Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. ga tanggung janab kalo kalian bosen.

Genre: Humor receh, horror-misteri gagal

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Balesan Review

RosyMiranto18

I-iya…

Liu Bei: otak saya ga kaya yang lain.

Masamune: anggap saja 10 ntu 10 rebu.

Cao Cao: hantu beda kategori…

Hanbei: cecan itu cewe cantik.

Guo Jia: ga juga kok kalo bisa dibuat jadi bahan bulian…

Bisain aja.

Xingcai: manusia berIQ-180 itu tidak akan mudah mati.

Hanbei: daripada kreker lebih suka coklat. Plesetan dari avanza, karena setiap dinyalain suara mobilnya ga biasa.

Zhang Chunhua: mereka semua udah dibuang semua.

Hanbei si Detektif Abal

Tewasnya Bos Mafia kota Luoyang File 2

Selamat Membaca

Tim ForenBukCung sudah sampai di sebuah TPU BaoBao, mereka memarkirkan mobil apanjreng tepat di depan gerbang, mereka pun keluar dari mobil, salah satu dari mereka ngeliatin keranda mayat di atap mobil mendalam.

"Zhao Yun sama Kakak tolong turunin keranda mayatnya dong." pinta Oichi.

Wang Yuanji yang ada di sisi kanan mobil langsung memotong tali tambang dengan gunting tanpa ada pengumuman dahulu, setelah itu pasti sudah bisa ditebakkan? Keranda jatuh ke bagian kiri.

BRAK!

Keranda itu pun meggelinding ke bawah, pesonil tim ForenBukCung itu cuman melihat kejadian itu tanpa ekspresi, dan tidak ada niat untuk mengejar keranda mayat itu, Yuanji berjalan mengahampiri mereka, mukanya masih tidak berubah.

"Yaahh … kerandanya menggelinding." kata Yuanji datar.

"BAHLUL ENTE! KENAPA DIGUNTING TALINYA?!" teriak Zhao Yun.

"Biar gampang." sahut Yuanji tanpa ada rasa bersalah.

Oichi tepok jidat di tempat. "Yuanji, Nene, Yun ayo kita kejar keranda itu."

Mereka berempat itu pun pergi meninggalkan Nobunaga sendirian, tak lama kemudian muncul seorang lagi-lagi berambut klimis berjalan mendekati Nobunaga.

"Mas, kenapa disini sendirian?" tanya pemuda berambut klimis itu pada Nobunaga.

Nobunaga melihat ke arah pemuda berambut klimis itu dengan senyuman. "Saya sedang menyelidiki tentang kematian bos mafia di kota Luoyang." Nobunaga mengeluarkan pistol (mainan) dari dalam jasnya, dan menodongkan pistol ke pemuda itu. "Sebelum kematian bosmu itu lu ada dimane?"

Kacung berkedok seksi interogasi yang paling kasar diantara personil seksi forensik lainnya. Pemuda klimis itu terkejut dengan pertanyaan Nobunaga.

"Saya sedang… ada di luar membeli bakpao pesanannya jam setengah delapan..." pemuda itu menunduk kebawah.

"Apakah anda pergi berdua saat itu?"

Pemuda itu menggeleng pelan.

Nobunaga tersenyum. "Kenapa anda di sekitaran TPU? Mencari tempat yang pas untuk menguburkan bosmu itu?"

Pemuda itu diam saja.

"Hohoho..." Nobunaga malah ketawa ga jelas.

xxTimForenBukCungxx

Keranda yang menggelinding dari TPU ditemukan sudah terbuka, dan mayat di dalam keranda itu keluar. Kondisi mayat terduduk entah karena guncangan atau apa beberapa kancing baju mayat terbuka menampakkan sesuatu yang aneh.

Nene tercengang. "Bajunya terbuka..."

"HUWA?!" Oichi berteriak histeris karena melihat wujud korban.

"Ternyata bos mafia yang ditakuti ini, hode?" Yuanji mulai bingung.

"Err … bos mafia satu ini punya hobi aneh ya hahahaha." Zhao Yun cuman bisa ketawa garing.

"Zhao Yun kamu cek gih mayatnya." Oichi mendorong Zhao Yun ke deket mayat.

"Kok aku?"

"Lu kan mantan hode, udah cepetan."

"Kok gua sih … gua kan bukan hode cuman waktu itu asddsaflk." Zhao Yun bersumpah serapah ria.

Zhao Yun jongkok, menggunakan sarung tangan karet, tangan Zhao Yun mendekat ke si mayat tapi mukanya ngeliat ke arah lain sambil nutup mata, tiba-tiba Zhao Yun merasa pahanya digelitiki oleh sesuatu.

