A/N: Fiuhh, akhirnya bisa update tepat waktu. Bales review dulu.
Sieg Hart: Sebenernya umur Naru-Naru 'kan sama, cuma Naruko aja yang hoki lahir duluan. Wkwkwk. Meskipun Naruko itu kakak, tapi saya bikin Naruto terlihat lebih dominan/dewasa karena dia cowok. Jadi memang itu yang saya inginkan. Kemaren update cepet bukan berarti ga maksimal kok, emang udah mentok aja idenya. Gomen kalo chap kemaren hasilnya jadi jelek. Ia di chap ini mulai muncul konflik, baca aja. Ow, ga nyangka kamu pemimpin perkumpulan seperti itu. hoho
mika: Tenang aja ini bukan incest kok, kan udah dijelasin di chapter pertama.
Review yang lain seperti biasa dibales lewat message.
Kali ini ga banyak omong langsung ke story aja, selamat membaca Chapter 6 ;)
Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Mungkin juga ada typo.
Cerita Sebelumnya:
"Hei Naruko, aku berubah pikiran, aku terima gelang ini," bisikku pada Naruko sambil tersenyum. Meskipun aku tau dia tidak akan mendengarnya. Kembali kumasukan gelang itu ke kantongku.
Kulihat jam di HPku sudah menunjukan pukul 4.00 P.M. Aku juga melihat ada 2 email baru, dua-duanya dari Kaa-san. Rupanya Kaa-san mengirimnya siang tadi saat kami di pantai. Kubuka kedua email dari Kaa-san tersebut.
email 1:
Apa kalian baik-baik saja disana? Bagimana liburan kalian? Sudah pergi kemana saja?
email 2:
Kelihatannya kalian sedang sibuk. Semoga liburan kalian menyenangkan.
Lalu kubalas email dari Kaa-san.
To: Kaa-san
Subject: Baik
Message: Kami baik-baik saja disini. Jangan pikirkan kami, nikmati saja bulan madu kalian berdua.
Tak lama kemudian Kaa-san membalas dengan sebuah emoticon berwajah merah merona, tanda malu. Aku ikut tersenyum melihat email balasannya itu. Kusimpan HP dan kualihkan pandanganku ke gadis pirang yang masih terlelap dipundakku.
Selamat Kaa-san, rencanamu berhasil...
.
.
.
Chapter 6
-Kue Ulang Tahun Terenak-
Minggu, 10 Oktober 2010
Hari ini tepat sebulan setelah Tou-san dan Naruko datang ke Jepang. Dan aku senang karena sekarang aku sudah mulai akrab dengan Naruko. Meskipun belum bisa dibilang seakrab aku dengan Karin-Neesan. Rencana Kaa-san beberapa minggu lalu memang bisa dibilang merupakan titik balik perubahan sikapku kepada Naruko. Setelah hari itu berangsur-angsur sikapku terhadap Naruko berubah ke arah yang lebih baik. Dan aku janji akan terus berusaha sampai aku bisa menerima Naruko sepenuhnya di kehidupanku.
Selain itu hari ini umurku genap berusia 17 tahun, tentu saja hari ini hari ulang tahun Naruko juga. Dari dulu aku tidak pernah mengangggap spesial sebuah hari ulang tahun. Aku menganggap hari ulang tahun hanya sebuah hari dimana orang-orang meminta traktir, deretan ucapan selamat ulang tahun kuterima dari orang-orang yang kukenal, dan berkurangnya jatah usiaku setahun. Tidak lebih dari itu. Tapi tahun ini berbeda. Pertama, karena ada orang baru di keluarga ini, kembaranku, yang juga berulang tahun. Ini menjadi hal yang baru untukku. Kedua, ini adalah umurku yang ke-17 tahun. Yang orang bilang adalah masa transisi dari remaja ke dewasa. Masa dimana segala hal yang kita lakukan harus mulai kita pikirkan sebagai seorang manusia yang mulai beranjak dewasa, bukan lagi sebagai seorang remaja labil. Segala keputusan yang kita ambil harus mampu kita pertanggung jawabkan kemudian.
