Warning: OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? silahkan langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Modern AU

Genre: Humor

Rate: T+

Disclaimer: WO punya Koeih

Balesan Review

RosyMiranto18

Gracia: dupanya lagi dipake sama Om Nobunaga buat pengharum ruangan… alat-alat pengusirannya lagi dipinjam oleh Kak Kanetsugu.

Kunoichi: tentu saja sendiri, hanya saja sama dia dicekokin sebuah film yang bisa mengganggu mental, terakhir Sasuke menjerit seperti orang kesakitan.

Zhou Yu: kamera itu jatuh dari langit(atap sekolah), pas gue tanya ke orang-orang di sekolah kaga ada yang ngaku kamera punya siapa. Untung kameranya tahan banting.

Ryu: kami selalu menjual majalah saat dua hari atau sehari sebelum bulan berganti, itu sudah menjadi kebiasaaan.

Chen Gong: sudahlah tidak ada gunanya, kalo diri gua diedit ntar gua diketawain lagi sama siswa-siswa. Penipuan publik.

Kunoichi: jadi yang satu pedo yang satu mesum. Sama siapa yaaa~ khukhu.

Nene: Dojo sampai setengah hancur karena mereka berdua, untung sekolah kaya.

Chen Gong: benarkah? Tidak sampai menyebabkan patah tulang? Terakhir Sima Yi digituin sama Zhao langsung dibawa ke RSJ terjauh.

Trio Kwek Kwek pergi belanja

Selamat Membaca

Setiap hari Rabu keluarga Azai selalu melakukan kegiatan rutin seperti belanja bulanan, Nagamasa yang baru bangun tidur mendapatkan secari kertas yang menempel di kulkas.

"Hm apa ni?" tanya Nagamasa sambil mencabut magnet, dan mengambil kertas itu.

Saat kertas itu diambil, kertas itu menjadi panjang kek dari bandung-bekasi, Nagamasa udah punya perasaan ga enak, dia udah punya firasat kalo hari ini dia disuruh belanja sama istrinya.

"Nagamasa, hari ini tolong belanja ya, popok buat Chacha juga tinggal dikit, sayuran di kulkas juga abis, belanja sayurannya di pasar ya biar murah. Maaf aku tidak bisa menemani, lagi ada kumpul-kumpul di rumah temen." -Istrimu tercinta-

Setelah membaca itu Nagamasa melirik ke arah Takatora yang lagi main (diperbudak) sama anaknya, Nagamasa menghela nafas panjang, mau ngajak Takatora nemenin doi belanja tapi harus bawa anaknya juga terus nanti ribet, terus kalo besokannya ada berita aneh kan berabe. Nagamasa terdiam sebentar, berpikir sejenak, sedetik kemudian dia mempunyai ide. Nagamasa mengambil hape belekberinya di meja makan, lalu mengsms kedua sobatnya, buat nemenin doi belanja, dengan alasan,

"Temenin gue belanja gaes, ntar gue teraktir eskrim hagendaz sekilo deh."

Selagi menunggu kedua sobatnya datang, doi mandi, dan berdandan secakep mungkin. Pas mau keluar rumah, Takatora dengan wujud berantakan sambil gendong Chacha bertanya pada Nagamasa.

"Mas, mau kemana rapi bener?" tanya Takatora kepo.

"Mau ke supermarket belanja bulanan, elu sama Chacha dirumah ya." jawab Nagamasa sambil menyakukan daftar belanja ke kantung celananya.

Takatora ngangguk aja, karena doi mencium kebebasan saat melihat wujud Nagmasa yang super rapi.

"Sama siapa?"

"Cumi-cumi sama kuda." jawab Nagamasa, terus doi ngeloyor keluar rumah.

.

.

.

"Hah?" Takatora bingung, Chacha memiringkan kepalanya. Dua-duanya bingung.

Di luar rumah, Nagamasa sudah melihat si cumi-cumi sama si kuda, mereka berdua udah stand by berdiri di depan pager rumahnya, Nagamasa menggunakan sneaker hitamnya, lalu berjalan kearah pager.

"Mas mana ada hagendaz kiloan." sembur Kanetsugu.

"Lu percaya aja mau gua teraktir tuh es krim made in furansu," balas Nagamasa. "tuh es krimkan mahal, beli popok buat Chacha aja masih nyari yang diskon gua." lanjut Nagamasa.