"Adududuh..."

"Kenapa Yun?" tanya Nene agak heboh.

"Hape gua ngeggeter." jawab Zhao Yun dengan tangan gemeter.

"Yaelah." Oichi tepok jidat lagi. "Ada di saku kiri atau kanan?"

"Kanan, ambilnya cepet ya aku orangnya gampang geli."

"Iyedah." Oichi mulai menggerepe paha kanan Zhao Yun.

"Geli! GELI! AHAHAHA!"

"HA! Kudapatkan kau nepian butut." Oichi mengacungkan hape butut Zhao Yun.

Klik

"Halo dengan siapa dimana?"

"Dengan saya mamang alpabeta berkedok seksi pengintaian di rumah keluarga Sima."

"Aku kira yang nelpon Xingcai ternyata elu nggur."

"Gua bukan anggur, betewe di kamar ada sebuah kotak sepertinya korban sempat menerima sebuah paket."

"Isinya?" mata Oichi melihat ke arah korban dengan wajah nahan muntah.

"Ada sebuah benda yang tidak mungkin dipakai oleh seorang laki-laki normal."

Setelah mendapat info unfaeda dari penelpon sebrang sana, Oichi pun menutup lalu menatap mayat itu dengan muka jijik maksimal.

"Ada telepon dari si anggur, katanya bos mafia ini mendapat sebuah paket."

"Jangan-jangan isi paketnya?..." Nene menutup mulutnya dengan kedua tangan terus pasang muka kaget.

"Iya, miniset putih berpita merah yang doi pake sekarang." Oichi mundur beberapa langkah.

"Jadi ini pembunuhan yang direncanakan?" tanya Yuanji.

"Mungkin saja..."

"YUNIKAH! LU BUKA BARANG LAKNAT ITU DARI TUBUH KORBAN!" titah Oichi ga selow.

Nene udah nutup mukanya. Yuanji masih menatap si korban dengan datar. Oichi berdiam diri agak jauh dari mereka.

"KOK GUE?!"

"ELUKAN PERNAH PAKE ITUKAN?!" tunjuk Oichi pada barang yang melekat di tubuh si korban. "NGAKU LU!"

"GUE PAKE INI GEGARA DI ANCEM SI BLONDE EDAN SAMA SI ANGGUR!" Zhao Yun keceplosan, doi langsung mingkem.

Krik… krik… krik…

"OEMJI! ZHAO YUN ELU … elu ternyata ..." seketika Nene shock.

"Nista." lanjut Oichi, muka jijik masih terpasang.

Yuanji menghela nafas panjang, lalu jongkok di sebelah kiri si mayat, sebelum mengorek-ngorek tubuh mayat itu Yuanji memakai sarung tangan karet putih dua lapis, lalu dengan perlahan Yuanji mencopot benda yang melekat di tubuh mayat.

"Tidak ada apa-apa di miniset ini hanya saja ada sebuah kertas jatuh dari benda ini." Yuanji mengambil kertas itu yang sudah ada di atas tanah.

Bagaimana penampilan korbanku kali ini? Mati dengan indahkan?

Aku akan mendapatkan itu

Pasti!

-Anonim-

Yuanji menggaruk kepalanya, bingung dengan tulisan di kertas itu, dan apa yang dimaksud denga penampilan korbannya, Yuanji sempat berpikir kalau isi otak si pelaku emang udah ga beres bikin kalimat aja udah ga beres, gimana isi otaknya? Pasti ga beres juga.

"Indah darimana? Nista gini sampe disangka makan bakpao beracun, apa indahnya? Dan apa yang dimaksud dengan 'itu'?" gumam Yuanji sambil berpikir soal kalimat di kertas itu. "Manteman,"

"Manteman,"

"Haah … masih shock." Yuanji berpikir sebentar. "Ho, ada cogan kemari."

"MANA?!" Nene langsung celingak-celinguk ke kiri sama kanan.

"Ichi tambah Ichi berapa?"

"NI!" pertanyaan dari Yuanji langsung menyadarkan Oichi.

Yuanji berjalan mendekati Zhao Yun, lalu berbisik. "Psst ada lingerie diskon 70%."

Zhao Yun langsung sadar pas mendengar itu. "MANA?!"

Yuanji menempuk punggung Zhao Yun keras. "Yun hobi lu yang itu tolong dibuang."

Zhao Yun cuman ketawa garing, hobi anehnya ketahuan.

