Another Day Another Trouble
Naruto Belong to Masashi Kishimoto
Rated M? Maybe, untuk progress cerita kedepannya ku set jadi M aja
Genre : Romance, Crime, Action, Hurt/Comfort
Warning : Semua karakter kemungkinan besar akan ooc dari yang aslinya. AU. Bahasa campuran. Violence.
.
.
Answering review time~
Rachlnoah : Yeahh aku juga suka part dimana Naruko mukul Sasuke pakai botol. One of my favorite part _
: Makasih yaa, banyak hal yang akan terjadi di depan bakal berbeda jauh dengan aslinya. Jadi siap siap saja yaaa *
Untuk semua viewer yang review lewat PM, makasih yaa untuk apresiasinya, maaf juga kalau gabisa balesin 1 1. Maaf juga klo belum bisa accept tawaran kalian, selain karena belum kepikiran, aku juga mau bener-bener fokus nyelesaiin ceritanya dulu. Daripada udah jalan terus ceritanya discontinued kan sayang juga hehehe.
Okay segitu dulu yaa, selamat menikmati chapter 2, happy reading Ciao~
.
.
.
Naruko sampai di taman dengan berjalan dalam waktu singkat. Sesampainya di taman Naruko langsung melakukan pemanasan ringan dan meletakkan barang-barang milikknya. Setelah melakukan pemanasan, Naruko melakukan kombinasi jogging dan lari. Naruko melakukan kardio selama sekitar 1 jam. Kemudian Naruko kembali ke tempat ia meletakkan barang-barangnya dan duduk sejenak. Naruko mengambil botol minum dan meminum air mineral di dalam botolnya.
Naruko mengamati situasi taman yang terbilang cukup sepi daripada biasanya. "Tumben, hari ini terasa lebih sepi." Naruko menikmati waktu istirahat dan angin sore yang sejuk.
Saat Naruko melihat sekelilingnya, matanya menatap seseorang yang sepertinya sedang berjalan menuju ke arahnya. Naruko langsung berdiri dan bersiaga dengan tongkat bisbol di tangan kanannya.
"Untuk apa anak yang mengaku mafia itu datang kesini hah?!"
"Selamat sore nona manis, kamu nampak cantik walau berkeringat seperti itu." Ucap Sasuke dengan senyuman anehnya.
"Apa maumu?!" Ucap Naruko dengan datar sambil tetap siaga.
"Aku hanya berjalan-jalan sore seperti biasa." Sasuke terus berjalan dengan santai dan memasukkan tangannya ke saku celana.
"Seperti biasa katamu? Huh! Kau bahkan bukan orang sini. aku selalu datang kesini tapi tidak pernah melihatmu." Naruko memincingkan matanya tanda bahwa ia curiga dengan Sasuke.
Sasuke tidak menanggapi ucapan Naruko dan hanya menatap Naruko dengan intens dari atas sampai ke bawah. "Kau nampak manis sekali kitty." Sasuke tertarik dengan style rambut Naruko yang berbentuk seperti telinga kucing.
"Kitty? Bagus! Kini seseorang memiliki julukan untukku." Naruko kembali memutar bola matanya dan pergi mengabaikan Sasuke. Naruko kembali ke tempat ia tadi beristirahat dan langsung mengemas barang-barangnya.
"Mau kemana kau kitty? Aku baru saja datang."
"Apa peduliku? Bukannya kau ingin jalan-jalan biasa?"
"Ayolah, kau tau maksudku. Aku ingin mengobrol denganmu." Sasuke memasukan kedua tangannya di saku celana nampak ia mulai kesal. Naruko tak menghiraukan Sasuke dan langsung pergi meninggalkannya.
Sasuke yang tak terima dicampakkan lagi oleh wanita yang sama menjadi hilang kesabaran. Dengan kasar Sasuke menggenggam dan menarik tangan Naruko agar ia berhenti melangkah.
