Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. Sengaja panjang :v cape cape dah bacanya, ga tanggung janab kalo kalian bosen.

Genre: Humor receh, horror gagal

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Balesan Review

Yagen bini Tsurumaru

Kenshin: kan namanya Lu Bu ayam jadi biar seklian ga dikira typo jadi Bu Lu aja.

Sesama ogeb :v berarti harus ogeb sama yang pinter dong

RosyMiranto18

SW.

Udah banyak api ya?

Gracia: kan dipaksa harus jadi.

Magoichi: bisa dibilang gitu (lirik kanan-kiri).

Akan dicoba lain kali.

Nobunaga: kepala delapan paling banyak…

Liu Bei: aku alim kok. Untuk saat ini.

Zhang Fei: aku ragu kalau bisa.

Bukan apa-apa hehe.

Semua: Tidak terima kasih uhuk…

Nobunaga: ga 'jelas' uhuk...

Yang tua kali-kali ngeksis

Selamat Membaca

Pagi hari di sebuah lapangan biasa tempat Lu Bu jualan sepatu KW, di lapangan sudah ada 5 orang sedang duduk lesehan sambil menikmati sarapan yang sudah di pegang masing-masing. Sebenernya yang sedang menikmati hanya 4 orang sementara yang satu lagi sambil main hape bulukberinya.

Murak Paeh(0)

Nagabonar jadi delapan

Dimana nyeng?

Xiahou Dun

gausah ngeggas njer

PijetRefleksi

lagi jalan gua sama yang lain

Nagabonar jadi delapan

jalan mane? Banyak jalan

PijetRefleksi

jalan menuju surga

Nagabonar jadi delapan

okeh gue berangkat berlima aja kalo gitu

Sun pipikanan pipikiri

EEHHHH jangan dong, kan monyet lu yang ntu cuman candaヾ( ̄□ ̄;)ノ

Nagabonar jadi delapan

dah cepetan jalannya, keburu kekuatan baru gua disegel lagi

Zerukpurut

halah kekuatan teleport ntukan baru dikasih tadi sama si Nthor

Nagabonar jadi delapan

diem lu wibu jeruk, cepetan ntar si Lu Bu keburu ngamok

Lu Bu

emang gua beruang liar?

Orokeceh

Lu mah bukan beruang, kecoa

Lu Bu

Lu sendiri ular

Motonari Mori

Bukan kecoa, bulu ayam

Setelah pesan terakhir terkirim, orang-orang yang mereka tungguin akhirnya nyampe juga di tempat perjanjian, mereka semua ngebikin lingkaran ditengah-tengah coretpulau jawacoret Nobunaga ngondangan, dan saat Nobunaga menempelkan kedua telapak tangannya, menaruh di depan dadanya mereka semua menghilang begitu saja.

POOF

Tiba-tiba mereka ada di sebuah stasiun. Tetapi pas mereka nyampe sudah malam mungkin jam 9-an.

"Dimanakah kita?" tanya Mitsuhide ala dora.

"Tanyakan peta tanyakan peta!" kata Liu Bei ala boots.

Sisanya cuman ngeliat mereka berdua dengan mata menyipit.

Gini-gini amat gua punya babu.

Kami tidak punya kakak penggemar dora.

"Ehem, ada yang bisa ngasih tau ini dimana?" tanya Diaochan pada Nobunaga.

"Ini di stasiun mangga arum manis." jawab Nobunaga sotoy.

Cao Cao noyor pala Nobunaga. "Yang ada juga Manggarai bos."

"Iya maksud gue itu."

"HUWAAA! Banyak kereta~" Yueying takjub melihat banyak bangkai kereta disitu.

"Mah, jangan kaya anak kecil dong." Zhuge Liang merasa malu melihat tingkah istrinya kek bocah dikasih maenan baru.

Lengan jas hitam yang di kenakan Cao Cao ditarik tanpa jeda oleh seseorang, Cao Cao merasa risih, lalu membalikkan badannya.

"JENGLOTTT MENAMPAKKAN DIRINYA!" jerit Cao Cao anpaedah, dan doi nyumput di belakang Nobunaga. Yang iseng narik jas Cao Cao ntu sebenernya Guan Yu.

"Hiro of keos kok penakut?" Liu Bei ngecein Cao Cao.

Cao Cao keluar dari persembunyiannya. "Gu-gua cuman kaget."

