Chapter 91
Di dalam forge yang kini dipenuhi dengan suasana kerja, Shirou berdiri di depan meja besar. Dengan fokus penuh, ia mulai memproyeksikan setiap komponen sepeda satu per satu. Setang, kerangka sepeda, ban luar, ban dalam, rantai, roda gigi, pedal, hingga sadel dan handgrip. Masing-masing muncul dalam cahaya prana sebelum perlahan mengeras menjadi bentuk fisik.
"Ini adalah setang," jelas Shirou, memegang komponen yang melengkung dengan kokoh. "Ini digunakan untuk mengarahkan sepeda." Ia meletakkannya di meja dan melanjutkan. "Kerangka sepeda, yang menjadi rangka utama. Rantai ini untuk menghubungkan pedal ke roda gigi. Dan ini..." Shirou mengangkat roda dengan hati-hati. "Roda dan bannya, bagian paling penting untuk membuat sepeda bisa bergerak."
Lefiya berdiri di sampingnya, mata birunya penasaran melihat betapa banyaknya komponen yang harus diproses. "Aku tidak menyangka benda yang terlihat sederhana seperti sepeda bisa memiliki begitu banyak bagian," gumamnya, mengusap-usap dagunya.
Shirou mengangguk, memegang rantai sepeda sambil merenung. "Komponen logam seperti setang, kerangka, dan rantai... mungkin aku bisa menempa semuanya di sini. Tapi ada bagian yang membuatku ragu."
Lefiya memiringkan kepalanya, menatap Shirou dengan penuh perhatian. "Ada masalah? Kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja," tawarnya dengan tulus.
Shirou mengambil salah satu ban dan menyerahkannya kepada Lefiya. "Kau lihat ini? Apakah ada bahan seperti ini di Orario?" tanyanya, mengamati ekspresi Lefiya yang mulai memeriksa ban tersebut.
Lefiya mengelus permukaan ban luar, mengangguk perlahan. "Yang seperti ini mungkin ada. Tapi..." Ia berhenti sejenak sebelum menekan ban dalam yang terasa lunak. "Bagian dalam yang diisi udara ini... Aku baru pertama kali melihat sesuatu seperti ini. Apa ini benar-benar diperlukan?"
"Hmmm, itu memang penting," Shirou menjawab sambil menyentuh dagunya, memikirkan cara membuat ban dalam di Orario. "Tanpa itu, sepeda tidak akan nyaman digunakan."
Lefiya tampak berpikir keras, lalu tiba-tiba berdiri dengan semangat. "Aku akan keluar dan pergi ke bagian kota yang khusus menjual bahan untuk craftsmanship. Aku akan bertanya pada mereka," katanya, memeluk ban itu dengan hati-hati.
"Bagus," Shirou setuju sambil menunjuk ke meja. "Sekalian, bawalah sadel dan handgrip ini juga. Jika ada yang bisa membuatnya, itu akan sangat membantu."
Lefiya mengangguk sambil mengambil sadel dan handgrip. Tangannya penuh dengan ketiga benda itu, membuatnya kesulitan menata semuanya. Melihat itu, Shirou menghela napas pendek lalu memproyeksikan sebuah tas besar seperti yang biasa digunakan oleh supporter.
"Gunakan ini," ujarnya, menyerahkan tas tersebut kepada Lefiya.
Lefiya membuka tas besar itu dan dengan cekatan memasukkan ketiga benda tersebut. Namun, ia mengerutkan kening saat melihat ukuran tas yang terbilang terlalu besar untuk hanya membawa barang-barang kecil itu. "Kenapa aku butuh tas sebesar ini?" tanyanya penasaran.
Shirou melirik ke arah batang-batang besi yang tersisa di sudut ruangan. "Kalau kau pergi nanti, bisa sekalian membeli batang besi tambahan? Kita pasti akan membutuhkan lebih banyak untuk menempa komponen lainnya."
