A/N: Here it comes Chapter 2. Moga ga kelamaan updatenya. Makasih Buat Kara-san yang udah ngasih masukan buat chapter 1. Chapter 1 sebagian udah diedit. Seperti yang pernah dibilang di awal, Rifuki masih perlu banyak belajar jadi author yang bener. Makasih juga buat reviewer lainnya, karena kalian bikin Rifuki semangat ngelanjutin fic ini. Yaudah ga usah basa-basi lagi langsung ke story. Selamat membaca ;)

Onee-san

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Family

Rate: T

Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."

Warning: AU. OOC. Disini Naruto dan Naruko diceritakan kembar dan hubungan mereka BUKAN incest. Hanya menceritakan hubungan persaudaraan adik dan kakak kembarnya. Konoha disini digambarkan sebuah kota besar di Jepang. Semuanya POV Naruto, nanti kalo ada POV karakter lain pasti dikasih tau.


Cerita Sebelumnya:

"Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Karin-Neesan! Karin-Neesan adalah kakak terbaik untukku. Kau pikir kau siapa? Bertemu saja baru hari ini. Jangan sok akrab denganku!" bentakku pada Naruko. Entah apa yang merasukiku pikiranku. Mendengar kata 'pengganti' aku langsung tidak terima. Karin-Neesan tidak akan bisa digantikan oleh siapapun!

"Gomen Naruto-kun... Aku..." Naruko kaget dengan perlakuanku dan mundur beberapa langkah.

"CUKUP!" Aku membentaknya lagi dengan keras kemudian pergi meninggalkan area pemakaman. Naruko memanggil-manggil namaku tapi tak aku hiraukan. Pikiranku tak karuan, aku perlu menenangkan pikiranku. Aku tidak tau mau pergi kemana. Aku hanya mengikuti kemana kaki ini membawaku.

Chapter 2

-Saran dan Nasihat-

"Nee-san aku cape. Isirahat dulu dong bentar," keluhku kecapean. Aku dan Karin-Neesan dalam perjalanan pulang sekolah siang itu.

"Yaudah kita duduk dulu disana," kata Nee-san sambil menunjuk kursi taman yang kosong dan cukup teduh, "ah itu ada stand es krim, ayo kita beli!" lanjutnya lagi. Kelihatannya stand es krim itu baru, soalnya setiap hari kami lewat jalan ini tapi ga ada stand es krim itu sebelumnya.

"Ano.. bekalku udah abis, traktir aku ya Nee-san? Hehe," bujukku sambil memperlihatkan cengiran khasku.

"Ah kamu ini. Kalau gitu tunggu disini, Nee-san beli dulu eskrimnya," katanya sambil berlari kecil menuju stand es krim. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan es krim rasa coklat di tangan kiri dan rasa orange di tangan lainnya. Kami pun duduk di kursi taman itu sambil menikmati dinginnya es krim kami. Sebelum tiba-tiba...

BUUKKK!

Sebuah bola sepak mengenai mukaku dan sukses menjatuhkan es krim rasa orange kesukaanku itu. Mukaku belepotan dengan es krim dan pasir yang berasal dari bola tadi.

"Naruto, kamu ga apa-apa?" tanya Nee-san panik.

"Ga apa-apa kok, aku hanya..."

"Dasar anak-anak nakal! Hei siapa tadi yang menendang bola?" bentak Nee-san sangar, beranjak mendekati gerombolan anak-anak disana. Mereka yang merasa dibentak bukannya mengaku malah langsung kabur. Wow, Nee-san mengerikan pikirku.

"Sini Nee-san bersihin dulu mukamu," kata Nee-san setelah kembali ke dekatku. Ia mengeluarkan tissue dan mengelap mukaku sampai bersih. Aku hanya memandang es krim orangeku yang malang, padahal baru aku nikmati beberapa jilat saja. Nee-san menyadari pandangan mataku dan... "Nih."

"Eh?" Aku malah cengo.

"Ini, makan saja punya Nee-san. Aku tau kamu masih kepanasan," kata Nee-san sambil menyerahkan es krimnya. Sebenarnya aku ragu menerimanya, soalnya aku juga tau dia masih kepanasan. Terlihat dari titik-titik keringat di dahinya.

"Bukankah Nee-san juga masih kepanasan?" tanyaku ragu. Namun dia hanya menggeleng, memberikan es krimnya, dan tersenyum ke arahku. Kamu ga pintar bohong Nee-san. "Kalau begitu besok aku yang akan traktir Nee-san," kataku spontan.

"Emang bisa? Kan bekalmu selalu abis dibeliin mainan dan makanan-ga-sehat di sekolah," tanya Nee-san meremehkanku.