"Halah, gausah ngeles kalo takut bilang aja." Liu Bei pasang senyum mengejek.

Cao Cao diem aja ga kepengaruh sama senyum Liu Bei yang lebih keliatan senyum tulus daripada senyum mengejek.

"Tuan Nobunaga," panggil si tukang pijet refleksi ke Nobunaga.

"Apa monyetku sayang?~" sahut Nobunaga.

"Mitsuhide kemana ya? Kok ga nampak lagi?"

"Katanya sih, mau jalan-jalan nyari temen baru~"

"Terus ga dicari nih?"

"Dicari, kalo udah kita udah mau pindah lapak."

Disuatu gerbong kereta, tempat Mitsuhide berada.

"Hai~" sapa Mitsuhide pada seorang cewe berbaju pink.

"Hai juga." cewe berbaju pink nyapa Mitsuhide balik. "Mas kenapa ada disini? Kan udah malem?"

Mitsuhide pasang muka sok ramah en manis. "Lagi nyari temen baru saia."

"Mas mau add ID lain saya?" tawar si cewe.

"Boleh deh apa namanya?" tanya Mitsuhide sambil mengeluarkan hapenya dari kantong celanaya.

"Mas cakep deh."

"Gausah muji gitu, saya jadi malu."

Si cewe sweatdrop. "Maksudnya yang tadi itu ID Lainnya mas."

Mitsuhide ketawa garing. "Maaf, abis IDnya aneh gitu."

"Mas masih single ga?"

"Duda beranak satu."

"Mau ga nikah sama saya?"

"Kalo kamu masih hidup, ayu aja."

Satu kata, SARAP.

Kembali lagi ke tempat sekumpulan manusia nyerempet waras, mereka sekarang lagi jalan kesana kemari, naikin gerbong kereta satu-satu, terus ada acara Yuan Shao jadi masinis, terus sisanya jadi penumpang, kegiatan mereka di stasiun ini ga lebih dari ke MKKB-an orang tua berkepala dua keatas. Lagi asik-asiknya bermain kereta-keretaan, Mitsuhide dateng dengan senyum berseri-seri, seketika kegiatan gaje mereka berhenti.

"Gaes, gua udah dapet dua temen, pulang yuk."

"Pulang kemana?" tanya Nobunaga.

"Ke hotel aquila yang ada di bandung, gua udah booking kamar buat semua. Tapi..." Mitsuhide memejamkan matanya sebentar. "gue cuman booking 2 kamar extra large, cowo cewe pisah."

Sebagian dari mereka ada yang pasang muka kecewa ada yang bahagia, bahagia pisah ranjang untuk sementara waktu, tentu yang jomblo juga bahagia.

"HEEEEE?!~ gabisa gitu ... dong."

Xiahou Dun memicingkan kedua matanya sambil melihat ke si orang yang paling kecewa. "Keliatannya situ kecewa berat."

"Guakan berencana buat bulan madu."

Pernyataan dari orang yang paling ditakuti sejaman sengoku cuman ditanggapi denga tatapan -waktu-lahiran-dikasih-makan-paan-sih-nih-manusya?-.

"Tarik nafas perlahan … lalu keluarkan sekaligus." Liu Bei mengkomandoi teman-temannya untuk tetap sabar menghadapi manusia tak tahu malu yang menjadi pemimpin perjalanan mereka. "Orang sabar pantatnya lebar. Harap bersabar ini ujian … ujian dariNya."

"Untung kita punya temen yang sabarnya selangit jadi tidak ada kekerasan." Nouhime bersyukur Liu Bei ikut acara jalan-jalan ini.

"Terus kita kemana nih? Udah jam 11 malem." kata Yueying sambil melihat jam tangannya.

"Kita langsung pindah dari nih stasiun-"

"-Ning stasiun balapan rasane koyo wong kelangan hmph?!" Sun Jian memotong perkataan Nobunaga, kemudian mulut Sun Jian disegel oleh bakpao milik Sima Yi.

Nobunaga tepok jidat, lalu melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong. "Mangga arum manis ini."

"Manggarai." koreksi Ieyasu.

"Maksud gue itu, ayo kita buat lingkaran lagi."

Nobunaga pun menggiring kawanannya ke tempat yang lebih luas untuk pindah lapak dari stasitun manggarai, setelah membuat lingkaran, Nobunaga berjalan ke tengah-tengah, dan seketika mereka menghilang dari stasiun manggarai. Dalam sekejap mereka berpindah tempat ke depan hotel aquila.

