Chapter 96

Shirou dan Ryuu mulai berjalan kembali menuju restoran Hostess of Fertility, langkah kaki mereka terdengar ringan di sepanjang jalan berbatu. Angin malamberembus lembut, membawa aroma khas bunga-bunga musim dingin yang mekar. Shirou dapat merasakan wangi lembut itu bercampur dengan sesuatu yang ia kenal betul—sentuhan ilahi yang hanya bisa berasal dari Syr. Dia pasti sedang dalam suasana hati yang baik, pikir Shirou sambil tersenyum kecil.

Namun, saat mereka melangkah lebih dekat ke pintu restoran, suara tawa lembut dan obrolan akrab terdengar dari dalam. Shirou dan Ryuu saling bertukar pandang sebelum masuk. Ketika pintu terbuka, pemandangan di dalam cukup mengejutkan Shirou. Syr dan Lefiya duduk di salah satu meja, asyik mengobrol sambil menikmati masakan hangat seolah mereka sudah berteman lama. Suasana akrab itu sedikit terganggu saat Shirou mendengar namanya disebut-sebut.

"Shirou itu benar-benar perhatian," ujar Lefiya dengan nada manis, pipinya sedikit memerah. Ia tampak mengenang sesuatu yang manis. "Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin orang lain abaikan."

Syr tersenyum setuju, menambahkan dengan nada lembut tetapi jahil, "Memang, aku sendiri sampai belajar memasak karena dia. Shirou begitu sabar mengajariku meski awalnya aku benar-benar payah. Sekarang lihatlah, aku sudah cukup pandai, kan?"

Lefiya yang tampaknya tidak mau kalah, segera menyahut dengan antusias. "Oh, aku juga sering memasak sarapan bersama Shirou setiap pagi untuk Loki Familia! Dia sangat baik hati." Senyumnya melebar, seolah ingin menunjukkan kebanggaan kecilnya.

Melihat Lefiya begitu bersemangat, "Kau ini benar-benar lucu," balasnya, sedikit menggoda. "Tapi Shirou sering sekali ke sini dan biasanya kami menghabiskan waktu bersama di dapur. Jadi, aku rasa aku punya lebih banyak waktu dengannya."

"Kalau begitu, aku juga—" Lefiya membuka mulut, hendak membalas lagi, tetapi tiba-tiba suara dehem pelan terdengar dari belakang mereka. Ahem.

Lefiya langsung menoleh dengan cepat. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang, wajahnya langsung memerah seperti tomat matang. "Shi-Shirou! K-kamu sudah kembali ya…" katanya gugup, suara lembutnya hampir terdengar seperti bisikan.

Di sisi lain, Syr tetap duduk dengan tenang, senyumnya tidak berkurang sedikit pun. Malah, ia menatap Shirou dan Ryuu dengan tatapan menggoda. "Oh? Apakah kalian sudah selesai bermesraan di luar?" tanyanya dengan nada ceria yang jelas-jelas disengaja untuk memancing reaksi mereka.

Ryuu yang biasanya tenang langsung tersentak. Wajahnya panik, dan ia buru-buru menyangkal, "Kami tidak melakukan apa-apa seperti itu! Kami hanya… hanya berbicara sebentar!" katanya dengan nada defensif, mencoba mempertahankan ketenangannya tetapi gagal total.

Shirou yang tidak kalah canggung, mengangguk cepat. "Benar. Kami hanya membicarakan beberapa hal. Tidak lebih."

Syr tertawa kecil, menikmati reaksi mereka yang kebingungan. "Baiklah, baiklah," katanya sambil berdiri. "Ayo, kalian bergabung saja dengan kami. Makanannya masih hangat."

Ryuu tampak ragu. Ia melirik ke dapur dengan ekspresi khawatir. "Tapi… apa tidak masalah? Bagaimana kalau nanti Mama Mia marah?" tanyanya hati-hati.

Syr melambaikan tangannya dengan santai, seolah hal itu bukan masalah besar. "Tenang saja. Restoran sedang sepi sekarang. Dia tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini."

Melihat keyakinan Syr, Ryuu akhirnya menyerah. Shirou hanya menggeleng pelan. Mereka pun duduk, bersiap menikmati makan malam bersama dalam suasana yang lebih hangat meskipun diawali dengan kejadian yang membuat beberapa orang merasa canggung.

Di atas meja, berbagai hidangan tersaji rapi dengan aroma menggugah selera. Ada semangkuk sup hangat dengan warna jingga cerah dari labu yang diolah sempurna, dilengkapi dengan taburan daun parsley segar di atasnya. Sepiring roti panggang garing yang baru keluar dari oven diletakkan di sampingnya, dengan mentega yang perlahan meleleh di permukaannya. Salad hijau segar dengan potongan tomat ceri, keju feta, dan saus lemon melengkapi hidangan tersebut. Tak ketinggalan, ada semangkuk kecil pasta creamy dengan potongan ayam yang dimasak hingga lembut, ditaburi rempah-rempah harum yang membuat siapa pun tergoda.