"Lepaskan tanganmu!" Naruko mencoba menarik tangannya dari Sasuke, namun Sasuke tetap memegang tangan Naruko dengan erat.
"Jangan marah dulu kitty. Aku tidak akan macam-macam."
Naruko mulai kehilangan kesabarannya dan dengan cepat mengayunkan tongkat bisbolnya kearah wajah Sasuke. Dengan sigap Sasuke menghindarinya dengan memundurkan kepalanya tanpa melepaskan genggaman tangannya. Naruko terus menyerang kearah Sasuke berkali-kali, namun dengan mudah Sasuke menghindari serangan Naruko. Naruko mengayunkan tongkat bisbolnya dengan arah vertikal atas ke bawah dan membuat Sasuke melepaskan genggamannya. Naruko sedikit tersenyum dan mencoba menyerang sekali lagi untuk menjauhkan dirinya dari Sasuke.
"Dasar amatir." Ucap Sasuke dengan datar sembari menghindari serangan Naruko.
Dengan gerakan cepat Sasuke mencengkram tangan Naruko yang memegang tongkat bisbol dan memelintir tangan Naruko hingga ia melepaskan tongkatnya.
"Akh!" Naruko merintih kesakitan saat tangannya dipelintir oleh Sasuke.
"Masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk melawanku, kitty." Dengan bangganya Sasuke mengucapkan hal tersebut. Sasuke menarik tangan Naruko agar tubuhnya semakin dekat dengannya.
"Jadi ini maumu?" Naruko mendengus kesal saat Sasuke menarik tubuhnya kearah Sasuke. Naruko berusaha meronta namun tenaganya kalah dengan Sasuke.
"Tentu saja kitty, bahkan aku mengharapkan lebih." Dengan lembut Sasuke membelai pinggul Naruko hingga kearah pantatnya.
Naruko semakin tersulut emosi saat tangan Sasuke mulai memegang bagian tubuhnya tanpa seizinnya. Dengan sekuat tenaga Naruko menendang kemaluan Sasuke sebanyak dua kali hingga ia merasa kesakitan dan melepaskan genggaman pada tangan Naruko.
Dengan segera Naruko mengambil semua barangnya dan pergi berlari meninggalkan Sasuke yang sedang kesakitan.
"Aaarrrghh! Awas saja kau kitty!" Dengan perlahan Sasuke berjalan mengikuti Naruko.
.
.
Dalam sekejap Naruko telah sampai di kamar apartemennya. Ia langsung masuk dan mengunci pintunya dari dalam.
"Setidaknya aku terhindar dari si brengsek itu." Naruko duduk bersandar pintu kamar sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Belum berselang lama Naruko beristirahat dengan duduk bersandar pada pintu, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang cukup keras.
"Pasti dia lagi. Pergilah brengsek! Tidak ada yang mau menemuimu." Ucap Naruko dengan sedikit berteriak.
"Umumnya kamu akan diburu karena melukaiku, tapi aku akan mengabaikannya jika setidaknya kau membiarkanku berbicara denganmu." Sasuke mengatakan hal tersebut dengan berteriak dan terdapat suara kesakitan.
"Huh mau diburu atau apapun itu aku tidak peduli. Lagipula tidak akan ada yang mencariku." Ucapan Naruko sedikit mengisyaratkan kesedihan.
Sasuke merasakan kesedihan dalam kalimat Naruko dan mencoba menurunkan nada suaranya. "Tidak Naruko, kau berbeda." Sasuke duduk bersandar pada luar pintu apartemen Naruko. "Kau tau? Aku tidak pernah menerima penolakan seperti ini, terutama dari seorang gadis. Tapi kau berbeda, Naruko. Ada api di matamu, semangat di jiwamu. Aku menyukai itu.".
Naruko terkekeh mendengar jawaban Sasuke. "Hahaha, beginikah caramu merayu setiap wanita yang kau dekati? Klasik sekali."
"Tidak ada hal seperti itu Naruko, yang kukatakan saat ini begitu tulus."
