Warning: kerenyes kranci, OOC, AWAS TYPO! CERITANYA ABSURD! terganggu dengan cerita ini? langsung pergi dari cerita ini. Bahasa BIKIN BINGUNG PLES ANEH. Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Hati-hati hidup kalian menjadi receh sesudah baca chap ini. Siapkan camus bahasa sunda tapi yang kasarnya :v yang pernah nonton atau main SL pasti taulah bentukan monsternya yang sulit dideskripsikan oleh saia :v

Genre: Humor, parodi, horror gagal

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koeih

Balesan Review

Yagen Bini Tsurumaru

Xun Yu : kalo bilang mau ntar muka abang ditaruh dimana?

Wah tiati kalo ngakakin apapun bisa dibilang stress :v

RosyMiranto18

Yukimura: iya :v

Zhao Yun: kalo ga sholat jum'at neraka dong tujuannya ntar… ngaku salah juga…

Da Ji: udah takdirnya kali.

Bao Ustadz: ustadz yang mirip sama tukang bakso diboraks.

Sima Yi: kalo ngepet ntar dijewer istri…

Xingcai: kalo disamperin kita harus bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar.

Bao Sanniang: tapi kalo dibuat joke suka berhasil tuh lagu.

Silent Hill Film(2006) Parody

Selamat Membaca

Alkasih, di sebuah kota antah berantah tinggal keluarga unfaeda, keluarga itu tidak bisa memiliki anak, keluarga unfaeda itu pun mengadopsi seorang anak dari panti asuhan, anak itu keturunan Jepang-Indo bernama Naomasa. Suatu ketika setelah beberapa tahun mengurus anak itu, setiap tidur Naomasa selalu mengalami yang namanya sleep walking, dan menyebutkan sebuah kota bernama silent hill. Naomasa tidak dibawa kedokter, Ibunya malah membawa anaknya ke kota itu hanya berdua tanpa sang ayah menemani. Diperjalanan menuju kota itu mereka berdua sempat di cegat oleh seorang polisi perempuan, tetapi karena saat melihat sebuah palang petunjuk jalan, Ibunya langsung tancap gas, membelokkan setir ke kiri.

Di tengah jalan, terjadi kecelakaan kecil, Ibunya banting setir, dan membuat si mobil berputar 360 derajat, sang Ibu kepalanya terbentur oleh stir sementara anaknya tidur dengan nyenyak.

Keren. Ibunya sekarat, anaknya tidur.

Beberapa jam kemudian, sang anak terbangun dari tidurnya, kedua matanya tidak menemukan sang ibu di kursi pengemudi, Naomasa mulai panik.

"EMAKK?! EMAKK! EMAK ADA DIMANA?!" teriak Naomasa macam orang gila, tetapi sekeras apa Naomasa teriakannya tidak disahut oleh Ibu angkatnya.

Betewe gaes, kalian ga penasarankan siapa Ibunya? Kalo ga penasaran yaudah, ga akan ana kasih tau. Lanjut, Naomasa keluar dari mobil, lalu berjalan mendekati sebuah plang bertuliskan 'Welcome to Silent Hill'. Naomasa memutuskan untuk mencari sang Ibu di kota itu. Sesampainya di kota itu Naomasa berteriak lagi.

"PUJO KAPIR! MANEH DIMANA?!"

"ENIWAN!"

"NAHA AING DIDIEU SORANGAN?! DI PILEM ASLINYAKAN BERDUA?!" tanya Naomasa dengan volume full. (translet: kenapa aku disini sendiri? Di film aslinyakan berdua?). "KUDUNA MAH PAN INDUNG AING NU NYARI AING NAHA JADI KEBALIK SUEH?! (translet: harusnyakan, ibu aku yang nyari aku, kenapa jadi kebalik sih?)

Udah skenarionya gitu. Lanjut atau gue sodok lu pake sikat gigi.

"EMAAKK ABAL AING KAMANA?! ANJIIRRR! AING SORANGAN DISINI TAKUT NYEDH!" keluh Naomasa. (Translet: Emak abal(?) aku kemana? *! aku sendiri disini takut!)