Syr menatap hasil karyanya dengan bangga. "Jadi, bagaimana? Bukankah masakanku semakin hebat?" tanyanya sambil tersenyum lebar. "Aku rasa sekarang aku bisa mengalahkanmu Shirou, sebagai guru memasakku dulu."

Shirou mencicipi sup itu perlahan. "Mmm, ini luar biasa, Syr," pujinya dengan tulus. "Aku harus akui, masakanmu sekarang jauh lebih enak. Rasanya... kaya, tapi tetap ringan di lidah."

Mendengar itu, Lefiya langsung menoleh dengan semangat. "Kalau begitu, Shirou, kita tidak boleh kalah! Untuk sarapan selanjutnya, kita harus menambah variasi menu. Bagaimana kalau kita mencoba sesuatu yang lebih kreatif untuk Loki Familia?" katanya dengan mata berbinar.

Ryuu yang sedang menyeruput sup, berhenti sejenak untuk merenung. Di meja ini, aku satu-satunya yang bukan koki, ya? pikirnya sambil melirik ketiga orang di depannya yang terlihat begitu antusias membicarakan masakan.

Syr tersenyum kecil, lalu menoleh ke Shirou. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak datang ke sini selama seminggu terakhir? Aku merasa kesepian di dapur tanpa bantuanmu. Rasanya hanya aku dan Mama Mia yang sibuk di sini."

Ryuu memicingkan matanya, menatap Syr dengan tatapan yang penuh arti. "Hmm, benar-benar kesepian, ya?" gumamnya dengan nada datar. Ia tahu benar niat Syr—bukan hanya sekadar kesepian, tetapi juga agar Shirou kembali untuk meringankan pekerjaannya.

Shirou menggaruk kepalanya, tersenyum canggung. "Aku ikut ekspedisi di lantai awal bersama Loki Familia," jawabnya tanpa membocorkan terlalu banyak detail. Tentu saja, ia tidak bisa mengatakan bahwa ekspedisi itu menuju Knossos yang berada di Daedalus Street, bukan ke Dungeon seperti biasanya.

Mendengar itu, Syr meletakkan sendoknya dan menatap Shirou dengan khawatir. "Ekspedisi? Kau tidak terluka, kan? Apa kau butuh waktu untuk pulih?" tanyanya dengan nada lembut, tetapi sorot matanya menunjukkan ketulusan yang dalam.

Shirou terdiam sejenak. Apa yang harus kukatakan? Aku tahu Syr sebenarnya adalah dewi. Aku tidak bisa berbohong padanya. Ia mencoba menyusun jawaban yang tidak akan membuat Syr semakin khawatir.

Namun sebelum Shirou sempat bicara, Lefiya, dengan polosnya, menyela. "Shirou terlalu memaksakan diri di ekspedisi sebelumnya. Dia bahkan sampai pingsan!"

Ryuu langsung menoleh, terkejut mendengar itu. "Pingsan?" tanyanya, alisnya terangkat tinggi. Ia tahu betapa kuatnya Shirou dan sulit baginya membayangkan Shirou sampai kehilangan kesadaran. Seberapa berbahayanya ekspedisi Loki Familia itu sampai Shirou, yang kekuatannya luar biasa, bisa sampai pingsan? pikir Ryuu, rasa penasaran dan kekhawatirannya bercampur dalam diam.

Syr menatap Shirou dengan pandangan penuh perhatian, matanya memancarkan kekhawatiran yang jelas terlihat. "Kau yakin sudah benar-benar pulih, Shirou?" tanyanya dengan nada lembut, sambil menyapu pandangan pada wajah Shirou untuk mencari tanda-tanda kelelahan atau luka yang tersembunyi.

Shirou tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. "Lihat? Aku sudah sepenuhnya sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujarnya dengan nada menenangkan sambil menggoyangkan lengan sebagai bukti.

Syr menghela napas lega, bahunya yang tegang sedikit merosot. "Syukurlah," katanya dengan suara rendah. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menatap Shirou dengan ekspresi memelas. "Tapi kalau kau sudah lama pulih, kenapa kau tak langsung datang ke sini? Apa kau sudah bosan dengan kami?" tanyanya, matanya berkaca seolah memohon jawaban yang memuaskan.

"Guh..." Shirou tersentak mendengar pertanyaan itu, nyaris tersedak oleh suasana yang tiba-tiba menjadi intens. "Bukan begitu!" katanya cepat sambil melambaikan tangannya. "Sebenarnya, aku sibuk dengan... proyek, setelah ekspedisi itu," tambahnya dengan nada canggung.

