A/N: Chapter 3 sudah datang! Akhirnya datang juga. Pengennya update tadi siang. Malahan kemarin udah selesai sebenernya. Tapi rasanya kurang pas, makanya ada beberapa yang diedit. Makanya updatenya jadi tengah malam nih. Oh ya ada yang tahu ga FFn itu timezone-nya berapa ya? Soalnya waktu update/publish sama waktu di WIB itu beda :s

Makasih juga buat reviewers di Chapter 2: Disappointed, Kara Couleurs, Sieg harts, dan Miku. Review dalam bentuk apapun selalu saya terima dan saya jadikan masukan. Segitu aja takut kepanjangan, selamat membaca Chapter 3 ;)

Ayo Pulang, Onee-san

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Family

Rate: T

Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."

Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Jam pulang Konoha High School tidak mengikuti jam pulang sekolah di Jepang, tapi kugeser jadi jam 2 siang. Jangan kaitkan tata cara pernikahan, perceraian, dan pergantian marga di fic ini dengan di kehidupan nyata atau SARA. Karena untuk 3 hal itu di fic ini semuanya hanya karangan saya :D


Cerita sebelumnya:

Begitu pintu kamar kututup, aku terduduk dibalik pintu. Kemudian kulihat diriku di cermin, kutunjuk bayangan di cerminku dan membentaknya seperti orang gila.

"Bakaaaa!"

Ku tampar wajahku sendiri. Kenapa susah sekali untuk sekedar minta maaf padanya? Atau membalas genggaman tangannya dan bilang 'Aku juga ingin jadi adik kembar yang baik untukmu Naruko'.

Aku melihat bayangan di cermin seolah memeletkan lidah dan berkata: "LU YANG BAKA!"

Karena kesal kuangkat kursi dan berniat membantingnya ke cermin. Tapi aku sadar kalau kasus semalaman aku ga pulang ke rumah dan bolos sekolah saja sudah bisa membuat Kaa-san murka. Aku tidak mau menambah masalah dengan mecahin cermin dengan alasan tidak jelas, bisa-bisa Kaa-san berubah jadi Kyuubi dan menghajarku kayak di cover manga Naruto Chapter 503. Kusimpan kembali kursi ke tempatnya. Tenang, tenang Naruto.

"Hmmmphh," kujatuhkan diri di kasur. Merutuki kebodohan diriku sendiri, "Baka! Naruto bakaaa!"

Kemudian aku berbalik dan kupandang langit-langit kamarku.

Aku akan minta maaf dan berusaha menerimamu Naruko, aku janji. Aku masih butuh waktu...

.

.

.

Chapter 3

-Naruko Namikaze-

Aku bangun kepagian pagi ini, 2 jam lebih pagi dari biasanya. Tapi 1 jam pertama yang kulakukan hanya melamun dan memandang pintu kamarku. Terbayang kalau nanti akan ada yang membuka pintu itu secara paksa dan ada cewek berambut merah pendek yang berteriak-teriak membangunkanku menyuruh cepat sarapan. Karin-Neesan. Aku segera menuju kamar mandi menjauhkan pikiran-pikiran itu. Aku harus maju terus, tidak boleh terus-terusan sedih. Seperti kata Hinata, ini hanya akan membuat Karin-Neesan sedih disana.

"Ohayou minna," sapaku saat menuruni tangga menuju ke ruang makan.

"Ohayou..." jawab Kaa-san, Tou-san dan Naruko bersamaan. Aku harus mulai membiasakan kehadiaran 2 orang pirang lainnya di rumah ini. Kulihat Naruko tersenyum ke arahku, ceria seperti biasanya. Aku hanya mengalihkan pandanganku dan duduk di kursi kosong disampingnya.

Hari ini adalah sarapan pertamaku tanpa kehadiran Karin-Neesan di rumah ini (soalnya kemarin aku kabur dari rumah, jadi ga dihitung). Aku yakin Kaa-san, Tou-san, dan Naruko juga masih sedih kehilangan Karin-Neesan. Meskipun mereka berusaha menutupinya dengan berusaha tampil ceria. Karena itu, aku juga harus seperti mereka, menjalani kehidupanku seperti sebelumnya.