Ada kameramen kok Mas, kok situ panik gitu sih?

Naomasa terus berjalan menyusuri kota kosong itu, beberapa menit berjalan Naomasa menangkap wujud seorang perempuan mirip Ibunya sedang berlari ke dalam sebuah gang. Naomasa pun langsung berlari mengejar perempuan itu.

"TUNGGU! JANGAN TINGGALIN AING SORANGAN DIDIEU!" (Translet: tunggu! jangan tinggalin aku sendirian disini.)

Naomasa memasuki gang gelap itu, Naomasa turun tangga dengan perlahan. Naomasa baru menuruni anak tangga 5 kali sebuah suara bunyi dengan keras macam sirine ambulan. Kota itu pelahan-lahan menggelap, Naomasa panik ga karuan, dan mencari sesuatu untuk penerangan. Di dalam sakunya Naomasa menemukan korek api, sebenernya doi ga ngerti kenapa disakunya ada korek api. Naomasa menyalakan korek api itu, setelah menyala, korek api di tangannya doi arahkan ke deket mukanya, walaupun cahaya kurang memadai Naomasa masih bisa melihat dengan jelas, tangannya doi gerakkin ke kiri sama ke kanan secara perlahan.

"Kok ada tangan, dan ada kain putih ya?" gumam Naomasa, tangannya dia gerakkan ke atas.

Seketika Naomasa njerit histeris.

"WAAANJJRIT! KUNTILBAPAAAKK!"

Naomasa mundur beberapa langkah, sosok misterius yang disebut kuntilbapak sama Naomasa, berjalan melewatinya. Ohh ternyata setelah diselikidi kuntilbapak itu Sima Yi yang numpang eksis di depan kamera dengan daster buluk favoritnya.

"Hah … hah … gue kira apaan tadi, nyeremin banget, mukanya bener-bener memadai." Naomasa mengelus dadanya yang rata, mencoba untuk mengatur nafasnya yang memburu kembali normal. "Haduh, perjalanan masih jauh lagi."

Naomasa kembali menuruni tangga kembali, berjalan belok kanan, Naomasa langsung disuguhi pemandangan sangat wah, banyak pager besi karatan, dan ada seseorang yang terikat dalam baju nyelam ala di sepongbob de movie.

Tes tes

Sesuatu seperti air turun dari atas perlahan. Naomasa membalikkan badannya ke belakang, dari belakang muncul makhluk-mahluk kecil seukuran dwarf tanpa muka dengan wujud bak air keran yang terkena karat. Naomasa pingsan seketika. Untuk korek apinya udah mati jadi ga kenapa napa tuh.

"Mas … Mas … bangun, udah subuh." Kameramen yang baik hati membangunkan Naomasa lembut dengan cara menedang-nendang muka cakepnya dengan sendal selow buluk yang dipakainya.

Naomasa mulai sadar, kedua matanya langsung melotot, doi langsung berdiri. Naomasa pasang kuda-kuda bak prajurit yang sudah siap tarung. Keadaan kota itu kembali seperti biasa, matahari kembali menyinari kota itu.

"GUA ADA DI MANA NYEDH?!"

"AAAAARRGHH! AING HOYONG BALIK, SEKARANG!" (translet:Argh! Aku ingin pulang, sekarang!)

Selesain parodinya dulu lah Mas, baru pulang.

"Sekarang aing kudu kamana?" tanya Naomasa pada kameramen. (translet: sekarang aku harus kemana?)

"Ke Bocor School."

"O-oke." tiba-tiba Naomasa teringat sesuatu. "Bocor? No Turun aja."

"Korban iklan lu Mas."

"Suka-suka gue dong Tak."

Naomasa pun keluar dari gang itu, dan mencari letak sekolah itu dari plang rute bus. Naomasa terus berlari, berlari terus membawa bola, lalu memberikan bola pada Wen Yang, Wen Yang menembak, dan GOL! Ehem, 10 menit Naomasa berlari dari plang rute bus ke plang rute bus lain, dan akhirnya sampai di Bocor School. Naomasa memasuki sekolah menyeramkan itu setelah berpikir 10 kali.

