A/N: Makasih buat reviewers di chapter 6: Miru, Ren-Mi3 NoVantA, NN, Sieg Hart, Kara 'Iluvia' Couleurs, sketsa gelap, dan NaruDobe Listachan. Bales review yang ga login dulu deh.
Miru: Ia, ini udah di update.
NN: Karena ini genre family, jadi Naruko ga ada pairnya. Sempet kepikiran dipairing sama Sasuke atau Kiba. Tapi kalaupun jadi bakalan dipisah dari fic ini. Jangan jadi silent reader dong, saya 'kan pengen tau pendapat reader mengenai fanfic ini, okay?
Sieg Hart: Ahaha, nyantai aja saya ga tersinggung. Yup, saya akui mempertahankan kualitas chapter agar tetap maksimal memang susah. Apalagi kalo lagi ga ada mood.
Kara 'Iluvia' Couleurs: Ga juga ah, Naruko emang ingin perhatian yang lebih aja dari Naruto, dia kan dari kecil ga punya saudara. SasuNaru ya? Entahlah. Tapi kayaknya ga mungkin dibikin di fic ini. Fic ini udah kepanjangan. Ini aja sebenarnya udah melebihi target awal lho. *tumben review kemaren telat & ga login. hehe*
Review yang lain seperti biasa dibales lewat message.
Ga usah banyak omong lagi, selamat membaca Chapter 7 ;)
Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Mungkin juga ada typo.
Cerita Sebelumnya:
"PERGIIII!"
Sebuah teriakan yang lebih nyaring dari sebelumnya, yang membuat usahaku meminta maaf sia-sia. Tampaknya dia benar-benar marah kepadaku. Aku terduduk bersandar di pintu kamar Naruko. Kusimpan 1 piring di lantai dan 1 piring lainnya aku pegang dengan tangan kiri sementara tangan kananku mengambil potongan kue di atasnya.
Kugigit potongan kue itu, sebuah gigitan kecil. Namun cukup memberikan sensasi rasa coklat dan orange yang berpadu sempurna saat aku mengunyah dan mengecap gigitan kecil itu. Ini... ini sangat enak. Lebih enak dari kue yang diberikan teman-teman tadi sore. Lebih enak dari kue yang diberikan Karin-Neesan tahun lalu. Lebih enak dari kue yang diberikan Kaa-san di tahun-tahun sebelumnya. Ini kue ulang tahun terenak yang pernah aku makan.
Kumakan sisa kue dengan sekali lahap. Aku kunyah pelan. Ingin menikmati rasa enak di lidahku lebih lama. Tapi tetap saja akhirnya aku harus menelannya saat kunyahan dimulutku sudah halus. Beberapa detik setelah kutelan kue itu, hatiku mendadak terasa sakit. Badanku lemas. Leherku mengejang. Aku memeluk lututku.
Sebuah rentetan reaksi yang terjadi karena aku sadar pada kenyataan kalau aku telah menyakiti hati si pembuat kue terenak ini. Aku telah membuatnya sedih padahal dia sudah susah payah membuatkan aku kue yang enak ini. Dadaku kembali terasa sakit. Aku meremas kuat-kuat dadaku, menahan rasa sakit yang semakin hebat.
"Hei, kamu tau Naruko? Aku suka sekali kue buatanmu. Ini kue ulang tahun terenak yang pernah kumakan..."
.
.
.
Chapter 7
-Persaudaraan Yang Hancur-
"Naruko..."
Untuk kesekian kalinya aku memanggil-manggil nama itu pagi ini. Bohong kalau Naruko tidak mendengarku. Soalnya kami sedang sarapan dan duduk di kursi yang bersebelahan seperti biasa. Satu-satunya hal yang tidak biasa pagi ini adalah muka Naruko yang cemberut. Yah, dari kemarin malam dia memang terus saja seperti itu. Berulang kali pun aku meminta maaf, dia sama sekali tidak mempedulikanku.
"Hei, kamu masih marah?" tanyaku. Tidak bosan untuk mengajak Naruko bicara. Yang ditanya masih saja diam. "Paling tidak jawab dong pertanyaanku."
Bukannya menjawab pertanyaanku, Naruko malah beranjak dari kursi dan mencuci piring serta gelas bekas sarapannya.