Mereka mengobrol macam-macam, tapi aku hanya diam tidak berminat untuk ikut nimbrung. Kumakan roti selai jeruk buatan Kaa-san yang menjadi menu sarapanku pagi itu. Kulirik kursi di sebelah kananku, bukan rambut merah yang kulihat disana, tapi rambut pirang panjang dengan twin tail. Rambut pirangnya sehat terawat. Aku heran rambut sebagus itu kenapa cuma diikat dengan model standar begitu ya?

Naruko juga sedang mengunyah rotinya, sambil sesekali tersenyum menanggapi obrolan Kaa-san dan Tou-san. Cara senyumnya mirip denganku, rasanya aku seperti melihat diriku sendiri sedang tersenyum. Aku juga baru sadar kalau wajahnya mirip sekali denganku, minus 3 pasang kumis kucing di pipinya. Bulu matanya lentik. Kulitnya putih alami perpaduan darah Asia Kaa-san dan darah Eropa Tou-san. Beda sekali denganku yang berwarna tan ini, sepertinya aku kebanyakan main.

Kuturunkan pandanganku ke badannya. Sekarang ia sudah memakai seragam putih Konoha High School sama dennganku. Kulihat dadanya yang... pas sesuai posturnya. Sudah! Sudah! Jangan terlalu lama melihat bagian itu Naruto! Ingat dia kakakmu!

Turun lagi ke bawah. Untuk roknya dia memakai rok motif kotak-kotak yang... kependekan menurutku. Mungkin kebiasaan berpakaiannya di Inggris terbawa kesini. Turun lagi, kulihat betisnya yang jenjang dibalut stocking hitam. Wow, wajar saja saat dia berdiri tingginya hanya beberapa cm di bawahku kalau dengan betis sejenjang itu.

Dan kesimpulan yang bisa kuambil: Naruko Cantik. Dia cantik, aku akui itu. Bahkan bisa disebut sempurna. Aku tidak terlalu memperhatikan hal ini sebelumnya. Dan sekarang rasanya ada kebanggaan tersendiri pada diriku mengetahui kalau kakakku secantik ini. Hei, ini bukan semata-mata pembelaan karena aku pernah berbuat salah padanya dan berharap jika memujinya dosaku terhapus. Atau pernyataan seorang adik yang membela kakak kembarnya. Tapi ini penilaianku sebagai cowok tulen yang menilai fisik seorang cewek.

"Naru-chan?" Aku tersadar saat Kaa-san memanggilku dengan panggilan sayangnya.

"Kaa-saaannn..."

"Kenapa?"

"Jangan panggil gitu dong."

Naruko hanya terkikik sementara Tou-san malah ikut meledekku, ah Kaa-san membuatku malu.

"Tidak apa-apa kan? Hehe. Kalo buat Naruko, Kaa-san panggilnya Naruko-chan."

"Hmph, terserah," kataku tidak peduli.

"Oh ya, hari ini kamu bonceng Naruko-chan ke sekolah."

"Apa? Aku kan sama Hinata..." Sebelum kuselesaikan kalimatku, Kaa-san sudah menelpon seseorang.

"Halo, Hinata-chan? Gini, hari ini Naru-chan ga bisa jemput kamu. Ga apa-apa kan? Ia. Ia maaf ya. Makasih Hinata-chan," kata Kaa-san menutup telpon, "Hinata udah bilang ga apa-apa barusan."

Kaa-san memang sudah akrab dengan Hinata jadi tidak heran kalau nomor telpon Hinata ada di kontak HP-nya.

"Huh." Aku mendengus kesal.

"Kamu ini, apa susahnya bantuin kakak sendiri?"

"Ia, ia.., ayo berangkat," ujarku dengan malas, aku beranjak ke luar diikuti oleh Naruko.

"Tou-san, Kaa-san, kami berangkat," kata Naruko melambaikan tangannya.

"Ia, hati-hati," jawab Tou-san dan Kaa-san bersamaan.


Mulai dari parkiran sekolah, semua cowok memandang kami. Kami jadi pusat perhatian, maksudku Naruko jadi pusat perhatian. Sudah kubilang 'kan Naruko itu cantik, mampu membuat cowok untuk menatapnya lama-lama. Ditambah lagi dandanannya itu yang menurutku... sexy. Baju ketat dan rok pendek. Tapi aku tidak mempermasalahkannya karena itu haknya. Lagipula aku tau pasti susah untuk mengubah kebiasaan berpakaian ala baratnya itu. Aku hanya merasa seperti aku yang mereka tatap karena Naruko berjalan disampingku.

