Kejadian dengan mantan calon sponsor itu berlalu tanpa pernah kamu pikirkan lagi. Kamu tahu hal tersebut bukan hal baru yang pernah kamu terima. Toh, hari-harimu berjalan seperti biasa. Mungkin.

Haikyuu! Haruichi Furudate Kuroo Tetsurou x OC (Female Reader) Office Worker, Romance, Drama Semi-canon MA

Warning : TYPO(S), OOC, Broken EYD V, Broken SPOK, etc.

Happy Reading

.

.

.

.

.

.

Blurred Lines Saby Whispers

CHAPTER 3 :

Second Person POV

Hari silih berganti, kamu pun kembali pada rutinitas harianmu. Seperti pagi ini, kamu ingin datang lebih awal ke kantor, menyelesaikan beberapa laporan yang tertunda. Namun, rencana itu bubar ketika keran wastafelmu hanya mengeluarkan udara kosong.

Air mati.

Bukan hanya di wastafel, akan tetapi juga seluruh keran air di apartemenmu. Setelah memastikan meteran air normal, kamu mencoba menghubungi Kuroo untuk menumpang kamar mandinya. Namun, tidak ada balasan dari pria itu.

Akhirnya kamu keluar dari apartemenmu dan melangkah dengan ragu ke pintu unit sebelah, apartemen Kuroo. Kamu mengetuk pelan, sekali, dua kali. Tidak ada jawaban dari dalam.

"Kuroo." Kamu memanggil pemilik apartemen hingga terdengar langkah kaki mendekat.

KLEK

Pintu terbuka dan kamu langsung menyesali ketidaksabaranmu.

Kuroo berdiri di ambang pintu hanya dengan sebuah handuk putih melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah dan meneteskan air ke bahu, hingga dada bidangnya. Kamu bisa mencium aroma sabun yang membuatmu menjadi sedikit berdebar.

"Iya, kenapa?" Kata Kuroo dengan senyum miring yang terlalu santai untuk situasi seperti ini.

Kamu menunduk, mengalihkan pandanganmu dari tubuh pria di hadapanmu.

"Tadi gue chat lo, air di tempat lo ada gak?" Tanyamu pelan.

"Ada kok, ooh—"

Dilihat dari perlengkapan mandi serta pakaian ganti yang kamu bawa, Kuroo langsung sadar tujuanmu datang ke tempatnya.

"Mau numpang mandi ya? Tuh pake aja."

Kamu mengangguk cepat, lalu menyelinap masuk sambil menahan napas.

Suara gemericik air menemani Kuroo mengeringkan rambutnya. Tersenyum jahil kala mengingat wajah kagetmu yang memerah ketika ia membuka pintu. Tepat saat surai hitamnya kering, kamu keluar dari kamar mandi Kuroo lengkap dengan setelan kantor.

"Sarapan bareng?" Tawar Kuroo.

"Gak dulu, gue masih mau siap-siap." Kamu menggeleng menolak ajakan Kuroo.

"Ooh, oke. Kalau berangkat bareng?" Tawar Kuroo sekali lagi dengan senyum jahilnya.

"Gak deh, duluan aja. Lo lihat muka gue masih polosan gini." Tolakmu sekali lagi.

"Masih cantik kok."

Kamu memutar bola matamu dengan senyum tipis ketika mendengar gombalan Kuroo.

"Udah dah, thanks ya kamar mandinya."

Kamu pun melangkah keluar unit apartemen Kuroo dan kembali ke unit milikmu. Pagi itu berlalu, tetapi bayangan tubuh Kuroo tidak ikut mengalir bersama waktu.


Kamu mencoba fokus di kantor, mengerjakan seluruh tugas yang diberikan. Namun, setiap melihat Kuroo berjalan melewatimu, dengan kemeja putih yang sedikit menggembung di bagian dada, kamu langsung ingat uap hangat di kamar mandinya, serta tetes air di tulang selangkanya.

"Name, are you okay?" Suara Kai membuyarkan lamunanmu.

"Hah? Oh, iya ya."

"Sudah jam 8, malam ini lo ikut kan?" Tanya Kai

Tak terasa sudah berada di ujung minggu kerja. Bagai rutinitas mingguan, malam Sabtu ini, divisi ESM memutuskan untuk mengakhiri minggu yang melelahkan dengan minum bersama di bar kecil dekat kantor.

