Suatu sore di musim gugur di Hutan Terlarang, suasana terasa lebih tenang dari biasanya. Daun-daun berguguran, dan udara dingin membawa aroma yang khas. Di balik pepohonan besar, terdengar suara langkah ringan dan gumaman aneh seperti orang sedang berbicara dengan binatang. Tapi bukan centaur, bukan pula Hagrid. Sosok itu kecil, dengan rambut pirang terang dan mata yang tampak memancarkan dunia lain.
"Luna-chan... eh, maksudku... Luna-san?" Seorang pria berambut kuning menyembul dari balik semak, dengan mantel panjang yang entah kenapa penuh gulungan ramen.
Luna Lovegood menoleh, sedikit terkejut namun tak kehilangan senyum lembutnya. "Oh, halo... Kau pasti Naruto Uzumaki, ya?"
Naruto yang sudah berdiri dengan pose tangan di belakang kepala, tergelak canggung. "Hehe, iya... Itu aku! Tapi kok kamu tahu namaku?"
Luna menatapnya, seakan menatap jauh ke masa lalu. "Aku sering bermimpi tentangmu... Seorang pria penuh cahaya, berteriak-teriak soal 'dattebayo' dan mencari anak-anaknya."
Naruto tercengang, mata birunya melebar. "Kamu... mimpi tentang itu?"
"Bukan hanya mimpi. Aku bisa merasakannya di darahku... ada sesuatu dalam diriku yang bukan berasal dari dunia sihir ini. Sesuatu yang hangat, tapi juga liar." Luna mendekat, matanya menatap Naruto tanpa ragu. "Ayahku selalu bilang aku istimewa. Tapi... aku rasa itu karena ibuku."
Naruto perlahan menunduk. "Xeno... ayahmu... namanya Boruto, kan."
Luna tersenyum. "Ya Dia ayahku, dan aku adalah cucumu."
Naruto terduduk. Untuk pertama kalinya sejak kehancuran dunia shinobi, air matanya jatuh, bukan karena kemarahan, tapi harapan.
"Jadi... ini artinya Himawari... Lily... dia hidup?"
Sebelum Luna sempat menjawab, dari balik semak muncul suara langkah cepat. Hermione Granger muncul dengan wajah panik dan rambut megar berantakan.
"Luna! Aku mendengar ledakan chakra—eh, energi—di area ini!" Tapi saat matanya bertemu mata Naruto, dunia seperti berhenti. Matanya memerah, dan tangan gemetar.
Naruto berdiri. "Kamu... kamu punya chakra yang sama seperti Hinata. Dan... seperti aku."
Hermione menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. "Maaf... aku baru tahu kebenarannya saat Profesor Dumbledore menunjukkan jurnal rahasia. Ibuku... bukan siapa-siapa dalam catatan sihir. Tapi ada segel. Segel Uzumaki."
Luna menoleh, terkejut. "Hermione?"
Hermione mengangkat wajahnya, air mata menetes. "Aku anakmu, Naruto Uzumaki... tapi aku dibesarkan sebagai penyihir biasa. Aku... aku ingin tahu kenapa."
Naruto mendekat, tangan gemetar namun hangat. Ia meraba kepala Hermione dengan lembut. "Kamu kuat ya... meskipun bukan di dunia shinobi, kamu tetap bertahan... dan jadi yang terbaik."
Hermione tertawa kecil di tengah air matanya. "Aku cuma kutu buku keras kepala."
"Dan kamu anakku," kata Naruto sambil tersenyum lebar. "Nggak heran pintar banget. Ibunya pasti pinter juga."
Di kejauhan, langit malam mulai muncul. Tapi di bawah cahaya bulan, takdir keluarga yang tercerai-berai mulai menemukan jalan untuk kembali.
