Warning: kerenyes kranci, OOC, genre berbeda tiap chap mungkin, IMAJINASI HARUS TINGGI KALI LUAS! AWAS TYPO! CERITANYA MAKIN LAMA MAKIN ABSURD! Membaca cerita ini jangan terlalu menggunakan logika, karena ga masuk akal. Awas hidup jadi mereceh. ga tanggung janab kalo kalian bosen.

Genre: Humor stress,

Rate: T

Disclaimer: WO punya Koei

Ini Bachotshow

(Taigong Wang: sekarang marodiin acara Net -_-)

(Shi: well, kalo mereka udah pernah nonton tuh acara pasti kebayang lah temptanya kek gimana.)
Selamat Membaca

Sebuah kamera menyorot dua manusia dengan model rambut hampir mirip namun tinggi yang membedakan duduk di kursi sofa khusus untuk Host dan Co-Host.

"Halo permisa, berjumpa lagi dengan kami, saya Naomasa Iindah host terkece disini, dan di samping saya ada Wen Yang co-host yang paling di sayang sama Producer. Seperti di chapter-chapter sebelumnya, kami akan menemani pemirsa selama 12 jam ke depan dalam acara Ini Bachotshow!" Naomasa senyum berseri-seri pada kamera.
"Sekarang kami akan memanggil bintang tamu yang pertama di tengah malam ini, KITA SAMBITTT!"

Nama belum disebutkan tetapi semua bintang tamu masuk ke dalam studio berbaris macem pemain sepak bola yang dipanggil untuk ke lapangan.

"Terima kasih sudah mengundang kami kesini."Odin cengar-cengir ke arah kamera, dia berdiri paling depan tapi paling beda.
"ODIN?! ELU TERBANG?!" teriak Shi yang baru nongol di studio.
"Gue emang bisa melayang keles." bales Odin."
"Silahkan duduk." Wen Yang mempersilahkan para bintang tamu duduk di sofa kecuali Odin, doi lebih memilih duduk di atas Gungnirnya ala ala penyihir kampung.
"Shi bikin teh buat mereka dong." pinta Naomasa pada Shi yang duduk di kursi buat anak kecil disampingnya.
"Gua disini jadi babu?" Shi menatap Naomasa tidak percaya, tapi doi ngikutin perintahnya, pantes kursi gua yang beda sendiri sama pakean gua ... pake daster.
"Jadilah babu yang ga pernah protes kalo gamau gaji ditahan sampai Chen Gong berhasil jual diri." Wen Yang berseri-seri, akhirnya doi bisa nyuruh-nyuruh majikan.
"Kembali ke ngeped, saya punya pertanyaan untuk Mas Kojuro, gimana rasanya main di karangan ceritanya Mas Muna?" tanya Naomasa sambil ngeliat ke ngeped bututnya.
"No komen." jawab Kojuro.
"Kalo diinget-inget lagi wajah di scene terakhir anda seperti yang tertipu, hmhmhm..." sang Co-Host mencoba untuk membuat sang protagonis chapter kemarin berkomentar. Tapi gagal, Kojuro masih tidak berkomentar.
"Mas Naomasa, aku mau nanya kenapa si Rese jadi anak mereka?" Athena kepo.
"Jangan tanya saya apalagi dia," nunjuk Wen Yang, terus Naomasa nunjuk seorang manusia yang duduk di sebelah kanan Kojuro. "noh ada pembuatnya."
Athena langsung nengok ke arah Muneshige. "Lu nape bawa-bawa adek gua?"
"Abis adek lu cocok aja gitu, apa lagi pride adek lu kan selangit makanya gua ubah dia jadi bocah terus main di cerita gua." jawab Muneshige.

Tak lama kemudian datanglah Shi dengan nampan, dan 6 gelas teh diatasnya, penampilan Shi yang tadinya kek gembel nyasar ke studio jadi kek pitung pake kumis palsu tapi anehnya bagian rambut pake roll-an kek ibu-ibu.