"Iya, gue ikut."

Kamu pun membereskan barang-barangmu, menyiapkan tas, lalu bangkit dari kursi. Kamu dan anggota divisi ESM yang lain pergi bersama ke lokasi bar.

Sekitar pukul 10 malam, suara gelas berdenting, tawa bersahutan, musik dengan suara nyaring bercampur di dalam bar. Kamu sudah minum dua highball dan segelas cocktail berwarna pink yang entah apa.

Kepalamu mulai terasa ringan, tetapi matamu mulai terasa agak berat. Kamu masih cukup sadar bahwa beberapa anggota divisimu sudah mulai bubar satu persatu. Kuroo yang awalnya masih menikmati birnya, mendekat ke arahmu. Ia mengambil posisi duduk tepat di sebelahmu.

"Lo udah ngantuk?" Tanya Kuroo mendekat, berbicara tepat di telingamu karena suara bar terlalu bising.

"Enggak kok, cuma…. Yah," Kamu memiringkan kepala, membuat pandangan kalian bertemu.

"Hari ini cuma gak terlalu fokus aja."

"Kebanyakan kerja?"

Kamu menggeleng.

"Kebanyakan mikirin lo." Ucapmu dengan suara rendah.

Kuroo seperti tidak yakin dengan ucapanmu.

"Apa?" Tanyanya.

"Gue gak fokus. Seharian. Gara-gara pagi tadi."

Kamu melanjutkan cerita tentang kegiatanmu hari ini di kantor. Kuroo hanya terkekeh mendengar rancauanmu.

Entah sejak kapan, jarak antara kalian semakin dekat. Kamu bersandar sedikit ke arah Kuroo, bahumu menyentuh bahunya. Kulitmu terasa panas, atau mungkin itu hanya efek alkohol yang tidak kamu tahu pasti.

Yang kamu tahu hanyalah detak jantungmu yang semakin cepat.

"Kuroo….." Suaramu yang memanggil namanya lebih pelan dari biasanya.

Sang pemilik nama merasa kerongkongannya mengering tiba-tiba. Kuroo menelan ludah ketika mendengar kamu memanggil namanya.

"Hmm?"

Kamu tidak langsung menjawab, hanya menatap wajah Kuroo lama. Seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Namun, napasmu menjadi sedikit berat, sorot matamu yang gelap, dan caramu menggigit bibir bawahmu membuat dada Kuroo berdebar.

"Gue tahu ini impulsif. Tapi… "

Kamu sengaja menggantungkan kalimatmu, sempat ragu dengan apa yang akan kamu ucapkan.

"Gue pengen tidur dengan lo malam ini."

Kuroo sempat terdiam beberapa saat mendengar pengakuanmu. Tangannya mencengkram celananya erat, mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar.

"Lo mabok. Kita balik aja." Ucap Kuroo lalu menarikmu bangkit dari bangku kalian.

Ia membayar minuman kalian dan berpamitan pada anggota divisi ESM yang masih tersisa di bar itu. Dengan langkah sedikit goyah, kamu dan Kuroo keluar dari bar. Ia memesan sebuah taksi untuk balik ke apartemen kalian.

Langkah kaki terdengar tak stabil saat kamu tertawa kecil, menyandarkan tubuh ke dinding lorong apartemen Kuroo. Matamu setengah terbuka dengan senyuman licin seperti tantangan.

"Kuroo… just one night stand." Suaramu lirih dengan penuh nada bermain.

Kuroo, dengan dasi yang sudah setengah terlepas dan rambut sedikit berantakan, menyandarkan bahunya ke pintu sambil memandangmu dari atas ke bawah.

"Malam ini aja, ayo tidur bareng gue." Ajakmu lagi yang masih mengalungkan tanganmu ke leher Kuroo.

Kuroo menahan napas, ingin rasanya ia meninggalkanmu di depan pintu masuk. Namun, tak ada tanda-tanda kamu akan memasuki apartemenmu, hingga akhirnya Kuroo membawamu masuk ke dalam apartemen miliknya.

Alkohol di dalam tubuhmu membuat segalanya terasa lebih nyata. Panas tubuh Kuroo, aroma parfum yang samar, serta suara beratnya yang menyentuh setiap inci kesadaranmu. Bahkan ketika Kuroo membaringkanmu di atas sofanya, kamu malah membuka kancing kemeja atasmu.