"Oh, baiklah!" jawab Lefiya, kini merasa semangat. Ia mengangkat tasnya dengan percaya diri, lalu melangkah keluar dengan tekad kuat untuk membantu Shirou menyelesaikan proyek mereka.
Lefiya baru saja akan melangkah keluar dari forge ketika suara Shirou memanggilnya dengan nada mendesak, "Tunggu dulu, Lefiya!"
Lefiya berhenti dan memutar tubuhnya dengan bingung, ponytail coklat terangnya sedikit bergoyang mengikuti gerakannya. "Eh? Ada apa, Shirou?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya, wajahnya menunjukkan rasa penasaran.
Shirou berjalan mendekat dengan ekspresi serius. "Aku baru saja mengambil imbalanku beberapa hari lalu. Kalau kau butuh uang untuk membeli bahan-bahan tadi, ambil saja berapa pun yang kau perlukan dari lemariku. Itu ada di kamarku di Twilight Manor," katanya dengan nada penuh keyakinan.
Namun, Lefiya langsung melambaikan tangannya di depan wajahnya, menolak dengan santai. "Oh, jangan khawatir soal itu. Aku punya uangku sendiri. Aku bisa menangani ini," jawabnya sambil tersenyum kecil.
Shirou tetap menatapnya, lalu dengan nada sedikit memohon, berkata, "Lefiya, kumohon. Anggap saja ini bagian dari biaya produksi untuk proyek kita. Pakai uangku, ya?"
Lefiya terdiam sesaat, lalu menghela napas sambil tersenyum geli. "Baiklah," katanya, akhirnya mengalah. "Tapi hanya 50%, ya. Sisanya akan kugunakan uangku sendiri. Lagipula, aku punya saham 50% di perusahaan Faker, bukan?" candanya dengan mata berbinar, mencoba meringankan suasana.
Shirou yang tadi tampak serius, tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis mendengar candaan Lefiya. "Kalau begitu, jangan lupa laporkan laporan keuangannya nanti, CFO Lefiya," balasnya dengan nada bercanda.
Lefiya tertawa kecil, lalu melanjutkan langkahnya menuju Twilight Manor. Sambil berjalan, ia sempat bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Dia bisa serius sekali soal hal kecil, tapi itu bagian dari pesonanya." Dengan semangat yang baru, Lefiya berjalan menuju kamarnya, siap untuk memulai misi kecilnya.
Lefiya berjalan dengan langkah hati-hati menuju Twilight Manor, membawa tas besar supporter yang hampir menutupi separuh tubuh mungilnya. Bebannya tidak terlalu berat, tetapi ukuran tas itu cukup mencolok. Saat ia mendekati pintu manor, suara berderit terdengar, dan pintu besar itu terbuka dari dalam.
Dua sosok yang sangat dikenalnya keluar dengan penuh semangat. Tiona memanggul Urga di bahunya, sementara Tione tampak siap dengan sepasang kukri tersarung di sisinya. Keduanya terlihat seperti siap menuju petualangan besar. Tiona langsung menyapa dengan ceria begitu melihat Lefiya berdiri di depan pintu.
"Wah, kebetulan sekali, Lefiya!" Tiona berseru sambil tersenyum lebar. "Kami mau ke Dungeon, dan kau kelihatannya sudah siap banget jadi supporter kami!"
Lefiya segera mengibaskan tangannya dan membuat tanda X dengan kedua lengan yang menyilang di depan dadanya. "T-tidak, aku tidak bisa! Aku sedang dalam misi rahasia yang sangat penting!" katanya buru-buru. Wajahnya terlihat gugup saat mencoba menjelaskan, tanpa terlalu banyak memberi detail.
Tione menyipitkan mata, senyumnya berubah menjadi seringai usil. "Oh, aku tahu apa misimu. Kau pasti sedang membantu crush-mu, Shirou, kan?" godanya tanpa ampun.