"Terima kasih babuku~ silahkan duduk lagi." Naomasa mesem-mesem.
Shi ngumpat dalem hati. "Mane babu gua yang tinggi cem tiang listrik ntu?"
"Gatau tadi dia ngilang gitu aja dari samping gua. Ehem lanjut lagi, untuk mbak Athena, kenapa cuman rambut mbak yang sama kaya Zeus?"
"Adakah pertanyaan yang lebih berbobot dikit?"
"Namanya juga..."
"Ini Bachotshow!" para penonton bayaran melanjutkan perkataan Naomasa yang sengaja diputus.
"Oke bek tu ngeped, untuk Ma Chao, gimana dengan pertenakan kudanya?"
"Kuda saya makin bervariasi sampe ada kuda saya yang bisa ikut membasmi titan." kali ini sang bintang tamu yang berseri-seri.
"Saya punya teman yang ingin membuat peternakan, mungkin saja mas Ma Chao bisa ngasih tips pada teman saya ini," Naomasa ngambil sebuah telepon jadul dari laci meja. "Saya telepon dulu ya ... Sawadikap, kapungkapkap makaroni kerapu, masuk aja." Naomasa menaruh kembali gagang telepon.

TING TONG!

Pintu studio di bagian belakang terbuka, muncul sesosok tiang listrik dengan tank top pink yang digunting setengah, rok hitam selutut, rambut keriting, wajahnya kek abis ditampar sama nenek-nenek (blush-on pink dibagian kanan), sosok itu berjalan lemah gemulai, sosok itu pun duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi Host, jadi ga terlalu sakit mata saat Naomasa melihat kearahnya.

Reaksi keenam bintang tamu kita macem-macem, ada yang ngukuk, ada yang shock berkelanjutan, yang paling merasa terkejut, ya majikannya, dari mulutnya sampe netes air liur.

"Hai~" sosok itu menyapa Naomasa.
Naomasa memasang muka jijik. "Hai, Mama Sayang." sapa Naomasa balik.
"Masa, baju lu kecil banget." kata sosok itu pada Naomasa.

"Jangan salahin gua lha, salahin tim kreativ." bales Naomasa selow.

"Ehem, nama saya bukan Mama Sayang tapi Papa Roti Mama Coklat." terus tuh sosok tertawa kecil.
"Mas darimana?"
"Dari ujung jalan khikhikhi."
"Mas katanya mau bikin peternakan ya?"
"Kata siapa saya mau bikin peternakan? Saya mau bikin toko roti." elak Papa Roti Mama Coklat, membuat Naomasa memendam kesal soalnya ga sesuai skrip.
"Terserah ente," Naomasa garuk-garuk leher. "Sebenernya anda siapa sih?"
"Saya? Saya ini ahli nujum ... nujum muka orang." Wen Yang yang sedang berubah menjadi Papa Roti Mama Coklat kedap kedip sok imut.
"Katanya anda ngepens banget ya, sama yang namanya Zhao Yun."

Sesudah mengatakan itu salah satu bintang tamu menghilang secara ajaib, 5 menit kemudian muncul Zhao Yun KW yang ternyata adalah Fu Xi pake wig item panjang terus di kepang pake Baju cheongsam selutut, terus Zhao Yun KW SUPER duduk bersebelahan sama Papa Roti Mama Coklat. Reaksi para bintang tamu auto muntah, host dan babu kita tercinta otaknya langsung korslet, yang bikin mereka bereaksi kayak gitu tuh gegara kedua kaki Fu Xi yang macem semak-semak belukar, beda sama reaksi Wen Yang, kedua matanya saat melihat Zhao Yun KW SUPER berbeling-beling, bahagia.

"MAS ZHAO YUN?!" Wen Yang kaget ala bences.
"Wen Yang,"

Si KW super baru menyebut namanya, yang punya nama bahagia sendiri sampe jingkrak-jingkrak keluar studio.

"Co-Host gua kenapa sih gapernah bener? GUA MINTA AUDISI BUAT CO-HOST LAGI! GUA GA INGIN PUNYA CO-HOST YANG NGEPENS DALEM BANGET SAMA SALAH SATU KARAKTER DI DUNIA INI!"

Naomasa ngamuk di studio, kru langsung nelpon Toyohisa buat nenangin Naomasa tapi tuh kru-kru studio malah dimarahin sama Produser acara.

"NAOTORA BUKAN TOYOHISA GEBLEK!"
"AMPUN CHONG!"

Setelah kejadian tidak menyenangkan barusan, salah satu kru bernama Takatora memanggil seorang dukun untuk menghilang aura-aura negatif yang memenuhi satu studio, setelah pembersihan alat-alat untuk merekam dan segala macemnya di taruh lagi, sang Co-Host yang sempat kerasukan hanya bisa mengompres kepalanya dengan es hangat, 9 menit kemudian syuting pun dilanjutkan.

