Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. ga tanggung janab kalo kalian bosen. Well disini nama belakang mereka sama kaya nama belakang chara aslinya okeh? :v

Genre: humor stress, horror-thriller gagal :v

Rate: T+

Character: Ares(Isaac Foster), Perseus(Rachel Gardner), Athena(Catherine Ward), Odin(Danny Dickens), Takenaka Hanbei(Edward Mason) Uesugi Kenshin(Gray Abraham). → bakal muncul semua edisi ori n cuman publish diweteb, disini hanya ada ares perseus sama odin

Disclaimer: WO punya Koei

Balesan Review

tumben ada reviewer baru :v

Usernames are too common

Cerita ini akan publish ntah kapan lagi :v sibuk di weteb dan kuliah, jadi mohon bersabar

Hanya nyerempet M :v tapi ente panutan saya tidak membaca yang ret M.

Silahkan dibeli :v masih anget fresh from the oven :v

DW tuh kaya SW aja :v nyeritain sejarah … sejarah 3 kerajaan china (silahkan baca wikped), ana maen DW sampe hapal urutannya.

RosyMiranto18

Jiang Wei: Dua-duanya bisa.

Medusa mo inaishi...tada ano gonin tachi. … oke ana gatau ana ngomong apa :v

Ma Chao: mau kuasnya dilempar kemana, pasti bakal balik lagi pada majikannya.

Maksudnya tamat 3 hari itu dengan jeda 2 atau satu hari karena kuliah, WO4 cuman 5 chap juga ga terlalu panjang.

Hanbei: jangan salah, Zhou Yu pernah keramas pake sabun mandi gegara ga sadar kalo ditangannya itu sabun buat badan bukan sampo.

Shi: iya, dibalik nama itu adalah chara yang mampang di SW4 Empire

Perseus: aku nipu juga karena Odin.

Odin: ora sudi gua disamain sama dia.

Ares: sejak bapak gua kepo sama dunia manusia. Maksudnya suara nganu bukan berarti mereka lagi nganu disini maksud gua nganu tuh suara yang bikin merinding, nakutin dll.

Perseus: mungkin karena Kyuubi ngefans sama uler.

Kyuubi: yang mereka maksud itu bule dansa, katanya sih di lantai paling atas suka ada bayangan bule lagi dansa.

Perseus: sori, yang pakeannya ngumbar aurat cuman si Rese kan bagian dadanya bolong tuh.

God of Slaughter

(SnT Parodi)

Selamat Membaca

"Aku dimana?"

Perseus membuka matanya perlahan, yang dia lihat hanyalah ruangan putih dengan jendela besar yang memperlihatkan bulan yang indah di langit. Perseus duduk di sebuah kursi kecil, didepannya pun ada kursi kecil tapi entah untuk siapa.


"Perseus, namaku Odin, dokter psikiatermu."

"Apa kau mau menceritakan padaku apa yang terjadi?"


Perseus bangkit dari duduknya, melihat bulan itu sebentar, tapi Perseus merasa aneh dengan bulan itu … seperti bulan palsu baginya. Aku harus kembali pada Ayah, dan Ibu, pikir Perseus saat di dalam ruangan itu, Perseus pun berjalan menuju pintu, saat membuka pintu itu, Perseus kaget, karena seingatnya, dia dibawa ke rumah sakit karena suatu hal, dia merasakan kalau dia sudah bukan ada di dalam rumah sakit lagi.

Kedua matanya yang berbeda warna membulat saat melihat belasan CCTV yang menempel di sisi langit-langit sepanjang lorong. Walapun dia bingung dia tetap meneruskan perjalanannya, di ujung lorong dia melihat sebuah tulisan di tembok karena penasaran Perseus berjalan mendekat lalu membaca tulisan itu.

Who really are you?

You should ask yourself.

Who am I? The real myself or the one I believe to be?

An angel? Or a sacrifice?

Know yourself and new door will open.

Wajah Perseus menjadi takut saat membaca tulisan itu, Perseus tidak mengerti maksud dari kata-kata itu, walaupun takut dengan sedikit keberanian Perseus membuka pintu yang tidak jauh dari tulisan itu berada, Perseus memutar knop pintu, di depannya sekarang ada sebuah mesin tik yang berada dia atas meja dibelakangnya ada sebuah cermin besar, Perseus bisa melihat jelas dirinya di depan cermin itu. Perseus berjalan beberapa langkah ke depan. Wajah takut, dan ragu terlukis jelas saat dia melihat dirinya sendiri di cermin.

