Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Modern AU. Semoga kalian bisa mengimaji mereka jadi kawaeh ver bukan amit amit ver :v
Genre: Humor Parody
Rate: K+ (ajaib)
Disclaimer: WO punya Koeih
Balesan Review
RosyMiranto18
Mitsunari: sebenernya si Nthor juga bingung kenapa bisa, tapi gegera bagus fanartnya jadi suka ntu pair… apa mungkin karena bapakanya juga ya? (masih angkat tangan)
Shi: HEI! Tidak mungkin, ini karena panah bukan air raksa.
Deng Ai: tidak apa-apa.
Contohnya ada di omake chap kali ini :v
Xu Shu: walau mereka absurd tidak harus seperti itu juga…
Shennong: Yuanji, Takakage, Hayakawa, Naomasa, Orochi… mungkin hanya segitu.
Siapa? Aku tidak tahu, mungkin saja Hayakawa atau Wang Yi (geleng-geleng pala). Ana ngetik itu cuman buat penutupan doang.
Tempat Penitipan Anak
Selamat Membaca
Sore menjelang malam, anak-anak sudah pada ngantuk, sebagian dari mereka sudah dijemput oleh orang tuanya, sisa anak lainnya (yang dititipin selamanya) hanya duduk di arena bermain. Penjaga mereka juga sudah menggelar futon untuk mereka, lalu saat Xun You sedang merapihkan rak buku yang sempat berantakan ulah oknum tidak bertanggung jawab, celananya ditarik-tarik sama bocah blonde. Xun You berhenti merapihkan rak buku, dan melihat ke arah anak itu.
"Paman mau ga bacain buku ini?" Takakage menyodorkan buku berjudul legenda batu menangis pada Xun You.
Xun You menerima buku itu dari tangan Takakage, dia bulak balik tuh buku. "Ini cerita tentang anak yang dikutuk jadi batu itu ya?"
Pundak Xun You di tepuk pelan oleh Mori. "Mas, itu Malin Kundang, tapi bisa dibilang ini cewe versionnya."
"Ohh..." Xun You ngangguk-ngangguk. "Baiklah, sebelum kalian tidur, aku akan membacakan dongeng ini." Xun You langsung ditarik ke arena bermain sama Takakage.
"Paman Xun You mau membacakan kita dongeng sebelum tidur teman-teman." Takakage memberikan pengumuman pada anak-anak yang sibuk sendiri.
Xun You pun duduk di tengah-tengah, anak-anak termasuk ketiga penjaga ikut duduk rapi di antara anak-anak. Ngeliat wajah berseri-seri di wajah keempat orang itu Xun You cuman mendengus kesal, untuk Xun You sendiri wajah itu seperti mereka senang melihat doi menderita. Xun You mulai membuka buku dongeng itu.
"Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya."
Himiko mengacungkan tangannya. "Yang jadi janda sama anak gadisnya siapa?"
"Himi-chan ini kan bukan drama."
"Tapi tadi ga disebutin namanya siapa."
"..." mau ga mau Xun You harus menamakan seorang janda, dan anak gadis di dalam buku dongeng itu.
"Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin, bernama Kai da-"
"-GA!" Kai menginterupsi. "Kai bukan janda, ganti, Yuanji aja kan dia paling gede." Kai nunjuk ke Yuanji.
Sementara Yuanji yang ditunjuk oleh Kai memiringkan kepalanya, tanda dia bingung. "Janda itu apa?"
"Perempuan punya anak tapi ga punya suami." jelas Kai sotoy.
Mendengar penjelasan itu Yuanji no response, dan Xun You menganggap itu sebagai iya.
Kelima babysitter abal ini sweatdrop mendengar penjelasan Kai. Anak delapan tahun udah tau arti begituan, jaman sudah berubah. Dan mereka baru ngeh tuh anak satu itu udah tau yuri yaoi hentai, jadi mungkin emang sudah paketan.(?)
"Err.. yang mau jadi anak gadisnya siapa?" tanya Xun You.
"Lady Hayakawa aja, soalnya masih polos." Kai nunjuk sobatnya yang sedang duduk manis di sebelahnya. Hayakawanya sih diem aja.
"Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin, bernama Yuanji dan seorang anak gadisnya, bernama Hayakawa. Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari."
"Nahloh ini mah harusnya yang jadi anak gadisnya Zhong Hui." komen Masamune sambil nunjuk-nunjuk Zhong Hui yang udah tidur di pangkuan Mori. Xun You sih diem aja, kalo di waro ntar panjang urusannya.
"Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi."
"Tuhkan, Hayakawa terlalu polos buat kaya gitu, ganti jadi Zhong Hui, atau ga Shi aja." komen Masamune lagi.
Nezha mengacungkan tangannya. "Ada yang punya lakban sama tali tambang?"
