Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal.
Genre: Humor receh
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Balesan Review
Dyatailmi ehe ehe
Ana sampe pusing tiba-tiba banyak notif bermunculan :v
ga cape nampolin mereka semua? :v
mukanya cantik sih :v jadi ya ana buat dia trap nemenin ranmaru :v
kalo ga dari emperan got dari mana lagi? :v
Xun Yu: jadi eneng seneng ya kalo abang jadi cewe?
Masih inget aja chapter aneh itu ente :v
RoyMiranto18
Karena mereka anti banting, hanya bisa dihilangkan kalo mereka ingin menghilang. (apasih?)
Harusnya sih ilang semua…
Nobuyuki: dia kalo dirumah kaya yang ga pernah diurus terus jorok bangun selalu siang.
Kalo dipukul, ntar rusak duluan sebelum kembali.
Zhang Jiao: sejak ada cerita baru muncul.
Bisa dibilang begitu...
Kehidupan yang Kedua : Pesantren Al-Kafirun
Chapter 2: Kopeahku? Dan Kenapa Nasibku Begini?
Selamat Membaca
Pagi yang indah di asrama laki-laki, kita intip yuk ke salah satu kamar di asrama ini.
"Rambut baru alhamdulillah." seorang santriwan, menyisir rambutnya yang sudah pendek di depan kaca ala cewek.
"KOPEAAHH GUEEEE MANAAA?!"
Lagi asik nyisir dengan damai, teman sekamarnya menjerit histeris karena kopeah baru beli kemarin raib entah kemana.
"MISTUN LU LIAT KOPEAH GUE KAGAK?!"
"NAMA GUE MITSUNARI!"
"YA LU LIAT KOPEAH GUA KAGAK?!"
"KAGAK! KALO GUA LIAT JUGA PASTI UDAH GUE LEMPAR KE ELU!"
"LU BEDUA JANGAN BERISIK NAPA?! MASIH PAGI NIH!" teriak salah seorang penghuni dari kamar sebelah kanan.
"LU JUGA GAUSAH TERIAK-TERIAK!" balas Mitsunari sama Sakon barengan.
Lah kenapa jadi pada ngegas gini sih?
Seketika hening. Mitsunari lanjut nyisiran.
"Mit, temenin gua nyari kopeah gua."
"Kopeah doang."
"MIT TUH KOPEAH BARU GUA BELI KEMAREN! MAHAL LAGI!"
"YA GAUSAH NGEGAS JUGA!" Mitsunari berhenti nyisiran, lalu menghela nafas. "Kemaren lu taro dimana?"
"Di atas meja itu tuh." Sakon menunjuk sebuah meja kecil di dekat Mitsunari.
"Kebawa angin kali."
"Emang kopeah gua setipis kertas HVS apa?" Sakon pasang muka bete.
"Di makan tikus kali."
"POKOKNYA LU TEMENIN GUA NYARI KOPEAH!"
"NO, NO, NO, O TU DE GAH! OGAH! Baru kemaren gua potong rambut pedikur menikur terus gua harus keringetan lagi cuman buat nyari kopeah lu yang entah ada dimana? Ogah banget."
Sejak kapan Mitsunari jadi cabe diterongin gini?
"POKOKNYA KUDU!"
"MINTA YANG LAIN AJA SANA!"
Sakon ditendang keluar kamar sama Mitsunari. Pas keluar kamar ada dua bidadari cantik sedang berjalan ke arahnya.
"Kalian berdua yang kemarinkan? Hmm," Sakon nopang dagu mencoba mengingat kedua santriwati di depannya. "Yuni sama Yolanda."
"I-iya." jawab Xun Yu.
"Kenapa kalian berdua ada di sini?"
"Ka-kami disuruh manggil santri bernama Guo Jia buat ke ruang TU." jawab Zhao Yun agak gugup.
"Tapi bukannya santriwati ga boleh masuk ke asrama laki-laki ya?"
