Title: Thanks!
Genre: Romance, Fluff, ABO Universe
Rate: T
Words: 2k
"Harry terbang cepat untuk menangkap Snitch! Dia berhasil membuat jarak yang besar dengan Malfoy! Ha! Sepertinya kemenangan akan kembali menjadi milik Gryffindor!" Suara Lee Jordan menggema di seluruh penjuru lapangan. Penonton di tribun bersorak, meneriakkan nama kedua asrama yang tengah bertanding. Entah Slytherin atau Gryffindor, kemenangan akan menjadi milik salah satu dari mereka.
Sementara itu, jauh dari atas tribun, para pemain bermain dengan serius. Dan, lebih daripada apa pun, pemain yang paling menentukan, kedua Seeker dari masing-masing asrama tengah berpacu dalam menangkap Golden Snitch. Harry mencoba meraih dengan tangannya, tapi bola emas itu masih terlalu jauh dari jangkauannya. Ia menyungging senyum saat melirik ke belakang. Setidaknya ia berhasil mendahului Draco.
"Shit!" Draco yang berada di belakang Harry langsung mempercepat laju sapunya. Ia sebisa mungkin mengejar Harry yang semakin menjauh. Namun, Draco kemudian menyadari kalau The Chosen One tiba-tiba melambat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Draco langsung mempercepat laju sapunya.
"Ha! Maaf, Potter, tapi piala Quidditch kali ini milik Slytherin!" Draco dengan sengaja menyenggol Harry saat ia berhasil menyalip. Ia tersenyum puas saat melihat Harry tertinggal di belakangnya. Sekarang dirinyalah yang akan mendapatkan Snitch itu.
Draco merentangkan tangannya, mencoba menjangkau Golden Snitch yang masih agak jauh. Ia mencoba memacu kembali sapunya, namun sesuatu mengganggunya. Draco tersentak, hingga tanpa sadar memperlambat. Ia menoleh ke belakang, ke arah Harry yang masih mencoba untuk menyusulnya.
Sementara itu, di tribun, orang-orang kebingungan. Mereka bertanya-tanya kenapa kedua Seeker itu malah berhenti mengejar si bola emas. Bahkan Draco malah terbang ke arah yang berlawanan. Seeker Sytherin itu turun, menghampiri Madam Hooch. Kemudian, Madam Hooch menerbangkan sapunya menuju Harry yang masih mencoba untuk mengejar Snitch. Sepertinya, ia meminta Harry untuk berhenti dan segera menghampirinya.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di udara. Dan sesuatu itu terjadi pada Harry Potter kita!" Lee terus berbicara di mikrofon. Pertanyaan yang keluar dari mulut Lee sama dengan pertanyaan yang ada di kepala penonton lainnya.
Di tengah semua kebingungan itu, Madam Hooch tiba-tiba membuat sebuah pengumuman. Pertandingan hari ini akan ditunda hingga minggu depan. Semua orang langsung ribut. Ada yang protes, mengatakan kalau itu tidak adil, ada pula yang bingung dan meminta penjelasan. Tapi protes paling keras berasal dari Slytherin. Semua pemain yang ada di lapangan mengajukan komplain, tetapi tak digubris oleh Madam Hooch. Sementara para pemain Gryffindor langsung terbang menuju Harry, memastikan apakah ia baik-baik saja. Namun Madam Hooch dengan tegas menyuruh mereka untuk menjauh. Madam Hooch sendirilah yang menghampiri Harry, kemudian membawanya turun.
"I'm sorry," ucap Harry penuh penyesalan saat ia sudah berada di luar lapangan. Wajahnya sedikit memerah, napasnya menjadi berat.
"Tidak apa-apa. Lebih baik pertandingan ditunda daripada nanti kau membuat keributan besar di udara. Sana, segera minum ramuan penekan dan kembali ke ruanganmu." Madam Hooch menepuk pundak Harry. Ia kemudian meminta pada Madam Pomfrey untuk membawakan ramuan penekan untuk Harry.
