Disclaimer: Naruto dan Boruto milik Masashi Kishimoto dan Mikio Ikemoto. Saya hanya meminjam karakternya.

Warning: gaje, typo (maybe), lemon, agak ooc

Happy Reading :)

Satu tahun telah berlalu. Banyak hal yang kulalui bersama Shinki setelah kita menikah. Salah satunya yaitu kelahiran buah hati kami yang telah lahir ke dunia ini dalam keadaan sehat dan berjenis kelamin perempuan. Putriku sangat mirip dengan Shinki dilihat dari rambutnya yang berwarna coklat kehitaman dan bentuk wajahnya. Hanya bentuk mata dan bibir yang mirip denganku. Warna matanya pun juga sama denganku yang sama-sama berwarna biru. Ternyata benar yang dikatakan oleh banyak orang bahwa terlalu benci kepada orang saat hamil akan membuat anak kita lebih mirip dengan orang yang kita benci. Inilah yang kualami saat ini saat melahirkan putriku.

Saat ini aku berada di teras rumah dengan menyusui putriku. Aku memutuskan untuk cuti kuliah selama satu semester agar kondisi fisik dan mentalku lebih baik setelah melahirkan. Terus terang saja kalau merawat anak bayi itu sangat melelahkan. Aku pun juga tidak bisa seperti dulu yang biasanya suka hang out bersama teman-temanku. Ditambah lagi putriku selalu mengajakku begadang.

"Minumlah."

Aku mendongakkan kepalaku menatap ibuku yang menghampiriku dengan membawa segelas susu. Ibuku memutuskan untuk kembali ke Jepang setelah aku menikah. Ibuku ingin mengawasiku dan putriku agar kami tetap selalu aman dan nyaman. Ibuku tidak sepenuhnya percaya kepada Shinki karena ia sangat sibuk kuliah sekaligus bekerja paruh waktu. Padahal ibuku sudah menawarkan diri kepada Shinki untuk membiayai kuliahnya sampai lulus tetapi dia tidak mau.

"Terima kasih," ucapku lalu meminum susu hingga habis.

"Mama tak menyangka kau bakalan senasib dengan mama," kata ibuku.

"Oh ya? Pantas saja mama mau menikah sama papa. Mama 'kan jauh lebih kaya dibandingkan papa meskipun sama-sama CEO," kataku.

"Mama pikir papamu akan menjadi sosok pembimbing yang lebih baik dibandingkan kakekmu. Ternyata salah besar. Papamu lebih memilih jalang miskin dibandingkan mama," kata ibuku kesal.

"Kalau boleh jujur, istrinya papa itu baik, lo," kataku.

"Kalau dia orang baik, dia tidak akan merusak rumah tangga Mama dan Papa," kata ibuku.

Aku tahu bahwa ibu masih sangat mencintai ayahku. Sebelum ibuku bekerja di New York, aku selalu menyaksikan ibuku menangis diam-diam di dalam kamarnya sembari menatap foto pernikahannya dengan ayahku. Aku tahu bahwa perceraian kedua orang tuaku yang menyakitkan hatiku namun aku menyadari bahwa alangkah baiknya jika mereka cerai. Ayahku terlalu cinta pada selingkuhannya yang merupakan pacarnya saat SMA sedangkan ibuku sangat sibuk dengan pekerjaannya sekaligus mewujudkan ekspektasi kakekku sampai lupa dengan ayahku. Kuharap aku tidak akan mengikuti jejak kedua orang tuaku meskipun aku tidak mencintai Shinki.


Mumpung putriku sedang tertidur pulas, aku mempelajari materi kuliah untuk semester ini yang diberikan oleh Tarui agar aku tidak banyak tertinggal kembali kuliah. Aku pun juga mendengarkan musik melalui earphone supaya lebih mudah menyerap materi yang kupelajari.

"Jangan memaksakan dirimu. Masa cutimu masih panjang. Lebih baik kau tidur sebelum Yoko bangun," tiba-tiba Shinki berada di sampingku dengan mencabut salah satu earphone-ku disaat aku sedang membaca dan menyalin buku catatan Tarui.

"Kau saja yang tidur. Aku masih ingin belajar," kataku ketus.

"Ya sudah kalau begitu jangan mengeluh jika tidak bisa tidur seharian," kata Shinki.

"Sial!" aku langsung menutup bukuku secara kasar.

"Masih ada waktu lain untuk belajar. Kau bilang kepadaku bahwa Yoko selalu tidur siang. Saat itu juga kau bisa belajar. Kalau malam harus tidur tepat waktu," kata Shinki.

"Ternyata seperti ini yang dirasakan oleh Araya-kun saat sekamar denganmu," kataku lalu membaringkan tubuhku di atas kasurku yang empuk.

"Jangan bangunkan aku jika kau mendengar Yoko rewel," kataku lalu memejamkan mataku.

