A/N: Aneh ya kok di update sekarang? Biasanya weekend. Saya emang lagi ga ada kerjaan, jadi updatenya cepet (reader: ga nanya!).
Seperti biasa pertama-tama mau ngucapin makasih dulu buat reviewers di Chapter 4: Ren-Mi3 NoVantA, Kara Couleurs, Sieg Hart, Miku, tara, dan Misyel. Bales review dari reviewers yang ga login dulu deh.
Sieg Hart: Tebakannya hampir bener, tapi caranya sedikit beda. Biar jelas baca aja ya :D
Miku: Makasih udah mau baca dan review.
tara: Jawabannya ada di chapter ini (ngomong ala detektif). Ia, gara-gara kamu ga login, jadi dibalesnya disini, ga lewat message ;)
Ok segitu aja, selamat membaca Chapter 5!
Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Ada beberapa istilah dalam olahraga surfing di chapter ini, maaf kalo ada yang salah. Saya cuma nulis apa yang saya tau aja. Dan Konoha punya pantai? Saya juga ga tau di anime/manga Konoha punya pantai atau ga XD
Cerita Sebelumnya:
"Aku masih perlu waktu Kaa-san," ujarku jujur.
"Kaa-san tau, tapi sepertinya Kaa-san bisa memaksa kalian untuk akrab."
"Eh? Maksudnya?" Kali ini Naruko yang angkat bicara sedangkan aku hanya terdiam, bingung. Apa maksudnya dengan 'memaksa'?
"Kaa-san bosan melihat kalian seperti ini, sudah saatnya Kaa-san turun tangan. Kaa-san punya sebuah rencana," kata Kaa-san sambil tersenyum aneh. Senyum yang menyembunyikan sesuatu.
"A-apa?" tanya Naruko lagi.
"Ra-ha-si-a. Sekarang ayo kita masuk. Kita berkumpul dengan yang lain," katanya sambil menarik tanganku dan tangan Naruko, menarik kami masuk ke dalam rumah.
"Kaa-saaannn..."
"Hahaha, kalau merengek bersamaan seperti itu membuat kalian lebih terlihat seperti kembar."
Dasar Kaa-san ini, malah mengalihkan pembicaraan. Tapi perasaanku benar-benar tidak enak mendengar kata-kata Kaa-san tadi. Seringkali rencana Kaa-san aneh dan susah ditebak. Apa yang Kaa-san rencanakan sebenarnya?
.
.
.
Chapter 5
-Rencana Kaa-san-
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Aku terbangun dari mimpi indahku setelah mendengar pintu kamarku diketuk dengan kasar. Kulihat jam masih menunjukan pukul 5.30 A.M. Ada apa sih mengetuk pintu kamarku sepagi ini? Ini 'kan hari Minggu, izinkan aku bangun siang.
"Masuuuukkk!" teriakku dengan kesal karena sudah membangunkanku sepagi ini, padahal kelopak mataku masih berat.
"Naruto-kuuuun!" Naruko masuk ke kamarku, berteriak panik dengan suara cemprengnya.
"Ada apa? Pagi-pagi seperti ini sudah membangunkanku, hoaaammm," tanyaku sambil menguap lebar.
"Tou-san dan Kaa-san tidak ada!"
"Uapa?" Rasa ngantukku mendadak hilang mendengar perkataan Naruko.
"Mereka tidak ada dan mereka meninggalkan ini." Naruko menyerahkan sebuah surat.
Untuk: Naruto & Naruko
Kaa-san dan Tou-san pergi ke luar kota selama 3 hari, nanti pulangnya Selasa. Kaa-san sengaja tidak memberi tau kalian agar kalian tidak protes. Kaa-san juga tau Senin dan Selasa ini sekolah kalian libur. Jadi habiskan waktu libur ini dengan menghabiskan waktu berdua. Kalau perlu pergilah ke tempat yang kalian sukai. Di surat ini Kaa-san sudah sertakan uang yang bisa kalian pakai untuk liburan. Kaa-san harap setelah Kaa-san pulang nanti kalian sudah akrab. Jaga diri kalian baik-baik.
N.B.: Untuk Naruto: Kami pinjam motormu. Dan Kaa-san percayakan Naruko padamu, buat dia senang. Turuti semua keinginannya. Awas kalau kamu mengacuhkannya, kamu akan tau akibatnya!
- Kaa-san -
Apa-apaan ini? Sial! Seharusnya aku sudah bisa memprediksi kalau akhirnya akan seperti ini. Dan aku merinding mendengar kalimat terakhir surat itu.
"Rupanya ini rencana yang dikatakan Kaa-san kemarin," ujarku pelan, "Kaa-san pergi ke luar kota."
