Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. ga tanggung janab kalo kalian bosen.
Genre: Humor receh
Rate: T
Disclaimer: WO punya Koei
Balesan Review
RosyMiranto18
Ina: itu adalah sebutan Takemoto-san sama Masaya-san saat Guan Yinping menggunakan kekuatan artefaknya.
Nagamasa: Oichi setia aku tau itu.
Xingcai: aku hanya menyebutkan yang jauh aja.
Sanzang: (mikir) Xiahou Ba makin pendek dong?
Ga konsisten judulnya
Da Ji: sebenernya mau nyeritain apa sih?
Himiko: biskuit ajaib atau apa?
Shennong: ntahlah
Selamat Membaca
Suatu hari, ada seorang penjual kue ringan, dia menjual bukan kue ringan biasa melainkan kue ringan ajaib yang bisa mengambil keinginan pembeli dengan memakan kue itu tetapi kue itu akan mengambil kelebihan yang dipunya oleh si pembeli. Jadi tetap saja ada plus, dan minusnya, dan rumor mengatakan penjual itu akan datang kalau penghuni sedang merasakan putus asa. Penjual itu berdiri di depan pintu rumah seseorang.
Tok tok tok
Pintu rumah diketuk pelan olehnya.
Pintu rumah terbuka pelan.
"Ah, Ayah tumben udah pulang." orang yang membuka pintu rumah itu adalah anak keduanya, Kikkawa Motoharu.
Ayahnya menggaruk kepalanya pelan. "Hari ini tidak ada orang yang cocok."
Motoharu melihat kebelakang Ayahnya, dan kedua matanya menangkap sosok manusia yang sedang berjalan lesu. "Ayah yang itu bagaimana?" kata Motoharu sambil menunjuk orang itu.
Mori membalikkan badannya, dan melihat orang yang ditunjuk, senyumnya mengembang, lalu Mori berjalan ke arah pemuda berambut sebahu hitam denngan seperempat wajahnya tertutupi dengan topeng pake baju bagus dilihat dari sedotan, dari dekat lusuh, terus pemuda itu mengeluarkan aura-aura jomblo, pasti tau siapa mahluk itu.
"Maukah anda membeli kue kering ini?"tanya Mori sambil memperlihatkan sebungkus kue kering pada orang itu.
Orang itu mengangkat wajahnya, kedua matanya sayu dengan lingkaran hitam di matanya menatap Mori kesal. "Lu kaga liat gue lagi bete?"
"Ah..." Mori sweatdrop, lalu melangkah ke belakang sekali. "ini bukan kue biasa, kue ini bisa mengabulkan semua keinginan-"
sebungkus kue yang ada di tangan Mori langsung diambil oleh pemuda itu.
"Tolong dengarkan penjelasan saya dulu..."
"Ini berapa?" tanya pemuda itu tanpa menghiraukan perkaataan Mori.
"Etto… tapi kue ini akan-"
Tatapan kesal pemuda itu menajam memebuat Mori tidak tau harus berkata apa.
"Ayah, lebih baik berikan saja, biarkan kue itu akan menjadi hukuman untuknya." anak ketiga Mori tiba-tiba muncul dari belakang Ayahnya. "dan sepertinya judul sekarang itu Sima Shi bad luck kalo ga salah."
"Oi," panggil pemuda itu pada Takakage, mukanya berubah menyeramkan. "lu ngajak ribut sama gua?"
"Tidak, Ayah lebih baik biarkan dia bawa itu, dan kita kembali ke dalam rumah." Takakage menarik lengan Ayahnya, lalu berjalan memasuki rumah. "nanti kalo Ayah terlalu dekat auranya menular, nanti kami ga bisa dapet Ibu baru."
Pemuda bernama Sima Shi tidak bereaksi sama sekali, lalu dia melihat ke sebungkus kue kering itu, Shi membukanya, dan memakannya dengan lahap sambil berjalan kembali menuju warteg dekat komplek samurai, katanya tuh warteg paling enak sefandom ini, warteg punya abang Yoshitsugu yang sudah berdiri sejak 2000 tahun yang lalu, warteg ini menyuguhkan banyak makanan dari kelas warteg sampai hotel bintang 5. warteg ini selalau dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai komplek. Kenapa jadi ngomongin warteg?
Sesampainya di warteg abang Yoshitsugu, Sima Shi melihat kedalam mencari tempat, tapi yang Shi lihat hanyalah kupel-kupel yang tebar kemesraan sana sini, apalagi Nagamasa sama Oichi mereka bagaikan amplop, dan surat. Shi tidak melihat tempat duduk yang kosong, Shi kesal, lalu keduanya matanya beralih ke dalam bungkus kue yang sempat dia makan.
"Tidak ada yang terjadi..." gumamnya sambil makan kue kering itu.
