Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Modern AU.
Genre: Humor Parody
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koeih
Balesan Review:
Rosy Miranto18
Hanbei: (sweatdrop) yang ada kami yang rugi…
Naotora: Tidak-tidak warna mereka sesuai dengan warna orochi di game saat mereka bukan dalam bentuk hydra ada biru bercorak merah, hijau, putih dll dst dkk.
Macem-macem ada klo yang laki-laki dokter paling yang cewe jadi perawat tapi ada juga yang jadi pasien…
Sementara ini hanya Hanbei… sementara.
Maaf… ga kebaca karena kemarin gegara udah kesel sama lemotnya wifi ples kamar udah kek sauna, sekali lagi mohon maaf.
Mitsunari: tetapi tetap saja mengganggu tidur cakepku. (mendengus)
Zhao Yun: jangan bayangkan yang aneh-aneh tolong, cukup si Nthor aja yang punya imajinasi kelewat aneh. Dan jangan memfotoku, kalo mau foto Sima Yan saja dia lebih lucu dariku.
Sima Yan: halo Om~ umurku masih sepuluh tahun~
Sima Zhao: mereka hanya anak tambahan (maksud lu?). Ini mungkin antara 2 atau 3 tahun.
Hanbei: bukan aliran sesat tapi aliranti cartwright
All: jangan menyebarkan penyakit, cukup si Nthor aja yang sakit jiwa.
Bukan Tempat Cuci Biasa
Selamat Membaca
Chapter 6: Panas, Pingsan, dan Kebakaran
Siang ini matahari menyinari bumi dengan panasnya, tapi kali panasnya seperti musim kemarau, tidak hujan yang mampir untuk membasahi bumi. Karena siang ini lebih panas dari sebelumnya, laundri berlantai dua ini dengan terpaksa menyalakan AC berkat Hanbei sebenernya buat tujuh personil di laundri biasa-biasa aja tetapi Hanbei udah panik duluan saat melihat Takatora terbaring lemas di lantai seperti es batu yang meleleh, dan doi sendiri juga kek cacing kepanasan.
"Mobil fortuner milik Pa Cao Cao udah." Gan Ning laporan sama Mori terus doi duduk di lantai menghalangi pintu buat ke salon.
"Motor harley punya Dian Wei juga udah." Ling Tong juga laporan sama Mori terus doi duduk membelakangi Gan Ning.
"Kalian boleh istirahat." Mori mempersilahkan istirahat pada dua montir itu yang sudah banjir keringat gegara kepanasan ples nyiram diri sama air sampe garasi banjir.
"Hari ini kenapa panas sekali~" Ling Tong menaruh kanebo bekas ngelap motor di atas mukanya.
"Ya karena ini musim kemaraulah, bege lu." dari belakang Gan Ning ngepret Lin Tong pake handuk kecil.
"Musin kemarau atau musim pancaroba?" Ling Tong bales ngepret Gan Ning.
"Dua-duanya kali." jawab Gan Ning asal.
"Rasanya aku sudah meleleh~" gumam Takaktora, sekarang dia sudah seperti ikan asin yang dijemur di bawah matahari bajunya juga udah basah ga karuan.
"Ada yang melihat Mitsunari?"
"Lagi berdiri di depan laundri menikmati AG di luar sana." jawab Mori sambil nunjuk Mitsunari dari jendela dengan pulpennya. Pas Mori nunjuk Mitsunari, Mitsunari melihat ke belakang, dan tepat melihat ke arah Mori. Mori pun membuka jendela yang ada di sebelahnya. "Dicariin Yoshitsugu."
Kling kling
Mitsunari pun masuk ke dalam laundri, lalu berjalan mendekati Yoshitsugu. Mitsunari terdiam sebentar, mukanya merah lalu terjatuh ke lantai, Mori menghela nafasnya. Yoshitsugu bingung.
"Mungkin Mitsunari terlalu lama berada diluar."
"Dari kedua lubang hidung Mitsunari mengeluarkan darah." tunjuk Ling Tong pada hidung Mitsunari.
Mori melirik keluar jendela. "Mungkin penyebabnya karena sesuatu."
"Sesuatu itu apa?" tanya Yoshitsugu penasaran.
"Lebih baik, biarkan saja dia seperti itu." Mori mengangkat sekeranjang pakaian kotor ke Yoshitsugu. "Mending kamu nyuci ini aja."
"Ta-"
"Udah biarin aja, itu tandanya Mitsunari masih sehat."
"Baiklah."
Yoshitsugu pergi, muncul Hanbei si bocah sesat sedang menuruni tangga, lalu si bocah sesat ini jongkok di deket tubuh Mitsunari.