"A-apa? Sini suratnya." Naruko kembali mengambil surat itu dariku kemudian membacanya, tapi ekspresi yang ditunjukannya berbeda denganku. Dia malah tersenyum lebar. "Bukannya ini bagus? Kita bisa menghabiskan waktu berdua."
"Tidak untukku," jawabku ketus, sambil beranjak dari tempat tidur.
"Hei, mau kemana?"
"Jogging, berita ini sudah membuat rasa ngantukku hilang," jawabku. Kuambil baju dan celana pendek untuk jogging dari lemari.
"Ikuuutt.. aku ganti baju dulu." Naruko berlari ke kamarnya.
"Ya, ya, ya, terserah," kataku tidak semangat. Naruko benar-benar tidak mau melewatkan waktu berdua denganku. Bersiap-siaplah Naruto, hari ini akan jadi hari yang panjang!
Dan disinilah kami, jogging di track jogging dekat taman Konoha. Sesekali aku menoleh ke belakang takut Naruko tertinggal jauh. Tapi ternyata dia bisa mengimbangi kecepatanku. Kuakui kalau stamina Naruko cukup kuat untuk ukuran cewek. Jogging nonstop dari rumah ke taman yang jaraknya jauh tidak membuatnya mengeluh sedikitpun. Aku salut kepadanya.
"Naruto-kuuunnn... istirahat dulu aku cape..."
"Hah?" Kutarik kata-kataku tadi! Padahal aku sudah memujinya karena tidak mengeluh.
"Berhenti dulu sebentar, hosh, hosh, nanti kita lanjut," ujarnya terengah-engah.
"Jangan so kuat begitu, hari ini joggingnya sampai sini saja. Sekarang istirahat dulu, nanti kita cari sarapan." Kuberikan botol berisi air mineral yang kubawa dari rumah kepada Naruko.
"Arigato," kata Naruko sambil berusaha tersenyum walau masih terengah-engah. Senyumnya malah jadi kelihatan aneh dan dipaksakan. Keringat mulai membasahi kening dan leher Naruko. Untuk mengurangi rasa gerah, dia mengikat rambutnya ke belakang dan poni bagian depannya yang menutupi matanya. Wah, dia jadi mirip Ino. Bedanya hanya di warna rambut, Ino berwarna pirang pucat, sedangkan Naruko berwarna pirang cerah.
Kami duduk di kursi yang ada di dekat sana. Beruntung kami mendapatkan kursi kosong. Padahal orang yang jogging selain kami jumlahnya banyak. Setiap hari Minggu tempat ini memang selalu dipenuhi orang-orang yang jogging, pedagang, atau yang sekedar berjalan santai bersama keluarga.
"Mau sarapan apa?" tanya Naruko saat rasa lelahnya mulai hilang.
"Ramen saja."
"Sarapan pagi kok ramen? Itu kan tidak sehat."
"Kalau tidak mau cari saja yang lain."
"Ah, ok aku mau ramen juga."
Kami makan di Ichiraku ramen yang tidak jauh dari sana. Pembelinya lumayan banyak pagi ini, membuat kami harus sabar menunggu pesanan.
"Whoa, ramen disini enak sekali," ujar Naruko setelah menyantap ramen miliknya. Dasar Naruko, tadi dia protes, sekarang malah kegirangan.
"Ini ramen Ichiraku, langgananku." Kulihat Naruko sedang memakan ramennya dengan lahap. "Setelah ini aku mau ke apartemen Hinata, kau pulang saja."
"Kenapa aku harus pulang? Aku ingin ikut."
"Masa kau tidak mengerti? Aku ingin berdua saja dengan Hinata."
"Hei, ingat pesan Kaa-san, turuti semua keinginanku. Atau jangan-jangan kamu sama Hinata mau... Hehe." Naruko menatapku dengan tatapan curiga.
"Jangan sembarangan! Ok, kau ikut. Akan kubuktikan kalau aku tidak akan berbuat macam-macam kepada Hinata," kataku mantap.
Dan ternyata keputusanku membawa Naruko ke apartemen Hinata adalah kesalahan besar. Akhirnya mereka malah mengobrol kesana-kemari di kamar Hinata sedangkan aku dibiarkan sendiri tidak dianggap. Naruko bilang itu 'Girl's Talk'. Kalo begini aku menyesal mengajak Naruko kemari, aku yang mengajak tapi aku yang diacuhkan. Akhirnya aku malah bosan disini, sebaiknya aku pergi ke rumah Sasuke.
"Naruko, aku mau ke rumah Sasuke. Kau disini saja dulu," kataku setengah berteriak agar Naruko yang sedang di kamar Hinata mendengarku.