Shi berdiri di depan warteg itu, kedua matanya mencari sesuatu, tapi yang ia dapat malah poster kupel makan gratis menempel di tembok warteg, dia memasukkan bungkus kue kering yang tinggal sedikit ke dalam kantong celananya, terus ia mencari sesuatu itu dengan kedua matanya yang susah melotot, dan setelah 5 menit dia melototin ke dalem warteg dia menemukan orang yang dia cari, orang berambut uban suka di konde pake poki rasa coklat, bermata sipit, orang yang dicari selama ini adalah Taigong Wang ketua OSIS CN Gakuen. Shi berjalan masuk ke warteg menghampiri Taigong Wang.
"LU, enak banget mesra-mesraan sama si nthor disini, sementara lu ngasih gue tugas bejibun." Shi menjewer telinga Taigong Wang, lalu doi menghirup nafas. "GUE BUKAN WAKETOS GEBLEK!"
"SAKIT BENGA!" Taigong Wang mencoba melepaskan jeweran Shi. "WAKETOS KAN ELU BUKAN ZHOU YU! DAN SIAPA YANG MESRA-MESRAAN?! GUA CUMAN MAU MEMENUHI JANJI GUE SAMA NI ANAK!" Taigong Wang teriak balik ke Shi membuat mereka berdua diliatin sama kupel-kupel yang ada di warteg sampe orang gila yang iseng ngeksis juga ngeliat mereka berdua, Si nthor? Doi lanjut makan mie ayam dengan damai.
"LU KAGA LIAT NIH MATA GUE YANG UDAH KEK SI GARA DI RUMAH PA NARTO GEGARA LU!" teriak Shi sambil nunjuk lingkaran hitam d sekitar matanya.
"KOK NYALAHIN GUE?!" Taigong Wang ga terima dengan tuduhan tanpa bukti. "SEKARANG UDAH BUKAN AU GAKUEN LAGI OEY!"
"AARGH!" Shi ngacak-ngacak rambutnya prustas. "KAN ELU YANG NYURUH GUE BIKIN LAPORAN SOAL MOS ENTAH KAPAN TERUS MAJALAH BUALANAN YANG GA GUNA TERUS BAHHSDFHAKLAK?!" Shi ngebacot selama 3 menit.
Taigong Wang tepok jidat. "Yaelah, gue kagak nyuruh lu bikin laporan tentang begituan."
"T-terus ini nomer siapa? Kemaren ada yang ngesms ke gue." Shi merogoh hape lawasnya dari kantung celana, terus ngeliatin sms yang kemarin malem dia terima.
Taigong Wang melihat ke nomer si pengirim, lalu menggeleng. "Itu bukan nomer gue." Taigong Wang duduk kembali ke kursi.
"Terus ini nomer siapa?" Shi melihat ke arah si nthor dengan tatapan kesel. "ini nomer lu ya?"
Tanpa mengalihkan pandangannya pada Shi, Author menjawab. "Bukan, mungkin nomernya pa Benshin kali, atau ga Pa Ndun."
"Ndun?" Shi nanya lagi.
"Xiahou Dun. Coba baca lagi bahasanya, kalo pake tanda seru dilengkapi caps diakhir berarti itu Pa Ndun." Author menyuap sendok terakhirnya, lalu membalikkan badannya. "kalo misalnya sambil bersabda ala penceramah berarti Pa Benshin."
Shi membaca lagi pesan itu. "Ada tanda seru, dan capslock bertebaran."
"Berarti itu Pa Ndun kita tersayang."
"HEEEEE?! BERARTI GUE KUDU BALIK KE RUMAH DAN LANGSUNG NGASIHIN LAPORAN!" jerit Shi ga karuan. Shi megang tangan kiri Taigong Wang. "NTHOR GUA PINJEM HUSBU LU BENTAR!"
"Silahkan-silahkan, gue masih punya judul lagu ending anim letter bee(Perseus)."
"LU JAHAT NGEDUAIN GUE!" jerit Taigong Wang dari jauh ke si Author yang lagi minum kuah mie ayamnya.
"GUE KAGAK NGEDUAIN ELU! GUE NGE 1000-IN ELU!" bales si Author.
"GUE KAGAK AKAN NERAKTIR ELU MIE AYAM LAGI TITIK!"
Si Nthor langsung bayar mie ayam pake duitnya Taigong Wang terus ngejar Shi. "JANGAN GITU DONG MAS! AKANG! ABANG! MANG! ONII-CHAN! TANPA UANGMU UNTUK MEMBAYAR MIE AYAM GUE GALAU!~"
Terjadialah kejar-kejaran anpaedah dari warteg sampai rumah Shi, di depan rumah Shi ada Mune sama Kojuro lewat, si Nthor tiba-tiba nempel ke Mune.
"Abang Mune mau kemana?"
"Mau ke indoapril neng."
"Ikut dong~"
"Ayo."
Taigong Wang sama Shi pasang muka kesel plus jijik.
"Cepet banget pindahnya..."
"Doi nempel ke ikemen lain cuman buat minta dijajannin."
"Oh iya, doi pan nge 1000-in elu."
"Doi tuh masukin kyara ke list husbunya itu kalo movesetnya enakeun buat ngombo."
"Pilih kasih."
Taigong Wang sama Shi pun berjalan ke depan pintu rumah, saat Shi hendak memutar knop pintu, knop pintunya tidak berputar.