Sayangnya aku tidak bisa tidur. Aku bukanlah tipe orang yang mudah tidur jika dipaksa tidur. Membuatku mendudukkan diriku lalu memeluk Shinki dari belakang.

"Hei, ada apa?" tanya Shinki.

"Aku tidak bisa tidur. Lakukan sesuatu," jawabku.

"Omong-omong, apakah kau dalam masa subur?" tanya Shinki.

"Tidak. Kau ingin berhubungan seks denganku?" jawabku lalu bertanya kepada Shinki.

"Iya. Siapa tahu kau bisa tidur secepatnya," jawab Shinki dengan pipi memerah.

"Baiklah," kataku lalu melepaskan seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Begitu pun juga dengan Shinki.

Shinki hendak menindih tubuhku namun aku segera mendorong tubuhnya hingga aku berada di atasnya. Mata hijau Shinki menatapku yang sedang memegang kejantanannya lalu aku berusaha memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaanku. Setelah itu, aku menggerakkan pinggulku dengan pelan lalu kedua tanganku memegang dada bidang Shinki.

"Saatnya aku melayanimu," kataku masih menggerakkan pinggulku seperti main kuda-kudaan.

"Sejak kapan kau mengetahui posisi seperti ini? Apakah kau habis menonton film porno?" tanya Shinki lalu kedua tangannya meremas payudaraku.

"Kau tak perlu tahu. Yang penting aku berusaha melayanimu," jawabku lalu aku mendesah.

"Pelan-pelan. Nanti Yoko bangun," kata Shinki memperingatkan aku.

"Kau juga jangan terlalu keras meremas payudaraku. Aku masih dalam masa menyusui, tahu?" kataku juga memperingatkannya.

"Sampai sekarang aku tak menyangka bahwa kau mau menyusui anak kita. Kupikir kau tipe wanita yang tidak suka menyusui," kata Shinki lalu mendesah.

"Jangan meremehkan aku. Biarpun aku begini tapi aku berusaha menjadi ibu yang baik, tahu?" kataku lalu mendekatkan wajahku ke wajah Shinki untuk mencium bibirnya.

Setelah itu, kami berdua mencapai klimaks-nya. Bersamaan juga dengan suara tangisan putri kami yang membuatku beranjak dari tubuh Shinki lalu menghampirinya untuk menggendongnya.

"Cup..cup..tenanglah," kataku dengan menggoyang pelan tubuh putriku. Kemudian aku menyusui putriku. Ternyata putriku ingin minum susu.

"Yoko sangat menyukai ASI-mu. Jangan sekalipun untuk minum alkohol maupun merokok selama kau menyusui. Aku tidak ingin kesehatan kalian berdua terganggu" kata Shinki.

"Berisik!" bentakku hingga Shinki terdiam.


Keesokan harinya, aku mengajak putriku jalan-jalan dengan berjalan kaki mengelilingi pusat Kota Tokyo. Aku sengaja mengajaknya jalan-jalan dengan berjalan kaki karena aku khawatir putriku tidak nyaman duduk di kursi mobil jika aku menyetir sendirian. Aku menggunakan kereta bayi supaya tidak lelah menggendong putriku terus saat berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Di tengah perjalanan, aku tak sengaja bertemu dengan Araya yang sedang berjalan cepat ke suatu tempat.

"Hei, mau kemana kau?" panggilku hingga Araya berhenti berjalan lalu membalikkan badannya untuk menghampiriku.

"Yodo-chan, lama tak bertemu," kata Araya kepadaku.

"Mau kemana kau buru-buru?" tanyaku.

"Aku segera ke bengkel untuk mengambil mobilku agar tidak lama mengantri," jawab Araya.

"Boleh aku ikut?" tanya Yodo.

"Boleh. Kalau begini 'kan enak tidak terburu-buru. Soalnya ada temannya," kata Araya.

Kemudian aku dan Araya berjalan berdampingan. Aku memperhatikan Araya yang sedang menatap wajah putriku secara lebih dalam.

"Dia sangat mirip denganmu," kata Araya.

"Mirip apanya? Sudah jelas sangat mirip temanmu. Aku menyesal sekali

terlalu membencinya disaat hamil," kataku kesal.

"Tidak apa-apa. Daripada mirip orang lain. Yang penting putrimu sangat cantik sepertimu," kata Araya tersenyum.

"Benar juga," kataku.

"Omong-omong, bagaimana keadaan Shinki? Apakah penyakitnya masih kambuh? Dia terkena panic attack 'kan?" tanya Araya.

"Terkadang kambuh jika sedang belajar menghadapi ujian maupun mengerjakan tugas dari dosen killer-mu. Bisa dibilang lebih parah saat mengerjakan tugas kelompok," jawabku.

"Omong-omong, dia kurang berkomunikasi dengan teman selain diriku. Itulah sebabnya dia merasa tertekan mengerjakan tugas kelompok jika tidak sekelompok denganku," jelas Araya.

"Pantas saja," kataku.