"Hei, tunggu-tunggu." Naruko berlari kecil mendekatiku. "Hinata bilang kalau pantai Konoha itu indah sekali. Apa uang yang diberikan Kaa-san cukup kalau kita pakai untuk ke pantai?"
"Cukup, Kaa-san memberikan uang lumayan banyak."
"Bagus! Sekarang kita ke pantai! Hinata kamu ikut ya?" tanya Naruko menoleh ke Hinata.
"Go-gomen Naruko-chan, Tou-san dan Hanabi mau datang kesini nanti sore, ja-jadi aku tidak bisa."
"Kalau Hinata tidak bisa, aku juga tidak," timpalku.
"Hei, kenapa begitu? Ingat, turuti semua keinginanku. Atau nanti kulaporkan kepada Kaa-san." Hinata tersenyum melihat pertentangan kecil antara aku dan Naruko.
"Ah, kenapa itu selalu kau jadikan senjata. Aku tetap tidak mau. Aku mau ke rumah Sasuke. Hinata, aku pulang," Aku mengacak pelan rambut Hinata, Hinata kembali tersenyum dan melambaikan tangannya. Lalu aku berlari meninggalkan apartemen Hinata.
"Heiiii, aku ikut, siapa tau Sasuke-kun mau ikut bersama kita ke pantai."
Usahaku meninggalkan Naruko sia-sia saja. Karena akhirnya dia tetap saja mengikutiku.
"Mau sampai kapan kau mengikutiku?" tanyaku kepada Naruko yang saat ini ada disampingku. Kami sedang berada di depan pintu rumah Sasuke, menunggu dibukakan pintu.
"Sampai kau membawaku ke pantai," jawabnya memeletkan lidahnya.
Sasuke membukakan pintu untuk aku dan Naruko. Kulihat dia sudah rapi, sepertinya dia akan pergi.
"Dobe?"
"Hei, Sasuke-kun." Pandangan Sasuke beralih ke sampingku, menyadari kalau ada suara cewek yang memanggilnya. Sasuke hanya menjawab sapaan Naruko dengan mengangguk dan tersenyum.
Saat kami masuk ke rumah Sasuke, Naruko minta izin untuk ke kamar kecil, sedangkan aku duduk di kursi santai di ruang tamu bersama Sasuke.
"Ada apa? Wajahmu kusut sekali?" tanya Sasuke yang menyadari kalau moodku sedang jelek.
"Orangtuaku ke luar kota. Dan aku ditinggal berdua dengan Naruko. Aku malas kalau berduaan dengan Naruko. Makanya aku ke luar rumah untuk menghindarinya. Tapi ternyata dia malah mengikutiku seharian ini."
Kulihat Sasuke mengerutkan keningnya. "Aku aneh denganmu, dia kakakmu kan? Buat apa menghindar?"
"Jangan tanya itu, aku juga bingung pada diriku sendiri," jawabku jujur.
"Sasuke-kun, kami mau ke pantai. Apa kamu mau ikut?" Naruko datang dan langsung duduk disampingku. Aku memberikan isyarat dengan anggukan supaya Sasuke mau ikut. Minimal kalau dia ikut, aku dan Naruko tidak cuma berdua.
"Tidak bisa, aku sudah janji akan pergi dengan Sakura." Sial kau Teme! Susah sekali disuruh menolong sahabat sendiri!
"Ah, kalau begitu kita ke pantainya berdua saja," seru Naruko sambil mengaitkan tangannya di tanganku. Kulihat Sasuke menahan tawanya. Bagus sekali! Aku sedang kesusahan dia malah diam saja.
"Emhhh, sudah jam 2, nanti sampai di pantai pasti kesorean."
"Tidak apa-apa, ayolah."
"Besok saja."
"Hei, ingat pesan Kaa-san!" Ukh sial, pesan Kaa-san benar-benar jadi senjata ampuh Naruko sekarang. Dari tadi pagi dia terus-menerus memaksaku. Tapi apa boleh buat? Aku tidak mau dihukum Kaa-san hanya karena masalah ini. Begini-begini aku tidak mau jadi anak durhaka.
"OK! OK! Fine!"
Kereta menuju pantai Konoha ini penuh sesak dengan penumpang. Wajar saja sih, ini hari Minggu. Aku heran kenapa orang Jepang suka sekali naik kereta kalau bepergian? Rela berdesak-desakan seperti ini. Padahal aku yakin uang mereka banyak untuk sekedar membeli kendaraan sendiri. Mungkin mereka memang sudah sadar kalau memakai kendaraan sendiri hanya akan mempercepat global warming. Kalau begitu, mungkin hanya aku orang Jepang yang lebih suka naik motor. Ah, aku memang penghianat.