Kaa-san dan Tou-san sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya ada urusan. Beruntung juga Kaa-san tidak ada sekarang. Kalau dia tau aku masih belum baikan dengan Naruko, bisa-bisa aku dimarahi lagi.
Selesai mencuci piring, Naruko mengambil tas sekolahnya dan memakai sepatu, bersiap untuk berangkat sekolah. Aku membuntutinya dari belakang. Kalau dipikir, keadaan seperti berbalik. Kalau sebulan lalu Naruko yang membuntutiku dan aku yang bersikap dingin kepadanya. Sekarang malah kebalikannya. Apa ini karma ya? Ternyata begini rasanya diacuhkan, tidak enak sekali.
Aku diam di pintu rumah menghalangi akses keluar. Berharap ini akan memaksa Naruko untuk mendengar permintaan maafku sekali lagi.
"Naruko, aku mohon, maafkan aku. Harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkanku?"
Tidak ada jawaban. Naruko masih sibuk memakai sepatunya, pura-pura tidak mendengarku.
"Apa kamu mau aku menemanimu seharian kemanapun kamu pergi? Apa mau liburan ke pantai lagi? Apa kamu mau aku belikan film-film bagus? Atau mau kalau kita berangkat dan pulang sekolah bersama setiap hari? Atau..."
Naruko berdiri di hadapanku dan memandangku dengan tatapan kesal. Ke-kenapa dia ini? Dia seperti bukan Naruko yang aku kenal. Apa kesalahanku kemarin begitu besar hingga membuatnya memperlakukanku seperti ini?
"MINGGIR!" bentak Naruko mendorong badanku yang dari tadi menghalangi pintu.
"Na-Naruko..." Astaga, dia jadi kasar sekali. Sekarang aku tau sisi dari diri Naruko yang lain. Saat marah seperti ini dia jadi menyeramkan, itu salah satu sifat Kaa-san yang diturunkan padanya. Tapi aku masih terlalu kaget dengan perubahan sikap Naruko yang drastis ini. Jauh sekali dengan Naruko yang selalu ceria dan tersenyum kepadaku. Aku kehilangan sosok itu. Aku... merindukan sosok itu...
Di kelas aku tetap berusaha meminta maaf kepada Naruko. Bahkan saat pelajaran sedang berlangsung.
"Naruko, gomen. Lebih baik kamu pukul atau marahi aku dari pada kamu mengacuhkanku seperti ini. Aku... I-ini lebih menyiksaku kamu tau?" Kupandang wajah Naruko, ternyata dia sama sekali tidak menanggapi kata-kataku. Padahal aku sudah mengesampingkan harga diri dan rasa maluku untuk bicara seperti itu. Aku bicara jujur, diperlakukan seperti ini lebih menyiksaku. Hatiku sakit. Lebih baik aku dipukuli atau dimarahi sekalian.
"Namikaze-san!"
Kami berdua menoleh saat Kurenai-sensei memanggil. Saat itu memang sedang pelajaran seni lukis.
"Uh, maksudku Namikaze Naruto-san," kata Kurenai-sensei mengoreksi perkataannya, "tolong perhatikan ke depan. Dari tadi kamu melihat ke belakang terus."
"Go-gomenasai, sensei."
"Sensei." Naruko mengangkat tangannya dan berdiri.
"Ya Namikaze Naruko-san?"
"Boleh aku pindah tempat duduk ke sebelah sana?" tanya Naruko menunjuk bangku kosong di depan yang berada jauh dari tempat dudukku.
Kurenai-sensei melihat bangku yang dimaksud Naruko, "Umm, ya boleh saja."
"Hei Naruko, kenapa kamu pindah hei?" tanyaku yang tentu saja masih diacuhkan Naruko. Naruko merapikan alat tulisnya dan pindah ke bangku depan. Ah, dia benar-benar menghindariku. Aku heran mau sampai kapan sebenarnya dia melakukan ini.
Hingga jam sekolah berakhir, usahaku meminta maaf kepada Naruko hanya sia-sia. Saat pulang sekolah pun Naruko buru-buru pulang karena tidak mau bertemu denganku. Sekarang aku dalam perjalanan ke tempat parkir bersama Hinata. Tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
"Naruto-kun? Kenapa balik lagi?" tanya Hinata.
