Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. Awas hidupmu jadi anpaedah. GARING!

Genre: Humor receh

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Balesan Review

RosyMiranto18

Yukimura: bukan, tetap cabe merah.

Tidak ada.

Mitsunari: bukan, itu nama pedang milik okita souji, kiyomitsu.

Yukimura: hmm, aku membicarakan soal Nu Wa (nyengir)

Mitsunari: dikasih, bukan nyolong.

Ma Chao: karena gembala domba sudah biasa.

Kehidupan yang Kedua : Pesantren Al-Kafirun

Chapter 5: Ustadz Misterius

Selamat Membaca

Suatu hari, ada beberapa santriwan melihat penampakan saat sholat jum'at. Katanya ada dua santriwan tidak diketahui namanya muncul setiap hari jum-at, santriwan yang melihat penampakan itu tidak pernah melihat muka mereka dengan jelas, karena setelah selesai jum'atan penampakan itu hilang dalam sekejap.

"Untung … kita berhasil keluar mesjid dengan selamat lagi."

"Apakah kita akan begini terus?"

"Gua ga tau, tapi masalahnya sekarang kita jadi bahan perbincangan di pesantren."

Zhao Yun mulai panik.

"Udah, mending kita ke kantin dulu."

Kedua santriwati abal ini pun ke kantin, mereka duduk di tempat yang agak sepi bisa dibilang mojoklah. Seperti biasa Xun Yu cuman beli es teh manis, sementara Zhao Yun datang dengan semangkuk mie ayam, dan jus jeruk. Betapa sedapnya, Xun Yu cuman natepin mangkuk mie ayam punya Zhao Yun.

"Mau?"

Xun Yu memalingkan wajahnya. "Engga."

Semenit kemudian, ada dua orang duduk di sebelah mereka. Yang duduk di sebelah mereka adalah tukang gosip di pesantren, Bao Sanniang sama Da Ji. Selagi sumber informasi ada tepat di samping Zhao Yun sama Xun Yu langsung pasang telinga lebar-lebar.

Da Ji melirik kanan-kiri, lalu menatap Bao Sanniang. "Katanya tiap jum'at suka nambah 2 orang ya?"

"Iya, kayaknya sedikit menyeramkan."

"Atau mungkin itu adalah santriwati berkedok laki?" tanya Da Ji kek host di suatu acara.

"OHOK!"

Tiba-tiba Xun Yu tersedak saat meminum es tehnya, kedua penggosip itu pun ikut terkejud, dan langsung melihat ke arah Xun Yu.

"Yolanda kamu gapapa?"tanya Bao Sanniang, lalu tangan Bao Sanniang mengelus punggung Xun Yu pelan.

"Ga, gapapa, cuman keselek doang."

"Xun Yu, jangan terkejut, ntar kita yang dicurigai." bisik Zhao Yun.

"A-aku tau." Xun Yu kembali meminum the manis.

Zhao Yun sama Xun Yu kembali menikmati jajanannya, semenit kemudian dateng Xingcai sama Ina terus duduk di sebelah kiri Bao Sanniang, dan Da Ji.

"Gaes katanya temen sekamar bakal diubah lagi." kata Ina.

"Beneran?" tanya Da Ji ga percaya.

"Iya soalnya di kamar Yinping sama Himiko meledak gegara nyalain tipi jadul yang mereka temuin di kamarnya." jelas Xingcai.

"Ini sudah ke 5 kalinya kita ganti temen sekamar sebelum kamu dateng Xingcai." kata Bao Sanniang agak lesu.

Mendengar percakapan tentang temen sekamar diubah lagi membuat Xun Yu sama Zhao Yun diem sebentar, kemungkinan mereka sekamar dengan orang yang sama itu 00000000000000,1%. Xun Yu sama Zhao Yun saling tatap menatap. Mereka mulai berbisik-bisik soal gosip itu.

"Gimana nih?"

"Kalo sekamar sama Xingcai gue sih oke-oke aja, dia udah tau gue cowo gegara seorang ustadz."

"Ustadz yang katanya muka di blur sama suaranya nyempreng itu ya?"

"Iya, yang katanya kek tukang bakso pake boraks."

"Tapi sebelum kita menyelikidi soal ustadz misterius itu, kita harus menghapus gosip santriwan tambahan saat sholat jum'at."

"Bagaimana?"

"Sholat jum'at di mesjid lain."

