Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD!

Genre: Humor receh

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Dyatailmi ehe ehe

Dia emang butuh di ruqiah secepatnya :v

Pasti Kai gamungkin yang lain

jangan terlalu ngeggas mbak takutnya salah pencet huruf :v

wetep saya seketika rame :v takjub

RosyMiranto18

Yukimura: Hisahide store, tak lain tak bukan Pa Hisahide sendiri.

Jia Chong: tidak, tidak apa-apa.

Zhao Yun: ada fansnya yang bilang jual ginjal ibunya demi ketemu tuh artis tik tok.

Kanetsugu: sekarang itu kemana-mana harus ada duit, makan aja harus pake duit.

Zhou Yu: jwabannya ada di ending chap ini. Kalau mereka dipisah ntar tujuan beda-beda.

Cao Pi: bukan ini novel lima sekawan.

Guan Ping: mending bintang lima sepuluh orang.

Kehidupan yang Kedua : Pesantren Al-Kafirun

Chapter 1: Santri Baru Alhamdulillah

Selamat Membaca

Setelah menghilangnya mereka karena ledakan tiba-tiba di lembah Jiuzhaigou, mereka ditemukan tewas, namun konon katanya sebagian dari mereka terlahir kembali sebagai santriwan, dan santriwati di sebuah pesantren, sebagian lagi jadi ustadz, dan ustadzah di pesantren itu, sebagian lagi menghilang entah kemana. Inilah keseharian mereka di kehidupan yang baru.

.

Suatu hari ntah di belahan bumi mana, berdiri sebuah pesantren yang sangat diragukan kalau bangunan megah bak istana itu adalah pesantren, wong nama pesantrennya aja Al-Kafirun siapa yang ga ragu coba? Hanya orang tua kelewat waras saja yang mau memasukkan anak-anak ke pesantren sana. Hari ini pesantren tersebut sedang wawancara 7 orang anak yang terpaksa masuk ke pesantren itu.

Zhao Yun diwawancarai oleh Nobunaga Oda

"Nama?"

"Zhao Yun."

"Mulai besok nama kamu berubah jadi Yuni, terus masuknya asrama khusus santriwati, dan harus pake kerudung."

"Tapi, Pa-"

"Yuni atau Yuyun?"

"Yuni, tap-"

"Nurut atau dipenggal?"

"I-iya Pak."

"Kenapa masuk pesantren ini?"

"Disuruh sama Ayah tiri saya."

"Kalo gitu kamu betah-betah ya disini jangan sampe bikin Ayah tiri kamu sakit."

"Iya Pak..." dalam hati Zhao Yun ingin menangis.

Zhao Yun masih bingung kenapa dia dimasukin ke sana, mungkin karena rambutnya panjangnya yang indah berkilau macam pemain iklan munsilek.

Sanada Yukimura diwawancarai oleh Kenshin Uesugi

"Nak Yuki kenapa masuk kesini?"

"Mau mengikuti jejak kakak saya."

"Sanada Nobuyuki ya?"

"Iya, pak."

"Kalo gitu Nak Yuki, bangun subuh, sholat jangan ditunda-tunda, cuci pakaian sendiri, tiap minggu ada tes hafalan, dll..."

"Ustadz, Yuki udah mandiri kok."

Sang ustadz menghiraukan kata-kata Yukimura, dan terus memberi wejangan ke Yukimura, karena Ustadz Kenshin tau sifat ga karuan Yukimura dari Kakaknya.

Cao Pi diwawancarai oleh Takeda Shingen

"Nama?"

"Cao Pi biasa dipanggil Zihuan."

"Kenapa masuk sini?"

"Karena kemauan sendiri."

Shingen ngangguk-ngangguk, baru kali ini dia mendengar jawaban anti-mainstream. "Berarti kamu sudah taukan peraturan di pesantren ini?"

"Sudah, Ayah saya yang memberikan buku peraturan pesantren ini."

"Kalau sudah tau kenapa rambutmu masih panjang?"

"..."

Cao Pi tidak menjawab pertanyaan itu, karena kalau dijawab bisa-bisa menjatuhkan harga dirinya.

Mitsunari Ishida diwawancarai oleh Sima Yi

"Namamu Mitsunari Ishida?"

"Iya Pak."

"Kenapa warna rambut kamu diwarnain?"

"Udah dari lahir rambut saya warnanya gini Pak."

"Kenapa rambutnya panjang?"

"Karena saya ga suka rambut pendek."

"Mulai besok harus udah pendek, atau Bapak yang motong sendiri rambut kamu." kata Sima YI dengan nada mengamcam.

Mitsunari megang kepalanya. "Tapi pak ustadz, Yoshitsugu rambutnya panjang."

"Rambut panjang tapi dikerudung atau rambut pendek pake kopeah?"

"Rambut pendek di kopeah."

Sima Yi menggangguk, dan tersenyum puas. "Gud, kenapa masuk pesantren ini?"

"Mengikuti jejak suami eh maksud saya mau seperti ustadz Hideyoshi."

"Gud gud alasan yang menstrim, yaudah sana ke aula, ntar disana kamu dikasih pentunjuk lebih lanjut."