"Lo beneran gak mau having sex sama gue?" Tanyamu sekali lagi.

"Gue kurang cantik? Atau gue kurang seksi ya buat lo."

Kamu mengatakan hal tersebut sembari melepas seluruh kancing kemejamu, memperlihatkan payudaramu yang masih tertutupi bra hitam.

Kuroo mengusap wajahnya dengan tangan melihat kelakuanmu. Sangat sulit baginya untuk menahan godaanmu. Rasanya tidak bisa berpikir jernih, otaknya berdebat dengan tubuhnya yang ikut memanas. Jujur saja, bagian bawah Kuroo mulai mengeras semenjak kalian meninggalkan bar.

"Lo mabuk anjir!" Kuroo sedikit menaikan nada suaranya.

"Iya, gue tau gue mabuk. Tapi gue juga tau apa yang gue pengen."

"Jangan bilang lo gak mau karena pikir gue bakal nyesel."

"I wanna fuck you, Kuroo!"

"Take me, please."

Kuroo mengeraskan rahangnya ketika mendengar semua ucapanmu.

Persetan dengan penyesalan, ia mendorongmu hingga terjatuh ke atas sofa.

Tubuh kalian saling menghantam seperti ombak yang tak sabar menabrak karang. Tak ada jeda, tak ada sopan santun, hanya desakan naluri yang tidak tertahan.

Kuroo mencium bibirmu kasar. Lidahnya menjilati seluruh permukaan bibirmu, memaksa untuk masuk ke dalam mulutmu. Kamu pun membuka mulut, membalas ciuman Kuroo. Bibir kalian bertemu dengan bunyi decakan yang nyaring, panas, dan basah, seolah ingin menelan satu sama lain. Hanya lidah yang menyapu, menjelajah, menunut.

"Ngghh, haah…"

"Mppphh…."

Kalian mendesah disela ciuman yang semakin liar, jemarimu menyelusup ke rambut Kuroo, menarik helainya dengan keras saat kamu membalas permainan lidah pria itu dengan penuh keberanian. Kuroo meringis kecil. Tangan kanannya menyentuh pipimu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan sebagai tumpuan.

CUP! CUP! CUP!

Bunyi kecupan bibir Kuroo menjelajahi hampir seluruh wajahmu. Namun, bibirmu tetap menjadi sasaran terbaiknya. Ia melahap bibirmu dengan hisapan kuat serta lidah yang terus mengajak lidahmu bermain.

"Aah—"

Tak puas dengan bibir, Kuroo memiringkan kepalanya untuk mencium lehermu. Menghisap kulitmu dengan kuat hingga meninggalkan ruam yang tak akan hilang esok paginya. Bukan hanya hisapan, tetapi ia juga mencium, bahkan menggigit kulit di area sekitar lehermu.

Pria surai hitam itu menjilati tulang selangkamu yang kerap membuatnya salah fokus.

"Hh! Nngh…."

Kuroo mengangkatmu untuk duduk, melepaskan kemeja yang sebelumnya sudah kamu buka kancingnya. Menyisakan tubuh atasmu dengan payudara yang meminta untuk dibebaskan dari bra hitam.

Tanganmu bergerak tanpa sadar meraih kemeja Kuroo, jari–jarimu dengan cepat membuka kancing kemeja yang menghalangi kulitnya dari pandanganmu.

Pakaian atas kalian berhasil terbuka sepenuhnya. Mengamati dada masing-masing yang di depan mata. Kuroo memejamkan matanya sebentar lalu mencengkram kedua lenganmu.

"Name."

Suaranya serak, masih ada ragu di sana.

"Sebelum ini makin jauh, lo masih bisa–"

CUP!

Kamu memotong ucapan Kuroo dengan mencium bibirnya. Hangat, lapar, dan bergairah. Kalian sama-sama bisa merasakan semua keraguan sirna, betapa kamu menginginkan ini sama halnya seperti Kuroo.

"I won't regret it. I won't blame you. I want you, Kuroo." Ucapmu menyatukan kening kalian.

Tangan Kuroo yang melingkar di pinggangmu, perlahan ke belakang punggungmu. Semakin naik ke atas, mencari pengait bra.