Kriet

Naomasa mendorong pintu masuk sekolah. Naomasa sudah dalam mode: parno level 2 cuman karena pas doi masuk si pintu sekolah langsung tertutup dengan kencang.

"Mak… Mak ada dimana?"

"Hiks, Mak, jawab Naomasa, Naomasa takut..."

"Ternyata Masa takut sama beginian ya." si kameramen ngecein Naomasa.

"Diem lu Tak."

Naomasa berjalan di lorong sekolah itu, dan berhenti di depan kantor administrasi, tangannya bergetar hebat tandanya doi udah parno level 3, Naomasa mencoba masuk kedalam kantor itu, dan untungnya pintu tidak dikunci. Naomasa mencari sebuah kunci dari tumpukan dokumen di atas meja berdebu itu. Dari acara mengacak acak meja itu Naomasa mendapatkan 6 kunci sekaligus. Salah satu kunci itu dicoba untuk membuka laci di meja. Laci pertama, kosong. Laci kedua, dia mendapatkan senter pengganti korek api yang tertinggal. Laci ketiga dia menemukan sebuah foto. Naomasa mengambil foto yang terbalik itu dari laci, Naomasa membalik foto itu, Naomasa menjerit lagi. Tangannya auto ngelempar foto laknat itu.

"WANJERRR! POTO SELPI SAHA ETA?!" Naomasa melotot pada foto itu.(translet: *! foto siapa itu?)

Si kameramen kepo sama foto yang ditemuin sama Naomasa. "Apa-apaan itu Lu Bu sama Chen Gong selfie pake peci sama baju koko? Ternyata mereka ngalay juga." si kameramen ga percaya sama foto itu.

"UDAH-UDAH MENDING LANJUT!" Naomasa keluar dari kantor itu dengan muka masam, dan jijik.

Naomasa kembali menyusuri sekolah itu, lagi asik jalan dengan parno level 3, kedua matanya menangkap sesosok orang dengan topeng segitiga sembarang membawa pedang, dan memakai sarung kotak-kotak.

Naomasa diem, lagi-lagi dia teringat sesuatu. "What artinya?"

"Apa."

"Did?"

"Lakukan."

"More?"

"Lebih."

Tiba-tiba Naomasa mengeluarkan sebuah sarung yang masih terbungkus rapi ntah darimana. "What did more, sarung khas indonesia~"

"WADIMORE GEBLEK!" si kameramen menggeplak kepala si setengah jepang sama indo itu dengan keras.

Siapa yang ketawa? Anda ketawa? Selamat, anda masuk kategori manusia gopean.

Setelah itu karena Naomasa kembali semula, doi bersama kameramen langsung ngacir entah kemana, lagi asik joging di dalam sekolah bocor ini, Naomasa kembali melihat sosok sang Ibu abalnya sedang berlari menuju toilet. Sampai di depan toilet, Naomasa berdiri di depan pintu toilet itu.

"Mas, kenapa ga masuk?" tanya si kameramen.

"Ini toilet perempuan Tak."

"Masuk aja, toh inikan cuman parodi abal, bukan berarti Mas masuk sana keluar-keluar jadi bencong, engga."

Karena perkataan si kameramen, Naomasa pun masuk ke dalam toilet itu. Di dalam toilet itu dia melihat sosok Ibunya masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Keparnoan seorang Naomasa naik lagi jadi level 4. Naomasa melihat ke sekeliling toilet dengan cepat.

"Mak, Naomasa aya didieu jangan takut, Naomasa datang menjemput." (translet: Mak, Naomasa ada disini jangan takut, Naomasa datang menjemput.)

Dengan perlahan Naomasa menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah ke arah kiri di mana tempat lima bilik berada. Naomasa berdiri di bilik pertama dari kanan. Menarik nafas, lalu mengeluarkannya perlahan, Naomasa tsuyoi kok.

BRAK!

