Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. Terserah reader ya mau nganggepnya di genderbend, ABO universe, apapun itu. TERIMA API GUA BUAT CHAP INI!
Genre: Humor receh, horror untuk beberapa orang
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Rumah Sakit Jiwa Ibu & Anak
Selamat Membaca
Suatu hari di sebuah rumah sakit di pinggiran kota, rumah sakit itu tak terurus karena kepemilikan rumah sakit berganti, di rumah sakit itu ada tiga orang pengangguran abadi, tiga orang itu aslinya perawat disini tapi karena jarang (hampir gapernah) ada pasien jadinya mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai pengangguran. Mereka adalah Gracia, Masamune, dan Magoichi. Sekarang mereka lagi asik menatap tiga burung merpati yang sedang berjalan-jalan di teras rumah sakit, bisa ditebak mereka lagi dimanakan? Yak, lagi duduk-duduk lesehan di teras rumah sakit.
"Mago … aku bosen, kenapa ga ada pasien?"
"Siapa sih yang mau masukin orang ke RSJ angker ini?" perawat yang bernama Magoichi nanya balik kepada satu-satunya cewe di RS.
"Ni rskan bekas Nagabonar." celetuk Masamune.
"Nobunaga kali ah."
Sejam mereka natepin tiga burung merpati yang masih asik jalan-jalan di teras tanpa merasa terganggu dengan keberadaan tiga manusia pengangguran itu. Setelah menunggu berabad-abad atau karena keajaiban, sebuah bajaj berhenti di depan teras RS, dan menurunkan tiga orang manusia, yang satu melendung yang satu lagi ga, dan yang satu lagi anak kecil sekitaran umur 4 tahun.
"SUS!" teriak manusia yang perutnya ga melendung di depan.
"GA JUALAN KUE SUS MAAF!" sahut Masamune dari teras.
"GUE MANGGIL SUSTER GOBLOK! ISTRI GUE MAU LAHIRAN!"
"MAAF!"
Ketiga pengangguran itu masih asik lesehan tidak memperdulikan pasien mereka yang baru dateng.
"Betewe gaes,"
"What Magoicih?"
"Inikan bukan rumah sakit bersalin, kok yang dateng Ibu-Ibu yang mau lahiran."
"Auk, mungkin karena catnya udah mengelupas terus berubah jadi bersalin."
"Ngawur lu Mune."
"KALIAN BERTIGA JANGAN DIEM AJA TOLONGIN GUA!"
"Tapi ini bukan-"
"TOLONGIN GUA! KALO ISTRI GUA LAHIRAN DISINI GUA LAPORIN KALIAN BERTIGA KE KOMNAS HAIIH!"
"Paan tuh Komnas Haiih?" Gracia masih sempet nanya.
"Komisi Nasional Hak Asasi Ibu-Ibu Hamil."
"Ohhh..." Gracia cuman ber oh ria.
"CEPETAN BANTUIN GUA!"
"I-iya."
Singkat cerita, Istrinya udah dibawa ke dalam ruangan khusus, suaminya sama anaknya yang berumur 4 tahun menunggu diluar. Sementara ketiga perawat kita ini ikut masuk untuk memperlambat lahiran. Aneh ya?
"Dok,"
"Apa?"
"Dok,"
"Ape sih?" si dokter yang dari tadi asik nyiapin alatnya membalikkan badannya.
"Dok,"
"Ape?"
"Dokter namanya Mitsuhide ya?"
"Kok tau?"
"Soalnya kata orang, yang jadi dokter disini itu namanya Nobunaga."
Apa hubungannya sih? Dokter Mitsuhide sweatdrop. "Ibu udah selesai ngomongnya?"
"Udah Dok."
"Kalo gitu, ayo kita mulai, katana gua mana?" tanya si dokter pada perawat abadinya.
"Katana ayah ada di luar lagi parkir." sahut anaknya dengan polos.
"Maksud Ayah pedang Ayah mana?"
"Ada di antara kaki dokter." kali ini Magoichi yang nyaut.
"YANG BENER BEGE!"
"INI DOKTER MITSUHIDE!" Masamune memberikan sebuah pedang yang udah berdebu pada Dokter Mitsunahide.
"Dok kok saya mau disesar?"
"Biar cepet, ga akan sakit kok."
SET
Sang Dokter pun membelah buah kelapa yang ga sengaja ditemuin di kolong kasur.
"Ada yang mau?" tawar si dokter.
"Mau dong dok,"
Si Dokter sama si pasien asik ngobrol sambil minum kelapa sementara Gracia ngeliat ke dalam kain yang menutupi bagian bawah si pasien.
"Bayinya udah keluar Yah."
"Yaudah kalian bersihin terus bungkus pake kertas terus jangan lupa dikaretin terus kirim ke alamat yang pesen."
Masamune pasang muka keki. "Dokter, ini bayi bukan nasi goreng."
"Yaudah ntar dibungkus pake kain kafan aja, kain yang biasa dipake udah abis belum beli."
"JAH! Ni RS kaga elit." hampir Mune mengambil sang bayi lalu dibanting, aksi Masamune dicegah oleh Magoichi.
Ketiga perawat ini pun membersihkan bayi itu, pas udah bersih, dan dibungkus oleh kain putih, si bayi seperti ingin ngomong sesuatu. Gracia yang lagi gendong bayi itu penasaran, rasa penasaran Gracia nular ke kedua perawat laki-laki yang lagi bersamanya. Mereka bertiga melototin tuh bayi.