CTAK!

Kaitan bra itu lepas, membuat payudaramu menggantung di dadamu. Kedua putingmu yang berwarna merah muda itu mengacung, tampak tegang. Tanpa ragu Kuroo langsung menggenggam buah dadamu, ada bagian yang sedikit menyembul keluar karena besarnya ukuran payudaramu.

"Ukuran apa?" Tanya Kuroo sembari meremas lembut benda kenyal itu.

"Uuuh, cup D." Jawabmu dengan kepala yang menengadah.

"Emang sebesar ini?" Kuroo semakin mengencangkan remasannya.

"Ah! Aah– gak tau." Ucapmu asal.

Kuroo meremas payudara itu, kadang sedikit memutarnya. Merasakan betapa lembut dan kenyalnya kedua gundukan itu. Ibu jarinya sengaja menggesek putingmu, membuatnya semakin keras.

"Haaaah,engggh…. Kuroo…"

Desahmu semakin keras kala Kuroo mulai mencubit kedua putingmu. Ia mencubit gemas, sesekali menarik puting merah muda itu, membuatmu semakin membusungkan dadamu.

"Boleh gue emut gak?" Tanya Kuroo yang masih bermain di bukit kembarmu.

Kamu hanya mengangguk, membolehkan.

Kuroo menunduk, mendekatkan hidungnya ke belahan dadamu. Ia menghirup dengan dalam aroma tubuhmu. Kedua tangannya masih aktif meremas payudaramu, membuat gerakan memutar.

Awalnya Kuroo menjilati permukaan payudaramu. Perlahan, bibirnya menciumi areola sebelah kananmu, sementara dada kirimu diremas oleh tangan kanannya. Gesekan pelan antara bibir dan puncak dadamu membuat badanmu sedikit bergetar. Bibir Kuroo mengulum dengan perlahan, membuatmu tak bisa menahan desahan.

"Nghhh aaahhh…."

"Mmmph, Kurooh ooh!"

"Ja–jangan digigit! Ouchhh!"

Sentuhan yang awalnya hisapan lembut berubah menjadi gigitan yang agak kasar. Yang tadinya hanya sebelah kanan, kini puting kirimu juga menjadi sasaran gigitan Kuroo. Tidak hanya di bagian puncak, tetapi juga bagian sekitarnya. Membuat payudaramu ditaburi dengan ruam dan bekas gigitan.

Mulai dari ciuman yang memabukan hingga perlakuannya pada payudaramu, kamu merasakan bagian selatan tubuhmu basah.

"Tetek lo enak banget, Name."

"Kenyel gemes gitu." Ucap Kuroo masih mengagumi hasil seninya di dadamu.

"Gantian!" Ucapmu dengan tangan yang berada di tonjolan celana Kuroo.

Kamu mengelus bagian menonjol di antara kaki Kuroo. Napas Kuroo menghangat di atas keningnya, sementara tangannya bertumpu di punggung bawahmu, membiarkanmu bergerak perlahan.

Tatapan mata kalian saling terkunci, kamu menurunkan resleting celananya. Suara kecil itu terdengar lebih nyaring dari seharusnya. Kejantanan Kuroo masih tertutup selembar kain celana dalam. Kamu hanya perlu menurunkan dalaman itu untuk membuat penis Kuroo menyembul.

Kamu menelan ludahmu berat saat melihat penis Kuroo yang mengacung tegang. Ukurannya membuatmu sedikit ragu. Panjang dan besar. Jelas lebih besar daripada milik mantan-mantanmu sebelumnya. Warnanya sedikit lebih gelap daripada kulit lain, berurat, dengan ujung kepalanya agak merah.

"Sejak kapan setegang ini?" Tanyamu mulai menyentuh batang milik Kuroo.

"Huuuuhgg, sejak keluar dari bar." Kuroo mendesah ketika merasakan tanganmu di kejantanannya.

Kamu mulai memaju mundurkan genggamanmu di penisnya, merasakan betapa kerasnya penis milik Kuroo.

"Nggghh, Name."

Kamu semakin berdebar mendengar lenguhan Kuroo. Tanganmu semakin kuat memijat batang penis itu. Maju mundur. Kamu juga mengusap kepala penis Kuroo dengan sensual. Kamu senang melihat bagaimana ekspresi Kuroo merasakan kenikmatan yang kamu berikan.