"Rumah gue dikunci."
"Terus?"
"Kita manjat, masuk lewat jendela!"
"SARAP!"
"Sori udah profesi gua gini."
Shi pun manjat menggunakan saluran air yang menempel di tembok rumahnya.
"Manjat pake itu ga akan rusak?"
"Ga akan ga akan." balas Shi cuek.
"Tapi kalo rusak, bisa dimarahin sama Tante Chunhua lho..."
"Emak lagi pergi, Babeh ke antah berantah, Adek biasa pacaran, tadi ada di warteg."
"Hmmm..." Taigong Wang nopang dagu. "harusnyakan kamu punya kunci cadangan."
"Kunci cadangan selalu dibawa Zhao."
Sekarang Shi udah ada di atap rumahnya, dan berdiri di depan jendela kamarnya. Taigong Wang melihat ke atap.
"Jendelanya ga kekuncikan?" tanya Taigong Wang pada Shi.
"Gue kagak pernah ngunci jendela, kalo di-" Shi berhenti berbicara, mukanya berbuah pucet, kedua tangannya berusaha untuk membuka jendela kamarnya.
"Shi jangan bilang jendelanya kekunci..." Taigong Wang mengadahkan kedua tangannya ke atas. "semoga kamu diterima disisiNya."
"Jangan ngomong gitu dong sempak! Gua masih sayang nyawa." balas Shi, doi keringet dingin, kedua tangannya masih ngoprek-ngoprek jendela.
"Titah Pa Xiahou Dun itu abcolut. Kalo nolak berurusan sama Pa Cao Cao."
Satu jam terlewat begitu cepat, Shi masih ngoprek-ngoprek jendela, Taigong Wang udah nahan marah dari semenit yang lalu.
"Pecahin aja kacanya bege!"
"Kalo gue pecahin ntar gua kena damprat!"
"KENA DAMPRAT ATAU NYAWA LU MELAYANG?!"
"..." Shi jongkok di depan jendelanya, terus nangis terbahak-bahak. "Hiks … HUWAAAAA!"
Taigong Wang pasang muka datar. Angin berhembus pelan. Keheningan melanda mereka berdua, hanya suara tangis macam anak TeKa yang masih belum berhenti.
"AH ELAH! Lu malah pake acara nangis segala cepetan!"
Ting! Ting!
Hape bunyi, Taigong Wang mengambil hapenya, ada pesan masuk.
From: You-Know-Who
ntar sore jangan lupa ya~ hari ini aku mau makan steak, BAYARIN GAMAU TAU!
"Nyeh, gua salah apa sih sama tuh anak?" Taigong Wang langsung memasukkan kembali hapenya ke dalam saku.
"Kalian berdua ngapain? Mau nyolong isi rumah orang?"
Seketika Taigong Wang langsung membelokkan lehernya untuk melihat si orang ketiga. Shi berhenti nangis, dan melihat ke orang ketiga juga.
"Eh ada Pa Xiahou Dun, hahaha…." TaigongWang garuk-garuk kepala sambil ketawa garing, ngapain nyolong sama pemilik rumah?
"Pa saya kekunci diluar, jadi sekarang saya lagi mencoba masuk." jelas Shi pada Xiahou Dun.
"Lalu, laporan yang Bapa minta mana Shi?" tanya Xiahou Dun pada Shi.
Tubuh Shi mengejang, mendengar Xiahou Dun menagih itu seperti mendengar suara korban hutangnya yang meminta uangnya kembali.
"Gini Pa sebenernya..."
Taigong Wang perlahan-lahan berjalan mundur. Dia ga mau ikut-ikuttan.
"Taigong Wang."
"I-IYA PAK?!"
"Dicariin Mune, mau nagih utang katanya."
Taigong Wang terkejut. "UTANG PAAN?! GUA KAGAK PERNAH NGUTANG SAMA SI MATA SATU NTU?!"
"Utangnya si Nthor, terus katanya yang bakal bayar kamu."
"Ahhh..." Taigong Wang ngelirik bentar ke Shi. "kalau gitu aku nyari Mune dulu, BAYBAY SHI! SEMOGA HIDUPMU DI ALAM SANA MENYENANGKAN!"
Xiahou Dun melihat ke Shi tajam. "Shi, laporan."
Rasanya Shi ingin nangis on the spot lagi, salah apa gua...Shi teringat dengan sebungkus kue yang dia dapat dari Bapaknya Takakage, terus doi malah nyalahin tuh biskuit karena kejadian yang tidak ingin diinginkan menimpa dirinya.
"Shi,"
"Ada di dalem kamar Pa..."
"Bapak beri waktu lima menit dari sekarang."
"EH?!"
Mari kita tinggalkan nasib Shi selanjutnya dengan misteri, saya serahkan pada imajinasi pembaca sekalian. Mungkin saja habis itu Shi tidak kembali lagi.
END
Shi: GUA BELUM MATI BENGA!
Usagi: buat gua elu udah mati, sudah lewat masanya~(lanjut nyanyi)
Shi: serahlu
tenks udah mau baca gaes
See you next chapter~
