Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. ga tanggung janab kalo kalian bosen.
Genre: Humor receh, horror-misteri gagal
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Balesan Review
RosyMiranto18
-_-" SW tetap setia dengan pilihan pertama.
Itu beda lagi…
Nobunaga: kepalanya ada delapan.
Liu Bei: saya masih lulus sensor.
Chunhua: hohoho~ hanya coklat ditaburi meses, dan gula.
Lu Bu: ngengantiin Liu Bei, Liu Bei lagi cuti.
Hideyoshi: aku hanya bercanda.
Mitsuhide: dia salah satu korban… hehehe
Nobunaga: tentu saja tetap gue MWAHAHAHA!
Temen-temennya… mereka.
Masamune: 1 … 10 kalau ga salah.
Yueying: G itu untuk Gokiburi aka sobatnya Lu Bu alias kecoa.
Cao Cao: satpamnya kan suka tiba-tiba muncul gitu.
Hanbei si Detektif Abal
Selamat Membaca
Kali ini si Hanbei bakal jadi detektif, detektif jenius berIQ -180 yang menerima segala kasus dari yang normal sampai absurd bersama teman-teman seperjuangannya yang terpaksa terlibat. Walaupun kasusnya aneh yang penting tiga. "Dapet duid, hidup sejahtera, dan bisa ketemu cecan dengan cup B+." Manusia bernama Takenaka Hanbei ini punya sifat mesum sodara-sodara kek Aladdin yang ada di fendem Magi sono. Tim Detektif abal ini menempati sebuah gedung berlantai lima bekas kebakaran sebagai kantor yang sudah direnovasi walaupun hanya sedikit.
Ini dia susunan organisasi di tim detektif Hanbei:
Ketua: Takenaka Hanbei
Asisten: Kobayakawa Takakage
Seksi Interogasi: Liu Shan(sehalus sutra) & Guo Jia(nyerempet kasar, khusus ngeintrogasi cewe)
Pengelola/Seksi Barang Bukti: Zhang Xingcai & Nene
Seksi Forensik: Wang Yuanji, Oda Oichi, & Zhao Yun
Seksi Pengintaian: Cao Pi & Taigong Wang
Pembantu atau Pembokat aka Kacung alias Babu: Oda Nobunaga
Susunan organisasi yang hampir nyerempet maksa, mana ada manusia macam Nobunaga mau disuruh-suruh kek babu? Adeknya ngikut ngeksis lagi, ga ada Kakak yang rela disuruh-suruh sama adek sendiri, kecuali kakaknya kek Liu Shan.
KRING~ KRING~
Xingcai yang sedang berdiri di dekat meja telepon setengah ancur langsung mengangkat gagang telepon.
"Halo dengan siapa dimana?"
"Dengan saya penelpon seberang sana."
"Ada apa?"
"Begini dok-"
"Detektif mbak bukan dokter." koreksi Xingcai agak kesel.
"Maaf, Begini emm anu ... neng, saya mau minta bantuan detektif Hanbei untuk memecahkan kasus di rumah saya, di jalan Jin Tomang No. 69, kelurahan Jin Tamrih, kecamatan Jin Wahhar, kota-"
"Chang'an."
"Bukan, di kota Luoyang."
"Idih..." gumam Xingcai agak kesal. "Padahalkan aksdjsgfek..."
"Kasusnya..."
Tut… tut … tut…
Tiba-tiba telepon mati sendiri, Xingcai mengembalikan si gagang telepon pada tempatnya dengan kasar.
"NYING TELEPONNYA MALAH MATII!"
"Xingcai, jangan ngomong kasar." kata Zhao Yun sambil mengelus punggung Xingcai bermaksud meredakan amarah Xingcai.
"Bukan aku yang ngomong, si blonde edan diujung kiri sono tuh yang teriak." kata Xingcai dengan muka datar seperti biasa sambil nunjuk Guo Jia yang lagi marah-marah gajelas sambil menggenggam hape.
"Betewe, ketua sableng kita mana?" tanya Zhao Yun.
"Auk, baca koran tahun 1997 kali."
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
DetektifHanbeiPendek
Ruang Hanbei
"Baiklah, kami Tim Detektif tidak lebay, dan 4l4y menuju rumah anda segera." Hanbei menutup telepon, lalu duduk di kursi sofa empuknya, lalu memncet sebuah tombol yang ada di bawah meja kerjanya.
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
"Akhirnya, abis ini kita bisa uang lagi, setelah sekian lama." Takakage yang setia berada di dalam ruangan kerja Hanbei mengelus dada.
Ruang Tengah
"Yun, tadi ada telepon dari klien tapi tiba-tiba mati padahal kasusnya belum jelas." Xingcai mendengus kesal.