Zhao Yun sama Xun Yu menegak ludah, mereka hanya bisa berdoa dalam hati, rahasianya tidak terbongkar secepat ini. Cukup yang tau mereka laki-laki adalah ustadz di pesantren, jangan sampe ada yang tau lagi. Dan mereka disini juga karena disuruh oleh seorang ustadz bermuka menyeramkan.
"I-itu, kami disuruh sama Pa ustadz Sima Yi, makanya kami bisa masuk ke sini." Xun Yu mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan, tapi kaki udah gemeteran.
Sakon manggut-manggut. "Kalo tidak salah kamar santri itu disebelah kamar saya." Sakon menunjuk kamar yang ada di sebelah kirinya."
"Te-terima kasih."
"Aku mau nanya, kalian berdua liat kopeah yang warna putih aku ga?"
Zhao Yun langsung menggeleng cepat.
"Kalo begitu terima kasih." Sakon berlari ke arah yang berlawanan dari mereka.
Sakon menghilang, mereka berdua bernafas lega.
Tok tok tok
Cklek
Pintu terbuka, orang yang membuka pintu adalah orang yang mereka cari, bukannya ditanya ada apa mereka kesini eh tangan Xun Yu ditarik terus punggung tangannya dicium sama santri berambut blonde itu.
NJIRR PUNGGUNG TANGAN GUA TERNODAI?! Jerit Xun Yu di dalam hatinya.
Xun Yu langsung narik tangannya cepet, lalu punggung tangan dia elap ke bajunya Zhao Yun.
"Jangan ngelap ke baju g-aku dong." protes Zhao Yun.
"Bidadari cantik seperti kalian kenapa ada disini?" tanya santri itu dengan senyum cling-cling.
Zhao Yun ngelirik ke Xun Yu, mukanya seakan berkata gue-ingin-muntah, Xun Yu membalas emang-lu-doang?
Zhao Yun melihat kembali melihat ke arah Guo sambil senyum sok manis.
"Itu..."
"Panggil aja aa Guo Jia."
Xun Yu cuman bisa senyum, tapi di dalam hatinya doi ingin banget nonjok. "A-aa Guo Jia disuruh ke ruang TU sama Pa ustadz Sima Yi."
"Kalau gitu eneng anterin aa ke ruang TU."
"OGAH!"
BLAM!
Seketika Xun Yu menutup pintu kamar dengan kencang, dia tau itu bukan kamarnya tapi makin lama dia berdiri disanan makin eneg. Intinya dia sudah menjalankan amanah dengan baik, dan penuh kesabaran. Xun Yu sama Zhao Yun ngacir dari asrama laki-laki ke kantin, untuk meingistirahatkan diri.
"Hah … cobaan apa lagi ini." Xun Yu mengelus dadanya yang rata. "Yun mending kita protes yuk."
"Tapi katanya kalo protes, kita bakal dipenggal."
"Gua kagak mau tangan gua dicium lagi sama santriwan abal kaya tadi." Xun Yu ingin menangis.
"Masih mending dicium tangan daripada di tunangin."
"Elu ditunangin? Sama siapa?"
"Sama santri yang seenak jidat nyentuh tangan gue kemarin, pas sore gue dipanggil sama Bapaknya."
"Bah, gapapa kali, kalo kaya raya palak aja mpe abis."
"Emang sih lumayan, tapi gue gamau, emang ada laki yang mau dinikahin sama laki lagi?"
"Sudahlah terima nasib aja dulu."
"Eneng,"
Tiba-tiba pundak Xun Yu di colek, reflek Xun Yu menampar orang tersebut. Dan orang tersebut ternyata Guo Jia. Xun Yu langsung narik Zhao Yun keluar kantin.
"Susah juga ya nyari jodoh..."
"Lu suka sama cewe kasar gitu?"
"Hitomebore, Pi."
.
"KOPEAH WER AR YUUU?!" Sakon masih mencari kopeahnya di dalam semak-semak.
"Sakon-dono, belum ketemu?"
