Chapter 04: Beach Party
Pesta kecil itu tidaklah kecil. Mana ada pesta kecil yang menyewa satu gedung hotel beserta pantainya sekalian. Namun pesta itu tidaklah seformal yang Harry bayangkan. Acara itu lebih banyak dilakukan di luar ruangan, dan itu cukup menyenangkan.
"Oh, Harry," suara tua yang sangat ramah menyapa.
Harry yang tadinya hanya berdiri sambil menikmati penampilan sebuah band indie di depannya langsung berdiri tegap saat sang tuan rumah acara menghampirinya. "Professor Dumbledore," sapa Harry ramah pada pria tua itu. "It's nice to see you again, Sir."
Dumbledore tertawa pelan sambil menepuk pundak Harry. "Kau benar-benar tumbuh menjadi pria dewasa. Kau menjadi semakin tampan."
Harry membalas pujian mantan kepala sekolah lamanya itu dengan sebuah senyuman. "Thanks, Sir. Dan, selamat atas masa pensiunmu."
Dumbledore sekali lagi menepuk pundak Harry. Ia tertawa atas ucapan selamat anak muda tersebut. "Aku sudah terlalu lama menunda masa pensiunku. Dan sekarang sudah tidak bisa lagi. Mereka bilang aku sudah terlalu tua. Percayalah, Harry, aku merindukan ruang kerjaku yang sempit itu." Dumbledore merentangkan tangannya seolah ingin memeluk laut di depannya. "Dan aku bosan di rumah terus, makanya aku kumpulkan teman-temanku dan pengusaha muda seperti kalian. Liburan sambil cari peluang, bukannya itu bagus?"
Harry mengangguk. Tentu saja. Mereka bisa menikmati keindahan pantai ini sambil berbincang, mencari rekan bisnis.
"Nikmati waktumu, Harry," ucap Dumbledore seolah tahu jika Harry sebenarnya terpaksa datang ke sini. Setelah dua tiga kata, Dumbledore pun meninggalkannya.
Harry melihat lelaki tua nan eksentrik itu semakin menjauh. Benar apa yang dikatakan olehnya. Nikmati saja. Harry akan berusaha untuk menikmatinya. Namun, Harry harus menunda waktunya saat melihat seorang pria menghampirinya.
Terlambat. Harry tidak bisa kabur karena pandangan mereka sudah bertemu. Sekarang Harry hanya bisa memaksakan senyum saat pria itu menghampirinya. "Mr. Lockhart," sapa Harry.
Gilderoy Lockhart, ia balas menyapa Harry dengan senyum lebar di wajahnya. "Oh, Harry, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatmu." Lockhart menepuk pundak Harry. Sama seperti Dumbledore sebelumnya, tapi sedikit terlalu keras.
Harry masih mempertahankan senyumnya. Ingin sekali ia mengingatkan pria itu jika mereka tak sengaja bertemu sebulan yang lalu. Oh, sepertinya Lockhart tak mau repot-repot untuk mengingatnya. Tapi, yah, Harry tidak boleh memperlihatkan betapa ia tak ingin bicara dengan selebriti tak tahu diri itu.
"Bagaimana kabarmu? Kudengar kau yang mengambil alih kantor selama Black di Amerika," tanya Lockhart dengan antusias.
Tentu saja Harry sudah menduga jika kabar yang ingin didengar Lockhart bukanlah kabarnya, tapi gudang uangnya. "Tidak, aku hanya bekerja sesuai porsiku. Sirius punya banyak karyawan yang lebih kompeten dan lebih bisa diandalkan. Lagi pula, aku hanya karyawan biasa di sana."
Lockhart tertawa. Tawa bisnis yang sudah banyak ia tampilkan di layar televisi. "Kau merendahkan dirimu, Harry." Ia sekali lagi menepuk pundak Harry. "Suatu saat kau akan memilikinya. Seluruhnya. Bayangkan saja betapa hebatnya itu. Terlebih lagi kau seorang Omega—yang sebenarnya tak cocok berada di posisi setinggi itu. Kau benar-benar beruntung, eh? Tentu saja itu karena Black adalah walimu. Kalau tidak, mana mungkin seorang Omega sepertimu bisa berada di perusahaan sebesar itu, kan?" Lockhart kembali tertawa, seolah perkataannya barusan hanyalah sebuah basa-basi.
Harry pun sekadar mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia sudah belajar untuk mengontrol raut wajahnya dengan terlalu baik. Apalagi setelah beranjak dewasa, saat semakin banyak orang-orang meremehkannya hanya karena gender sekundernya. Kalau saja ia masih remaja tanggung, mungkin Harry sudah mendaratkan satu pukulan di wajah Lockhart untuk mengingatkannya jika seorang Omega tetap bisa membawanya masuk rumah sakit.