Naomasa membuka bilik pertama, tidak ada apa-apa. Naomasa membuka bilik kedua, dari dalam bilik itu keluar seorang vampir, dan loncat ke arahnya, dengan tingkat parno level 4 tanpa pikir panjang Naomasa menggeplak muka sang vampir dengan keras menggunakan senter yang dipegangnya.

"Mas, namparnya biasa aja dong." keluh si vampir kesakitan.

"Abis lu pake acara loncat ke gua. Dan apa-apaan itu sama taring bohongan yang lu pake?"

"Cuman aksesoris, kerjaan gua udah selesai, gua pulang ya bay~"

Vampir itu pun pergi meninggalkan Naomasa berdua kembali bersama kameramen. Naomasa kembali ke mode parnonya, dan melanjutkan aksi buka pintu bilik toilet, HA! Naomasa membuka pintu ketiga, di dalam sana ada Lu Xun sedang berdiri dengan baju pelayan, di tangan kirinya bawa obor, tangan kanannya memegang sebuah potongan batu. Naomasa agak ragu untuk mengambil batu itu dari tangan Lu Xun, soalnya senyuman yang dipasang Lu Xun sangat mencurigakan dimatanya.

"Mas, ayo diambil, dapet dua juta rupiah lho."

Naomasa masih melihat ke arah Lu Xun curiga, mata fokus ngeliat Lu Xun tangan kanannya perlahan bergerak mendekati batu yang ada di tangan Lu Xun. Setelah mengambil batu itu senyuman Lu Xun tambah lebar, Naomasa menutup kembali bilik nomer tiga keras.

"DEMI ZHU RAN PAKE BOXER GAMBAR PISANG! SI LU XUN NYEREMIN AMAT DAH!"

"Udah-udah mending lanjut."

Naomasa kembali berjalan menuju pintu toilet. Naomasa membuka pintu perlahan, pas dibuka, Naomasa melihat tiga orang berpakaian ala penyelam di filem spongbob de movie, ketiga orang itu menotis kehadiran Naomasa, dan langsung berlari ke arah toilet. Naomasa menutup pintu toilet dengan salah satu kunci yang dia temuin di kantor tadi.

Dak dak dak

Suara pintu toilet yang digebrak.

"ASTAGFIRULLAHALADZIM! NAHA AING KAPILIH JADI CHARA UTAMA DI PARODI INI?!" Naomasa memegangi kepalanya prustasi. (Translet: kenapa aku kepilih jadi karakter utama di parodi ini?).

"Gua takjub, manusia model elu nyebut juga." si kameramen bukannya kasian sama Naomasa malah takjub.

"DIEM LU TAK EN DE PAWER OP JUJU!"

"Op? Lidah lu udah diseting jadi lidah orang sunda ya?"

"UDAH DI-EM!"

"Oke gua diem."

Setelah aksi gerebek ala satpol pp oleh tiga manusia diluar gagal, suara gebrakan pintu diganti oleh suara yang Naomasa dengar saat di dalam gang, suara macam sirine ambulan. Kembali menggelap kek lagi mati lampu saat tengah malam tanpa lilin. Naomasa menyalakan senternya. Toilet sekolah itu berubah menjadi sebuah toilet yang ga pernah diurus, besi karatan, dan tembok toilet ada yang hancur.

Sret... sret…

Naomasa mendengar sebuah suara kaya kaki yang diseret, Naomasa membalikkan badannya menyenteri ke arah sumber suara. Gaes buat penampilan Lu Xun tolong imajinasikan sendiri-sendiri.

"DEMI KUNTILBAPAK YANG TADI GUA TEMUIN! SI LU XUN MAKIN SEREM! EMAAAAKKKK!"

"XUN ELU DIBAYAR BERAPA SIH BUAT NAKUTIN ORANG~?!"

Naomasa sama kameramen keluar dari toilet, berlari tak tentu arah. Mereka berhasil menjauh dari toilet, untung mereka ga nyasar entah kemana jadi mereka bisa keluar dari bocor sekul dengan mudah. Di luar bocor sekul, Naomasa mengecek si potongan batu itu.

