Summary:

Selama 26 tahun hidupnya, Harry Potter, seorang Omega, dengan tenang menjalani kehidupan lajangnya. Ia tak peduli dengan perkataan orang yang terus menyuruhnya untuk mencari seseorang. Hingga pertemuan kembali dengan Draco Malfoy mengubah segalanya. Sebuah ciuman tak beralasan membangkitkan getaran yang tak terhindarkan. Pertemuan mereka perlahan menuntun pada malam-malam panas. Hasrat pun tak lagi terbendung. Berita buruknya, Harry tidak menduga jika ia akan punya anak secepat ini. Sekarang, Harry harus menerima kehadiran Draco di hidupnya, dengan enggan. Setidaknya begitulah yang ia akui.

.


Chapter 01: Reunion


"Sorry! I really am sorry!" Seorang pemuda berlari keluar dari mobilnya, membuat rambut merahnya berkibar. Ia berhenti dengan napas terengah-engah begitu sampai di depan dua orang, seorang perempuan dan pemuda lainnya, yang menunggu sambil melipat tangan di dada. Jelas dari wajah keduanya, mereka sudah lelah karena menunggu sedari tadi.

Satu-satunya perempuan di antara mereka menghela napas sambil menggeleng. "Kalau tahu kau akan terlambat begini, Ron, sebaiknya kita pergi sendiri-sendiri saja," ucapnya.

"Maaf, Hermione, tapi aku tidak bisa mengatakan 'tidak' pada ibuku yang memaksa mengantarkannya ke swalayan," balas Ron, dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal pada Hermione. Ia tidak benar-benar marah pada gadis itu, tapi ia sudah berusaha untuk datang secepat mungkin.

"Sudah-sudah, jangan memperpanjang masalah, kita sudah terlambat dari tadi," kata pemuda berkacamata yang sedari tadi hanya diam. Ia segera mengajak kedua sahabatnya itu untuk berangkat.

"Berhenti bersikap seolah-olah kau tidak muak padanya, Harry." Hermione segera mengikuti Harry yang sudah masuk duluan ke mobil Ron. Ia duduk di depan, di kursi penumpang.

Harry yang baru saja mendudukkan pantatnya di bangku belakang, mendengus. "Aku sudah sangat muak, makanya aku terlalu lelah untuk memarahinya," balas Harry. "Lagi pula, dia tidak akan mendengarkanku. Dia hanya peduli pada perkataan satu orang di dunia ini," ucap Harry yang tiba-tiba memanjang-manjangkan nada bicaranya. Ia kemudian melirik Ron yang memelototinya, menyuruhnya untuk diam.

Tidak mau mendengar omelan Hermione tantang pentingnya menepati janji, Ron segera melajukan mobilnya. Ia menyetel musik agar bisa membuat Hermione berhenti berbicara dan bernyanyi saja sebagai gantinya. Tapi Hermione tidak tertarik untuk bernyanyi, ia teringat sesuatu yang seharusnya sudah ia tanya dari tadi.

"Kau membawa obatmu, kan?" tanya Hermione membalikkan badannya, bicara pada Harry.

Harry mengangguk, tapi wajahnya seolah mengatakan, "Kau tidak perlu bertanya setiap saat."

"Aku tahu kalau kau kesal karena aku bertanya, Harry."

Tubuh Harry merinding karena tidak menduga jika Hermione akan membaca pikirannya dengan tepat. "Tapi aku serius saat mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Ini belum saatnya masa heat-ku datang."

Hermione mengedikkan bahu. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi," balasnya. Ia memperhatikan jalan dan menoleh ke samping, melirik Ron. "Terlebih lagi, sahabat yang selalu ada di dekatmu adalah seorang Alpha."

Ron melirik sekilas pada Hermione. Ia berbicara dengan pandangan tak lepas dari jalan. "Aku bukan seorang Alpha yang akan melepaskan nafsuku pada siapa pun, Hermione. Apalagi pada Harry. Biarlah aku tersiksa oleh rut daripada harus bersama dengan dia."

Harry tertawa meledek. "Lucu sekali karena aku merasa tersinggung. Seolah aku mau jadi pasanganmu," cibirnya.