Karena pagi itu ada administrasi yang masih harus diurus, Naruko ke ruang guru dulu sedangkan aku langsung menuju kelas.

"Anak-anak, kelas ini kedatangan siswi baru dari Inggris," seru Kakashi-sensei, wali kelasku.

Kelas 11-C mulai gaduh tapi aku hanya diam tidak bersemangat. Aku sudah tau siapa siswi barunya.

"Namikaze-san, cepat masuk dan perkenalkan dirimu," lanjut Kakashi-sensei lagi. Naruko kemudian memasuki kelas.

"Ohayou, perkenalkan nama saya Naruko Namikaze, saya pindahan dari Inggris. Saya pilih sekolah disini karena saya dengar Konoha High School itu sekolah favorit. Kebetulan adi.. maksud saya kembaran saya juga sekolah disini. Mohon bantuannya minna," kata Naruko dengan percaya diri kemudian membungkuk hormat.

Hampir semua cowok di kelasku menatap Naruko dengan mulut terbuka, seperti orang kelaparan yang melihat kue lezat. Sedangkan cewek-cewek kebanyakan menatapnya kagum. Tapi sebagian lagi ada yang terheran, mungkin mereka pikir seingat mereka tidak ada siswi yang mirip Naruko di sekolah ini.

"Ano, kalo boleh tau siapa kembaran kamu Naruko-chan? Dia di kelas mana?" celetuk Kiba. Yang lain terlihat mengangguk setuju dengan pertanyaan Kiba, sama-sama penasaran.

"Umm, dia di kelas ini kok," jawab Naruko pelan tapi masih terdengar.

"Hah? Siapa?" Kali ini Lee yang angkat bicara.

"Kembaranku cowok, dia... " Naruko menjawab dengan ragu, "Naruto-kun."

Saat itu juga semua tatapan mengarah ke arahku. Semua terkaget, terdengar omongan-omongan dengan nada tidak percaya seperti: "Cowok?", "Naruto?", "Kok beda jauh ya?", "Wow", "Masa sih?", "Baru tau berandalan itu punya kembaran."

Ah sial mereka menghinaku! Apa aku tidak pantas punya kembaran secantik Naruko?

"Sudah, sudah tenang anak-anak. Namikaze-san silahkan cari tempat kosong," ujar Kakashi-sensei menenangkan.

Posisi dudukku di pojok paling belakang dekat jendela, Kiba di sisi kananku, dan Hinata di depanku. Ada beberapa kursi kosong di barisan depan. Jadi ga mungkin Naruko akan duduk dekat denganku. Tapi aku salah, dia memilih duduk tepat dibelakangku. Kenapa dia sampai rela duduk di belakangku padahal di bangku depan masih ada beberapa yang kosong? Aku bingung.

"Mohon bantuannya Naruto-kun," kata Naruko saat duduk di belakangku.

"Hn," balasku dengan anggukan kecil.


Naruko cepat sekali akrab dengan teman-teman sekelasku. Cowok maupun cewek dia tanggapi dengan ramah. Dan saat bel istirahat berbunyi, dengan segera segerombolan cowok sekelasku mendatangi bangku Naruko dengan beragam alasan. Kenalan lah, minta no HP lah, meminjamkan buku lah, pedekate lah, atau tebar pesona lah. Saking banyaknya yang berkerumun disana, aku sampai terdorong dari kursiku. Ah ini sangat menyebalkan. Aku beranjak menuju kantin untuk makan siang. Sebelum Naruko memanggilku.

"Naruto kun." Ia berlari kecil ke arahku, "kita makan siang bareng ya? Kata Kaa-san kamu suka ramen, nanti aku belikan."

"Aku mau makan sama Hinata," jawabku. Bermaksud mencari alasan. Kulirik Hinata yang berada tidak jauh dari Naruko, berharap dia mengerti tatapanku yang seolah artinya ayo-makan-berdua-dan-tinggalkan-Naruko.

Hinata mendekatiku dan berkata, "Umm.. Aku sudah janji mau makan sama Naruko-chan, jadi kita makan bareng bertiga aja ya Naruto-kun?"

Ah, sayang sekali Naruto, alasan yang kau pilih salah besar!

Makan siang kami bertiga di kantin dihiasi candaan antara Hinata dan Naruko. Wow, bahkan Hinata yang pendiam pun bisa cocok dengan Naruko. Benar-benar cewek yang supel. Kalau sudah begini aku diacuhkan oleh mereka. Ah sudahlah lebih baik kuhabiskan ramenku.