"A-ap-ap-apa?!" Lefiya tergagap, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. "Sudah kubilang aku tidak menyukai Shirou! Kau salah paham!" Wajahnya berubah merah padam, bahkan hingga ke ujung telinganya yang runcing.
Tione hanya tertawa kecil sambil menarik tangan kembarannya. "Sudahlah, jangan ganggu lovebird satu ini. Kita pergi saja berdua."
"Baiklah, baiklah," Tiona menjawab sambil terkekeh, mengikuti Tione menuju jalan keluar. Namun, sebelum benar-benar pergi, Tiona melirik ke arah Lefiya dan mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.
Lefiya berdiri kaku di depan pintu, tas besar di tangannya terasa lebih berat dari sebelumnya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, Apa perasaanku terhadap Shirou benar-benar terlihat begitu jelas? Wajahnya masih terasa panas saat ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, mencoba mengabaikan degup jantung yang tak mau tenang.
Lefiya menaiki tangga menuju lantai dua Twilight Manor dengan tas supporter besar yang menggantung di bahunya. Setelah sampai, ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Elfie, teman sekamarnya, tengah malas-malasan di kasur bagian atas ranjang bertingkat. Elfie terlihat asyik membaca sebuah novel, sesekali menguap seolah waktu berjalan lambat untuknya.
Melirik tas besar yang dibawa Lefiya, Elfie menurunkan novelnya dan menguap lebar. "Lefiya, kita baru saja selesai ekspedisi. Kau semangat sekali bekerja. Apa kau tidak lelah?"
Lefiya tersenyum kecil dan meletakkan tasnya di lantai. "Kalau aku menyukai sesuatu, aku tidak pernah menganggapnya sebagai pekerjaan," jawabnya ringan sambil membuka lemari di sudut ruangan.
Di dalam lemarinya, busur abu-abu yang ditempa Shirou kemarin terlihat tersimpan rapi. Lefiya melirik busur itu sebentar sebelum membuka laci di bawahnya dan mengambil dompetnya. Ia mulai mengisinya dengan beberapa koin valis dari tumpukan yang ada di laci.
"Dua ratus lima puluh ribu valis sepertinya cukup," gumam Lefiya sambil menghitung jumlahnya.
Elfie melirik dari atas ranjang, menaikkan sebelah alis. Jumlah itu lumayan besar, tapi Elfie hanya kembali fokus pada novelnya tanpa memberikan komentar. Lefiya menutup lacinya, merapikan lemari, dan keluar dari kamar, siap menuju kamar Shirou yang berada tepat di sebelah.
Ketika Lefiya membuka pintu kamar Shirou yang tidak terkunci, pandangannya langsung tertuju pada ruangan sederhana namun rapi itu. Ia tertegun sejenak, memperhatikan bagaimana kamar itu tidak lagi terlihat seperti gudang. Segalanya tertata dengan baik, meski polos dan minim dekorasi. Satu-satunya yang mencolok adalah perlengkapan tempur yang tergantung di dinding: sepasang belati, armor sederhana, dan busur abu-abu yang pernah ia belikan untuk Shirou saat pertama kali Shirou masuk Loki Familia.
Lefiya merasa hatinya hangat. Kata-kata Shirou terngiang di benaknya, bahwa ia menghargai apa pun pemberian Lefiya, tak peduli seberapa sederhana atau kecilnya. Meski dengan Magecraft miliknya Shirou bisa memproyeksikan perlengkapan yang jauh lebih baik, ia tetap menyimpan perlengkapan itu dengan rapi, bukan membuangnya atau mengabaikannya.
Lefiya melangkah menuju lemari Shirou, membuka pintunya dengan perlahan. Di sana, ia menemukan sebuah kantung koin yang terlihat berat. Ia mengambil kantung itu dan menghitung isinya dengan cepat, lalu memutuskan untuk mengambil 250 ribu valis dari sana.
"Dua ratus lima puluh ribu dari sini... ditambah uangku, total lima ratus ribu valis. Harusnya cukup untuk membeli semua kebutuhan menempa," ucapnya pelan, meneguhkan diri.