Mitsunari pun keluar dari ruangan dengan lebay, di luar ruangan ia menangisi rambutnya yang panjang. Daripada kamu akhirannya kaya Zhao Yun, masih mending toh.

Zhang Xingcai diwawancarai oleh Cai Wenji

"Nak Xingcai, betah-betah ya disini, walaupun nama pesantren ini Al-Kafirun isinya bukan orang kafir."

"Iya, Bu."

"Jangan lupa makan dengan teratur."

"Iya, Bu."

"Jangan susah sholat subuh, dan isya kalau ga mau dicap sebagai orang munafik."

"Iya, Bu."

"Tiap minggu ada tes hafalan."

"Iya, Bu."

Terus begitu sampai 5 menit kedepan, Xingcai diberi wejangan dari yang aneh sampe yang normal oleh ustadzah Cai Wenji.

Xun Yu diwawancarai oleh Kanetsugu Sun Jian

"Nama?"

"Xun Yu."

"Tinggal?"

"Di emperan got deket pesantren ini."

"Umur?"

"Rahasia."

"Kembaran Jiang Wei?"

"Bukan Pak, dia yang ngejiplak muka saya."

"Mulai besok nama kamu jadi Yolanda, pake kerudung ya."

"Tapi saya laki."

"Cowo kok rambutnya panjang, dan diurai?"

"Ini Saya abis keramas."

"Mau Xenia atau Yolanda?"

"Yolanda aja deh Pak lebih normal."

Kanetsugu manggut-manggut. "Silahkan ke aula."

Xun Yu cuman ngangguk aja, lalu beranjak dari duduk untuk aula.

Akhirannya kaya Zhao Yun, moga kalian sekamar nanti ya biar ga kaget.

Sakon Shima diwawancarai oleh Fu Xi

"Nama anda Sakon Shima benar?"

"Iya Pak."

"Apakah kita pernah bertemu?"

"Sepertinya tidak Pak ustadz, ini pertemuan pertama saya dengan Pak Ustadz."

"Kenapa masuk pesantren ini?"

"Kata orang pesantren ini bisa mengembalikkan ingatan saya yang hilang."

"Jadi anda amnesia?"

"Kata orang begitu, terus katanya kalau saya korban ledakan di lembah ntah apa itu namanya."

"Baiklah, wawancara sudah selesai, silahkan ke aula untuk info yang lebih lanjut."

Ini wawancara atau interogasi?

.

Setelah ketujuh siswa baru ini diwawancara, mereka ke aula, untuk mendapat informasi lebih lanjut, tapi sebelum itu Xun Yu sama Zhao Yun yang jadi trap di pesantren kali ini dikasih kerudung secara gratis oleh salah seorang ustadzah. Mereka duduk dengan tenang di aula sampai seorang aki-aki berjanggut lebat dengan sebuah tongkat datang, dan berdiri di depan mereka.

"Ahem, saya ustadz Zhang Jiao, kalian HARUS betah ya di pesantren ini karena kalau kalian ga betah pas lulus kalian akan jadi orang kafir." kata sang ustadz agak memaksa, dan ngaco.

"Kalian udah bacakan peraturan pesantren ini?"

"Udah Pak Ustadz."

"Kalo gitu mulai besok, ustadz mau liat kalian berdua," Ustadz Zhang Jiao menunjuk Cao Pi sama Mitsunari. "rambutnya pendek atau kalian pake kerudung."

Mitsunari terpaksa mengangguk, Cao Pi diem aja cuman menatap datar sang ustadz. Sebelum sang ustadz pergi dari aula, sang uztad menunjuk kaca aula, disitu ada daftar nama mereka, dan teman kamar seasrama. Mereka pun berjalan ke kaca itu, dan membaca kertas HVS itu dengan teliti.

Cao Pi sekamar dengan Guo Jia.

Sakon Shima sekamar dengan Mitsunari Ishida.

Zhao Yun sekamar dengan Xun Yu.

Xingcai sekamar dengan Ina.

Setelah mengetahui teman sekamar mereka, mereka berjalan-jalan di dalam pesantren, mungkin pesantren ini memang seperti suatu sekolah, mereka merasa familiar dengan pesantren itu.

"Kalian ngerasa pesantren ini mirip dengan bangunan suatu sekolah ga sih?" tanya Sakon pada teman-temannya.

"Bukan lu aja, gua ngerasa udah kenal kalian lama banget." jawab Mitsunari sok gaul.

"Katanya pesantren ini mempelajari renaisans ya?" tanya Xingcai pada mereka.

"Masih belum terungkap, Ayahku masih menyelidikinya." jawab Cao Pi.

"Ano… kita sekarang mau kemana?" tanya Zhao Yun.

"Mau berpetualang di dalam pesantren ini." jawab Mitsunari asal.

Cao Pi melihat ke Zhao Yun. "Sepertinya kita pernah bertemu? Namamu siapa?" tanya Cao Pi. Jiwa gombalnya keluar.

"Tidak kok ini baru pertama, nama saya Yu-Yuni."

"Sepertinya aku merasa familiar dengan tangga ini." Xun Yu melihat ke arah tangga di depan mereka.