"Berarti abis selesai kasus ini kita bisa makan yakiniku lagi~" Zhao Yun nyengir bahagia.
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
"Kenapa alarmnya masih suara Guo Jia sih..." desis Xingcai, muka datarnya berubah jadi kesal.
"Sudahlah, kata ketua kalo ganti alarm harus nunggu satu abad dulu." Zhao Yun cuman senyum doang, memaklumi kelakuan ketua mereka yang agak bejad.
Xingcai menyilangkan kedua tangannya. "Keburu mati yang ada."
Guo Jia berjalan kearah Zhao Yun, dan Xingcai. "Ada kasus baru ya?"
Xingcai mengendikkan kedua bahunya. "Auk ah, mending kita langsung ke ruangan ketua aja, ayo Yun." Xingcai menarik tangan Zhao Yun.
Dapur
Oichi, Wang Yuanji, sama Nene lagi sibuk ngebikin makanan untuk makan siang, dengan hati gembira, tetapi setelah alarm nista itu berbunyi mereka langsung membungkus makanan itu tanpa pikir panjang, dan langsung melesat ke ruangan Hanbei dengan beberapa kantong imut ditangan mereka, tak lupa melepaskan celemek yang mereka pakai tadi.
Lab Komputer
Kata penghuninya sih lab tetapi aslinya ruangan ini lebih seperti ruangan tak terurus yang dipenuhi dengan tikus, dan laba-laba sebagai penghuni tambahan, di lab itu ada tiga komputer yang selalu dipakai oleh sang penghuni untuk meneliti video, dan lain sebagainya.(main game, nonton bokep dll dsb)
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
Taigong Wang yang lagi fokus ngejengkang dari kursi yang sedang didudukinya. Kepalanya nabrak lantai. "WADAOW!" Taigong Wang bangkit dari aksi ngejengkangnya lalu mengelus kepala. "Lama-lama gue ganti tuh alarm diem-diem." Taigong Wang mematikan komputer yang doi pake, terus ngelirik manusia yang masih asik menatap layar komputer serius dengan tatapan gasuka. Taigong Wang mematikan komputer sebelahnya lewat CPU tanpa diketahui oleh penghuni satunya.
"GANGGU BANGET LU!" bentak penghuni satunya pada Taigong Wang.
"Ada panggilan..." Taigong Wang pun menariknya paksa ke ruangan ketua.
Kamar Liu Shan
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
Setelah mendengar alarm itu, Liu Shan langsung beranjak dari kamarnya ke ruangan Hanbei.
Paling normal.
Ruang Bawah Tanah
Tempat tersembunyian yang hanya diketahui oleh Nobunaga sebagai tempat menyusun rencana untuk menjatuhkan Hanbei.
TIN! TIN! TIN! BUAH TIN KHUSUS UNTUKMU SAYANG~!
Nobunaga bersiap dengan pakaian ala mafianya tak lupa dengan pistol (mainan) untuk menambah auranya, biar disangka lider sama klien. Setelah itu Nobunaga langsung lari ke ruangan Hanbei
DetektifHanbeiMesum
Setelah mereka semua berkumpul di ruangan Hanbei, mereka langsung berdiri berjajar.
"Hari ini kita dapet job, kasus kali ini sepertinya normal, kasus pembunuhan." kata Hanbei sok keren.
Zhao Yun ngacungin tangannya. "Bukan pembunuhan ayam tetanggakan?"
Hanbei memutar kursinya sembilan puluh derajat. "Bukan, ini kasus pembunuhan seorang bos mafia bakpao yang ditakuti di kota Luoyang," Hanbei mengambil sebuah bungkus rokok, lalu mengambil sebatang rokok dari dalem bungkus itu, setelah itu menjepit batang rokok itu diantara kedua belah bibirnya. "dan katanya pintu menuju kamar mafia itu terkunci, mungkin bisa dsibilang pembunuhan di ruangan tertutup."
"Hanbei..." Takakage mengambil rokok itu dari mulut Hanbei.
"Coklat rokok gua..." kata Hanbei dengan nada sedih.
"Jangan terlalu banyak makan-makanann manis." Takakage melahap coklat rokok itu.
"COKLAT GUA YANG TERAKHIR~" Hanbei berdiri, lalu merentangkan kedua tangannya ke depan terus pasang muka sedih.
"Hanbei tolong lanjutkan info tentang kasus itu." kata Xingcai.
Hanbei kembali duduk di kursi sofanya. "Ehem, katanya bos mafia itu diracuni, dan racun itu ada di dalam bakpao yang dimakannya, hanya itu informasi yang kudapat dari klien."
"Lalu?" Guo Jia menaikkan sebelah alisnya.