"Bisa dong. Aku janji! Uzumaki Naruto tak pernah mengingkari janjinya," ucapku mantap sambil menepuk-nepuk dadaku.

"Haha, ia terserah kamu aja," kata Nee-san sambil mengacak rambutku.

"Nee-saaaann, jangan lakukan itu, aku bukan anak kecil lagi!"

"Oh ya? Kamu baru 9 tahun, masih kecil! Hahaha."

"Sembilan tahun itu udah besar!"

"Masih kecil!"

"Udah besaaaarrr!"


Mataku terpejam mengingat kejadian 8 tahun lalu itu. Malam sudah larut, sekarang aku sedang berada di Konoha Park. Bersandar di sebuah kursi taman yang biasa aku dan Nee-san duduki kalau sedang makan es krim. Kubuka mataku dan kuraba permukaan kursi disebelahku, rasanya dingin karena udara malam.

Pandanganku beralih ke depan, kalau siang stand es krim langganan kami berada di sebelah sana. Dadaku kembali sesak mengingat memori-memori bersama Karin-Neesan. Tempat ini menyimpan banyak kenangan.

Kembali kulangkahkan kakiku. Menelusuri jalanan Konoha yang mulai sepi. Kulirik jam tanganku. 11 PM. Pantas saja jalanan sudah sepi. Angin malam sudah mulai menusuk pori-pori kulitku, kurapatkan jaketku berharap agar lebih hangat. Kurasakan HPku bergetar. Kaa-san menelpon, kupencet tombol berwarna merah di HPku kemudian kutulis email baru.

To: Kaa-san

Subject: Gomen

Message: Gomen, aku tidak akan pulang malam ini. Jangan khawatir, aku hanya butuh waktu untuk sendiri dulu.

Setelah kukirim email tersebut, kumatikan HPku.

Gomen Kaa-san, aku ingin menenangkan pikiranku dulu...

Perjalananku terhenti di depan sebuah apartemen sederhana. Kutelusuri tangga naik apartemen itu dengan gontai. Sekarang aku berada dilantai 5, di depan kamar nomor 52. Kupencet bel masuknya dan menunggu sang penghuni membukakan pintu. Tidak ada jawaban, kupencet bel sekali lagi. Apa penghuninya udah tidur? Mungkin saja, lagipula sekarang hampir tengah malam.

Baru saja aku berbalik bermaksud meninggalkan apartemen itu, pintu terbuka menampakan penghuninya.

Gadis berambut indigo dan bermata lavender muncul membukakan pintu.

"Na-Naruto-kun?" Gadis itu menatapku dan memiringkan mukanya terlihat kaget bercampur bingung. Soalnya aku tidak pernah mengunjunginya tengah malam begini. Maklum saja ayahnya 'kan galak, belum lagi kakak sepupunya yang terkenal sister complex. Bisa-bisa aku dipanggang hidup-hidup oleh mereka kalau ketauan mengunjungi gadis tersebut jam segini. Tapi aku tidak memperdulikan hal itu sekarang. Pikiranku sedang kacau. Dan aku butuh orang yang bisa menenangkan pikiranku.

"Hinata-chan..." lirihku, kutatap pacarku itu. Dia ada di urutan pertama yang kutemui saat aku punya masalah, karena dialah orang yang paling mengerti aku selain keluargaku.

"Kenapa ga ngabarin dulu kalo mau kesini? Aku kan bisa..." Perkataan Hinata terpotong saat tiba-tiba aku mendekapnya erat.

"Boleh aku tidur disini malam ini?" tanyaku tanpa melepas Hinata.

"E-eh?" kurasakan Hinata kaget dalam dekapanku. Aku yakin mukanya sangat merah sekarang.

"Aku tidur di sofa," tambahku, menyadari kalau Hinata mungkin bisa salah paham (Waaa, reader yang hentai pasti pada kecewa, hahaha *dijitak reader). Kulepas dekapanku dan kutatap wajahnya. Hinata terlihat berpikir sejenak.

"Umm... bo-boleh, ayo masuk dulu, di luar dingin," ujarnya menyembunyikan pipinya yang merona, kemudian menggenggam tanganku dan menuntunku masuk ke apartemennya yang hangat.


Hinata membuatkanku teh hangat dan membawakan beberapa cemilan untukku. Sekarang kami sedang nonton TV. Duduk di sofa empuk berwarna lavender miliknya. Hinata duduk dipangkuanku, aku memeluknya dari belakang. Entah kenapa setiap aku memeluknya seperti ini, hatiku terasa damai.