Setelah memastikan kembali semuanya, Lefiya keluar dari kamar Shirou dengan hati yang mantap. Ia siap melanjutkan misi pentingnya untuk membantu Shirou menciptakan sesuatu yang bisa mereka banggakan bersama.
Lefiya berjalan di tengah keramaian kota Orario dengan tas besar supporter yang menggantung di bahunya. Matahari siang bersinar lembut, menghangatkan suasana yang sibuk dengan para petualang dan penduduk lokal berlalu-lalang. Lefiya mengenakan kaos sederhana yang membuatnya tampak seperti supporter biasa. Ia merasa nyaman berpikir bahwa tidak ada yang akan mengenalinya sebagai "Thousand Elf," julukan yang ia dapat setelah mencapai level 3 berkat kemampuannya meniru sihir elf lain.
Namun, pikirannya segera terbantahkan.
"Thousand Elf! Thousand Elf!" suara perempuan memanggil dari belakangnya, penuh semangat.
Lefiya berhenti dan menoleh, mendapati seorang gadis Elf dengan rambut pendek berwarna hijau pucat dan mata biru cerah berdiri di sana. Gadis itu mengenakan seragam hijau khas Hostess of Fertility, yang langsung membuat Lefiya teringat pada tempat Shirou sering membantu bekerja.
Mata biru gelap Lefiya bertemu dengan mata biru gadis itu. Ia tersenyum ramah. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Gadis itu sedikit membungkuk sebagai salam. "Perkenalkan, aku Ryuu. Aku rekan kerja Shirou Emiya di Hostess of Fertility," katanya dengan suara tenang namun penuh kesan.
"Oh, jadi kamu Ryuu," jawab Lefiya, mencoba mengingat bagaimana Shirou sesekali menyebutkan nama itu. Ia mengangguk kecil. "Panggil saja aku Lefiya. Kalau kamu temannya Shirou, berarti kamu temanku juga."
Ryuu mengangguk balas. "Terima kasih, Lefiya. Kalau begitu, bolehkah aku menitipkan pesan untuk Shirou?"
Lefiya tersenyum senang. Kesempatan untuk membantu Shirou selalu menjadi sesuatu yang ia sambut dengan baik. "Tentu saja. Pesan apa yang ingin kamu sampaikan?"
Ekspresi Ryuu tetap datar, namun nada suaranya membawa kesan seperti racun yang sulit tertahan. "Tolong katakan pada Shirou bahwa dia harus segera membayar hutangnya. Aku akan menunggu di tempat biasa, setiap pagi."
Lefiya tersentak mendengar pernyataan itu. Shirou... berhutang? Ia tak menyangka orang seperti Shirou memiliki kebiasaan seperti itu. Dengan sedikit gugup, Lefiya menawarkan, "Eh, kalau begitu, biar kubayar sekarang saja. Berapa jumlahnya?"
Namun, Ryuu menggelengkan kepala dengan tenang. "Ini bukan hutang uang," jawabnya singkat, menyisakan misteri di dalam nada suaranya. "Tolong sampaikan saja pesanku padanya."
Sebelum Lefiya sempat bertanya lebih jauh, Ryuu memberi anggukan kecil sebagai tanda terima kasih. "Aku sangat menghargainya. Sampai jumpa lagi, Lefiya," katanya, lalu berbalik dan berjalan dengan tenang menuju restoran tempat ia bekerja.
Lefiya berdiri di tempatnya sejenak, masih memproses pertemuan aneh itu. Monolognya berbisik dalam hati, Hutang? Tapi bukan uang? Apa maksudnya?.Dengan sedikit bingung, ia melanjutkan perjalanannya, memastikan untuk menyampaikan pesan itu kepada Shirou nanti.