"Men-"
"Men-"
"Mendokusei."
Ketiga perawat ini bengong. Setelah reaksi kaget berjamaah Gracia langsung memberikan si bayi pada Ibunya. Magoichi pun memanggil suaminya, bukan untuk menemui istri, dan anaknya yang kedua, melainkan menemui sang dokter.
"Semuanya jadi 25 juta."
"Ini, terima kasih ya dok." suaminya memberikan segepok uang pada si dokter.
"Sama-sama, jangan kembali lagi, ini RSJ bukan RSB!"
Setelah keluarga sakinah mawadah warohmah itu pergi dengan damai. Si dokter menghela nafas, baru kali ini si dokter membantu orang lahiran, cape, harusnya kelapa mujarab yang tadi dia temuin bukan untuk si pasien melainkan dirinya. Si dokter kembali ke ruangannya, dan berdoa pasien selanjutnya normal.
Ketiga perawat kembali menganggur. Sekarang mereka lesehan lagi, duduk ala di warteg, sama ngerokok seenak jidat di deket pintu masuk. Gracia sama Mune ga ngerokok, yang ngerokok seenak jidat cuman Mago padahal di tembok udah ada tulisan 'DILARANG MEROKOK!' dengan font 72, dan tulisan itu di depan mata Magoichi.
Maen ular tangga.
Maen bekel.
Gangguin kucing yang lagi ena-ena.
Maen hape.
Nonton tipi.
Ngusir cicak yang lagi pacaran.
Nyoret-nyoret tembok pake krayon.
Gitu terus kerjaan mereka bertiga sampai pintu rumah sakit terbuka secara perlahan. Ketiga perawat kita ini langsung auto fokus ngeliat ke pintu. Dari balik pintu muncul seekor landak, dan errr … mungkin perempuan, masalahnya satu, perut doi melendung terus kek yang pake wig.
"Permisi, ini temen saya kembung kebanyakan minum air, apakah ada dokter yang bisa nolongin temen saya?" tanya si landak pada ketiga perawat di depannya.
"Maaf, dokter kami itu dokter jiwa, bukan dokter kandungan." jawab Masamune.
"Tapi di plang yang ada didepan tulisannya rumah sakit bersalin Ibu & Anak."
Masamune nunjuk Magoichi. "Apa kata gua juga tulisannya berubah dari jiwa ke bersalin."
"Ya terus?" Magoichi melihat ke arah si landak. "Maaf, Pak errr… dokter kami bukan dokter kandungan."
"Tapi ini temen saya udah pucet, mau ya mas, mbak tolong saya." si landak pasang muka melas.
"I-iya deh, lewat sini."
Akhirnya ketiga perawat ini pun mengantarkan si landak, dan temennya ke ruangan dokter Mitsuhide. Mitsuhide terkejut mendapat pasien yang aneh lagi.
"Ini kenapa lagi?" tanya si dokter pada si landak.
"Ini dok, temen saya kembung selama 9 bulan."
Mitsuhide kaget, kembung perasaan ga gini amat. "Sebelum 9 bulan itu temen anda ngapain?"
"*,*,* gitu dok."
Si dokter mantan pemain iklan sampo facepalm, terus geleng-geleng. "Minum airnya itu kebanyakan, makanya pake dispenser biar ga keluar kebanyakan," si dokter mulai ngelantur. "terus biar ga bocor tempat minumnya pake *."
"Ohh gitu ya dok." si landak manggut-manggut.
Gracia nyolek bahu Ayahnya, terus ngebisikin sesuatu. "Yah, yang ini gabisa keluar dari bawah, ada nyumbat, kudu sesar."
Dokter Mitsuhide ngangguk aja. "Pak, saya masuk kedalam dulu ya, teman anda harus di sesar."
"Baik, dok saya tunggu diluar."
Mitsuhide, dan Gracia pun masuk ke dalam ruangan itu, dan mulai bekerja, seperti biasa sesar ala Mitsuhide itu pake pedangnya, dengan sekali bilas err sekali gesek … sekali gores(?), mereka mengeluarkan seorang bayi dari dalam perut temen si landak, setelah itu bayi dibawa oleh Gracia untuk di bersihkan, sementara perut temennya di jahit oleh si dokter. Betewe proses ini tanda ada bius membius, dan tidak ada rasa sakit.
Setelah dibersihkan, diberikan selimut buluk, bayi itu dikasihkan ke temennya si landak, dan si landak pun diperbolehkan masuk ke ruangan untuk bertemu dengan temannya.
"Ba-"
Bayi itu mau mengatakan sesuatu, yang ada di ruangan langsung ngeliatin si bayi.
"Ba-"
"BAKAR!"
Setelah itu, tragedi Honnoji terjadi kembali, yang tersisa dari rumah sakit itu hanya plang rumah sakit itu yang masih berdiri tegak dengan gagah, sementara bangunan rumah sakit sudah hancur dimakan api, penghuninya menghilang, namun pasien terakhir mereka berhasil selamat dari kebakaran.
END
nyahahahah ni ff terinspirasi dari ff di narto fendem, tapi ff itu lebih wah lagi tuh ff ajaib nyeritain para uke yang hamil dan NGELAHIRIN SECARA NORMAL BAYANGKAN! ANA AJA GA PERNAH KEPIKIRAN LAKI-LAKI NGELAHIRIN NORMAL! NORMAL! Ga sih ada yang lewat idung saking absurdnya...
Tenks udah baca gaes
See you next chapter~