"Wihhh keliatannya ga angker ya manceman." kata Zhang Fei sambil mengelus jenggotnya.

"Hmm, ini baru luarnya doang tapi auranya udah beda." Nobunaga mainin kumisnya.

"Maksude?" tanya Cao Cao.

"Temen-temen tuan Nobunaga ada banyak di hotel ini." Mitsuhide manggut-manggut, sambil nopang dagu.

"Ghut ghut, kamu memilih dengan cermat." Nobunaga S3.

Orochi berjalan ke samping Nobunaga. "Kayaknya bakal rame." Orochi mengikuti jejak Nobunaga, berS3 ria.

"Ini bukan acara dunia lain ataupun uji nyali." Guan Yu pasang muka keki.

"Kayaknya disini ada yang mau silahturahmi dengan teman lama ya." Zhang Liao ketawa garing.

"Lebih baik kita check-in dulu, silahturahmi belakangan."

Mitsuhide pun check-in, selagi menunggu sebagian dari mereka ada yang berkeliling hotel silahturahmi, ada yang ke toilet, ada yang duduk-duduk di sofa empuk di lobi. Kejadian aneh di dalam hotel ini dimulai dari ketiga manusia hijau, biru, dan merah sedang di toilet.

Mereka bertiga lagi asik ngaca, lalu di detik selanjutnya ada bunyi kran wastafel kebuka, lalu suara air mengalir, mereka bertiga masih belum sadar, diantara mereka bertiga tidak ada yang lagi cuci tangan.

"Kalo udah cuci tangan, tutup kerannya." kata si biru pada dua orang di sebelah kirinnya.

"Aku ga cuci tangan kok." si hijau masih asik memperbaiki tatanan rambutnya.

"Gua lagi nyisir bukan cuci tangan elu kali yang lupa nutup krannya." si merah asik nyisir rambut sambil nyabutin rambut kering di kepalanya.

"Gua lagi ngerapihin rambut."

"Jangan gitu ga lucu hantu jeruk purut KW!" si hijau nendang kaki si biru agak keras.

"Aslian lu kagak liat kedua tangan gue lagi dikepala?!" si biru ga terima dituduh sembarangan sama si hijau.

Si hijau, dan si merah melihat ke arah si biru, terus diem pura-pura gatau soal air mengalir yang terus mereka dengar. Hening, suara air mengalir masih mengganggu pendengaran mereka di dalam toilet. Mereka masih menutup mulut, setelah selesai dengan kegiatannya mereka melirik kanan-kiri dengan pelan, melihat setiap kran wastafel, tiga pasang mata melihat ke kran yang paling ujung di sebelah kanan, dari kran itu keluar air terus. Si hijau memaksa si biru untuk menutup kran itu tetapi setelah ditutup, kran itu tetap mengalirkan air, warnanya berbeda, seperti warna darah. Ketiga manusia yang ada di dalem toilet itu ketawa garing bersamaan.

"Mas, jangan sulap dong, jangan bikin suasana jadi horor." muka si merah memucat.

"Maaf ya, saia gabisa sulap tuh."

Si hijau nyikut si biru, matanya udah berjendela-jendela. "Kayaknya ada yang lagi galau deh, kita keluar yuk dari toilet."

Atas saran si hijau, mereka bertiga pun keluar dari toilet, pas keluar dari toilet mereka bertiga melihat Zhenji keluar dari toilet perempuan, tanpa berpikir lebih dalam mereka cuman senyum doang ke Zhenji, tapi pas mereka lagi jalan kembali ke tempat berkumpul, yang lagi duduk-duduk di sofa ples Mitsuhide sudah menghilang. Karena mereka menghilang tanpa jejak, Cao Cao langsung ngecek grup di hape.

"Betewe, jeruk, kenapa si Zhenji ada disini? Di culik si kuning?" tanya Liu Bei.

Kedua mata Cao Cao masih menatap layar hapenya. "Hmm ... setau gue ya Bei, Zhenji lagi dikurung sama si Cao Pi, jadi gamungkinlah doi diculik sama si kuning-kuning ngambang itu." Cao Cao masih fokus ke layar hapenya. "Karena kalo pas gue lagi pergi cewe-cewe suka arisan, jadi untuk menghindari uang tabungan abis, jadi doi kurung tuh istrinya."