Yuanji melihat ke Oichi. "Oh ya, di leher korban ada bekas seperti habis dicekek, dan luka."

"Mungkinkah-"

Tiba-tiba Nene nyanyi. "-Kita kan slalu bersama, walau terbentang jarak antara kita~"

"Sekelompok sama kalian emang gapernah bener." Yuanji geleng-geleng pala sama kelakuan temen satu kelompaknya.

"Emang kapan kelompok kita bener semua?" tanya Zhao Yun. "kalo ada mantan seksi interogasi yang pucet bagai vampir itu malah makin ga bener..."

"Jangan bawa-bawa masa lalu."

"Betewe, Kakakku mana?" tanya Oichi.

xxTimTakaXingPiWangxx

Kita beralih ke ruangan kerja si korban, didalam sana ada 4 manusia sedang mengacak-ngacak ruangan, salah satu dari mereka menemukan sebuah kertas di dalam lemari meja korban, dia yang menemukan kertas itu langsung membuka lipatan kertas, lalu membaca isi kertas itu.

Khianatmu

Tentang hati yang tergores.

Berkelukur kini hati,

terhembas oleh khianat.

Dan kini wajah terlukis air mata

Oooooh~

Secarik kertas ditangannya langsung diambil oleh orang yang merasa risih dengan kelakuannya.

"Dasar raja gombal, lu baca puisi bikin gua sakit perut seketika bukannya menyentuh." Takakage membaca isi kertas itu. "khianat? Apakah bos mafia dengan hobi aneh itu sudah tau kalau dia akan dikhinati?"

Xingcai melirik kotak di meja. "Mungkin, coba cek isi kotak itu lagi."

"No." tolak Takakage cepat.

"Kalo gitu," Xingcai melirik Cao Pi. "nggur coba cek bisa saja ada sebuah kertas."

"Kok gua?"

"Muka lu sebelas dua belas sama om-om mesum yang suka lewat depan gedung." kata Xingcai.

"Serah."

Cao Pi pun mengecek kotak itu lagi, dan menemukan nama pengirim paket itu. "Zhu-ge-Li-ang … sepertinya aku pernah mendengar nama itu."

"Kalian,"

"Apa?"

"Ada yang tempe dengan nama Zhuge Liang ga?"

Taigong Wang mengepalkan tangan kanannya lalu ia pukul telapak tangannya. "Kalau tidak salah dia adalah penjahat kelas es cincau, beberapa hari lalu dia direngkrut oleh seseorang yang tinggal di Chengdu."

"Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan penjahat ini dan kematian bos mafia." Xingcai manggut-manggut.

Takakage melihat kebawah seperti mencari sesuatu. "Gaes, gua nemu benang layangan, dan beberapa pecahan kaca." Takakage jongkok, lalu melihat ke bawah meja.

Xingcai yang sedang berdiri di dekat Takakage ikut jongkok di sebelah Takakage. "Sepertinya benang layangan itu diolesi oleh lem, lalu diberi kaca agar lebih tajam."

"Apakah pelaku suka bermain layangan?" tanya Xingcai.

Taigong Wang tiba-tiba mucul di sebelah Takakage. "Kayaknya tidak, karena setauhuku keluarga ini tidak memiliki penghuni yang mempunyai hobi dengan benang seperti ini." jelas Taigong Wang.

"Pembunuhan berencana." Takakage berdiri. "Xingcai bungkus barang bukti dengan pelastik seperti biasa, kecuali yang ada di dalam kotak, ambil nama pengirimnya saja."

"Baik."

"Aku akan melaporkan pada Hanbei." Takakage pun keluar dari ruangan.

"Bakpao yang ada di meja ini juga?"

"Bawa saja untuk diperiksa nanti."

Xingcai melirik Cao Pi, dan Taigong Wang bergantian, lalu memberikan sepasang sarung tangan karet putih pada mereka berdua.

"Bantu aku, mengumpulkan barang bukti."

"Oke."

xxSEKSIINTEROGASIxx

Mereka berempat duduk di kursi di halaman. Liu Shan hanya tersenyum, sementara Guo Jia pasang muka serius.

"Sebelum babeh lu ketauhan is det ditempat apa yang kamu lakukan, dimulai dari Shi."

Drt … drrt…

Guo Jia merogoh hapenya yang ada di dalam kantongnya, Guo Jia mendapat sebuah sms dari Hanbei.

From: Ketua Bejad

Dapet info terbaru?

Guo Jia menatap gasuka pada layar hapenya, Guo Jia lebih memilih untuk tidak membalas pesan itu, dan menaruh hapenya di atas meja.