"Aku mau mencari HPku." Aku sadar kalau HPku tidak ada di saku. "Sepertinya aku meninggalkannya di kelas."
"Oh, aku akan membantu mencarinya."
.
Dua jam kemudian...
.
"Argghh, kemana ya HPku? Kenapa tidak ada?" tanyaku entah kepada siapa, aku mulai frustasi. Dua jam pencarian bersama Hinata tidak membuahkan hasil. Padahal aku yakin sekali tadi kusimpan di bawah meja. Aku dan Hinata juga sudah memeriksa setiap penjuru kelas 11-C. Hasilnya tetap nihil.
"Apa kamu yakin tadi meninggalkannya di sini?" tanya Hinata.
"Ya, aku yakin sekali," kataku memastikan.
"Hmm, kamu ini memang ceroboh sekali."
"Sudahlah Hinata. Biar besok aku lapor ke pihak sekolah. Sekarang kita pulang, udah sore."
"Baiklah."
"Aku pulang..."
"Selamat datang," jawab Kaa-san dari arah dapur.
"Dari mana dulu? Jam segini baru pulang," tanya Kaa-san disela pekerjaannya beres-beres di dapur. Aku tau Kaa-san masih marah padaku karena masalah kemarin. Terlihat dari perkataannya yang masih datar. Aku kesampingkan hal itu, biasanya Kaa-san tidak akan marah melebihi 2 hari. Kucuci tanganku dan duduk di kursi meja makan bersiap menyantap masakan Kaa-san.
"HPku hilang, tadi aku mencarinya di sekolah," jawabku sambil memakan goreng udang.
"Hah? Kamu ini memang ceroboh sekali. Naruko-chan mana?"
"Eh? Memangnya dia belum pulang?" tanyaku heran. Kusimpan goreng udang yang baru setengahnya kumakan di piringku. "Aku kira dia udah sampai di rumah."
"Belum kok, memangnya kalian tidak pulang bareng?"
"Dia pulang duluan tadi."
"Ahhh, dia kemana dulu ya?" tanya Kaa-san mulai khawatir. "Apa ke rumah teman dulu?"
"Aku juga tidak tau Kaa-san."
"Biar Kaa-san telpon dia," Kaa-san mengangkat gagang telpon di ruang keluarga dan menekan beberapa kombinasi nomor. Beberapa kali dia mengulangi hal yang sama tanpa hasil memuaskan. Mukanya berubah panik. "HPnya mati. Mana hujan lebat lagi."
"Biar aku cari dia..." Aku mengambil jas hujan dan payung yang tergantung di dekat pintu masuk. Saat aku sedang memakai sepatu boat-ku, pintu rumah terbuka.
"Aku pulang." Itu suara Naruko. Dia pulang hujan-hujanan. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Rambutnya juga basah dan berantakan.
"Syukurlah kamu pulang Naruko-chan. Kaa-san khawatir sekali," kata Kaa-san mengusap pipi Naruko, "aduh kamu hujan-hujanan gini, 'kan bisa berteduh dulu kalau hujan."
"Gomen," ucap Naruko pelan.
"Tidak apa-apa, tunggu Kaa-san ambilkan handuk." Kaa-san pergi mengambil handuk tapi kemudian menoleh ke arahku dan Naruko. "Nanti langsung ganti baju dan makan ya."
Naruko mengangguk dan dibalas senyuman Kaa-san. Setelah Kaa-san tidak ada. Aku dan Naruko terdiam tanpa bicara apapun. Aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Naruko..." Belum selesai aku bicara, Naruko melemparkan sesuatu ke arahku. Refleks aku menangkapnya. Setelah kulihat ternyata itu HPku. "Eh? Dari mana kamu temukan ini?"
"Lain kali jangan pernah kau 'pinjamkan' HPmu kepada orang lain," kata Naruko. Aku mencerna kata-katanya. 'Pinjamkan'? Aku sama sekali tidak meminjamkan HPku kepada siapapun. Kenyataannya 'kan HPku hilang setelah aku tidak sengaja meninggalkannya di kelas.