Nah, kedua hal itulah yang membuatku semangat untuk bangun lebih pagi dari biasanya.
"Ohayou Kaa-san, Naruko."
"Ohayou Naru-chan," seru Kaa-san.
"Naruto-kuuunnnn, selamat ulang tahuuuun..." Naruko menghambur memelukku. Kaa-san memperhatikan kami berdua sambil tersenyum senang melihat kedua anaknya kini telah akrab. Puas dengan rencana yang berjalan sesuai keinginannya.
"Selamat ulang tahun untukmu juga, Naruko," kataku setelah melepas pelukan. Tak lupa aku menambahkan senyuman disana. Hal yang sebulan lalu sangat susah kulakukan, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah mulai kembali ke Naruto yang dulu, yang sering tersenyum dan ramah.
"Selamat ulang tahun ya," kata Kaa-san yang sudah beralih dari pekerjaannya menyiapkan sarapan, kini mendekatiku dan memelukku, "Kaa-san doakan yang terbaik buat kamu."
"Terima kasih Kaa-san," ujarku sambil membalas pelukan Kaa-san.
"Hei Naruko, kamu membantu Kaa-san memasak ya?" tanyaku kepada Naruko saat melihat di pipinya ada noda terigu, atau mungkin tepung? Aku tidak tau pasti. Dia kaget kemudian membersihkan pipinya cepat-cepat.
"Kaa-san dan Naruko-chan baru selesai membuat..." kata-kata Kaa-san belum selesai, tapi terpotong oleh omongan Naruko...
"Aku membantu Kaa-san memasak sarapan!" ujar Naruko cepat. Mendengar itu Kaa-san menoleh kepada Naruko. Mereka berdua saling berpandangan sesaat, pandangan mata mereka seakan berkomunikasi dengan bahasa yang tidak aku mengerti.
"Ah, ia maksud Kaa-san juga itu. Sekarang ayo kita sarapan." Kaa-san menuju pintu belakang dan setengah berteriak memanggil Tou-san yang sedang melakukan treadmill di teras belakang rumah. "Tou-san, sarapan dulu."
Tak lama kemudian Tou-san muncul dari pintu belakang.
"Hei, selamat ulang tahun untuk kalian berdua." Tou-san mengacak rambutku dan Naruko dari belakang, sebelum kemudian duduk bergabung di meja makan. "Mau hadiah ulang tahun apa?"
"Jangan repot-repot Tou-san, aku sudah cukup bahagia bisa berkumpul dengan kalian di hari ulang tahun ini," jawab Naruko. Persis sama dengan apa yang ada di pikiranku.
"Setuju!" sahutku.
"Kalian jangan sungkan, kalau begitu biar Tou-san yang tentukan. Kalian tunggu saja," kata Tou-san menunjukkan cengiran lebarnya. Setelah itu kami sarapan dengan diselingi obrolan-obrolan ringan. Sesekali kami tertawa saat ada sesuatu dari obrolan kami yang lucu. Sungguh pagi yang indah untuk mengawali hari Minggu ini.
'Hei Dobe, ke rumahku sekarang. Kita bersenang-senang di hari ulang tahunmu ini.'
Begitulah email yang kuterima beberapa saat lalu dari Sasuke. Meskipun sebenarnya aku tau kalau yang dimaksud 'bersenang-senang' disana adalah 'menguras isi dompetku'. Tapi tidak apalah, tidak setiap hari aku menyenangkan temanku. Minimal satu kali setahun aku melakukan hal ini. Lagipula aku punya tabungan yang cukup untuk hal seperti ini.
"Email dari siapa?" tanya Naruko yang saat itu duduk disampingku. Siang itu kami sedang duduk di sofa berdua. Sedang nonton film yang kubeli kemarin, Naruto Shippuden Movie 4: The Lost Tower. Sebenarnya kami sudah menonton film ini kemarin, tapi karena memang seru, kami memutuskan untuk menontonnya lagi. Aku jadi tau kalau Naruko suka film bergenre action, berbeda dengan kebanyakan cewek yang rata-rata kurang menyukai film bergenre ini.
