Matahari di Ujung Musim Panas
[musim panas itu, untukmu, untuknya, dan untukku juga!]
.
.
.
Sudut Pandang: Boruto Uzumaki
Setting: Sebuah pulau kecil di Prefektur Ehime, Jepang, Juli 2007.
Kalau ada bulan yang bisa menyimpan cahaya, maka Juli menaruhnya di ujung daun, di lipatan yukata, dan di sela tawa teman-temanku.
Musim panas seperti ini, langit selalu biru sampai jam tujuh malam. Di desa nelayan kecil tempat aku tinggal—dikelilingi laut yang tenang dan bukit-bukit hijau yang tampak menguap di kejauhan—hari-hari berjalan pelan seperti perahu dayung yang malas bergerak.
Hari itu, kami sedang duduk di tangga batu menghadap laut. Aku, Sarada, dan Mitsuki.
Sarada baru saja menumpahkan cerita tentang ayahnya yang katanya sedang berlayar ke utara bumi. "Ke Alaska," katanya, "katanya ingin melihat matahari tengah malam sebelum ulang tahunnya nanti."
"Matahari tengah malam? Serius?" Mitsuki menoleh, agak takjub.
Sarada mengangguk sambil menyeka keringat dari pelipisnya dengan sapu tangan bergambar anjing shiba. "Ayahku selalu punya alasan aneh untuk pergi. Tapi… aku rasa dia cuma ingin menghilang sebentar."
Aku mendengarkannya sambil mencatat bayangan laut yang terpantul di bola matanya. Bukan karena aku naksir Sarada—bukan, tentu saja bukan. Aku cuma… terpana. Kadang-kadang. Seperti waktu aku pertama kali lihat dia melempar lawan judo-nya yang dua kali lebih besar. Atau waktu dia berani naik ke atap sekolah cuma buat mengatur ulang bendera yang miring.
Tapi Sarada bukan milik siapa-siapa. Bahkan bukan milik ayahnya sendiri, kurasa.
"Ayahmu ulang tahun bulan ini, kan?" tanyaku, akhirnya bersuara.
"Dua puluh tiga Juli," jawab Sarada, tersenyum kecil. "Dia bilang mau pulang seminggu setelahnya. Tapi entahlah."
Kami terdiam sebentar. Di kejauhan, suara semi bersahut-sahutan. Serangga kecil yang entah kenapa selalu terdengar seperti pengingat: bahwa waktu berjalan, bahkan ketika kita diam.
Mitsuki berdiri duluan. "Ayo, kita harus latihan. Festival kembang api-nya tinggal tiga hari lagi."
"Latihan jalan bareng?" aku menggoda.
"Latihan bawa gerobak makanan ke lapangan," sahut Mitsuki datar, tapi ujung bibirnya tersenyum. Dan aku perhatikan sesuatu—cara Sarada melihatnya saat itu. Ada halus cahaya di matanya yang sama seperti ketika dia bicara tentang ayahnya.
Aku berdiri paling akhir, dan saat itu aku sadar. Aku tidak lagi satu langkah di depan mereka.
.
.
Festival musim panas selalu jadi highlight musim ini. Di tahun 2007, semuanya masih sederhana. Musik dari tape recorder tua, kembang api yang dibeli dari toko kelontong, dan yukata yang diwarisi dari kakak sepupu.
Sarada mengenakan yukata biru laut dengan motif bunga ajisai. Mitsuki memakai yang warna putih dengan garis-garis hijau. Dan aku? Aku selalu merasa seperti anak kecil pakai baju dewasa.
Di sepanjang jalan menuju lapangan desa, lampion merah bergantung di antara tiang-tiang bambu. Ada wangi takoyaki, suara obon taiko dari kejauhan, dan gelak tawa anak-anak yang berlarian sambil memegang kembang api kecil.
Kami bertiga duduk di pinggir lapangan, dekat pohon sakura yang saat musim panas hanya meninggalkan ranting-ranting gemuk. Kami makan kakigōri rasa melon, dan Mitsuki sesekali mengelap lelehan es dari tangan Sarada.
