Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH.
Genre: Humor Parody
Rate: T+
Disclaimer: WO punya Koeih
Dakki no Hasedou Beach Report Author ver.
Selamat membaca
"Kembali lagi dengan gue, Da Ji yang paling cantik sedunia melaporkan dari pantai Hasedo," Da Ji melambaikan tangannya pada kamera. "sekarang gue bakal melaporkan kegiatan apa saja yang lagi dilakukan oleh mereka."
Da Ji berjalan dekat dengan stand-stand, dan papan seluncur, ia melihat Zhao sedang berjalan-jalan di daerah sana, sebenernya samar-sama Da Ji mendengar ocehan seorang Zhao tentang Hanbei disana, saat sedang asik berjalan kesana kemari Zhao jatuh tersandung oleh sebuah papan seluncur.
"Bisa dilihat pemirsa manusya pemalesan disana jatuh karena sebuah papan seluncur pfftt..." Da Ji menahan tawanya takut kena karma karena ngetawain orang.
Zhao terbangun dari jatuhnya, dan saat melihat papan seluncur itu, Zhao langsung berteriak excited, terdengar suara ombak yang besar membuat Zhao ingin mencoba sesuatu dengan papan seluncur itu .
"Ara, mungkin ntah taun kapan senjata Zhao berubah jadi papan seluncur bukan pedang lagi."
"Kalo gitu gimana mau bunuh?" tanya sang kameramen pada Da Ji.
"Kan Liu Shan udah pake kursi mang bakso, mungkin ntar senjata Zhao jadi papan seluncur biar anti mainstream."
Da Ji pun meninggalkan Zhao yang sedang berekperimen, dari tempat dia berdiri dia melihat Taigong Wang sama Sakon sedang mancing ntah mancing paan. Da Ji pun menghampiri mereka berdua.
"Lagi ngapain nih?" tanya Da Ji.
"Lu ga liat gua lagi apa?" tanya Taigong Wang agak nyolot.
"Mancing."
"Tuh tau udah sana, pergi."
"Hmph, dasar AKI AKI DEMEN MANCING!"
Sakon menghela nafas sambil mijit dahinya. "Dasar anak misting jaman ima."
"Mistik Sak, mistik." koreksi sang kameramen sebelum pergi.
Karena udah kesal duluan, Da Ji pergi, sudah menjauh dari tempat Taigong Wang sama Sakon berada. Tiba-tiba Da Ji melihat sebuah balon berwarna merah.
"Mor ini paan ya?" Da Ji menunjuk balon merah itu.
"Kata Nthor sih namanya balon."
"Balon? Sudahlah," Da Ji memeluk balon merah itu. "tapi benda ini lucu juga."
Saat Da Ji sedang asik ngobrol sama kameramen tentang benda bernama balon itu, Kanetsugu sama Seimei berjalan mendekati Da Ji, Kanetsugu melihat ke arah Da Ji dengan tatapan curiga, doi menyangka kalau balon itu adalah senjata aneh yang Da Ji ciptakan.
"Enak saja, jangan maen nuduh aja, dasar cumi-cumi."
"Headgearku sudah tidak berbentuk seperti cumi-cumi lagi."
"Seimei, bagaimana balon ini bisa mengapung?"
"Aku tidak tau, mungkin itu alat ajaib, aku tidak bisa merasakan kekuatan di dalam balon itu." Seimei menggunakan kekuatannya pada balon itu, tapi malah membuat balon itu pecah. Membuat Seimei, dan Kanetsugu kaget.
Kanetsugu berpikir kalau Seimei menggunakan kekuatannya untuk meletuskan beberapa balon yang sedang terbang, Kanetsugu yang melihat balon itu langsung menghilang dalam sekejap langsung meminta Seimei untuk mengajarkan mantranya itu, melihat reaksi Kanetsugu yang begitu membuat Seimei bingung, dan terdiam.
"Ternyata Seimei-san bisa kaget juga ya." celetuk Da Ji.
Da Ji bersama dengan kemeramen pun pindah spot.
Semakin lama pantai semakin panas, Da Ji mencari payung untuk berlindung di bawah sinar matahari. Setelah beberapa menit melihat kesekelilingnya tidak ada yang bisa ia buat untuk melindunginya dari sinar matahari sampai Da Ji mendengar suara Cao Pi, dan Mitsunari lagi adu mulut, Da Ji pun berjalan mendekati mereka.
"Mitsunari, disini panas sekali lakukan sesuatu."
"Ogah emang lu sapa gua."
"Kalau begitu lepaskan headgearmu itu."
"GA, ini tanda kalau status gue sebagai jendral."
"Kalo gitu pergi dari sini."
"GA," tolak Mitsunari lagi. "lagipula gue yang nemuin nih payung."
"Tapi yang duluan di bawah payung ini, itu aku."
"Hmph, Orang yang benci dengan kekalahan."
"Aku tidak mau dibilang begitu oleh orang sepertimu."
"MOU! Kalian berdua berhentilah, daripada kalian berantem terus, aku ambil payungnya." Da Ji mengambil payungnya.