Ryuu, yang sejak tadi mendengarkan dengan diam, menoleh ke Shirou. "Proyek? Proyek apa itu?" tanyanya dengan nada penasaran yang dingin.

Sebelum Shirou sempat menjawab, Lefiya yang sedang menikmati makanannya langsung memotong. "Shirou sedang belajar menempa, dan aku yang membantunya," katanya dengan nada bangga, seolah tak ingin melewatkan kesempatan untuk memamerkan keterlibatannya.

"Woah!" Syr bertepuk tangan kecil dengan ekspresi terkejut yang manis. Dalam hatinya, ia merasa bahwa menempa adalah pilihan yang jauh lebih aman untuk Shirou. Dia tidak berbakat dalam sihir, fisiknya biasa saja, dan dia masih level 1. Menempa mungkin benar-benar cocok untuknya.

Setelah berhenti bertepuk tangan, Syr mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Lalu, apa yang kau tempa, Shirou?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Lefiya yang tampak bersemangat hampir saja menjawab dengan cepat, "Kami membuat sebuah—" Namun, ia berhenti sejenak ketika melihat Shirou yang berkedip pelan ke arahnya, memberikan isyarat agar tidak membocorkan rahasia itu. Menangkap isyarat tersebut, Lefiya segera mengubah nada bicaranya dan melanjutkan dengan nada lebih santai, "Maksudku, kami menempa sebuah busur."

Ryuu mengerutkan kening, merasa heran. Busur? pikirnya dalam hati. Ia mengingat betapa mahirnya Shirou menggunakan pedang tumpul saat mereka berlatih bersama sebelumnya. Tidak bisa menahan rasa penasarannya, ia bertanya langsung, "Kamu... bisa memanah? Maksudku, kamu ahli dalam hal itu?"

Shirou menatap Ryuu dengan senyum percaya diri. "Memanah adalah keahlian yang paling kukuasai," jawabnya singkat, tetapi nadanya penuh keyakinan.

Ryuu terpana mendengar itu. Jika kemampuan memanah Shirou lebih hebat dari keahliannya menggunakan pedang, seberapa luar biasa sebenarnya dia? pikir Ryuu, merasa tak bisa membayangkan kehebatan Shirou di medan perang sebagai pemanah.

Sementara itu, Syr memikirkan hal yang berbeda. Ah, keahlian memanah itu memang cocok untuk Shirou. Dia adalah seorang supporter dan lebih cocok untuknya daripada bertarung di garis depan, pikirnya dengan tenang. Dia lalu berkata sambil tersenyum, "Itu pilihan yang bagus, Shirou. Keahlian memanah pasti sangat membantu, terutama untuk seorang supporter sepertimu."

Sambil menikmati suapan terakhir supnya, Ryuu menatap Shirou dan Lefiya yang terlihat sangat fokus pada makanan mereka. "Ngomong-ngomong," Ryuu memulai, menaruh sendoknya perlahan. "Kalian berdua sepertinya sibuk sekali dengan proyek menempa kalian. Apa kalian sempat mengikuti berita dari luar?"

Lefiya mendongak dengan penasaran, lalu menggeleng pelan. "Berita apa? Apa kami melewatkan sesuatu yang penting?" tanyanya dengan nada ingin tahu. Shirou mengangguk setuju, menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap Ryuu, menunggu penjelasan.

Ryuu membersihkan mulutnya dengan serbet sebelum mulai menjelaskan. "Freya Familia menyerbu markas Ishtar Familia," katanya serius. "Bahkan lebih parahnya lagi, dewi Ishtar sendiri dijatuhkan oleh dewi Freya... dari menara milik Ishtar sendiri. Dan itu menyebabkan dewi Ishtar terpaksa kembali ke Tenkai."

Shirou dan Lefiya saling melirik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan mereka mengisyaratkan bahwa mereka berdua memiliki pemahaman yang sama. Ishtar memang terlibat dengan Evilus, jadi ini bisa dianggap sebagai kabar baik, pikir mereka serempak, meskipun tidak diucapkan.

"Jadi..." Shirou akhirnya berbicara setelah beberapa detik hening. "Dewi Ishtar itu sepertinya dewi yang jahat, ya? Kalau begitu, dewi Freya bisa dibilang menegakkan keadilan dengan menjatuhkannya."

Ryuu mengangkat alis, jelas tidak setuju dengan kesimpulan Shirou. "Aku tidak akan mengatakan dewi Ishtar itu jahat," katanya, suaranya datar namun tegas. "Aku memang tidak setuju dengan cara hidupnya dan bagaimana dia menjalankan bisnis prostitusi di wilayahnya. Tapi, itu tidak membuatnya jahat. Dia hanya... berbeda."

