The Day I Found Her Crying
..
Boruto © Masashi Kishimoto, Ukyo Kodachi, and Mikio Ikemoto
Story by Rachel Cherry Giusette
.
.
Sore itu, lapangan belakang sekolah telah lengang. Langit mulai berwarna jingga, dan suara gemuruh sepatu-sepatu di lorong sekolah telah sirna. Futsal yang dilakoninya bersama beberapa teman hanya menyisakan keringat dan kelelahan di bahu Inojin. Teman-temannya telah lebih dulu pulang. Ia menyendiri, berjalan pelan, membiarkan langkahnya membawa ke arah kolam renang sekolah yang terletak tak jauh dari gedung olahraga.
Ia tidak berharap menemukan apa pun di sana—namun dunia, barangkali, tengah bersiasat untuk menunjukkan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Di sisi kolam, seorang gadis tengah terduduk, bersandar pada pagar pembatas. Rambutnya terurai kusut, seragamnya basah kuyup menempel pada tubuh. Mata yang biasanya menyala dengan percaya diri itu kini sembab, merah, dan kosong.
Chocho.
Bukan Chocho yang selama ini ia kenal—yang centil, vokal, dan dipenuhi canda. Ini adalah sosok yang telanjang dari segala perlindungan ego. Rapuh. Hening. Nyaris tak nyata.
Inojin terdiam di tempatnya. Napasnya tercekat.
Dalam sekejap, waktu seolah beku.
Ia menatap gadis itu dalam-dalam. Dalam benaknya, terlintas banyak momen—tawa lepas Chocho saat mereka bertukar lelucon, kalimat-kalimat nyinyirnya yang tak pernah gagal membungkus kehangatan, cara gadis itu berceloteh tentang pria-pria tampan dengan percaya diri yang seolah tak tergoyahkan.
Tapi kini, sosok itu hancur di hadapannya. Tanpa pertahanan. Tanpa topeng.
Ia melangkah mendekat, perlahan, takut mengejutkannya. Namun suara langkahnya di atas lantai basah tetap terdengar. Chocho menoleh, dan meski air mata telah membuat penglihatannya kabur, ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya.
Ia berusaha menyembunyikan wajahnya, buru-buru mengusap air matanya. Tapi Inojin sudah berlutut di hadapannya.
Tanpa satu pun kata, tanpa pertanyaan, tanpa desakan, Inojin merentangkan tangannya—dan memeluknya.
Chocho membeku. Sekejap. Lalu bahunya mulai bergetar, tubuhnya terguncang oleh isak yang tak tertahan. Tangis itu meledak, lirih, namun menyayat. Ia berusaha menahannya, menggigit bibir agar tak bersuara, karena harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan dirinya terlihat selemah ini. Namun pelukan Inojin justru membuat segalanya runtuh lebih dalam.
Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengeratkan pelukannya, seolah ingin menenangkan badai dalam diam.
Di dalam dadanya, Inojin merasakan sesuatu meledak—tak bisa dijelaskan.
Ia tahu, ini bukan sekadar simpati. Ini bukan sekadar empati. Ini adalah semacam deduksi yang selama ini diam-diam ia susun sendiri: bahwa Chocho, di balik segala gelora dirinya, hanyalah seorang gadis yang ingin dicintai sebagaimana adanya. Dan hari itu, Inojin menyadari sesuatu yang tak ingin ia akui sebelumnya—ia selama ini selalu memperhatikannya.
Bukan karena kecantikan fisik, atau lelucon khasnya, melainkan karena… keberanian Chocho untuk menjadi dirinya sendiri di tengah dunia yang suka menghakimi.
Namun kali ini, keberanian itu runtuh. Dan hanya Inojin yang menjadi saksinya.
.
.
.
.
.
Hari-hari setelah senja itu berjalan dengan keheningan yang aneh. Bukan hening karena diam, melainkan karena kejujuran yang baru saja tercipta namun belum sempat dirumuskan dalam kata. Inojin tahu benar, sejak hari di kolam itu, ada sesuatu dalam diri Chocho yang berubah. Bukan ke arah yang buruk, bukan pula mencolok, tetapi cukup untuk dirasakannya sebagai orang yang selama ini memperhatikannya paling dekat—meski diam-diam.