Aku bersandar di dekat jendela sedangkan Naruko di depanku. Kuperhatikan beberapa laki-laki di sekitar Naruko. Mata mereka jelalatan melihat... paha mulus kakakku yang saat itu memakai hotpants! Kurang ajar! Insting sister complex-ku mulai muncul. Whoa, ini sebuah perkembangan bagus, aku sudah mulai mempedulikan Naruko.
"Naruko, kau pindah kesini."
Sepintas kulihat raut muka kecewa orang-orang mesum itu. Sekarang Naruko yang bersandar di dekat jendela dan aku didepannya. Kusimpan tangan kananku didekat kepalanya. Penuhnya kereta sore itu membuat jarak kami cukup dekat. Membuat posisiku terlihat seperti akan memeluk Naruko. Jangan salah faham, aku hanya ingin menghalangi pandangan orang-orang mesum itu ke arah Naruko. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Naruko juga kaget melihat tingkahku. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum senang, dan menyadari apa sebenarnya tujuanku melakukan hal itu.
"Sudah sore, sebaiknya kita cari hotel," ujarku saat kami tiba di stasiun. Kami sampai jam 5. Sudah terlalu sore untuk berenang sekarang.
"Aku ingin ke pantai," kata Naruko merengek.
"Ini sudah sore. Berenangnya besok saja. Bahaya, air laut sebentar lagi pasang."
"Siapa yang bilang aku akan berenang? Ayo ikut aku." Aku hanya cengo tidak mengerti.
Naruko menarikku ke tepi pantai. Kemudian dia duduk di pasir dan mengisyaratkan aku untuk duduk disampingnya. Kami hanya diam disana tidak melakukan apa-apa. Saat aku bertanya kepada Naruko apa tujuannya duduk disana, dia hanya menyuruhku diam.
"Lihat, aku ingin melihat ini."
Aku mengikuti arah pandangannya. "Oh, sunset."
Matahari hanya tinggal terlihat setengahnya, setengahnya lagi sudah tenggelam, seolah masuk ke lautan. Warna merahnya berpadu dengan warna langit dan warna hamparan lautan. Menghasilkan kombinasi warna yang indah. Begitu indah sampai bisa membuat orang betah memandangnya. Memandangnya sampai warna merah-orange itu hilang digantikan warna gelap sang langit malam.
"Indah sekali, Hinata tidak bohong."
"Ya."
Sejenak kami menikmati pemandangan indah itu. Tidak setiap hari kami bisa menyaksikan pemandangan indah seperti itu.
"Nah, sekarang kita cari hotel," kataku setelah langit sudah benar-benar gelap.
"Tunggu, aku ingin nonton dulu."
"Ayolah, ini sudah malam."
"Tenang saja, ayo cepat. Tadi aku lihat poster film disana, sepertinya seru."
Naruko memegang tanganku dan menarikku ke sebuah bioskop. Kebetulan bioskop mamang letaknya tidak jauh dari pantai. Sementara Naruko mengantri membeli tiket, aku membeli hamburger di stand di dekat sana. Dan sambil menunggu filmnya mulai, kami makan hamburger yang tadi kubeli. Satu burger rupanya tidak bisa mengganjal perutku yang hanya diisi ramen tadi pagi. Maka aku kembali membeli satu burger. Saat kutawari Naruko, dia tidak mau dengan alasan: diet. Apanya yang diet? Badan selangsing itu menurutku sudah tidak perlu diet. Dasar cewek.
Film yang akan kami tonton sebentar lagi mulai, kami pun masuk ke gedung bioskop.
"Coba lihat tiketnya." Naruko memberikan tiket film yang akan kami tonton. "Horror? Tidak takut?"
"Tentu saja tidak!" Harap para reader catat atau ingat-ingat kata-kata Naruko barusan: Tentu saja tidak!
Dan lihat reaksinya setelah film dimulai:
"Kyaaaaaaaa..." Ckckck. Apanya yang 'tentu saja tidak'?
Aku heran kenapa dia ingin nonton film horror kalau saat dia nonton malah takut dan menutup mata. Membeli tiket hanya untuk menutup mata dan bersembunyi. Itu sama saja membuang uang menurutku.
"Gomen Tuan, kamar yang kosong hanya tinggal 1 kamar, itupun single bed." Kami sekarang berada di sebuah hotel tidak jauh dari pantai. Kami mencari hotel dekat pantai biar besok gampang kalau mau ke pantai. Dan ini sudah hotel ketiga yang kami kunjungi. Dua hotel sebelumnya penuh.
"A-apa? Yaudah aku cari hotel lain," ujarku kecewa.
"Tuan, kalau boleh aku ingin memberitahu, hari ini wisatawan yang datang banyak sekali. Hotel-hotel disekitar sini sebagian besar sudah penuh. Kalau tidak percaya silahkan cek hotel lain. Tapi kami tidak menjamin saat Tuan kembali kemari kamar ini masih kosong." Petugas hotel itu ada benarnya. "Kalau boleh tau kalian... sepasang kekasih?"