"Apa maksudmu dengan meminjamkan HP? Aku tidak sengaja meninggalkannya di kelas." Aku menatap Naruko meminta penjelasan dari kata-katanya sebelumnya.
"Whatever." Itulah tanggapannya padaku. Tanggapan yang hanya terdiri dari satu kata, yang sama sekali tidak menjawab rasa penasaranku. Sebelum aku bicara lagi untuk meminta penjelasan tambahan, Kaa-san keburu datang.
"Naruko-chan, ini handuknya."
"Makasih Kaa-san." Naruko mengeringkan rambutnya yang basah kuyup dibantu oleh Kaa-san. "Oh ya Kaa-san, makananku apa bisa diantarkan saja ke kamarku? Aku ingin langsung istirahat."
"Tentu. Kamu istirahat saja."
Begitu selesai mengeringkan rambut dan badannya, Naruko naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Aku memandangi punggungnya dari kejauhan sebelum menghilang terhalangi pintu kamarnya. Susah sekali aku mendapat kata maaf darinya. Aku dan Kaa-san kembali ke dapur melanjutkan kegiatan kami masing-masing yang tadi sempat terhenti.
"Kaa-san, biar aku yang mengantarkan makanan ke kamar Naruko," kataku setelah aku selesai makan.
"Ya, tolong antarkan ya."
Tok! Tok! Tok!
Tak lama kemudian pintu kamar Naruko terbuka dan menampakkan muka ketusnya karena tau aku yang membawakannya makan.
"Ini makananmu. Um, boleh aku masuk?" tanyaku berharap kali ini Naruko mau mendengar penjelasanku.
"Tidak. Serahkan makanannya dan pergi!" Ah, aku terlalu banyak berharap. Seharusnya aku tau kalau jawaban Naruko akan seperti ini.
"Sebentar saja," kataku pelan.
"Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku!" Naruko merebut piring yang kubawa dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.
"Tung-"
BLAMMM!
"gu..."
Aku menempelkan dahiku di pintu kamar Naruko.
"Aku hanya ingin minta maaf..." ucapku pelan, sehingga kalimat itu lebih terdengar ditujukan kepada diriku sendiri.
Lagi-lagi usahaku gagal. Ini sudah keterlaluan. Aku yakin ada yang salah dengannya. Pasti ada hal lain yang membuatnya marah seperti ini.
Hari ini tidak berbeda dengan hari sebelumnya. Naruko masih saja marah kepadaku. Tadi pagi dia berangkat pagi-pagi sekali, tentu saja untuk menghindariku. Waktu di kelas juga aku tidak bisa berbuat banyak karena bangku kami sudah berjauhan. Aku tidak bisa begini terus. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa mengembalikan hubungan kami menjadi seperti dulu.
Sekarang waktunya istirahat dan perutku sudah minta diisi. Aku berjalan menuju kantin sekolah sendirian. Teman-temanku sudah di kantin dari tadi. Kutelusuri lorong demi lorong Konoha High untuk mencapai kantin. Dari kejauhan kulihat kerumunan orang di lorong. Mereka sedang berkerumun melihat mading. Tumben mading dikerubuti seperti itu. Biasanya juga tidak ada yang melirik.
Karena aku penasaran, kuarahkan langkahku menuju kerumunan itu. Saat berpapasan dengan siswa lain, aku merasakan kalau mereka menatapku dengan tatapan aneh. Kenapa ini? Tatapan mereka membuatku merasa tidak nyaman. Tiba-tiba dari kerumunan itu muncul Naruko dan berlari ke arahku.
"Naruko, ada apa?" tanyaku. Wajah Naruko penuh dengan kemarahan.
"Ini semua salahmu!" bentak Naruko menunjuk mukaku.
"Eh? Apa maksudmu?" tanyaku kebingungan.
"Lihat ini." Naruko melempar sebuah gulungan kertas ke arah mukaku. Aku membukanya mencari tau apa sumber dari kemarahan Naruko kali ini.
Kulihat gambar di kertas itu. Atau lebih cocok kalau kusebut poster karena ukurannya yang besar. Disana terlihat gambar Naruko sedang memakai bikini. Kalau aku tidak salah ini foto waktu kami liburan di pantai. "I-ini..."