Hening. Meskipun pandanganku ke arah TV, tapi aku tidak begitu memperhatikan acara yang kutonton.

"Masih kepikiran Karin-Neechan?" Hinata menyadari kalau aku melamun.

"Hn." Aku hanya mengangguk, daguku kusimpan di pundak Hinata. Hinata memang ikut dalam acara pemakaman Nee-san tadi sore, jadi dia tau mengenai kematian Nee-san, serta kedatangan Naruko dan Tou-san ke Konoha.

"Aku juga ikut kehilangan. Biar bagaimanapun kita bisa seperti ini atas bantuan Nee-chan." Hinata menggengam tanganku menenangkan.

"Hn," anggukku lagi. Kenapa aku jadi seperti Sasuke-Teme?

Hening. Aku tau Hinata bukan tipe orang yang suka memulai pembicaraan.

"Tadi aku membentak Naruko," kataku memecah keheningan.

"Ke-kenapa?" tanya Hinata sedikit kaget.

"Aku ga mau Naruko menggantikan Nee-san."

Hinata menghela nafas dan berkata, "Hmm.. Jangan bilang gitu. Naruko-chan datang dalam kehidupanmu, ta-tapi bukan berarti menggantikan Karin-Neechan. Posisi Karin-Neechan akan tetap ada di tempat khusus dihatimu dan tidak akan tergantikan oleh siapapun. Aku yakin Karin-Neechan juga menginginkan itu."

" ..." Aku tertegun mendengar pernyataan Hinata.

"Umm.. Menurutku Karin-Neechan malah akan sedih kalau kamu terus dirundung kesedihan seperti ini. Dia pasti ingin kamu menjalani hidupmu seperti biasa. Dan dia juga ingin kalau keluarga kalian bisa berkumpul seperti dulu."

Hinata ada benarnya. Gadis ini memang selalu bisa menenangkanku saat aku punya masalah.

"Kurasa kamu benar Hinata-chan, makasih ya kamu emang selalu bisa menenangkanku," kukecup pipinya dengan tiba-tiba.

"Ah, i-ia sa-sama-sama..." Dia terlihat kaget. Rona merah kembali muncul di pipinya, lucu sekali pikirku. Tanpa sadar aku tersenyum, sejenak melupakan kesedihanku.

"Udah jam 1 lebih, cepetan tidur besok sekolah 'kan?" Kulepas pelukanku dan memberinya sedikit ruang gerak. Dia mengangguk.

Kutemani ke tempat tidurnya, kuselimuti dia, dan kukecup keningnya sambil tersenyum. Ia membalas senyumanku. Aku beranjak untuk keluar dari kamarnya, sebelum Hinata menahan tanganku. Aku menengok.

"Kamu tau? Ikatan batin antara saudara kembar itu kuat. Kalau Naruto-kun sedih, pasti Naruko-chan juga merasakan kesedihan yang sama. Sekarang dia pasti sangat mengkhawatirkanmu. Kumohon, besok temui keluargamu dan minta maaflah pada Naruko-chan. Mengerti?" Haaa, Hinata jadi seperti Kaa-san kalau seperti ini.

"Ya, ya, ya Hime bawel," balasku sambil mencolek hidung mancungnya. Hinata kembali tersenyum. Kumatikan lampu kamar Hinata dan berjalan keluar kamar. "Oyasumi, Hime."

"Oyasumi Naruto-kun."

Kubaringkan badanku di sofa empuk di ruang TV, kebetulan sudah ada selimut dan bantal yang disediakan Hinata. Badan yang capek membuatku cepat terlelap.

"Naruto-kun, Naruto-kun, udah hampir jam 7. Kamu mau sekolah ga?" kurasakan ada yang menepuk-nepuk tanganku, kubuka mataku dan melihat Hinata disana.

"Mmmm... kali ini aku bolos dulu," jawabku ogah-ogahan dan kembali memejamkan mata.

"Ah kamu ini. Yaudah, aku udah masak sarapan. Nanti dimakan ya, terus kalo mau pergi titipin aja kunci apartemen ke Neji-Niisan, dia tidak kuliah hari ini. Aku berangkat dulu ya," ujar Hinata sambil berlalu menuju pintu keluar.

"Iyaaaa..." Aku kembali merapatkan selimutku.

"Oh ia, jangan lupa perkataanku kemarin. Pulang, dan minta maaf pada Naruko-chan," omel Hinata lagi.

"Hmmm..." jawabku dengan mata masih terpejam.

Aku bangun jam 10 hari itu. Setelah mandi dan makan, kukunci pintu apartemen Hinata dan menuju ke apartemen Neji yang kebetulan satu bangunan tapi beda lantai. Apartemen Neji ada di lantai 4.