"Perasaan kali." kata Sakon pada Xun Yu. "Kamu, kembaran Jiang Wei ya?"

"Bukan, kami berdua beda Bapak sama Ibu kok, dia aja yang ngejiplak muka saya." jawab Xun Yu.

"Ayo kita lanjut lagi." ajak Cao Pi bak leader grup sambil menarik tangan Zhao Yun.

"Belum muhrim." Xingcai memisahkan tangan Cao Pi, dan Zhao Yun.

"Tunggu ada ustadz lewat aja dulu ntar langsung ijab qabul." celetuk Yukimura.

Mereka pun melanjutkan perjalan mereka, mereka ke bagian belakang pesantren, luas sekali ada dua gedung di kiri, dan kanan.

"GEDE BANGET HALAMAN NIH PESANTREN!" Yukimura takjub kek orang kampungan.

"Emperan got deket sini lebih luas." komen Xun Yu.

"Yang manakah asrama laki?" tanya Mitsunari sambil melihat dua asrama berwana merah, dan biru.

Apakah aku benar akan masuk asrama perempuan? Zhao Yun masih meratapi nasibnya, ingin ku lepas kerudung ini tapi aku masih ingin hidup.

"Luas juga, bisa dibuat main kemari." Xingcai menatap rumput yang bergoyang karena angin dengan wajah datar bak papan triplek, betewe kemari itu apa?

"Mungkin ini hanyalah mimpi." gumam Sakon.

Cao Pi menatap langit dengan sok keren.

"OH! Jadi kalian santri baru disini?"

Seorang laki-laki dengan topeng seperempat menutupi wajahnya muncul ala pemain antagonis di film eksyen.

"Kalo iya emang kenapa?" tanya Cao Pi.

"Sepertinya aku kenal denganmu?"

"Salah orang kali, aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki bermuka kek pantat wajan." kata Cao Pi datar.

"Lu ngajak beramtem gua, anak baru?"

"Lu sendiri keknya santri yang ga lulus-lulus, baju udah lusuh, muka kek pantat wajan."

"GELUD KUY!"

"KUY!"

"Emm, ada yang mau popcorn?" tawar Yukimura pada teman-temannya.

"Wihh keknya rame nich." kata Mitsunari sambil mengambil popcorn Yukimura.

"Mereka kaya bocah." komen Xingcai.

"Kamu yang berikat kepala enam koin, dapet darimana popcorn itu?" tanya Zhao Yun.

"Itu ada santri yang jualan tadi."

"Minta dong Yukimura."

"Sakon, kok tau nama aku?"

"Kamu juga kok tau nama aku?"

"Sebenernya kita lulusan RSJ ya?" tanya Zhao Yun pada mereka semua.

"Kayaknya..." jawab Sakon lirih.

"Aku bukan lulusan RSJ tapi RS." Xingcai merasa tersinggung.

"Mungkin kita adalah korban tewas di lembah itu, di koran hari inikan ada berita kalau di sebuah lembah jauh disana terjadi ledakan dashyat," kata Xun Yu.

"Terus, terus?"

"Trus katanya kepolisian yang menyelidikinya berkata kalau disana banyak orang yang tewas, mungkin kita adalah korban yang selamat, tapi kita amnesia." lanjut Xun Yu.

"Tidak masuk akal."

"Udah selesai geludnya bos?" tanya Mitsunari.

"Udah, tuh anak di giring ke ruang BP sama Ayahnya sendiri."

"Apakah kita benar korban di lembah itu?" tanya Yukimura.

Mereka terdiam.

Semantara itu di sebuah RS, ada beberapa dokter yang sedang menyusun sesuatu seperti menyusun pecahan berlian.

"Apakah tidak apa-apa ini tercampur?"

"Tidak apa-apa, toh pas dikumpulkan sudah ada yang tercampur."

"Perasaan ini bukan anime houseki no kuni deh… apakah ini benar akan berhasil?"

"Lebih baik dicoba daripada mereka dalam wujud A.I terus."

"Lagipula pesantren yang kita bangun berhasil mengumpulkan mereka semua kok, tinggal menunggu waktu ingatan mereka kembali, dan mencari kita."

"Terus kalau ini semua selesai, dan tubuh-tubuh ini tiba-tiba bergerak gimana?"

"Bekerja itu tangan bukan mulut."

"Kecap asin diem aja deh, dasar panitia ga becus, untung nyisa 2 triliun."

"Untung ada Li Dian, jadi sebagian bisa selamat."

"KERJA-KERJA!"

"LU JUGA KECAP ASIN!"

"BAIDEWEY ENIWEY BASWEY! ABUNYA GA CUKUP!"

"LU TINGGAL CAMPUR PAKE YANG LU BU ATAU YANG LAIN!"

END

Yakkk, kok jadi gini yak? Hmmm otak saya sengklek tiba-tiba, endingnya mereka berhasil atau tidak? Makin ngawur aja dah heuheu tapi walau ending di chap pertama gini, kesana-kesananya humor abal kok tentang keseharian santri di pesantren sana.

See you next chapter~