Otakku yang bego mulai menggabungkan kepingan-kepingan kejadian tadi: orang-orang, berkerumun, mading, Naruko, datang dari kerumunan, dan poster ini. Tunggu! Jangan bilang kalau poster ini yang memancing kerumunan orang-orang di mading! Sial! Kalau begitu pantas saja Naruko marah.
Kupandang wajah Naruko. Ada kemarahan dan kesedihan disana. Aku mengerti perasaannya seperti apa. Dia pasti sangat rapuh sekali sekarang. Aku meletakkan tanganku di kedua pundaknya, berusaha menenangkan. Tapi serta merta Naruko menepisnya dengan kasar dan kembali marah-marah.
"Yang punya foto liburan ini hanya kita berdua. Aku tidak akan mungkin mempermalukan diriku sendiri. Jadi dari mana lagi mereka dapat foto ini kalau bukan darimu?" tanya Naruko semakin menaikan intonasinya.
Aku kaget dituduh seperti itu. Aku tau aku sedikit kesal karena tidak diberi maaf. Tapi aku tidak mungkin mempermalukan kakakku sendiri. Biar bagaimanapun aku masih punya perasaan. Melakukan hal amoral seperti itu bukanlah kebiasaanku.
"He-hei! Jangan menuduhku sembarangan." Naruko sudah tidak mau mendengarku dan berlari ke kelas. Aku mengejarnya sambil berusaha tetap menjelaskan masalah ini. "Udah kubilang 'kan kalau HPku kemarin ketinggalan di kelas dan..."
"Justru karena itu, gara-gara kau meninggalkan HPmu sembarangan, semua foto-foto liburan kita tersebar."
"Aku 'kan tidak sengaja..."
"Aku sudah dipermalukan satu sekolah, aku malu sekali. Apa kau sadar itu? Baka!" bentak Naruko makin keras.
Baka.
Kata yang tidak pernah Naruko katakan sebelumnya. Aku akan sangat senang jika dia mengucapkan kata itu kalau kami sedang bersenang-senang atau bercanda. Kata yang menggambarkan keakraban kakak-beradik menurutku. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Naruko mengatakan kata itu disaat dia marah besar kepadaku. Membuatku sedih bercampur kesal.
"Tapi jangan sembarangan menyalahkanku. Sudah kubilang aku tidak sengaja meninggalkannya di kelas," kujaga perkataanku agar tetap terlihat tenang. Kusembunyikan rapat-rapat rasa kesalku.
"Itu tidak mengubah keadaan! Kalau saja kau tidak ceroboh pasti semua ini tidak akan terjadi! Jadi tetap saja kau yang salah!"
"Berhentilah menyalahkanku Naruko..."
"Berisik! Ini fakta!"
"Cukup!" Rasa kesal yang kubendung dari tadi meluap keluar. Aku sudah tidak kuat menahannya. Ini sudah keterlaluan. "Biarpun kau kakakku, bukan berarti kau bisa seenaknya. Dasar kau ini, terlahir 10 menit lebih cepat memang tidak membuatmu berfikir dewasa! Kau hanya beruntung terlahir lebih dulu! Dengan sifatmu ini, kau lebih pantas jadi adikku dari pada kakakku!"
Naruko kaget dan mundur selangkah ke belakang mendengar aku membentaknya. Teman-teman sekelasku yang kebetulan ada disana terheran-heran. Tapi aku tidak mempedulikan hal itu. Sekarang aku hanya terfokus kepada Naruko.
Kulihat dia menunduk. Poninya menutupi matanya. Ah tidak... Apa kata-kataku keterlaluan barusan? Kelihatannya begitu. Aku mendekati Naruko bermaksud meminta maaf. Tapi langkahku terhenti saat Naruko mengangkat wajahnya dan menatapku tajam.
"Oh, begitu. Tak apa, karena mulai saat ini aku tidak akan menganggapmu saudaraku. Aku tidak pernah mengharapkan saudara sepertimu!"
"A-apa?" Aku lemas mendengar perkataan Naruko. Aku benar-benar tidak menyangka Naruko akan berkata seperti itu. Terlepas dari dia mengatakannya karena emosi atau memang benar-benar keinginannya, tetap saja membuat hatiku sakit. Disaat aku mengira hubunganku dengannya mulai membaik, dia malah berkata seperti itu. Tidak, tidak! Kurasa ini memang kesalahanku. Aku yang memulai semuanya.