"Sasuke. Dia menyuruhku ke rumahnya. Mau ikut?" tanyaku balik. Naruko terlihat berfikir sejenak.
"Aku disini saja," jawab Naruko. Aku beranjak dari sofa, tapi Naruko menahan tanganku dengan tangannya. "Pulangnya jangan lama-lama ya?"
"Kenapa?"
"Ti-tidak, hanya saja... ah, pokoknya jangan lama-lama."
"Baiklah, akan kuusahakan. Aku pergi."
"Hati-hati," pesannya tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya sebelum menuju pintu keluar.
"Surprise! Happy birthday to you, happy birthday to you..." Itulah suara atau lebih tepatnya nyanyian yang kudengar saat kubuka pintu masuk rumah Sasuke. Selain Sasuke kulihat ada Shikamaru, Chouji, Kiba, Sakura, Ino, dan Hinata disana. Sasuke tidak bilang kalau mereka juga ada disini. Aku pikir memang dia sendiri yang mengajakku main. Tapi sekarang aku yakin kalau gadis berambut pink yang sedang bertepuk tangan disana yang merencanakan ini semua. Dia menunjukan jari telunjuk dan jari tengah membentuk simbol 'peace' saat aku menatapnya. Dia memang terkenal 'hobby' membuat kejutan di ulang tahun seseorang. Bukan hanya ulang tahunku, tapi juga ulang tahun teman-temanku yang lain. Mungkin lain kali kami juga harus mencoba untuk membuat kejutan di hari ulang tahun gadis pink yang bernama Sakura itu.
Ditengah mereka yang bertepuk tangan, Hinata membawakan kue ulang tahun yang di atasnya sudah ada lilin berbentuk angka 17 yang sudah dinyalakan. Yang lain bernyanyi bersahut-sahutan menyuruhku meniup lilin sambil bertepuk tangan di samping dan di belakang Hinata. Aku berjalan mendekat dan memejamkan mataku, mengucapkan sebuah permohonan.
'Tuhan, terima kasih sudah memberikan teman-teman yang begitu peduli kepadaku. Berilah kesehatan kepada mereka dan semoga ikatan pertemanan antara kami terus terjaga sampai ajal menjemput kami,' ucapku dalam hati. Kemudian kutiup lilin dengan sekali tiupan. Sorak gembira teman-temanku membahana di ruangan itu.
"Te-man-teman, terima kasih banyak," ucapku pelan. Terharu dengan perlakuan mereka semua. Mereka semua tersenyum kepadaku. Bahkan Sasuke juga terseyum, hal yang jarang aku lihat. Mereka seolah memberitahuku kalau itulah gunanya teman. Acara selanjutnya adalah pemotongan kue. Kue yang tidak bisa dibilang besar itu aku bagi rata sesuai jumlah orang disana, kemudian aku berikan kepada semua yang hadir.
"Sepertinya ada yang kurang nih," celetuk Kiba saat kami memakan kue.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Masa lu ga tau? Traktir!" jawab Kiba yang langsung disetujui oleh semua orang disana. Ah, aku lupa pesan Sasuke tadi, aku disuruh kemari selain diberi ucapan selamat, juga dompetku akan dikuras.
"Apa tidak bosan?" tanyaku berharap selamat dari ancaman mentraktir 7 orang disana, "Setiap ulang tahun itu saja yang kalian minta."
"Tidak juga, sekarang kita cari tempat makan lain," sergah Chouji. Kalau urusan makan dia memang selalu bersemangat. "Bagaimana kalau Yakiniku Q?"
"Setuju!" timpal yang lain.
Hmmm, kalau begini aku sudah tidak punya pilihan. Ujung-ujungnya memang aku harus mentraktir mereka, "Baiklah."
"Yeah!" seru mereka kegirangan.
"Tunggu, tunggu!" Kali ini Ino yang angkat bicara. "Aku undang Sai juga ya?"