"Omong kosong! Sudahlah aku masih ada urusan."
Mendengar hal tersebut Sasuke menjadi panik karena tidak dapat mengobrol kembali dengan Naruko. "Hey kitty kamu mau kemana? Kita belum selesai." Sasuke memukul-mukul pintu apartemen Naruko.
"Aku tidak peduli, ada sesuatu yang harus kulakukan." Naruko beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu tidak bisa begitu nona manis! Bukakan pintumu atau ku dobrak kamarmu!" Sasuke menggedor pintu apartemen Naruko lebih keras.
"Kusarankan kau tidak membuat keributan, aku orang yang cukup baik di lingkungan sini. Kau tau kan apa yang terjadi jika melakukan hal tersebut?" Naruko sedikit kesal dengan perlakuan Sasuke dan mengancam akan memanggil tetangga.
"Jika hanya orang-orang sini aku tidak takut, cepat bukakan pintumu!" Sasuke mencoba mendobrak pintu apartemen Naruko.
Naruko terkejut dengan aksi nekat Sasuke dan mencoba mengancam Sasuke dengan ancaman serius. "Aku akan menelpon polisi jika kau tak berhenti melakukannya!" Naruko mulai menekan beberapa tombol dari ponselnya.
Sasuke mendengar ancaman semu dari ucapan Naruko namun Sasuke merasa ia tidak boleh bertindak gegabah dengan berurusan polisi hanya karena mengejar wanita.
"Baiklah, aku akan mundur untuk saat ini. Tapi ingatlah kitty jika aku tidak pernah menyerah." Sasuke memukul pintu apartemen Naruko sekali lalu meninggalkan tempat tersebut.
Naruko bernafas lega saat mendengar langkah kaki Sasuke menjauh dari apartemennya. "Baiklah saatnya spa day!" Dengan bersemangat Naruko menyiapkan segala keperluan untuk perawatan tubuhnya. Naruko memulai relaksasinya dengan berendam aromaterapi. Naruko menikmati acara spa day-nya hingga tanpa sadar ia bersenandung ria. Naruko memijat tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki dengan minyak zaitun. Kemudian Naruko melapisi rambutnya dengan masker rambut dan wajahnya dengan masker wajah. Sembari menunggu maskernya bekerja Naruko berendam di bak mandinya dengan air hangat. Setelah sekitar 20 menit, Naruko membilas muka dan rambutnya hingga bersih. Naruko melanjutkan perawatan tubuhnya hingga kurang lebih selama 40 menit. Setelah melakukan bersih diri dan segala perawatan pada tubuhnya, Naruko berganti baju dengan pakaian kasual. Naruko mengenakan kaos oversize dengan leher longgar berwarna biru bergambar ikan dan celana pendek berwarna biru muda. Naruko merebahkan dirinya di kasur dan mendengarkan lagu melalui ponselnya. "Andai hidup selalu damai seperti ini." Tanpa sadar Naruko perlahan menutup matanya.
.
.
Malam hari pukul 23.50 terlihat Naruko sedang tertidur pulas. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit dari pintu apartemen Naruko. Tak berselang lama terdengar pula bunyi pintu terbuka. Sosok misterius berjalan memasuki kamar Naruko dengan perlahan. Sosok tersebut melihat kalender di meja yang melingkari tanggal tepat di esok hari. Sosok misterius mendekat ke arah kamar Naruko dan berjongkok di samping kasur.
"Kau nampak semakin cantik saat tertidur seperti ini." Sosok tersebut membelai pipi Naruko dengan lembut. Naruko menggeliat saat ada yang menyentuh pipinya namun tidak sampai membuat ia terbangun.