Tanpa menunggu disuruh dua kali, Harry langsung pergi menemui Madam Pomfrey yang ternyata sudah datang sambil membawakan ramuan penekan untuknya. Harry meminumnya tanpa ragu. Harry juga tidak lupa untuk meminta maaf.
"Kan sudah kubilang, seharusnya kau minta dari kemarin-kemarin." Madam Pomfrey langsung mengomeli Harry. Tapi ia tetap tidak meninggalkan Harry, terus mengantarkan pemuda itu ke kamarnya.
Harry tersenyum penuh penyesalan. Ya, mana dia tahu kalau masa heat-nya akan datang lebih awal begini. Bahkan di tengah-tengah pertandingan! Oh, kalau saja Madam Hooch tidak menariknya kembali ke tanah, mungkin seluruh lapangan sudah heboh dengan feromon Omega-nya yang sulit ia kendalikan.
Sampai di asramanya, Harry langsung masuk ke kamar yang disediakan khusus untuknya. Ya, di Hogwarts, ada kamar yang disediakan khusus untuk para Omega ketika sedang heat. Tentu saja juga ada kamar khusus untuk para Alpha yang sedang rut. Kini, Harry berada di kamar itu sendirian, Madam Pomfrey tentu saja tidak bisa ikut masuk bersamanya—lagi pula untuk apa ia ikut masuk?
Harry berbaring di atas tempat tidur. Meskipun sudah meminum ramuan penekan, tetap saja panas membakar di tubuhnya. Pikiran Harry melayang ke lapangan Quidditch yang ia yakini pasti masih ramai. Oh, mungkin besok ia akan mendengar lagi mulut-mulut sialan itu mengatakan omong kosong seperti: "Inilah kenapa seorang Omega seharusnya tidak boleh berada di lapangan," atau, "Dia hanya mengambil keuntungannya sebagai Omega karena tahu kami akan menang."
Oh, hei, ayolah. Mengambil keuntungan bagaimana? Harry bahkan masih berencana untuk tetap melanjutkan pertandingan tadi. Bahkan, bukan Harry yang menghentikan pertandingan. Madam Hooch sendirilah yang membuat keputusan. Ditambah lagi, bukan Harry yang memanggil Madam Hooch, apalagi memberitahunya kalau ia akan segera heat. Malfoy. Draco Malfoy, Seeker Slytherin itulah yang turun dan memberitahu Madam Hooch.
"Malfoy..." Harry menggumamkan nama itu tanpa tahu harus bicara apa. Ia sendiri bingung kenapa pula Draco harus memberitahu Madam Hooch tentangnya. Sementara, ia hampir mendapatkan Golden Snitch yang bisa membuat timnya menang. Bahkan Harry juga tidak tahu bagaimana Draco bisa menyadari kalau dirinya akan memasuki masa heat di tengah pertandingan itu. Memang, Draco adalah seorang Alpha, yang mana artinya penciumannya sangat peka dan akan terganggu bila Harry terus berada di tengah pertandingan. Tapi tetap saja, untuk apa ia peduli padanya?
Atau dia hanya tidak mau harga dirinya jatuh, menang hanya karena aku tidak dalam kondisi yang baik, pikir Harry. Ya, seharusnya memang begitu. Meskipun Draco cukup berengsek karena selalu mendapatkan apa yang ia mau, tidak peduli itu curang atau tidak, tapi pasti pemuda itu tidak mau mempertaruhkan harga dirinya sebagai seorang pria. "But, well... I'll thank him later."
.
"Everything alright, Harry?" tanya Ginny sambil menghampiri Harry yang baru saja turun dari sapunya. Mereka sedang latihan Quidditch sekarang, tepat setelah masa heat Harry berakhir.