Kanetsugu mingkem, terus doi nyikut pinggang Ma Chao, Ma Chao ngelirik Kanetsugu. "Gua di rumah disuruh nyikat kuda, sama nganter Ma Dai les tapi gue males, jadi gua ngabur aja walau gua tau ni nagablonde bohong."

Kanetsugu menatap tajam Ma Chao.

"Apa?"

"Ge." balas Kanetsugu cepat.

"AYO! KITA KE PASAR!" teriak Nagamasa penuh semangat.

"Haisshh pasar, semoga ketemu deh gue sama tuh manusya." keluh Kanetsugu.

Sesampainya di pasar, bau bau engga sedap sudah mampir ke hidung ketiga manusya ini. Nagamasa mengambil daftar belanjanya dari saku.

"Pertama, beli cabe 2 kilo." Nagamasa melirik ke arah Ma Chao.

"Apa?" tanya Ma Chao, doi lagi meloading lirikan maut Nagamasa. "OGAH!" tolaknya saat itu juga.

"Lu kan lebih ganteng, dan macho dari gue, pasti tuh mbak-mbak ngasih harga yang engga waras ke elu." kata Nagamasa sambil memberikan uang kepada Ma Chao.

"Elu muji kalo ada maunya aja." Ma Chao manyun sok imut.

"Cepetan." Nagamasa mendorong Ma Chao ke tukang cabe di depan mereka.

"Mbak, mau beli cabe dua kilo." pinta Ma Chao.

Pas si mbaknya membalik ternyata Wang Yi yang jualan cabe, si mbak-mbak langsung menatap tajam ke Ma Chao, terus langsung mengadahkan tangannya. "Dua ratus rebu."

"Apa-apaan 2 kilo dua ratus rebu? Lu niat jualan ga sih?" sembur Ma Chao, pasalnya doi kaget, uang yang dikasih Nagamasa itu cuman 60 rebu.

"Elu dapet harga khusus dari gue." jawab Wang Yi dengan muka nyolot.

"Harga khusus palalu swempak, gue cuman punya ENAM PULUH rebu."

"Itukan yang dari Nagamasa pasti elu punya uang lebih."

Ma Chao ingin menangis tapi takut dibilang cemen sama Wang Yi jadi dia menahan tangisnya, dia sudah menabung untuk beli helm baru, tapi uang itu akan lenyap untuk membayar cabe yang berharga dua ratus rebu. Ma Chao menatap Wang Yi dengan tatapan memelas membuat Wang Yi jijik sendiri.

"100 ribu kalo gitu."

Ma Chao masih tidak puas dengan penurunan harga yang dilakukan Wang Yi. "Turunin dikit lagi." pintanya.

"70 ribu, lu minta kurangin lagi gue colok kedua mata lu pake garpu?" Wang Yi nodong-nodongin garpu yang lagi doi pake buat makan mie.

Dalam hatinya Ma Chao berbunga-berbunga, dirinya hanya menambahkan sepuluh ribu, Ma Chao menerima plastik berisi cabe dua kilo. "Makasih lho, muach." sebelum pergi dari lapak, Ma Chao kisbay ke Wang Yi membuat sang korban kisbay melempar garpu yang ada di tangannya ke arah si pelaku. "GUA NYESEL NGASIH LO HARGA SEGITU KUDA!"

"Lama lu kutang Liu Bei." sembur Nagamasa.

"Gue beneran dikasih harga engga waras sama tuh mbak-mbak," keluhnya kesal, untung ga jadi ngeluarin uang dua ratus rebu. "makan tuh cabe tujuh puluh rebu, BH Oichi." Ma Chao melempar cabe dua kilo itu ke Nagamasa.

"Dasar kuda."

"Diem lu blonde edan."

Kanetsugu berdiri di tengah-tengah mereka berdua, lalu menaruh kedua telunjuknya ke depan mulut mereka berdua. "Sudah-sudah jangan berantem."

Nagamasa melirik Kanetsugu. "Kalo gitu sekarang giliran lo, babu Kenshin." Nagamasa ngasih uang ke Kanetsugu. "beli tahu-tempe masing-masing 3 bungkus."

"Kok?"

"Udeh sana." Nagamasa ngedorong Kanetsugu.

Dengan muka takut-takut, Kanetsugu memesan. "Mas, mau beli tempe-tahu masing-masing tiga kotak."

Si emas emas menatap Kanetsugu, Kanetsugu merasa familiar dengan tatapan si emas emas itu. Setelah Kanetsugu konek siapakah si emas-emas itu sebenernya doi sujud heula minta maaf. Si emas-emas itu adalah orang yang tidak ingin Kanetsugu temui di tempat seperti ini.

