Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH, hati-hati crack pair, crack pair hanya untuk pelindung biar ga jadi 3 orang(?) tapi keknya gagal :v
Genre: Humor, Romance, Thriller
Rate: T ples ples ples
Disclaimer: WO punya Koei
Balesan Review
RosyMiranto18
Wen Yang: Bukan begitu.. tapi nganu itu, iya itu ada hal yang tidak bisa kalian saksikan. Ini bisa mengalahkan es(baca: Cao Pi), dan terakhir tombakku patah gegara kejadian itu.
Xiahou Ji: hmhmhm.. Kalian bisa mencari tahu tentang itu dari trailer anime doreiku, aku mendapat inspirasi dari situ.
Zhong Hui, Jiang Wei, Wen Yang: (balik natep dengan muka nyolot) ada apa dengan kami?
Xiahou Ji: itukan kalo di anime-anime romens, beda lagi kalo disini.
Ujiyasu: Hahaha, itu hanya membuang tenaga, di lapangan sudah banyak perangkap.
Hmmm.. seperti ini? It's Mine part 4?
Mayuzumi Chiharu
jangan ditahan ga baik lebih baik lepaskan :v
Kan futon itu suprise dari Xiahou Ji pada tiang listrik tercintahnya :v
Atas paksaan dari Xiahou Ji mereka mandi bareng, jangan mikir yang aneh-aneh ya nak, mereka hanya mandi bukan 'mandi'.
Saya terima dipanggil apa saja, kecuali nama hewan, nama mahluk alam lain :v
It's Mine
Chapter 4
Selamat Membaca
Setelah mendapat hukuman dari Ujiyasu, mereka menyelesaikan 50 puteran nonstop tepat jam 11 pagi. Mereka mengistirahatkan tubuh di tanah, menggelepar layaknya ikan yang sedang di jemur di bawah sinar matahari, dengan nafas yang masih terengah-engah, samar-samar mereka melihat tiga orang mendekati mereka.
"Apakah ini sudah waktunya?" tanya Zhong Hui pelan.
"Malaikat pencabut nyawa datang,"
Wen Yang mengucek kedua matanya. "Malaikat? Kok yang gue liat setan ya?"
BLETAK!
Salah satu dari ketiga orang itu, melempar botol air mineral ke muka Wen Yang dengan sangat keras sampe bikin pipi Wen Yang merah.
"WEN YANG GITU SAMA SEPUPU SENDIRI! UDAH CAPE-CAPE NGEBELIIN MINUM MALAH DISEBUT SETAN!" teriak si pelaku pelemparan botol itu terus lari ke dalem sambil berurai air mata.
Wen Yang bangkit dari tidurnya. "Sepupu gue napa lagi dah?" tanya Wen Yang pada dua orang sisanya.
Perempuan berambut coklat pendek bernama Nene mengendikkan bahu. "Tau deh, efek samping di gombalin sama Cao Pi kali pas di kelas."
"Ternyata kamu pake warna kuning ya hari-"
Jleb
Nene melemparkan sebuah kunai dari atas, kunai itu menancap di sebelah kepala Jiang Wei.
"Harusnya kenain aja, orang mesum patut di musnahkan." kata Wen Yang dengan nada kecewa.
Zhong Hui menegakkan badannya, melihat tangan orang yang di sebelah Nene, lalu menunjuk botol minum di tangannya, "Itu daripada mubazir ga diminum, mending buat gue aja."
"Oh kamu mau? Nih." orang itu mengasihkan botol minumnya, ke Zhong Hui dengan seringai.
Zhong Hui mengambil botol minum itu tanpa mencurigai isi botol minum itu.
Zhong Hui meminum air di botol itu.
.
.
BRRRUUSHH!
"AER PAAN NIEH?!"
"Air perasaan lemon," jawab orang itu.
"Kenapa lu ga bilang?!"
"Kamu ga bertanya dahulu," kata orang itu, dan dilanjut dengan tawa kecil.
"HUA!" teriak Wen Yang secara tiba-tiba seperti orang yang baru inget sesuatu. "gue duluan ya nona-nona, manusia mesum, gue ada perlu, bye." Wen Yang langsung berlari ke dalam gedung sekolah.
"WOI CHIKI TUNGGU KAMI!"
.
Di tengah perjalanan Wen Yang menuju kelas terhenti karena Xiahou Ji berlari menghampirinya, Xiahou Ji memeluk Wen Yang kencang sambil menangis. Wen Yang panik karena kedatangan Xiahou Ji yang begitu tiba-tiba.
"Xiahou Ji, kamu kenapa?" tanya Wen Yang pelan sambil mengusap kepala Xiahou Ji pelan. "Dia kembali.. Wen Yang.. mengerikan," jawab Xiahou Ji dengan suara kecil. Mata Wen Yang membulat, ia kaget dengan berita yang dibawa oleh Xiahou Ji. "Maksudmu, dia membunuh seorang murid sekolah ini?" Xiahou Ji mengangguk pelan. "Kau melihatnya? Ceritakan padaku," pinta Wen Yang pada Xiahou Ji. Xiahou Ji melepaskan pelukannya pada Wen Yang, Wen Yang membungkukkan sedikit badannya, lalu mengusap air mata Xiahou Ji. "Xiàhóushì, tenangkanlah dirimu dahulu,"
"Terima kasih.." Xiahou Ji menarik nafasnya, lalu mengeluarkannya perlahan. "akan ku mulai ceritanya."