Harry mengangguk. "Aku minta maaf soal pertandingan sebelumnya. Di pertandingan berikutnya, aku janji akan langsung menangkap Snitch begitu kita masuk lapangan." Harry benar-benar tidak bisa melupakan rasa bersalahnya. Apalagi kepada teman-teman setimnya. Kalau saja saat itu ia memacu sapunya lebih cepat, mungkin piala kemenangan sudah menjadi milik mereka.
"Tidak apa-apa. Lebih baik pertandingan ditunda daripada kau berakhir menarik para Alpha di tengah pertandingan." Komentar Ginny membuat Harry tak bisa menahan tawanya. Itu persis sama dengan apa yang dikatakan oleh Madam Hooch sebelumnya.
"Oh, ya, apa kau tahu?" Ginny yang baru saja ingin kembali menaiki sapunya kembali mengobrol. Wajahnya terlihat bersemangat, seolah ingin menyampaikan ini sedari kemarin. "Setelah pertandingan itu, Malfoy bertengkar dengan timnya! Oh, kalau ketegangan di antara mereka masih ada, aku yakin sekali kalau performa Slytherin akan buruk sekali!" ucap Ginny sambil bertepuk tangan seperti anjing laut, membayangkan pertandingan nanti akan mereka menangkan dengan mudah.
Sedangkan Harry mengernyit bingung mendengar kabar itu. "Bertengkar?"
Ginny mengangguk. Ia bersandar dengan sapu terbangnya. "Karena Malfoy yang memanggil Madam Hooch untuk membantumu. Timnya marah, mengatakan kalau Malfoy membuang-buang kesempatan padahal Snitch sudah ada di depannya." Kening Ginny berkerut mengingat-ingat kejadian itu. "Aku tidak begitu ingat apa yang dikatakan Malfoy saat itu. Kalau tidak salah, sih, dia bilang dia tidak mau menang hanya karena beruntung. Sepertinya, dia masih punya harga diri yang cukup besar dibandingkan keangkuhannya."
Harry mengangguk-anggukan kepalanya dengan ringan. Ia kembali teringat pada Draco yang saat itu jelas-jelas berkesempatan untuk menangkap Golden Snitch sebelum dirinya. Tetapi anak tunggal Malfoy itu malah menoleh kebelakang untuk memastikan keadaannya. Ya, sepertinya Harry benar-benar harus berterima kasih padanya kalau ada kesempatan.
.
Siang itu, Harry baru saja kembali dari tempat Hagrid. Ia berjalan di lorong-lorong Hogwarts yang anehnya cukup sepi di akhir pekan begini. Sebelum berbelok, Harry mendadak berhenti. Ia menyungging senyum saat menemukan sosok Draco—yang berpakaian serba hitam seperti biasanya, berjalan di sisi lain. Tanpa pikir panjang, Harry langsung memutar arah dan pergi menghampirinya.
"Hey!" panggilnya yang berhasil membuat pemuda Alpha itu berbalik. Harry berdiri di hadapannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sweaternya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya berbasa-basi terlebih dahulu.
Sapaan hangat yang diberikan oleh Harry membuat Draco mengernyit. Ia bahkan memandang ke sekeliling, seolah tidak percaya jika seorang Harry Potter benar-benar bicara padanya. Draco menyipitkan mata, memandang Harry dengan curiga. "Apa yang terjadi padamu? Apa kau punya rencana tertentu?"
Harry memutar mata malas. "Aku hanya mencoba bersikap ramah, dan kau berpikir kalau aku punya niat jahat padamu?"
Draco mengedikkan bahu. "Memangnya kau punya alasan lain untuk bersikap ramah?"
"Well, mungkin memang begitu," Harry tersenyum tipis. "Aku hanya... ingin berterima kasih."
Draco makin tidak bisa percaya. Harry yang tiba-tiba menghampirinya dan mencoba bersikap ramah saja sudah membingungkan, apalagi berterima kasih begini. "Kau benar-benar sudah sakit. Kau berterima kasih untuk apa?" tanya Draco yang entah karena apa terlihat gugup. Ia bahkan berkali-kali mengalihkan pandangan setiap kali matanya bertemu dengan manik hijau Harry.