"Silahkan,"

"Sebelum Ayah meninggal, aku sedang berjalan-jalan di halaman belakang, sekitar jam 7-an sambil melihat pengurus kebun, lalu aku membantu Ibuku membersihkan kamar."

"Kalau boleh tau nama pengurus kebunnya siapa?"

"Zhong Hui."

Guo Jia terlihat terkejut dengan jawaban Sima Shi. "Zhong Hui yang demen narsis itu?"

"Iya. Apakah anda mengetahui tentangnya?"

Liu Shan menggerakkan kepalanya ke kanan melihat ke arah Guo Jia. "Senpai, kalau tidak salah dia salah satu pelaku di kasus minggu kemarin ya?"

"Kasus apa kalau boleh tau?" tanya Zhao.

Liu Shan hanya tersenyum pada Zhao. "Tidak bisa dikatakan, ya kan senpai?"

"I-iya." Guo Jia melirik ke arah yang lain. "Aib … entar kalo dikasih tau doi bisa nangis tujuh turunan."

"Yasudah kalau begitu, giliranku kan? Aku dari pagi tidur, baru bangun jam tadi berapa ya? Pas kita bertemu di dekat pintu masuk? Makanya penampilanku masih acak-acakkan."

Guo Jia berdeham. "Sebenarnya, aku gatau kapan Ayah kamu meninggal."

"Senpai..." Liu Shan hanya bisa menghela nafas, senpai satunya ini emang kadang isi otaknya suka korslet. "Jam 9 korban ditemukan tewas oleh salah satu pembantu mereka yang tingginya bak tiang listrik."

Guo Jia terkejut. "Kenapa kamu bisa tahu mendetail begitu? Tadi aku tidak melihat orang yang lebih tinggi dari mereka."

Liu Shan hanya tersenyum, untuk Guo Jia senyuman itu lebih seperti senyuman malaikat pencabut nyawa, Guo Jia menggeser sedikit kursi yang didudukinya menjauh dari Liu Shan.

"Berarti kira-kira kita bertemu jam setengah 10-an, aku mau tanya yang menelpon kami tadi siapa?" tanya Liu Shan, senyum tulus bak malaikat maut masih mengembang.

Shi menopang dagu. "Saat jam segitu tidak ada salah satu dari kami yang menelpon kalau Ayah anda tewas, dan tidak diketahui kenapa Ayah anda bisa tewas."

"Aku tidak mungkin menelpon kalian aku terlalu malas untuk keluar kamar… turun tangga aja males apalagi menel-sakit..." Tiba-tiba kaki Shi menginjak kaki Zhao agak keras.

Shi melirik tajam ke arah adiknya itu. Melihat reaksi itu Liu Shan seperti berpikir kalau mereka berdua adalah tersangka pembunuhan kali ini.

Guo Jia menggebrak meja agak keras. "Sebentar, makin kesini waktunya makin ga masuk akal."

"Kalau begitu pada saat itu kalian mempunyai alibi ya..." Liu shan berdiri dari duduknya. "Senpai ayo kembali, sesi tanya jawab sudah selesai."

"Baik."

Aslinya Guo Jia gasuka disuruh sama seorang kouhai yang baru masuk beberapa minggu lalu, doi pernah denger dari salah satu personil seksi pengintaian kalau Liu Shan ntu anak dari penjahat yang tinggal di kota Chengdu, 'muka bak malaikat tingkah bak iblis' kata-kata itu Guo Jia yang buat untuk mendeskripsikan Liu Shan. Guo Jia gatau kenapa Liu Shan masuk ke agen detektif yang diketuai oleh mahluk pendek mesum bernama Takenaka Hanbei. Sebelum masuk ke ruangan utama mereka berhenti di depan pintu.

"Menurutku pelakunya ada kaitan dengan kasus pembunuhan ayam tetangga waktu itu."

"Jadi maksudmu manusia narsis itu masuk ke daftar pelaku gitu?"

"Bisa jadi … dia aja sampe maling ayam terus ngebunuh ayam tanpa rasa bersalahkan?"

"Diakan waktu itu diminta buat nyembelih ayam sama pemiliknya."

"Ta-" sebelum Liu Shan berbicara makin berbelit-belit mulutnya udah ditempel lakban item sama Guo jia.

"Untung gua bawa nih lakban item, udah diem, cape gua flesbek soal kasus gajelas itu." Guo Jia memegang knop pintu, iseng dia melihat ke belakang. "Shan tuh dua anak kemana? Kok menghilang?!" Guo Jia panik.

