Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh.

Genre: Humor receh

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Balesan Review

Yagen Bini Tsurumaru

Xun Yu: abang di print dong

Perjalananmu masih panjang nak … jangan stress dulu.

Yang udah kecengkok ga mungkin ga nyanyi pas bacanya :v

QN abal-abal masih ngadain audisi :v

Naomasa: satu perumahan saia sama Xun Yu.

RosyMiranto18

Zhao Yun: mungkin suatu hari nanti kita akan ngaku…

Bao Sanniang: namanya di sensor kalo ditanya juga.

Sima Yi: tidak boleh mengajarkan yang tidak baik.

Xingcai: ntar malah keteleport ke tempat lain.

Naomasa: disini ceritanya aku jadi anak angkatnya Kai.

Lu Xun: di tangan aku segala bisa kok.

Naomasa: bukan… si nthor bingung deskirpsiinnya silahkan nonton filmnya langsung. Kalo jatuh gaenakeun.

Jia Chong: tuntutan, tapi kalo Lu Xun sebagai CS elit di sekolah itu.

Takatora: kurbel(kurang belaian) dens.

Naomasa: Bukan, kuburan keknya.

Doraburu egen

Selamat Membaca

Ditelepon

Di suatu siang di sebuah kos-kossan mewah(mepet sawah) seorang perempuan berambut pendek berpakaian ala lolita sedang duduk di meja makan main uler tangga sama Masamune, dan Magoichi, tiba-tiba Babehnya yang dari kampung nelpon ke dia.

"Waduh di telepon babeh." perempuan bernama Gracia itu panik, beberapa detik setelah berpikir 5 kali akhirnya mengangkat telepon itu.

"Halo."

"Untuk layanan bahasa inggris tekan satu, untuk mematikan telepon silahkan banting hape anda."

Telepon pun dimatikan, Gracia cuman nyegir ga jelas, lima detik kemudian ada telepon lagi, kali ini Gracia langsung mengangkatnya lagi.

"Cucuku sayang~"

Gracia kenal suara itu, bukan, bukan suara Ayahnya melainkan Kakek gadungannya.

"Halo Kek!" Gracia menyahut panggilan si Kakek dengan riang.

"Kakek bentar lagi nyampe di klinik."

"Eh? Hngg… kalo bisa keliling dulu aja, Gracia tungguin."

Telepon mati lagi.

"GAESSSS GAWAT! BABEH SAMA KAKEK MAU KESINI!"

"Bagus dong." kata Masamune kalem.

"Bagus darimana?! Gracia bilang ke mereka kalau Gracia udah jadi dokter."

"APUAH?!"

Pacar

Sun Quan sama Sun Ce baru nyampe di kos-kossan mewah yang mereka tempati, pas mereka berdua baru masuk mereka ngeliat Xu Zhu lagi asik makan, mereka berdua pun naik tangga untuk ke lantai dua, pas dilantai dua mereka ngeliat dua perempuan dari pintu kamar yang berbeda, Sun Ce nunjuk seorang perempuan yang keluar dari pintu sebelah kanan.

"Dia ceweku," bisik Sun Ce pada Sun Quan, reaksi Zhou Yu cuman menyipitkan matanya kek yang ga percaya. "lucu, cantik, kek surga."

"Kak, kata-katanya saring dulu, emang lu pernah ke surga?"

"Belum."

"Mati aja belum."

"Ntar aja abis nikah."

"Jangan becanda kaya gitu."

Kedua perempuan yang tingginya beda jauh itu berjalan kearah mereka, tetapi perempuan dengan dress merah pas mau jalan gabisa. Bisa dibilang tuh dua perempuan yang keluar dari kamarnya pacar kakak-adik ntu.

"Daqiao, ayo."

"Mau jalan tapi gabisa."

Sun Quan melihat kearah perempuan bernama Daqiao itu.

"Tuh cewe kenapa?"

Perempuan yang lebih tinggi dari Daqiao itu membalikkan badannya.

"Kenapa gabisa?"

"Bajunya nyangkut."

"Yaelah..."

"Ga ada niat buat bantuin gitu?"

Sun Quan facepalm. "Tinggal dibuka pintunya, apa susahnya sih?..."

"Yaudah buka aja pintunya." saran temannya itu.

