Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Modern AU.
Genre: Humor Parody
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koeih
Bukan Tempat Cuci Biasa
Selamat Membaca
Chapter 3: Creambath, dan Ngidol
Keesokan harinya di Laundri Anti-Mainstream. Mitsunari sama Takatora sedang bermeditasi di halaman belakang, di belakang punggung mereka udah ada dua vacum cleaner yang menyala. Meditasi sebelum pembersihan tungau adalah ritual mereka sehari-hari, karena kadang tungau di kasur yang biasa mereka bersihkan suka malah menggigiti mereka karena habitatnya di ganggu.
"Mitsunari, Takatora, kasurnya sudah kering." kata Yoshitsugu sambil menyentuh kasur yang sedang di jemur dengan jari telunjuknya.
Mereka berdua membuka matanya bersamaan, dan langsung berlari sambil membawa vakum cleaner kepada target. Yoshitsugu ngeliat mereka bingung, kasur kan udah di cuci, harusnya sekarang dibungkus pake plastik agar tidak kotor lagi. Kebingungan Yoshitsugu teralihkan saat melihat bolong kecil seperti habis terbakar di kasur yang menjadi target Mitsunari.
"Bukannya ini udah di cuci? Kenapa dibersihin lagi?"
"Tadi pagi aku mengeceknya dengan kaca pembesar ternyata masih ada tungau di kedua kasur ini."
Yoshitsugu terdiam, lalu melihat kembali lubang kecil di kasur itu. "Mitsunari, kamu tidak berniat untuk membakar kasur milik pelanggan kitakan?" tanyanya sambil menunjuk lubang kecil itu.
"Kalau soal lubang itu ditanyakan oleh pelanggan bilang aja kecelakaan, atau pas kamu terima kasur ini emang bolong." Mitsunari tetap fokus membersihkan kasur.
"Tapi Mit, ini kasur punya Pa Hideyoshi."
Ucapan Yoshitsugu membuat Mitsunari terdiam, suara vakum cleaner yang dipegang oleh Mitsunari mati seketika. Mitsunari berlari ke dalam mencari sesuatu untuk menambal lubang kecil itu, melihat Mitsunari mengeluarkan jiwa anak kesayangan Pa Hideyoshi, Yoshitsugu cuman bisa sweatdrop.
"Akukan cuman bercanda."
"Yoshitsugu," Takatora berhenti melakukan kegiatannya, lalu menghela nafas. "nada bicaramu, dan muka datarmu tidak seperti yang lagi becanda, kasur itukan aslinya punya Zhao Yun ye gak?"
Yoshitsugu ngangguk. "Sebenernya kalo ngeliat Zhao Yun yang emang gampang di bego-begoin. ngasih alesannya gampang soal itu."
"Btw, yang jaga di depan siapa? Jam seginikan suka banyak pelanggan."
"Pelanggan salon, bukan laundri."
"YOSHITSUGU!"
Merasa terpanggil dari kejauhan, Yoshitsugu mencari orang yang memanggilnya itu.
"YOSHITSUGU!" panggil orang itu lagi sambil berlari menuju Yoshitsugu.
"Oichi, ada apa?"
Oichi loncat-loncat ga karuan di depan Yoshitsugu sambil bergumam aneh. "Ano etto itu itu itu itu … ADA MONSTER DI DEPAN SALON MINTA CREAMBATH ALPUKAT!"
Suara dengungan vakum cleaner yang di pegang Takatora tiba-tiba berhenti terus ngeliat ke Oichi dengan tatapan tidak percaya.
"Yoshitsugu, tolong Ichi."
Yoshitsugu pasang tampang -kok-gue-sih?- dari balik syal biru yang menutupi setengah wajahnya itu. "Tapi Chi, aku bukan paranormal, lagipulakan ada Nagamasa."
Mendengar penolakan halus dari Yoshitsugu, Oichi mengeluarkan air mata buaya.
Yoshitsugu masih diam, melihat Oichi yang sudah mulai melakukan aksinya dengan ekspresi datar.
"Nagamasa sibuk lagi menikur pedikur personil idol grup PuriPuri Max Heart."
"Bukannya kemarin udah?"
Oichi menggeleng pelan. "Sekarang Nagamasa lagi menikur pedikur mereka semua sekaligus, jadi kumohon." Oichi mengaktifkan lagi kitty eyes no jutsunya yang sangat menyilaukan mata.
"Ba-baiklah," Yoshitsugu tak kuasa melihat kitty eyes milik Oichi yang menyilaukan. "tapi aku hanya membantu untuk melayani monster itu ga yang lain."