"Belum, gimana nih? Sarung kotak-kotak gua juga tiba-tiba ngilang lagi."
"Bukannya tadi sarungnya ada di pundak Sakon-dono."
"Masalahnya itu Yuki, sarung yang harusnya ada dipundak tiba-tiba ngilang."
"Gimana kalau ke kantor Pa ustadz Kenshin aja, katanya kalo ada barang hilang ke kantornya Pa ustadz Kenshin.
"Yaudah ayo Yuki kita kesana."
Sesampainya di depan kantor ustadz Kenshin, mereka cuman diem doang melongin pintu.
"Yuki ketok pintunya."
"Ga mau, ntar Yuki di cap yang aneh-aneh." protes Yukimura, dia ga mau berurusan sama ustadz yang hapal dengan kebiasaan buruknya.
"Assalamualaikum, ada apa kalian di depan kantor saya?"
Terciduk.
Yukimura sama Sakon langsung membalikkan badan mereka saat mendengar suara ustadz Kenshin.
"Waalaikumsalam pak, itu kopeah sama sarung saya ilang secara mendadak tadz."
"Coba cek di saku celana kamu."
Sakon mengodok-ngodok saku celana yang ia pakai, dan setelah mengodok-ngodok dengan khidmat, Sakon menemukan kopeah yang dicarinya selama ini. "KOPEAHKU! Tapi tadz, sarung saya masih menghilang tanpa jejak."
Ustadz Kenshin menatap pinggang Sakon tanpa berkedip. "Warnanya kaya apa?"
"Ijo coklat kotak-kotak, terus sedikit agak sobek dibagian bawah."
"Kalo gitu ustadz tanya sama kamu, yang ada di pinggang kamu itu apa?"
Sakon ngeliat ke pinggangnya, ternyata itu adalah sarungnya yang terlipat jadi tidak jatuh kebawah untuk menutupi kedua kakinya(?). Sakon nyengir ke Ustadz Kenshin. Ustadz Kenshin mijit dahi. Yukimura siul-siul, sebenernya Yukimura tau kalo sarung Sakon melilit di pinggangnya, tapi Yukimura pura-pura gatau, dan membiarkan pemuda bermuka tua itu menebar pemandangan kakinya yang berbulu.
Weit, jadi Sakon selama nyari kopeahnya cuman pake boxer doang?
Hanya Tuhan, Kenshin, dan Yukimura yang tahu.
.
Kita kembali lagi melihat nasib kedua santriwati gadungan yang sedang mencari tempat aman untuk berlindung, sekarang mereka lagi ada di dalem kamar asrama.
"Xun Yu, bukannya kemarin kita disuruh ngumpulin tugas ya?"
"Tugas apa?
"Itu lho, kemarin kita disuruh nulis surat Al-Baqaroh ayat 1-10."
"Tapi gua kagak mau keluar, takutnya tuh santri muncul tiba-tiba."
"Tapi, kita harus mengumpulkan tugas itu, kalo kita yang terakhir mengumpulkan bisa berabe."
Tok tok tok
Xun Yu berjalan menuju pintu kamar, dan membukakan pintu.
"Yolanda, ini tugas nulis surat Al-Baqaroh." seorang perempuan berambut pendek coklat memakai kerudung berwarna kuning memberikan sepuluh tumpuk buku, pada Xun Yu.
"Kok dikumpulin di aku?"
"Kata Bu Lianshi, tugas ini dikumpulkan di kamu, jadi kalau semuanya sudah terkumpul, bawa ke ruang guru."
Xun Yu cengengesan di tempat, lalu menerima buku-buku itu. "Ini udah semua yang ngumpulinnya?"
"Alhamdullilah sudah, makasih ya."
"Iya, sama-sama."
Xun Yu menutup pintu kamarnya.
"Yun, anterin gua ke ruang guru."
"I-iya."