Harry juga tidak peduli dengan persoalan perusahaan yang dibicarakan oleh Lockhart. Memang benar, ia mendapatkan posisi bagus karena Sirius Black adalah walinya, tapi tetap saja Harry bisa masuk perusahaan itu karena kemampuannya sendiri. Harry juga tak pernah berpikir jika perusahaan itu akan menjadi miliknya. Sedari awal, Harry sendiri tak tertarik untuk bekerja di tempat milik keluarganya. Kalau saja dunia pekerjaan tidak mendahulukan gender sekunder seseorang, mungkin ia sudah bekerja sebagai pria berseragam dan tak akan pernah mendudukkan pantatnya di ruang kerjanya sekarang. Ya, meskipun Harry akan selalu bersikeras bilang jika ia mendapatkan posisinya sekarang bukan karena bantuan Sirius, tetap saja ia bisa bertahan di sana karena Sirius menghapus semua diskriminasi.
Harry juga tak peduli dengan apa yang diinginkan oleh Lockhart sekarang. Apakah pria itu berpura-pura ramah agar bisa bekerja sama, atau murni hanya ingin meledeknya, Harry tak peduli. Yang paling diinginkan oleh Harry sekarang hanyalah kabur dari Lockhart.
Baru saja Harry ingin membuat alasan agar bisa kabur, Lockhart tiba-tiba melambaikan tangannya. Senyum di wajahnya kembali melebar. Harry tak perlu berbalik untuk tahu siapa yang dipanggil oleh Lockhart. Malahan, Harry sudah dari awal menyadari kehadiran dia.
"Draco! Bergabunglah dengan kami," ajak Lockhart pada Draco. Senyumnya semakin mengembang dan matanya semakin berbinar begitu Draco bergabung.
Jika Harry masih bisa mempertahankan senyum palsunya di depan Lockhart, Harry sungguh tidak bisa berpura-pura ramah pada Draco. Harry langsung memutar mata malas begitu Draco berdiri di sampingnya.
"Mr. Lockhart," sapa Draco sambil menjabat tangan pria tersebut. Sama seperti Harry, Draco hanya memasang senyum palsu di wajahnya. Ia tidak terlalu senang bertemu dengan selebriti di depannya ini.
"Wah, kau benar-benar tumbuh menjadi pria yang tampan," puji Lockhart sebagai pembuka obrolan. "Bagaimana akhir-akhir ini?" ia langsung masuk ke pertanyaan inti. "Dunia olahraga sedang berjalan sangat baik."
Draco mengedikkan bahunya. "Aku tidak akan mengatakan 'sangat baik', tapi tidak begitu buruk."
Lockhart mengangguk-anggukkan kepala. "Ah, benar juga," katanya, "kalau kau butuh bantuan, kau bisa menghubungiku. Kau bisa mengandalkan wajahku, senyumku."
Harry hampir saja tidak bisa menahan tawanya. Memang benar, senyum Lockhart bekerja lebih banyak daripada bakatnya. Tapi, setidaknya biarkan Harry menertawakan kepercayaan diri pria itu.
Draco mengangguk, masih dengan senyum di wajahnya. "Terima kasih banyak, Sir. Aku sangat menghargainya," balas Draco, terdengar begitu manis. "Tapi, biasanya aku hanya bekerja dengan model profesional atau atlet. Maksudku, olahraga itu tentang tubuh, bukan mulut."
Draco memang menyebalkan (dan akan selalu menyebalkan), tapi Harry setuju untuk yang satu ini. Harry akan memuji kepintaran Draco dalam memilih kata-katanya.
Lockhart tentu saja tersinggung. Tapi ia sudah terbiasa untuk mempertahankan citranya. Lockhart sama sekali tidak marah dan hanya tertawa. "Wah, wah, kau benar-benar pandai berkata-kata sekarang, huh," pujinya dengan setengah hati. Apa itu bahkan benar-benar sebuah pujian?
Draco hanya mengangguk sebagai balasan, tak merasa terganggu. Lockhart pun menyampaikan beberapa alasan untuk pergi. Sepertinya, ia sudah tak berharap lagi untuk mendapatkan kerja sama dengan kedua pebisnis muda ini.
Sementara itu, Draco masih berdiri di tempatnya. Senyum palsunya langsung hilang begitu Lockhart pergi. Harry juga sama. Ia bahkan terus bergumam tentang betapa menyebalkannya selebriti itu.
"Jadi," Draco bersuara untuk pertama kalinya setelah kepergian Lockhart. Ia memutar sedikit tubuhnya, menghadap Harry. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Pertanyaan Draco membuat Harry menghela napas. "Memangnya kau pikir untuk apa lagi? Aku datang untuk alasan yang sama denganmu," jawabnya malas.
Kedua alis Draco terangkat. Ia menampilkan wajah bingung yang dibuat semenyebalkan mungkin. "Tapi tidak begitu yang kulihat. Kau hanya berdiri sendiri, tanpa mau berbaur dengan orang lain. Apa kau yakin jika kau datang dengan alasan yang sama sepertiku?" tanya Draco, seringai muncul di wajahnya.
Harry memutar mata malas. Belum pernah dalam hidupnya ia bertemu dengan orang yang lebih menyebalkan daripada Draco Malfoy.