Oichi ngangguk-ngangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Yoshitsugu, Oichi langsung menarik Yoshitsugu ke salon.
"Takatora tolong jaga toko selama aku pergi, dan jangan sampe Mitsunari ngelakuin hal-hal aneh!"
Takatora hanya mengacungkan jempol pada Yoshitsugu, dan melanjutkan kegiatannya. Tak lama setelah Yoshitsugu sama Oichi pergi, datanglah Mitsunari membawa kain kecil, jarun, dan benang di tangannya, Mitsunari bertanya pada Takatora tentang keberadaaan Yoshitugu.
"Tak, si Yoshitsugu kemane?"
"Jangan panggil gue Tak seakan gue itu botak dimata lu." sewot Takatora.
"Jangan ngegas dong Tak, guekan cuman nanya." balas Mitsunari ga kalah sewot.
"Nanya juga gausah sambil ngatain orang."
"Dasar pemeran utama Tak en de pawer of juju!"
"Mitsunari..." geram Takatora.
Mitsunari ngeliatin Takatora dengan muka nantang. "Ape lu ngajak berantem?"
"Muka lu minta gue tabok!"
"OH! LU MAU TABOK GUA!" Mitsunari menaruh kain, jarum, dan benang di atas kasur. "TABOK MUKA GUE KALO BISA TAK!"
"OKE! GUE TABOK LU PAKE NI VAKUM KLINER SAMPE WIG LU YANG BERWARNA MACAM LANGIT DI SORE HARI ITU JUGA KESEDOT!"
Takatora nodong-nodongin vakum cleaner di tangannya ke muka Mitsunari yang cuman beda beberapa cm. Gamau kalah Mitsunari juga mengambil vakum cleaner yang tadi doi pake. Jadilah mereka berdua bertarung menggunakan vakum cleaner. Untung aja vakum cleaner yang mereka pake itu ga nyala, colokannya sudah terlepas dari stopkontak, dan tidak ada pakaian yang sedang di jemur, jadi mereka bisa berlari bebas di halaman belakang.
Sementara itu Yoshitsugu cengo melihat pelanggan yang 2x lebih besar darinya sedang duduk di depan salon Oichi. Ternyata apa yang dikatakan Oichi benar, di depan salonnya ada monster bersayap empat sedang menunggu untuk dilayani.
Oichi berjalan mendekati monster besar itu. "Etto … anda mau creambat alpukat?"
"Iya."
"Nama anda?"
"Hundun, Nona bisa sekarang dilakukan creambathnya?"
"Tapi … kami tidak cukup tinggi."
Poof
Monster yang bernama Hundun itu berubah menjadi anjing ras Belgian Malinois, berwana coklat tua, dan mempunyai jambul yang lebat di atas kepalanya sampai leher.
"Woof! Dalam wujudku yang seperti ini akan mempermudah kalian, dan aku juga mau keramas aka mandi."
Yoshitsugu memandang Oichi tanpa ekspresi, sementara Oichi malu udah panik duluan.
"Baik, kalau begitu silahkan masuk Tuan Hundun, ayo Yoshitsugu bantu aku."
"Tapi Chi, aku punya perasaan jelek meninggalkan toko pada mereka berdua."
"Jangan terlalu berpikir negatif pada mereka Yoshitsugu, aku yakin akan baik-baik saja."
"Baiklah."
.
Dari kejauhan manusia berambut blonde yang diketahui sebagai anak ketiga Bapake Mori Motonari sedang stalking laundri sebrang dengan teropong abis nyomot di tong sampah, doi melihat rival toko laundri mereka mendapat pelanggan dari dunia lain. Anak itu yang bernama Takakage bediri di depan jendela toko yang terbuka lebar daritadi, dan di sebelah kiri anak itu ada Bapanya sedang melototin kalender, lalu mencoret kalender itu dengan spidol.
"Ternyata bukan kita aja yang suka dapet pelanggan aneh."
"Tapi hebat ya salonnya Mba Oichi bisa ngebuat mahluk dari alam lain dateng."
"Yah Ayah,"
"Apa Nak?"
"Ga Yah, anakmu yang ganteng ini cuman ngecek doang, takutnya nanti aku dibilang ngomong sendiri."
Bukannya emang daritadi emang udah ngomong sendiri ya? Tanya Mori dalam hati.
"Yah, Hanbei mana?" tanya Takakage tanpa mengalihkan pandangannya dari salon Oichi.
"Masih tidur di dalem mesin cuci."
"Sayang sekali, padahal di salon Mba Oichi, lagi ada grup band PURIPURI MAX HEART." Takakage sengaja menekan nama idol grup favorit Hanbei.