Namun, sebelum Shirou sempat merespons, suara tawa kecil dari Syr memecah suasana. "Hahaha..." Syr tertawa dengan nada yang tak biasa. Senyumnya yang biasanya lembut kini terlihat sedikit sinis. "Dewi Freya menegakkan keadilan? Shirou, kamu terlalu polos. Freya dan Ishtar itu sama saja. Mereka berdua dewi pelacur yang tidak tahu malu." Kalimat itu keluar dengan nada penuh cemoohan, membuat semua orang di meja terdiam.

Shirou menatap Syr dengan mata melebar, sementara Ryuu memandang pelayan yang biasanya ramah itu dengan ekspresi bingung dan sedikit khawatir. Apa ini benar-benar Syr? pikir mereka hampir bersamaan. Selama ini, mereka tidak pernah mendengar Syr berbicara buruk tentang siapa pun, apalagi seorang dewi.

Namun, Syr hanya tertawa kecil lagi, seolah tak peduli dengan keheningan di sekitar meja. Di dalam hatinya, dia mengingat dengan jelas bagaimana dia—sebagai dewi Freya—menghancurkan Ishtar. Semua ini hanya karena dia mencoba mencuri Bell dariku, pikirnya dengan dingin. Tetapi, dia segera menghela napas panjang, menenangkan dirinya sendiri. Tapi aku bukan dewi Freya sekarang. Aku Syr, pelayan sederhana di Hostess of Fertility.

Sementara itu, Ryuu berdeham kecil, mencoba meredakan ketegangan yang tiba-tiba muncul. "Syr," katanya pelan, nada khawatir dalam suaranya. "Kau sebaiknya lebih hati-hati dengan ucapanmu. Kalau Freya Familia mendengar kata-kata itu, kau bisa mendapat masalah besar."

Shirou mengangguk setuju. "Benar, Syr. Kata-katamu tadi... mungkin terlalu keras. Lebih baik berhati-hati."

Namun, Syr hanya tersenyum tipis, kembali ke wajah ramahnya yang biasa. "Jangan khawatir," katanya ringan. "Tidak ada yang akan mendengar selain kita. Lagipula, ini hanya obrolan kecil di meja makan, bukan?" Dia mengangkat bahunya, lalu kembali mengambil supnya dengan santai, meninggalkan Ryuu dan Shirou yang masih terkejut dengan sisi lain dari Syr yang baru saja mereka lihat.

Suasana di meja makan menjadi hening setelah ucapan Syr yang tajam tadi. Meski begitu, Lefiya, Syr, dan Shirou tetap melanjutkan makan mereka. Namun, ketegangan yang menggantung membuat mereka hanya mengunyah dalam diam, tanpa percakapan ringan seperti sebelumnya. Bahkan tawa kecil Lefiya untuk mencairkan suasana pun terdengar canggung.

Begitu piring-piring mulai kosong, Syr bangkit lebih dulu, mengumpulkan sebagian alat makan kotor di tangannya. "Aku akan membersihkannya," katanya dengan nada tenang, meski ada jejak ketegangan di wajahnya. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan ke dapur. Gerakan cepatnya terlihat seperti usaha untuk menghindar dari pandangan mereka.

Melihat itu, Shirou merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati Syr. Dengan refleks, ia segera berdiri dan mengambil sisa piring kotor di meja. "Aku bantu, ya," katanya singkat sebelum menyusul ke dapur, meninggalkan Lefiya dan Ryuu di meja.

Ryuu memperhatikan Shirou yang menghilang di balik pintu dapur dan menghela napas lega. Baguslah, Shirou pasti bisa menangani ini, pikirnya. Dia tahu betul bahwa jika Syr membutuhkan hiburan, Shirou adalah orang yang paling tepat untuk menanganinya. Lagipula, Ryuu sendiri masih merasa tidak yakin bagaimana caranya mengembalikan suasana setelah kejadian tadi.

Sementara itu, Lefiya yang merasa bingung dengan perubahan suasana, mengikuti Ryuu ke konter. Ia menepuk-nepuk saku kecilnya, memandang Ryuu dengan ragu. "Berapa yang harus kubayar untuk makan tadi, Ryuu?" tanyanya pelan, ingin memastikan mereka tidak meninggalkan tanggungan apa pun.

Ryuu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Kau tidak perlu membayar apa pun," katanya, suara lembutnya sedikit melegakan Lefiya. "Siapa pun yang makan bersama Shirou di sini selalu dianggap gratis. Itu semacam... kompensasi atas bantuannya selama ini di Hostess of Fertility."

Mata Lefiya membulat, lalu dia mengangguk memahami. "Oh, jadi itu sebabnya Shirou mengajakku makan di sini," gumamnya, kini merasa lebih mengerti kebiasaan Shirou. Meski suasana sebelumnya terasa tegang, penjelasan Ryuu sedikit mengembalikan kenyamanan Lefiya.