"Pinter lu." Zhao Yun ngegetok kepala Xun Yu.

"Terus gimana?"

"Mengaku?" Zhao Yun malah nanya balik.

"Yang ada kita digiring ke ruang guru."

"Hmm..." Zhao Yun menyilangkan sendok, dan garpu di mangkuk mie ayam. "Negoisasi ke ustadz yang ngewawancara kita?"

"Berarti, gue harus ke Pa Sima Yi ya?"

"Kalo ustadz itu sih gampang kasih ngeped aja."

"Aiped sayangku, bukan ngeped." koreksi Xun Yu pada kata-kata Zhao Yun. "Emang ngeped murah apa?"

"Situ masih mending, masih bisa disogok, gue nyogok Pa Nobunaga pake apa coba?"

"Pake kepala lu aja, barter."

"Mati dong gue."

Xun Yu sama Zhao Yun kembali nopang dagu, dahinya berkerut kek orang yang mikir keras, keempat cewe tulen yang duduk di sebelah kiri mereka, ngeliat ke arah mereka bingung.

"Kalian kenapa sih? Keknya kalian berdua keberatan kalau temen sekamar diga- AKH!" perkataan Ina terhenti karena punggungnya tiba-tiba dipukul agak keras sama Bao Sanniang.

"ITU!" teriak Bao Sanniang sambil nunjuk ustadz misterius itu yang sedang berdiri di depan tukang lumpia basah.

"Itu ustadznya, ada yang mau menyelikidi ustadz itu?" tanya Da Ji.

"Tapi perasaan aku ga enak, aura ustadz itu keknya suram."

"KALO GITU AKU LANGSUNG SAMPERIN TUH USTADZ!"

Bao Sanniang berdiri dari duduknya lalu lari ke arah ustadz itu.

"Ustadz sebenernya siapa?"

"Bukan siapa-siapa, Nak Sanniang, tau Zhou Yu?"

"SI KECAP ASIN, yang pernah ngajak piknik itukan?"

"Benar, kenal dengan Nagamasa?"

"Naga Blonde dari jepang sana."

"Bagus, terakhir siapa Tuanmu?"

"PA LIU BEI TERCINTA!"

"Kamu lulus."

Ustadz itu menyentuh dahi Bao Sanniang, dan sedetik kemudian tubuh Bao Sanniang kembali menjadi kerangka besi seperti robot belum jadi. Santri yang melihat kejadian itu, kepalanya langsung memegangi kepala mereka seperti menderita sakit kepala berjamaah, setelah itu, kegiatan kembali seperti semula.

"Yang tadi itu apa?" tanya Ina, sekarang dia bingung dengan apa yang terjadi tadi.

"Aku tidak bisa mengingat apa-apa soal tadi." kata Xingcai.

"Katanya saat ustadz itu bertanya tiga kali pada seorang santri yang mendatanginya, santri itu akan menghilang dalam sekejap, dan terjadi sakit kepala seperti tadi."

Di kantin terjadi kebingungan, kecuali santri yang santai dan ga peduli sama keadaan. Xingcai melihat ke arah Xun Yu, merasa risih diliatin Xun Yu berhenti meminum es tehnya, lalu melihat ke arah Xingcai.

"Apa?"

"Sebenernya yang tadi itu apa?"

"Aku tidak tau, lagipula dalam sekejap memori seperti dihilangkan begitu saja, menurutku sih dia dikembalikan."

"Maksudnya?"

"Suatu hari nanti kalian akan mengerti." Xun Yu berdiri dari kursinya. "Yuni ayo, waktunya kita kembali ke kamar."

"I-iya."

Da Ji mengelus dagunya, dan melihat ke arah mereka berdua dengan ragu. "Ada yang mereka sembunyikan, mungkin mereka tau sesuatu tentang tadi."

"Mungkin saja." Ina mengendikkan bahunya.

.

Bao Sanniang yang menghilang dari pesantren, tidak sama sekali disebut kembali di pesantren itu seakan memori tentang Bao Sanniang menghilang dari benak mereka. Sementara itu di sebuah rumah sakit entah dimana, sebuah tubuh yang hampir jadi tiba-tiba bergerak, dokter yang sedang menyusun sebuah berlian di tubuh itu terkejut.

"AKU DIMANA?! AKU DIMANA?!"

"Kamu ada di dalam gedung rumah sakit Ibu, dan Anak yang sudah tidak dipakai." kata si dokter. "Diam dulu, sikumu masih belum dipasang." si dokter itu menempelkan sebuah tangan pada tubuh itu.

