di sampingnya, tetap diam, tetapi senyumnya menyiratkan kepuasan tersendiri. Perasaan itulah yang mendorong Itachi untuk mengambil keputusan yang sulit. Tak ada jalan kembali.

"Ibu, Ayah," kata Itachi dengan suara yang tegas namun penuh pengertian, "Aku ingin berbicara tentang Izumi."

Mikoto dan Fugaku mengangkat alis mereka, tanda mereka siap mendengarkan.

"Aku dan Izumi sudah memutuskan," Itachi memberi jeda, menghirup oksigen dalam upayanya meneguhkan diri. "Aku yang akan melamarnya. Aku ingin menggantikan posisi Sasuke."

Mikoto terdiam sejenak, matanya yang biasanya penuh kelembutan kini terlihat kebingungan. Tidak ada yang menduga bahwa Itachi, yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali, akan membuat keputusan secepat ini—dan bahkan lebih mengejutkan, dia menyatakan niat untuk menggantikan posisi adiknya.

Terlebih, Mikoto dan Fugaku selama ini sudah menerima keputusan Itachi yang masih belum berkeinginan untuk menikah, dan berdalih ingin fokus mengembangkan kantor cabang Uchiha di luar kota yang sedang dipimpinnya.

Izumi menambah penegasan, suaranya terdengar seperti madu, lembut namun penuh keyakinan.

"Kami sudah memikirkan ini dengan matang. Sebenarnya, aku lebih merasa nyaman dengan Itachi. Sasuke terlalu muda untukku. Aku lebih memilih Itachi." Izumi mengedipkan mata, menyiratkan bahwa ini adalah keputusan yang sudah ditunggu-tunggu.

Mikoto menatap mereka berdua dengan perasaan campur aduk. Pada satu sisi, dia sangat terkejut. Tidak pernah dia bayangkan bahwa putra sulungnya akan mengambil keputusan sebesar ini, dan juga, akan 'menikung' posisi Sasuke begitu saja. Namun, di sisi lain, dia bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tulus dalam keputusan Itachi, meskipun dia tidak tahu persis apa yang ada di baliknya.

Setelah beberapa detik yang terasa lama, Mikoto akhirnya membuka mulut. "Aku… tidak menyangka Itachi akan mengatakan ini, apalagi dengan begitu terbuka," katanya pelan. "Tapi kalau kalian sudah sepakat, aku rasa aku tidak bisa menentangnya. Tentu saja, aku berharap kalian bahagia."

Fugaku, yang sejak tadi diam, akhirnya meletakkan pulpen yang ia pegang dan menatap mereka semua. "Kalau memang itu keputusan kalian, maka kita harus segera atur acara pertunangan kalian," katanya dengan suara yang lebih berat, tetapi penuh kewibawaan.

Itachi menahan napas, mencoba untuk tetap tenang meskipun darahnya mendidih di dalam. Ada perasaan sakit dan amarah yang tak bisa dia sembunyikan, perasaan yang ingin dia salurkan pada Izumi, yang hanya tersenyum dengan aura kemenangan di wajahnya. Dia ingin mengacak-acak ruangan itu, menampar Izumi, atau bahkan keluar dan melarikan diri. Tapi di depan orang tuanya, Itachi tidak bisa melakukan itu.

Dengan senyum yang terlihat sangat sopan dan seolah penuh keyakinan, Itachi mengangguk pelan. "Baik, Ayah," jawabnya. Dia melirik Izumi sekilas, matanya menatapnya dengan pandangan yang penuh perasaan campur aduk. Di sana, Izumi, dengan senyum simpulnya yang penuh kemenangan, membuat lilitan imajiner di leher Itachi semakin mengerat.

Itachi merasa seperti dirinya sedang dipermainkan, dan dia tahu bahwa Izumi memegang kendali lebih banyak daripada yang dia inginkan. Namun, ini adalah jalannya—jalannya yang harus dia tempuh jika dia ingin menjaga kehormatan keluarganya dan menyelamatkan Sasuke dari semua yang telah terjadi.

.

.

.

.

.


Di rumah sakit, Konan tampak sangat sibuk, menjalani tugas sehari-harinya dengan penuh dedikasi. Namun, meskipun seluruh waktunya hampir tersita dengan pasien dan pekerjaannya, pikirannya tak bisa lepas dari Itachi. Sudah beberapa hari berlalu, dan Itachi tak pernah menghubunginya.

Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, bahkan tidak ada penjelasan mengapa dia menghilang begitu saja. Ini sangat tidak seperti Itachi yang selalu memberi kabar, selalu menjaga komunikasi. Ada yang salah, dan Konan tahu itu.