Aku mengangguk. Bukan hanya karena Sai adalah pacar Ino, tapi memang aku sudah cukup mengenal akrab Sai meskipun dia dari kelas lain. Aku mengenalinya saat beberapa kali dikirim bersamanya untuk mewakili sekolah dalam lomba melukis di berbagai perlombaan.
"Tenten juga," tambah Hinata. Menyadari kalau sahabat dekatnya tidak hadir. Aku juga melupakan dia. Tenten sekelas denganku tapi aku baru sadar kalau dia tidak hadir. Biasanya dia selalu ikut dalam acara berkumpul seperti ini.
"Jangan lupakan Shino dan Lee," tambah Kiba.
Kenapa terus saja bertambah? Aku kembali melihat teman-temanku dan memeriksa siapa saja temanku yang tidak hadir. Aku juga mengingat-ingat berapa jumlah tabunganku. Kemudian sudah kuputuskan...
"Yaudah, aku akan undang semua teman sekelas kita!" kataku mantap.
Teman-temanku bersorak. Kemudian aku menulis email baru yang aku tujukan untuk teman-teman sekelasku yang belum ada disini.
To: 11-C
Subject: Undangan
Message: Teman-teman, aku mengundang kalian untuk makan bersama di Yakiniku Q. Bagi kalian yang ada waktu luang, datanglah, aku menunggu kalian disana.
Tidak lupa aku juga mengirimkan pesan untuk Naruko.
To: Naruko
Subject: Kesini
Message: Naruko, datanglah ke Yakiniku Q. Aku mau mentraktir semua teman-temanku, jadi kamu juga harus ikut. Selain itu hari ini 'kan ulang tahunmu juga. Kita rayakan bersama disana.
Aku duduk di salah satu kursi di Yakiniku Q, sementara teman-teman sekelasku sudah bejibun disana. Ada yang di dalam, tapi tidak sedikit juga yang diluar sedang mengobrol. Hampir semua datang, hanya beberapa saja yang berhalangan hadir. Aku belum mau memulai acaranya sebelum seseorang yang aku tunggu datang.
Naruko.
Biar bagaimanapun hari ini bukan aku saja yang berulang tahun. Tapi juga Naruko. Orang yang lahir dari rahim yang sama denganku, hanya saja dia lahir 10 menit sebelum aku. Dan karena hal itu pula telah menjadikan dia kakakku.
Aku tersenyum senang saat sosok yang aku tunggu-tunggu masuk ke Yakiniku Q, sosok berambut pirang twintail itu menghampiriku mejaku.
"Naruko..." Aku berdiri dan tersenyum ke arahnya.
"Naruto-kun..." Aku tidak tau ini cuma perasaanku atau bukan. Tapi aku merasa ada sekilas kesedihan diwajah Naruko. Membalas senyumanku saja tidak. Padahal aku tau dia tidak pernah melepas senyumnya saat bicara denganku. "Aku kesini bukan untuk bergabung bersama kalian."
"A-apa?" Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Kalimat yang aku pikir tidak akan keluar dari mulut Naruko. Sudah sebulan aku mengenalnya dan aku tau dia suka sekali acara kumpul-kumpul seperti ini. Apalagi jika aku ikut di dalamnya. Tapi pernyataan Naruko tadi seolah membantah semua itu.
Menyadari kebingunganku, Naruko menarik tanganku. Mengajakku ke tempat yang agak sepi. Dimana aku dan dia bisa bicara tanpa didengar orang lain. Dia bersandar di dinding sambil menyilangkan tangannya di dada dan aku diam mematung di hadapannya. Pandangan kami bertemu. Untuk beberapa saat tidak ada yang memulai pembicaraan. Sepi. Sampai kemudian Naruko menghela nafas, dan mengatakan tujuannya datang kesini.
"Aku kesini ingin mengajakmu pulang." Satu lagi kalimat yang membuatku tercengang. Sebelum aku bereaksi dengan apa yang dikatakannya, Naruko sudah melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah menyiapkan pesta kecil di rumah."