Karena pintu apartemen tidak dikunci, aku masuk saja. Aku memang sudah sering kesini dan masuk ke apartemen Neji seenaknya seperti ini sudah biasa kulakukan.

"Nejiii..." panggilku.

"Siapa?" Terdengar suara dari kamar mandi.

"Naruto."

"Ada apa Naruto?"

"Aku mau nitipin kunci apartemen Hinata, tadi dia menyuruhku menitipkannya padamu."

"Hah? Kok bisa ada padamu? Jangan bilang semalam kau tidur di apartemen Hinata!" Nada bicara Neji mulai meninggi.

"Kalau ia kenapa?" Kudengar pintu kamar mandi terbuka dan Neji tampak hanya memakai handuk sepinggang, busa shampo masih memenuhi ramput panjangnya dan menunjukku dengan murka.

"Berani-beraninya kau! Apa yang kau lakukan pada Hinata-ku hah?!" O-ow, baiklah dia sudah benar-benar marah sekarang. Sister Complex-nya keluar, daripada aku mati disini mending segera kabur. Neji keluar dari kamarnya dan berlari di lorong apartemen mengejarku dengan hanya menggukan handuk.

"Hei jangan lari! Awas kau! Adu-duh... Aouw, perih-perih, air-air.. ahhh siaalll!"

Kulihat Neji kembali berlari ke kamarnya, kelihatannya matanya kemasukan busa shampo. Hahaha, calon kakak iparku yang malang.

Yosh! Hari ini pikiranku sudah lebih tenang. Kuputuskan untuk pulang ke rumah.


Tapi begitu ada di depan rumah, semua semangatku sirna entah kemana.

'Pulang dan minta maaf pada Naruko.'

Gampang diucapkan tapi susah untuk kulakukan. Kupandangi rumah yang sudah kutempati hampir 17 tahun itu. Aku tidak akan melihat lagi sosok cewek berambut merah pendek disana. Yang akan mengomel karena aku ga pulang ke rumah semalaman dan bolos sekolah. Kuharap Hinata ada disini dan menemaniku, hatiku bimbang lagi, aku butuh teman.

Bukannya aku masuk ke gerbang rumah, aku malah berbelok dan menelusuri jalan lain. Dan berakhir di makam Nee-san.

Kutatap lagi gundukan tanah yang masih merah itu. Aku beralih memandang nisannya.

"Apa yang harus kulakukan Nee-san? Beritahu aku."

Kusadari ada seseorang yang datang, itu Naruko. Aku segera bersembunyi di balik pohon besar. Aku ingin minta maaf tapi... aku belum siap bertemu dengannya. Kulihat Naruko membawa seikat bunga.

"Siang Karin-Neechan." Kudengar samar-samar perkataan Naruko.

Apa dia tidak sekolah? Jam 11 gini malah ke makam? (Kau juga ga sekolah Naruto! Pergi ke makam pula!)

"Nee-chan, hari ini aku daftar ke Konoha High School. Kepala Sekolahnya bilang aku bisa mulai masuk sekolah besok. Hari ini aku hanya diberi jadwal dan beberapa list buku yang harus kubeli. Karena masih siang, kuputuskan untuk mengunjungimu." Ooh, kebigunganku terjawab.

"Aku senang aku bisa satu sekolah dengan Naruto-kun, adik kita..." Aku sebal mendengarnya. Aku merasa dianggap anak kecil disini. Tapi kubiarkan saja.

"Meskipun kemarin dia marah padaku. Aku akui aku yang salah. Aku hanya ingin jadi kakak yang baik, ummm... maksudku kembaran yang baik. Aku tidak berharap dianggap kakak olehnya. Soalnya umur kami sama, Naruto-kun juga pasti tidak mau memanggilku 'Nee-san'. Jadi aku ingin dianggap kembaran yang baik saja, itu sudah cukup. Oh ya, Nee-chan akrab sekali dengan Naruto-kun, aku juga... ingin seperti itu. Tapi aku bingung harus bagaimana, aku tidak tau caranya. Karena sejak kecil a-aku hanya sendiri, hanya berdua dengan Tou-san... terpisah dari ka-kalian." kata-kata Naruko terputus-putus dan melemah.

Kuintip dengan hati-hati. Naruko sedang menangis. "Nee-chan... hiks..." isakan Naruko mulai terdengar jelas. Hatiku bergetar mendengarnya. Dadaku sakit. Apa ini yang dikatakan Hinata? Ikatan batin antara saudara kembar itu kuat. Saat yang satu sedih, maka yang lainnya akan merasakan kesedihan yang sama.