Saat itu, Konan baru saja selesai dengan shift-nya dan melihat Sakura, junior yang bekerja bersamanya di rumah sakit, sedang duduk di ruang istirahat. Wajah Sakura tampak lelah, dan matanya sedikit sembab, seperti baru menangis. Konan, yang melihat ini, merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Dia mendekat, duduk di samping Sakura, menatapnya dengan penuh perhatian. "Sakura, ada apa? Kau tampaknya tidak baik-baik saja," tanyanya dengan lembut, penuh keprihatinan.

Sakura terkejut sejenak, matanya membelalak melihat Konan yang tiba-tiba menanyakan hal ini. "Ah… tidak ada kok, Konan," jawabnya dengan canggung, mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya cukup kacau. Namun, Konan bisa melihat lebih dari itu.

"Apakah… hubunganmu dengan Sasuke baik-baik saja?" tanya Konan dengan hati-hati, seolah meraba-raba sesuatu yang tak bisa dia lihat dengan jelas, namun bisa dia rasakan.

Konan tahu, meski tidak sering berbicara tentang hubungan pribadi, Itachi pernah sedikit bercerita tentang adiknya, Sasuke, dan Konan tahu bahwa ada sesuatu yang ganjil di antara mereka. Apalagi melihat Sakura yang tampaknya terguncang, ada yang tidak beres.

Sakura terdiam sesaat, wajahnya berubah, dan kemudian dengan enggan, dia menghela napas panjang.

"Sasuke… sepertinya dijodohkan dengan seseorang dari keluarga Uchiha juga. Namanya Izumi," kata Sakura dengan suara yang hampir terdengar seperti bisikan, menahan perasaan yang berat di dadanya.

Konan terkejut mendengarnya.

Izumi?

Wanita yang mengancamnya itu?

Astaga…

Seketika benang-benang konklusi tersambung satu sama lain di dalam kepala Konan. Dan tentu saja, sesuatu yang menjelaskan alasan mengapa pria-nya menghilang begitu saja.

"Sakura," Konan memulai dengan hati-hati, "Izumi itu… bukan seseorang yang baik. Aku rasa ada banyak hal yang belum kau ketahui tentang dia dan bagaimana rencananya." Konan mengedipkan matanya perlahan, merasakan adanya perasaan cemas yang tumbuh dalam dirinya. "Aku rasa, ada kaitannya dengan Itachi. Dia pasti tahu sesuatu yang kita tidak tahu."

Sakura semakin bingung, namun di sisi lain, rasa khawatir semakin tumbuh dalam dirinya. "Tapi… apa maksudmu, Konan? Kenapa kau bisa bilang seperti itu?"

Konan menghela napas, dan setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk berbicara lebih terbuka. "Karena aku tunangan Itachi," jawabnya tegas, dan itu membuat Sakura terkejut luar biasa. Sakura menatap Konan dengan mata terbuka lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Itachi… tunanganmu?" Sakura mengulang, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Tapi… kenapa Sasuke tidak memberitahuku? Kenapa aku tidak tahu tentang kalian?"

Konan mengangguk, mencoba menjelaskan dengan lebih jelas. "Kami sudah lama bersama, tapi ada banyak hal yang sedang terjadi, dan Itachi… entah kenapa, dia menghilang tanpa kabar. Aku rasa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi, dan aku khawatir ini semua berkaitan dengan Sasuke dan Izumi."

Mendengar penjelasan Konan, Sakura mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih rumit dari yang dia kira.

"… jadi, kau ingin aku datang menemui Sasuke? Memberinya kesempatan untuk menjelaskan?" tanya Sakura, mulai tampak sedikit lebih tenang setelah mendengar cerita dari Konan.

Konan mengangguk mantap. "Ya, Sasuke perlu menceritakan semuanya padamu. Ada banyak yang belum dia ungkapkan, dan aku yakin kau berhak tahu. Karena… ini ada kaitannya dengan keluarga mereka. Itachi dan Sasuke pasti terjebak dalam situasi yang sangat sulit sekarang."

Sakura berpikir sejenak, kemudian dengan perlahan dia mengangguk. "Oke, aku akan coba untuk bertemu dengannya."

.

.

.

.

.

Sakura akhirnya setuju untuk bertemu dengan Sasuke, yang sedang bergulat dengan perasaan bersalah dan penyesalan. Di sisi lain, Sasuke merasa sangat bodoh dan kesal pada dirinya sendiri. Dia tahu bahwa dia telah membiarkan banyak hal menjadi rumit, dan kini, dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa semuanya telah keluar kendali.

Saat Sakura akhirnya menemui Sasuke, suasana menjadi tegang. Sasuke mencoba menjelaskan bahwa dia tidak pernah berniat menyembunyikan hubungan mereka, namun dalam hatinya, dia juga merasa sangat terbebani dengan segala keputusan yang telah terjadi—terutama terkait dengan Izumi, dan apa yang telah dia lakukan untuk menjaga kehormatan keluarga Uchiha.