"KEMBALIKAN PAYUNGNYA." titah Cao Pi, sama Mistunari barengan.
"Kalo soal gini aja baru kompak." gumam Da Ji. "Jya nee." Da Ji pun pergi.
Lagi asik jalan-jalan sambil buka-tutup payung. Da Ji bermonolog.
"Dipikir-pikir lagi, payung ini mirip dengan senjatanya si Nagablonde sama Deng Ai, bagaimana kalau ditukar?" Da Ji tertawa pelan dengan rencana jahil di otaknya.
Mendengar rencana jahil Da Ji, Xiahou Dun langsung berjalan menghampirinya.
"Berhenti menjahili orang Da Ji."
"Eh? Waduh Om keren kok ada disini?"
"Itu bukan urusanmu, aku akan mengambil payungmu." Xiahou Dun menggenggam payung yang dipegang Da Ji.
"Yang tadi itu cuman becanda kok suwer, hai douzo." Da Ji memberikan payungnya lalu pergi.
"Haduh, lari-lari lagi panas gini bikin haus." Da Ji pun mencari minuman di daerah pantai, meneliti satu-satu stand pantai, lalu kedua matanya menemukan Masamune, dan Lu Xun. Da Ji pun menghampiri satu shota, dan satu bishounen itu.
"Ara, ada Masamune sama Lu Xun."
"Da Ji mau ini?" Lu Xun menawarkan sebotol soda pada Da Ji, dan menjelaskan sensasi yang diberikan oleh sebotol soda itu pada Da Ji.
Da Ji mengambil sebotol soda itu, lalu mencoba meminumnya tetapi malah dikeluarkan lagi karena merasa aneh saat meminum itu. "Aneh, seperti ada yang menggelitik."
"Mau mencoba es serut buatanku? Namanya Kakigori." Masamune menawarkan semangkuk Kakigori ke Da Ji.
"Sepertinya enak, tapi harusnya namanya Gakigori."
"BUKAN GAKI TAPI KAKIGORI! IMBISIL!"
Da Ji menghiraukan perkataan Masamune, lalu doi mengambil mangkuk itu, dan mulai memakannya. "Dingin tapi enak~" Da Ji menengok ke arah Lu Xun. "Lu Xun kamu ga makan?"
"Tidak, makan yang dingin-dingin tidak baik untuk tubuh."
"Begitu ya..." mendengar kata-kata Lu Xun Masamune manggut-manggut.
Da Ji memakan Kakigori sampai beberapa mangkok saking enaknya, sampai-sampai perutnya tiba-tiba sakit, Da Ji berhenti makan.
"Sial, a-aku teringat sesuatu yang penting, dadah~" Da Ji ngabur bersama sang kameramen.
"Tidak dipungkiri lagi itu menghancurkan perut(1)." kata Masamune sambil melihat kepergian Da Ji.
Lu Xun sweatdrop. "Kita harus menjaga tubuh dengan baik."
.
Setelah merasakan sakit perut, Da Ji cuman mondar-mandir di pantai sambil mengeluh dengan apa yang menimpanya, lalu Da Ji berjalan menuju Orochi tercinta yang sedang duduk di atas kursi pantai dengan kacamata hitam.
"Haahh… Orochi-sama," panggil Da Ji.
Hanya terdengar suara dengkuran dari mulut Orochi.
"Orochi sama," panggil Da Ji lagi.
Tetapi yang terdengar hanya dengkuran saja.
"Ahhh… dia tertidur." keluh Da Ji. Da Ji menggoyangkan badan Orochi. "Orochi-sama,"
"Orochi-sama,"
"OROCHI-SAMA,"
"Urrrgh… makin lama semakin menyebalkan." Da Ji menggoyang badan Orochi lagi. "NEE NEE OROCHI-SAMA!"
"O-RO-CHI-SA-MA, TTEBA."
"OROCHI-SAMA! OROCHAN! OROTAN! OROPYON!"
Panggilan terakhir Da Ji akhirnya bisa membuat Orochi terbangun dari tidurnya.
Gua lagi enak-enak tidur, situ malah bangunin gue, dasar bawahan kurang diajar, batin Orochi kesal.
"Ada apa Da Ji?" tanya Orochi.
"Arara,"
Akhirnya setelah Orochi terbangun, doi protes pada Da Ji karena sudah membangunkannya padahal, doi sebelum Da Ji dateng sedang menikmati kursi pantainya.
END
(1) machigainaku hara wo kowasu da na (well aku ngedengernya gitu)
sebagian translet dari drama CDnya langsung ada yang diilangin karena bingung kata-katanya ada yang emang ditambahin sendiri sama ana :v kalo mau denger drama CD ada di soundcloud tinggal dicari aja lewat gugel warriors orochi CD drama ntar ada :v ntah aku seneng pas bagian Cao Pi sama Mitsunari sama pas Da Ji manggil Orochi dengan berbagai nama :v translet kata-kata cao pi agak susah ye apalagi kalo bikin kata-katanya jangan sampe keliatan OOC susah beud :v
Tenks udah baca chap ini btw
See you next chapter~