"Tapi yang kita liat itu Zhenji kan tadi?" Liu Bei pasang muka panik.

"Kata Mitsuhide kamar kita ada di lantai satu nomor 5."

Tingkah Sun Jian udah mulai kaya orang abis ngeliat setan, terus nyikut pinggang Cao Cao tidak berperasaan. "MANIAK JERUK!"

"Ape?" Cao Cao menengok ke arah Sun Jian.

"Itu Zhenji jadi-jadian berdiri di belakang kita, terus ngeliatin kita, matanya warna merah..."

"Dalam hitungan 3 kita lari, kompakan okey?"

Sun Jian sama Liu Bei ngangguk.

"Tarik nafas, lalu keluarkan perlahan." Liu Bei mencoba untuk menenangkan diri.

"1..."

"2..."

"30!"

"KATANYA ITUNGAN TIGA BEGE?!"

"TIGA PULUH KAN ADA ANGKA TIGANYA!"

"MAHIA NYENG!"

Mereka bertiga pun berlari ke lorong kamar dengan kecepatan max, dibelakang mereka ada 'Zhenji' mengejar mereka.

Sun Jian nengok ke belakang, 'Zhenji' masih berlari ke arah mereka yang makin cepat. "CEPETANNNN! TUH HANTU NGEJAR!" Sun Jian mepercepat langkah kakinya.

"JANGAN TERLALU CEPET BELOON!" Cao Cao narik tangan Sun Jian sama Liu bei, terus doi ngedrift pas belok kanan.

"LU BELAJAR DARIMANA?! NGEDRIFT TANPA PAKE MOBIL!" Liu Bei takjub.

"UDAH GAUSAH BAHAS SOAL GUA NGEDRIFT TADI LEBIH BAIK PEGANGAN YANG ERAT KITA AKAN NAIK TANGGA!"

"THE HELL?!"

Liu Bei melihat ke arah belakang, mahluk yang ngikut olahraga bareng mereka makin mendekat.

"INU ARTINYA ANJINGGGG! TUH MAKHLUK MAKIN DEKET! GAS TERUS!"

"KITA GA LAGI NAIK MOBIL AHO!"

"TERUS TADI LU BISA NGEDRIFT GIMANA?!"

"POKOKNYA KITA SELAMAT DULU DARI KEJARAN TUH MAKHLUK!"

Mereka bertiga menaiki tangga seirama no tarik-tarik tangan or nyeret-nyeret kerah baju. Udah sampe atas mereka berhenti dulu buat narik nafas, di detik selanjutnya mereka lanjut berlari sambil mencari nomor kamar lima, sesampainya di kamar nomor lima mereka bertiga gedor-gedor tuh pintu ga pake perasaan sampe bikin si pintu jadi copot.

"Kalian kenapa sih? Dateng-dateng ngerusak pintu kamar." Orochi berjalan ke depan mereka.

Mereka nengok ke belakang, tuh mahluk berjalan ke arah mereka.

"AYO KITA TUTUP KAMAR INI!"

Setelah membenarkan posisi pintu yang mereka tabrak ke semua, mereka terduduk perlahan ke lantai. Muka mereka pucet, nafas terengah-terengah kek orang yang abis dikejar anjing liar.

"Itu tadi ada SETAN."

"Tapi kami tidak liat apa-apa tuh di lorong."

Perkataan Zhuge Liang memperburuk jantung ketiga warna dasar itu, seketika ketiga warna dasar itu tepar di tempat.

"Yah… tepar." Zhuge Liang kipas-kipas. "Emang gue salah ngomong ya?"

Sima Yi mukul pala Zhuge Liang pake kipasnya. "Salah lah BUEGO, orang baru liat penampakan malah ngomong gitu ga baek buat kesehatan jantung." kata Sima Yi sambil nunjuk-nunjuk dadanya.

"Nyeh, serah dah, gua mau tidur aja."

"GUA YANG TIDUR DI KASUR ELU MAH DI LANTAI SONO!"

Xiahou Dun memijit dahinya. "Cape, cape gua … jangan-jangan keriput gua nambah kalo bareng kalian."

"Emang udah keriput kali." celetuk Lu Su.

"Lu juga keriput nambah noh." bales Xiahou Dun.

"Tandanya gua sehat."

"Sehat di mata manusia sarap." Xiahou Dun pun pergi ke dalam kamar mandi.