"Apa yang harus kulakukan Nee-san? Beritahu aku." Naruko mengatakan kalimat yang persis sama denganku.

Kurasa aku harus memberinya kesempatan...


Kuputuskan untuk pulang saat itu. Tapi aku menunggu Naruko sampai di rumah duluan, aku tidak mau ketahuan kalau aku juga pulang dari makan Karin Nee-san.

"Aku pulang."

"Naruto-kun, syukurlah kamu pulang, aku khawatir." sambut Naruko berusaha tampil ceria. Aku segera mengarahkan langkahku menuju kamar.

"Naruto-kun," panggilnya, "umm.. maaf untuk yang kemarin." Aku menghentikan langkahku.

"Ya." He-hei, hei, kenapa minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf! Naruko baka! Arrgghhh, aku juga sama idiotnya karena tidak minta maaf duluan!

"Kalau begitu izinin aku buat ngenal kamu lebih jauh ya? Agar kita bisa akrab." katanya lagi sambil memegang tanganku.

'Iya...' "Aku maafin kamu bukan berarti kamu bisa dekat denganku." ujarku tanpa membalikan badan sama sekali.

What the...? Kenapa yang keluar kalimat itu? Padahal otakku sudah berpikir untuk bilang 'Iya...'. Bakaaa! Pasti dia sedih lagi. Ada apa denganku? Kenapa otak dan mulutku musuhan gini? Yang otak pikirin sama mulut ucapin beda! Seperti ada sisi diriku yang masih membencinya.

"Gomen," katanya melepas pegangan tangannya tapi kemudian tersenyum, "maksudku aku akan nyoba jadi kembaran yang baik buat kamu, ok?"

'Ok' jawabku dalam hati, ah kenapa kata itu tidak keluar dari mulutku? Fyuuhh, tapi untunglah Naruko ga sedih. Meskipun aku tidak tau perasaan dia sebenarnya. Mungkin saja dia hanya bersikap seolah-olah ceria.

"Aku ke kamar dulu. Jangan ganggu aku," ujarku sambil melanjutkan langkahku menuju kamar.

"Iya, kalau ada perlu panggil aku aja ya?"

"Hn."

Begitu pintu kamar kututup, aku terduduk dibalik pintu. Kemudian kulihat diriku di cermin, kutunjuk bayangan di cerminku dan membentaknya seperti orang gila.

"Bakaaaa!"

Ku tampar wajahku sendiri. Kenapa susah sekali untuk sekedar minta maaf padanya? Atau membalas genggaman tangannya dan bilang 'Aku juga ingin jadi adik kembar yang baik untukmu Naruko'.

Aku melihat bayangan di cermin seolah memeletkan lidah dan berkata: "LU YANG BAKA!"

Karena kesal kuangkat kursi dan berniat membantingnya ke cermin. Tapi aku sadar kalau kasus semalaman aku ga pulang ke rumah dan bolos sekolah saja sudah bisa membuat Kaa-san murka. Aku tidak mau menambah masalah dengan mecahin cermin dengan alasan tidak jelas, bisa-bisa Kaa-san berubah jadi Kyuubi dan menghajarku kayak di cover manga Naruto Chapter 503. Kusimpan kembali kursi ke tempatnya. Tenang, tenang Naruto.

"Hmmmphh," kujatuhkan diri di kasur. Merutuki kebodohan diriku sendiri, "Baka! Naruto bakaaa!"

Kemudian aku berbalik dan kupandang langit-langit kamarku.

Aku akan minta maaf dan berusaha menerimamu Naruko, aku janji. Aku masih butuh waktu...

To Be Continue...


That's chapter 2 guys! Gimana pendapat kalian? Kasih Review ya. Soalnya dari sana Rifuki bisa tau apa fic ini udah bagus atau belum. Selain tentu saja review bisa bikin semangat buat nulis chapter selanjutnya. Hehe.

Oh ya, Rifuki bakal usahain update chapter baru tiap weekend. Tapi kalo telat maaf ya, soalnya tugas kuliah lagi banyak-banyaknya nih, jadi kadang males dan ga ada waktu buat ngelanjutin fic. Heee malah curhat. Nah, bocoran buat chapter selanjutnya, nanti bakalan full Naruto-Naruko, mengingat mereka karakter utama. Soalnya di chapter ini dan chapter sebelumnya mereka kurang ngabisin waktu berdua. Dan di chapter selanjutnya, akan mulai tumbuh rasa sayang Naruto pada Naruko. Ok segitu aja bocorannya, ga seru kalo kebanyakan bocoran XD. Sampe ketemu di chapter selanjutnya.

Arigato

-rifuki-