Pertengkaran kedua sahabat Alpha-Omega itu berlanjut sedikit lebih panjang. Hingga satu-satunya Beta di sana, Hermione, menginterupsi.

Hermione kembali menghadap ke belakang dan bicara kepada Harry. "Lalu, kau mau pasangan yang seperti apa?" tanyanya dengan bersemangat. Terlalu bersemangat hingga membuat Harry lelah bahkan sebelum mendengar lebih lanjut pertanyaannya.

Kontras dengan raut wajah bersemangat Hermione, Harry memutar mata malas, sudah sangat bosan dengan pertanyaan ini. "Kalau kau ingin bertanya tipe pacarku, kau tahu apa jawabanku, Hermione."

Jawaban Harry membuat Hermione menghela napas. Tentu saja ia tahu jawaban apa yang akan diberikan sahabatnya itu. "Setidaknya cobalah untuk mendekati seseorang, Harry. Apa kau tidak bosan sendirian?" Hermione bertanya seolah ia tidak pernah menanyakan hal yang sama sebelumnya.

Harry pun pada akhirnya memberikan jawaban yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia hanya akan mengedikkan bahu dan bersikap seolah pertanyaan itu tidak penting baginya. Atau bisa Harry bilang, ia benar-benar tidak peduli.

Hermione juga sudah mengerti dengan arti diamnya Harry. Ia tidak bisa mengharapkan jawaban yang berbeda hari ini. "Padahal aku ingin punya keponakan bermata hijau seperti milikmu, Harry."

"Well, suruh saja Ron mencari pasangan bermata hijau," balas Harry sepenuhnya bercanda.

Ron memutar mata mendengar candaan sahabatnya itu. Ia menatap tajam ke arah Harry sekilas. "Jangan bawa-bawa aku. Lagi pula, daripada hijau, aku lebih suka mata berwarna coklat." Ron berdeham, membuat kalimat terakhirnya tidak begitu terdengar jelas. Ron kemudian melirik Hermione, tapi yang dilirik malah sibuk dengan ponselnya.

Ternyata Hermione sedang mencari sebuah foto di ponselnya. Ia menunjukkan foto seorang laki-laki, rekan kerjanya di kantor, kepada Harry. "Dia seorang Alpha. Dia pernah melihat fotomu di media sosialku. Dan, yah, dia langsung bertanya apa kau punya pacar atau tidak."

Harry hanya diam saja, menunggu Hermione lanjut berbicara. Tapi gadis itu masih terus menunjukkan foto itu tanpa bicara lagi. Jadi, Harry menduga jika Hermione sudah selesai bicara. Harry pun mengangguk dengan malas.

Anggukan yang lebih lemas daripada tali yang putus itu membuat Hermione kesal. Beruntung Hermione bisa menahan dirinya dan tidak meninju wajah menyebalkan Harry. Ia mendengus. "Sepertinya aku benar-benar tidak akan pernah memiliki keponakan bermata hijau."

Ron tertawa pelan. Ia memutar setir mobilnya, bersiap memarkirkan mobil. "I feel sorry for your future partner, Harry."

Harry hanya mengedikkan bahu. "Siapa tahu aku memang tidak punya." Harry pun langsung membuka pintu begitu Ron sudah selesai memarkirkan mobil.

"Dia benar-benar menyebalkan," gerutu Hermione begitu Harry sudah berada di luar.

Ron kembali tertawa. "Kita hanya bisa berharap jika dia akan segera bertemu jodohnya," balas Ron dan kemudian ikut keluar dari mobil.

Kini mereka bertiga sudah keluar dari mobil dan berdiri di depan sebuah gedung yang dari luar saja sudah terlihat mewah. Ketiganya berjalan bersama menuju ruangan yang sudah dipesan khusus untuk acara reuni sekolah menengah mereka. Baik Harry, Hermione, maupun Ron, sedikit merasa gugup saat mereka berada di depan pintu. Siapa pun pasti gugup saat akan bertemu dengan teman-teman lama yang kurang lebih sudah sepuluh tahun tidak mereka temui.

Saat ketiganya masuk ke ruangan yang ramai tersebut, rasa gugup itu tiba-tiba menghilang. Mereka langsung merasa senang saat melihat kembali wajah-wajah familiar yang sekarang sudah bertambah dewasa.

