Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Back to gakuen AU.
Genre: Humor
Rate: T+
Disclaimer: WO punya Koeih
Balesan Review
RosyMiranto18
Oichi: Mistuhide SW, sekarang ayahnya Gracia lagi suka kerasukan.
Zhao: O-ouh… ya aku tahu.
Xun Yu: berarti kalau aku mukanya kaya Xiahou Dun baru kaya orang jahat ya?
Ranmaru: bukan, Rumah Sakit asli no hoax.
Kunoichi: Sasuke masih dalam tahap pelatihan mental, kalau mereka berdua tidak dibolehin, mereka hanya dibolehin membantu menjual majalah saja.
Zhou Yu: karena aku di kasih kamera ajaib, dan diseret masuk sama Pa Chen Gong.
Nene: baiklah.
Xiaoqiao: sayangnya… kamera itu suka jatuh di tangan orang yang salah jadi akademi ini akan terus dibawah kata normal.
Majalah
Selamat Membaca
2 hari setelah meninggalnya Zhou Yu, maksudnya keluarnya Zhou Yu dari RSJ, majalah bulan Juli sudah mulai dicetak, sampul majalah hasil jepretan Xiaoqiao berhasil lolos seleksi karena ada Cao Cao sama Nobunaga lagi keluar kelas kefoto. Walaupun sampul majalah berhasil lolos, Zhou Yu tetap tidak senang karena kejadian yang dia alami secara mendadak di dalam toilet, dan membuat Zhou Yu sensitif sama Sun Ce karena kejadian itu.
"Sudahlah Yu, yang berlalu biarlah berlalu." Ryu mengelus punggungnya Zhou Yu pelan. "elu menyesal juga tiada guna ga akan mengembalikan waktu maupun keperjakaan lu." sebenernya Ryu berniat menghibur Zhou Yu tapi malah memperburuk.
"Diem lu, hiks."
"Sudahlah biarkan Zhou Yu sendiri di pojokan Ka Ryu." kata Nene.
"Iya-iya, ntar Zhou Yu malah makin-makin, baru aja keluar dari RSJ." timpal Ayane.
"Ehem," Chen Gong berdeham, Ryu, Ayane, Kunoichi sama Nene langsung ngeliat ke arah Chen Gong. "INI KENAPA DI SAMPUL BELAKANG ADA BAPA SAMA PA LU BU?!" protes Chen Gong setelah melihat sampul belakang majalah.
"Kan Bapa lagi keren gitu foto ala-ala kaver filem eksyen, kok protes sih." kata Nene.
"Iya iya, harusnya Bapa senang." kata Kunoichi.
"TAPI BAPAKAN LEBIH PENDEK DAN KECIL DARI PA LU BU!" Chen Gong menggebrak-gebrak meja.
Nene mengambil majalah yang sudah jadi, lalu membalikkan majalah itu, melihat sampul belakang majalah Nene ketawa.
"Pa Chen Gong cuman kepalanya doang HAHAHAH! BADANNYA GA ADA!"
"Pokoknya sampul belakang kudu diganti."
"Gabisa gitu dong Pa," Kunoichi menggerakkan jari telunjuknya ke kiri, dan kanan. "ini sudah dicetak, emang Bapak mau pake sweater laknat itu?" Kunoichi membuat muka seseram mungkin agar terlihat seperti mengancam.
"Apa hubungannya sweater itu sama majalah?"
"BAPA GATAU BETAPA MENDERITANYA ZHOU YU SAAT ITU?!" teriak Kunoichi dengan penuh semangat, kedua tangannya sudah dikepal kuat.
"Nak Kunoichi, Bapak tanya apa hubungannya kenapa jadi ngelantur bawa-bawa Zhou Yu?"
"Pa, aku ada rekamannya lho, mau nonton?" tawar Nene pada Pa Chen Gong.
"Udah ga jaman nonton bokep."
"Kirain Bapa suka nonton 3gp."
"Bapa sukanya nonton hentai."
Ayane ngegeplang muka Chen Gong pake penggorengan punya Ryu. "Sama aja."
"Aduh jangan ngegaplok wajah ganteng Bapa dong."
"Masih gantengan Kak Jia Xu." kata Nene.
Mendengar pernyataan yang menyakiti hati, Chen Gong cuman bisa sabar. "Kenapa Bapa bisa kalah ganteng sama anak kelas tiga berbandana itu?"