"Naruto-kun," Oh, aku salah. Naruko tidak mngacuhkanku. "Aaaaaa..." Naruko menyuapiku dengan makanannya.

"Eh? Apa-apaan aku tidak mau!" tolakku sambil berpaling kepada Hinata. Kening Hinata berkerut bingung. Upss! Kemarin Hinata menyuruhku meminta maaf kepada Naruko, aku tidak mau kalau Hinata tau kalau sebenarnya aku belum minta maaf. Dengan terpaksa aku melahap makanan yang diberikan Naruko. Naruko tersenyum senang. Fiuh... Hampir ketahuan.


Sekarang pelajaran seni lukis. Biarpun aku bodoh di hampir semua pelajaran, tapi tidak dengan pelajaran seni lukis dengan guru Kurenai-sensei. Kaa-san rupanya sudah mewariskan kemampuan melukisnya kepadaku. Hampir tiap pelajaran ini aku dipuji Kurenai-sensei karena lukisanku yang bagus. Meskipun sebenarnya aku masih kalah oleh Sai dari kelas 11-A.

"Hari ini coba kalian lukis wajah orang yang kalian sayangi. Bisa keluarga, pacar, atau siapa saja," ujar Kurenai-sensei.

Satu jam sudah berlalu, Kurenai sensei mulai berkeliling melihat-lihat hasil karya kami semua. Kurenai-sensei mulai mendekat. Kali ini aku melukis wajah Hinata. Kalian lihat saja dalam 5 detik dia akan memuji lukisanku.

5

4

3

2

1

"Wah, Namikaze-san lukisanmu bagus sekali."

Gubrak! Namikaze? Aku menoleh ke belakang dan melihat Kurenai-sensei sedang memperhatikan lukisan Naruko.

"Terima kasih sensei."

"Sangat mirip aslinya. Ini wajah Uzumaki-san 'kan?" Aku ikut memperhatikan lukisan Naruko. Ya benar, wajah yang dilukis Naruko adalah wajahku. Dan memang sangat mirip sekali denganku. Berarti orang yang paling Naruko sayangi adalah aku? Hati kecilku senang menyadari hal itu.

"I-ia sensei," jawab Naruko malu-malu.

"Wah sepertinya kamu dapat saingan baru Uzumaki-san."

Sial! Aku lupa kalau darah seni Kaa-san juga mengalir pada diri Naruko!


Jam pulang sekolah telah tiba. Kujalankan motor Ninja hitamku dan mendekati Naruko.

"Aku pulang sama Hinata. Kau pulang naik bis aja," kataku pada Naruko saat pulang sekolah. Entah kenapa sisi jahat diriku muncul lagi dan menyuruhku untuk tidak mengantar Naruko pulang.

"Ta-tapi Naruto-kun..." Tanpa memperdulikan Naruko aku segera menjalankan motorku itu untuk menjemput Hinata di gerbang depan sekolah.

2:20 PM. Aku memandang jam yang ada di perempatan jalan. Saat itu sedang lampu merah. Kualihkan pandanganku ke digit lampu lalu lintas berwarna merah yang terus berkurang tiap detiknya. Aku baru saja mengantar Hinata ke rumahnya. Tapi ada yang yang mengganjal di hatiku. Seperti sebuah perasaan tidak tenang dan khawatir. Khawatir pada sosok yang kutinggalkan di sekolah.

Naruko.

Kemarin aku berjanji akan berusaha untuk minta maaf dan menerima Naruko. Tapi yang kulakukan sekarang malah meninggalkannya sendirian di sekolah. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Aku tau dia sudah hapal jalan pulang karena waktu daftar sekolah juga dia pulang sendiri. Tapi tetap saja itu tidak membuat hatiku tenang.

Kali ini aku berusaha mengalahkan sisi jahatku.

Beep! Beep! Beep!

Aku tersadar dari lamunanku oleh rentetan bunyi klakson dari kendaraan di belakangku. Lampu sudah berubah hijau dan bahkan pengendara di belakang mulai meneriakiku karena aku hanya diam saja dari tadi. Baiklah, sudah kuputuskan aku akan kembali ke sekolah! Kubelokan motorku ke lajur berlawanan menaiki separator, tidak memperdulikan makian pengendara lain yang hampir celaka gara-gara ulahku itu.