"Ini diriku yang selama ini." gumam Perseus saat melihat dirinya di depan cermin.

Tiba-tiba mesin tik itu bergerak dengan sendirinya, Perseus mundur selangkah karena kaget, walaupun begitu dia melihat ke kertas yang ada di mesin tik, mesin itu mengetik sesuatu.

What's your name?

"Perseus ... Gardner."

Why are you here?

"Aku dibawa ke rumah sakit, tetapi saat aku sadar, aku berada disini."

Why?

Mata Perseus membulat saat melihat pertanyaan itu. "Karena..."

Why?

Melihat pertanyaan itu lagi, Perseus semakin takut.

Why are you in the hospital?

"… aku melihat orang mati, itu karena aku melihat mereka dibunuh. Jadi aku dibawa ke psikiater, aku ingin secepatnya pergi dari sini, aku ingin bertemu Ayah dan Ibu."

Saat Perseus sudah menjawab pertanyaan terakhir itu, tiba-tiba sebuah pintu besi di bagian kiri ruangan terbuka dengan sendirinya

Dia berjalan menyusuri lorong keluar dari koridor penuh dengan CCTV, dia melihat ruangan seperti basement yang sudah tak terawat, saat Perseus berjalan melewati pintu itu terbuka sebuah lift, Perseus pun memasuki lift tersebut, di langit-langit lift itu ada CCTV, dan dikiri-kanan ada speaker yang cukup besar.

"Gadis yang berada di lantai terbawah terpilih sebagai tumbal, mohon segera dimulai persiapan untuk setiap lantainya."

Lift itu tertutup dengan sendirinya.

"Urrggh … jadi gua disini jadi cewe blonde berumur 13 tahun? Gut, gut, danke lho." gumam Perseus setelah mendengar suara dari speaker itu, terus doi kibas-kibas rambut yang sudah rapi terkepang.

Tak lama kemudian pintu lift terbuka, lantai B6, lantai ini seperti jalan besar yang terdapat gang gelap yang mencurigakan di depan.

"Setelah masuk ke lantai ini, ini adalah wilayah bermain, MWAHAHAHA!"

"Wilayah bermain? Mencurigakan … gua dibuang kemana lagi nih sama si Nthor?" Perseus berjalan keluar dari lift.

Perseus terus berjalan lurus, dilihat lebih teliti, lantai ini seperti dibuat mirip dengan pinggiran kota yang kumuh, dikiri maupun dikanan yang hanya bisa dilihat hanyalah barang rusak, dan sampah.

"Apakah disini ada seseorang?"

Saat sampai dilantai ini entah kenapa Perseus jadi merinding, padahal tidak ada angin, Perseus menyatukan kedua tangannya -seperti berdoa orang kristen- seakan berdoa dengan keselamatannya, lalu dia berlari, dan berbelok ke kanan. Perseus terus berlari sampai dia melihat bekas bercak darah di lantai. Perseus berhenti berlari.

Cit cit

Perseus melihat ke arah sumber suara, ada seekor burung putih sedang bertengger di jendela yang sudah tidak ada kacanya. "Ada burung." melihat burung putih itu terluka, Perseus mengambil burung itu, namun burung itu terbang dari tangannya, burung itu berhenti di depan sebuah gang yang agak kecil dari sebelumnya, dan gang itu ditutupi dengan potongan kayu agar tidak ada yang bisa memasukinya. Perseus mendekat ke arah burung itu, dan berlutut.

"Jangan takut, ayo kemari. Ayo kita keluar dari sini bersama." ajak Perseus pada burung itu sembari tersenyum, ia mengulurkan tangannya ke arah burung itu.

Namun … tanpa aba-aba burung itu ditebas oleh seseorang dari lorong gelap yang ditutupi oleh kayu itu. Kedua pupil matanya mengecil karena kejadian itu, orang yang menebas burung itu sekarang berdiri di depannya sambil tertawa penuh kebahagiaan.

"Wajahmu tadi dipenuhi oleh kegembiraan ya, tapi sekarang berubah menjadi wajah penuh keputus- asaan. Kuberikan tiga detik padamu, karena itu larilah secepat mungkin, lalu menangislah, berteriaklah, dan memohon ampun padaku!"

