Chapter 03: His Lingering Touch
Kalau sudah bekerja, Harry biasanya akan sulit untuk mengalihkan fokus. Ia hanya akan merespon saat orang lain menghampirinya soal pekerjaan. Namun, sekarang Harry tidak bisa fokus lebih lama lagi. Ron, yang seharusnya sudah keluar dari ruangannya sedari tadi, terus berdiri di depan mejanya. Hanya berdiri, tanpa mengatakan apa-apa.
Harry tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Harry menghela napas dan menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan malas. "Apa lagi? Bukannya kau cuma butuh tanda tanganku?" tanya Harry pada Ron.
Ron mengangguk singkat. Tentu saja ia hanya membutuhkan tanda tangan Harry, dan seharusnya ia memang sudah keluar dari tadi. "Ada yang membuatku penasaran sejak kemarin."
Mendengar kata "kemarin" membuat Harry sedikit gugup. Ia langsung teringat pada seorang pria berambut pirang. Si pirang sialan yang mencuri satu ciuman darinya.
"Yah, sebenarnya aku juga penasaran. Kau terus menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Kuduga kau punya sesuatu yang ingin ditanyakan." Tunggu, kenapa pula Harry menerima topik pembicaraan ini?
Ron mengangguk, membenarkan perkataan Harry. Ron yang sebenarnya baru saja berdiri, kembali duduk di kursi di depan meja kerja Harry. "Ada yang berbeda dari feromon-mu."
Beruntung Harry sudah terbiasa menjaga raut wajahnya untuk urusan pekerjaan, sehingga Harry dengan tenang tidak memperlihatkan keterkejutannya di depan Ron. Harry juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutuk dirinya sendiri. Ron adalah seorang Alpha yang sudah mengenalnya sebagaimana keluarga sendiri. Seharusnya Harry sudah tahu. Mustahil Ron tidak menyadari ada perubahan pada dirinya.
"Hm? Apa maksudmu?" Harry membalas perkataan Ron dengan pertanyaan. Namun Harry tidak bisa menatap Ron terlalu lama. Karena itulah Harry kembali menjatuhkan pandangannya pada layar komputer di depannya.
"Apa mungkin ada Alpha yang mendekatimu selama pesta kemarin?" tanya Ron.
Ya, ada, dan dia orang yang tidak terduga. Kau pasti akan histeris saat kuberitahu kebenarannya. Harry mendengus, seolah mengatakan bahwa pertanyaan Ron sangatlah konyol. "Kau mengenalku, Ron. Aku tidak membiarkan sembarang orang menyentuhku begitu saja."
"Ya, aku terlalu mengenalmu sampai-sampai aku tahu jika kau tidak pernah ingin dekat dengan orang lain selain keluarga dan sahabatmu," balas Ron. Ia menggaruk belakang kepalanya, bingung harus bicara seperti apa. "Tapi... Kenapa aku bisa merasakannya? Seperti... Seperti ada Alpha yang 'menandaimu'."
Harry tidak membalas untuk beberapa saat. Ia melepaskan pandangan dari monitornya dan menatap Ron. "Dan?" tanyanya balik. "Kalaupun seorang Alpha mendekatiku, Ron, bukan berarti aku benar-benar berkencan dengannya, kan?"
Yang dikatakan Harry memang benar. Scenting yang dilakukan oleh, siapa pun Alpha itu, tidak berarti bahwa ia dan Harry berpasangan sekarang. Tapi Ron tidak bisa menerimanya begitu saja. Ada yang berbeda dari Harry, bukan hanya soal feromon, tapi sesuatu yang lain.
"Kau tahu apa yang membuatku makin kepikiran?" Ron kembali menyuarakan kebingungannya. "Aku sepertinya mengenal feromon itu."
Jari-jari Harry yang tadi bergerak leluasa di atas keyboard langsung terdiam. Jantung Harry berdegup sangat kencang. "... Ha?" Harry hanya bisa berpura-pura tenang.
Ron mengangguk, namun kemudian kedua alisnya menekuk. "Tapi aku tidak tahu siapa orangnya. Karena kau mulai mendapatkan feromon Alpha itu sejak acara reuni kemarin, pastilah dia salah satu dari teman sekolah kita. Tapi aku tidak tahu feromon siapa itu."
Harry tidak bisa lebih lega dari ini. Ia menahan dirinya untuk tidak menghela napas terlalu keras. Sungguh, Harry terkadang harus berterima kasih akan kelambanan Ron. Kalau saja Ron sedikit lebih peka, mungkin ia sudah tahu feromon siapa yang menempel di tubuhnya. Bagi kebanyakan orang, mudah untuk mengenali feromon Draco karena memang begitu kuat dan... memikat.
