Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh.
Genre: Humor receh
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Balesan Review
Yagen Bini Tsurumaru
saya kaget nama akun ente diubah :v akun line aja ngikut berubah :v
Xun Yu: karena fanart mengubah abang jadi cantik.
Apakah negara itu damai? Isinya aja udah nganu :v
Shi: kok capslok smua sih?
Walaupun shi ga jelas, dia tetep jadi kakak kesayangan ana :v
Zhong Hui: kalo ga durhaka ntar ga nganu dong.
Shi: capsnya oe
RosyMiranto18
Zhao Yun: Karena serangan jantung.
Shi: gua kagak punya adik abal macam mereka, gua kagak punya sepupu kurang diajar kek gitu. Aku jadi teringat cerita dongeng tentang 7 anak laki-laki…
sebelum ana bikin parodi itu ana baca ulang cerita aslinya dulu.
Shi: tapi aku harus melakukan sesuai naskah…. Gubuk itu aku beli dari seorang bajak laut, untuk berlindung dari badai, tapi karena waktu itu ga punya uang jadi gubuk itu masih kredit…. Oke emang ga nyambung itu.
bukan ga ada ide, ga mood.
Kehidupan yang Kedua : Pesantren Al-Kafirun
Chapter 3: NENG YOLANDA!
Selamat Membaca
Hari sabtu, hari dimana santri bisa bebas keliling kesana kemari sebebas bebasnya mereka tapi tetap saja hanya di wilayah pesantren saja. Hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, seorang santriwati abal berkerudung ungu tua sedang duduk di kantin sambil menikmati es teh manis, sendirian. Karena santriwati itu lagi sendirian, seorang santriwan duduk di depannya seenak jidat sambil bawa semangkuk baso. Santriwati bernama Xun Yu itu langsung ngeliat mangkuk baso itu dengan wajah mupeng, sementara santriwan yang duduk didepannya merasa risih mangkuk basonya di liatin dengan tatapan kepengen oleh orang yang ada di depannya.
"Neng,"
Panggilan si santriwan itu berhasil menyadarkan Xun Yu. "I-iya?"
"Kalo mau baso ada di pojok kanan." lanjut si santriwan.
Muka Xun Yu berubah bete, kirain basonya bakal dikasihin ke dia eh ternyata cuman mau ngasih tau letak si tukang bakso berada, Xun Yu nopang dagu, tangan kananya sibuk ngocok-ngocok teh manis dengan sedotan. Matanya melihat ke tamplak meja. Xun Yu kembali melamun. Xun Yu melamun sampai si santriwan itu selesai makan bakso, dan pergi untuk mengembalikkan mangkuk itu kepada yang punya.
Sudah 5 menit Xun Yu melamun di kantin sampai adzan dzuhur berkumandang, adzan itu menyadarkan Xun Yu dari lamunannya, sebelum pergi ke masjid Xun Yu meminum es teh manis pesananya sampai habis.
"Yolanda," panggil seseorang dari kejauhan.
Xun Yu mempercepat langkahnya menuju mesjid, orang itu juga ikut mempercepat langkahnya.
Tep
Tangan Kanan Xun Yu dipegang.
PLAK!
Tangan kiri Xun Yu langsung menabok orang itu. Xun Yu kaget ternyata yang manggil dia adalah teman seperjuangan senasibnya, Zhao Yun. Dan ternyata Zhao Yun tidak sendirian ada Gracia, dan Bu Cai Wenji bersamanya, ekspresi mereka berdua saat melihat kejadian itu cuman terkejut.
"Yu-Yun, maapin gu- aku, aku kira kamu santriwan yang kemaren." Xun Yu agak manik masalahnya walau dia menabok Zhao Yun dengan tangan kiri kekuatannya ga jauh beda kalau menabok orang dengan tangan kanannya.
"I-iya gapapa kok, aku ngerti kenapa kamu jadi sawan pas dipanggil."
"NENG YOLANDA!"
Nah itu baru yang asli dateng bersama empat temannya, dia berjalan menghampirinya sambil melambaikan tangan, Xun Yu makin bete, soalnya tadi dia baru menampol teman seperjuangannya sekarang dia malah ketemu aslinya.
"Ayo, kita ke masjid sekarang." ajak Cai Wenji.
"I-iya."
Perjalan menuju mesjid biasa aja damai sentosa, tidak ada gombalan, maupun kekerasan, dan saat di dalam mesjid pun damai. Namun adegan kekerasan terjadi setelah pulang dari mesjid, engga jauh dari mesjid, santriwan yang kepincut sama Xun Yu ngikutin Xun Yu kemana aja, sampai Xun Yu menyiksanya dengan tongkat baseball yang entah mengapa terletak di atas rumput tanpa pemilik.
"Neng Yolanda, ampun."
"Tidak ada ampun, kalo ente masih ngejar ane kemana-mana."
Keadaan mereka sekarang adalah Guo Jia di tiduran di atas rumput dengan muka babak belur sementara Xun Yu nginjek kepala Guo Jia dengan kaki kanannya, sementara tongkat baseball masih ia genggam.
"Emang gaboleh ya, aa suka sama eneng?"
"Ga, buang jauh-jauh harapan situ mau nikahin ane."
"Tapi aa sudah terlanjur cinta sama eneng."
"Kalo gue LAKI gimana?" tanya Xun Yu, dia menekankan kata 'laki' di dalam kalimatnya.
"Aa bakal cintai eneng apapun wujud eneng."