Semoga dia masih disana. Naruko tunggu aku...

Kulihat awan tebal di langit, bergulung-gulung berwarna hitam. Sebentar lagi pasti hujan lebat. Kupercepat laju motorku.

Kuparkirkan motorku di depan halte dekat sekolah. Ada sekitar 10 orang yang sedang menunggu bis disana. Kuperhatikan mereka semua, tapi Naruko tidak ada diantara mereka.

Aku terduduk lemas di bangku halte. Apa aku terlambat? Mungkin saja, sekarang sudah 35 menit lebih dari jam pulang sekolah.

Kulihat ada bis yang berhenti, semua orang yang menunggu bis tadi naik. Sepertinya Naruko sudah naik bis sebelumnya. Sekarang aku sendirian disana, tertunduk memeluk lututku. Terdengar suara petir menyambar diikuti rintik hujan yang makin lama makin membesar. Oh, bagus sekali. Seakan langit pun mengolok-olok kebodohanku.


"Naruto-kun?"

"Eh?" Suara ini... Aku menoleh ke asal suara.

"Kamu kembali? Mau menjemputku?" tanya suara sosok itu. Naruko. Dia tersenyum ke arahku.

"Ah, itu. Jangan ge-er. A-aku hanya tidak mau dimarahi Kaa-san karena meninggalkanu sendirian." Tet-tot! Aku bohong lagi pada Naruko.

"Oh." Terlihat sepintas raut wajah kecewa Naruko. Menyadari hal itu, aku langsung mengalihkan pembicaraan.

"Dari mana? Kupikir udah pulang."

"Ini, beli teh hangat disana," jawabnya kembali tersenyum. Tangan kanannya memegang gelas plastik berisi teh yang masih hangat sementara tangan kirinya menunjuk sebuah warung teh tidak jauh dari sana.

"Oh."

"Tunggu sebentar," ujar Naruko kemudian menuju warung teh itu lagi. Ia kembali dengan membawa satu gelas lagi.

"Ini. Hujan-hujan gini enaknya ngeteh dulu," kata Naruko, diberikannya satu gelas teh itu padaku.

"Suka?" Aku hanya mengangguk kecil, "kata Kaa-san kamu paling suka teh aroma jeruk, jadi aku pesan itu."

Aku heran apa saja yang Naruko tanyakan kepada Kaa-san. Sebegitu besarnyakah keinginannya untuk dekat denganku? Sampai-sampai dia menggali semua informasi tentangku?

Naruko berulangkali memulai percakapan setelah itu. Aku hanya menanggapi seperlunya. Setelah beberapa saat keadaan menjadi hening. Tampaknya Naruko sudah kehabisan bahan pembiacaraan. Aku juga bingung mau ngobrol apa. Akhirnya kami hanya menikmati teh kami dalam diam, hanya bunyi air hujan yang terdengar.

Diam-diam kutatap Naruko yang berjarak kurang dari sejengkal di sampingku. Dia ceria sekali. Kelihatannya dia sedang senang. Apa minum teh denganku membuatnya senang? Ah, mana mungkin. Pasti ada sebab lain pikirku.

Kadang aku heran, kenapa aku begitu susah untuk bersikap ramah padanya. Aku tidak tau apa penyebabnya. Kuperhatikan lagi wajahnya. Wajah polos yang seharusnya kuberi kasih sayang. Bukan kuabaikan seperti ini. Tiba-tiba Naruko menoleh ke arahku dan aku terlambat mengelak. O-ow, aku ketahuan sedang memandangnya. Dia tersenyum saat pandangan kami bertemu. Ingin sekali kubalas senyum itu, tapi apa daya. Kulit bibir dan pipiku ini serasa mengeras, sulit sekali membentuk sebuah senyuman. Yang ada aku malah mengalihkan pandanganku ke depan, memandang kendaraan yang lalu-lalang di depan kami.

Sampai jam 4 sore hujan belum juga berhenti. Memang sih cuma gerimis, tidak hujan lebat seperti tadi.

"Kita pulang sekarang aja, gerimis seperti ini tidak akan berhenti sampai malam," kataku beranjak menuju motorku.

"Ok."