"Tunjukkan lagi wajah keputus-asaan padaku!"

"TIGA!"

Pikiran pertama, OMIGOD ARES! DEMI APA LU JADI PSYCHO?!

"DUA!

Kata-kata yang terlintas di otak Perseus untuk kedua kalinya, DEMI ARES YANG MASIH RESE DI CHAP KEMARIN! DIA DISUNTIK APA BISA JADI GILA GINI!

"SATU!"

Pas diitungan kesatu, Perseus langsung pindah tempat dengan cepat menggunakan Taikyokuzu. Perseus berpindah ke tempat sembunyi semacam kotak penyimpanan, wajah kaget, stress, dan emosi negatif lainnya terbaca di wajahnya sekarang, yang hanya bisa dia lakukan sekarang hanya menutup mulut, dan berdoa agar dia tidak terbunuh olehnya.

Darimana dia mendapakan scythe itu?

Jangan-jangan dia nyolong senjata punya Kiyomasa?

Gua kira bakal Odin bukan Ares?! Seinget gua dia tuh dewa perang! OMIGOD! GUA DOSA APA MPE DIBUANG KE TEMPAT BEGINIAN?!

Dosa lu? BANYAK!

BRAK!

MIGOD MIGOD MIGOD! ARES UDAH DEKET! HIIIII GUA MERINDING! OHHHHH! KAMI-SAMA!

"Seus … Seus~ dimana kamu?"

Ares sudah berdiri di depan tempat persembunyiaan.

ZRAASH!

Hiiiii … rambut blonde kesayangan gua… Perseus menggigit bawah bibirnya, dia menyatukan kedua tanganya kembali, dan memejamkan mata. Berdoa.

Tak lama kemudian setelah sabit yang menancap terangkat, Perseus sedikit merasa lega.

"Dia tidak ada disini ya?"

Ares pergi dari ruangan itu, disaat Perseus sudah merasakan bisa keluar dengan aman dari dalam kotak kayu itu.

"Hah..." Perseus melirik ke kanan dan ke kiri secara perlahan, lalu kembali berlari ke tempat tadi dia bertemu dengan burung putih.

Badan burung putih itu sudah sobek bermandikan darah, kedua bola mata Perseus yang berbeda warna itu menjadi gelap saat melihat ke arah burung putih itu, seakan jiwa Perseus sudah mati.

"Ini bukan burung yang tadi, burung putih yang tadi tidak begitu menyedihkan."

"Tenang saja, aku akan memperbaikimu…."

Perseus berlutut, lalu dia mengeluarkan benang, dan jarum dari dalam tas yang dibawanya. Dia menjahit burung itu. Setelah menjahit burung itu, dan menguburnya, dia berlari mencari lift untuk keluar dari lantai ini.

.

"Ibu … aku ingin bertanya."

"DIAM! LEBIH BAIK KAMU KEMBALI KE KAMAR!"

"Apakah kalau aku menurutinya, Ibu akan mendengarkan pertanyaanku?"

"SUDAH DIAM! LEBIH BAIK KAMU KEMBALI KE KAMAR!"

.

"KU TEMUKAN KAU!"

Kedua mata Perseus membulat sempurna, dewa perang itu muncul kembali dihadapannya, sekarang dia tidak punya pilihan lain selain kabur darinya. Perseus berlari tak tentu arah diikuti oleh Ares yang mempercepat pergerakkan kakinya. Perseus mulai panik, di depan matanya ada sebuah lift seperti di lantai sebelumnya, Perseus memencet tombol itu. Perseus berdoa agar pintu lift itu terbuka lebih cepat. Tepat pintu lift terbuka Perseus berlari masuk, dan langsung memencet tombol di sebelah kiri, pintu lift tepat tertutup saat Ares sudah dekat.

"Hah … hah …." Perseus meletakkan sebelah tangannya di depan dada, jantung masih berdegup kencang karena tadi.

Ting

Pintu lift terbuka, Perseus sampai di lantai B5, di lantai ini seperti koridor di rumah sakit, Perseus mulai melangkahkan kakinya di lantai ini perlahan, baru saja Perseus berjalan beberapa langkah dikoridor, Perseus mendengar suara derap langkah selain dirinya, Perseus kembali panik. Perseus kembali berlari di koridor, tetapi tangannya tiba-tiba dari belakang digenggam oleh seseorang.

"Perseus."

Perseus terkejut.