"Dan kau tahu apa yang lebih aneh?" Ron tiba-tiba terlihat lebih bersemangat. "Kau berbeda!"
"Well, kau sudah mengatakannya tadi."
"Tidak, bukan itu maksudku." Ron menggelengkan kepalanya. Ia mencari kata-kata yang harusnya ia katakan. Namun Ron tetap tidak bisa mengatakannya. Sesuatu yang berbeda itu ada, tapi ia tidak tahu apa itu. Karena itulah Ron tidak bisa menjelaskannya. Setidaknya, Ron tahu jika sesuatu yang berbeda ini bukanlah hal yang buruk.
Pusing sendiri melihat sahabatnya itu kesulitan, Harry menghela napas. "Kembalilah bekerja, Ron."
Ron pun menyerah. Setidaknya untuk saat ini. Ron berdiri, mengambil dokumen yang seharusnya sudah ia bawa keluar dari tadi bersamanya.
Sekarang, setelah Ron menutup pintu, Harry sendirian di ruangannya. Ia menghela napas lelah dan menyandarkan punggungnya. Padahal ini masih pagi, tapi tubuhnya sudah sangat lelah, ingin segera beristirahat.
Namun lebih dari apa pun, Harry merasa lega. Jantungnya yang tadi berdebar kencang karena gugup mulai kembali tenang. Harry tahu jika suatu saat Ron akan membahas soal feromon asing dari tubuhnya, dan Harry sudah bersiap-siap. Harry hanya tidak menyangka jika ia akan segugup ini.
"Hah..." Harry mendesah lelah. Matanya menutup sebentar dan kemudian kembali terbuka. Harry merasakannya. Memang ada sesuatu yang aneh pada dirinya, dan ia tahu apa itu. Pada akhirnya, Harry akan kembali sibuk dengan pekerjaannya, melupakan semua hal yang tak penting. Seperti, bayangan Draco Malfoy yang selalu muncul di kepalanya.
Harry bekerja hingga larut. Sebenarnya Harry tidak suka lembur, tapi hari ini ia sengaja memilih lembur. Dengan bekerja, setidaknya Harry bisa mengenyahkan sejenak pikirannya tentang Draco.
Oh, kenapa ia sangat terganggu oleh pria Malfoy itu?
Harry tiba di rumahnya tepat pukul sebelas malam. Ia melempar tasnya begitu saja ke sofa. Harry langsung pergi menuju dapur dan membuka kulkas, mengeluarkan sekaleng bir. Harry tidak akan mabuk-mabukan malam ini. Lagi pula ia harus bekerja lagi besok pagi. Ia hanya butuh sedikit alkohol.
Membawa kaleng birnya ke sofa, Harry kemudian membaringkan tubuhnya. Ia sudah meminum setengah dari bir itu sebelum meletakkannya di meja. Kaleng bir itu ia letakkan di samping sapu tangan berwarna abu-abu gelap yang juga ada di sana.
Harry memperhatikan sapu tangan itu. Sangat lama. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang ada di kepalanya. Kenapa benda terkutuk itu masih ada di rumahnya?
Tangan Harry terangkat mengambil kain persegi tersebut. Lembut sekali. Seratus persen barang mahal dengan kualitas tinggi. Entah apa yang menggerakkan dirinya, Harry membawa sapu tangan itu ke wajahnya.
Aah... Aroma cardamom yang sangat halus, namun begitu menggoda. Tak mau mengakuinya, tapi Harry bahkan tanpa sadar menutup matanya.
Bagaimana Harry harus mendeskripsikan apa yang ia hirup? Indera penciumannya dimanjakan oleh feromon yang tertinggal di sana. Kemudian, sebuah bayangan muncul di kepalanya. Bibir lembut yang menciumnya kemarin. Lalu Harry seolah bisa merasakan sentuhan Draco pada tubuhnya. Jemarinya yang dingin membuat tubuhnya gemetar. Namun anehnya, Harry merasa hangat. Sentuhan itu membuatnya hangat. Bagaikan selimut di kala hujan.
Draco mungkin hanya menciumnya sebentar. Ia juga hanya sedikit menyentuhnya. Namun, ketika Harry menutup matanya, ia seolah bisa merasakan sentuhan Draco meluas. Jari-jari yang dingin itu menyentuh lebih dari sekadar lehernya saja.
Harry tidak menyadarinya. Ketika tangannya sudah bergerak membuka celananya yang tiba-tiba terasa sempit. Harry pun mulai memanjakan miliknya yang sudah memanas. Tentu saja Harry masih belum mau melepaskan sapu tangan itu. Ia masih membutuhkan aromanya.