"Maaf kesalahan teknis, saya lanjut, pertanyaan untuk-"

Krek krek krek krek

Omongan Naomasa dipotong karena ada sebuah keranjang belanja didorong oleh sang babu diikuti sang Co-Host. Keranjang itu sudah dilapisi oleh pelastik transparan jadi bolong-bolongnya ketutup. Di dalam keranjang ada banyak busa-busa bulet warna putih.

"Ini apa lagi?" sang Host kesal karena terintrupsi terus.
"Disuruh sama ukenya Prosedur Mas." Shi berusaha untuk membela diri.
"Serah dah, pokoknya kalian bawa ini ngapain?"
"Kami ingin mengajak bintang tamu untuk bermain." Wen Yang nyengir inosen.
"MAIN APA?" tanya Naomasa dengan penuh penekanan pada setiap kata.
"MAIN SAMBUNG CERITA!" jawab Wen Yang dan Shi ga woles.
"Yha terus?" bales Naomasa seakan tidak tertarik dengan itu.
"Jadi gini cara mainnya. Suatu hari ada seorang manusia sedang berjalan-jalan keliling istana sambil membawa-" Shi ngobok-ngobok tuh keranjang sampe dapet kertas yang digulung, kertas itu pun dibuka. "-membawa tongkat baton." Shi langsung mingkem, tengok kiri-kanan takut orang yang dimaksud masuk ke studio, setelah merasa aman Shi menyuruh Wen Yang untuk melanjutknnya.

"Setelah itu manusia berwajah seram bertemu anak-anak namun sayang anak-anak itu pergi karena-AUA!" kaki Wen Yang diinjek dengan keras oleh Shi." belum selesai juga, karena dia memakai-" Wen Yang ngobok -ngobok tuh keranjang. "memakai topeng anjing herder..."

Wen Yang jadi ngikut mingkem, takut bener-bener sosok yang muncul di benak mereka muncul padahal Shi tidak bermaksud ke orang itu. Bukan yang mereka maksud yang masuk ke dalam 'rumah' melainkan sang Produser egen yang masuk, terus menjewer mereka berdua, dan mereka pun hilang bak ditelan bumi.

"Oookey... Yang tadi itu apaan?" sang Host gagal paham dengan kejadian barusan. "ada yang mau melanjutkan permainan tadi?" tawar Naomasa pada bintang tamu.
"Saya mau deh." Odin merelakan dirinya menjadi korban selanjutnya. "Hari ini sangat panas, saya mengelap keringat dengan-" Odin mengambil salah satu gulungan di dalam keranjang itu. "-dengan knalpot racing."
"Sasuga penyihir picek sebelah." Naomasa tepuk tangan, lalu berjalan mendekati keranjang itu dan menendangnya dengan keras. "UDAH DUDUK LAGI!"

Mereka pun kembali duduk, saat Naomasa mau bertanya kepada salah satu bintang tamu, satu studio malah mati.

"VAMPIR KISMIN! ELU BELUM BAYAR LISTRIK KE SUSANO'O YA?! INI KENAPA PAKE ACARA MATI LAMPU BEGINDANG?!'
"Gelap ya." kata Odin bego.
"Emang gelap siapa yang bilang ini terang hah?!" Athena ngeggas.
"Selow dong, mending kita pulang yuk." ajak Fu Xi.

Lalu Muneshige bersabda. "Kalo kita PULANG sebelum ni acara BERES gaji kita ditahan sampai Zhenji mau ngelamar Kojuro."

"ITU GA AKAN TERJADI KELES!" Kojuro yang tadinya kalem malah ngeggas.
"Kuda-kudaku belum dikasih makan..." Ma Chao mulai menitikkan air mata.

5 jam kemudian studio menyala kembali, Naomasa kembali tenang udah tidak mengumpat sana-sini. Pas dia mau kembali duduk ke singgahsananya, seorang kru berkata.

"MASA UDAH HABIS DURASI ACARANYA! kita udah ngambil waktu acara berita 'Kilas Malam'."
"WHOT?! Terus gaji gua sama gaji mereka gimana? Acara ga full gini."
"Cuman dibayar setengah terus Produsernya ganti secara dadakan juga."
"Terus ni acara diganti jadi apa?"
"Jadi 'Sopo yang mau jadi miliuner?'. Tapi tetep ente yang jadi hostnya."
"Derita-derita jadi HosBa (Host Abadi)." Naomasa tepok jidat terus geleng-geleng kepala. "Aduh, ojan ... ojan..."

End