"Muka Kak Jia Xu masih masuk standar, kalo Pa Chen Gong udah kaya Kakek-Kakek mesum." jawab Kunoichi.
"Kakek-Kakek mesum… Kakek-Kakek mesum… Kakek-Kakek mesum…."
Kalimat itu terngiang di kepalanya Chen Gong.
"Pa," panggil Ayane.
"Pa Chen Gong~" panggil Nene.
"Pa Chen Gong yu hu~" panggil Kunoichi sambil noel-noel pundaknya.
Aduh, Kunoichi jujur banget, susah deh ngebangunin Pa Chen Gong kalo udah shock gini, Ryu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayane, poster buat bonus majalah sudah selesai di cetak."
Nene mengacungkan tangannya sambil lompat-lompat di tempat. "AKU MAU YANG MELIPAT POSTERNYA!"
"Aku mau yang menyelipkan poster A4 itu di dalam majalah, sekalian mengecek kualitas majalah." kata Ayane.
Ryu mengangguk. "Kalau begitu aku yang akan menjual majalah."
"AKU YANG AKAN MENGECEK KUALITAS POSTER!" teriak Kunoichi penuh semangat.
Setelah Majalah di cek kualitasnya dimasukkan poster bonus, waktunya memperjual belikan majalah ke kelas-kelas sama kantin sekolah.
"MANGAT KAK RYU!" Ayane menyemangati Ryu.
"Aku tidak menjual sendirian."
Dari atas muncul Hanzo, dan Fuuma, trio ninja kwek-kwek akan menjual majalah laknat itu.
"Valentinekan udah lewat, kok majalahnya pink norak gini?" Fuuma mengambil salah satu majalah, lalu membolak balikkan majalah itu. Muka Fuuma tiba-tiba berubah jadi kek orang nahan ketawa.
"Mau lagi valentine mau engga warna majalah sekolah kitakan ga pernah bener." Hanzo membuka salah satu majalah. "Apa-apaan ini? Kenapa ada tatacara pake sweater? Tapi aku merasa familiar dengan sweater ini."
"Udah, kalo lu masih mau normal pikirannya mending tutup tuh majalah." kata Ryu.
"Harus ke jual semua ya, biar Zhou Yu, dan Pa Chen Gong senang." kata ketiga perempuan di ruang itu dengan senyum.
"Kami pergi dulu."
POOF
"Sekarang ngapain?" tanya Nene.
Sebuah senyuman muncul di wajah Kunoichi. "Aku sih mau melanjutkan rencana nyomblangin Yuki~"
"Sama?" tanya Ayane.
"Kepo deh~ bye." Kunoichi menghilang dari ruangan.
"Yah menghilang..." Nene melihat ke Ayane. "KE DOJO AJA YUK!"
Tiba-tiba muka Ayane memerah. "Kenapa kesana?"
"Biasanya aku suka nonton Pa Hideyoshi melatih kendo, dan Kak Yoshitsune ikut eskul kendo, daripada ngejomblo mending ikut nonton yuk."
Ayane mengangguk saja, lebih baik daripada di tinggal sama orang shock, dan orang galau di ruangan eskul.
.
Trio ninja kwek-kwek lagi berjalan-jalan di koridor lantai satu.
"Ryu, sekarang sudah pada pulang." Hanzo baru sadar kalau mereka sedang menjual majalah di saat pulang sekolah.
"Walaupun begitu, ada beberapa kelas yang suka menaruh uang untuk membayar majalah ini di atas meja guru, seperti kelas ini." Ryu masuk ke kelas 1-3.
Ryu berjalan menuju meja guru, dia melihat 5 lembar uang sepuluh ribuan di atas meja. Ryu mengambil uang di atas meja, dan menggantinya dengan sebuah majalah. Ryu keluar kelas.
"Ini kelasnya Kai ya?" tanya Fuuma.
"Iya."
"Pantes." Fuuma sweatdrop.
"Kita kemana lagi?" tanya Hanzo.
"Kelas 2-2." jawab Ryu.
"Kenapa? Rata-rata di kelas itukan otaknya nyerempet normal?" tanya Fuuma.
"Disitu ada halaman khusus buat Guo Jia sama Kanetsugu."
"Pasti tentang menggaet hati cewe, sama mantra terbaru." tebak Hanzo.
Ryu menggangguk. "Ayo kita ke lantai dua."