"Memangnya berterima kasih untuk apa lagi? Tentu saja karena kau dengan baik hati menghentikan permainan saat menyadari kalau aku heat di tengah pertandingan." Harry mengangkat alisnya, seolah sengaja menggoda Draco. Ia menyeringai tipis saat Draco memalingkan muka dengan rona merah di wajahnya.
"Bukan aku yang menghentikan pertandingan. Aku hanya memberitahu Madam Hooch karena feromon-mu menggangguku." Meski bicara begitu, Draco gagal menyembunyikan kegugupan di wajahnya. Draco bahkan sampai membalikkan badannya, mencoba untuk melarikan diri.
Harry, yang tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi, langsung berpindah ke depannya. Ia mencegah Draco untuk kabur. "Aku belum selesai."
"Tch." Draco masih belum mau menatap Harry. Oh, mana mungkin dia mau, rasa panas masih menjalar di wajahnya. Draco juga yakin sekali kalau telinganya sudah ikut memerah sekarang.
Harry terkekeh, dibuat terkagum dengan tingkah Draco yang sangat tidak Malfoy-ish ini. "Aku benar-benar serius berterima kasih padamu. Jadi, yah, kupikir aku ingin membalasmu."
Draco mendengus, berusaha terlihat angkuh seperti biasanya. Sayangnya, wajah semerah saus tomat itu tidak membantu sama sekali. "Kalau kau memang sebegitunya ingin berterima kasih, kenapa tidak saat pertandingan ulang itu kau mengalah sedikit?"
Harry tertawa puas hingga hidungnya berkerut. Ya, di pertandingan ulang kemarin ia sama sekali tidak mau mengalah dan akhirnya membawa kemenangan untuk Gryffindor. Tapi, hei, bukankah wajar kalau ia berusaha keras? Bagaimanapun juga mereka sedang bertanding, dan meskipun Harry merasa berterima kasih pada Draco, ia juga merasa bersalah pada timnya.
Harry segera menghentikan tawanya. Namun ia masih tersenyum puas saat menangkap basah Draco yang dari tadi menatapnya dan kemudian langsung memalingkan muka seolah ia tidak menikmati cara Harry tertawa. "Jadi, apa kau menginginkan sesuatu? Ah, dan kau perlu tahu, aku tidak bisa membayar rasa berterima kasihku dengan benda materi, apalagi sesuatu yang mahal. Aku juga tidak bisa mengabulkan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan."
"Seolah-olah aku memang menginginkan sesuatu darimu." Draco bergumam dengan sangat jelas agar terdengar oleh Harry. Tentu saja ini adalah upaya terakhir untuk mempertahankan harga dirinya.
Harry mengangkat sebelah alisnya sambil melipat tangan di dada. "Oh... jadi kau tidak menginginkan apa pun, ya. Well, too bad." Harry dengan sengaja memanjang-manjangkan irama bicaranya. Ia mendengus melihat Draco yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih untuk diam, mempertahankan harga dirinya. "Kalau kau tidak menginginkan apapun, baiklah. Tapi, kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau sekarang kau hanya mencoba untuk bersikap keren, Malfoy."
"Omong kosong apa lagi yang kau katakan sekarang? Aku tidak menginginkan apapun dan tidak ingin mengatakan apa pun." Draco akhirnya kembali melihat Harry. Ia bertemu pandang dengannya, tapi Draco masih belum bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Harry mengangkat bahu. Ia benar-benar banyak tersenyum hari ini. "Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin membalasmu sebagai ucapan terima kasihku." Kini senyum Harry menjadi lebih lembut, tanpa ada kejahilan dan keisengan seperti sebelumnya. "Jadi, biarkan aku berterima kasih padamu, oke?"
Draco menghela napas, tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi Harry. "Kalau begitu apa yang akan kau lakukan? Kau bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan."