"en hotel?"

"Gren hotel kali yang dimaksud." si kameramen menunjuk sebuah hotel dengan nama hotel menjeblak gede diatasnya.

"Ayo kita olahraga lagi." ajak Naomasa pada si kameramen.

"Ogah ah cape gua."

"Mau gue ngiklan atau lari?"

"Oke-oke kita lari lagi."

Mereka pun melanjutkan acara olahraga yang sempat tertunda tadi, sesampainya di dalam hotel. Keparnoan Naomasa yang tadinya udah turun ke level 3 jadi naik dua level gegara masuk hotel itu.

"Kemana~ kemana~ kemana~ aku harus mencari kemana~" Naomasa berusaha menghilangkan keparnoannya.

"Lu nyari alamat?"

"Bukan, nyari klu." Naomasa berjalan ke arah rak yang ada di sebelah kanan. "Kertas paan ni?" Naomasa mengambil sebuah kertas dari rak itu dengan nomor rak 111, pas dibuka Naomasa menjerit lagi, dan melempar kertas itu asal.

"Kali ini lu ngedapetin foto apa?"

Wajah Naomasa memucat sambil nunjuk foto itu dengan jari tengah. "AING DOSA APA GUSTI NU AGUNGG?! MATA AING TERNODAI!" (translet: aku dosa apa Ya Allah? Mataku ternodai!)

Si kameramen yang belum kapok, mencoba melihat ke foto itu. "INI KENAPA ADA FOTO NOBUNAGA SETENGAH BUGIL DENGAN POSE SOK SEKSI DI PANTAI?!"

1 jam mereka berdua menenangkan diri dari foto laknat kedua.

"Apakah kita harus ke kamar nomer 111 itu?" Naomasa mulai mewek ditempat.

"Iya, harus Mas, demi menyelesaikan parodi abstrak ini..."

Naomasa, dan kameramen pun menaiki tangga untuk sampai ke kamar nomer 111 itu, tetapi saat mereka sampai di lantai itu untuk mencari kamar nomer 111, tidak ada dimana-mana tetapi ada sebuah lukisan di sebelah kiri kamar nomer 110. Melihat betapa wahnya lukisan itu, wajah Naomasa, dan kameramen kembali memucat tangan mereka juga bergerak kesana kemari seperti minta diberikan kantung muntah.

"Lukisan ini membunuhku..." Naomasa berjalan menuju lukisan, Naomasa ingin merobek lukisan itu.

"Lukisan laknat, LEBIH LAKNAT daripada foto tadi..."

SREK!

Naomasa berhasil merobek lukisan itu menjadi dua, di balik lukisan itu adalah kamar nomer 111. Naomasa membuka kamar itu, dan tiba-tiba dia, dan kameramen berada di dalam sebuah lift butut. Tiba-tiba lift itu tiba-tiba turun dengan cepat.

"NAHA JOL AYA DIDIEU?!" (translet: kenapa tiba-tiba ada disini?)

5 menit lift itu turun, dan mendarat tidak mulus.

"Wadao muka cakep gua kebentur dinding lift." Naomasa mengelus wajahnya.

Pintu lift terbuka, Naomasa menyalakan kembali senternya, saat Naomasa mengarahkan cahaya senter itu ke depan, ada 7 cogan DWSW berpakaian ala suster tanpa muka di depannya, lalu tiba-tiba terdengar sebuah musik yang familiar di telinganya.

All: youkoso…shin sekai e!

ZH: Hsaa

JC: Ekoyoi

RM: Asaikou no

JW: Vrakuen

MC: Etengoku e no

MD: Ntobira o

TW: Shirakou

All: Yes, Call HE VENS

Naomasa sweatdrop. "Jelmaan Heavens abal muncul." Naomasa mematikan senternya, lagu berhenti secara tiba-tiba, Naomasa menyalakan senter itu lagi, dan mengarahkannya pada 7 cogan itu lagi, tapi anehnya cogannya berubah, terus muncul lagu lain.

All: DOKIDOKI de koware sou 1000% LOVE

HEY!