"Lucu sekali, sebaiknya aku tidak gegabah." Sosok tersebut menghampiri jendela yang mengarah ke pemandangan kota, matanya tertuju pada kafe yang akhir akhir ini ia kunjungi. Sosok tersebut memakai sarung tangan yang telah ditempeli oleh serbuk khusus dan menempelkan seluruh telapak tangannya pada jendela. Setelah melakukan semua hal yang dia mau sang sosok misterius pergi meninggalkan unit apartemen Naruko dan membuatnya seolah tidak terjadi apapun malam itu.
.
.
Alarm berbunyi di pagi hari sinar matahari memasuki kamar Naruko Namikaze. Naruko terbangun dan mematikan alarmnya. Naruko beranjak dari kamarnya menuju ke kamar mandi. Naruko melakukan rutinitas pagi hariannya, seperti mencuci muka dan menggosok gigi. Naruko mengecek bahan di kulkasnya untuk membuat sarapan.
"Sialan aku kehabisan bacon." Naruko hanya menghela nafasnya menatap bahan makanannya sudah menipis. "Yaudah yang penting sarapan dulu."
Naruko mengambil telur, sosis, tomat ceri, dan wortel. Naruko mulai memotong-motong bahan makanannya, mulai dari memotong sosis menjadi dua, lalu memotong tomat ceri menjadi dua, dan memotong wortel menjadi bagian yang lebih tipis.
Pertama-tama Naruko menumis wortel selama sekitar 3 menit. Dilanjutkan dengan memasukkan tomat ceri sekaligus menambahkan sedikit garam. Selanjutnya setelah meniriskan sayuran, Naruko menggoreng telur mata sapi. Lalu Naruko mengolesi roti dengan mentega dan memanggangnya hingga sedikit kecoklatan. Diakhiri dengan memanggang sosis sapi hingga matang. Setelah selesai memasak semua bahan, Naruko menata makanannya sedemikian rupa di meja yang terletak di ruang tengah. "Saatnya makan." Naruko berdoa sejenak kemudian memakan sarapan yang ada di depannya.
Setelah menyantap sarapannya dengan tenang, Naruko langsung membersihkan piring dan semua peralatan memasaknya. Namun belum saja memulai mencuci tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.
"Apa anak itu datang kembali?" Naruko mendengus kesal dan mengabaikan ketukan pintu di unit apartemennya. Saat sedang mencuci ketukan pintu menjadi lebih keras dan cepat. Saat akan berteriak kepada seseorang yang ada di luar unit apartemennya, sosok tersebut berteriak terlebih dahulu.
"Keluarlah Naruko! Kami tau kau dalam!" Ketukan di pintu menjadi lebih keras.
"B-baik t-tunggu sebentar saya akan keluar." Naruko sedikit panik karena ternyata yang menggedor pintunya adalah debt collector. Naruko segera membukakan pintu dan terlihat 3 orang pria dengan perawak sangar berdri di depan pintu apartemennya. Salah satu orang bernama Zabuza memiliki tubuh berotot sambil mebalut area mulutnya dengan kain perban. Zabuza mengenakan pakaian formal berwarna abu-abu. Dengan sedikit ketakutan, Naruko mempersilakan para tamu untuk masuk.
"S-silahkan masuk tuan Zabuza, s-saya mau ambilkan minum terlebih dahulu."
"Tidak perlu repot-repot Naruko, sebaiknya kita cepat saja karena waktuku tidak banyak." Ucap Zabuza sambil melihat beberapa barang Naruko. "Harusnya kau tau jika hari ini adalah jatuh tempo pembayaran utangmu bulan ini."
"S-sebentar tuan, s-saya ambilkan uangnya." Dengan tergesa-gesa Naruko menghampiri tabungannya yang ada di kamar. Naruko terlihat sangat cemas ketika mendapati uangnya tidak cukup untuk membayar keseluruhan tagihan hutang bulanannya.
"M-maaf tuan saya hanya bisa membayar cicilan hutangnya, uang saya masih kurang untuk menbayar bunganya."
"Apa?! Tidak cukup katamu?!" Zabuza menggebrak meja karena kesal mendengar hal tersebut dari mulut Naruko.