"Ini aku ... dokter Odin yang terpilih menjadi dokter psikiatermu." katanya dengan nafas terengah-engah.

Odin melepas genggaman tangannya. Perseus membalikkan badannya.

"Dokter psikiaterku?"

Odin mengambil sapu tangan dari balik jasnya, lalu mengelap darah yang mengotori wajah Perseus. "Itu benar, apa kamu tidak ingat?"

Perseus tidak menjawab pertanyaan Odin, dia hanya bisa memasang wajah bingung dan ragu.

Odin tersenyum. "Kelihatannya kamu sedikit bingung, ya."

"Tenang saja aku ini beneran doktermu." lanjutnya.

"Dokter, tadi aku dikejar oleh seseorang, dia siapa?" tanya Perseus, ekpresinya masih tidak berubah.

"Mungkin yang mengejarmu adalah pembunuh berantai."

"Kita! Harus cepat pergi dari sini."

"Tenang saja, dia tidak akan datang ke lantai ini. Percayalah padaku."

Perseus mengangguk.

"Perseus ayo kita cari pintu keluarnya bersama."

Di lantai B5, Perseus sedang bersama dengan Odin berbincang-bincang ringan, Odin memasang senyum yang sedikit membuat Perseus tidak nyaman.

"Dokter sudah menungguku?" tanya Perseus. "Bagaimana dokter tahu-"

"Daripada itu, kita harus mencari lift untuk ke atas."

Di tengah perjalanan, ada sebuah kaca tebal yang menghalangi jalan, dan tidak ada jalan lain.

"Sepertinya kita terjebak berdua disini." Odin berjalan mendekat pada Perseus. "Tenang saja, tidak usah takut." Odin menepuk pundak Perseus. "Ayo kita periksa ruangan disebelah sana." Odin pun menuntun Perseus pada kesebuah kamar pasien, kamar itu berantakan, membuat Perseus semakin tidak nyaman.

Di tembok kamar ada tertulis sebuah tulisan seperti yang dia temukan saat di lantai B7.

Perseus membaca tulisan itu. "Apa kamu tau apa yang benar-benar kamu inginkan?" Apa kamu tau apa itu keinginan? Kalau itu keinginan sejatimu, kamu tak perlu menahannya. Itu karena, tak ada alasan bagimu untuk berada di sini. Tapi, setiap keinginan memiliki harga, jangan melanggar aturan." Perseus melihat ke arah Odin. "Aturan?"

"Apa disini ada semacam aturan?" Odin bertanya balik pada Perseus.

"Kalau begitu, apa itu arti keinginan itu?" Perseus bertanya lagi.

"Kurasa setiap orang itu berbeda artinya. Kalau aku … aku ingin mata yang indah. Salah satu mataku tak bisa melihat dengan baik. Jika aku memiliki mata seperti milikmu, itu pasti sangat luar biasa."

Perseus mulai sedikit takut dengan dokter psikiaternya. "Ada tulisan yang lain." Saat Perseus hendak menempelkan telapak tangannya pada tembok yang ada tulisan itu, tangannya di genggam oleh Odin.

"Hentikan, matamu bisa kemasukan debu." kata Odin dengan nada yang sedikit mengancam, lalu dia tersenyum kembali "Kamu harus merawat matamu dengan baik. Ayo kita periksa ruangan lain." Odin menarik tangan Perseus dengan paksa.

Sekarang mereka ada di ruang operasi. Perseus semakin yakin ada yang salah dengan dokter psikiaternya.

"Perseus, bisakah kamu memperlihatkan kedua matamu yang indah itu?"

Perseus membalikkan badannya, dan mundur beberapa langkah menjauhi Odin.

"Matamu benar-benar cantik, seperti milik Ibuku. Tapi saat dilanda ketakutan, itu terlihat seperti mata biasa. Itu membuatku sedih..." Odin berjalan mendekati Perseus. "Perseus aku ingin hidup di sisi mata itu." Odin meletakkan kedua tangannya pada wajah Perseus. "Aku akan ke ruang dibelakangmu sebentar, kalau kamu lari aku tidak akan memaafkanmu."