Beberapa mereka udah ada yang tepar di atas kasur saling menimpa, saling nampar satu sama lain, kecuali Nobunaga, Orochi, Mitsuhide, dan Hideyoshi. Mereka main kartu sampe tengah malem abis itu tidur di lantai berkarpet karena kasur udah penuh dengan manusia keras kepala, dan kamar mandi dijauhi becoz samting. Namun mereka berempat baru saja terlelap dari arah kamar mandi ada yang nyiram lantai, dan suara ember yang ditendang-tendang, samar namun menganggu. Akhirnya untuk menghentikan kejahilan di dalam kamar mandi Nobunaga langsung ngebuka pintu kamar mandi tanpa pikir panjang. Pas dibuka pintunya, Nobunaga melihat seekor pocong sedang berdiri di tengah-tengah, si pocong nyengir ke Nobunaga, Nobunaga nanggepin cengiran si pocong biasa aja, tampang pokerpes terpasang.

Betewe jangan dipikirin soal pocong nendang-nendang ember sama nyiram lantai.

"Mas, saia sama temen saia mau tidur, tolong jangan berisik." walau tampang pokerpes mata nutup sebelah.

"Tapi ini kerjaan saya tiap malem." balas si pocong.

"Berhenti atau gue jedor lu ditempat." ancam Nobunaga dengan pistol (air) masih ngutang ke Masamune. Jangan lupa matanya masih nutup sebelah.

"A-ampunn, i-iya deh ana berhenti."

Setelah si pocong menghilang, mereka berempat pun tidur dengan setengah damai. Keesokan harinya, mereka mandi ganti baju tanpa hambatan hanya saja…

"Ngapain lu ngeliatin gue kaya gitu iri ya sama badan wah gue?"

"Badan kek cacing keremi gitu aja bangga."

"MASIH GEDEAN JUGA GUA DARIPADA ELU!"

"LU SEMUA KALAH SAMA DING FENG UDAH DIEM!"

"GAUSAH NGEGGAS NJENG!"

"GUA BUKAN ANJENG! GUA HARIMAU!"

"YAUDAH GAUSAH NGENGGAS!"

"SITU YANG DULUAN NGEGAS!"

"Udah-udah, keriput gua kayaknya nambah lagi nih."

"Pada gede semua."

"Apanya?"

"Apanya apa?"

"Yang gede?"

"Tuh ototnya."

"Gue makin hari makin seksi ya?"

"Seksi dari hongkong?!"

"Gausah pake kuah, pliss."

Begitulah percakapan rada ambigu, kita pindah yuk ke kamar 6 tempat cewe-cewe. Di dalam kamar damai ga kaya kamar cowo yang ribut kek ibu-ibu arisan, mungkin karena emang mereka jumlahnya lebih sedikit daripada cowo, cuman kalo setiap kali mereka ngeliat G aka sahabat jauhnya Lu Bu, mereka yang melihat si G itu akan berteriak kenceng banget, teriakan akan berhenti saat Yueying membunuh si G itu.

Beberapa menit kemudian setelah semua sudah siap, Nobunaga menggiring mereka ke teras hotel untuk pindah tempat. Pas mereka pindah, dua orang dari mereka hilang.

"Eh ini panitia yang ngadain acara jalan-jalan ngilang." kata Mitsuhide tenang

"KAZONUNUKE-SAMA NGILANG?!"

"Belepotan gitu nyebutnya..."

"Efek panik meur..."

"Sebenernya ini ada di mana sih?"

"Gatau, di depan kita ada lubang."

"Betewe, uler kita juga ngilang."

Semua terdiam, lalu tersenyum lebar kecuali Nouhime, doi masih panik mencari suaminya kesana-kemari.

"Tinggalin aja yuk, biarin aja toh yang ilang dua manusia jadi-jadian gitu." ajak Cao Cao pada kawan-kawannya.

"Iya mereka berdua pantes ditinggal." Yuan Shao ikut-ikuttan.

"Didalem sini ga buruk juga."

Mereka mendengar suara Nibunaga dari dalam lubang tersebut, terus langsung melototin tuh lubang.

"Sempit sih tapi ga buruk."

Sekarang mereka mendengar suara Orochi. Hideyoshi, Ding Feng, dan Tadakatsu Honda didorong sampe di deket lubang ntu, ga berapa lama muncul kepala Nobunaga dari lubang tersebut.

"Kalian bertiga tarik si Nagabonar, kepalanya copot juga gapapa, aku ikhlas." kata Liu Bei sambil pasang tampang pokerpes.