"Jika saya diberikan waktu 1 minggu lagi, saya akan membayar penuh hutang saya termasuk bunganya."
"Cukup! Aku sudah muak denganmu yang selalu meminta keringanan! Kalian berdua ambil saja barang-barang yang ada di tempat ini."
Tanpa banyak protes para bawahan Zabuza langsung menjarah barang Naruko sebagai bayaran atas hutangnya yang tidak dapat dilunasi.
"T-tolong jangan ambil ponsel dan laptopku." Naruko mencoba untuk menghambat bawahan Zabuza yang mencoba masuk kamarnya.
"Minggir kau brengsek!" salah satu bawahan Zabuza mendorong Naruko hingga menabrak jendela kamar Naruko. Naruko langsung mengambil tongkat bisbolnya untuk melawan.
Naruko mencoba melawan dengan mengayunkan tongkatnya beberapa kali ke para bawahan Zabuza. Kedua bawahan Zabuza terdorong mundur karena ayunan tongkat Naruko.
"Dasar bawahan tidak becus! Minggir kalian semua." Zabuza geram dengan Naruko yang terus melawan dan memilih untuk turun tangan. Naruko menyerang Zabuza yang mendekat, namun Zabuza dengan mudah menangkisnya. Zabuza menendang Naruko dengan sekuat tenaga dan membuat Naruko sekali lagi terbentur jendela dengan lebih keras. Zabuza merebut tongkat bisbol Naruko lalu memukul kepala dan tubuhnya beberapa kali.
Bukk! Bukkk!
"Ackh!" Naruko menjadi linglung setelah dihantam tongkat dan terduduk sambil memegang kepalanya.
"Semua akan jadi lebih mudah jika kau tidak melawan." Zabuza melempar tongkat bisbol Naruko sembarangan dan langsung mengambil ponsel serta laptop Naruko.
Setelah mendapatkan sejumlah uang dan barang jarahan dari Naruko, Zabuza dan komplotannya pergi meninggalkan unit apartemen Naruko.
Disisi lain di sebuah kafe di depan gedung apartemen Naruko, terlihat Sasuke sedang menyeruput kopinya sembari melihat ke arah jendela unit apartemen. Sasuke tampak tau kamar apartemen yang ia incar. Tak lama kemudian pria tersebut melihat Naruko terdorong ke arah jendela.
"Kamu sedang dalam bahaya kan nona manis." Sasuke segera menghabiskan kopinya dan beranjak pergi dari kafe tersebut.
Sasuke bergegas menuju unit apartemen Naruko dengan tergesa-gesa. Ketika hampir sampai di depan unit apartemen Naruko, Sasuke bertemu dengan komplotan Zabuza yang baru saja keluar dari apartemen Naruko. "Hei kau, ada urusan apa dengan penghuni apartemen itu?" Sasuke mengatakan hal tersebut dengan nada dingin menusuk.
.
.
.
.
Bersambung~
Fyuhhh akhirnya lanjut juga yakk. Sekali lagi Min Neko baru mulai nulis fanfic nihhh. Jadi mon maap yak jika masih banyak kurangnya. Kuharap bisa terus konsisten nulis fanfic ini.
Kedepannya bakal lebih banyak adegan dewasa dan adegan kekerasan jadi siap siap aja yak. Walau Sasuke memiliki power yang cukup besar tapi dia masih bisa mikir yak, yakali berurusan ama polisi Cuma karena ngejar cewe awkwk. Mafia kerjanya di dunia bawah di balik bayangan, mereka juga tidak bisa seenaknya melawan hukum secara terang terangan.
Untuk jadwal update belum bisa dipastikan, soalnya juga ada kesibukan di RL. Makin banyak wordnya makin lama uploadnya, jadi mohon bersabar aja yak. Klo ada yang dibingungkan, ingin ngasih saran/kritik, atau apapun itu langsung ke kolom review aja yaa. Nanti akan dibalas di next chap. Happy reading, see yaa~