"Ada, di kotak P3K." jawab Sakon
Sejak kapan isi kotak P3K jadi gitu?
Nezha pun berjalan ke kotak P3K, mengambil lakban hitam sama tali tambang. Dan apa yang terjadi? Nezha mengikat kedua tangan Masamune, dan melakban mulutnya. Shennong yang duduk di sebelah kiri Sakon, nyikut pinggangnya.
"Kenapa isi kotak P3K jadi gitu?"
"Bisa aja dari kita berlima ada yang mau ke 'sana' duluan." jawab Sakon.
Shennong ga komen sama jawaban Sakon, ada benernya juga apalagi kaya Xu Shu sama Xun You udah pas mukannya, kek orang stress.
"Pada suatu hari, Hayakawa diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Hayakawa berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak."
"Mhhhmmph!" bukan Masamune namanya kalo kalah sama lakban, walaupun tidak ada yang mengerti dia ngomong apa tapi dia akan mengeluarkan komenannya.
"Masamune, bisakah kamu diam?" pinta Xun You.
"Mmhhpm!"
"Baik-baik, akan kuganti peran gadisnya." seakan Xun You mengerti dengan perkataan Masamune, Xun You pun menuruti perkataan Masamune selagi Sima Shi sudah tertidur, jadi dia tidak akan komen.
Masamune akhirnya terdiam.
"Pada suatu hari, Ziyuan diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Ziyuan berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak."
"Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan Ziyuan, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah Ziyuan. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu,"
Tiba-tiba Kai menyeret Shi yang udah tidur ke samping kiri Xun You. Shi terbangun, dan masih mengantuk.
"Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Karena masih ngantuk, Shi masih belum konek tapi jawaban persis di buku, membuat Xun You garuk-garuk kepala.
"Bukan, Ia adalah pembantuku!"
Seketika hening, ada beberapa anak yang berasumsi kalau Shi sudah pernah membaca buku dongeng itu.
"Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, seorang pemuda mendekati lagi dan bertanya kepada anak gadis itu."
Kali ini Kai menarik Toyohisa.
"Hai, apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
Lagi-lagi Shi menjawabnya persis seperti di buku.
"Bukan, bukan, ia adalah budakk!"
Shi masih diam berdiri di samping Xun You.
"Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya. Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan sangat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.
Yuanji mengadahkan kedua tangannya.
"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya Tuhan, hukumlah anak durhaka ini! Hukumlah dia…."
"Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya."
Mata Shi full tertutup tapi masih bisa berdiri tegak, dan hebatnya lagi Shi melanjutkan perannya sebagai si gadis.
"Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu.."
"Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut 'Batu Menangis'."
Xun You menutup buku dongeng itu. "Tamat, waktunya kalian tidur." Xun You berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju rak buku untuk menaruh kembali buku dongeng itu. Di rak buku itu Xun You melihat sebuah buku bersampul pink norak, karena penasaran Xun You mengambil buku itu, dan melihat isi buku itu sekilas. Wajah Xun You berubah horror setelah melihat isi buku itu, setelah itu nasib buku itu terbelah menjadi empat, dan berakhir di tepat sampah.
TBC
yaaa… walau chap seratus ceritanya ga se wah wah wahnya cerita wah :v jadi ya biasa aja sih ana hype aja bisa ngetik 100 chap walau terkadang cuman oneshot :v ga ada yang istimewah di chap 100 ini.
Tenks udah hiks hiks srot… setia baca review cerita absurd ini
See you next chapter~
Omake
Jam 12 siang, Xu Shu ingin membaca sebuah buku tapi kacamata bacanya hilang entah kemana, Xu Shu sudah mencari kacamata bacanya dimanapun, termasuk kamar mandi, kotak mainan, dan kotak P3K. Lalu dari pintu menuju halaman Mori menunjuk ke sebuah kacamata yang berada di atas tanah yang sudah digali, tidak jauh dari letak kacamata itu ada Jia Xu, dan Fa Zheng berdiri.
"Shu, itu kacamatamu kan?" tanya Mori.
"Iya."
Xu Shu berlari ke tempat kacamatanya berada, dan
BRUSH!
Xu Shu masuk ke jebakan buatan Jia Xu sama Fa Zheng, mereka berdua tersenyum penuh kemenangan, dan tos. Dari kejauhan Mori mengelus dada.
"Turut berduka padamu Xu Shu."
END
omake terinspirasi dari manga pendek dari pinterest hanya bedanya Zhuge Liang ana ganti jadi Mori, ntah ingin ngakak tapi kasian juga sama si Xu Shu :v well karena ntu komik pake ful jep dan banyak kanji jadi omake ini bukan nerjemahin komik pendek itu hanya ini ver ana sendiri :v