Kulihat Naruko berlari keluar sekolah. Aku masih mematung disana. Otot-ototku tidak bisa digerakkan. Efek yang ditimbulkan 3 kalimat Naruko tadi benar-benar hebat. Dulu Naruko berusaha dekat denganku dengan harapan bisa menjalin hubungan persaudaraan yang erat. Tapi disaat usaha itu hampir berhasil dan aku mulai menerimanya, hubungan persaudaraan itu malah hancur. Naruto baka!
Setelah kejadian itu aku tidak konsen belajar. Berulang kali aku ditegur sensei karena ketauan melamun di kelas. Aku benar-benar tidak semangat. Kulipat tanganku di atas meja dan kusimpan kepalaku diatasnya.
"NARUTOOO!"
Kali ini Iruka-sensei yang berteriak. Saking kagetnya aku sampai terlonjak. Secara tidak sengaja gelang pemberian Naruko mengenai ujung meja dan talinya terlepas karena tertarik sangat keras. Liontin rubah jantan berwarna orangenya terlempar ke luar jendela. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat ke luar jendela mengejar liontin itu. Kelasku ada di lantai dua, tapi aku tidak pedulikan itu. Saat ini liontin itu lebih berharga untukku.
"Naruto, ini lantai dua!" Kudengar teriakan Iruka-sensei dari kelas. Aku mengacuhkannya. Beruntung posisi mendaratku tepat sehingga aku tidak terjatuh. Ini belum seberapa. Butuh 3 meter lebih tinggi lagi agar membuat nyaliku ciut. Begitu mendarat di tanah aku segera mencari liontin yang jatuh tadi.
"Ayolah jangan hilang, jangan sampai hilang," kataku meracau sendiri. Dari kejauhan kulihat suatu pantulan cahaya dari bawah pohon. Aku berlari mendekatinya. Syukurlah, ternyata itu liontin yang aku maksud. Kemudian aku duduk bersandar di pohon. Kalau dipikir aku seperti orang gila. Terjun dari lantai 2 hanya untuk mengejar liontin ini. Aku memperhatikan baik-baik liontin itu. Seekor rubah jantan. Aku tertawa kecut melihatnya. Bisa-bisanya Naruko memberiku hadiah seperti ini. Apa karena aku memiliki 3 pasang tanda lahir yang mirip kumis rubah ya?
Ukh, aku teringat lagi Naruko. Dadaku terasa sakit.
"Tak apa, karena mulai saat ini aku tidak akan menganggapmu saudaraku. Aku tidak pernah mengharapkan saudara sepertimu!"
Kata-kata Naruko kembali terngiang di telingaku. Aku benar-benar menghancurkan hubungan persaudaraan kami. Aku menunduk di bawah pohon itu, meratapi satu lagi kebodohan yang kuperbuat. Naruko baka!
"Naruto-kun?" Aku tersadar saat seseorang menepuk pundakku, Hinata. "Kamu baik-baik saja?" tanya Hinata. Dia semakin cemas pada keadaanku. Rupanya jam sekolah sudah berakhir karena Hinata membawakan tas sekolahku.
"Tidak apa-apa." Kurasakan HP di saku celanaku bergetar. "Dari Kaa-san."
"Halo Kaa-san?"
"Naruto, cepat pulang!"
"A-ada apa Kaa-san?"
"Naruko... dia... "
Glek! Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku mohon jangan sampai terjadi apa-apa dengan Naruko.
"Naruko kenapa Kaa-san?" tanyaku panik.
"Dia pulang ke Inggris..."
"A-apa?!"
To Be Continue...
A/N: Nah masalah udah mulai rumit. Dan sepertinya readers juga udah mulai bisa memprediksi akan seperti apa endingnya. Atau bahkan kalian ada yang bisa memperkirakan akan selesai di chapter berapa? Yang jelas saya ga akan memberi tau fanfic ini akan selesai berapa chapter lagi. Kalian tebak sendiri, biar tambah penasaran.
Jangan lupa review, review, review biar saya tambah semangat ngelanjutinnya... :D
Arigato
-rifuki-