Aku meresapi maksud dari kata-katanya. Kebingunganku tadi terjawab. Rupanya dia tidak mau bergabung denganku dan ingin mengajakku pulang karena ingin mengadakan pesta di rumah bersamaku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah teman-temanku. Ada sekitar 30 teman sekelasku ( Sai) disana. Menunggu aku untuk memulai acara ini. Bahkan aku bisa melihat wajah bosan di beberapa dari mereka. Mungkin mereka sudah bosan, terlalu lama menunggu dimulainya acara ini. Kualihkan pandanganku ke arah Naruko lagi, aku memandangnya tepat di mata. Mata biru langit kami bertemu. Karena tinggi badan Naruko beberapa cm di bawahku, dia agak mendongak dan sedangkan aku menunduk saat kami bertemu pandang seperti itu. Aku benci harus mengatakan ini, tapi akhirnya aku mengatakannya juga...
"Aku tidak bisa pulang sekarang, aku sudah janji pada teman-temanku..."
"A-apa tidak bisa diundur?" tanya Naruko. Raut wajah kesedihan kali ini muncul dengan jelas di wajah manisnya. Aku ikut sedih melihatnya. Lagi-lagi aku malah membuatnya sedih. Tapi aku tidak bisa menuruti ajakannya kali ini. Biar bagaimanapun aku sudah janji kepada teman-temanku. Apa kata mereka kalau aku mengundur acara lagi padahal sekarang saja mereka sudah terlihat bosan?
"Tou-san dan Kaa-san sudah menunggu di rumah," lanjut Naruko lagi.
"Tapi... mana bisa aku seenaknya begitu. Kamu lihat? Sekarang teman-teman sudah berkumpul." Kupandang lagi teman-temanku disana. "Aku tidak enak kalau harus mengundur atau membatalkan acara ini," kataku berusaha menjelaskan sebisaku, memberinya pengertian. Dan berharap Naruko mengerti keadaanku.
"Aku mohon, sekali ini saja..." ucap Naruko pelan. Dipegangnya tangan kananku oleh kedua tangannya.
"Tidak bisa Naruko, sudah kubilang 'kan, aku tidak enak pada teman-teman."
"Ayolah, please..." Perkataannya terdengar semakin pelan ditelingaku. Begitu pilu sampai membuat hatiku sakit. Tapi aku harus tetap berpegang teguh pada pendirianku. 30 orang di pesta ini bukanlah jumlah yang sedikit untuk aku kecewakan.
"Gomen."
Mendengar keputusanku yang tetap tidak berubah, Naruko melepas pegangan tangannya. Wajahnya menunduk. Poni pirang itu menutupi sebagian wajahnya.
"Naruto..." ucap Naruko lirih. Ekspresi wajahnya tidak bisa kulihat karena tertutup poni. "Kelihatannya kamu lebih memilih berkumpul dengan teman-temanmu dari pada dengan keluargamu."
JDEERR!
Hatiku serasa ditembak oleh shotgun sampai berkeping-keping. Kenapa bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu?
"Bu-bukannya begitu, aku kan sudah janji kepada mereka." Kupegang pundak Naruko berusaha meyakinkan kalau apa yang dipikirkannya itu salah besar. "La-lagipula aku 'kan bisa berkumpul dengan kalian setelah aku mentraktir teman-temanku. Aku yakin Kaa-san dan Tou-san mengerti dengan alasanku."
"Apa keluarga tidak penting bagimu? Apa aku tidak penting bagimu? Jangan-jangan kehadiranku disini saja tidak kamu inginkan. Ya, 'kan?" tanya Naruko bertubi-tubi.
"He-heii, jangan aneh. Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"
"Benar kan?"
"Tidak, aku..."
"Sudahlah! Aku pulang. Selamat bersenang-senang." Naruko menghempaskan peganganku di pundaknya dan pergi meninggalkanku. Dia benar-benar marah sekarang. Aku dalam posisi yang sulit. Masa iya aku harus meninggalkan teman-temanku yang sudah lama menunggu disini? Hal yang kurang etis jika kulakukan.