"Betewe badan si Nobu sama si Oro kan gede kok bisa masuk sih?" Sima Yi nopang dagu.

"Udah gausah dipikirin ntar otak kamu overlord."

"Overload." koreksi Yu Jin.

"Iya maksud gue itu."

"Mungkin karena pake pelicin kek minyak jalantah gitu."

"Atau pas pindah tempat tadi mereka berdua inginnya di dalem lubang sono."

Tiba-tiba mereka berpindah tempat lagi.

"OEMJI HELLOW~ kok kita tiba-tiba ada di depan taman Rangsat sueeh?" penyakit alay Zhuge Liang kumat seketika.

"Itu mah RANmaru BanGSAT, ini mah LANGSAT." koreksi Lu Su.

"Oke-oke, tapi kenapa udah malem lagi? Bukannya tadi masih pagi?" tanya Zhuge Liang.

"Kita teleport sesuai dengan keinginan kita sendiri termasuk dengan pagi siang malamnya." jelas Nobunaga. "Jadi ada yang mau masuk?" tanya Nobunaga.

"Ikut semuanya aja deh, biar ga mencar-mencar." saran Lu Meng.

"Mbah takut ya sama yang sebangsa kek Nobunaga gitu?"

"KAGAK!"

Mereka pun berjalan ke gerbang masuk, di gerbang masuk mereka disambut oleh genderuwo, dengan senyum lebar sambil nodongin pistol aer, Nobunaga, dan kawan-kawan berhasil masuk dengan paksaan, akhirnya si genderuwo itu jadi pemandu wisata atas pemintaan(paksaan) Nobunaga. Lagi asik jalan-jalan dengan pemandu wisata yang gak biasa, mereka melihat banyak lontong berloncatan kesana-kemari, bermain bola, terus selama mereka jalan-jalan di dalam taman itu ada beksong ketawa kuntilanank yang sedang bergelantungan kek monyet di atas pohon.

"Beksong ketawa kuntinya ga selow, gue ingin ngelempar sendal selow rasanya." Ujiyasu megang sendal selownya di tangan kanan.

"Slowly to be calm."

"Kagak nyambung lu Dun."

"Suka-suka gua, mulut-mulut gua, kalo gua ngomong nyampur kek si Masmun yang ntu juga bukan urusan lo."

"Gue sambit lu lama-lama pake sendal kebanggan gue ini." kata Ujiyasu sambil nodongin sendalnya ke muka Xiahou Dun.

2 Jam mereka keliling-keliling gaje di taman itu, ada yang selfie sama penghuni disana(batur mah takut ini selfie), ngancem penghuni satu-satu dengan pistol aer biar jadi budaknya, dikejar-kejar sama tuyul, balap karung sama pocong, ikut ketawa sama kunti dan hal lain yang tidak akan dilakukan oleh orang biasa. Setelah puas di taman itu, mereka keluar dari taman itu dengan muka puas.

"Ternyata ga seseram yang gue bayangin."

"Betewe mau kemana lagi gays?"

"Ohok … ohok … jalan-jalan sama kalian tidak menyehatkan."

"Siapa yang bilang jalan-jalan sama kita ente bakal sembuh?"

"Udah 2 ribu lebih nih, tamatin ajalah." Lu Meng pasang tampang kek emot iykwim.

"Tanggung 3 ribu." tawa Lu Su kek mamang di pasar.

"Terus mau kemana?"

"KE SEKOLAH SMANMA BANDUNG YUK!" ajak Hisahide sambil muterin. "KITA KETEMU NENSI!"

"SMA 5?" Nobunaga mengangkat sebelah alisnya.

"Pantes rambut item putih gitu, sukanya sama noni-noni belanda."

Hisahide nyikut Sun Jian. "Apa hubungannya?"

"Sama-sama jadul."

"Ga nyambung lu." Shingen memukul mulut Sun Jian dengan kipasnya.

"Sebelum itu, ada yang mau pulang?" tanya Nobunaga.