"Tuan Kenshin, mau beli tempe-tahu bungkus kotak!" teriaknya penuh semangat.

Kenshin memberikan dua plastik yang berisi tempe, dan tahu. "70 ribu."

Kanetsugu memberikan semua uang yang dikasih oleh Nagamasa. Nagamasa ngasih ke Kanetsugu 75 ribu. Dalam hati Kanetsugu, doi berniat sedekah dengan sisa lima ribu itu. Kanetsugu pun kembali ke tempat Nagamasa sama Ma Chao berada.

"Cepet beut ente." Nagamasa takjub.

"Yadong." Kanetsugu tersenyum.

"Udah jangan senyum, senyuman lu kaya kuda lumping tau ga." sembur Ma Chao.

"Lu tuh yang kaya kuda lumping." balas Kanetsugu.

"Sori gue ga makan beling."

Nagamasa nopang dagu. "Yadong bukannya dalam bahasa kuria itu mesum ya?"

Ma Chao sama Kanetsugu ngangguk barengan. "Iyahin aja biar cepet." jawab mereka berangan.

"Gue mau beli bawang sama masakko, kalian diem disini, jagain belanjaan gue." Nagamasa melihat ke Kanetsugu sama Ma Chao bergantian.

Kanetsugu sama Ma Chao langsung mengepalkan tangan kanannya, dan menaruhnya di dada. "Siap."

Nagamasa mengangguk mantap. "Good, gue bentaran doang."

Nagamasa pun kewarung sebelah kanan, dengan wajah berseri-seri, sesampainya di warung. Nagamasa sedikit terkejut yang dagang ternyata Zhang He seenggaknya ga sama sodara jauhnya, mungkin kalo dia Nagamasa tinggal nama doang.

"Eh Mas Zhang He," nada bicara Nagamasa jadi berubah jadi agak ngondek. "eike mau beli bawang merah tiga kilo, bawang putih dua kilo sama masakko 5 bungkus." pintanya. Kok Nagamasa jadi ngondek gini sih?

"Eike bungkus dulu ya."

Selagi menunggu Zhang He membungkus pesanannya, Nagamasa kerjaan mukulin kepalanya, mungkin maksudnya ngebenerin cara doi bicara.

"Semuanya 90 ribu." kata Zhang He sambil memberikan plastik putih berisi pesanannya tadi.

"Sembilan, puluh ribu" Nagamasa pun barter uang dengan barang yang dia inginkan.

Nagamasa pun kembali ke komplotannya, sampe sana ada Yukimura sama Masamune lagi asik ngobrol sama Ma Chao, dan Kanetsugu. Saat melihat kedua pemuda ganteng itu Nagamasa langsung mendapat ide, tentu menyuruh mereka belanja, agar barangnya makin murah.

"Mune, Yuki," panggil Nagamasa. "kalian mau bantu gue ga?"

Yukimura sama Masamune melihat ke arah Nagamasa bersamaan. "Bantu apa?"

"Beliin, bayem, wortel, sama apel dong."

Yukimura sama Masamune saling pandang, terus Masamune natep Nagamasa penuh makna.

Nagamasa yang mengerti tatapan Masamune, langsung mengatakan. "Gue teraktir baskin robin hood deh satu cup." Nagamasa bohong.

"Halah beli es krim woles aja masih nyari yang diskonan mana bisa beli es krim itu, kalo mau bohong levelnya naikkin dulu."

Nagamasa mingkem karena yang dikatakan Masamune adalah kenyataan yang pahit, terus Nagamasa menatap mereka melas membuat Yukimura iba.

"Masamune mending kita bantu Nagamasa-dono." kata Yukimura sambil narik-narik lengan kemeja Masamune.

"Iye dah." mau gak mau Masamune harus mengiyakan kalo Yukimura udah iba pada seseorang.

YES! Nagamasa seneng dimana ada Yukimura semua orang akan luluh, dan nurut terhadap perkataannya.

Tsk,tsk, tsk, Kanetsugu sama Ma Chao geleng-geleng kepala, dasar blonde edan.

Dengan senang hati Nagamasa memberikan uang pada Yukimura. "Tolong belikan bayem satu ikat, wortel satu, sama apel lima buah."

Yukimura ngangguk-ngangguk dengan semangat, lalu menarik Masmune ke sebuah warung yang ga jauh dari tempat mereka berdiri.

"YUKI KALO MISALNYA ADA DAUN BAWANG BELI DUA YA!" Nagamasa menambah pesanannya.