"Bukan, bukan!" sergahku dan Naruko bersamaan.
"Kami kakak-adik," tambahku.
"Kalau begitu tidak apa-apa 'kan kalau sekamar berdua?"
"O tidak bisa," kataku, "kami 'kan sudah besar."
"Excuse me, is there room available for me?" tanya seorang pria kulit hitam berbadan tinggi kepada petugas hotel lainnya yang juga ada di sana. Petugas itu bertukar pandang dengan petugas di depanku.
"Please wait a minute Sir," jawab petugas tersebut.
"Sure."
"Bagaimana? Kalian mau check in? Kalian lihat, sudah ada orang lain yang juga mencari kamar, kalau kalian tidak jadi, biar kuberikan pada dia. Aku hanya menghargai kalian yang datang lebih awal," jelas petugas hotel yang di depanku.
Aku berpikir sejenak. Sudah dua hotel yang aku kunjungi penuh, sekarang hotel ke-3 tinggal 1 kamar. Bisa saja aku mencari hotel lain. Tapi aku takutnya hotel lain juga akan penuh seperti kata petugas hotel itu.
"Baiklah, kami check in."
"Whoa, kamarnya luas. Dan coba lihat di balkon ini kita bisa melihat kota dan pantai dengan jelas, malam-malam pun keadaan disini tidak kalah indah." Naruko membuka pintu menuju balkon kamar dan mengoceh sendirian disana. Aku tidak menghiraukan kata-kata Naruko. Aku sudah terlalu cape.
"Kau tidur di kasur, aku tidur di sofa. Aku tidur duluan, aku cape sekali."
Badan yang kecapean memang membuat tidurmu enak. Membiarkan tubuh mengisi kembali energi yang terbuang di siang hari.
.
.
.
"Kyaaaaaaa..." Aku tersentak mendengar teriakan Naruko. Aku panik takut ada sesuatu terjadi padanya. Kulihat dia masih di kasurnya ketakutan. "Naruko, kenapa? Hei, kenapa?" Aku memegang pundaknya.
"A-aku mimpi buruk, barusan mimpi ke-ketemu hantu," kata Naruko ketakutan.
"Ini pasti gara-gara tadi kamu nonton film horror."
"Aku takut Naruto-kun..." rengeknya memegang tanganku.
"Sudahlah, itu hanya mimpi. Sekarang kau tidur lagi." Aku membaringkannya dan menyelimutinya lagi. Menyebalkan sekali membuatku terbangun hanya karena mimpi buruk. Aku kembali berbaring di sofa.
Tapi semenit kemudian sofa yang kutiduri terasa sempit. Ternyata Naruko juga berbaring di sampingku.
"He-hei, kenapa kau tidur disini? Sempit!"
"Tapi aku takut Naruto-kuuun..." rengeknya lagi.
"Astaga kau ini. Jarak kasur dan sofa tidak sampai semeter masih saja takut. Kalau gitu kau di sofa, aku di kasur."
"Sama saja kalau gitu."
"Terus maunya gimana?"
"Kita tidur di kasur berdua..."
"A-apa? Yang benar saja! Kau sudah besar, masa tidur berdua?" Aku masih sadar, biarpun kakak-adik tapi kalau umur segini tidur bersama rasanya... gimana gitu. Aku takut ada setan yang tiba-tiba merasukiku dan melakukan hal aneh pada Naruko.
"Naruto-kun, aku mohon.. Hiks, aku takuuut..."
"Eh? Kok nangis?" Apa benar-benar menakutkan sampai menangis begitu? Hatiku luluh kalau dia menangis seperti ini. Tangannya gemetaran, tampaknya dia serius. Mimpinya tadi pasti sangat menakutkan. Aku memegang tangannya yang gemetaran itu, menenangkan. "Ba-baiklah, aku tidur denganmu di kasur."
Rupanya dia memang ketakutan sekali. Saat tidurpun pegangannya ke tanganku susah kulepas. Tapi biarlah, mungkin hanya ini yang bisa membuatnya tenang. Kupandang Naruko yang sudah terlelap. Tampaknya seharian bersama Naruko membuatku tidak canggung lagi dengannya. Terutama saat kami terdiam, aku sudah bisa memulai pembicaraan sekarang, berbeda dengan sebelumnya.