"KITA BERANGKAT SEKARANG JUGA KE LUOYANG!" teriak Hanbei penuh semangat.
"Betewe pake apa?" tanya Liu Shan.
Seketika hening, Hanbei berpikir keras memikirkan soal tranportasi mereka menuju Luoyang, masalahnya mereka ada di Osaka sementara rumah klien ada di Luoyang, kan BEGO, mereka ada dimana si klien ada di mana. Sejam, Hanbei memikirkan transportasi kesana tetapi harus bisa mengeluarkan uang sedikit. Bohlam pecah yang dipaksa untuk nyala muncul di atas kepala Hanbei.
"AHA! Mobil apanjreng masih adakan?" tanya Hanbei.
Masih ada kok, sudah diberi tambahan pelampung, dan layar untuk menyebrangi laut." Nene mengancungkan jempolnya ke Hanbei.
"Pintar!" Hanbei mengangguk puas. "KITA BAKAL PAKE APANJRENG GAGAL ITU UNTUK KE LUOYANG!"
Sisa member tim detektif kecuali Nene hanya bisa menghela nafas panjang, akibat hidup belum sejahtera, terbang ke Luoyang aja ga mampu, gatau deh balik ke osakanya gimana. Mereka pun menaikki mobil apanjreng gagal hasil nyolong untuk kesana, tangki bensin penuh, tapi … kecepatan dibawah 10 kilometer per jam katanya sih biar ngirit bensin, jadi baru isi bensin lagi pas mereka udah sampe Luoyang.
DetektifHanbeiBego
Ditengah jalan mereka bertemu seseorang yang baik hati, ia menteleport mereka agar langsung di Luoyang tepat di alamat klien mereka tinggal. Mereka pun turun dari mobil apanjreng itu, dan berjalan menuju ke depan rumah klien mereka.
"Ternyata rumah klien mojok di kota gini." komen Xingcai saat melihat letak rumah klien.
"Mayatnya udah mau dikubur?" komen Guo Jia saat melihat keadaan luar rumah klien.
"Coba aja kita samperin."
Hanbei dan kawanannya pun berjalan mendekati orang-orang berpakaian hitam-hitam.
"Kalian yang akan mengubur mayat inikan?" tanya salah satu pengunjung klien.
"Bu-"
"Tapi sampe sekarang ambulan belum dateng, bagaimana kalau kalian yang mengubur mayatnya? Tukang gali kuburnya juga gamau ngubur mayatnya." saran si pengunjung.
"Tapi..." Hanbei ingin menolak saran pengunjung itu tetapi salah satu dari kerumunan mereka dengan pakaian putih-hijau dengan kipas muncul.
"Salah satu dari kalian pasti ada seksi forensikkan? Bagaimana kalau kalian membawa mayatnya ke kuburan, dan memeriksananya?" setelah memberi saran itu orang berbaju putih-hijau itu pergi.
Hanbei menaruh kedua tangannya di pelakang kepalanya, lalu bersiul-siul sambil menggerakkan kepalanya ke kiri-kanan secara bergantian, lalu tak lama kemudian Hanbei menghela nafas.
"Baiklah, yang akan membawa mayat itu adalah tim seksi forensik, ditambah Nene, dan Om Nobunaga."
"Kacung satu ini ikut?" tanya Zhao Yun menunjuk Nobunaga tepat di depan mukanya, sungguh sofian sekali.
"Buat ngangkat mayatnya mungkin butuh dua orang." Hanbei ngeliat ke arah rumah klien. "Sisanya ikut aku." Hanbei pun berjalan menuju rumah.
"Bentar, mayatnya dimana?" tanya Wang Yuanji pada Hanbei sebelum masuk ke rumah klien.
Hanbei menunjuk keranda mayat yang sudah ditutupi oleh kain di dekat mobil mereka. "Good luck~"
"Sejak kapan?!" Oichi terkejut dengan keberadaan keranda mayat itu.
"Sejak tadi~ haha, kalian pasti bisa menebaknya bukan? Aku kedalam dulu ya." Hanbei melambaikan tangannya dengan badan menghadap ke pintu rumah.
Tim gali kubur pun pergi dari dengan mobil apanjrengnya ke kuburan terjauh, karena mereka tidak mau mayatnya masuk mobil mereka mengikat keranda mayat di atap mobil dengan tali tambang, yang ga sengaja terbawa oleh salah satu dari mereka.
Kriet…
Pintu rumah yang gede bak istana terbuka perlahan. Tim penyelidik merasa takjub dengan terbukanya pintu dengan sendirinya.
Apa ini? Pintu rumah otomatis?
Pikir mereka seklias saat tidak melihat penghuni rumah yang membukakan pintu untuk mereka.
"Halo~ ada orang didalam?" Hanbei memasuki rumah itu duluan diikuti anak buahnya di belakang.