"Naruko! Hei!" Aku berusaha mengejarnya, ingin menjelaskan posisiku yang sulit ini. Tapi dia sama sekali tidak memperdulikanku dan malah berlari keluar.
"Oi, Naruto, cepat kita mulai, kasihan yang lain udah bosan," seru Kiba, "eh, kenapa dia pulang?"
Aku tau yang dimaksud Kiba adalah Naruko, tapi aku tidak menanggapi pertanyaan Kiba. Kulihat teman-temanku memandangku dengan tatapan heran. Aku berfikir sejenak antara mengejar Naruko dan tetap disini.
Akhirnya kuputuskan untuk diam disini dan memulai acara. Sudah terlalu lama teman-temanku menunggu. Aku menyuruh teman-teman yang masih di luar untuk masuk ke dalam dan langsung saja memulai acara. Walaupun tidak bisa aku pungkiri, otakku masih memikirkan Naruko. Ada apa denganya? Tadi pagi dia tidak seperti ini. Apa ada kata-kataku tadi yang salah yang membuatnya sedih?
Selama acara makan-makan itu aku lebih banyak diam. Hanya sesekali saja aku menanggapi ucapan selamat teman-temanku dan memaksakan tersenyum saat teman-teman membuat candaan.
"Naruto-kun, ada apa?" tanya Hinata yang sejak acara dimulai berada terus di sisi sebelah kananku. "Sepertinya ada yang kamu pikirkan."
Hinata selalu saja tau keadaanku. Dan karena itu juga aku tidak pernah bisa berbohong atau berpura-pura kepadanya.
"Apa benar Dobe?" tanya Sasuke yang berada di sisi kiriku.
"Kalau ada masalah, cerita saja kepada kami Naruto," tambah Sakura. Shikamaru dan Kiba ikut mengangguk.
Aku memandang teman-temanku bergantian. Ada rasa khawatir di mata mereka. Sebuah kepedulian teman-temanku yang mereka tunjukkan kepadaku. Kupikir aku bisa jujur kepada mereka.
"Naruko," Aku menghela nafas. "Ada yang aneh dengannya. Dia mengatakan kalau kehadirannya disini tidak diharapkan."
"Maksudnya?" tanya Sakura.
"Aku juga tidak tau. Awalnya dia mengajakku pulang karena ingin mengadakan pesta denganku di rumah. Aku bilang kalau aku sudah terlanjur janji kepada kalian. Terutama aku tidak enak kepada yang lain yang sudah lama menunggu." Aku kembali memandang mereka bergantian. "Dan terakhir dia bilang kalau aku tidak peduli kepadanya dan tidak mengharapkan kehadiarannya disini."
Teman-temanku saling pandang, tampaknya mereka juga bingung sepertiku.
"Padahal pagi tadi dia tidak apa-apa, ceria seperti biasa," lanjutku menunduk.
"Pulang saja Dobe," seru Sasuke menepuk pundakku, "cari tau ada apa sebenarnya. Biar masalah disini aku yang urus."
"Yo'i, lu pulang aja. Percuma diem disini tapi pikiran lu kemana-mana 'kan?" tambah Kiba.
Tanpa mereka perintah dua kali, aku langsung meminta perhatian semua teman-temanku. Aku minta maaf dan mohon diri untuk pulang duluan. Kemudian Sasuke mengambil alih pembicaraan setelah itu dan menyuruh teman-temanku untuk melanjutkan kembali acara makan-makan dan bilang dia yang akan membayar semua makanan mereka menggantikan aku.
Hari sudah menjelang petang, ternyata lumayan lama juga aku disini. Aku memandang teman-temanku sekali lagi sebelum mengarahkan langkahku menuju rumahku. "Terima kasih, teman-teman..."
"Aku pulang."
Kaa-san dan Tou-san sedang duduk di sofa ruang keluarga. Aura mereka terlihat sedang tidak senang. Aku punya firasat buruk mengenai ini.
"Tou-san, Kaa-san..." kataku pelan.