Harry mengangguk. "Ya, aku memang tidak tahu persis apa yang kau inginkan," balasnya, namun matanya menyorot dengan penuh percaya diri. "Tapi kutebak jika yang satu ini mungkin ada dalam daftar keinginanmu." Harry maju, mendekat kepada Draco. Ia menarik blazer hitam Draco yang membuatnya terpaksa membungkukkan sedikit tubuhnya. Tanpa memberi kesempatan Draco untuk terkejut, Harry mendaratkan sebuah kecupan di pipinya.
Jangan tanya seberapa terkejutnya Draco. Ia bahkan tidak berkedip setelah Harry menjauh darinya. Ia sampai membeku di tempat, tidak bisa mengatakan apa pun. Draco yang tadi tak sanggup untuk menatap Harry, kini tak bisa mengalihkan pandangannya.
Sementara itu, Harry tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Harry belum mundur, dan bahkan belum melepaskan pegangannya pada pakaian Draco. "Sekali lagi, terima kasih, Draco," ucap Harry, dengan sengaja berbisik. Dengan sengaja menggodanya.
Harry akhirnya melepaskan pakaian Draco, ia juga mengambil satu langkah mundur, menjauh. Tetapi, sebelum Harry sempat untuk mengatakan kalau ia akan pergi, tangannya ditahan oleh Draco. Harry menyeringai puas melihat betapa putus asanya Draco kini. Ia juga dengan tenang kembali mendekat karena sebelah tangan Draco berada di pinggangnya, menariknya ke dalam sebuah pelukan. Kemudian, Harry menerima ciuman itu dengan senang hati. Harry membiarkan Draco memonopoli bibirnya... dirinya.
Harry tidak bisa menahan senyum di tengah ciuman ini. Niatan awalnya yang hanya ingin menggoda Draco ternyata berakhir penuh kenikmatan yang tak terduga. Saat Draco menyentuh tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, Harry mengangkat lengannya dan mengalungkannya di pundak Draco. Oh, lihatlah mereka sekarang, sudah seperti pasangan yang dimabuk asmara saja.
Mungkin karena ketegangan yang tiba-tiba berubah ini, keduanya semakin menjadi intim. Tentu saja mabuk karena feromon dari si Alpha tidak ada dalam rencana pertama Harry. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya mulai lemas sehingga ia menyandarkan tubuhnya ke Draco. Sialnya, Draco juga sama mabuknya. Sweater tebal Harry sama sekali tidak menjadi penghalang baginya untuk terus mendekap Harry. Kalau memungkinkan, Draco ingin sekali menyusupkan jari-jarinya ke balik pakaian Harry dan merasakan kulit hangat itu di ujung jarinya. Namun Draco masih punya akal sehat, ia untungnya masih ingat kalau mereka sedang berada di koridor dan berisiko besar akan tertangkap basah oleh orang lain.
"Ngh..." Harry mendesah kecil saat Draco menyudahi ciuman mereka. Ia menyungging senyum saat melihat wajah Draco yang sudah sangat merah. Walaupun Harry tahu bahwa dirinya sendiri tidak jauh berbeda. Harry bahkan bisa merasakan jantungnya berdebar terlalu kencang. Kalau terus saling menempel begini, bisa-bisa Draco juga akan mendengar suara jantungnya yang tidak normal. Namun Harry tidak menarik dirinya. Bagaimana mungkin ia bisa menjauh kalau lengan Draco masih dengan posesif memeluk pinggangnya.
"Shit..." Draco mengerang sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Namun begitu, ia sesekali melirik Harry yang masih bertahan dalam genggamannya. Draco mungkin masih berpikir jika ia harus mempertahankan harga dirinya. Tapi sungguh, harga diri apa yang perlu ia pertahankan sampai sebegitunya kalau dari awal saja ia sudah luluh.
Harry terkekeh pelan. "Kau tidak keren," komentarnya begitu tiba-tiba dan disengaja. Ia tertawa puas saat Draco akhirnya menoleh dan memelototinya dengan wajah semerah tomat.