Aku melihat mereka. Lalu melihat ke langit.
Di atas sana, satu demi satu cahaya mekar. Seperti bunga yang tumbuh cepat lalu gugur dalam satu detik. Dan aku berpikir, mungkin aku juga seperti kembang api—terpana, sesaat, lalu hilang.
Boruto 13 tahun bukanlah seseorang yang bisa berkata jujur tentang perasaannya. Apalagi pada Sarada. Tapi malam itu, saat dia melihat Sarada tertawa sambil menepuk lengan Mitsuki karena lelucon bodoh tentang cumi-cumi raksasa, dia tahu.
Dia tahu dia tidak sedih.
Dia tahu dia tidak marah.
Dan di tengah suara semi, lampu festival, dan langit malam yang berkedip-kedip… dia tahu, dia akan selalu ada di antara mereka, sebagai musim yang tidak pernah meminta untuk diingat.
.
.
Beberapa hari setelah festival, pulau kami kembali sepi. Tapi di musim panas, sepi bukan berarti kosong. Sepi di sini terasa seperti daun pisang yang bergerak karena angin—ada suara, tapi tidak memburu.
Mitsuki dan Sarada mulai sering jalan berdua. Alasannya macam-macam—beli semangka ke pasar bawah, bantu Pak Kubo yang sakit di toko kelontong, atau sekadar "nyari tempat adem". Aku tidak ikut, dan mereka tidak menawari. Tapi itu bukan berarti mereka menjauhiku.
"Kau bisa ikut kalau mau," kata Sarada waktu itu, sambil membetulkan topinya.
Aku menggeleng, sok santai. "Nggak usah. Aku mau latihan lempar di lapangan."
Padahal hari itu panasnya luar biasa. Rumput lapangan seperti meleleh. Tapi aku tetap melempar bola karet sendirian, sampai telapak tanganku merah. Sampai akhirnya aku duduk di bawah pohon kamfer, dan tertidur dengan peluh masih menempel di pelipis.
Dalam mimpi siang itu, aku melihat ulang tahun Sasuke.
Dia berdiri di sebuah dermaga kayu yang berderit, memunggungi matahari. Tangan kirinya menggenggam sepucuk surat lusuh. Dan di sebelahnya, Sarada kecil memanggil-manggil, tapi Sasuke hanya diam. Angin meniup surat itu ke laut, dan Sarada menangis pelan.
Aku terbangun sebelum sempat mendekat.
Esoknya, kami bertemu lagi di toko roti tepi pantai—tempat di mana semua anak-anak desa suka nongkrong karena roti melon di sana murah dan dingin.
Sarada duduk di samping Mitsuki, tertawa karena leluconnya tentang kalajengking yang menyamar jadi juru masak sushi. Aku ikut tertawa, karena memang lucu. Tapi aku juga melihat—betapa mudahnya mereka sekarang berbagi ruang dan keheningan. Ada kenyamanan yang tidak terbentuk dalam sehari.
"Kenapa nggak pernah ngajak aku?" tanyaku akhirnya, agak bercanda, tapi juga setengah sungguhan.
Mitsuki menatapku sebentar, lalu berkata, "Karena kau selalu sibuk jadi Boruto."
Aku mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Jadi Boruto yang kuat. Boruto yang cepat. Boruto yang nggak mau kelihatan lemah."
Sarada tidak membela, dan aku merasa lebih terpukul karena itu. Tapi aku hanya mengangguk.
Karena mungkin dia benar.
Sore itu, aku pulang lewat jalan setapak yang jarang kulalui. Jalan itu melingkar melewati ladang bunga matahari. Ladang itu selalu menghadap ke barat—ke arah matahari tenggelam. Dan di tengah ladang itu, aku melihat Sarada berdiri sendiri.
Dia memegang sesuatu—sebuah surat?—dan menatap ke langit.
Aku hampir memanggilnya, tapi suara semi terlalu keras. Atau mungkin aku memang tak pernah berniat memanggil.
Sarada menyentuh kalung kecil di lehernya. Kalung dengan liontin berbentuk shuriken kecil. Aku tahu itu dari siapa.