"Oh iya ya, bisa dibuka pintunya." Daqiao pun membuka pintunya, dan membebaskan sebagian dressnya yang nyangkut tadi.

Melihat kejadian itu, Sun Quan makin ga percaya. "Kak, itu yang kecil beneran cewe Kakak?"

"Iya dong~ Kakak sayang banget sama dia." jawabnya dengan wajah bangga.

"Suaranya emang begitu?"

"Iya, kaya tikus linglung." terus Sun Ce monyongin bibirnya terus ngebuat suara tikus. Adeknya cuman bisa ngeliat sang Kakak dengan tatapan aneh.

Telepon Umum

Suatu ketika, Nobunaga ingin menelpon sang istri dari telepon umum karena hapenya raib entah kemana. Nobunaga masukin koin ke telepon umum itu, dan menekan tombol angka sesuai nomor hape sang istri, tetapi yang didapat bukan suara sang istri namun suara sang operator.

"Maaf, koin yang anda masukan tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, silahkan masukan koin lagi."

Nobunaga memasukan koin ke telepon umum itu.

"Lagi,"

Nobunaga masukin koin lagi ke situ.

"lagi,"

Nobunaga masih dalam mode penyabar, jadi doi layanin lagi tuh si operator dengan memasukan koin.

"lagi."

Permintaan yang ketiga ini membuat Nobunaga kesel pada sang operator.

"Ini kenapa sih? Ni operator miskin receh ya?"

Untung terakhir kalinya Nobunaga memasukan koin terakhirnya.

"Udah bisa sekarang?"

"Silahkan lanjutkan."

"Sip, daritadi kek kaya gitu." Nobunanga mendengus kesal. "Halo, istriku sayang."

"Maaf, telepon umum ini sedang mengalami gangguan."

Nobunaga menarik nafasnya, dan mengeluarkan secara perlahan mencoba untuk sabar. "Mbak, saya sudah memasukan koin yang banyak sampe di dompet receh saya abis, kosong. Mbak mau nipu Raja Iblis kek saya? Saya baru bilang 3 kata udah mati." Nobunaga mulai komplen kepada sang operator.

"Anda siapa sih sebenernya? Mitsuhide, kamu ingin ngejailin saya ya?"

"Silahkan mencari telepon umun lain."

"Mbak jangan kaya gitu dong Raja iblis juga manusia gabisa diginiin, saya cuman mau nelpon istri saya." Nobunaga megang dada lebay. "Koin udah abis, dompet receh saya udah kosong … sekarang saya disuruh nyari telepon umum lain?!"

Katanya Raja Iblis kok manusia?

"Silahkan cek tensi darah anda."

"OGAH!"

Nobunaga menaruh kembali gagang telepon ke tempatnya semua, lalu mencari telepon umum lagi sambil ngedumel ga jelas di jalan.

Harga

Di suatu konbini tempat Zhang Chunhua bekerja, Tante satu ini lagi ga ngelayanin pembeli, lalu dia menelpon sang suami tercinta. Suaminya yang ada di ujung sana seneng karena ditelpon sama istrinya, maklum pas mau nelpon yang didengar cuman suara si operator. Lagi asik nelpon ada seorang pembeli berkacamata datang, telepon tidak dimatikan jadi sang suami bisa mendengar percakapan sang istri yang melayani pembelinya.

"Bisa saya bantu?"

"Dadanya berapaan ya?"

"Lima puluh ribu."

Suami si Tante yang mendengar itu cuman kaget, dada di hargain lima puluh ribu.

"Kalo pahanya berapaan ya neng?"

"Seratus ribu."

"Kalo semuanya?"

"Jadi seratus lima puluh ribu."

Suaminya mulai bingung mendengar percakapan anatara istrinya dengan sang pembeli.

"WADUH?! Ini maksudnya apa sih yank? KOK BADAN KAMU MAU DIKASIHIN KE ORANG?!" teriak suaminya dari telepon agak panik.

"Maaf ya, aku lagi sibuk, ntar malem kita dinner ya dah~"

Telepon pun mati.

Di dalam sebuah mobil sang suami masih kepikiran soal tadi. "Masa dada sama paha cuman seratus lima puluh ribu, murah amat."

END

:v dorabel yang terinspirasi dari pilem generasi kocak heuheu

tenks udah baca drebel gaje ini gaes

See you next chapter~