Orang-orang yang berada di sana pun langsung menoleh ke arah mereka bertiga. Beberapa dari mereka bahkan sudah berlari menghampiri ketiga sahabat tersebut. Siapa juga sih, yang akan melupakan trio paling populer di sekolah itu? Mereka yang tidak begitu dekat dengan ketiganya atau bahkan hanya salah satu dari teman mereka saja tidak akan lupa siapa ketiga trio pembuat keributan ini. Ah, tentu saja keributan yang mereka buat bukanlah sesuatu yang buruk. Sebagian besar, bukanlah sesuatu yang buruk.

Dengan cepat, ketiganya berbaur dengan teman-teman mereka. Saling mengangkat gelas dan bersulang, lalu berbagi kabar masing-masing. Benar-benar tipikal pertemuan para remaja yang kini telah beranjak dewasa.

Harry sangat menikmati waktunya mengobrol dengan semua teman lama yang ditemuinya. Harry juga tidak mempermasalahkan feromon yang menguar di dalam ruangan. Ini sebuah pesta, pasti ada yang akan menarik perhatian dengan mengeluarkan feromon-nya. Tapi, Harry mendapatkan sebuah masalah kecil.

Tidak tahu sejak kapan dan entah bagaimana, Harry mencium aroma oud yang amat familiar. Sudah beberapa tahun Harry tidak lagi mencium aroma dia sedekat ini. Tapi, entah karena apa, Harry langsung tahu jika tebakannya tidak akan salah. Dia ada di sini.

Penciuman Harry tidak salah, begitu pula apa yang dipikirkannya. Pintu terbuka, dan seorang pemuda berjas hitam yang kontras dengan rambut pirang dan kulit pucatnya berjalan masuk. Beberapa pasang mata menatapnya, dan mereka terdiam sesaat.

Selalu sama. Harry tidak tahu apa yang dipikirkan oleh para perempuan dan Omega itu. Kenapa mereka selalu bertingkah seolah Draco Malfoy adalah sosok mulia yang hanya bisa dikagumi dari jauh?

Wajah yang tampan? Harry tidak akan mengatakannya keras-keras, tapi ya, lumayan tampan. Uang yang tidak ada habisnya? Dia seorang Malfoy, keluarganya bahkan dekat dengan keluarga kerajaan. Kharisma? Dengan feromon yang sangat mengintimidasi itu, dia benar-benar seorang Dominant Alpha yang sempurna.

Ya, dengan semua poin yang diam-diam diakui olehnya itu, sebenarnya Harry tahu pasti alasan kenapa Draco bisa punya banyak pengagum. Dan Harry berpikir bahwa itu sangat menyebalkan. Satu-satunya hal yang tidak Harry mengerti adalah, kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Draco. Saat mata hijaunya bertemu pandang dengan mata kelabu Draco, barulah Harry mengalihkan pandangannya. Sungguh menyebalkan karena Harry merasa bodoh. Ia ketahuan sedang melirik Draco—oleh Draco sendiri.

Tanpa menoleh pun, Harry tahu jika Draco kini berjalan mendekat ke arahnya. Harry tidak bisa menahan helaan napas begitu Draco sudah berada di sampingnya. Sungguh sebuah kesialan. Setidaknya bagi Harry.

"Lama tidak bertemu, Malfoy." Dean yang tadi tengah mengobrol dengan Harry menyapa Draco yang bergabung dengan mereka. Dean menjulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan.

Kalau mereka masih remaja yang kekanak-kanakan seperti dulu, Draco mungkin tidak akan menerima jabat tangannya. Tapi mereka sudah menjadi pria dewasa sekarang. Siapa pun mereka dulu, sekarang adalah dunianya bisnis. Orang-orang yang dulu membencimu mungkin akan bersikap manis agar bisa mendapatkan kerja sama yang menguntungkan.

Namun Draco tidak peduli dengan tujuan sebenarnya Dean menyapanya. Entah untuk bisnis atau ia memang hanya bersikap ramah, Draco tetap menerima jabat tangannya. "Lama tidak bertemu, Thomas."

"Tidak kusangka jika orang besar sepertimu benar-benar akan datang ke acara kecil ini," Dean berbasa-basi.