"Ughhhh, sial! Enak banget!"

Kejantanan Kuroo semakin keras, kamu bahkan bisa melihat cairan precum yang mulai membasahi kepala penis Kuroo.

Bukan hanya Kuroo, tetapi kamu juga merasakan bahwa bagian bawahmu terasa semakin basah. Kamu mempercepat gerakan tanganmu pada penis Kuroo.

"Fuck! Nggghtt— "

Tepat sebelum Kuroo akan mencapai pelepasannya, ia menahan tanganmu. Sementara kamu diam dengan kebingunganmu, Kuroo segera mengambil sebuah bungkusan pipih alumunium foil di laci meja sebelah sofa.

Dengan gerakan cepat, Kuroo melepaskan celana beserta dalamannya, lalu kembali menuju sofa. Napas Kuroo masih berat saat jemarinya dengan perlahan menyingkirkan seluruh pakaian yang tersisa di tubuhmu.

Kalian saling menatap tubuh polos masing-masing. Mendambakan tiap lekuk yang akan disentuh. Perlahan tangan Kuroo menyusuri pinggangmu, mengusapnya pelan. Wajahnya ia dekatkan ke arah perutmu, mengecupnya dalam.

Kuroo memandang bagian paling pribadi bawahmu, tangannya bergerak menyentuh rambut halus di area pubis. Terlihat jelas kamu sangat merawat organ intimmu. Jari Kuroo menelusup ke celah lubang vaginamu.

Basah dan hangat.

"Lo udah becek ini." Kuroo menggesek titik kecil penuh sarafmu. Ia juga menepuk nepuk area itu, membuatmu memejamkan mata.

"Nggghh— ah!"

"Ku–rouhh uhh."

Kamu melenguh ketika Kuroo memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vaginamu.

"Lo masih perawan ya?" Tanya Kuroo yang memaju mundurkan jarinya di dalam vaginamu.

"Engg— gak, ah" Kamu menggeleng.

"Fuck! Baru jari gue aja sesempit ini." Kuroo menyeringai.

Jari panjang Kuroo menelusuri lekuk paling tersembunyi di antara pahamu, menyentuh titik yang paling membuatmu terengah.

"Ughh, u–udah ah!"

"Di sini ya, titik lemahmu." Jarinya menusuk-nusuk tepat di g-spotmu.

Kamu menggeliat ketika ibu jarinya menyentuh klitorismu. Kuroo tidak berhenti, tangannya yang lain meremas kasar payudaramu, memasukkan puting susumu ke dalam mulutnya. Rangsangan yang Kuroo berikan padamu membuatmu seolah terbang. Sedikit lagi, kamu akan mencapai orgasme pertamamu malam ini.

"Kuroo uh, I'm so close!"

"Muncrat yang banyak ya, cantik!"

Kuroo mempercepat gerakan tangannya hingga akhirnya ia merasakan kontraksi otot vaginamu di tangannya.

"Aaaahhhhh…!" Kamu berteriak ketika mencapai pelepasanmu, diiringi dengan air cinta yang keluar dari lubang vaginamu.

Masih dengan napas yang terengah, kamu melihat Kuroo merobek bungkusan kondom dengan giginya. Ia pakai kondom itu ke penisnya yang berukuran besar. Kamu bertanya dalam hati, apakah kejantanan itu akan muat di lubangmu?

Kuroo mengangkat tubuhmu agar duduk di pangkuannya. Kini kalian saling berhadapan. Tangan kirinya memegang pinggangmu, sedang tangan kanannya mengarahkan penisnya di depan vaginamu. Awalnya kepala penis Kuroo menggesek hingga menampar area bibir vaginamu. Kuroo mulai memasukan kepala penisnya ke dalam tubuhmu. Hanya kepalanya saja, keluar masuk dengan pelan.

"Tu— tunggu, Kuro—"

"Baru kepalanya doang ini—ngghht."

Pria itu mengangkat sedikit tubuhmu dan menurunkannya tepat di atas penisnya, memastikan seluruh batang tegang itu masuk ke lubang vaginamu.

"Nghhh!"

Kalian berdua sama-sama melenguh ketika penis Kuroo seutuhnya memasuki vaginamu. Rasanya sakit, lubangmu seolah dipaksa untuk terbuka lebih lebar.