Setelah percakapan singkatnya dengan Ryuu, Lefiya melanjutkan langkahnya menuju area craftsmanship di kota Orario. Tas besar supporter yang menggantung di punggungnya terasa sedikit menyulitkan, namun semangatnya tetap tinggi. Ia memutuskan untuk memulai tugasnya dengan pekerjaan yang paling sederhana: mencari pengrajin yang dapat membuatkan sadel dan handgrip sesuai kebutuhan mereka.
Sesampainya di kawasan tersebut, Lefiya berhenti di salah satu sudut jalan yang penuh dengan bengkel dan toko pengrajin. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sadel kecil serta sepasang handgrip yang sebelumnya diproyeksikan oleh Shirou. Menatap kedua benda itu, Lefiya merenung. "Jadi, ini untuk duduk di atas sepeda agar nyaman, dan ini untuk memegang setangnya," pikirnya sambil meraba tekstur handgrip yang halus.
Tak ingin membuang waktu, Lefiya melangkah ke sebuah toko pengrajin kulit yang tampak ramai. Di dalamnya, kulit-kulit binatang dari berbagai jenis dan warna tergantung rapi di dinding, sementara aroma khas bahan kulit memenuhi ruangan. Seorang pria tua dengan celemek lusuh menyambutnya dari balik meja kerja.
"Ada yang bisa kubantu, nona muda?" tanya pria itu, suaranya berat namun ramah.
Lefiya mengangguk dan mengeluarkan sadel serta handgrip dari tasnya, meletakkannya di meja kayu di hadapan pria itu. "Bisakah Anda membuatkan yang seperti ini? Satu sadel dan sepasang handgrip."
Pria itu mengangkat alis, menatap kedua benda itu dengan rasa ingin tahu yang jelas. Ia memegang sadel kecil itu, membolak-baliknya. "Hmm, benda ini kecil sekali. Untuk apa sebenarnya?" tanyanya. Ia lalu mengambil handgrip dan mengamatinya dengan seksama. "Dan ini? Aku belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya."
Lefiya tersenyum tipis, tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. "Ini bagian dari... proyek khusus. Yang penting, bisa Anda buatkan?"
Pria itu mengangguk pelan. "Tentu saja. Tapi saya perlu tahu, dari kulit binatang apa Anda ingin benda ini dibuat? Saya punya kulit sapi, rusa, bahkan kulit monster kelas rendah jika Anda ingin sesuatu yang lebih kuat."
Sebelum pria itu selesai berbicara, Lefiya segera memotongnya. "Bahan terbaik yang Anda punya. Saya ingin hasilnya sempurna," jawabnya tegas.
Pria itu tertawa kecil. "Bahan terbaik, ya? Itu berarti kulit rusa berkualitas tinggi dengan lapisan pelindung khusus. Tapi harganya tidak murah. Untuk semuanya, biayanya 80 ribu valis. Saya minta setengahnya di muka. Sisanya bisa Anda bayar saat barang selesai nanti sore."
Lefiya mengangguk tanpa ragu, merogoh dompetnya dan mengeluarkan 40 ribu valis, lalu menyerahkannya kepada pria itu. "Tidak masalah. Saya akan kembali sore ini untuk mengambilnya," katanya sambil tersenyum.
Pria itu menerima uang tersebut, memasukkannya ke dalam laci, lalu mengangguk. "Baiklah, nona muda. Barang Anda akan siap tepat waktu."
Dengan perasaan lega, Lefiya meninggalkan toko itu, tas besar di punggungnya kembali digantung dengan rapi. Langkahnya ringan, pikirannya penuh dengan bayangan bagaimana proyek sepeda mereka akan segera terwujud. "Satu pekerjaan selesai, tinggal yang lainnya," gumamnya pada dirinya sendiri sambil melanjutkan perjalanan.
Di luar toko pengrajin kulit, Lefiya mengeluarkan ban luar dan ban dalam dari tas besar supporter-nya. Ia memandang kedua benda itu dengan bingung. "Ke mana aku harus pergi untuk menemukan pengrajin yang bisa membuat benda seperti ini?" gumamnya sambil mengernyitkan alis.