Kubuka mataku pelan-pelan. Samar-samar cahaya matahari yang masuk melalui jendela hotel menyilaukan mataku. Sangat silau sampai-sampai aku tidak sadar kalau ada sepasang mata biru yang dari tadi memperhatikanku. Begitu pupil mataku menyesuaikan diri dengan cahaya di kamar ini, pandangan mataku bertemu dengan mata biru yang identik denganku itu, mata yang memperhatikanku dari tadi. Jarak kami begitu dekat sekarang. Bahkan aku bisa melihat jelas betapa miripnya mataku dengan matanya.
"Ohayou, Naruto-kun..." Saking dekatnya, hembusan nafas Naruko terasa jelas di wajahku saat dia mengucapkan kalimat itu. Otakku yang masih lemot karena baru bangun tidur masih mengkalkulasikan seberapa dekat jaraknya denganku sampai nafasnya saja bisa terasa seperti itu. Dan...
"Whoaa..." Aku langsung mundur. Ini terlalu dekat, jarak wajah kami mungkin hanya sekitar 10 cm, bahkan kurang. Hidungnya yang mancung saja hampir bersentuhan dengan hidungku.
"Kenapa?"
"Ka-kau sudah lama terbangun?"
"Yaaa lumayan lama, sampai bisa memberiku waktu untuk melihatmu tidur," ujarnya sambil tersenyum. Seolah lupa apa yang terjadi semalam. Kualihkan pandanganku karena malu.
"Waaaahhhh, indaaahhhh..."
Kami sekarang sudah berada di pantai Konoha. Pantai indah dengan pasir putihnya yang bersih. Pantai yang karena keindahannya ini bisa menarik ribuan bahkan jutaan wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya.
"Memangnya di Inggris tidak ada pantai yang seperti ini?"
"Ada, tapi pantainya tidak seindah disini. Aku, ganti baju dulu ya." Naruko pergi ke ruang ganti. Sedangkan aku memang sudah memakai celana pendek orange untuk berenang.
Tidak lama kemudian Naruko kembali dengan memakai two-piece string bikini warna orangenya. Wah, warna yang sama. Tapi kami tidak janjian kok. Dan penampilannya itu membuatku tidak melepaskan tatapanku kepadanya selama 5 detik ditambah dengan mulutku yang membuka. Naruko begitu... wow. Kalian bayangkan sendiri apa yang kumaksud 'wow'.
"Naruto-kun?"
"Ah, Na-Naruko... " Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kalau aku memandangnya terus berarti aku sama saja dengan orang-orang mesum di kereta kemarin. "Sudah siap?"
"Ya. Oh ya, aku menyewa papan surfing."
"Oh, kau bisa surfing?"
"Mmm tidak, aku..."
"Kalau tidak bisa kenapa menyewa itu?" tanyaku meremehkan.
"Dengarkan aku sampai selesai dulu! Aku ingin belajar surfing, apa kau bisa?"
"Tentu saja bisa. Tapi aku tidak mau mengajarimu."
"Kok gitu? Ayolah. Tou-san berjanji akan mengajariku, tapi sampai sekarang belum sempat."
"Tidak," jawabku sambil melipat kedua tangan di dada.
"Jangan-jangan kamu tidak bisa dan hanya pura-pura bisa kan?" tanya Naruko. Kali ini dia yang terdengar meremehkanku.
"Enak saja! Akan kubuktikan kalau aku jago surfing." Lagi-lagi aku masuk ke dalam jebakannya. Tapi aku tidak mau dianggap bohong, jadi lebih baik aku ajari dia saja.
"Yeeeahhh!"
"Ok, sebelum belajar. Aku ingatkan dulu beberapa hal yang harus kau perhatikan. Surfing adalah olahraga berbahaya. Apa kau yakin mau pakai surfboard kecil ini? Kalau untuk belajar, sebaiknya pakai yang agak besar dulu biar gampang menangkap ombak dan bisa melatih keseimbangan. Kalau perlu untuk pemula sepertimu sebaiknya pakai softboard yang dari foam."
"Jangan yang soft! Memangnya aku anak kecil? Tukar saja ke ukuran yang lebih besar."
"O-okay. Tunggu disini." Aku pergi ke tempat penyewaan yang Naruko tunjukkan, dan kembali dengan membawa sebuah surfboard tapi dengan ukuran yang lebih lebar. "Selanjutnya pemanasan, regangkan otot-ototmu, pakailah sun block, hormati surfer lain dan yang paling penting jangan panik saat nanti ada arus rip, arus kuat yang langsung menarikmu ke lautan bebas."
"Aku mengerti," jawab Natuko mantap. Aku meletakkan surfboard di pasir.
"Sekarang masuk ke teori surfing. Pertama, tentukan titik keseimbanganmu. Sekarang naik ke surfboard," perintahku kepada Naruko, "titik keseimbangan biasanya ada disini." Aku menunjuk sebuah titik di surfboard, Naruko dengan seksama memperhatikannya.