Naruko naik ke kursi belakang motor. Setelah siap, segera kujalankan motorku menerobos gerimis sore itu. Baru beberapa meter melaju, aku merasa ada yang salah. Naruko tidak memakai jaket sedangkan aku memakai jaket. Come on, be gentle Naruto! Aku segera menepi dan menghentikan motorku.

"Kenapa berhenti?" tanya Naruko heran.

"Pakai jaketku, agar tidak basah dan tidak masuk angin." Kuberikan jaketku padanya. Naruko hanya tersenyum dan menuruti perintahku.


Dan benar saja, setelah sampai di rumah pun gerimisnya tidak berhenti. Keputusanku untuk menerobos gerimis ini sudah tepat. Setelah masuk ke rumah kulihat Tou-san sudah pulang, tidak seperti biasanya pikirku.

"Tou-san, tumben sudah pulang?" tanya Naruko. Oh, dia sudah mewakili pertanyaan yang ingin kutanyakan.

Oh ya, aku belum menceritakan secara detail pekerjaan Tou-san. Tou-san bekerja di perusahaan besar yang bergerak di bidang otomotif. Lebih tepatnya otomotif roda dua alias motor. Basis perusahaannya di Inggris dan sudah dirintisnya sejak sebelum menikahi Kaa-san. Dan karena sudah berjanji pada Kaa-san akan fokus pada keluarga, dia memilih untuk menangani anak perusahaannya saja yang berada di Jepang. Perusahaan intinya di Inggris ia percayakan pada adiknya, Deidara. Karena itu, sekarang Tou-san jadi lebih santai dan biasa pulang ke rumah jam 5.

Sedangkan Kaa-san bekerja sebagai desainer pakaian di butik ternama di Konoha. Bekerja Senin sampai Rabu, dan pulang sekitar jam 2 siang. Kaa-san sudah lama bekerja disana dan sudah termasuk senior. Kebanyakan kerjanya membimbing para staff butik yang masih junior, makanya jam kerjanya sedikit.

"Nah, kalian berdua sudah datang, cepat ganti baju dan kembali kesini," kata Tou-san, "ada yang ingin kami bicarakan," lanjutnya lagi.

Hah, bukannya menanggapi Naruko, Tou-san malah menyuruh kami ganti baju. Padahal aku penasaran karena Tou-san sudah pulang sebelum jam 5. Setelah ganti baju aku dan Naruko bergabung dengan Tou-san dan Kaa-san di ruang keluarga. Sepertinya yang akan dibicarakan memang hal penting sampai kami disuruh berkumpul begini. Aku duduk di hadapan Tou-san dan Naruko duduk disampingku.

"Anak-anak," seru Tou-san, "Tou-san dan Kaa-san akan mengadakan pesta pernikahan Sabtu ini. Bagaimana menurut kalian?"

"Secepat itu?" tanyaku sedikit kaget.

"Ya, harus secepatnya. Tidak enak juga kalau tinggal serumah tanpa status pernikahan, karena biar bagaimana pun kami kan sempat bercerai."

"Ia, 'kan malu sama tetangga Naru-chan," tambah Kaa-san.

"Oh," aku hanya mengangguk-angguk baru mengerti, "kalau kalian menikah lagi, itu berarti... Namaku akan jadi Naruto Namikaze?" Kutatap Tou-san dan Kaa-san bergantian.

"Tentu saja," tawab Tou-san dan Kaa-san bersamaan.

"Hehe. Nama kita jadi mirip Naruto-kun," ujar Naruko. Kutatap Naruko, yah kau benar Naruko.

Naruto Namikaze.

Aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Margaku akan berubah. Namikaze adalah marga yang cukup terkenal. Marga yang hebat dan ternama. Tapi aku merasa aneh jika harus melepaskan marga Uzumaki. Biar bagaimana pun sudah hampir 17 tahun 'Uzumaki' melekat pada diriku. Aku tidak ingin melepasnya. Aku merasa berat melepas marga 'Uzumaki'-ku...

To Be Continue...


A/N: Chapter ini ceritanya monoton dan lambat menurut saya. Tapi saya pikir rasa sayang Naruto ke Naruko itu ga bisa datang tiba-tiba, perlu proses dan waktu. Kurang realistis kalo langsung hajar aja . Jadi disini Naruko banyak memberi perhatian-perhatian kecil ke Naruto, biar rasa sayang itu mulai terbentuk pada diri Naruto. Ok lah, gimana lanjutanya? Nantikan aja chapter 4! Review, review...

Arigato

-rifuki-