"Nak, perasaan Ayah ga enak."
Sedetik kemudian setelah Bapake Mori mencurahkan isi kepalanya pada anaknya, sesosok manusia mini berlari ke tempat Takakage berdiri, dan langsung merebut teropong yang dipegang Takakage, mengeluarkan yang punya teropong dari jendela, sementara manusia mini itu neropong isi salon Oichi. Mori berjalan keluar toko, ingin melihat anak ketiganya yang nyusruk keluar dari jendela gegara manusia mini itu.
"Nak, kamu gapapa?" tanya Ayahnya, padahal Mori udah ngeliat keadaan anaknya.
Keadaan Takakage sekarang lagi tengkurep di atas rumput, kepalanya doi angkat, dan dagunya bertumpu di atas rumput. "Gapapa Yah, anakmu ini engga luka-luka, hanya anakmu ini merasakan kalau mukanya ga ganteng lagi gegara nyium rumput, dan anakmu ini gabisa gerak."
Mori mengelus dadanya, bersyukur anaknya masih bernyawa setelah ditabrak mahluk mini tadi.
"WIHH! TEROPONG INI KEK X-RAY YA BISA NEMBUS TEMBOK ZOOMNYA JUGA BISA MPE DEKET BANGET! LU DAPET DIMANA NEH?!"
"Di tong sampah, mini." jawab Takakage dengan ogah-ogahhan, doi masih belum gerak sedikitpun.
"Hah?" Hanbei berhenti ngestalk idolnya, dan mulai mencari merek teropong itu. "GA ADA MEREKNYA! LU DIMANE GE?!" Hanbei tengok kiri-kanan.
"JANGAN TERIAK BAKA! GUE ADA DI BAWAH LU!"
Begonya Hanbei ngeliat ke bawah. "KAGA ADA TUH!"
"LIAT KE LUAR JENDELA! TERUS KE BAWAH!"
Manusia mini bernama Hanbei itu manut, doi ngikutin apa kata Takakage, terus doi senyum. "OHHH LU DISITU GE! SYEDIH AMAT KEADAAN LU!"
"INI KAN GARA-GARA LU!"
"Takakage, Hanbei lebih baik kal-" Mori mencoba untuk menghentikan kebiasaan keduanya di pagi hari tetapi kata-katanya malah terputus gegara Hanbei berteriak lagi.
"KOK GARA-GARA GUA?! KAN TADI GUA TIDUR DI MESIN CUCI GEGARA KEMAREN!"
"TADI LU NABRAK GUA!"
"KAGA!"
Perasaan Mori ga enak lagi. Setelah melihat Kanbei yang sedang berjalan keluar dari kamar mandi, di tangannya ada ember berwarna hitam berisi air cucian. Sebelum kejadian itu terjadi lagi Mori menaruh kedua tangannya di dada, lalu berdoa agar anaknya ga sakit karena di guyur sama air cucian terus.
BYUR!
Guyuran air cucian dari Kanbei sampai keluar jendela sedikit membuat celana Takakage basah sampai paha.
"Kalian berdua diamlah, ini masih pagi. Lebih baik kalian bantu gua jemur pakean idol kalian."
"GUE KAGA NGIDOLIN AKI-AKI SAMA OM-OM KEK MAHLUK MINI TUKANG NGIDOL INI!" Takakage narik nafas dulu, cape teriak-teriak mulu. "Ples badan gue kaga bisa gerak gegara nyusruk keluar jendela." tambahnya.
Hanbei cuman ngeliiat Kanbei dengan tatapan bete, Kanbei bales dengan tatapan tajam seakan berkata -lu-mau-gue-keringin-di-dalem-mesin-cuci?- Hanbei bales dengan geleng-geleng. Cukup sebulan tidur di dalem mesin cuci, jangan ditambah, dan bikin diriku ini menderita, batinnya lebay.
"Mori, maaf sudah bikin lantai basah untuk kesekian kalinya, tolong di pel lagi."
"Iya."
Akhirnya Hanbei pun mengikuti Kanbei, dan diam-diam membawa teropong Takakage. Abis nyomot dari tong sampah eh di ambil sama orang ujung-ujungnya. Sudah nyusruk keluar jendela, badan gabisa gerak, barang hasil nemu di tong sampang diambil. Kasian bangat lu Ge, semoga abis ini elu di urut sama Ling Tong biar bisa gerak lagi.
TBC
Ntah ini chapnya ngawur apalagi endingnya :v
Tenks yang udah baca cerita gelo ini
see you next chapter~