Setelah Odin pergi ruangan itu, dan Perseus lari menuju pintu, dia mencoba untuk membuka pintu tetapi pintu itu terkunci, Perseus mencari sesuatu yang keras, dan bisa membuka paksa pintu itu. Perseun melihat sebuah tongkat kayu yang cukup solid, Perseus seperti kenal dengan tongkat itu. Perseus berhasil membuka pintu itu, tongkat kayu itu terjatuh dari tangannya saat dokter itu kembali, dan sedang berdiri di belakangnya sekarang.

"Kamu mau ke mana?"

"Aku sudah memintamu untuk tidak lari, kan?"

Perseus seakan tidak bisa bergerak, kedua pundaknya disentuh oleh Odin dari belakang. "Kamu tau? Ini adalah lantaiku."

"Dokter?"

"Kalau kamu lari ke lantai lain, aku takkan bisa melakukan apapun padamu."

Odin jadi FETISH SAMA MATA OMEGAADDD! CUKUP DENGAN MATA GUA YANG BEDA WARNA SEBELAH GAUSAH PAKE ACARA MAU DICABUT JUGA!

"Padahal keinginanku adalah terus melihat matamu disisiku sepanjang waktu."

"APA BOLEH BUAT! Berikan matamu padaku."

Odin menyeret Perseus paksa yang hendak lari, Odin menyeret, dan menidurkan Perseus ke atas kasur untuk operasi dengan paksa.

"Odin pliss, sadar." Perseus nangis.

"Aku sangat sedih, kamu sudah melupakan dirimu, dan melupakan DIRIKU!"

"Apa kamu tidak mengingatnya? Kenapa ini terjadi padamu?"

"Hentikan..." Perseus menutup kedua matanya.

"Meski begitu dibandingkan dengan orang lain, matamu itu lebih, lebih, lebih indah."

Perseus kembali membuka matanya. "Lepaskan, aku ingin kembali pada Ayah dan Ibuku."

"Jangan khawatir, kamu akan segera bertemu dengan mereka. Ayah dan Ibumu sudah menunggumu di neraka!"

Perseus kaget saat mendengar kata-kata itu. "Neraka?" Perseus teringat dengan sesuatu, memori yang mengerikan, memori yang sempat hilang.

"Perseus, bola matamu … Perseus?" Odin tersenyum dengan lebar. "Benar! Itu dia, betapa indahnya matamu itu? HIDUPLAH BERSAMAKU PERSEUS! Aku sangat kesepian!"

Zrasshh!

Dada Odin tertusuk oleh sabit, saat sabit itu tertusuk agak dalam, darah bercipratan keluar dari tubuh Odin. "Kau..." Odin terjatuh dari kasur.

"HAHAHAHAHA!" Ares tertawa sangat bahagia. "Oi, oi, oi Odin, kenapa suaramu terdengar sangat senang? Karena tak tahan, aku menebasmu!" Ares menunduk sedikit melihat ke arah Perseus yang masih terdiam. "Hei anak kecil, saat aku mengejarmu, aku berakhir di tempat yang luar biasa."

Ares berjalan mengelilingi Perseus. "Apa kamu ingin hidup? Kalau begitu, larilah, larilah, berjuanglah, dan tetap memegang harapan." Ares mengangkat sabit itu ke atas lalu mengayunkannya ke arah Perseus, namun berhenti tepat di dekat leher Perseus. "AKU AKAN MEMOTONG TUBUHMU!"

krik krik krik

"Ha? Cih … wajah yang membosankan, apa kau tak ingin hidup? Aku adalah pria dewasa, aku tidak suka menebas boneka."

"Penghuni lantai B6 telah menyerang penghuni lantai B5, karena telah melanggar peraturan, penghianat telah dipilih sebagai tumbal."

"Ha? Yang benar saja. Sial, apa aku harus lari?"

.

"Benar … seharusnya aku tidak hidup." gumam Perseus.

Perseus bangun, lalu berjalan terhuyung-huyung, sekarang dia berdiri di depan Ares.

"Mau apa kau? Berjalan seperti itu?"

"Begini, aku memiliki permintaan." Perseus menyatukan kedua tangannya seperti akan berdoa. "Kumohon … bunuhlah aku." pinta Perseus pada Ares dengan tatapan kosong.

Kill me … please.

END

:c selesaaiiii~ :v maap ye jarang publish sekarang aku lebih sering publish cerita di weteb bukan disini, jadi mohon dimaklumi, kalo penasaran sama cerita yang aku publish di weteb nama akun wetebku bisa di cek di profilku :))

makasih udah baca parodi abstrak ini betewe

See you next story~