"Tapi posisi ini kadang tiap orang bisa beda-beda. Tergantung postur dan berat badan. Pertama-tama kau akan sering terjatuh. Teruslah cari titik keseimbangan itu. Setelah ketemu, ingat-ingat posisi itu." Naruko kembali mengangguk, tampaknya dia memang serius ingin belajar.
"Sekarang posisi badan, Jangan berdiri tegak, turunkan sedikit," kataku menurunkan pundak Naruko, "seperti kuda-kuda. Gunakan tangan untuk menyeimbangkan badan. Pandangan ke depan, jangan menunduk karena justru itu akan membuatmu gampang terjatuh. Jangan terlalu banyak bergerak saat diatas surfboard. Disini kuncinya adalah bersikap tenang. Mengerti?"
"Mengerti pelatih!" ucap Naruko lagi.
"Ayo kita, menuju ombak."
"Siap!"
Naruko mulai menaiki surfboardnya, dan mengayuh dengan kedua tangannya. Aku berenang mengikuti di belakangnya.
"Ingat, rileks saja. Aku akan mengikutimu di belakang. Pertama-tama cari dulu saja titik keseimbangan yang pas. Setelah itu kita ke tengah menerjang ombak yang lebih besar."
"Got it!"
Setelah dirasa cukup, aku memberikan isyarat kepada Naruko untuk bersiap-siap.
"Nah, ombak datang. Siap... Berdiri sekarang!" Naruko berdiri dan berusaha menyeimbangkan badannya, "rasakan apa posisi itu sudah seimbang, kalau belum cari posisi yang pas. Maju ke depan atau ke belakang."
"Whoaaaa..." Byuuurrrrr!
Naruko terjatuh dari surfboardnya. Aku berenang mendekatinya. Saat kutanya keadaannya dia bilang baik-baik saja dan ingin terus melanjutkan. Tekad yang kuat, pikirku.
"Sepertinya tadi terlalu belakang. Maju sedikit."
Setelah itu Naruko terus mencoba tanpa mengeluh. Kulihat dia sudah mulai kelelahan. Ada rasa iba yang muncul pada diriku.
"Masih mau lanjut?" tanyaku khawatir.
"Tentu saja! Aku tidak akan menyerah secepat itu!" Semangat yang bagus. Dia mirip denganku, tidak mudah menyerah untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
"Bagus. Cobalah terus, aku lihat dari pinggir." Aku berenang ke tepi pantai dan bersantai di pinggir pantai sambil sesekali memantau perkembangan Naruko.
Sudah satu jam berlalu. Naruko benar-benar pantang menyerah.
"Naruto-kun sepertinya sudah kutemukan posisi yang pas," teriak Naruko kegirangan sambil berlari ke arahku.
"Bagus! Bagian tersulit sudah terlewati, selanjutnya akan lebih gampang. Sekarang kita lebih ke tengah, arusnya akan lebih kuat."
Aku kembali berenang mengikuti Naruko.
"Nah, ombak besar datang... gunakan ombak itu untuk belajar berbelok. Tetap rileks."
Naruko mengayuh surfboardnya mendekati ombak yang belum pecah itu. Begitu sampai, pelan-pelan dia berdiri dan mencoba belajar berbelok.
"Naruto-kuuunn, aku bisaaa," teriaknya keras sekali, saking senangnya.
"Ya, tetaplah berlatih. Aku ketepi dulu, nanti aku juga akan menyewa surfboard."
"Ok."
Saat aku kembali mendekati Naruko kulihat dia sudah mulai lancar. Tinggal banyak berlatih saja.
"Wah sepertinya sudah lancar," pujiku. Aku salut kepadanya. Aku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menguasai olahraga ini. Tapi dia hanya butuh beberapa jam saja.
"Tentu saja, ayo kita balapan."
"Jangan bercanda."
"Kenapa? Kamu takut melawan pemula sepertiku?" Lagi-lagi dia memancing kekesalanku.
"Hei tarik lagi ucapanmu!"
"Kalau begitu ayo bertanding."
"Siapa takut!"
Kami pun bersama-sama menerjang ombak. Aku tidak tau karena Naruko yang berbakat, beban yang beda, atau karena aku yang sedang sial, tapi yang jelas aku kalah beberapa meter darinya. Naruko melesat memecah ombak besar, meluncur di bawah deburan ombak yang mulai pecah, sedangkan aku hanya kebagian sisanya.
"Wheee... Naruto-kun ketinggalan."
"Bodoh! Jangan menengok kebelakang! Pandangan ke depan! Nanti keseimbanganmu..."
BYUURRRR...
"NARUKOOOO! Naruko, kau tidak apa-apa?" Aku panik melihat Naruko terjatuh, ombak barusan lumayan besar. Aku takut dia terseret ke tengah.