10!SS:Are You Ready?

9!ZY:Are You Ready?

8!JW:Are You Ready?

7! 6!

5!YS:Are You Ready?

4!MI:Are You Ready?

3!YO:Are You Ready?

2! 1!

All: saa Let's Song!

Naomasa pasang tampang bete. "Yang ini jelmaan Starish tanpa ada sesi eliminasi."

"Dasar manusia kurbel dens."

Naomasa mematikan senternya, lagu kembali mati. Lalu berjalan keluar lift, Naomasa, dan kameramen dengan hati-hati melewati para suster abal berkedok boyben, pas ngelewatin satu-satu pantat sama paha si kameramen sama Naomasa dicolek-colek.

"COLEK MENCOLEK TIDAK ADA DI SKENARIO!" paha Naomasa dicolek. "AH! Paha gua ternodai."

"KALIAN KALO MAU COLEK-COLEK! COLEK SABUN AJA!"

Setelah melewati suster-suster itu dengan senang.

"Senang ndasmu."

Untung paha sama pantatnya ga ilang karena dicolekin, tenang, Mas bentar lagi selesai, ada pintu noh didepan.

Naomasa langsung berlari ke arah pintu, dan menggebrak pintu itu bak satpol pp.

BRAK!

"STTOOOOOP!" teriak Naomasa ga tau malu. "Kau mencuri hatiku-hatiku~" Naomasa malah nyanyi.

"Mas, kita ada di gereja."

"Hah?"

Naomasa melihat ke sekeliling, di tengah-tengah gereja ada api unggun, di dekat api unggun ada Joan sama pengikutnya, disisi kiri ada Kai yang sedang diikat di tangga, dan disisi kanan ada Wen Yang, keadaanya sama kaya Kai, diiket.

"NAOMASA TOLONG IBUMU INI!" teriak Kai dari sebelah kiri.

"Aing kira si pujo kapir udah dibakar." Naomasa memutar kedua matanya malas.

"DI PARODI INI ELU KUDU NYELAMETIN KAMI BERDUA!"

"Aing ogah nyelametin Indung macem maneh, mending gua nyelametin sodara jauh gua aja yang tinggi bak tiang listrik." Naomasa memalingkan wajahnya, lalu berjalan ke arah kanan. "Nona Joan, bakar dia aja, aku ikhlas." Naomasa pura-pura sedih. "Demi kebaikan kota ini."

"NAOMASA LU GITU SAMA GUA! GUA UDAH NGURUS ELU YANG TADINYA NGEGEMBEL DI EMPERAN GOT SAMA SI XUN YU!"

"Heloow~" logat sunda Naomasa berubah jadi alay. "LU, ngurus gue? EOWH."

"NAOMASA! SEJAK KAPAN LU NGALAY?! ELU KETULARAN SI TAKATORA YA?!"

"Ngurus amat gua ngalay, bay bay~"

Naomasa menyelamatkan Wen Yang, sebelum keluar dari gereja, Naomasa pasang senyum termanis (menurut doi). "Silahkan dilanjutkan acaranya, maaf menganggu."

Naomasa, Wen Yang, dan kameramen pun keluar dari gereja, dan pergi dari kota aneh itu dengan selamat lahir, dan batin, mereka pun bahagia bertiga selamanya.

DI EN

nyahahaha :v parodi kacau, ana lagi ingin marodi lagi, sebenernya yang asli itu ibu nyari si anak bukan anak nyari si ibu okey :v dan ada yang dipercepat adegannya karena kalo lengkap bisa-bisa tiga ribu words atau bahkan lebih :v kan lieur. Maafkeun udah ngebuat naomasa supah dupah OOC dan bernyunda kasar ria :v muka doi kek jep-indo sih :v soal lukisan laknat itu :v kalo penasaran pc lewat line aja ntar ana kasih gambarnya :v line Idnya ada di profil~ dan itu soal suster pas nonton kepikirannya gitu en emang ga mikir lama soal personil-personilnya.

tenks udah mau baca parodi kacau ini

See you next chaptah~