Draco baru saja ingin membalas perkataan Harry padanya. Namun, suara orang yang mengobrol mulai terdengar dari jauh. Draco berdecak kesal dan melepaskan sentuhannya pada pinggang Harry. Sementara Harry sendiri masih memasang senyum penuh kemenangan saat mengambil langkah mundur. Wajah Draco masih memerah dan Harry puas melihatnya, meskipun wajahnya sendiri juga tak kalah merah.
Harry kembali memasukkan tangannya ke saku sweaternya. "Jadi, kuharap kau menerima ucapan terima kasihku, Malfoy."
Lagi-lagi Draco berdecak, mencoba menyembunyikan rasa malu dan gugupnya. "Ya... mungkin." Ia berdeham karena tenggorokannya terasa amat kering. Namun bukan Malfoy namanya kalau menerimanya begitu saja. Draco memperhatikan Harry, dan sebuah seringai tipis muncul saat sebuah ide datang. "Mungkin, untuk saat ini, Potter. Aku tidak yakin kebaikanku sebanding dengan ciuman setipis itu. Jadi..." Draco menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya dengan Harry. "Kau mungkin harus memikirkan cara lain kalau ingin bersungguh-sungguh berterima kasih, Potter."
Harry tak bisa menahan dengusannya. Sial, yang satu ini sangat di luar rencana. Harry kemudian mengangguk singkat, masih dengan senyum di wajahnya. "Kalau begitu aku harus cari ide lagi untuk berterima kasih padamu." Harry mundur, melambai sebelum kemudian berbalik. "Later, Draco." Dan ia melangkah meninggalkan si pirang di belakangnya.
Draco? Jangan tanya lagi, jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Ketika punggung Harry semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pilar-pilar Hogwarts, ia menertawakan dirinya sendiri. Dengan langkah ringan, Draco pun pergi. Draco tak bisa menahan dirinya untuk berpikir, kalau ia harus sering-sering jalan sendirian untuk bisa mendapatkan ucapan terima kasih itu.
.
Kemballi ke ruang rekreasi Gryffindor, Harry menghampiri Ron yang sedang bermain catur dengan Seamus. Harry hanya ingin melihat bagaimana pertandingan itu berlangsung, karena sudah yakin Ron akan menang. Namun saat ia baru saja ingin pergi untuk kembali ke kamar, Ron memanggilnya.
Raut wajah Ron berubah bingung. Ia menatap Harry seolah temannya itu adalah orang asing. "Bloody hell. Did someone scent you? Smells like you've been claimed..." tanyanya penuh kebingungan dan tidak percaya dengan hidung Alpha-nya sendiri. Bahkan Seamus yang tadinya tak peduli juga ikut menoleh ke arah Harry.
Tak langsung menjawab, Harry hanya mengedikkan bahu. Senyum lebar di wajahnya hanya membuat Ron bergidik ngeri. "Maybe." Dan ia langsung meninggalkan mereka yang masih tercengang dan keheranan. Oh, Harry, kau mungkin akan mendatangkan gosip baru di Hogwarts.
.
.
.
Thanks! — Completed
.
.
.
.
A/N
I'M BACK, EVERYONE! Gimana? Kemarin pada aku tinggalin dengan janji sebuah work drarry baru... Masih ada yang mau kah?
ALL RIGHT THEN! Kalau begitu ini adalah waktunya! Waktunya untuk apa? Untuk kembali bertarung dengan tugas kuliah! HA HAH HAHAH! /plak!/ Canda guys...
Work baruku itu judulnya "Sun Shower: Take Me Home", ABO Universe ya~ penasaran? Mau di spill? Nggak ah, males:v hehehe... Kalau penasaran, langsung cus aja baca ya guys Aku tungguin di kolom komentar di sana yaa!
Oke, that's it, kapan-kapan lagi ya guys~
See you!
Virgo