BRAK!
Serempak mereka melihat ke belakang.
"KITA TERJEBAK?!"
"Misteri ini akan ku pecahkan atas nama Kakekku!"
Taigong Wang sweatdrop. "Perasaan kakek lu bukan detektif deh..."
"Yaudah, akan kupecahkan misteri ini atas nama Kanbei!"
"Yaelah malah bawa-bawa nama Kanbei..."
"YAUDAH KALO GITU ATAS NAMA KELUARGA KOBAYAKAWA- AW!"
Hanbei meringis kesakitan karena asistennya memukul kepalanya dengan kipas kertas gede atau biasa disebut harisen.
"Jangan bawa-bawa margaku." Takakage menyilangkan kedua tangannya.
"Baik-baik, Takenaka o nani kakete!"
"Begitu lebih baik." Takakage mengangguk puas.
"Dasar korban anim Kindasatu."
Tep
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Taigong, lalu berkata.
"Apakah kalian detektif?" tanya seorang perempuan di belakangnya.
"AAAAAAAA!" Taigong Wang berteriak dengan keras diikuti yang lainnya.
Hanbei membalikkan badannya. "Ehem, tolong ketawanya dihentikan, terima kasih sudah mau menggunakan jasa kami." Hanbei tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya.
E cup kayanya, hehehe…
"Senyumannya bukan senyuman biasa..." anak buahnya melihat ke arah Hanbei curiga.
Perempuan itu menjabat tangan Hanbei. "Nama saya Zhang Chunhua, istri korban."
"Hehehe … salam kenal."
Dari belakang si perempuan muncul dua orang laki-laki. "Saya perkenalkan ini kedua anak kandung saya, Sima Shi, dan Sima Zhao."
"Baiklah, aku ingin menanyakan beberapa hal soal korban ke kalian." Hanbei tersenyum sok keren. "Sebelum itu apakah bawahanku boleh memeriksa tempat kejadian?"
"Boleh, ruang kerja suami saya ada di lantai ini, tinggal berjalan lurus menuju pintu di depan." Zhang Chunhua menunjuk lurus ke belakang mereka, di depan mereka ada pintu.
"Xingcai, Taigong Wang, Cao Pi, dan Takakage menyelidiki ruangan kerja korban, sementara kami bertiga akan bertanya kepada yang bersangkutan."
"Baik."
Keempat orang itu pun pergi ke dalam ruangan kerja korban.
"Apakah penghuni rumah bak istana lusuh ini hanya berempat?"
"Masih ada empat lagi, mereka merangkap BABU di rumah ini."
"Lalu sekarang mereka ada di mana?"
"Saya tidak tau, tapi sebelum suami saya mati, saya sempat bertemu dengan mereka di halaman belakang sedang mengurus kebun. Jelas Zhang Chunhua.
Hanbei nopang dagu sok mikir. "Kalau begitu sebelum dia mati kalian ada di mana?"
"Saya sedang membereskan kamar kira-kira jam 8-10 pagi."
"Hmm ada yang melihatmu?"
"Anak sulung saya sempat bertemu dengan saya jam setengah delapan, dan sempat membatu saya membereskan kamar."
Hanbei pasang pose mikir sambil jongkok, persis kek orang lagi ngeden. "… kalo begitu kita pisah Guo Jia kamu bawa Zhao, lalu Liu Shan kamu bawa Shi." titah Hanbei dengan soknya.
"Kenapa?" tanya Liu Shan agak bingung.
"Biar rame aja, aku disini akan menanyai soal korban disini kalian pindah sono."
"Baiklah..." di luar mereka berdua pasrah sama perintah ketua mereka tapi dalam hatinya beda lagi.
Liu Shan, dan Guo Jia pun menggiring kedua anak kadung Zhang Chunhua ke halaman belakang tanpa minta izin ke yang punya. Akhirnya Hanbei hanya berdua dengan istri korban.
"Ehem, jadi sebelum korban ko'id di ruang kerjannya korban kemana?"
"Korban sempat keluar untuk menerima paket dari seseorang."
"Kalau begitu … pelakunya ada di antara penghuni rumah! Ditambah dengan nama pengirim paket itu!" kata Hanbei seenak jidat.
"Jadi pelakunya ada salah satu diantara kami?"
Hanbei mengangguk. "Tenang saja, kami akan memberantasnya sejatam gergaji mesin, Takenaka o nani kakete!"
TBC
:v kebiasaan buruk ana keluar belum selesai cerita satu cerita lain muncul huwahuwahuwa maappin ya, ana belakangan ini lagi suka nonton anime sejenis konan jadi gini deh…
Tenks yang udah baca huwahuwahuwa
See you next chapter~