Akhirnya mau ga mau Xun Yu sama Zhao Yun harus melangkahkan kaki dari asrama perempuan. Perjalanan menuju ruang guru masih damai tetapi kedamaian sirna begitu saja saat mendengar suara sedikit keras mampir ke telinga Xun Yu.
"ENENG YOLANDA!"
"Yun, ada sesuatu yang keras ga?"
"Hmm..." Zhao Yun melihat sekitar, lalu dia melihat sebuah tongkat baseball sedang bersandar di kursi. "ternyata ada gudang disini?" Zhao Yun mengambil tongkat baseball itu, lalu mereka berdua barter, Zhao Yun membawa tumpukan buku sementara Xun Yu menggenggam tongkat baseball.
Xun Yu mempersiapkan kuda-kuda seperti pemain baseball profesional.
30cm
15cm
10cm
5cm
Xun Yu memukul kepala Guo Jia dengan keras.
"HOMERUN!"
Xun Yu menjatuhkan tongkat baseball, dan mengajak Zhao Yun lari.
"Lu gapapa?"
"Gapapa, cuman lecet dikit."
Temannya sweatdrop. "Babak belur gitu lecet?"
Guo Jia cengengesan. "Lagipula udah sering gua kayak gini."
Temannya cuman geleng geleng pala.
Balik lagi ke Xun Yu sama Zhao Yun yang lari menjauhi korban kekerasan di koridor tadi, beberapa menit berlari akhirnya mereka sampai di depan ruang guru.
"Yolanda, Yuni, ternyata kalian disini, Ibu jadi kemana-mana lho."
Bu Lianshi tiba-tiba muncul dari dalam ruang guru.
"Ma-maaf Bu soalnya tadi baru pada ngumpulin tugasnya terus ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa kami."
"Tidak apa-apa, asalkan buku ini selamat sampai di tangan Ibu itu tidak masalah, terima kasih ya."
"Sama-sama Bu."
Setelah Bu Lianshi mengambil buku tugas dari mereka, dan kembali ke habitatnya. Xun Yu, dan Zhao Yun kembali ke kamar dengan jalan memutar, tetapi tetap saja mau jalan memutar mau jalan yang sama mereka akan selalu bertemu dengan kedua pemuda itu.
"ENENG YOLANDA! AA KANGEN KAMU!"
"Zhao Yun kita harus cepat," ajak Xun Yu pada temannya tapi Zhao Yun tidak nyaut ajakannya, pas diliat ke samping si Zhao Yun lagi digombalin.
SET DAH! TUH ANAK MALAH DIGOMBALIN!
"ENENG YOLANDA!"
Xun Yu lebih memilih lari masuk ke dalam asrama sebelum di tangkep sama Guo Jia, sementara itu Zhao Yun…
"Yuni, Bapak kamu Pa Liu Bei ya?"
"Kok kamu tau?"
"Soalnya Bapak kamu sama Bapak aku deket."
"Eh?"
GAGAL GOMBAL.
Pi kalo mau gombal minta ajarin ke Guo Jia sana, lu mau kagak sih gagal gombal gitu Pi? Jawab Pi? Lu malu kagak sih? Atau urat malu lu emang udah putus?
.
BRAK!
Pintu kamar tiba-tiba didobrak, Mitsunari yang lagi asik nonton tipi loncat, terus lari masuk kamar mandi karena kaget.
"MITSU! KOPEAH GUA UDAH BALIK!"
"GUA KIRA BAKAL ADA RAJIA EH TERNYATA ELU!"
Sungguh indah ya hari ini, indah sekali, saking indahnya aku ingin menghujat cerita ini. Cerita ini pun ending dengan geje.
END
Cerita ini minta dihujat sumpah :v arti nama yuni membuatku tambah receh :'v
kalian seneng atau kesel atau gimana gitu? Kalau aku apdet cerita ini sehari bisa dua atau tiga? Atau tiap hari apdet?
Hahhh… cerita ini di diskontinyu aja gitu?
tenks ya betewe eniwey baswey, udah baca
See you next chapter~