"BAIK NAGAMASA-DONO!"

Ma Chao jadi bingung. "Nagaasam bukannya tadi lu beli bawang kenapa ga sekalian?"

"Gue tau Yukimura bakal ke warung siapa, mungkin aja dengan tatapan memelas Yukimura barang akan lebih murah rah rah rah." jawab Nagamasa sambil manggut-manggut.

"Elu sebenernya koret atau apasi sampe segininya, atau lu punya cicilan yang kudu dibayar?"

"Gue ga koret tapi HEMAT, Kanetsugu." balas Nagamasa.

"Dasar kutang Nobunaga." kata Ma Chao, dan Kanetsugu.

"Ehem." dibelakang mereka ada yang berdeham.

"Eh ada Kakanda." kata Nagamasa sambil nyengir.

Ma Chao sama Kanetsugu langsung menghadap ke orang yang lagi berdiri di belakang mereka terus mereka berdua sujud ke orang itu. "Ampun, Raden Gusti Kanjeng Nobunaga."

Nagamasa sih senyum-senyum aja ngeliat kedua sobatnya sujud ke Kakak ipar tercintanya.

.

"Katakura-dono mau beli..." Yukimura nginget-nginget pesanan Nagamasa. "bayem satu ikat, wortel satu, sama apel lima buah." pinta Yukimura sambil ngacungin uang yang diberikan Nagamasa tinggi-tinggi.

"Kojuro? Sejak kapan Kojuro jualan sayuran, dan kawan-kawannya?" tanya Masamune agak terkejut.

Si emas-emas yang jualan membalikkan badannya, mukanya sangar kek yakuza, terus ada codet di pipi kirinya. "Sebentar ya Nak Yuki, saya bungkus dulu."

"Ini mah bukan Kojuro bermata empat, tapi Kojuro dari negeri sebrang, ngapain lu dimari?"

"Kerja sampingan." jawab Kojuro.

Masamune diem, lalu berpikir. "Pasti diri gue yang satunya sehat, dan TINGGI, karena babunya ini senang bertani." gumam Masamune sambil manggut-manggut.

"Nih, nak Yuki semuanya tiga puluh ribu."

Masamune terkejut. "Tiga puluh ribu?"

Yukimura bersorak senang. "Yee, Yuki dapet harga khusus, makasih ya Katakura-dono."

"Sama-sama."

Mereka berdua pun kembali ke tempat Nagamsa berada. Ma Chao sama Kanetsugu udah berhenti sujud, karena Nobunaga udah pergi, tapi Nagamasa masih senyam-senyum gaje.

"Nagamasa-dono Yuki balik~" Yuki berjalan ke arah Nagamasa dengan ceria, lalu memberikan belanjaannya ke Nagamasa.

"Makasih Yuki, kembaliannya buat Yuki aja sebagai tanda terima kasih."

"YEEE! Bisa beli es krim woles~" Yukimura pun menyeret Masamune entah kemana.

Ma Chao sama Kanetsugu menatap datar kepergian dua pemuda itu. "Sebenernya Yuki kecengkok apa sih sampe kaya gitu?" tanya mereka bersamaan.

"Auk, kesambet setannya Hanbei kali." jawab Nagamasa asal. "Ayo kita ke supermarket!"

"Apa? Belum selesai?" protes Ma Chao.

"Lu kate udah beres dengan kertas sepanjang ini?" Nagamasa mengeluarkan catetan sakti dari sakunya, dan membuka kertas itu.

"Ah muke gile, sebenernya ini belanja bulanan atau tahunan sih? Banyak banget." Kanetsugu pasang muka bete.

"Gue juga males kok sebenernya," kata Nagamasa. "tapi mau bagaimana lagi daripada ga makan dua bulan gue."

Mereka pun berjalan jauh dari pasar ke mall terdekat sambil bawa belanjaan kek emak-emak, dari dahi mereka bertiga sudah mengucur banyak air asin, disinari oleh matahari siang yang menusuk kulit, mereka akhirnya beristirahat dahulu di bawah pohon duren yang lebat.

"Gila, kok rasanya supermarket jauh banget sih." keluh Kanetsugu.

"Ah elu, disuruh beli obat nyamuk sama Kenshin di indoapril aja lu males, jalan kesana buat lu bagaikan pindah fendem." kata Ma Chao.

"Diem lu kuda, jangan nambah panas." kata Kanetsugu agak kesal. Pikirannya diumbar-umbar.