Liu Shan melepaskan lakban yang ada dimulutnya dengan sekali tarik, lalu sebuah senyuman kembali muncul. "Mereka sudah menghilang sejak kita berjalan menuju pintu."

"Kok kamu ga bilang?"

"Senpai tidak bertanya."

Menanggapi jawaban kouhainya itu Guo Jia hanya bisa menahan amarah, dan menggigit bawah bibirnya, kesal? pasti. Mereka pun masuk ke dalam rumah itu lagi.

"Senpai ... mungkin saja, keluarganya sendiri yang membunuhnya."

xxDetektifHanbeixx

Ketua dari Tim Detektif tidak lebay, 4l4y ini sedang asik duduk-duduk di sofa empuk di ruang utama, sendirian, mukanya merah ntah mikirin apa, kemudian datang Zhang Chunhua sambil membawa secangkir teh, dan menaruh cangkir itu di atas meja tepat di depan Hanbei. Hanbei langsung sadar dari lamunannya saat Zhang Chunhua menaruh

"Ahaha… terima kasih sudah membawakanku minuman, tidak usah repot-repot." Hanbei senyum-senyum ga jelas, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

TAK!

"ATIT!" keluh Hanbei sok imut, terus Hanbei meluk Zhang Chunhua seenak jidat. "Mamah, setan perpus jaat sama aku."

Muncul perempatan di dahi Takakage. "RASAKAN INI!" Takakage memukul kepala Hanbei dengan harisennya. Hanbei tepar seketika. "Hmph, membuat orang naik darah mulu." Takakage menunduk kepada Zhang Chunhua. "Maafkan dia Nyonya, otaknya emang rada gesrek maklum IQnya -180."

Zhang Chunhua tersenyum. "Tidak apa-apa kok." senyum itu menghilang dengan wajah yang seketika berubah saat dia menundukkan kepalanya.

Takakage merasakan hal aneh saat melihat raut wajah istri korban, seperti membuat Takakage berpikir kalau korban dikhianati oleh keluarganya sendiri. Takakage pun menyeret Hanbei ke tangga menuju lantai dua sebelah kiri agar mereka agak jauh dari Zhang Chunhua.

"Kalau ini hanya jebakan bagaimana?" Takakage berpikir tentang perubahan raut wajah Zhang Chunhua. Takakge duduk di anak tangga kedua, selagi menunggu Hanbei tersadar Takakge terus berpikir.

Pertama ada benang dilapisi dengan kaca, kedua perubahan raut wajahnya seakan rencananya berlangsung dengan skenario yang dibuat, setelah itu apa? Kasus pembunuhan ayam tetangga waktu itu sepertinya mirip dengan terbunuhnya korban… benang yang terlilit di leher si ayam, ketiga, pengirim yang bernama Zhuge Liang. Sebenarnya apa yang pelaku inginkan?

xxTimForenBukCungxx

Setelah adegan Nobunaga menodong pemuda klimis dengan sebuah pistol mainan, Nobunaga menggiring pemuda itu ke tempat Oichi dkk. Sampai di tempat itu Nobunaga memberikan info yang dia dapat pada Hanbei via nepian butut punya Zhao Yun. Tak lama kemudian, saat sang korban lagi di cek, si korban membuka kedua matanya.

"Ah, mayatnya membuka matanya..." Yuanji yang sedang mengecek luka-luka di leher korban tidak kaget sedikitpun dengan mayat yang mulai bergerak. Yuanji menyentuh garis biru yang ada di leher mayat. "Tinta?"

"KYAAAAAAA!" Oichi yang sadar dengan pergerakkan mayat berteriak duluan, reflek Oichi memeluk Zhao Yun.

"GYAAAAA!" giliran si mayat yang berteriak melengking karena melihat keadaan tubuhnya sendiri. "KENAPA AKU ADA DISINI?!"

"Mayatnya masih hidup..."

Yang ada di TKP kecuali pemuda berambut klimis hanya melihat mayat jadi-jadian di depan mereka dengan tatapan curiga, aura gelap menguar dari tubuh mereka. Pemuda berambut klimis itu hanya melihat ke arah lain.

"Jadi kasus kali ini adalah detektif yang dibohongi oleh keluarga mafia pecinta bakpao ya?"

Krek … krek

"AKU TIDAK TAU APA-APA! SUMPAH DEMI BAKPAO COKLAT YANG DIMAKAN TADI PAGI!"

"Enaknya diapain ya? Hmhmhmhm."

"TUNGGU! GYAAAAAAAAA!"

TBC

:v gajelas beud

Terima kasih thanks arigatou xie xie danke :v

See you next chapter~