Saat akhirnya dia masuk ke dalammu, perlahan dan penuh perasaan hingga seluruh batang kejantanan Kuroo tertanam sepenuhnya di dalammu. Sesak dan perih kamu rasa, hingga matamu berair.

"Thunggu, itu terlalu… uggh— besar!"

"Sakit! Sebenta–ar. Penuh banget, Kuroo."

Kejantanan Kuroo diam dalam dirimu untuk beberapa saat, merasakan pijatan-pijatan dari dinding vaginamu. Agak lama hingga kamu merasakan napas Kuroo menghangat.

"Maaf, Name. Gue udah gak tahan."

Kuroo mulai memaju mundurkan pinggulnya perlahan, mengeluar masukan penisnya. Kepalamu menengadah merasakan sensasi penis yang mulai bergerak di dalammu. Tangan kiri Kuroo memegang pinggangmu, sedangkan tangan kanannya menangkup salah satu payudaramu.

"Kuroo uh, gue belum si—-iap!"

"Sial, enak banget!"

"Hmmmp!"

Pria itu memakan payudaramu, memainkan puting tegangmu dengan lidahnya. Kamu membalas perlakuan Kuroo dengan meremas surai hitamnya, menyalurkan rasa pedihmu. Kuroo malah menambah kecepatan dorongannya hingga terdengar suara basah dari gesekan kulit kalian.

PLOP! PLOP! PLOP!

"Lo udah sebasah ini, tapi masih sempit."

"Pe—pelan-pelan!"

Lain dengan omongan, tubuhmu justru malah naik turun seirama dengan genjotan Kuroo yang kian semakin cepat, semakin dalam.

PLOP! PLOP! PLOP!

"Aaaaahh…."

"Lo cantik banget, Name…."

Pendingin ruangan maupun udara malam itu tak sedikitpun mengganggu kegiatan kalian. Tubuh kalian saling tertaut, merasakan kenikmatan dunia.

"Lebih dalem lagi, uh!" Pintamu merasakan penis panjang Kuroo yang mengobrak-abrik lubang vaginamu.

"Jangan diketatin!"

Kuroo semakin bersemangat menggenjotmu, menikmati reamsan panas dinding vaginamu terhadap penisnya.

"Gue udah gak kuat!" Ucapmu di tengah suara kulit yang saling bersentuhan.

"Tahann, gue juga dikit lagi ini."

Sofa yang kalian gunakan untuk bersenggama ikut berderit karena gerakan kalian. Bagian bawah perutmu terlihat ada tonjolan tiap penis Kuroo memasuki vaginamu. Dirasa semakin dekat puncak pelepasan, Kuroo memundurkan sedikit penisnya lalu langsung mendorongnya dengan cepat masuk ke dalam vaginamu.

"Ah, I'm cumm…!"

"Nghh, Kuroo…!"

Kalian sama-sama mendesah ketika gelombang kenikmatan datang menghantam kalian. Matamu memejam, kepalamu menengadah, tubuhmu melengkung, menekan lebih dekat ke tubuh pria itu.

Kuroo menunduk, membisikkan namamu di telinga, suaranya berat, rendah, seperti menggeram. Masih menyemprotkan sisa spermanya setelah orgasme.

Nikmat sekali.

Kamu masih terengah, sementara Kuroo melepaskan tautan kalian. Terlihat bagian depan kondom itu penuh dengan cairan Kuroo. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan pengaman lateks dari penisnya, mengikat ujungnya dan membuangnya sembarang arah.

Mata emas Kuroo memandangmu dalam sebelum akhirnya kembali mencium bibirmu. Tangannya menggendongmu, membuat tubuh lengket kalian bersentuhan. Ia membawamu ke kamarnya.

"Gue belum selesai nikmatin lo."

Kamu tahu bahwa malam ini akan penuh dengan hawa panas, desahan, dan cairan.

Kalian bukan pecinta. Kalian hanya dua orang dewasa yang terbakar oleh rasa ingin tahu dan dorongan sesaat. Namun, malam ini terasa terlalu nyata untuk disebut sekedar pelampiasan. Dalam gelap yang samar, dalam suara napas yang tercekat dan tubuh yang menempel terlalu erat, ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar gairah.

.

.

.

to be continued

24 April 2025, Sable_Whis