Ma Chao menatap langit. "Asalkan gue bisa seluncur kaya Zhao, keknya enak."

"Lu mau pake seluncur pake apa? Belanjaan gue? OGAH!" sewot Nagamasa.

"Idih sewot."

"Udah-udah, jangan ngomong lagi, nambah panas."

"Sebenernya ya supermarket tinggal 10 meter lagi." kata Nagamasa.

Kanetsugu berdiri, lalu mengangkat beberapa belanjaan. "AYO BENTAR LAGI KITA BISA NGADEM DI DALAM SUPERMARKET!"

"AYO!"

Setelah berjalan sepuluh meter akhirnya mereka sampai juga di mall yang dituju, mereka berjalan lagi ke lantai bawah untuk ke supermarket, setelah masuk supermarket rasanya adem, dingin, pokoknya nikmatlah daripada diluar sana. Mereka duduk lesehan di pojokan supermarket yang dirasa aman, Nagamasa sibuk nyobekin daftar belanja, terus menulis sesuatu.

"Nih, buat elu Kanet," Nagamasa ngasih kertas 10 senti yang sudah disobek olehnya. "Yang ini buat elu Chao," Nagamasa ngasih kertas ke Ma Chao sepanjang 30 senti. "sementara gue yang ini." Nagamasa memegang kertas paling panjang.

"Kita semua pergi nih? Belanjaan gimana?" tanya Kanetsugu.

"Gampang." Nagamasa menempelkan sebuah kertas di pelastik belanjaan.

Belanjaan ini milik Nagamasa Azai yang ganteng buangetz

lu berani nyolong belanjaan gue?

Gue sumpahin lu jadi HUMU, NGONDEK sama dipenjara 10 TAHUN!

-Nagamasa-

Kanetsugu sama Ma Chao hanya menyipitkan matanya saat membaca sumpahan Nagamasa yang sangat tidak elit, mentang-mentang punya istri gitu deh.

"AYO BUBAR!"

Mereka bertiga pun memisahkan diri.

Kanetsugu

"Deodoran, sikat gigi, sabun, shampo, parfum..." Kanetsugu membaca daftar belanjaan dari Nagamasa, terus doi garuk-garuk lehernya, Kanetsugu melihat ke sekelilingnya. "Kok gua ada di bagian makanan ya?" tanya agak ogeb.

Kanetsugu pun keliling-keliling mall selama sepuluh menit cuman buat nyari itu.

Ma Chao

"Apa-apa ini? Kenapa ada kutang sama celana dalem segala ini? Sikat WC? Popok?" Ma Chao tampak terkejut saat membaca daftar belanja yang doi dapet. Ma Chao meremas daftar belanja ditangannya. "awas lu Nagamasa gue sodok lu pake sikat WC," Ma Chao tersenyum. "atau gue bikin elu banyak utang ya?" Ma Chao melirik ke arah popok yang bisa dibilang mahal, dan ga lagi diskon.

Nagamasa

Nagamasa berjalan dengan hati riang, dia ada di bagian makanan, daftar belanja yang ia pegang isinya makanan untuk sang buah hati, dan mereka, mengambil makanan sambil siul-siul bahagia, Hahahaha, senangnya hati ini.

.

Setelah mereka semua sudah selesai berbelanja, mereka kumpul di pojokan supermarket tempat mereka lesehan tadi.

"Masukin semua ke troli ini," titah Nagamasa dengan muka sok. "Kalian bawa belanjaan yang dari pasar, gue mau bayar, kalian tunggu diluar.

"Siap, Mas."

.

"Semuanya jadi dua juta lima ratus ribu." kata si mbak-mbak kasir pada Nagamasa.

Nagamasa terkejut, selama dia belanja sama Oichi, totalnya ga sampe segitu. Nagamasa melirik keluar supermarket, doi melihat Ma Chao yang puas ketawa dari luar supermarket, Kanetsugu cuman ngeliatin Ma Chao dengan tatapan aneh.

Mau gak mau, sudi ga sudi, Nagamasa memberikan kartu kreditnya pada si mbak kasir, mau ngasih kartu debit, tabungan lagi ambles gegara beli PS3. Cicilan mobil belum lunas terus ditambah sama belanjaan dengan total dua juta lima ratus, Nagamasa ingin nangis. Dan kayaknya pas doi sampe rumah, rumah udah kaya kapal pecah, Oichi sama dia lagi pergi, pasti sekarang anaknya sedang menggila di rumah sama babunya.