Dari ayahnya.
Di rumah malam itu, aku duduk di kamar, membuka kotak tua berisi benda-benda kecil: medali judo pertamaku, selembar foto saat aku masih SD—aku dan Sarada berdiri canggung di depan sekolah, dia menggigit es krim dan aku mengernyit pada kamera.
Di balik foto itu, ada tulisan tangan kecil:
"Jangan kalah dari siapa pun, bahkan dari dirimu sendiri." —Sasuke-sensei
Sasuke adalah orang yang mengajariku judo. Tapi lebih dari itu, dia adalah orang pertama yang bilang aku keras kepala seperti matahari. "Bisa hangat, bisa membakar," katanya waktu itu. "Terserah kau mau jadi yang mana."
Dan malam itu, aku tahu.
Aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti Mitsuki—tenang, sabar, dan selalu tepat waktu dalam hal-hal kecil yang penting. Tapi aku juga bukan anak kecil yang selalu ingin menjadi pusat segalanya.
Aku adalah Boruto. Dan aku… lega.
.
.
Festival penutup musim panas selalu diadakan di bukit kecil di ujung desa. Kami harus berjalan kaki hampir dua puluh menit dari jalan utama, melewati jembatan bambu dan sawah yang mulai menguning. Tapi semua orang tahu—tempat itu punya pemandangan terbaik untuk menonton kembang api.
Aku, Sarada, dan Mitsuki berjalan bertiga, seperti biasa. Tapi malam itu, kami tidak bicara banyak. Hanya langkah dan suara semi yang menemani. Seakan mereka pun tahu—ini mungkin jadi malam terakhir kami bersama musim ini.
Di atas bukit, warga desa sudah ramai. Tikar-tikar digelar, lampion dinyalakan. Sarada duduk di tengah, seperti biasa. Tapi kali ini dia bersandar sedikit pada bahu Mitsuki.
Aku melihatnya sekilas, lalu menatap langit.
Mitsuki tidak menoleh padaku. Tapi dia menggeser duduknya sedikit, cukup agar Sarada bisa lebih nyaman.
Dan aku?
Aku tersenyum.
Bukan senyum pahit. Bukan senyum palsu. Tapi senyum yang keluar begitu saja, seperti embusan angin yang datang tanpa dipanggil.
Saat kembang api pertama meledak, aku mendongak dan merasa seperti bocah lagi. Langit menggelegar, mekar dalam warna merah, hijau, emas, dan akhirnya—kuning.
Warna yang paling lama menetap di langit.
Sarada menepuk tanganku pelan. "Terima kasih ya, Boruto," katanya pelan.
Aku menoleh. "Untuk apa?"
Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum, lalu kembali menatap langit.
Dan aku mengerti.
Terima kasih karena aku tetap di sini. Terima kasih karena tidak membuatnya harus memilih. Terima kasih karena menjadi temannya, bahkan saat aku tahu aku bisa saja ingin lebih.
Saat kembang api terakhir meledak, angin bertiup lebih dingin. Di bawah kami, laut tampak seperti cermin, memantulkan cahaya dan suara tawa yang samar.
Sarada menggenggam tangan Mitsuki, tanpa kata. Mitsuki hanya mengangguk, seolah sudah tahu sejak lama.
Dan aku, Boruto Uzumaki, menatap ke depan.
Aku bukan pusat cerita ini. Tapi aku bagian dari musim ini.
Dan musim panas 2007 akan selalu jadi milikku juga.
.
.
Epilog kecil:
Beberapa minggu kemudian, kartu pos dari utara datang. Sarada membacanya keras-keras sambil tertawa:
"Kau benar, Sarada. Matahari di sini aneh. Tapi tidak lebih aneh dari perasaanmu pada Mitsuki. —Ayah."
Aku tertawa paling keras.
.
.
.
.
.
- OWARI -
.
.
Boruto: Naruto Next Generations — belongs to Masashi Kishimoto, Ukyo Kodachi dan Mikio Ikemoto
Story by Rachel Cherry Giusette
Playing on the background: Nandemonaiya — RADWIMPS (Your Name OST)