"Omong-omong, apakah ada keluhan yang ingin kau sampaikan kepadaku tentang Shinki?" tanya Araya.

"Dia selalu berisik setiap kali sebelum tidur. Maksudku dia selalu menceramahiku. Bikin kesal saja sampai hampir tidak bisa tidur setiap hari," jawabku penuh emosi.

"Hahaha memang seperti itu orangnya," kata Araya tertawa.

"Tidak lucu, dasar bodoh!" kataku kesal.

"Hahaha maaf maaf," ucap Araya.

"Araya-kun," panggilku.

"Ada apa?" tanya Araya.

"Menurutmu, apakah aku akan hidup bahagia bersama Shinki? Jika menurutmu aku tidak akan bahagia bersamanya, akan kuceraikan dia mumpung putriku masih bayi," tanyaku. Kali ini suasana menjadi tegang.

"Sesuai dengan kata hatimu. Soalnya yang menjalankan dirimu. Tapi aku yakin sekali Shinki akan menjadi kepala keluarga yang baik bagimu dan Yoko-chan," jawab Araya.

"Terima kasih atas jawabannya, Araya-kun. Sekarang aku jadi lega," ucapku.

"Kuharap pernikahanmu awet dengan Shinki," kata Araya.

"Selalu do'akan aku untuk tahan dengan sikap Shinki. Aku tidak ingin menceraikannya," kataku. Araya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.

Seketika aku dan Araya terkejut berpapasan dengan Shinki di tengah jalan. Aku melihat mereka berdua saling berpelukan satu sama lain untuk melepas rindu setelah setahun lebih mereka berpisah kamar.

"Kalian mau kemana?" tanya Shinki lalu menatapku. "Sejak kapan kau jalan bersama Araya? Bukankah kau hanya izin kepadaku untuk mengajak Yoko jalan-jalan?"

"Sekitar 10 menit yang lalu. Aku tak sengaja bertemu dengannya," jawabku.

"Ke bengkel untuk ambil mobilku. Benar yang dikatakan oleh Yodo-chan bahwa kami baru bertemu," sahut Araya menyetujui jawabanku.

"Oh begitu," kata Shinki dengan menganggukkan kepalanya.

"Kau sendiri habis dari mana?" tanyaku.

"Bertemu dengan Sarada di rumahnya," jawab Shinki malu-malu.

"Dalam rangka apa? Apakah kau habis berhubungan seks dengannya?" tanyaku dengan nada santai. Aku tak masalah Shinki berhubungan lagi dengan mantan pacarnya karena pernikahan kami bersifat terbuka meskipun Shinki berjanji kepadaku untuk tidak main api dengan wanita lain.

"Selalu saja mulutmu kejam," kata Shinki kesal kepadaku. "aku hanya dijadikan responden olehnya dalam mengerjakan tugasnya," jelas Shinki.

"Kukira apa. Tidak apa-apa kok berhubungan seks dengannya," kataku bermaksud menggodanya hingga mendapatkan tatapan tajam dari Shinki.

"Habis ini kau mau kemana?" tanya Araya.

"Mau pulang sih," jawab Shinki.

"Ikut kami saja. Habis itu kami juga ingin makan siang di tempat langgananku," ajak Araya.

"Kau ingin mengajakku juga?" tanyaku terkejut.

"Tentu saja. Biar ramai. Waktu itu aku pernah mengajakmu makan di situ," jawab Araya.

"Oh Restoran Shinju ya?" tebakku.

"Iya benar," jawab Araya.

"Itu makanannya enak-enak loh," kataku.

"Tunggu?! Itu menunya mahal-mahal, tahu?" tanya Shinki terkejut.

"Tenang saja. Aku yang bayar," kata Araya dengan menepuk pundak Shinki.

"Aku jadi tidak enak padamu," kata Shinki.

"Tidak apa-apa," kata Araya.

Setelah itu, kami berdua berjalan bersama. Aku mendengarkan Shinki dan Araya saling mengobrol satu sama lain dengan panjang lebar. Aku memakluminya karena hubungan mereka berdua lebih dari sekedar sahabat. Bisa dibilang Shinki bertindak sebagai ayah bagi Araya. Ditambah lagi mereka berdua sangat tulus dalam berteman. Membuatku ingin menjadi bagian dari kehidupan persahabatan mereka. Kuharap hubungan persahabatan mereka awet sampai kapanpun. Begitupun juga dengan hubungan persahabatanku dengan Araya sekaligus hubungan pernikahanku dengan Shinki. Mulai sekarang aku akan berdamai dengan diriku sendiri dengan mulai mencintai Shinki. Aku akan membiasakan diri dengan sifat Shinki yang sangat menyebalkan.

THE END

Terima kasih guys sudah menjadi pembaca setia fic ini. Akhirnya selesai juga menyelesaikan fic ini setelah bertahun-tahun terbengkalai. Sampai jumpa lagi!