"Duduk," kata Tou-san datar. Aku melihat 4 tiket wisata keluarga tergeletak di meja. Aku menebak kalau itu adalah kado yang Tou-san janjikan. Tapi sekarang tiket itu hanya sebuah potongan kertas tidak berguna, karena setauku tempat wisata itu hanya buka sampai jam 6. Dan sekarang sudah lebih dari jam 6. Aku sudah membuat semuanya berantakan sekarang.
Suasana tegang sekali. Tou-san dan Kaa-san menatap tajam ke arahku, sedangkan aku hanya menunduk .
"Apa yang kau lakukan kepada Naruko?" Kaa-san membuka pembicaraan. Dia bicara dengan nada bicara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sedih, kecewa, bercampur marah. Nada bicara yang tidak pernah dikeluarkannya selama aku menjadi anaknya. Pasti dia benar-benar marah sekarang. Tapi aku lebih baik dibentak habis-habisan, atau dipukuli seperti biasa dari pada harus diinterogasi dengan nada bicaranya yang seperti ini, ini lebih membuat nyaliku menciut.
"Go-gomen, tadi aku..."
"Dia pulang sambil menangis. Saat kami tanya kenapa, dia tidak menjawab dan langsung mengunci dirinya di kamar."
"Aku..."
"Apa kau tau? Naruko sudah menyiapkan pesta ini dari 2 hari yang lalu. Dia meminta Kaa-san membantunya membuat kue ulang tahun. Dia ingin memberikanmu kue buatannya sendiri. Kemudian kemarin malam dia mulai membuat kue. Berulang kali dia mengulanginya karena menganggap kuenya kurang sempurna dan takut kau tidak suka. Apa kau tau kalau dia tidak tidur semalaman?"
Mataku terbelalak mendengar ucapan Kaa-san. Kalau begitu wajar kalau dia marah sekarang. Aku tidak menjawab pertanyaan Kaa-san, karena aku tau itu bukan sebuah pertanyaan yang harus aku jawab. Karena Kaa-san sudah tau jawabannya. Aku memilih untuk diam dari pada malah memperburuk keadaan.
"Barulah tadi pagi dia berhasil membuat kue yang menurutnya sempurna. Kue ulang tahun khusus yang dia buat untuk ulang tahun kalian berdua."
Kaa-san terdiam sejenak membiarkanku mencerna kata-katanya. Aku masih terdiam, tertunduk dihadapan Kaa-san dan Tou-san. Mengetahui kalau Kaa-san masih belum selesai bicara.
"Kemudian saat kau pergi tadi, dia menyiapkan makanan, minuman dan segala hal lainnya di meja makan. Kemudian dengan sabar dia menunggumu disana dari siang hingga sore. Memandangi kue buatannya sambil tersenyum sendiri. Namun senyumannya lenyap setelah Naruko menerima sebuah pesan. Sedetik kemudian dia langsung bangkit dan terburu-buru keluar rumah, saat kami tanya mau kemana, dia jawab akan menjemputmu. Dan saat dia pulang... Dia... Ck, kau memang sama sekali tidak menghargai usahanya."
"Gomen, Kaa-san..."
"Jangan minta maaf kepadaku, minta maaflah pada Naruko," kata Kaa-san pelan. Tapi masih terdapat nada kemarahan disana.
Aku beranjak dan berjalan terseok-seok menuju kamar Naruko di lantai 2. Kamarnya berada di depan kamarku. Aku tidak tau kalau akibat perbuatanku akan jadi seperti ini. Saat melewati meja makan, sekilas kulihat beberapa hidangan tersaji disana. Kuhentikan langkahku, kuarahkan langkahku ke meja makan. Kuperhatikan lebih detail meja makan itu. Di ujung hidangan-hidangan itu kulihat sebuah kue ulang tahun berukuran sedang. Rupanya ini kue yang dibuat Naruko. Lilin berangka 17 yang belum dinyalakan tertancap di tangahnya. Di bawah lilin tersebut tertulis:
'Happy Birthday
Naruko & Naruto'
Tulisan itu ditulis menggunakan krim berwarna orange. Aku hapal betul itu tulisan tangan Naruko.