Chocho tidak lagi tampil meledak-ledak di hadapannya. Ia tetap jenaka di tengah teman-teman, tetap percaya diri saat bicara di kelas. Tapi hanya ketika berdua, di sela waktu-waktu acak, sikapnya menjadi lebih tenang, lebih nyata, dan Inojin menyadari satu hal: hanya di hadapannya, Chocho melepaskan ego.
Suatu sore, ketika hujan turun pelan dan langit berwarna kelabu, Inojin menyusuri koridor sekolah yang semakin lengang. Ia tahu ke mana harus melangkah. Perpustakaan lama yang sudah tak lagi digunakan menjadi tempat yang sejak lama dijadikan pelarian oleh murid-murid yang mencari ketenangan—atau pelupaannya sendiri. Dan benar saja, di balik jendela tua yang dipenuhi debu dan rembesan cahaya redup, ia melihat sosok yang tengah duduk bersandar pada rak buku usang.
Chocho.
Ia mengenakan seragam yang rapi, rambutnya dikuncir setengah, dan wajahnya—kali ini tanpa rias, tanpa senyum, tanpa topeng.
Inojin membuka pintu perlahan. Bunyi engsel yang berderit membuat Chocho menoleh, namun kali ini ia tak berusaha kabur atau menutupi dirinya. Ia hanya menatap Inojin sejenak, lalu kembali menunduk.
Inojin duduk di sebelahnya. Tak ada basa-basi. Hanya keheningan yang akrab.
"Kenapa waktu itu kau lompat ke kolam?" tanyanya akhirnya, dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan di tengah perpustakaan yang menjaga rahasianya sendiri.
Chocho diam lama, seolah mempertimbangkan apakah ia harus jujur atau kembali menjadi dirinya yang biasa.
"Aku ingin tahu… seberapa kuat aku kalau sedang sendirian," jawabnya akhirnya, suaranya berat. "Apakah tawa dan kepercayaan diriku benar-benar milikku, atau cuma… pertunjukan."
Inojin menoleh, memperhatikannya. "Dan… jawaban yang kau temukan?"
Chocho tersenyum kecil, getir. "Aku ketakutan. Ketika air itu menutup kepala dan tubuhku, aku… aku benar-benar takut. Ternyata aku nggak sekuat yang kupikir."
Inojin mengangguk pelan. Ia tidak mengejek, tidak menyela.
Chocho menatapnya, mata besarnya basah namun tak seekspresif waktu di kolam dulu. "Lucu ya… aku sering bilang kalau cowok harus ganteng dan keren, tapi ternyata yang pertama kali membuatku merasa aman… justru kau. Orang yang paling sinis, yang paling jarang muji siapa pun."
Ia terkekeh pelan, namun matanya jujur.
Inojin merasakan dadanya seperti ditarik ke dalam. Ia tak bisa lagi membohongi dirinya. Ada perasaan yang menumpuk—yang selama ini ia pikir hanya kekaguman terhadap karakter unik Chocho, namun kini mekar sebagai sesuatu yang lebih dalam, lebih nyata.
Ia meraih wajah gadis itu perlahan. Sentuhannya lembut, tidak tergesa. Di hadapannya kini bukan Chocho yang sombong dan jenaka, tetapi gadis muda yang sedang belajar menerima dirinya apa adanya.
"Chocho…" ucap Inojin, napasnya menempel di udara.
Cup.
Dan ia menciumnya. Bukan ciuman impulsif, bukan pula karena rasa penasaran. Itu adalah ciuman yang tulus—sebuah pernyataan bahwa bahkan kelemahan pun layak dicintai. Bahwa kesempurnaan tidak pernah menjadi syarat untuk dipeluk.
Chocho membeku sesaat, lalu memukul bahu Inojin. "Kau pikir ini lucu, ya?" tanyanya, dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak," jawab Inojin, mengeratkan pelukannya. "Aku hanya ingin memeluk semua kekuranganmu. Karena aku tahu… yang kau butuhkan bukan pujian, tapi penerimaan."
Dan di sudut perpustakaan lama itu, di antara buku-buku yang tak lagi dibaca, dua anak manusia saling menemukan sesuatu yang tak pernah mereka cari, tapi selalu mereka butuhkan—tempat untuk menjadi diri sendiri, sepenuhnya.
.
.
/end/