Cewe-cewe yang ikut sama mereka pada angkat tangan, sementara sebagian yang cowo juga ada yang ngacungin tangan, mungkin mereka takut keriputnya nambah jadi lebih memilih pulang. Jadi yang tetap ikut ke sekolah itu adalah Nobunaga, Hisahide, Mitsuhide, Shingen, Kenshin, Mori, Ujiyasu, Liu Bei, Sun Jian, Cao Cao, Xiahou Dun, Lu Meng, Zhuge Liang, Sima Yi, dan Orochi. Setelah mereka sampai di depan gedung SMA 5, mereka berdiskusi dahulu, karena setelah Mitsuhide searching soal sekolah itu, Mitsuhide nemu dua cerita horror yang ada di sekolah itu.

"Ayo bagi kelompok!"

Xiahou Dun menginjak kaki Nobunaga agak keras. "SSSSTTT … kalau kita ketahuan satpam sekolah berabe njerr."

"Biasa aja gausah ngeggas nying."

"Dipilih sepihak aja ya biar cepet."

"Serah-serah."

"Pertama yang keliling tiga kali buat biar ketemu si nensi. Nobunaga, Ujiyasu, Cao Cao, Zhuge Liang, Orochi, dan Hisahide. Sisanya ke ruang musik."

"AKU TYDACH MAU PISAH DENGANYAH!" teriak Liu Bei alay terus matanya berair. "AKU DENGANNYA UDAH KAYA INDUK DAN ANAK KOALA!"

"Pisah sama yang ini?" Kenshin nunjuk Cao Cao, "Atau yang ini?" telunjuk Kenshin berpindah ke depan muka Zhuge Liang.

Liu Bei mengibas-ngibaskan sebelah tangannya. "Ga dua-duanya, tadi penyakit alay, dan lebay gue kambuh."

"Kalo gitu ayo kita pisah."

Mereka pun berpisah, yang ke ruang musik udah duluan masuk ke dalam gedung sekolah, sementara yang kebagian keliling sekolah masih diem di depan pintu masuk.

"Maksudnya keliling tiga kali itu, kita muterin ni sekolah atau keliling kesana kemari dulu?" tanya Hisahide.

"Ai dunno sih yach." balas Nobunaga.

"Terus?..."

"Keliling aja yok sambil manggil doi, daripada..."

Srek srek

"THE HELL IS DAT?!"

"Meow..."

"Ohh kucing toh..." terus mata Orochi melirik ke Nobunaga.

"Apa ngeliatin gua kayak gitu?"

"Ga."

Mereka pun memasuki SMA 5, mereka pun berjalan-jelan di daerah lantai satu sambil memanggil nancy, si hantu berwujud noni-noni Belanda yang suka muncul di sekolah SMA 5.

"Nensi!"

"Nensi mah itu geuning cek tekanan darah."

"Itu tensi nyeng."

"Selow bang."

"Lu bikin gua naik darah mulu."

Cao Cao nunjuk seorang cewe dengan gaun berenda panjang di depan mereka. "Ssstt… yang itu bukan?" Cao Cao nyikut Hisahide tanpa henti.

Hisahide melihat ke arah yang Cao Cao tunjuk. "Keknya si nensi, kayaknya..."

"Kan situ yang mau ketemu kok situ bingung."

"Gue belum pernah ketemu noni-noni belanda masalahnya."

"Ah elu." Ujiyasu ngegetok kepalanya pake sendal.

"Eh eh eh, liat dia dadah-dadah ke kita."

Mereka dadahin balik, terus nancy berjalan perlahan mendekati mereka, muka mereka memucat, lalu membalikkan badan.

"1..."

"2..."

"100!"

Cao Cao udah lari duluan mendahului, mereka cuman diem ngeliatin salah satu dari mereka udah kabur duluan.

"ANGKA SERATUS KAGAK ADA ANGKA TIGANYA NYENG!" protes Zhuge Liang.

"Selow ajalah, toh si nensi ga ada niat apa-apa."

"Terus maunya apa?"

"Ngikut jalan sama kite-kite yang ganteng ini." Nobunaga nyengir-nyengir ga jelas.

"Hantu aja masih dikejar, mesum lu. Mentang-mentang bohay." Hisahide nendang kakinya Nobunaga.

"Gue ini, bukan elu."

Zhuge Liang ngeliat ke arah belakang. "Tapi beneran lho si nensi-nensi itu berjalan di belakang kita."

Perkataan Zhuge Liang, membuat mereka mempercepat langkah kaki tanpa sadar.

"Katanya selow aja kok jalannya makin cepet ya?" tanya Zhuge Liang pada orang yang paling depan.

"Kebelet hahahaha, situ sendiri kenapa cepet jalannya?"