"Mitsunari kenapa nih?" tanyanya sambil noel-noel pipi Mitsunari dengan jari telunjuknya. Tidak ada yang menganggapi pertanyaannya. "Mitsunari abis nonton bokep ya? Tanyanya lagi dengan polos pada Mitsunari yang masih pingsan.
"HANBEI!"
Merasa terpanggil dari dalam kamar mandi Hanbei langsung berdiri, dan berlari ke arah sumber suara. "OTW KARMAN!" pas nyampe kamar mandi Hanbei menyusul Mitsunari ke alam sana hanya karena melihat pemandangan menyejukkan mata namun bisa bikin panas seketika, dan lebih berbahaya dari sinar ultraviolet.
"HANBEI PINGSAN BERSIMBAH DARAH! UGD UGD!" teriak Takakage panik.
"Biarin aja, lagipula tuh bocah ga perlu UGD."
"Tapi..."
"Udah biarin, kamu ambil pakaian yang udah selesai di dalam mesin cuci gih."
"Ba-baik."
BRAK!
"ADA YANG BILANG UGD?!"
Tiba-tiba seorang dokter jiwa dari RSJ yang ga jauh dari laundri dateng, dan menggebrak pintu laundri dengan kasar, terus dibelakang dokter itu ada seorang perempuan berambut dark pink seleher sedang membawa pakaian kotor terkena lumpur.
"Mas Kanetsugu? Tumben dimari?" tanya Mori.
Dokter jiwa yang di panggil Kanetsugu itu kaget melihat Takatora sama Mitsunari yang terbaring lemas di lantai.
"Mereka kenapa?" tanyanya.
"Yang satu meleleh karena AC ini tidak cukup dingin, yang satu lagi anggap dia abis berjemur di bawah matahari sampe pingsan." jawab Ling Tong.
"Bentar, kenapa yang dateng dokter jiwa?" tanya Gan Ning, yang sedari tadi bingung. "Harusnya Xun Yu yang dateng!"
"Di kota ini ga ada poliklinik, banyaknya RSJ."
Kanetsugu ngegoyangin jari telunjuknya. "Xun Yu kemarin ngegantiin Jiang Wei ples bantu Yuanji lahiran."
"Bentar," Ling Tong mengelus dagunya. "sebenernya Xun Yu profesinya apa sih? Kok ganti-ganti gitu kek kerja part-time?"
"Dokter serbaguna sama idol." jawab Kanetsugu.
"Permisi..."
"Serbaguna? Gue heran pas doi lulus SMA langsung keterima di sebuah RS, tapi si Cao Pi keterima di Univ kedokteran. Kok kaya dokter malpraktek gitu sih si Xun Yu." Ling Tong menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Permisi."
"Mungkin aura Xun Yu emang udah beda. Apakah korban-korban panas matahari siang ini mau diangkut ke RS?"
"RSJ." koreksi Ling Tong.
"PERMISI!"
Perempuan berambut dark pink yang sedari tadi diem di belakang akhirnya mengeluarkan suara, dengan muka merah akibat kepanasan. Kanetsugu menengok ke belakang lalu minggir sedikit agar perempuan itu bisa masuk ke dalam.
"Terima kasih."
"Kanetsugu, kayaknya mereka tidak butuh di angkut kesana, terima kasih atas tawarannya." Mori tersenyum pada Kanetsugu, lalu pandangannya berganti kepada perempuan berambut dark pink itu. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin mencuci semua pakaian ini." perempuan itu memberikan pakaian kotor ditangannya ke Mori. "Om, disini ada pembunuhan ya? Mas-mas yang berambut oranye idungnya ngeluarin banyak darah."
"Engga cuman otak Mas-mas itu aja yang mesum makanya gitu."
"Ohhh." perempuan itu ngangguk-ngangguk doang.
"Mau diambil kapan?"
"lusa."
"Kalo gitu bayar pas mau ngambil aja, terima kasih sudah menggunakan layanan kami." Mori tersenyum lalu membungkukkan sedikit badannya.
"Mau nanya, disebelah salonnya Oichi?"
"Iya."
"Bagus kalo gitu, gue ke salon babay semua, jangan kangen aku~" Kanetsugu pun pergi ke salon Oichi.
"Oichi-sama~… Nagamasa-sama~..." Tiba-tiba Takatora yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara.
"Takatora makin sekarat." Ling Tong merasa iba melihatnya tapi ga ada niat buat bantuin.
"Doain aja dia tenang di sisiNya."
"Gue … belum MATI!"