Aku duduk di kursi memandang kue itu lekat-lekat. Kue yang sederhana sebenarnya. Tidak banyak hiasan di atasnya. Tapi aku tau Naruko membuatnya susah payah, sampai-sampai dia tidak tidur. Kuambil 2 piring kecil dan pisau. Kupotong kue di depanku dan membuat 2 potongan kecil kemudian kusimpan di 2 piring yang kusiapkan tadi. Kubawa 2 piring itu ke lantai 2.
Aku berhenti di depan kamar Naruko. Sebelumnya kamar ini memang milik Karin-Neesan, tapi sejak ada Naruko disini, kamar ini jadi miliknya.
Kuketuk hati-hati pintu kamar Naruko supaya tidak menjatuhkan piring berisi kue yang kubawa.
Tok, tok, tok!
"Naruko, ini aku..." kataku pelan, tapi aku asumsikan cukup untuk bisa didengar oleh Naruko. "Boleh aku masuk?"
Hening. Tidak ada jawaban. Kuketuk lagi pintu kamarnya dan kupanggil lagi namanya.
"Naruko..."
"Pergi!" teriak suara dari dalam. Sudah pasti itu suara Naruko. Kudengar suara teriakan itu agak bergetar. Apa mungkin dia menangis?
"Aku minta maaf soal kejadian tadi," kataku tulus. Andai Naruko bisa melihat wajah menyesalku ini. Tidak ada lagi tanggapan. Aku melanjutkan kalimatku.
"Tolong buka pintunya, kita makan kue sama-sama."
Masih tidak ada tanggapan.
"Naruko, aku mohon... temani aku."
"PERGIIII!"
Sebuah teriakan yang lebih nyaring dari sebelumnya, yang membuat usahaku meminta maaf sia-sia. Tampaknya dia benar-benar marah kepadaku. Aku terduduk bersandar di pintu kamar Naruko. Kusimpan 1 piring di lantai dan 1 piring lainnya aku pegang dengan tangan kiri sementara tangan kananku mengambil potongan kue di atasnya.
Kugigit potongan kue itu, sebuah gigitan kecil. Namun cukup memberikan sensasi rasa coklat dan orange yang berpadu sempurna saat aku mengunyah dan mengecap gigitan kecil itu. Ini... ini sangat enak. Lebih enak dari kue yang diberikan teman-teman tadi sore. Lebih enak dari kue yang diberikan Karin-Neesan tahun lalu. Lebih enak dari kue yang diberikan Kaa-san di tahun-tahun sebelumnya. Ini kue ulang tahun terenak yang pernah aku makan.
Kumakan sisa kue dengan sekali lahap. Aku kunyah pelan. Ingin menikmati rasa enak di lidahku lebih lama. Tapi tetap saja akhirnya aku harus menelannya saat kunyahan dimulutku sudah halus. Beberapa detik setelah kutelan kue itu, hatiku mendadak terasa sakit. Badanku lemas. Leherku mengejang. Aku memeluk lututku.
Sebuah rentetan reaksi yang terjadi karena aku sadar pada kenyataan kalau aku telah menyakiti hati si pembuat kue terenak ini. Aku telah membuatnya sedih padahal dia sudah susah payah membuatkan aku kue yang enak ini. Dadaku kembali terasa sakit. Aku meremas kuat-kuat dadaku, menahan rasa sakit yang semakin hebat.
"Hei, kamu tau Naruko? Aku suka sekali kue buatanmu. Ini kue ulang tahun terenak yang pernah kumakan..."
To Be Continue...
A/N: Apa ada yang memperhatikan kalau di chapter ini Naruto tidak lagi memanggil Naruko dengan 'kau'? Tapi diubah jadi 'kamu'? Itu menggambarkan perubahan sikap Naruto yang bisa terlihat jelas. Karena kata 'kau' itu terdengar kurang lembut dibanding 'kamu'. Dan sebaliknya, Kushina malah memanggil Naruto dengan 'kau' saking marahnya.
Review, review, review... :D
Arigato
-rifuki-