Sasuke, dengan mata yang penuh penyesalan, berkata, "Aku… aku tidak tahu harus bagaimana, Sakura. Itachi melakukan semua ini demi aku, tapi aku tidak bisa biarkan dia berkorban untukku. Aku terlalu bodoh untuk melihatnya. Izumi… dia sudah merencanakan semuanya, dan aku… "

Sakura menatapnya, hatinya bergejolak antara rasa marah dan kasihan. "Sasuke… kau harus bicara dengan Itachi. Kakakmu tidak seharusnya menanggung semua beban ini sendirian."

Sasuke hanya mengangguk, namun perasaan dalam dirinya semakin berat. "Aku akan berbicara padanya," jawabnya, meskipun dia tahu itu tidak akan mudah.

Persetan dengan restu orang tuanya nanti. Sasuke akan melakukan sesuatu setelahnya.

.

.

.

.

.


Sasuke mencoba menghubungi kakaknya, namun tak ada jawaban. Di kantor, Itachi berdalih sedang menangani urusan penting di induk perusahaan dan harus kembali ke Konoha. Sasuke bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah, bahwa keputusan besar telah diambil oleh Itachi, dan Itachi sepertinya sudah memutuskan jalannya tanpa memberi kesempatan pada Sasuke untuk ikut serta dalam proses itu.

Sasuke merasa tidak berdaya. Dia masih memiliki tanggung jawab di cabang perusahaan, dan tentu saja, dia tidak bisa seenaknya mengikuti kakaknya yang pergi ke Konoha. Rasanya seperti dunia tiba-tiba runtuh, dan Sasuke tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Shisui juga mengalami hal yang sama. Ia mencoba menghubungi Itachi, namun tak ada balasan.

Pada suatu malam, saat Sasuke sedang berada di apartemennya, telepon berbunyi. Dia mengangkatnya dengan harapan bisa mendengar suara kakaknya, atau mungkin sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya. Namun yang menghubunginya adalah Mikoto, ibu mereka.

"Halo, Sasuke… Apakah kau baik-baik saja, Nak? Apakah kau tidak merasa keberatan jika Izumi memilih kakakmu?" Suara Mikoto terdengar khawatir dan penuh pertanyaan. Sasuke hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

Sasuke terdiam sejenak, hatinya seperti ditusuk.

"Ibu… apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sasuke dengan suara serak, menahan amarah dan kebingungannya yang memuncak.

Mikoto melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, "Aku hanya ingin tahu, apakah kau baik-baik saja dengan keputusan itu? Apakah kau yakin tidak ada yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan keputusan kakakmu dan Izumi?"

Dari sanalah Sasuke akhirnya menyadari semuanya—Itachi telah memilih untuk menggantikan posisinya.

Semuanya terjadi pada malam itu, malam di mana Itachi mengkonfrontasi Izumi dan akhirnya menyetujui untuk menggantikan posisi Sasuke sebagai tunangan Izumi. Dan sekarang, mereka berdua pulang ke Konoha, membawa keputusan itu untuk meminta restu dan merencanakan pertunangan mereka.

Perasaan yang menghancurkan langsung menggulung Sasuke. Rasa sakit itu datang begitu mendalam, karena dia tahu, tanpa ada yang mengatakan apapun, bahwa Itachi telah berkorban demi menjaga kehormatan keluarganya dan menjaga hubungan Sasuke dengan Sakura tetap aman.

Semua yang dilakukan Itachi ini adalah pengorbanan besar untuk adiknya, dan Sasuke merasa sangat bodoh dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Shisui, yang mendengarkan cerita Sasuke saat itu, juga merasa bingung dan frustrasi. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi semua ini. "Sasuke, kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini… bukan hanya tentang Izumi dan Itachi. Ada sesuatu yang lebih besar di balik ini semua," ujar Shisui dengan suara penuh ketegasan. Namun, Sasuke tidak bisa melihat jalan keluar dari situasi ini. Segala sesuatunya terasa terbalik.

.

.

.

.

.


Konan merasa dunia seperti runtuh di sekitarnya. Beberapa hari setelah Itachi menghilang tanpa penjelasan, dan perasaannya yang gelisah semakin meningkat, dia akhirnya mendapatkan kenyataan yang menyakitkan.

Sasuke dan Sakura datang kepadanya dengan berita yang mengguncang: Itachi telah meminta restu dari keluarga Uchiha untuk menggantikan posisi Sasuke sebagai tunangan Izumi, dan acara pertunangan mereka akan digelar akhir minggu ini.