"Uhuk-uhuk. Ahahahaha, seru sekali."
"Syukurlah tidak apa-apa," aku tersenyum lega, "dasar kau ini ceroboh."
"Eh? Whoa, aku melihatmu tersenyum barusan. Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum padaku. Hei, coba senyum lagi." Oops, ternyata tanpa sadar aku tersenyum, itu refleks. Tiba-tiba saja muncul.
"Tidak, mungkin tadi kamu salah lihat," elakku, tidak mau sampai ketauan tersenyum.
"Jangan bohong, aku benar-benar melihatnya tadi."
"Tidaaakk!"
"Hei, jangan kabur, ayo cepat mengaku dan berikan aku senyummu lagi. Heeiii..."
"Sudah sore, saatnya pulang." Kami sudah check out dari hotel dan bersiap untuk pulang.
"Sebentar, antar aku ke toko cindera mata ya? Aku harus membeli sesuatu yang mengingatkanku pada tempat ini." Haduh, padahal aku sudah cape sekali, otot kakiku sudah protes minta diistirahatkan.
"Tapi cepat."
"Iya. Toko ini saja yang dekat." Kami masuk ke sebuah toko cindera mata. Toko yang termasuk besar di jajaran pertokoan disana.
"Bagaimana kalau gelang ini? Ini sepasang." Aku melihat gelang yang Naruko maksud.
"Aku tidak mau kalau kau menyuruhku memakainya. Itu terlalu feminim, jadi beli saja untukmu sendiri, jangan yang sepasang. Lagipula kenapa pilih liontin rubah? Setidaknya belilah yang temanya laut atau pantai."
"Soalnya ini lucu sekali. Terus ini rubahnya sepasang, betina dan jantan. Punyamu rubah jantan, jadi tidak feminim kan?"
"Tetap saja."
"Aku akan tetap membelinya," ujar Naruko bersikeras. Dia membawa sepasang gelang itu ke kasir.
"Terserah," balasku tidak peduli.
Kereta sore ini kebetulan kosong, Naruko duduk di sampingku. Tiba-tiba kepalanya menyentuh pundakku. Rupanya dia tertidur. Kegiatan hari ini pasti membuatnya cape sekali. Aku membenarkan posisi kepalanya supaya tidak terjengkal ke depan. Kurapikan poni yang menutupi wajahnya. Meskipun cape, tapi perasaan senang terlukis jelas di wajahnya.
Saat kurogoh kantong celanaku bermaksud melihat jam di HPku, aku menemukan sebuah gelang berliontin rubah jantan berwarna orange. Pasti Naruko memasukan benda ini diam-diam ke kantong celanaku tadi. Kuperhatikan pasangan dari gelang itu yang sudah Naruko pakai di pergelangan tangan kirinya.
"Hei Naruko, aku berubah pikiran, aku terima gelang ini," bisikku pada Naruko sambil tersenyum. Meskipun aku tau dia tidak akan mendengarnya. Kembali kumasukan gelang itu ke kantongku.
Kulihat jam di HPku sudah menunjukan pukul 4.00 P.M. Aku juga melihat ada 2 email baru, dua-duanya dari Kaa-san. Rupanya Kaa-san mengirimnya siang tadi saat kami di pantai. Kubuka kedua email dari Kaa-san tersebut.
email 1:
Apa kalian baik-baik saja disana? Bagimana liburan kalian? Sudah pergi kemana saja?
email 2:
Kelihatannya kalian sedang sibuk. Semoga liburan kalian menyenangkan.
Lalu kubalas email dari Kaa-san.
To: Kaa-san
Subject: Baik
Message: Kami baik-baik saja disini. Jangan pikirkan kami, nikmati saja bulan madu kalian berdua.
Tak lama kemudian Kaa-san membalas dengan sebuah emoticon berwajah merah merona, tanda malu. Aku ikut tersenyum melihat email balasannya itu. Kusimpan HP dan kualihkan pandanganku ke gadis pirang yang masih terlelap dipundakku.
Selamat Kaa-san, rencanamu berhasil...
To Be Continue...
A/N: Waduh, chapter ini puanjaaang. Bengkak sampe 4000 kata lebih. Tapi seneng, akhirnya Naruto udah mulai bisa nerima Naruko (walaupun belum sepenuhnya).
Sepertinya judul dari fanfic ini akan mulai tergambar di chapter depan. Jadi chapter depan itu bisa dibilang chapter penting yang menentukan alur cerita. Kalian tebak aja akan seperti apa ceritanya. Jadi nantikan chapter selanjutnya. Semoga chapter 6 nanti bisa di update sesuai jadwal di weekend ini. Review, review, review... :D
Arigato
-rifuki-