Setelah sampai di lantai dua, mereka memasuki kelas 2-2, kelas kali ini hanya menaruh 49 ribu di atas meja guru. Ryu tau kalau kelas ini demen ngutang, makanya halaman khusus untuk Guo Jia sama Kanetsugu suka kacau alias suka gagal saat dicoba.
"Sekarang kita kemana?" tanya Hanzo.
"Ke tempat eskul kendo yuk, biasanya banyak cewe berebut masuk dojo cuman buat ngeliatin si Yoshitsune."
"Kenapa cewe-cewe seneng kesana cuman gegara si terong samurai itu sih?" tanya Hanzo.
"Mungkin karena mukanya ga ditutup, ga kaya elu." jawab Ryu ga nyadar diri.
"Ngaca, situ juga." Rasanya Hanzo ingin nyodorin cermin princess ke Ryu biar doi sadar kalo doi sendiri nutupin mukanya.
"Katanya sih, Yoshitsune mau sparring sama Pa Lu Bu." kata Fuuma.
Trio ninja kwek-kwek ini pun ke dojo tempat dimana anak-anak eskul kendo berlatih, benar kata Ryu cewe-cewe lagi berebut masuk dojo, Ayane sama Nene juga ada disana bikin Ryu bingung sejak kapan Ayane demen nontonin si terong, sebenernya Ryu penasaran kenapa Ayane ada disini tetapi misi menjual majalah lebih penting.
"MBAK-MBAK SEKALIAN!" teriak Ryu, cewe-cewe kecuali Ayane, dan Nene di depan dojo langsung ngeliat Ryu.
"Itu ada anak eskul jurnalistik ngejual majalah." Sanzang nunjuk Ryu.
"Tapikan, sekarang masih Juni." Joan bingung.
"Itukan emang udah kebiasaan, majalah selalu di jual akhir bulan walaupun itu masih bulan sebelumnya." jelas Sanzang pada teman disebelahnya.
"DIBELI DIBELI MAJALAH EDISI KHUSUS!" Hanzo mengangkat majalah di tangannya tinggi-tinggi. "KALI INI ADA DUA POSTER SEBAGAI BONUS!"
Mendengar kata 'dapet dua poster' siswi perempuan langsung menyerbu mereka dalam hitungan detik.
"Ryu, aku baru sadar kalau ada sebuah kepingan CD di dalam majalah ini." kata Hanzo.
"CD?" Ryu terdiam, perasaannya ga enak. "di dalam posternya?"
"Iya, tapi kayaknya CD ini hanya ada di beberapa majalah saja." jawab Hanzo, dia kembali fokus melayani pelanggan.
Ryu diam mematung, di dalam hatinya dia berdoa semoga mereka tidak nobar CD itu.
Keesokan harinya, anggota eskul jurnalistik termasuk Chen Gong, disuruh bersih-bersih sekolah hanya karena cat merah di ruang seni tumpah sampai membuat banjir ruangan.
"Gue masih bingung kenapa mereka seneng banget nonton di ruang seni." kata Ryu, dia lagi sibuk mengelap papan tulis.
"Mungkin karena disini ada cat merah." tebak Ayane asal.
"Aku tidak percaya mereka nobar disekolah, bukan dirumah..." Nene kecewa.
"NODA DARAHNYA SUDAH KERING!" jerit Kunoichi, doi daritadi ngelap lantai, dan noda di lantai itu ga hilang-hilang.
"Zhou Yu mana?" tanya Ryu kepo.
"Dilarikan ke RSJ lagi, katanya ada kejadian yang menimpa Zhou Yu lagi sampe dikirim kesana." jawab Ayane.
"PUNGGUNGKU ENCOKKKK!" jerit Chen Gong.
Ayane langsung melesat ke bagian belakang ruangan. "Bapa istirahat aja biar kami yang membersihkannya."
Tiga orang di ruangan menghela nafas, derita anak jurnalistik...
"KERABAKAAANNNN!" teriak seseorang di luar sekolah.
"MA CHAO YANG BENER ITU KEBAKARAN!" koreksi salah seorang temannya.
"WII WU WII WUU! APAR DATANG!" teriak si kembar sambil membawa dua alat pemadam api ringan ditangannya.
Lima orang di dalam ruangan seni menghela nafas.
Pasti kerjaan Lu Xun sama Zhu Ran, tebak mereka berlima.
END
nyahahaha :v gaje tu de maks
See you next chapter~