"Tentu saja, saya tidak mau jadi tumbal atas keinginan anda."

"Tumbal? AHA!" diatas kepala Nobunaga muncul bohlam pecah. "Hisahide elu berdiri di belakang Zhuge Liang."

"OGAH! GUE KAGAK COCOK JADI TUMBAL!"

"Kalian..."

"AAAAAAAAA!"

Mereka pun berlari keluar gedung sekolah. Sesi ketemu Nancy sudah selesai, kita pindah lapak yuk ke ruang musik. Di dalam sana katanya suka terdengar piano berbunyi, mereka sih keknya lupa kenapa mereka ke ruang musik, habisnya … mereka malah bermain musik yang ada di ruang musik ala band, Mitsuhide main piano, Shingen drum, Kenshin angklung, Mori flute, Sementara Liu Bei, Sun Jian sama Sima Yi megang mic, dua lagi cuman nontonin mereka.

Liu Bei: Bokura hitokumi no SHUUZU sa

Itsumo issho sa demo majiwaranai

Sun Jian: Bokura nasareru ga mama

Hito ga aruku kara bokura ugoku yo

Sima Yi: Boku wa migiashi no SHUUZU sa

Kimi wa hidariashi no SHUUZU

Hashiru no wa sorya tanoshii keredo

Kimi wa tsukarete shimawanai kana

Ame ni nurete mo kamawanai

Demo kimi wa samukunai kana

"Manusya-manusya galau." bisik Xiahou Dun pada Lu Meng. Lu Meng sih manggut-manggut aja, tapi jauh di palung hatinya yang terdalam doi ngikut galau, lagu yang dibawakan mereka menyentuh jantung seorang Mbah.

Setelah bernyayi lagu sepatu dalam bahasa jepang, mereka ngobrol-ngobrol di depan alat-alat musik tidak ada dari mereka yang berdiri di dekat piano berada, tetapi samar-samar mereka mendengar piano berbunyi, lagunya berbeda namun tetap lagu galau.

"MITSUHIDE!" panggil Kenshin ga selow.

"APA?!" bales Mitsuhide yang ada di sebelahnya.

"LU TADI MAIN PIANO YA?!"

"DARITADI GUA ADA DI SEBELAH KANAN LU NYENG!"

"Gausah pake acara ngegas pliss..." Lu Meng berusaha menghentikan penggunaan caps yang berlebihan.

"Terus siapa yang main?" tanya Liu Bei.

"Muka lu gausah datar-datar amat nyeremin tau ga." Sun Jian menggaplok muka Liu Bei pelan banget.

"Muka gue dari lahir udah gini mas."

"Hei..." seseorang menepuk bahu Xiahou Dun.

"AAAAAAAAAAA!"

Tiba-tiba mereka kecuali si pelaku penepukan bahu teriak, lalu lari meninggalkan si pelaku.

"Guekan cuman nepuk kok langsung teriak sih?" tanya si pelaku yang ternyata Sima Yi.

Sima Yi pun berlari keluar ruang musik untuk menyusul teman-temannya. Di luar gedung sekolah mereka semua pada duduk lesehan membentuk lingkaran, mengistirahatkan diri sebelum pulang.

"Jalan-jalannya udahan?"

"UDAHAN! UDAH TIGA MENUJU EMPAT RIBU!"

"Selow aja kali mas bala-bala."

"Bakwan sekalian."

"Karena kita sudah cape lahir, dan batin kita pulang."

Poof

Di depan rumah bak mansion punya seseorang.

"Keren, langsung pindah ke depan rumah masing-masing." doi nyengir-nyengir sendiri.

Dia pun membuka pintu rumahnya.

"Selamat datang di indoapril."

Ntah darimana muncul sebuah suara, membuat di pemilik rumah bingung. "Ini indoapril atau rumah gue?"

"Mau pesan apa?"

"Ini kafe atau indoapril?"

"Ada barang tambahan?"

"Apasih ga lucu."

"Terima kasih sudah belanja di indoapril."

"INDOAPRIL NDASMU!" si pemilik rumah marah ga karuan.

ENDengan GaJenya

:v panjang sekali gaes :v sengaja ga dipotong biar sekalian satu file, ini aja ngetik kepotong ae gegara nonton Kindaichi :v jadilah 4 rebuan.

Tenks udah mau baca cerita membosankan ini gaes hiks…

MI: gausah sok imut lu!

Me: serah ana nying

See you next chapter~