Aku sedang berjalan-jalan di taman belakang sekolah, kelinci milik sekolah sedang di keluarkan dari kandang, aku memutuskan untuk bermain dengan kelinci-kelinci itu sambil menunggu bel masuk berbunyi, tak lama setelah itu, aku mendengar jeritan dari arah gedung sekolah lama berada, karena penasaran dengan jeritan itu aku meloncati tembok sekolah, dan berjalan menuju hutan dimana gedung sekolah lama berada, disana di dalam gedung itu aku melihatnya. Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat pintu gedung sekolah lama terbuka lebar. Disana aku melihat jelas dia berdiri disana, tangannya menggenggam sebuah pisau, mata merahnya melihat seorang murid yang terbaring di lantai, keadaan murid itu banyak sekali sayatan di tubuhnya, kepalanya masih mengeluarkan darah. Lalu dia melihat ke arahku dengan mata merahnya, dia mendekat padaku. Tetapi setelah itu mata merah itu menghilang, dan dia pingsan begitu saja.
"Begitu ceritanya, aku membawanya ke UKS, seragamnya sama sekali tidak ada bercak darah, dan aku melaporkan mayat itu ke guru."
"Xiàhóushì, kenapa kamu melaporkannya? Dia bisa dalam bahaya,"
Xiahou Ji mengeluarkan air matanya lagi. "Aku tau.. tapi, mau bagaimana lagi. Kalau orang tua dari murid itu menanyakan tentang anaknya yang tak kunjung kembali, keluargaku yang dalam bahaya.." tangis Xiahou Ji. "Wen Yang, aku harus bagaimana?"
Wen Yang memeluk Xiahou Ji, mengelus kepalanya lembut. "Sudah, Xiahou Ji, lebih baik kita ke UKS."
.
Dia membuka matanya, menegakkan tubuhnya, melihat sekitar, dia mendapati dirinya ada di UKS, dia melihat kedua telapak tangannya.
Kenapa aku ada disini? Terakhir aku disuruh masuk ke dalam gedung sekolah lama oleh siswa kelas tiga, dia memintaku untuk mengambil sebuah lukisan, lalu semua menjadi buram, mungkinkah aku pingsan? tanyanya dalam hati.
Tanpa sadar air matanya jatuh ke telapak tangannya, dia menangis dalam diam, mendengar pintu UKS terbuka dia cepat-cepat mengelap air matanya. Tiba-tiba Xiahou Ji memeluknya dengan erat.
"Kamu gapapakan?" tanya Xiahou Ji.
"Aku tidak apa-apa.. kenapa aku disini?"
Xiahou Ji melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua tangannya. "Kamu tadi pingsan, aku membawamu ke sini."
"Xiahou Ba," Wen Yang menggigit bagian bawa bibirnya. "kamu sudah baikan?" tanya Wen Yang pelan.
Xiahou Ba mengangguk pelan, "Aku sudah tidak apa-apa, aku sudah bisa kembali ke kelas." Xiahou Ba turun dari kasur, lalu tersenyum lebar. Melihat keadaannya sekarang membuat Xiahou Ji, dan Wen Yang ikut tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke kelas," Xiahou Ba berjalan mendahului Wen Yang, dan Xiahou Ji. Senyum mereka hilang diganti dengan tatapan sendu padanya, Xiahou Ba menoleh ke belakang, "Wen Yang, ayo kembali ke kelas bentar lagi masuk."
"I-iya,"
Xiahou Ji memejamkan matanya, sampai kapan ini terus berlanjut?
.
Tepat sebelum bel, Wen Yang, dan Xiahou Ba sudah sampai di kelas, sesampai di kelas Wen Yang langsung dilabrak sama Jiang Wei, dan Zhong Hui.
"Lu kenapa ga bilang kalo lu lagi sama Xiahou Ba hah?!"
"Ngapain gue bilang ke elu pada! Yang ada nanti Xiahou Ba ternoda karena kalian!"
"Ternoda dari mana?! Masih bersih gitu."
"TADI PAGI LU MENODAI DAHINYA!" teriak Wen Yang dengan hujan asam.
"Kaga usah pake hujan juga kale ah, jijik, pantes lu masih jomblo jorok gitu."
"Hm,hm," Jiang Wei mengiyakan perkataan Zhong Hui. "lebih laku sepupu lu daripada lu."
Kretek kretek
"Kalian.. hmhmhm, belum pernah ngerasain jadi tombak yang biasa gue pake buat olahraga lempar lembing ya..."
"JANGAN BERKELAHI!" teriak seorang guru yang baru masuk ke dalam kelas, padahal baru Wen Yang menyentuh kerah seragam Jiang Wei. "KEMBALI KE BANGKU KALIAN!" lanjut guru itu, lalu guru itu berjalan ke meja guru.
"Anak-anak, sekarang buka buku kalian, kalian harus mencatat ini," guru itu mulai menulis sesuatu di papan tulis.
Ina mengacungkan tangannya. "Bu eh Pa Ranmaru, ini sudah diajarkan waktu minggu kemarin,"
Guru yang bernama Ranmaru itu menghapus tulisannya di papan tulis. "Kalau begitu, kalian kerjakan uji kompetisi bab 4."
Sekian dari chapter ini, saya, Yinglong narator terketjeh pamit, undur diri.
TBC
tumben ana cepet ngetiknya :v ana terkejut bisa ngetik chapter ini :v bahasanya itu lho waw huehue
Makasih lho udah baca cerita ini
See you next chapter~