Karena Harry hanya diam saja, Draco mendengus. "Sudah kuduga. Kau pasti hanya akan diam saja, sama seperti saat acara reuni minggu lalu."
Harry mengernyit. "Maksudmu?"
Tidak langsung menjawab, Draco mengubah posisi berdirinya terlebih dahulu. Ia sedikit lagi memutar tubuhnya ke kanan, berhadapan langsung dengan Harry. Draco juga mengambil satu langkah mendekat. Dan entah sengaja atau tidak, Draco mengeluarkan sedikit feromon-nya. Tidak benar-benar mengeluarkannya, ia hanya ingin sedikit menggoda hidung pria berkacamata ini. Kemudian barulah Draco bicara. "Kau hanya akan pulang dengan sia-sia, Potter."
Harry awalnya masih belum mengerti dengan apa yang dibicarakan Draco. Kemudian ia mendengus. "Maksudmu, bersenang-senang?"
Draco mengedikkan bahunya. "Well, boleh saja jika kau mengatakannya seperti itu."
Harry menggeleng, mendengus kecil. "Bahkan kalaupun ada orang yang kusuka di sini, aku tidak akan membawanya ke kamarku."
"Oh... begitukah?" Draco sengaja memanjang-manjangkan nada bicaranya.
"Aku tidak sama sepertimu."
Draco tertawa mendengar perkataan Harry. Tentu saja tawa yang mengejek. "Oh, Potter, kau pikir aku akan membawa seseorang ke kamarku malam ini?" Harry tidak membalas. Draco mengangkat bahu. Ia sedikit menunduk, netra kelabunya menatap manik hijau Harry lekat-lekat. "Kau tak akan percaya, tapi aku tidak akan membawa seseorang ke kamarku. Hanya saja... mungkin aku akan berada di kamar seseorang malam ini," bisiknya pelan.
Harry terkejut akan dua hal. Pertama, Draco yang tiba-tiba mendekatkan dirinya. Kedua, karena dirinya sendiri. Dadanya tiba-tiba berdebar terlalu kencang. Harry pun memalingkan muka, tidak mau membalas tatapan Draco.
Begitu Harry memalingkan wajahnya, Draco tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan kembali mundur. Tahu jika Harry tidak akan membalas perkataannya, Draco pada akhirnya pergi begitu saja. Benar-benar langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Begitu Draco pergi, Harry masih belum bicara sepatah kata pun. Harry tahu jika Draco sudah pergi jauh darinya. Hanya saja, feromon Draco seolah tertinggal di tempatnya berdiri. Feromon itu begitu kuat sampai-sampai jika Harry menutup matanya, ia bisa membayangkan kehadiran Alpha itu di sampingnya. Dan mungkin, alasan itu pulalah yang membuat Harry tetap berdiri di tempatnya.
.
Begitu malam datang, setiap tamu dipersilakan untuk menikmati waktu bebas semau mereka. Terserah mau apa. Berkeliaran di hotel sambil menikmati suasana laut malam, atau menikmati segelas koktail di bar hotel. Namun, Harry lebih memilih untuk beristirahat di kamarnya. Seorang diri.
Harry bukannya tidak mau bersosialisasi dengan orang-orang. Ia hanya lelah. Kemarin Harry harus lembur, menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang ke pesta ini. Ia tidak sempat tidur kemarin, jadi, setidaknya biarkan ia istirahat sebentar.
Ada satu hal lagi yang membuat Harry malas untuk keluar. Kalau Draco Malfoy melihatnya berkeliaran di luar, Alpha itu pasti akan langsung menghampirinya. Kemudian, dengan suara yang menyebalkan, Draco akan bicara bahwa Harry keluar untuk bersenang-senang. Dan demi apa pun, Harry tidak mau senyum penuh kemenangan itu mengembang di wajah Draco.
Karena itulah Harry hanya akan berada di kamarnya malam ini. Ia hanya perlu menghibur diri dengan ponselnya. Dan jika sudah mulai mengantuk, Harry bisa langsung tidur. Kemudian paginya, Harry akan menikmati waktunya untuk berjalan di pinggir pantai, menyegarkan pikiran.
Ya, seharusnya semudah itu.
Harry tidak tahu apa yang mendorong dirinya. Indera penciuman Harry mencium sesuatu yang amat familiar, dan Harry tahu apa itu. Tubuh Harry bergerak begitu saja. Meninggalkan kasurnya, Harry berjalan menuju pintu. Tanpa pikir panjang, Harry pun menarik hundle pintu. Hanya butuh satu detik, dan Harry langsung merutuki kebodohannya.
.
.
To be continued
.
.
.
A/N
Uhuuuuu hari ini aku update dua chapter sekaligus~ Gimana guys? Masih belum puas? Sabar... minggu depan aku datang lagi kok Tapi kalian tungguin ya, kalau nggak ditungguin aku gak update ahh :v /kaburrrr
Sekian buat hari ini guys^^ Aku tungguin notif vote dan komennya! Jumpa lagi minggu depan!
See you!
Virgo