Mendengar pernyataan sarap dari Guo Jia, Xun Yu melempar tongkat baseball, terus memasang kuda-kuda seperti ingin loncat. Xun Yu loncat ke atas Guo Jia bak pegulat yang ingin mengakhiri lawannya yang sudah tak bisa bergerak.
"RASAKAN TENDANGAN ULTRAEMEN NYASAR!"
"GWAH!"
Setelah melakukan finishing, Xun Yu pergi meninggalkannya sendirian, Xun Yu mau ke kantin lagi, melanjutkan lamunannya yang sempat tertunda. Situ ngelamunin apa sih?
.
"Ji, Ji, bangun, kalo lu kagak bangun gua masukin lu ke liang lahat." salah seorang temannya menepuk-nepuk pipi Guo Jia pelan.
Perlahan kedua mata Guo Jia terbuka. "Kok gua ada disini?"
"Lu abis disiksa sama salah satu santriwati disini."
Guo Jia menegakkan tubuhnya, lalu berdiri.
"Butuh kotak P3K ga? Elu kek yang abis di gebuk sama warga sekampung."
Guo Jia tersenyum pada temannya itu. "Gapapa kok, udah biasa."
Temannya menjauhi Guo Jia beberapa langkah. "Gua ga punya temen maso, gue kagak punya temen maso, GUA, KAGAK, PUNYA, TEMEN, MASO." gumam temannya.
.
Kembali lagi ke Xun Yu yang masih ngelamun kali ini doi lagi makan mie kremes dengan muka datar, matanya lurus melihat tamplak meja bergambar helo kiti. Ntah apa yang dia pikirkan, dia seperti yang terhipnotis oleh gambar kucing putih berpita merah itu, seperti biasa lagi asik ngelamun, lamunannya buyar saat gebetannya Guan Ping dateng menghampiri Xun Yu, dan duduk di depannya.
"Yolanda," panggil Xingcai.
Xun Yu masih ngelamun.
"Xun Yu,"
"Mienya kurang asin nih..."
"Wenruo,"
"Helo kitinya makin lama makin lucu."
"Neng Yolanda,"
Panggilan terakhir paling mujarab, saat Xingcai memanggil Xun Yu dengan panggilan itu, tangan kanan Xun Yu mau melayang ke muka Xingcai tetapi ditepis dengan mudah olehnya.
"Aku bukan Guo Jia."
"Maaf, reflek auto nabok tangan gue, betewe lu tau nama gue Xun Yu darimana?"
"Ada seorang ustadz bilang ke aku, carilah santriwati bernama Yolanda aka Xun Yu alias Wenruo, dia akan membantumu kembali ke dunia nyata."
"Jadi ini bukan dunia nyata gitu?"
"Ga tau, tuh ustadz suka ngomong ngawur sih..."
"Mungkin ini mimpi..."
"Kenapa kamu bisa mengatakan itu?"
"Insting."
Xing Cai memutar kedua bola matanya.
"NENG YOLANDA!"
"Xingcai bentar ya, ada tamu tak diundang," Xun Yu melipat kedua lengan baju panjangnya ke atas. Xun Yu pasang kuda-kuda. Xun Yu sudah siap untuk bertarung.
"GUA!"
Xun Yu berjalan ke arah Guo Jia.
"KAGAK!"
Xun Yu nabok Guo Jia pake tangan kanan.
"SUKA!"
Xun Yu nabok Guo Jia pake tangan kiri.
"SAMA ELU!"
Xun Yu menguppercut Guo Jia.
"DASAR MASOKIS!"
Xun Yun menendang Guo Jia tepat di perutnya.
"Hmph," Xun Yu membalikkan badannya lalu berjalan kembali ke tempat yang ia duduki tadi. "sampai mana kita tadi?"
"Sampai, kamu … menghajar Guo Jia." Xingcai memperhatikan dada Xun Yu. "Jadi benar ya, kamu cowo?"
Xun Yu cengegesan. "Iya, aku menggunakan baju yang agak besar."
"Kenapa bisa jadi santriwati?"
"Karena rambutku panjang pas diwawancara sama salah satu ustadz disini."
"Keknnya tuh ustadz pilih kasih, padahal disini ada sebagian santriwan yang rambutnya panjang." Xingcai melirik kanan-kiri secara cepat. "Ak-"
"NENG YOLANDA!"
"ASTAGFIRULLAHALADZIM!"
Akhirnya Xun Yu nyebut juga, entah karena lagi inget atau saking keselnya.
"Kita lanjut nanti ya Xingcai, gue harus ngurus anak orang dulu, buat jaga-jaga tolong teleponin ambulan kalo bisa."
Xun Yu pun kembali memperaktekkan teknik mematikan yang biasa ada di acara tipi paporitnya, yaitu gulat. Satu-satu teknik ia gunakan padanya. Akhirnya setelah semua teknik gulat Xun Yu gunakan padanya, akhirnya panggilan itu selama lima bulan hilang dari telinganya, kenapa? Guo Jia dilarikan ke RS terjauh dari pesantren.
END
:v NENG YOLANDA! NENG XUN YU! NENG WENRUO! :v haduhhh, ternyata duluan ini yang selesai, chap lima belakangan haissshh agak nyebelin. Aduh ana receh :v bener-bener ngereceh itu bisa ngebangkitin mood :v
aslinya kenapa Zhao Yun sama Xun Yu jadi santriwati itu karena… terespirasi dari cerita di fendem inaire berjudul salah masuk pesantren yang sudah tidak bisa dibaca lagi :'v
Tenks ya, udah baca ni cerita sarap ini, ada hadiah panah cinta dari Zhu Ran untuk kalian~
See you next chapter~