Nagamasa keluar supermarket dengan muka lesu, Ma Chao menahan tawanya, Kanetsugu mempuk-pukkan punggung Nagamasa. Nagamasa melihat sebuah plastik biru di tangan Kanetsugu, Nagamasa kepo.

"Abis beli apa lu?" tanya Nagamasa sambil melirik plastik biru.

"Beli film Ousama Game."

"Yang kaya anime Another itu yak?" tanya Nagamasa lagi.

Kanetsugu mengangguk.

"Nagamasa, gue mau nanya, kenapa dari rumah elu ga pake mobil buat ke pasar sama ke mall ini?" tanya Kanetsugu.

"Mobil masih dibengkel."

Ma Chao pasang muka serius. "Terus kita pulang gimana?"

"Pake delman."

Kring kring kring

Muncul delman di depan mereka. Ma Chao melihat sang kuda takjub, doi mendekati sang kuda lalu mengelus kaki si kuda.

"Hieegh." kelihatannya si kuda kesenengan. (translet: gue di elus sama cogan cuy.)

"Gile, gue jadi ingin kuda kaya gini." Ma Chao masih mengelus-elus si kuda.

"Jangan pegang-pegang kuda majikan gua!" kata si kusir delman agak membentak.

"Emang gue ga boleh ya ngelus-ngelus Red Hare, kan bukan punya lu Gong." Ma Chao menatap sang kusir tajam. "selagi kaga ada majikannya." lanjut Ma Chao nista.

"Lu mau gua tinggal disini atau berhenti ngelus tuh kuda dan naek?" tanya Nagamasa agak mengancam.

"Iye-iye." Akhirnya Ma Chao naik juga.

Melesatlah mereka dengan delman super ke rumah Nagamasa, kenapa rumah Nagamasa? Mereka berdua masih harus bantu Nagamasa memasukkan belanjaannya ke rumah. Sesampainya di rumah keluarga Azai dengan selamat, mereka menurunkan semua belanjaannya. Dan Nagamasalah yang membayar sang kusir.

Mereka pun mengangkut belanjaan itu ke dalam rumah, saat pintu dibuka, si pintu malah ambruk, dan terkulai lemas di lantai, rumah sekarang keadaanya kaya abis kena rampok. Mereka bertiga bingung, kenapa rumah bak mansion ini bisa kaya kapal pecah oleh babu, dan anak sang pemilik rumah?

Takatora: doko ni iru no ka? kono mi ga tsugaeru

aruji wa kage mo nashi

Chacha: tooki ano hi no chuugi wo burasage

sasurau tada hitori

Sampai ruang keluarga, Nagamasa mangap melihat anaknya yang baru dua tahun udah bisa nyanyi dengan lancar, Ma Chao bengong ngeliat kelakuan Takatora, Kanetsugu takjub mendengar Chacha bernyanyi.

Chacha: michi tooku to ayumubeshi ashita he

negai kanau sono toki made wa hitatsura

Takatora: kaze dake hitohira tsureteku

fuhonina tabi naredo

Takatora & Chacha: aa kounari na togeru sono hi made

Saat selesai bernyanyi mereka berdua melihat ketiga tamu masuk ke rumah sambil bawa banyak belanjaan. Takatora langsung mematikan TV, terus ngangkut Chacha ke kamarnya yang ada di lantai dua.

"Yang tadi aslian anak elu Mas?" tanya Kanetsugu ga percaya. "Anak lu ga lagi di jampe jampe sama Kakak ipar lu kan? ANAK LU SALTO TADI!"

"Kelakuannya ga jauh beda sama Zhao Yun, tapi seenggaknya ga nyanyi lagu galau." komen Ma Chao.

Nagamasa menjatuhkan plastik belanjaan di tangannya ke lantai, dia ga percaya sama apa yang tadi dia lihat. "TAKATORAAAAA ELU APAIN ANAK GUEEEEE?!" jerit Nagamasa dari lantai satu.

Penderitaan Nagamasa hari ini cukup sampai disini, ck ck ck kasian lu, semoga anak lu cepet sembuh ya, makanya jangan biarin anak lu sama orang yang hobi pindah-pindah majikan kaya si Takatora. Anak lu ikutan sarapkan.

"AWAS LU TAKATORA GUE SODOK LU PAKE SIKAT WC YANG BARU GUA BELI INI!" jerit Nagamasa lagi.

END

aku baru tau Takatora nyanyi solo juga, ana kira cuman nyanyi duet sama Yoshitsugu, dan nyanyi ikki tousen :v