"Kenapa tubuhku terasa aneh seperti ini?"

"Aku mencampurkannya dengan green diamond, makanya sedikit berat." si dokter melihat ke arahnya. "Nama?"

"Bao Sanniang."

"Gud, berarti bener gua masanginnya." si dokter pasang wajah bangga.

"Emang kenapa?"

"Kan ga lucu kalo pas gue nanya nama lu itu Lu Bu tapi badan cewe bak model."

Bao Sanniang memegangi kepalanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. "SEBENERNYA APA YANG TERJADI PADAKOEH?! DAN INI BUKAN ANIME TENTANG BERLIAN-BERLIAN ITU?!"

"CERITANYA PANJANG! TANYAIN SAMA SI KECAP ASIN! SI KECAP ASIN YANG PUNYA IDE BEGINI!"

Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, menampakkan sebuah kecap asin.

"SIAPA YANG MANGGIL GUA?!"

"KECAP ASIN KADALUARSA APA YANG TERJADI?!"

"LEMBAH JIUZHAIGOU MELEDAK, ELU JADI ABU, TERUS KAMI YANG MASIH HIDUP AMAN SEJAHTERA SEDANG MENGEMBALIKKAN KALIAN DARI TUBUH GA JELAS DI PESANTREN SANA!"

"APHA?! JADI YANG DI PESANTREN BUKAN MIMPI?!"

"BUKAN! NAGABLONDE LANJUTIN KERJANYA!"

"IYA! GAUSAH NGEGGAS JUGA!"

Tiba-tiba dari belakang Zhou Yu muncul istrinya dengan muka memerah, istrinya marah.

"STOP! Pendatang baru ikut aku, Nagamasa sama Zhou Yu kembali bekerja."

"Baik nyonya Xiaoqiao." Nagamasa pasang pose hormat.

"Siap sayangku." Zhou Yu ngabur ke kamar sebelah.

Bao Sanniang turun dari kasur.

"Betewe, pakeannya diganti dulu, pasien masih banyak." Nagamasa nunjuk pakaian Bao Sanniang di meja kecil sebelah kanan kasur.

"O-oke." Sebelum Bao Sanniang pergi bersama pakaiannya Nagamasa bertanya padanya.

"Pa Nobunaga sehat?"

"Sehat kok, betewe kalo Pa Nobu dkk juga menjadi korban ledakan?"

"Engga, mereka sehat lahir, dan batin. Karena itu mereka bertugas mengembalikkan ingatan kalian sebelum terjadi ledakan."

Bao Sanniang sweatdrop. "Pantesan setiap ada tugas soalnya ga jauh dari lembah jiuzhaigou, dan lagu dangdut yang dinyanyiin sama mereka, hafalan ayat dll gitu cuman bumbu pemanis doang aka jarang."

"Ok kalo gitu, selamat anda telah terpilih, jangan lupa kalo udah ganti baju, baju yang ijo bak lumut itu kasih ke gue."

"Iye dah." Bao Sanniang memutar kedua bola matanya, kenapa harus lagu dangdut coba?

.

Kembali lagi ke pesantren, tepatnya di sebuah kamar asrama khusus santriwati.

"Xun Yu, gue nemu tipi jadul nih."

"Coba keluarin siapa tau masih nyala."

Zhao Yun mengeluarkan tipi jadul itu, lalu meletakkannya di dekat stopkontak di pojok kanan. Setelah mencolokkan colokan tvnya ke stopkontak, Xun Yu menekan tombol power agak takut-takut. Saat tombol power itu ditekan tv tidak meledak tetapi menampilkan sebuah acara talkshow, saat melihat host, dan co-host di tv mereka merasa familiar.

"HAI! gaes kembali lagi dengan kami di, TALKSHOW BACOT!"

"Yun, piling gue ga enak."

"Wat?"

DUUUAARRR!

"WANJERRR! TIPINYA PAKE ACARA MELEDAK!"

END

wew, inginku menghujat cerita ini tapi saia sendiri yang ngetik ni cerita~ :v

aduh ana ngantuk banget, maaf ya kalo ga menghibur epek ngantuk kali ya? Masalahnya tadi ga ngantuk jadi ana lanjutin eh pas di tengah tengah ngantuk jadi gini deh… maaf ya gaes...

tenks ya gaes

See you next chapter~