Siang itu dihabiskannya berkeliling di area craftsmanship. Ia memasuki berbagai toko, bertanya pada pengrajin yang berbeda—dari pembuat roda, ahli bahan karet, hingga pembuat peralatan mekanik—namun semuanya memberikan jawaban serupa. "Maaf, kami tidak tahu cara membuat benda seperti itu," atau "Tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya." Setiap penolakan membuat langkahnya terasa semakin berat. Matahari mulai condong ke barat, memberi tanda bahwa sore telah tiba.
Dengan langkah lesu, Lefiya akhirnya menyerah untuk sementara. "Mungkin aku bisa melanjutkannya besok," gumamnya pada diri sendiri. Ia mengalihkan tujuannya ke toko besi, berharap setidaknya bisa membeli batang-batang besi yang mereka butuhkan untuk menempa bagian lain sepeda.
Di dalam toko, suara dentingan logam dan aroma tajam baja yang dipanaskan menyambutnya. Di belakang meja kayu besar, seorang dwarf perempuan paruh baya dengan rambut abu-abu pendek dan lengan yang berotot berdiri. "Selamat datang! Apa yang bisa kubantu?" sapa dwarf itu dengan suara berat tapi ramah.
Lefiya menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku ingin memesan beberapa batang besi... untuk proyek menempa."
Sang dwarf mengangkat alis, tampak sedikit terkejut. "Seorang Elf yang mau menempa? Itu jarang sekali. Bukankah kalian biasanya lebih suka pekerjaan yang bersih dan elegan?" tanyanya sambil tertawa kecil, nada bicaranya lebih ke arah bercanda daripada mengejek.
"Aku membantu seorang teman yang sangat berarti bagiku," jawab Lefiya dengan jujur, meski ada rona merah di pipinya.
Mendengar itu, senyuman hangat terlukis di wajah sang dwarf. "Aku suka jawabanmu! Baiklah, batang besi seperti apa yang kau butuhkan?"
Setelah menyebutkan spesifikasinya, Lefiya memberanikan diri untuk mengeluarkan ban yang masih dipegangnya. "Ngomong-ngomong... apakah Anda tahu ada pengrajin di sekitar sini yang bisa membuat benda seperti ini?" tanyanya sambil menyerahkan ban luar dan ban dalam kepada sang dwarf.
Dwarf itu mengambil kedua benda tersebut dan memeriksanya dengan teliti. Ia memegang ban dalam yang lentur, menekannya perlahan, dan merasa heran ketika merasakan udara di dalamnya. "Hah, benda ini... seperti terbuat dari bahan mirip slime. Menarik sekali. Aku tahu seseorang yang mungkin bisa mencobanya, tapi..." Ia berhenti sejenak, mengusap dagunya dengan jari yang kotor oleh serbuk besi.
"Siapa? Bisakah Anda mengenalkan aku padanya?" tanya Lefiya dengan semangat yang kembali menyala.
Sang dwarf malah tersenyum penuh arti dan berkata, "Bagaimana kalau kau coba membuatnya sendiri? Kalau kau berhasil, aku yakin temanmu akan lebih menghargainya."
Lefiya terdiam sejenak, lalu tanpa sadar membayangkan senyum hangat Shirou jika ia benar-benar berhasil membuat ban tersebut sendiri. Ia mengangguk dengan penuh tekad. "Baiklah. Akan kucoba," jawabnya dengan suara mantap. Ia memasukkan kembali ban tersebut ke dalam tas besar supporter-nya yang kini sudah jauh lebih berat setelah diisi dengan batang-batang besi.
Setelah membayar total 100 ribu Valis untuk pesanannya, Lefiya mengangkat tas berat itu dengan susah payah dan keluar dari toko besi. "Ini akan menjadi tantangan, tapi aku tidak akan menyerah," gumamnya, mencoba menyemangati dirinya sendiri. "Shirou pasti akan bangga."