Konan duduk terdiam di ruangannya, mendengar kata-kata Sakura yang terucap dengan sedikit ragu. Wajah Sakura memucat, tetapi ia tetap berusaha tegar. "Itachi bilang… dia sudah memutuskan untuk menggantikan Sasuke, Konan. Aku tahu ini sulit, tapi pertunangan mereka akan segera dilaksanakan."

Mata Konan terasa berat, seakan semuanya berputar dalam kegelapan.

Itachi… Itachi sudah memilih untuk berkorban demi adiknya. Tipikal Itachi yang dikenalinya, seseorang yang tidak pernah bisa menahan diri saat orang yang ia cintai membutuhkan pengorbanan. Tapi tetap saja, ini sangat terlambat untuk dia terima.

.

.

.

Dulu, ketika Itachi dan Konan pertama kali bertemu, mereka berdua begitu memahami perasaan masing-masing. Mereka saling mengisi kekosongan, berbagi tawa, dan tentu saja, berbagi perasaan yang dalam. Itachi tak pernah berbohong padanya, dan dia tahu betul bahwa cinta Itachi untuk keluarga, terutama untuk Sasuke, adalah yang terkuat. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa akhirnya, Itachi akan memilih berkorban dengan cara ini.

Konan mengingat saat-saat pertama kali mereka berbicara tentang masa depan mereka, jauh dari kehebohan keluarga dan perang batin mereka. Itachi pernah berjanji, bahwa jika suatu saat harus memilih antara kebahagiaan pribadi dan keluarga, dia akan memilih keluarga.

Tapi apakah itu berarti Konan harus merelakan dirinya begitu saja? Terasa sangat pahit baginya.

Dia bisa mengerti, bahwa jika berada di posisi Itachi, dia pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Ia tahu benar sifat kekasihnya—tidak akan pernah membiarkan adiknya terjebak dalam kekacauan hanya karena rasa bersalah. Itachi memang selalu berusaha menjadi pelindung bagi mereka yang ia cintai. Namun, bukan berarti Konan bisa mengabaikan perasaannya begitu saja. Ia merasa terluka, dan entah kenapa, perasaan itu begitu kuat menggerogoti hatinya. Mengingat Yahiko, mantannya yang menikah dengan teman masa kecilnya, membuat luka itu semakin dalam. Kembali ditinggalkan untuk kedua kalinya.

Konan menatap cermin, merasa matanya mulai berkaca-kaca. Tidak. Dia tidak bisa membiarkan dirinya begitu saja tersingkir dalam hidup Itachi. Jika Itachi berkorban untuk adiknya, maka ia juga harus berkorban untuk dirinya sendiri. Cinta mereka bukanlah sebuah permainan, dan ia tidak akan menyerah begitu saja.

Konan tahu bahwa walaupun Itachi tidak mencintai Izumi, dia tetap akan berusaha melindungi keluarga dan menjaga kehormatan mereka. Itu adalah Itachi.

Tapi, jika tidak ada yang bertindak sekarang, semuanya akan menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Itachi mungkin merasa bahwa dia melakukan hal yang benar, namun Konan tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan dalam permainan yang tidak adil ini.

Saat dia mendengar kabar bahwa pertunangan itu akan dilaksanakan secepatnya, Konan merasa lemas, tetapi dia tahu satu hal: dia harus bertindak. Tidak ada waktu untuk menangis atau berlarut-larut dalam perasaan sakitnya. Ini sama sekali bukan dirinya. Dia adalah seorang wanita yang kuat, dan dia akan berjuang untuk masa depannya, untuk cinta yang seharusnya menjadi miliknya.

Di tengah malam yang hening, setelah Sasuke dan Sakura pergi, Konan membuka tasnya dan mengambil ponsel. Ada satu nomor yang belum pernah dia hubungi selama beberapa waktu—Itachi. Dengan hati yang penuh keraguan, dia menekan tombol untuk menelepon.

Nada dering pertama, kedua, ketiga… tidak ada yang mengangkat. Masih sama seperti berhari-hari belakangan Itachi tidak pernah meresponnya. Menghilang sepenuhnya.

Dia tidak bisa hanya menunggu Itachi kembali, karena waktu semakin sempit. Sasuke dan Sakura sudah memberikan gambaran jelas tentang apa yang terjadi. Akhir minggu ini, semuanya akan berubah. Jika dia tidak bertindak sekarang, dia akan kehilangan Itachi… selamanya.

Konan mengangkat ponselnya sekali lagi, mengirimkan pesan singkat kepada Shisui. "Bantu aku."

.

.

.

.

.


to be continued

.


Author's Words:

break from ied holiyay, back to the town! Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin aku ucapkan untuk semua readers terhormat, hiks! #sungkem

one last chap to the final. Just in my thought, SasuSaku di sini pasif bener memang. Ya sudah lah ya, wkwkwk.

thanks for reading this far, minna! #bowed