Harry diam-diam memutar matanya. Ia senang berbicara dengan Dean, tapi Harry mengutuknya yang malah mengajak Draco untuk mengobrol.

Draco mengedikkan bahu, kemudian bicara. "Aku juga tidak pernah menduga jika aku akan bersedia untuk datang. Padahal, ada satu orang yang akan sangat merusak pemandangan di acara ini," ucapnya dengan nada datar. Tapi raut wajahnya tidak sedatar itu. Ia melirik Harry, kemudian menyeringai dan mendengus.

Dean tentu saja tahu pada siapa perkataan itu ditujukan. Siapa juga yang tidak tahu masa lalu Draco Malfoy dan Harry Potter. Cerita tentang mereka berdua seolah menjadi legenda di sekolah menengah. Sangat mustahil mereka hidup damai tanpa ada perang besar yang terjadi di antara keduanya.

Harry kini tidak lagi menyembunyikan raut wajah malasnya. "Sepertinya hanya luarmu saja yang bertambah tua, dalamnya masih sama. Masih menyebalkan seperti dulu." Kini giliran Harry yang tersenyum meledek.

Sebuah kejutan, Draco tersenyum dan mengangguk. "Ya, mungkin saja. Tapi kau juga sama," katanya membalas Harry. Draco melihat Harry dari atas hingga bawah. "Kau masih belum mengubah cara berpakaianmu yang norak dan hambar ini? Huh, benar-benar seorang pria yang tak punya selera."

Kalau saja mereka tidak sedang berada di sebuah pesta yang damai ini, mungkin Harry sudah menghajar Draco dari tadi. Setidaknya Harry ingin menendang kaki yang sialan panjang itu hingga Draco tidak bisa berdiri lagi. Enak saja dia mengejek cara berpakaiannya. Sementara si Alpha sendiri selalu mengenakan pakaian monokrom di setiap acara. Yah, walaupun harus Harry akui jika warna hitam itu membuatnya bersinar. Namun Harry berhasil menahan dirinya. Hanya senyum di wajahnya saja yang berhasil menghilang. "Pergilah sebelum aku patahkan lehermu, Malfoy."

Senyum di wajah Draco semakin lebar. Kemarahan Harry berarti kemenangan baginya. "All right, Mr. Potter," balas Draco dengan suara menyebalkan. Ia mengangkat tangannya, melambai singkat pada Dean dan Harry. "Later." Dan Draco pun berbalik, pergi menuju teman-teman lamanya.

Tidak sedetik pun Harry mengalihkan pandangannya dari Draco. Alisnya menekuk saking kesalnya. Bibirnya terus bergerak, mengutuk Draco.

"Kau bisa memecahkan gelasnya, Harry." Dean membawakan kembali kesadaran Harry.

"Oh, ah, yeah, sorry," balas Harry yang akhirnya melemaskan genggaman pada gelasnya. Harry kemudian kembali mengobrol dengan Dean, tidak lagi mempedulikan Draco. Atau, memang begitulah yang seharusnya. Karena mau bagaimanapun, Harry tidak pernah mendapati dirinya berhenti mikirkan Draco Malfoy.

.

.

To be continued

.

.


.

A/N

Hello everyone! Selamat datang di work baru aku "Sun Shower: Take Me Home"! Yeay! Yeay!

Oke, karena baru chapter satu, kita mulainya pelan-pelan aja ya... Slow burn romance is my way! Aaaaand btw, ini pertama kalinya aku nulis ABO universe. Bacanya sih, udah sering. Makanya aku kaget sama diri sendiri karena ternyata gak pernah sekalipun nulis ABO universe:" Aku gak expert nulis alpha beta omega begini, jadi tolong dimaklumin aja ya, heheh... Mungkin vote dan komennya bisa memberi motivasi biar aku makin semangat ngerjain work ini:v /plak!

Hmm... aku update sekali seminggu ya, guys (itupun kalau lagi gak ada halangan). Dan mungkin akan ada update yang mana dalam satu hari aku publish dua chapter sekaligus. Tenang! Aku gak bakal hilang tiba-tiba kok! Janji!

So, jumpa lagi next week guys~

See you!

Virgo