Tangan Harry bergerak cepat, bahkan hingga membuatnya sedikit mendesah. Harry menghela napas panjang begitu cairannya mengotori tangan. Ia menatap lama pada cairan putih yang bahkan sampai mengotori sofanya. Harry terdiam cukup lama.
Harry tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini sangat asing baginya. Harry sangat jarang—bahkan bisa dibilang tidak pernah—menyentuh dirinya sendiri di luar masa heat-nya. Lebih parah lagi, Harry melakukannya sambil memikirkan Draco Malfoy.
Harry lagi-lagi hanya bisa menghela napas. "Kalau saja aku sedang heat, mungkin aku sudah melakukan hal yang lebih gila lagi."
Tidak mau hal yang lebih gila itu terjadi, Harry kembali meletakkan sapu tangan itu. Ia langsung pergi menuju kamar mandi, membasuh diri. Meskipun sudah tengah malam, Harry tidak merasa malas untuk mandi. Karena jika tidak mandi, Harry harus bisa menahan diri. Kalau feromon dari sapu tangan Draco terus menempel di tubuhnya, ia dijamin akan kehilangan akal sehatnya.
Harry baru saja selesai mengeringkan rambut saat ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Sirius Black. Harry langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa ragu-ragu.
"Yes, Boss," sapa Harry begitu panggilan tersambung.
"Hai, Harry. Kuharap aku tidak membangunkanmu, Nak. Ini sudah lewat tengah malam di London, kan?" balas Sirius dari seberang telepon.
Harry membenarkan perkataan Sirius. "Begitulah, tapi aku belum tidur. Dan kuharap kau tidak menelepon untuk urusan pekerjaan. Jam kerjaku sudah selesai dari tadi."
Terdengar kekehan dari seberang telepon. "Aku mengirimkan sebuah undangan ke e-mail-mu. Apa kau sudah melihatnya?"
"Undangan?" Harry mengalihkan sebentar panggilan telepon dan membuka e-mail. Benar saja, Sirius baru saja mengirimkan sebuah pesan padanya.
Harry langsung membaca undangan tersebut dan ia tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang. Hal ini membuat Sirius bisa mendengar dengan jelas helaan napasnya.
Sirius pun tertawa pelan. "Aku masih punya banyak pekerjaan di sini. Bahkan untuk kembali ke Inggris walau hanya satu jam saja, aku tidak bisa."
Harry tentu mengerti dengan apa yang ingin disampaikan ayah baptisnya itu. "Jadi, kau ingin aku datang untuk mengisi tempatmu?"
"Ya, dan tidak," jawab Sirius. "Kau memang datang untuk mewakiliku, tapi kedatanganmu sendiri juga dinantikan Harry."
Harry tidak langsung membalas. Ia berpikir begitu lama.
"Kau sudah dewasa, Nak," Sirius kembali berbicara. Kali ini suaranya terdengar lebih serius, namun tetap penuh kasih sayang. "Pesta kecil seperti ini bukanlah sesuatu yang buruk. Kau bisa bertemu banyak orang penting, kau bisa berkenalan dengan mereka. Dan jika kau beruntung, mungkin kau bisa menemukan rekan bisnis yang baik." Sirius memberi jeda dengan berdeham. "Juga... kau mungkin bisa bertemu dan berkenalan dengan seseorang."
Harry memutar mata malas. Lagi. Kenapa semua orang sangat ingin melihatnya berkencan? Seolah headline "Harry Potter Akhirnya Punya Pacar" akan menghebohkan seisi dunia. "Kalau urusan pacar, aku bisa mencarinya di mana pun dan kapan pun yang aku mau."
"Bagus kalau memang begitu." Sirius terdengar sedikit mencemooh. Jika Harry memang mau, seharusnya ia sudah punya gandengan dari kemarin-kemarin. "Yah, pokoknya kau harus datang. Sebuah pesta kecil di hotel tepi pantai. Bukan hal yang buruk, mengingat kau bahkan tidak sempat berlibur akhir-akhir ini. Lagi pula, acaranya dua hari satu malam, kau bisa kabur dan menikmati waktumu sendiri jika memang tidak suka dengan pesta itu."
Harry pada akhirnya hanya bisa mengiyakan permintaan Sirius. Setelah dua tiga kalimat lainnya, panggilan telepon tersebut kemudian berakhir. Harry meletakkan ponselnya di atas meja dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Soal pesta kecil di pantai itu akan Harry pikirkan nanti. Sekarang ia sangat membutuhkan tidur yang nyenyak. Biarkan matahari yang membangunkannya dan mengingatkannya akan setumpuk pekerjaan yang menanti.
.
.
To be continued
.
.
.