"Kalian berdua daripada nganggur ambilin es batu gih di kulkas." titah Mori pada dua montir itu.
"Ning elu aja yang ngambil."
"Elu."
"KALIAN BERDUA."
"Siap." Ling Tong sama Gan Ning pung menghilang ke dapur.
Balik dari dapur kedua montir itu membawa dua plastik es batu ditangannya, lalu Mori menyuruh mereka menaruh dua plastik es batu itu di leher Takatora, dan dahinya. Seketika Takatora kembali seperti semula, lalu Takatora menghilang ke lantai dua. Ling Tong sama Gan Ning cuman kedap kedip doang ga konek sama apa yang terjadi tadi.
Klik
"Diberitahukan pada warga untuk tidak pergi ke daerah jalan menuju surga dikarenakan sebuah laundri kebakaran."
TV menyala, dan langsung memberikan sebuah berita hot yang emang sedang terjadi di dekat mereka. Ling Tong sama Gan Ning duduk di lantai kepalanya menengadah ke atas menonton TV yang tertempel di tembok bagian atas.
"Gue yakin, lagi panas gini kekuatan Lu Xun jadi 10 kali lipat dari biasanya makanya mpe kebakaran tuh laundri." celetuk Ling Tong.
"Terakhir lagi musim kemarau gini Lu Xun ga tidur berhari-hari."
"Temen kalian yang satu itu sesuatu sekali."
"Untung personil kita ga ada yang kaya Lu Xun, bayangkan aja ada Zhu Ran, mungkin satu kota kebakar karena mereka berdua." Ling Tong bersyukur dengan teman kerjanya yang masih bisa disebut normal.
"Terus yang cuman selamat dari kebakaran itu cuman kita karena ada Takatora."
"Kalian ternyata pada nonton TV."
"Terima kasih atas kerja samanya~" koor mereka bertiga yang ada di ruangan itu.
"Takatora mana?" Kanbei menotis keberadaan Takatora yang menghilang dari ruangan.
"Kamar mandi atas kali sedang mendinginkan diri."
"HEI HEI HEI!" tiba-tiba dari belakang Kanbei muncul si bocah sesat yang sudah sadar dari pingsannya. "Tadi aku abis dari jalan itulohh~" katanya dengan tatapan bahagia.
"Berarti tadi elu abis dari surga ya?"
"Issh," Hanbei noyor pala Ling Tong. "cuman di jalannya belum nyampe surga."
"Terus kalo elu baru sampe jalannya doang Mitsunari udah nyampe surga berarti ya?" celetuk Ling Tong.
"GUE BELUM MATI!"
Tiba-tiba saja tubuh Mitsunari bangun, mereka semua pada ngeliatin Mitsunari datar, seketika muka Mitsunari memerah.
"Ke-kenapa kalian ngeliatin gue kaya gitu?"
Hanbei tersenyum. "Mitsundere malu nieh."
"Kaga." sehabis Gan Ning mengatakan itu dengan tadar tatapan mereka kembali ke TV. Mitsunari pun ikut menonton TV itu dan ntah kenapa perasaannya setelah mendengar berita itu bahagia.
YES! BESOK KAGA ADA LAGI ALARM PAGI! Jerit Mitsunari dalam hati yang bahagia.
.
"KEBAKARAN!"
5 personil grup idol ditambah dengan sang menejer hanya bisa melihat laundri mereka termakan oleh api, sementara satu orang lagi masih di dalam toko ntah ngapain.
"Zhou Yu, si Boyan kemana?" tanya leader dari grup idol itu.
"Di Dalem."
"Ba-bagaimana ini?" sang menejer mondar mandir diluar khawatir dengan salah satu anak asuhnya yang masih di dalam toko.
"Kongming lu ga bisa nurunin hujan ya?"
"Emang gue apaan sampe bisa nurunin hujan?" tanya leadernya pada orang di sebelah kanannya dengan muka nyolot.
"..."
"SEMUAAANYAA!" teriak personil mereka yang terakhir keluar dari toko itu, ia mengacungkan kandang ular ke langit.
Mereka semua terdiam kecuali sang menejer yang mulai cerewet, dan ngomong panjang lebar padanya. Belum ada pemadam kebakaran yang datang, dan keempat orang itu hanya melihat toko itu dengan datar.
Pindah profesi itu susah, batin mereka bersamaan.
TBC
cerita ini terrespirasi dari kamar ana yang tiap siang kek sauna :v… kapan ana punya ide yang normal… ada ide buat kek assassin creed tapi kepikirannya JX/XS sama GJ … inginku amnesia.
Tenks buat baca btw
see you next chapter~
